HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Informan
4.2 Analisis Data
Pembangunan perpustakaan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Perpustakaan sebagai pusat literasi informasi dan pusat kegiatan dapat menjadi wahana belajar sepanjang hayat untuk mengembangkan potensi dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui:
1. Pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial 2. Peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif 3. Pendampingan masyarakat untuk literasi informasi.
4. Peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi
5. Perkuatan kerja sama dan jejaring perpustakaan dengan berbagai lembaga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Berikut merupakan data di yang diambil pada penelitian di Lapangan.
Tabel 4.2 Hasil Observasi Lapangan
Indikator Data di Lapangan
Pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial
Desa Sekip merupakan salah satu penerima manfaat program
perpustakaan berbasis inklusi sosial
Perpustakaan Desa Sekip
diselenggarakan dan dikelolah oleh sembilan aparatur desa dan kepala desa sebagai pembina dan
penanggung jawab pelaksanaan.
Pendampingan masyarakat untuk Realisasi program pelatihan
literasi informasi melibatkan pemda Deli Serdang dan
Selanjutnya Untuk memperkuat substansi data hasil observasi dilapangan, maka dilakukanlah wawanvara terhadap beberapa informan yang sudah ditentukan. Semua data hasil observasi dilapangan dijadikan sebagai fokus pertanyaan penelitian pada dengan indikatornya yaitu connenctivity, content dan Human.
4.2.1 Connectivity
Perpustakaan dahulunya mewajibkan pengunjung untuk meluangkan waktu pada jam sibuk untuk meminjam buku dan harus tepat waktu untuk mengembalikannya, dengan kemajuan teknologi informasi maka semuanya dapat teratasi. Peminjaman buku tidak lagi mewajibkan anggota/pengguna untuk datang pada jam kerja, karena dimanapun dan kapanpun mereka membutuhkan literature mereka dapat meminjamnya dan tidak perlu takut untuk didenda karena lupa mengembalikannya karena dalam mengembalikan literature/koleksi (digital) pengguna tidak harus mendatangi perpustakaan melainkan cukup melakukan transaksi di depan komputer yang telah terhubung ke internet dan pengguna tinggal mengunjungi situs dari perpustakaan itu untuk melakukan transaksi pengembalian koleksi.
Dalam dal hal ini tentunya perpustakaan desa masih belum memilii infrastruktur yang memadai, untuk itu konektivitas yang dimaksud adalah mendekatkan bahan bacaan informasi yang didapat melalui perkembangan teknologi internet oleh pustakawan/petugas perpustakaan kepada masyarakat guna menjadikan pengetahuan, konektivitas, dan komunitas sebagai dasar inovasi perpustakaan desa dalam mengembangkan layanan perpustakaan. Pelayanan perpustakaan dengan cara mendekatkan perpustakaan kepada masyarkat ini memotivasi peningkatan peran perpustakaan desa dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan (society knowledgeable) dan dengan pengetahuan itu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Connectivity (konektivitas) merupakan hal yang berkaitan dengan infrastuktur perpustakaan untuk memperluas layanan sehingga memudahkan akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Konektivitas dalam hal ini mengacu pada kebijakan, fasilitas, sarana prasarana. Berikut merupakan wawancara dengan informan terkait indikator konektivitas.
1. Program pemberdayaan masyarakat melalui perpustakaan berbasis inklusi sosial.
P1: “ apa yang bapak ketahui tentang perpustakaan berbasis inklusi sosial?”.
I1: “ perpustakaan yang ikut mendorong perkembagan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat dengan memanfaatkan buku-buku dan bahan bacaan perpustakaan”.
I2: “ menurut saya, perpustakaan berbasis inklusi sosial itu merupakan perpustakaan yang meyediakan sarana prasarana, beragam bacaan yang dapat digunakan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dan produktivitas usaha mbak”.
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa Secara sederhana Perpustakaan berbasis inklusi sosial itu merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakatnya dalam mengembangkan potensinya, bacaannya, dan mengembangkan fasilitas yang mendukung yang kemudian dapat membantu perkembangan ekonomi masyarakat. dengan program tranformasi perpustkaan berbasis inklusi sosial diharapkan Kehadiran perpustakaan dapat menciptakan paradigma baru yaitu menjadikan perpustakaan sebagai ruang dimana masyarakat yang hendak mengubah pola pikir dan hal lainnya dapat bertemu dan bekerja sama, untuk berbagi pengalaman, ruang belajar kontekstual dan ruangan untuk berlatih keterampilan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan atau kebijakan.
