• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data Hasil Observasi

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-38)

Data hasil observasi diperoleh dari hasil kegiatan pengamatan dan observasi yang dilakukan oleh observer selama pembelajaran berlangsung.

Observer mengamati kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung dan mencatatnya pada lembar observasi. Lembar observasi digunakan pada setiap pertemuan pada kelas eksperimen saja, karena yang diberikan bahan ajar matematika berkarakter hanya kelas eksperimen saja. Data kualitatif ini digunakan untuk menjelaskan keterlaksanaan aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran pada saat penelitian dilaksanakan.

Hasil observasi aktivitas guru diperoleh dari lembar observasi yang diisi observer. Pada lembar observasi tercatat kegiatan apa saja yang terlaksana dan kegiatan apa saja yang tidak terlaksana. Berikut ini rekapitulasi seluruh hasil observasi aktivitas guru selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar matematika berkarakter.

Tabel 4.27

Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa pada Kelas Eksperimen

No. Kegiatan Pertemuan Ke-

1 2

Kegiatan Awal

1. Guru mengucapkan salam Ya Ya

2. Guru mendaftar kehadiran siswa Ya Ya

3. Guru memberikan motivasi Ya Tidak

4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ya Ya Kegiatan Inti

5. Guru membagi siswa ke dalam kelompok Ya Ya

yang heterogen.

6. Setiap kelompok bekerja keras, kreatif, dan kritis merencanakan langkah-langkah penyelesaian masalah dalam LKK.

Ya Ya

7. Siswa mengemukakan pendapatnya dalam diskusi kelompok.

Ya Ya

8. Guru bertindak sebagai fasilitator, peduli pada setiap kelompok.

Ya Ya

9. Siswa menyelesaikan LKK sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Tidak Tidak 10. Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk

mempresentasikan hasil LKK yang telah dikerjakan.

Ya Ya

11. Siswa lain kritis memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi.

Ya Ya

12. Guru melakukan refleksi terhadap hasil presentasi siswa.

Ya Ya

Kegiatan Akhir

No. Kegiatan Pertemuan Ke-

1 2

13. Guru memberikan soal evaluasi yang dikerjakan secara individu.

Tidak Tidak 14. Guru memberikan tugas dan menyuruh

siswa membaca materi selanjutnya.

Ya Ya

Dari tabel di atas terlihat bahwa hampir semua aktivitas dilaksanakan oleh peneliti. Hanya beberapa aktivitas saja yang tidak terlaksana dalam setiap pertemuan.

Pada pertemuan pertama hampir semua kegiatan terlaksana, tetapi kegiatan evaluasi tidak terlaksana karena waktu untuk mengerjakan LKK tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Siswa cenderung lama untuk diatur untuk belajar berkelompok karena tidak terbiasa melakukan pembelajaran matematika secara berkelompok. Tetapi setelah diberikan LKK, antusias mereka bagus dan semangat dalam menyelesaikan LKK.

Pada pertemuan kedua, pemberian motivasi kepada siswa tidak dilakukan karena dipakai untuk melakukan evaluasi lisan yang dilakukan dengan tanya jawab mengenai materi yang telah diberikan pada pertemuan pertama. Kegiatan evaluasi tidak terlaksana karena waktu untuk mengerjakan LKK tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Tetapi pada pertemuan kedua ini siswa sudah

terbiasa dengan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, jadi pembelajaran dirasakan lebih kondusif.

Pada kegiatan pembelajaran ini terlihat bahwa siswa lebih dominan dan lebih aktif, karena pembelajaran dilakukan secara berkelompok dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator saja.

C. Pembahasan

Penelitian pengembangan bahan ajar matematika berkarakter dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu tahap 1 dan tahap 2. Tahap 1 merupakan tahap identifikasi learning obstacle (kesulitan) yang dialami oleh siswa pada materi dimensi tiga dengan sub materi konsep jarak pada bidang ruang, dan pada tahap 2 merupakan tahap implementasi bahan ajar matematika berkarakter sesuai learning obstacle pada tahap 1 dan karakter yang dapat diterapkan pada pelajaran.

