• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISI DATA DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel-variabel yang digunakan normal atau tidak. Ada dua cara untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Analisis grafik merupakan cara termudah untuk melihat normalitas residual dengan melihat grafik. Pengujian normalitas data secara analisis statistik dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Secara multivarian pengujian normalitas data dilakukan terhadap nilai residulanya. Data yang berdistribusi normal ditunjukkan dengan signifikansi 0,05 (Ghozali, 2011: 107)

Gambar 4.1

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa data menyebar di sekitas garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi dengan normal dan model regresi telah memenuhi asumsi normalitas.

Tabel 4.2

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  Unstandardized

Residual

N 40

Normal Parametersa,,b Mean .0000000

Std. Deviation 15.20738332

Most Extreme Differences Absolute .096

Positive .096

Negative -.077

Kolmogorov-Smirnov Z .608

Berdasarkan pada hasil tabel 4.2 di atas data sudah terdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan dengan nilai kolmogorov-smirnov sebesar 0,608 dan signifikansi 0,854 yang lebih besar dari 0,05.

b. Uji Multikolinearitas

Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas dengan melihat nilai tolerance dan VIF. Semakin kecil nilai tolerance dan semakin besar VIF maka semakin mendekati terjadinya masalah multikolinearitas. Jika tolerance lebih dari 0,1 dan kurang dari 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.

Tabel 4.3 Coefficientsa

Berdasarkan tabel coeffisients di atas dapat diketahui bahwa nilai tolerance dari variabel free cash flow dan profitabilitas lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah multikolinearitas.

b. Calculated from data.

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)     FreeCashFLow .946 1.057 Profitabilitas .946 1.057

c. Uji Autokorelasi

Autokorelasi adalah keadaan dimana terjadinya korelasi antar kesalahan penganggu (resudual) pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah yang tidak terdapat masalah autokorelasi.

Berdasarkan tabel 4.4 di atas terlihat bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,918. Jika dibandingkan dengan tabel Durbin-Watson dengan jumlah observasi (n) = 40 dan jumlah variabel independen 2 (k=2) diperoleh nilai tabel DL = 1,391 dan DU = 1,600. Oleh karena nilai Durbin-Watson terletak antara DU < DW < 4 - DU. Maka koefisien korelasi sama dengan nol, berarti tidak terjadi autokeorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dengan melihat pola titik-titik pada scatterplots regresi. Jika titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Dengan bantuan alat analisis SPSS 17 uji heteroskedastisitas sebagai berikut:

Tabel 4.4 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .176a .031 -.021 15.61298 1.918

a. Predictors: (Constant), Profitabilitas, Free Cash Flow b. Dependent Variable: Kebijakan Pembayaran Dividen

Gambar 4.2

Dari Scatterplot di atas dapat diketahui dapat diketahui bahwa titik- titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka disimpulkan pada model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

2. Hasil analisis Regresi Linier berganda

Dengan menggunakan program SPSS 17 diperoleh hasil sebagai berikut.

Dengan melihat tabel 4.3 di atas,dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = 26,521 + 0,038X1 + 0,333X2

Dari hasil persamaan regresi linier berganda di atas dapat dilihat nilai konstanta sebesar 26,521. Hal ini mengindikasikan bahwa divident payout ratio mempunyai nilai 26,521 dengan tidak dipengaruhi oleh variabel free cash flow dan profotabilitas. Persamaan regresi di atas mempunyai maksud sebagai berikut:

a. Koefisien regresi free cash flow sebesar 0,038 menyatakan bahwa setiap penambahan 1% free cash flow akan meningkatkan proporsi dividend payout ratio sebesar 0,038. Tanda positif pada koefisien ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel free cash flow akan mengakibatkan kenaikan dividend payout ratio.

Tabel 4.5 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 26.521 4.998 5.306 .000 FreeCashFLow .038 .162 .039 .233 .817 Profitabilitas .333 .340 .163 .981 .333

b. Koefisien regresi return on assets (ROA) sebesar 0,333 menyatakan bahwa setiap penambahan 1% ROA akan meningkatkan proporsi dividend payout ratio sebesar 0,333.

3. Pengujian Hipotesis

a. Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Pada intinya koefisien regresi (R2) mengukur sejauh mana kemampuan model dalam menerangkan variasi veriabel kebijakan pembayaran dividen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel free cash flow dan profitabilitas dalam menjelaskan variasi variabel kebijakan pembayaran dividen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel free cash flow dan profitabilitas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel kebijakan pembayaran dividen (Ghozali 2009:14). Hasil perhitungan koefisien determinasi penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:  

Berdasarkan tampilan output SPSS model summary menunjukkan besarnya adjusted R2 sebesar 0,021, hal ini berarti 2,1% variasi kebijakan pembayaran dividen dapat dijelaskan oleh variasi dari