2. Strategi dan kebijakan perpustakaan desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memanfaatkan perpustakaan.
P2: “ Pak, strategi apa yang bapak lakukan supaya warga mau memanfaatkan perpustakaan desa ini”?
I1: “Adakan sosialisasi peran dan fungsi perpustakaan mbak, kasih informasi kepada warga kalau perpustakaan bukan gudang buku akan tetapi ikut serta dalam program pemerintah daerah yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pembinaan dan pelatihan kewirausahaan, untuk itu perpustakaan masih berupaya menyediakan modul-modul teknis dan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat”.
I2: “Menurut saya, pertama kita harus menumbuhkan persepsi positif kepada masyarakat akan keberadaan dan fungsi perpustakaan serta memberikan pelayanan optimal dengan menyediakan bahan bacaan dan melengkapi fasilitas yang masih perlu dibenahi ”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa strategi dan kebijakan desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memanfaatkan perpustakaan sudah baik yaitu dengan cara sosialisasi langusung kepada masyarakat tentang fungsi perpustakaan agar masyarakat mendapat pengetahuan yang bisa meningkatkan keterampilannya, seperti bagaimana mengemas hasil produksi daerah agar bisa dipasarkan dengan baik.
3. Dukungan terhadap program-program pelatihan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
P3: “Setelah ikut mensukseskan program pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Deli serdang lalu bagaimana antusias dan pendapat masyarakat terhadap kegiatan tersebut Pak?”.
I1: “Masyarakat disini sangat senang mbak, banyak keinginan dari mereka yang sudah kita catat, terutama keinginan mereka agar kegiatan pelatihan ini sesering mungkin diadakan dan tidak hanya semangat diawal saja”.
I2: “Menurut saya masyarakat disini sangat senang dan antusias mbak, untuk itu tahun ini kita sudah menyelenggarakan lima pelatihan
tangan dan untuk anak anak PAUD, TK, dan Sekolah Dasar berupa pelatihan menari, pelatihan karate, mewarnai dan lomba mendongeng”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa antusias warga terhadap peran dan partisipasi perpustakaan desa dalam program pemberdayaan masyarakat sangat tinggi hal ini diketahui dari jawaban informan yang menyatakan bahwasudah diselenggarakannya beberapa pelatihan untuk masyarakat secara reguler. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan upaya meningkatkan akses kepada masyarakat agar mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
Sehingga terjadi proses belajar yang mendorong kreativitas dan inovasi agar menjadi produktif, bagi kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
4. Pelayanan jasa konsultasi informasi
P4: “Dalam upaya mendukung program pemberdayaan masyarakat apakah perpustakaan meyediakan pelayanan jasa konsultasi untuk masyarakat Pak?”.
I1: “ Secara formalitas tidak ada mbak konsultasi, tetapi yang selama ini kita lakukan adalah dengan diskusi. Topik diskusinya pun beragam mbak, paling banyak seputar permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan, perijinan, dokumen kependudukan, kalau ada buku atau bahan bacaaan di perpustakaan kita yang berhubungan dengan yang kita diskusikan, saya anjurkan untuk meminjam bukunya”.
I2: “ada mbak, tapi konsultasi sederhana, seperti pertanyaan seputar pekerjaan atau cara memulai usaha, meningkatkan pertanian, peternakan dan usaha lainnya”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa Perpustakaan Desa Sekip secara sederhana juga menyediakan pelayanan jasa konsultasi informasi hal ini diketahui dari jawaban informan yang menyatakan bahwa perpustakaan juga menyediakan jasa konsultasi sederhana seputar pekerjaan dan peningkatan usaha masyarakat.Desa / Kelurahan sebagai hirarki terendah dalam struktur
pemerintahan di Indonesia menjadi tumpuan dalam setiap urusan termasuk perpustakaan. Perpustakaan desa/ Kelurahan memegang peranan yang strategis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan/ pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat baik dari aspek geografis maupun sosial ekonomi.