Kegiatan penelitian tahap 1 adalah uji instrumen tes kemampuan pemahaman matematis siswa yang diberikan kepada siswa kelas XI IPA 4 SMAN 2 Bandung. selain untuk menguji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan indeks kesukaran soal, uji instrumen ini juga digunakan untuk mengetahui learning obstacle yang dialami siswa terutama pada materi konsep jarak pada bidang ruang. Kajian learning obstacle dilakukan melalui observasi terhadap jawaban siswa yang telah mengikuti tes uji instrumen. Learning obstacle yang teridentifikasi pada konsep jarak pada bidang ruang adalah kemampuan siswa dalam menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika dan kemampuan menerapkan konsep secara algoritma. Kemampuan-kemampuan tersebut menuntut siswa untuk bisa menyajikan konsep jarak pada bidang ruang dalam bentuk gambar atau sketsa, menjabarkan langkah-langkah atau cara dalam menentukan jarak pada bidang ruang, dan menghitung panjang jarak dalam bidang ruang. Hal ini sejalan dengan pernyataan Krismanto (Lestari, 2012:2) yang mengungkapkan bahwa dua masalah utama dalam pembelajaran jarak adalah menentukan atau menggambarkan ruas garis yang menunjukkan jarak yang dimaksud kemudian menghitung jarak tersebut.

Hasil kajian learning obstacle tersebut menjadi acuan dalam penyusunan bahan ajar matematika berkarakter. Peneliti merancang bahan ajar yang disesuaikan dengan learning obstacle yang telah didapat dan karakter yang dapat dikembangkan dalam pelajaran matematika. Tujuannya adalah agar bahan ajar yang diberikan dapat mengatasi learning obstacle siswa dan pendidikan karakter pada pembelajaran matematika. Permasalahan-permasalahan dimunculkan dalam bahan ajar agar memacu siswa untuk berpikir keratif, kritis, ulet, teliti, dan bekerja sama dengan teman sekelompoknya untuk memecahkan permasalahan yang diberikan. Selain permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan materi ajar, dalam bahan ajar matematika berkarakter, khususnya dalam LKK dimunculkan secara eksplisit contohnya memunculkan informasi mengenai tokoh dalam matematika yang terkait dengan pembelajaran agar memunculkan rasa ingin tahu siswa, selain itu permasalahan yang diberikan memuat nilai-nilai karakter yang dapat dibuat dalam bentuk narasi soal cerita, dan mencantumkan kalimat-kalimat motivasi.

Setelah bahan ajar yang dirancang telah mendapat jastifikasi dan persetujuan dari dosen pembimbing, maka peneliti melakukan penelitian tahap 2 atau tahap eksperimen. Penelitian tahap 2 ini dimulai dari tanggal 9 Mei 2013 yang diawali dengan pretes di kelas eksperimen dan tanggal 10 Mei 2013 di kelas kontrol. Tujuannya untuk mengetahui kemampuan pemahaman awal siswa sebelum mendapatkan pembelajaran. Kemudian dilakukan implementasi pembelajaran matematika dengan menggunakan bahan ajar matematika berkarakter pada kelas eksperimen, dan pembelajaran dengan bahan ajar biasa pada kelas kontrol.

Pada tahap awal, sebelum kedua kelas mendapatkan pembelajaran mengenai materi jarak pada bidang ruang, kedua kelas tersebut diberikan pretes yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal pemahaman matematis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil analisis data pretes sebelumnya di dapat bahwa rata-rata kemampuan awal pemahaman matematis siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen sama secara signifikan. Jadi untuk tahap

selanjutnya, peningkatan kemampuan pemahaman diukur dengan menganalisis hasil postes yang dilakukan setelah pembelajaran dilakukan.

Pada pelaksanaan implementasi pembelajaran terdapat perbedaan perlakuan untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Yang membedakannya adalah bahan ajar yang diberikan. Pada kelas eksperimen diberikan bahan ajar matematika berkarakter, sedangkan pada kelas kontrol diberikan bahan ajar biasa.

