Hasil belajar IPA siswa pada pertemuan II dengan kompetensi dasar yang sama pada pertemuan I yaitu “mengidentifikasi sumber energi dan kegunaannya”
mengalami peningkatan. Berikut disajikan perolehan hasil belajar IPA siswa pertemuan II siklus II seperti pada tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14
Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Siklus II Pertemuan II SD Negeri Mangunsari 01
Berdasarkan tabel 4.14 diketahui pencapaian hasil belajar IPA siswa yang tuntas pada pertemuan II siklus II sebanyak 36 siswa atau 97% dan siswa yang
tidak tuntas sebanyak 1 siswa atau 3% dengan perolehan nilai rata-rata 86,6 dan nilai tertinggi 100 sedangkan nilai terendahnya 55.
Data hasil belajar IPA siswa pertemuan II disajikan dalam bentuk diagram seperti pada gambar 4.10 berikut.
Gambar 4.10
Perolehan Hasil Belajar IPA Siklus II Pertemuan II Siswa Kelas III SD Negeri Mangunsari 01
Berdasarkan gambar 4.10 diketahui bahwa hasil perolehan nilai IPA siswa yang mendapatkan nilai ≥70 sebanyak 36 siswa dan siswa yang mendapatkan nilai
<70 hanya 1 siswa. Data hasil belajar IPA siswa akan disajikan dalam bentuk diagram lingkaran seperti pada gambar 4.11 berikut.
Persentase ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas III SD Negeri Mangunsari 01 dapat di sajikan dalam bentuk diagram lingkaran pada gambar 4.11 berikut.
Tuntas Tidaka Tuntas Pertemuan II
Siklus II 36 1
0 10 20 30 40
Jumlah Siswa
Pertemuan II Siklus II
Gambar 4.11
Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siklus II Pertemuan II Siswa Kelas III SD Negeri Mangunsari 01
Berdasarkan gambar 4.11 diketahui banyaknya siswa yang tuntas sebesar 97% dan siswa yang tidak tuntas sebesar 3%. Indikator kinerja (ketuntasan klasikal) pada pertemuan II juga sudah berhasil.
Jika dibuat perbandingan hasil belajar IPA siswa yang tuntas dan tidak tuntas pada siklus II pertemuan I dan II dapat disajikan pada tabel 4.15 berikut.
Tabel 4.15
Perbandingan Hasil Belajar IPA Siklus II Pertemuan I dan II
No Nilai
Siklus II
Pertemuan I Pertemuan II
1 ≥70 33 36
2 <70 4 1
Jumlah Siswa 37 37
Perolehan perbandingan hasil belajar IPA siswa kelas III siklus II pertemuan I dan II berdasarkan tabel 4.8 dengan menggunakan model pembelajaran NHT diketahui adanya peningkatan hasil belajar IPA siswa, dilihat dari banyaknya jumlah siswa yang tuntas dari tiap pertemuannya.
Berikut disajikan perbandingan ketuntasan hasil belajar IPA siswa pertemuan I dan II siklus II dalam bentuk diagram pada gambar 4.12 berikut.
97%
3%
Tuntas Tidak Tuntas
Gambar 4.12
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siklus II Pertemuan I dan II
Berdasarkan gambar 4.12 diketahui hasil belajar siswa pada pertemuan I dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa yang tuntas atau mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥70) sebanyak 33 siswa dengan persentase 89% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 4 siswa dengan persentase 11 %, dan pertemuan II hasil belajar siswa yang tuntas meningkat menjadi 36 siswa dengan persentase 97% dan siswa yang tidak tuntas hanya 1 siswa dengan persentase 3 %.
3. Refleksi
Dari hasil lembar observasi kinerja guru pertemuan II, kekurangan guru dalam mengajar yaitu kurangnya kelengkapanya alat peraga, sebagian siswa masih kurang memperhatikan penjelasan, penjelasan tidak terlalu luas, namun secara keseluruhan pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran sudah sangat optimal. Sedangkan pada lembar observasi kinerja siswa, kekurangannya yaitu alat peraga, siswa masih aktif sendiri dalam kegiatan pembelajaran namun secara keseluruhan minat, antusias siswa dalam belajar sudah terbentuk dan siswa merasa senang mengikuti kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir. Dari hasil pelaksanaan siklus II pertemuan I dan II dengan penerapan model
pembelajaran NHT hasil belajar IPA siswa meningkat jika dibandingkan siklus I pertemuan I dan II. Penelitian pada siklus II tergolong sangat baik sehingga peneliti tidak melaksanakan siklus berikutnya.
Jika dibuat perbandingan hasil belajar siswa sebelum tindakan (prasiklus), siklus I pertemuan I dan II, dan siklus II pertemuan I dan II, dapat disajikan pada tabel 4.16 berikut.