5. Peran dan cara perpustakaan desa memberikan pelatihan kepada masyarakat.
P5: “Bagaimanakah peran dan cara perpustakaan dalam mensukseskan program pemberdayaan masyarakat Pak?”.
I1: “Secara teknis peran kita sebagai implementatornya mbak, karena program ini melibatkan perpustakaan desa tentunya perpustakaan kita lah yang dijadikan kuncinya. Sedangkan untuk caranya karena di desa kita, sudah ada perkumpulan warga, jadi mempermudah kita untuk memberikan informasi terkait program pelatihan, kita tawarkan program pelatihannya dan manfaat apa yang mereka dapat kalau mengikuti pelatihannya”.
I2: “untuk kegiatannya sendiri perpustakaan langsung terjun kelapangan mbak dengan membawa satu mobil perpustakaan keliling yang kita punya, kita dibantu oleh beberapa orang dari pemda sebagai coach kegiatannya, kita juga menyediakan buku-buku yang berhubungan dengan tema pelatihan, tapi hanya beberapa saja karena buku-buku teknis yang kita punya hanya sedikit”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa peran perpustakaan dalam upaya pemberdayaan masyarakat sudah baik hanya saja terkendala dari minimnya ketersediaan koleksi hal ini diketahui dari jawaban informan yang meyatakan bahwa tidak tersedianya buku-buku teknis pendukung tema pelatihan. Program pemberdayaan masyarakat desa ini bertujuan untuk memanfaatkan semua sumber daya yang ada agar dapat berkembang serta dapat membantu proses kemajuan desa. Sasaran dalam program pemberdayaan masyarakat ini mencakup semua bidang, mulai dari pemerintahan, kelembagaan, kesehatan, ekonomi masyarakat,
teknologi, dan pendidikan. Strategi yang dapat dipakai diantara lain Mengembangkan fungsi asistensi teknis dalam rangka menguatkan teknostrutur masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya lokal dan Memperkuat fungsi fasilitasi untuk meningkatkan kesadaran kritis dan prakarsa masyarakat
6. Promosi pemanfaatan perpustakaan
P6: “Dalam hal promosi atau himbauan akan pentingnya perpustakaan, apa yang dilakukan agar warga tertarik untuk menggunakan perpustakaan?”.
I1: “Jadi begini mbak, kita sudah sering berkordinasi dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten Deli serdang terkait apa dan bagaimana mengelolah perpustakaan. Dan hasilnya adalah merubah konsep perpustakaannya, jadi selama ini perpustakaan itu harus dikunjungi masa sedangkan untuk sekarang kita ubah yaitu perpustakaan yang mengunjungi. Ini kita lakukan setiap kali ada kegiatan balai desa ke setiap dusun. kita selalu memasukkan wacana tentang pentingnya belajar melalui buku, begitu mbak”.
I2: “dalam hal ini, kita kan punya mobil perpustakaan keliling yang sering kita gunakan ke sekolah dan tempat keramaian. Dan juga kita sudah punya facebook, instagram mbak jadi sesekali kita posting himbauan gemar membaca juga memposting kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan literasi membaca”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa Perpustakaan Desa Sekip telah melakukan kegiatan pengembangan perpustakan salah satunya dengan mempromosikan perpustakaan ke tengah masyarakat hal ini diketahui dari jawaban informan yang menyatakan bahwa petingnya merubah konsep perpustakaan dan mengoptimalkan kinerja perpustakaan keliling juga memanfaatkan sosial media. Pustakawan harus aktif dan kreatif dalam mempromosikan layanan dan koleksi yang ada. Dengan demikian, pemustakan
benar-benar merasa puas dan memperoleh informasi yang dibutuhkan beserta alternatif sumber- sumber ilmu pengetahuan lainnya.
7. Kendala yang kerap dihadapi perpustakaan desa dalam mengembangkan melaksanakan program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat.
P7: “Dalam mengembangkan perpustakaan menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat, kendala apa saja yang kerap dihadapi?”.