Tabel 4.6 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .176a .031 .021 15.61298 1.918

a. Predictors: (Constant), Profitabilitas, Free Cash Flow b. Dependent Variable: Kebijakan Pembayaran Dividen

varibel free cash flow dan profitabilitas sedangkan sisanya (100% - 1,2% = 98,8%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model. Standard error of estimate (SEE) sebesar 15,61298, makin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel kebijakan pembayaran dividen.

b. Uji Statistik F

Tabel 4.7

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 289.393 2 144.697 .594 .558a

Residual 9019.316 37 243.765

Total 9308.709 39

a. Predictors: (Constant), Profitabilitas, Free Cash Flow b. Dependent Variable: KebijakanPembayaranDividen

Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama- sama variabel free cash flow dan profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kebijakan pembayaran dividen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai F hitung sebesar 0,594 dengan probabilitas sebesar 0,558. Karena probabilitas jauh lebih besar dari tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 5%, maka H0 diterima yang berarti free cash flow dan probitabilitas tidak berpengaruh positif terhadap kebijakan pembayaran dividen.

4. Uji Statistik t

Untuk mengetahui apakah variabel free cash flow berpengaruh terhadap kebijakan pembayaran dividen maka dapat dilihat uji signifikansinya pada tabel 4.5. Dalam tabel 4.5, thitung 0,233< ttabel 2,026 dengan tingkat signifikansi 0,817. Oleh karena probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima yang berarti free cash flow tidak berpengaruh positif berhadap kebijakan pembayaran dividen. Sedangkan untuk mengetahui apakah variabel profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan pembayaran dividen dapat juga dilihat pada tabel 4.5. Dalam tabel 4.5 thitung 0,946 <ttabel 2.026 dengan tingkat signifikansi 0,333. Oleh karena probabilitas lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima yang berarti profitabilitas tidak berpengaruh positif terhadap kebijakan pembayaran dividen.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada sub bab ini akan dibahas lebih jelas mengenai variabel independen yang berupa variabel free cash flow dan profitabilitas variabel kebijakan pembayaran dividen.

a. Analisis Pengaruh Free Cash Flow terhadap Kebijakan Pembayaran Dividen

Variabel free cash flow memiliki koefisien regresi positif, hal ini menunjukkan bahwa apabila free cash flow meningkat maka akan diikuti dengan pembayaran dividen yang meningkat pula. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Jensen (1986). Menurut

Jensen (1986) dalam Yudianti (2005) free cash flow adalah aliran kas yang merupakan sisa dari pendanaan seluruh proyek yang menghasilkan net present value positif yang didiskontokan pada tingkat biaya modal yang relevan. Maka semakin besar free cash flow yang dimiliki perusahaan semakin besar pula dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham. Ketika perusahaan memiliki dana sisa yang tidak bisa diinvestasikan lagi, maka perusahaan seharusnya membagikan dana kepada investor dalam bentuk dividen.

Dalam penelitian ini argumen Jensen diterima karena kemungkinan dana free cash flow yang dimiliki perusahaan di Indonesia masih relatif kecil. Dari deskripsi data tampak bahwa nilai teringgi free cash flow sebesar 50,00 dan nilai terendah sebesar -22,79, sedangkan nilai rata- rata free cash flow sebesar 9,1135. Kondisi ini kemungkinan yang menjadi penyebab tidak didukungnya hipotesis ini.

Hasil temuan ini mendukung hasil temuan dari Endang dan Minaya (2003) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa free cash flow tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen.

b. Analisis Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Pembayaran Dividen

Variabel profitabilitas memiliki koefisien regresi positif, hal ini menunjukkan bahwa apabila profitabilitas (ROA) meningkat maka

dividend payout ratio pun akan meningkat. Hasil penelitian ini

dividen payout ratio. Hal ini menjelaskan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan tidak berdampak pada peningkatan pembayaran dividen yang dilakukan oleh perusahaan. Tanda positif dalam penelitian ini sesuai dengan dividend signaling theory (Ross, 1977) yang menyatakan bahwa kenaikan dividen merupakan suatu isyarat kepada para investor bahwa manajemen meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan datang. Berdasarkan pada teori di atas menunjukkan bahwa return yang tinggi melalui aset yang dimiliki yang tercermin dari ROA menunjukkan pengaruh positif terhadap kebijakan pembayaran dividen yang tercermin dari dividend payout ratio.

Dalam penelitian ini argumen Ross tidak diterima karena kemungkinan return yang diterima perusahaan melalui aset tetap perusahaan masih relatif kecil. Dari tabel 4.1 tampak bahwa nilai tertinggi profitabilitas adalah sebesar 41,56 dan nilai terendah sebesar 0,77, sedangkan nilai rata-rata profitabilitas sebesar 13,0808. Kondisi ini kemungkinan menyebabkan tidak didukungnya hipotesis ini.

Hasil temuan ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Nuringsing (2005) dan Dewi (2008) menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara profitabilitas dengan kebijakan dividen, namun tidak mendukung hasil temuan dari Nugraheni (2008) dan Puspita (2009) dimana hasil penelitiannya menunjukan bahwa

ROA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dividend payout ratio.

BAB V PENUTUP

Dokumen terkait