• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

GAMBARAN UMUM HOTEL SAHID RAYA

C. Analisis Data

1. Analisis Regresi Linier Berganda

Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil sebagai berikut Tabel V.7

Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa 10.376 2.563 4.049 .000 -.184 .043 -.347 -4.227 .000 .295 .099 .340 2.962 .004 .122 .103 .136 1.183 .240 (Constant) gaya kepemimpinan kemampuan mengelola stres tingkat percaya diri Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: motivasi kerja a.

Berdasarkan tabel tersebut maka diperoleh persamaan regresi linier berganda Y = 10.376 - 0.184 X1+ 0.295 X2+ 0.122 X3

2. Uji Asumsi Klasik

Menurut Widarjono (2007:64) dalam regresi linier berganda ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi yaitu tidak ada multikolinieritas, tidak ada autokorelasi, tidak ada heteroskedastisitas, dan data berdistribusi normal. Berdasarkan pernyatan tersebut maka model dalam penelitian ini akan dilihat apakah memenuhi beberapa asumsi diatas.

a. Hasil Uji Asumsi Klasik Multikolinieritas Tabel V.8

Hasil Uji Asumsi Klasik Multikolinieritas

Collinearity Statistics Variabel

Tolerance VIF

Gaya Kepemimpinan (X1)

Kemampuan Mengelola Stres (X2) Tingkat Kepercayaan Diri (X3)

0,896 0,459 0,458 1,116 2,179 2,181 Sumber: Data Primer diolah, 2009.

Dengan menggunakan VIF (Variance Inflation Factor) kita bisa mendeteksi masalah multikolinieritas dalam sebuah model regresi berganda, Jika nilai VIF melebihi angka 10 maka dikatakan ada multikolinieritas (Widarjono, 2007:118). Dengan melihat perhitungan VIF pada variable gaya kepemimpinan sebesar 1,116, VIF pada kemampuan mengelola stres sebesar 2,179, dan VIF pada tingkat kepercayaan diri sebesar 2,181. Berdasarkan pendapat Widarjono maka

-3 -2 -1 0 1 2

Regression Standardized Predicted Value

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 R e g re s s io n S tu d e n ti z e d R e s id u a l

Dependent Variable: motivasi kerja Scatterplot

dapat disimpulkan tidak ada multikolinieritas antar variable bebas karena nilai VIF lebih kecil dari 10.

b. Hasil Uji Asumsi Klasik Heterokedastisitas

Berdasarkan hasil pengolahan data (gambar scatterplot) menggunakan SPSS versi 12.0 didapatkan titik-titik menyebar di bawah dan di kiri, dan tidak mempunyai pola yang teratur, jadi dapat disimpulkan model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar V.1

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Residual 0 5 10 15 20 25 30 F re q u e n c y Mean = 2.02E-16 Std. Dev. = 0.985 N = 100

Dependent Variable: motivasi kerja Histogram

c. Hasil Uji Asumsi Klasik Normalitas

Dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS versi 12.0 diperoleh grafik histogram yang menunjukkan garis kurva normal, berarti data yang diteliti berdistribusi normal. Demikian juga dengan melihat normal probability plots menunjukkan data berdistribusi normal karena garis (titik-titik) mengikuti garis diagonal. Jadi data variabel bebas dan variabel terikat berdistribusi normal.

Gambar V.2

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 Observed Cum Prob

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 E x p e c te d C u m P r o b

Dependent Variable: motivasi kerja Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Gambar V.3

Gambar Normal Probability Plot: Motivasi Kerja d. Hasil Uji Asumsi Klasik Autokorelasi

Tabel V.9

Hasil Uji Asumsi Klasik Autokorelasi

Model Durbin - Watson

1 1,245

Sumber: Data Primer diolah, 2009.

dl du 4-du 4-dl dw Interpreasi

1,613 1,736 2,264 2,387 1,245 Ada

autokorelasi positif

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai Durbin Watson (DW) sebesar 1,245. Pada tabel Durbin Watson dengan nilai Alpha 5% dan n = 100 dan k = 3 diperoleh nilai dL= 1,613 dan nilai du = 1,736. Nilai DW terletak antara 0 dan dL atau 0<1,245<1,613 maka disimpulkan ada autokorelasi positif.

3. Koefisien Determinasi

Tabel V.10

Harga Koefisien Determinasi

Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .648(a) .420 .402 2.630

a Predictors: (Constant), tingkat percaya diri, gaya kepemimpinan, kemampuan mengelola stres

Menurut Santoso (dalam Priyatno, 2008:81) bahwa untuk regresi dengan lebih dari dua variable bebas digunakan Adjusted R2 sebagai koefisien determinasi. Dari hasil analisis regresi berganda tipe variable

bebas diperoleh Adjusted R2 sebesar 0,402. Besaran Adjusted R2 ini menunjukkan bahwa 0,402 atau sekitar 40,2% perubahan-perubahan pada Y yaitu motivasi kerja dapat dijelaskan oleh ketiga variable bebas yaitu gaya kepemimpinan, kemampuan mengelola stres dan tingkat kepercayaan diri.