Tabel 4.16
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
No Nilai
Sebelum Tindakan
Siklus I Siklus II
Jumlah Siswa Jumlah Siswa Jumlah
Rekapitulasi pengelompokkan hasil belajar pada tabel 4.16 diketahui adanya peningkatan jumlah siswa yang tuntas dalam mata pelajaran Ilmu Pengatahuan Alam (IPA) pada tiap siklusnya. Sebelum diberikan tindakan, banyaknya siswa yang tuntas hanya sebagian kecil jika dibandingkan banyaknya siswa yang tidak tuntas.
Dari pencapaian hasil belajar siswa sebelum diberikan tindakan (prasiklus) siswa yang tuntas hanya 12 siswa atau 32%, dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 25 siswa atau 68%. Dengan diberikan tindakan berupa model pembelajaran NHT pada siklus I pertemuan I siswa yang tuntas meningkat menjadi 25 siswa atau 68% dan siswa yang tidak tuntas 12 siswa atau 32%, sedangkan pada pertemuan II siswa yang tuntas sebanyak 29 siswa atau 78% sedangkan siswa yang tidak tuntas berkurang menjadi 8 siswa atau 22%. Pada sklus II pertemuan I dengan model pembelajran yang sama, siswa yang tuntas bertambah menjadi 33 siswa atau 89%
dan siswa yang tidak tuntas berkurang menjadi 4 siswa atau 11%, dan pada
pertemuan II jumlah siswa yang tuntas bertambah menjadi 36 siswa atau 97% dan yang tidak tuntas hanya 1 siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran NHT berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SD Negeri Mangunsari 01.
Berikut disajikan perbandingan ketuntasan hasil belajar IPA siswa siklus I (pertemuan I dan II) dan siklus II (pertemuan I dan II) dalam bentuk diagram pada gambar 4.13 berikut.
Gambar 4.13
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA Sikus I dan Siklus II
4.5 Pembahasan
Hasil observasi sebelum tindakan yang dilakukan di kelas III SD Negeri Mangunsari 01 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga ditemukan bahwa hasil belajar siswa masih sangat rendah, hal ini disebabkan penyampaian materi dengan metode ceramah dan tanpa media yang mendukung dalam penyampain materi pembelajaran, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru saja, sehingga keaktifan dan kekreatifan siswa sama sekali tidak terlihat.
Pertemuan I Pertemuan
Dari hasil pencapaian hasil belajar IPA siswa pada saat peneliti melakukan observasi, siswa yang mencapai nilai di atas KKM ≥70 sebanyak 12 siswa atau 32% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 25 siswa atau 68%. Tuntasnya ke-12 siswa ini dikarenakan sudah dapat menangkap materi yang disajikan oleh guru walaupun hanya dengan ceramah saja, karena ke-12 siswa ini memang mempunyai daya tangkap yang lebih dibandingkan teman-temannya yang lainnya walaupun hanya dengan mendengarkan saja, sedangkan 25 siswa yang lain belum bisa menangkap materi yang disajikan oleh guru hanya dengan ceramah saja karena daya tangkap mereka rendah jika hanya mendengarkan saja mereka belum bisa memahami sepenuhnya tentang materi yang disampaikan, sehingga diperlukan tindakan sesuai dengan usia anak sekolah dasar yang masih dalam tahapan operasional konkrit (7-11 th). Siswa akan lebih paham bila siswa mencari, membuat dan melakukan sendiri serta terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi rendahnya hasil belajar IPA siswa dalam proses pembelajaran, maka diperlukan model pembelajaran yang cocok dan tepat.
Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model NHT memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai akhir.
Dengan penerapan model pembelajaran NHT hasil belajar IPA siswa didapat dari hasil perolehan nilai siklus I (pertemuan I dan II) dan siklus II (pertemuan I dan II).
1. Siklus I a) Pertemuan I
Pertemuan I dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥70) sebanyak 25 siswa atau 68% dan siswa yang belum mencapai nilai di atas KKM sebanyak 12 siswa atau 32%.
b) Pertemuan II
Pertemuan II dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥70) atau siswa
yang tuntas sebesar 29 siswa atau 78% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 8 siswa atau 22%.
2. Siklus II a) Pertemuan I
Pertemuan I dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥70) sebanyak 33 siswa atau 89% dan siswa yang belum mencapai nilai di atas KKM sebanyak 4 siswa atau 11%.
b) Pertemuan II
Pertemuan II dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa yang tuntas sebanyak 36 siswa atau 97% dan siswa yang tidak tuntas 1 atau 3 %.
Berdasarkan pencapaian hasil belajar yang didapatkan pada siklus I dan siklus II dengan penerapan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SD Negeri Mangunsari 01 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014, karena dengan model pembelajaran NHT siswa terdorong dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran serta menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (Group process skills). Situasi pembelajaran seperti ini mendukung efektivitas proses pembelajaran dan dengan langsung terlibat pada aktivitas (learning by doing) siswa akan lebih memahami dan mengerti materi yang dipelajari.