I1: “Kendalanya yang paling terasa yaitu terletak pada anggaran, karena untuk mengembangkan perpustakaanya mbak, dengan anggaran yang terbatas seperti sekarang sulit rasanya untuk membeli melengkapi fasilitas perpustakaan. begitu mbak.”. dari apa yang kita upayakan saat ini awalnya masyarakat tidak sadar tapi karna kemajuan perpustakaan desa sekip sudah di lihat nyata oleh masyarakat, masyarakat sudah beradaptasi dengan perpustakaan desa dan perpustakaan keliling desa sekip
I2: “Selain anggaran yang tersedia jumlahnya sangat terbatas, kendala lainnya menurut saya terletakpada sumber daya manusia tidak memadai, baik dari segi jumlah tenaga pengelola maupun kompetensi kepustakawanan yang dimiliki serta koleksi yang ada masih minim”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa kendala Perpustakaan Desa Sekip dalam mengembangkan perpustakaan adalah anggaran, koleksi dan sumber daya manusia, dan koleksi, hal ini dapat diketahui dari jawaban informan yang menyatakan bahwa kendala utama terletak pada anggaran, sumber daya manusia, dan minimnya koleksi.Kendala perpustakaan desa, masalah kekurangan uang masih jadi alasan klasik tetapi hal ini bisa dicari solusi dengan pengalokasian dana desa minimal 1 persen untuk kegiatan perpustakaan desa. Lakukan pula bertindak sebagai pemulung buku yakni mencari buku di masyarakat sekiranya buku bukunya tidak lagi diperlukan untuk dibeli atau disumbangkan. Atau juga bisa meminjam buku ke perpusta jual beli di masyarakat.Perpustakaan desa juga harus melakukan kerja sama dengan perpustakaan kabupaten dengan menggunakan
sistem pinjam buku. Karena Perpustakaan manapun tidak bisa melengkapi diri sendiri, terutama dalam pengadaan bahan pustaka yang sesuai kebutuhan pembaca.
4.2.2 Content
Ada beberapa tahapan dalam menerapkan transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Tahap pertama “RENCANA”: Mendesain perpustakaan dan koleksinya untuk dimanfaatkan masyarakat seoptimal mungkin.
Tahap kedua “AKSI”: menyediakan ruang berbagi pengalaman, ruang belajar yang kontekstual, dan ruang berlatih keterampilan kerja. Indikator keberhasilannya akan diketahui antara lain: peningkatan kunjungan pemustaka ke perpustakaan, peningkatan pelibatan masyarakat dalam kegiatan perpustakaan, peningkatan ekspos media terhadap kegiatan perpustakaan, peningkatan jumlah kemitraan perpustakaan dengan berbagai lembaga. Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan perpustakaan adalah ketersediaan koleksi atau bahan perpustakaan.
Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi.
Sedangkan pada ruang lingkup perpustakaan desa, koleksi merupakan hal-hal yang berkaitan dengan sumber bacaan atau informasi terapan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Content dalam hal ini mengacu pada ketersediaan koleksi dan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat. Berikut merupakan wawancara dengan informan terkait indikator content.
1. Pengolahan Bahan Bacaan di Perpustakaan Desa Sekip.
P8: Bagaimana pengolahan bahan bacaan diPerpustakaan Desa Sekip?
I1: “Pengolahan bahan bacaan di perpustakaan kita sama dengan pengolahan bahan bacaan pada umumnya, kita menyesuaikan dengan intruksi dari perpustakaan kabupaten, secara detailnya petugas perpustakaan yang lebih mengetahui hal ini mbak”.
I2: “Pengolahan bahan bacaan disini tergantung situasi mbak, jika bukunya hibah dari pusat bisanya sudah ada nomer klasifikasinya tinggal diletakkan di rak, akan tetapi jika hibah dari pemda atau lainnya, kita lakukan klasifikasi dulu misalnya begitu kita menerima buku baru kita catat terlebih dahulu di buku induk, ditentukan subjek mengenai buku Nasional Perpustakaan Desa/Kelurahan dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan Desa / Kelurahan mneyebutkan bahwa Pengolahan bahan perpustakaan dilakukan dengan sederhana. Proses pengolahan bahan perpustakaan dilakukan melalui pencatatan dalam buku induk, deskripsi bibliografis, dan klasifikasi.
2. Jenis dan Jumlah Koleksi Perpustakaa Perpustakaan Desa Sekip.
P9: Berapa jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan desa dan kategori apa yang paling banyak sediakan oleh Perpustakaan Desa Sekip?