4. Pengujian Signifikansi Pengaruh Simultan dengan Uji F Tabel V.11 Hasil Uji F ANOVA(b) Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 481.508 3 160.503 23.209 .000(a) Residual 663.882 96 6.915 Total 1145.390 99

a. Predictors: (Constant), tingkat percaya diri, gaya kepemimpinan, kemampuan mengelola stres

Hasil pengujian pengaruh bersama-sama (simultan) ketiga variabel X1, X2, X3 dengan uji F menghasilkan nilai Fhitung = 23,209, hal ini menunjukkan angka yang lebih besar dari pada angka Ftabel (Fhitung> Ftabel) dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan (df1: 4-1= 3 dan df2: 99-3-1=95) yang bernilai 2.700409.

Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas (Gaya Kepemimpinan, Kemampuan Mengelola Stres, dan Tingkat Percaya Diri) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y (Motivasi Kerja).

5. Pengujian Signifikansi Pengaruh Parsial dengan Uji t Tabel V.12 Hasil Uji t Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Model B Std. Error Beta 1 (Constant) 10.376 2.563 4.049 .000 gaya kepemimpinan -.184 .043 -.347 -4.227 .000 kemampuan mengelola stres .295 .099 .340 2.962 .004 tingkat percaya diri .122 .103 .136 1.183 .240

a. DependentVariable: motivasi kerja

Hasil uji Signifikansi terhadap nilai koefisien korelasi untuk X1 (Gaya Kepemimpinan) menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,184 bertanda negatif. Koefisien bertanda negatif didapat dari hasil kuesioner. Pertanyaan gaya kepemimpinan memberikan skor 5 untuk responden yang menjawab gaya pengambilan keputusan tidak melibatkan karyawan dan

memberikan skor 1 untuk pengambilan keputusan yang melibatkan karyawan. Didapat hasil bahwa semakin pengambilan keputusan melibatkan karyawan akan semakin meningkatkan motivasi kerja dan semakin pengambilan keputusan tidak melibatkan karyawan akan mengurangi motivasi kerja. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai sig. < 0,05, karena nilai sig. < 0,05 maka Gaya Kepemimpian (X1) secara individual berpengaruh terhadap Motivasi Kerja (Y).

Hasil uji signifikansi terhadap nilai koefisien korelasi untuk X2

(Kemampuan Mengelola Stres) menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,295 bertanda positif. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai sig. < 0,05, karena nilai sig. < 0,05 maka Kemampuan Mengelola Stres (X2) secara individual berpengaruh terhadap Motivasi Kerja (Y).

Hasil Uji signifikansi terhadap koefisien korelasi untuk X3 (Tingkat Kepercayaan Diri) menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,122 bertanda positif. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai sig. > 0,05, karena nilai

sig. > 0,05 maka Tingkat Kepercayaan Diri (X3) secara individual tidak berpengaruh terhadap Motivasi Kerja (Y).

D. Pembahasan

Hasil analisis data menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan, kemampuan mengelola stres, dan tingkat kepercayaan diri berpengaruh terhadap motivasi kerja. Tiga variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tergantung (Fhit > Ftabel). Hal ini menunjukkan bahwa motivasi kerja dapat

tercipta melalui gaya kepemimpinan yang tepat, kemudian kemampuan mengelola stres dari individu untuk menghadapi masalah yang ada, dan juga tingkat kepercayan diri karyawan yang membuat pekerjaan lebih menyenangkan.Gaya kepemimpian yang dinilai dalam penelitian ini adalah gaya kepemimpinan dalam pembuatan keputusan. Variabel gaya kepemimpinan dan kemampuan mengelola stres memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja, ini dapat diketahui dari perhitungan uji t dimana nilai sig. yang diperoleh < 0,05. Gaya kepemimpinan yang cocok dapat mengoptimalkan usaha. Pembuatan keputusan yang melibatkan karyawan membuat karyawan merasa diperhatikan dan bersedia bekerja dengan sebaik mungkin untuk hotel. Bila seseorang dapat menangani masalah dengan baik, kehidupan jadi lebih mudah. Keberhasilan mengelola stres dalam pekerjaan dapat mengatasi masalah kerja dan menunjang kelancaran pekerjaan.

Variabel tingkat kepercayaan diri yang tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja, ini dapat diketahui dari perhitungan uji t di mana nilai sig. yang diperoleh > 0,05. Meskipun tidak ada pengaruh terhadap motivasi kerja, unsur tingkat kepercayaan diri dapat membuat pekerjaan lebih bergairah.

BAB VI

Dokumen terkait