HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.3. Analisis dan Pembahasan
Krisis multidimensional yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 telah mendorong lahirnya usaha penyelamatan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Lahirnya Undang-Undang otonomi daerah tahun 2001 dan tumbuhnya pemikiran tentang pergesaran paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi menjadi upaya riil pemerintah dalam mengahadapi tantangan globalisasi.
Otonomi daerah adalah wewenang yang dimiliki daerah otonom untuk mengatur dan mengurus masyarakatnya menurut kehendak sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Dalam mengimplementasikan otonomi daerah, khususnya dalam bidang
sebagai daerah otonom karena kemampuan daerah yang belum memiliki cukup wawasan, kualitas sumber daya manusia, kapasitas kelembagaan, serta kemampuan menggali dan mengelola keuangannya sendiri.
Terkait pengelolan keuangan daerah dan dalam rangka menciptakan suatu sistem perimbangan keuangan yang proporsional, demokratis, adil, dan transparan berdasarkan pembagian kewenangan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah maka telah diundangkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang merupakan penyempurnaan dari Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999.
Sejalan dengan Undang-Undang tersebut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2005, Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari Pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana Perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya Alam, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Sebagai komponen dari Dana Perimbangan, Dana Bagi Hasil merupakan pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber daya nasional yang berada di daerah berupa pajak dan sumber-sumber daya alam. Untuk menambah pendapatan daerah, Dana Bagi Hasil digunakan dalam rangka pembiayaan pelaksanaan fungsi dilakukan dengan pola bagi hasil pajak dan bukan pajak (sumber daya alam). Tetapi dalam pelaksanaannya baik dari pajak maupun dari non pajak atau sumber daya alam, secara umum masih tetap dikuasai oleh
pemerintah. Hal ini menyebabkan pengelolaan dan kemampuan daerah untuk melakukan pembiayaan atau belanja daerah tidak dapat dilakukan secara optimal.Dengan kata lain, Dana Bagi Hasil Pajak berbanding lurus dengan Belanja Daerah.
Sama halnya seperti Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum juga merupakan bagian dari Dana Perimbangan. Tujuan dari Dana Alokasi Umum adalah sebagai kerangka pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik antar pemerintah daerah di Indonesia ataupun mengurangi kesenjangan fiskal antardaerah. Sebagai daerah otonom, daerah juga masih sangat mengharapkan dana perimbangan khususnya Dana Alokasi Umum sebagai sumber utama untuk membiayai operasinya sehari-hari.
Sebagai penyangga utama pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi adalah minimnya pendapatan daerah dari PAD. Di lain pihak PAD yang rendah menyebabkan pemerintah memiliki derajat kebebasan dalam mengelola keuangannya sehingga daerah masih sangat bergantung pada Dana Perimbangan khususnya Dana Alokasi Umum.
Berdasarkan hal inilah, dapat disimpulkan bahwa Dana Alokasi Umum sebagai sumber utama APBD berpengaruh dan berbanding lurus terhadap Belanja Daerah.
Sebagai komponen dari Dana Perimbangan, Dana Alokasi Khusus digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang menjadi urusan daerah dan merupakan prioritas nasional, sesuai dengan fungsi sebagai perwujudan tugas ke pemerintahan di bidang tertentu khusunya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana
pelayanan dasar masyarakat baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan, perikanan, pertanian, prasarana, serta lingkungan hidup.
Pengalokasian Dana Alokasi Khusus diprioritaskan untuk daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah atau di bawah rata-rata nasional. Dana Alokasi Khusus merupakan bantuan dana dari pusat dalam bentuk specific grant yang mempunyai peran sangat penting dalam menjaga keselarasan arah pembangunan nasional.
Sejak tahun 2003, Dana Alokasi Khusus tidak hanya diperoleh dari 40% dana reboisasi DAK juga diberikan dalam bentuk DAK non DR yang disediakan kepada daerah untuk tujuan khusus seperti kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum, dan kebutuhan yang merupakan prioritas nasional. Dalam perkembangannya, Dana Alokasi Khusus cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan hal inilah, kemampuan daerah dalam belanja dipengaruhi dan berbanding lurus dengan penyaluran Dana Alokasi Khusus yang berasal dari pemerintah pusat.
Dalam menjalankan pemerintahan di daerah, sebagian besar daerah di Sumatera Utara masih bergantung pada Dana Perimbangan. Beberapa daerah
yang berasal dari pajak, retribusi, maupun ketersediaan sumber daya alam ang memadai yang dapat dijadikan sumber penerimaan daerah. Sejalan dengan bergulirnya otonomi daerah, beberapa daerah yang memiliki sumber-sumber pendapatan yang rendah memiliki persoalan tersendiri mengingat adanya tuntutan untuk meningkatkan kemandirian daerah. Daerah mengalami tekanan fiskal (fiscal stress) yang lebih tinggi dibanding era sebelum otonomi.Daerah dituntut untuk mengoptimalkan setiap potensi maupun kapasitas fiskalnya dalam rangka mengurangi tingkat ketergantungan terhadap dana perimbangan yang berasal dari pusat.Berdasarkan teori yang diuraikan di atas apabila fiscal stress tinggi akan mengakibatkan tingginya belanja daerah.
Penelitian ini dilakukan di Sumatera Utara yaitu pada 22 kabupaten/kota yang menjadi sampel penelitan.Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik.
Berdasarkan hasil analisis data, hasil estimasi Belanja Daerah adalah sebagai berikut:
Y=11,120,000 + 0,920X1 + 0,942X2 + 1,776X3 + 3,673X4.
di mana: Y = Belanja Daerah, X1 = Dana Bagi Hasil (DBH), X2 = Dana Alokasi Umum (DAU), X3 = Dana Alokasi Khusus (DAK), X4 = Fiscal Stress
sebesar 0,920, berarti variabel Dana Bagi Hasil berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah.Dengan kata lain apabila terjadi kenaikan Dana Bagi Hasil sebesar 1 rupiah maka Belanja Daerah akan naik sebesar 0,920 rupiah.
Nilai koefisien regresi Dana Alokasi Umum (DAU) untuk seluruh sampel penelitian baik Kabupaten maupun Kota di Provinsi Sumatera Utara, diperoleh sebesar 0,942. Hasil analisis yang diperoleh, berarti variabel Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah. Dengan kata lain, apabila Dana Alokasi Umum naik 1 rupiah maka Belanja Daerah akan naik sebesar 0,942.
Nilai koefisien regresi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk seluruh sampel penelitian baik Kabupaten maupun Kota di Provinsi Sumatera Utara, diperoleh sebesar 1,776. Hasil analisis yang diperoleh berarti variabel Dana Alokasi Khusus berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah. Dengan kata lain, apabila terjadi kenaikan sebesar 1 rupiah pada Dana Alokasi Khusus, maka Belanja Daerah akan naik sebesar 1,776 rupiah.
Demikian juga halnya, nilai koefisien regresi Fiscal Stress untuk seluruh sampel penelitian baik Kabupaten maupun Kota di Provinsi Sumatera Utara, diperoleh sebesar 3,673. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel
Fiscal Stress berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah. Dengan kata lain, apabila terjadi kenaikan sebesar 1 rupiah pada variabel Fiscal Stress maka akan diikuti kenaikan pada Belanja Daerah sebesar 3,763 rupiah.
Dari empat variabel yang mempengaruhi belanja daerah yaitu Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Fiscal Stress diketahui bahwa variabel Fiscal Stress yang paling besar pengaruhnya terhadap Belanja Daerah yaitu sebesar 3,673.
BAB VI