I1: “Jumlah tepatnya saya kurang tahu, petugas perpustakaan kita yang lebih tahu rinciannya, yang jelas dengan jumlah yang sekarang masih belum cukup, saya ingin kedepannya kita memiliki lebih banyak buku-buku terutama buku-buku pelatihan, keterampilan dan pengembangan usaha
mikro. Dengan demikian kita lebih bisa memberikan kontribusi banyak kepada warga sekitar terkait penyediaan buku yang informatif”.
I2: “Saat ini Perpustakaan Desa Sekip memiliki buku sebanyak 3133 Judul, terdiri dari 976 judul untuk anak-anak, 390 judul untuk remaja/dewas, buku pelajaran/pengetahuan sebanyak . Sedangkan untuk jenis bukunya didominasi oleh buku cerita, buku pelajaran, fiksi, dan buku pengayaan”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa koleksi yang tersedia di Perpustakaan Desa Sekip masih belum sesuai stadart Perpustakaan Desa, dimana standar Perpustakaan Desa Setidaknya memiliki koleksi anak sebanyak 500 judul, koleksi remaja/dewasa sebanyak 1.000 judul, koleksi referensi anak sebanyak 50 judul, koleksi referensi remaja/dewasa sebanyak 50 judul, surat kabar yang dilanggan sebanyak 1 judul, majalah yang dilanggan sebanyak 1 judul, dan koleksi audio visual sebanyak 1judul.
Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Desa/Kelurahan dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan Desa / Kelurahan disebutkan bahwa Perpustakaan memiliki jumlah koleksi paling sedikit 1.000 judul, Perpustakaan memiliki koleksi terbaru (lima tahun terakhir) paling sedikit 10% dari jumlah koleksi, Perpustakaan memiliki jenis koleksi anak, koleksi remaja, dewasa,koleksi referensi, surat kabar dan majalah, Koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai kebutuhan masyarakat dan Koleksi referensi paling sedikit terdiri dari Ensiklopedia, dan kamus.
3. Kebijakan pengadaan dan sumber-sumber pengadaan koleksi Perpustakaan.
P10: “Bagaimana koleksi Perpustakaan Desa Sekip diadakan, dan adakah peraturan mengenai pengadaanya serta dari mana saja sumber-sumber pengadaanya?”
I1: “Bahan bacaan yang ada di ruangan perpustakaan kita sepenuhnya merupakan buku sumbangan dari beberapa pihak seperti pemda Kabupaten Deli Serdang dan Bantuan langsung dari Perpustakaan Nasional. Untuk tahun depan kita akan bekerjasama dengan beberapa perusahaan atau pabrik di desa ini agar mau memberikan bahan bacaan keterampilan usaha dan pekerjaan. Hal ini penting untuk mengembangkan perpustakaan Desa dengan menyediakan bahan bacaaan yang sesuai dengan profesi masyarakat”.
I2: “Buku-buku yang ada disini semuanya murni dari sumbangan mbak, sedangkan dari sisi kebijakan kepala desa tidak menerima sumbangan buku yang tahun terbitnya di bawah tahun 2010 hal ini diperlukan agar buku yang ada di rak merupakan buku yang mutakhir mbak”. Ditambah lagi selain bahan bacaan berupa buku kita sering membuat selebaran yang berisi pengetahuan akan usaha-usaha yang mikro”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa kebijakan pengadaan dan sumber-sumber pengadaan koleksi perpustakaan desa Sekip hanya bersumber dari sumbangan/hibah dan koleksi yang disediakan juga merupakan buku yang mutakhir. Selanjutnya untuk menutupi kekurangan bahan bacaan yang bersifat pengayaan petugas perpustakaan mampu mencari informasi dari internet kemudian diprint yang biasa di sebut lembaran pengetahuan.
Pustakwan harus kreatif dan harus juga bisa menciptakan berbagai ide dan metode, guna menarik dan memacu minat masyarakat terhadap berbagai fasilitas bacaan yang disiapkan perpustakaan.Pustakawan disebut sebagai orang yang bergerak di bidang perpustakaan atau ahli perpustakaan. Pustakawan ada juga yang menyebutnya sebagai seeorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan dan pelatihan.
4. Kebijakan layanan koleksi, peminjaman koleksi dan peraturan lainnya.
P11: “Bagaimanakah kebijakan layanan koleksi, peminjaman koleksi dan peraturanya lainnya yang diberikan oleh perpustakaan, dan bagaimana pula cara perpustakaan mendekatkan buku kepada masyarakat sesuai dengan konsep perpustakaan mengunjungi masyarkat?”.
I1: “Kebijakan layanan dan peminjaman sangat sederhana mbak, siapapun boleh datang ke perpustakaan, karena memang kita terbuka untuk umum. tetapi kalau minjam hanya untuk warga desa Sekip saja mbak, sedangkan untuk mendekatkan buku kepada masyarakat banyak yang bisa kita lakukan, seperti menyediakan bahan bacaan di posyandu, pukesmas, tempat kerajinan juga kita kasih bahan bacaan yang ada hubungannya dengan kerajinan itu dan satu lagi menggunakan mobil perpustakaan keliling”.
I2: “Pelayanan perpustakaan disini dibuka mulai jam 9 sampai jam 4 sore mbak,sedangkan untuk kebijakan peminjaman buku diperpustakaan, hanya dapat dipinjam tiga buku perharinya, dan harus dikembalikan selambat-lambatya dalam waktu seminggu. Beda halnya dengan bahan bacaan yang berupa lembaran yang biasa kita bagikan ke tempat-tempat usaha kecil dan kerajinan di desa ini mbak”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa kebijakan layanan, peminjaman koleksi, dan peraturan lainnya sudah sangat baik, hal ini mengindikasikan bahwa perpustakaan desa Sekip mampu menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar bagi masyarakat hal ini ditandai dengan membagikan bahan bacaan yang bersifat informatif ke beberapa titik-titik usaha dan kerajinan. Kebijakan peminjaman buku di Perpustakaan desa Sekip yaitu masyarakat diperbolehkan meminjam maksimal 5 buku selama seminggu dan harus dikembalikan paling lambat 30 hari.
Jika buku yang dipinjam hilang maka masyarakat harus membayar ganti rugi yang disesuaikan dengan harga buku yang dipinjam.
5. Hambatan atau kendala seputar koleksi perpustakaan desa
P12: “Guna mewujudkan perpustakaan berbasis inklusi sosial,apa kendala yang mesti di selesaikan terkait ketersediaan koleksi perpustakaaan?”.
I1: “Kendala utama kita adalah ketersediann bahan bacaan berupa buku-buku yang masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas mbak, serta minat membaca masyarakat yang masih rendah, hal ini merupakan PR lama yang belum juga terselsaikan, sedangkan untuk harapan saya adalah program-program pelatihan kerja dan program belajar terus dilakukan dan menjadi rutinitas untuk itu kita meminta pemda disini serius untuk memperhatikan hal ini”.
I2: “ Menurut saya karena antusias dan respon masyarakat sangat baik maka kita harus menjadikan ini perhatian khusus. Sebagai petugas perpustakaan tentunya saya ingin Perpustakaan desa Sekip menjadi contoh untuk perpustakaan lainnya setidaknya untuk kabupaten Deli Serdang, kita ingin masyarakat punya pengetahuan dan keterampilan yang baik, untuk itu kita harus dukung dari segala aspek, baik fasilitas maupun bahan bacaan yang beragam dan berkualitas untuk seluruh masyarakat”.
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa ketersediaan koleksi masih menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan peran dan fungsi perpustakaan desa, ditambah lagi minat baca masyarakat yang relatif rendah juga menjadi kendala bersama, untuk itu diharapkan dengan adanya program perpustakaan berbasis inklusi sosial ini dapat merangsang minat dan keinginan masyarakat dalam mengenal dan memanfaatkan perpustakaan sebagai lembaga
Dari wawancara di atas dapat dipahami bahwa ketersediaan koleksi masih menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan peran dan fungsi perpustakaan desa, ditambah lagi minat baca masyarakat yang relatif rendah juga menjadi kendala bersama, untuk itu diharapkan dengan adanya program perpustakaan berbasis inklusi sosial ini dapat merangsang minat dan keinginan masyarakat dalam mengenal dan memanfaatkan perpustakaan sebagai lembaga