Pada tahap implementasi pembelajaran, saat mengajar di kelas kontrol peneliti tidak mengalami kesulitan karena siswa sudah terbiasa mendapatkan pembelajaran ekspositori sebelumnya. Tetapi saat mengimplementasikan bahan ajar matematika berkarakter peneliti mengalami beberapa hambatan, ternyata mengimplementasikan pendidikan karakter pada pelajaran matematika tidak mudah karena siswa tidak terbiasa melakukan pembelajaran matematika dengan cara berkelompok dan pemberian LKK. Pada dasarnya matematika merupakan mata pelajaran yang dedutif, jadi karakter yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika lebih mengarah pada aspek kognitif namun demikian karakter afektif juga dapat dikembangkan dalam pelajaran matematika. Karakter-karakter yang berkembang saat pembelajaran matematika berKarakter-karakter antara lain disiplin, jujur, berpikir kreatif, kerja keras, rasa ingin tahu, dan kepedulian sosial.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan bahwa menurut Tim Pengembang Pendidikan Berkarakter Dinas Pendidikan Provinsi Banten (2012) karakter siswa yang dapat dikembangkan pada mata pelajaran matematika antara lain berfikir logis, kritis, kreatif, sistematis, mandiri, jujur, kerja keras, disiplin, rasa ingin tahu, mandiri, menghargai, menghargai keberagaman.

Pada awalnya siswa susah diatur untuk dibentuk kelompok dan diberikan LKK yang harus dikerjakan secara berkelompok, tetapi saat mengerjakannya setiap kelompok mengerjakan dengan baik dan antusias. Pada pembelajaran kelompok ini, siswa belajar untuk bisa berkomunikasi dengan sesama teman sekelompoknya maupun dengan kelompok lainnya yang merupakan salah satu contoh implementasi nilai karakter yaitu kerjasama. Selain dari bahan ajar yang diberikan, siswa akan mendapatkan nilai-nilai karakter dari guru yang mengajarnya. Karena setiap perilaku guru akan ditiru oleh siswanya. Dengan guru

memberikan contoh-contoh karakter yang baik kepada siswa, siswa akan menirunya. Sebagai contoh guru yang disiplin tepat waktu datang ke kelas, akan ditiru oleh siswa yang akan dengan sendirinya disiplin sudah ada di kelas saat pembelajaran berlangsung. Hal tersebut sejalan dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura (Gemily, 2012), bahwa seorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model, dimana pengamat tidak hanya sekedar meniru perilaku orang lain (model), namun mereka memutuskan dengan sadar untuk melakukan perilaku yang dipelajari dari mengamati model. Dalam hal ini individu yang menjadi pengamat adalah siswa dan yang menjadi model adalah guru.

Setelah kedua kelas mendapatkan pembelajaran mengenai konsep jarak pada bidang ruang dengan bahan ajar yang telah dibuat sebelumnya, selanjutnya diberikan postes yang bertujuan mengetahui rata-rata kemampuan akhir pemahaman matematis siswa dari kedua kelas tersebut. Dari analisis data postes yang telah dilakukan didapat bahwa rata-rata kemampuan akhir pemahaman matematis siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol secara signifikan. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemahaman matematis kedua kelas, dilakukan analisis data indeks gain. Dari analisis data indeks gain yang telah dilakukan, didapat bahwa peningkatan kemampuan matematis kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Jadi dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan diberikan bahan ajar matematika berkarakter lebih tinggi daripada yang memperoleh bahan ajar biasa.

Setelah siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol selesai melakukan postes, masing-masing siswa dari kedua kelas tersebut mengisi angket disposisi matematis siswa untuk mengetahui bagaimana perbedaan kemampuan disposisi matematis siswa yang diberikan bahan ajar matematika berkarakter dan bahan ajar biasa. Dari kelima indikator disposisi matematis siswa yang diteliti, untuk kelas eksperimen mendapatkan persentase paling kecil untuk indikator 3 yaitu ketekunan dengan indikator gigih, tekun, perhatian, dan kesungguhan dengan

persentase sebesar 59.37 %, itu artinya hanya sebagian siswa pada kelas eksperimen yang memiliki ketekunan, kegigihan dan kesungguhan dalam belajar matematika. Sedangkan untuk kelas kontol mendapatkan persentase paling kecil untuk indikator 3 yaitu keingintahuan terdiri dari empat indikator, yaitu sering mengajukan pertanyaan, melakukan penyelidikan, antusias/semangat dalam belajar, dan banyak membaca/mencari sumber lain dengan persentase sebesar 63.64 %, itu artinya hanya sebagian besar siswa yang mwmiliki sikap rasa ingin tahu dan antusias dalam belajaran matematika. Untuk indikator 1 dan indikator 4, pada kelas eksperimen mendapatkan persentase 100 %, artinya seluruh siswa di kelas eksperimen memiliki sikap percaya diri dan fleksibilitas dalam belajar matematika. Dan untuk kelas kontrol, untuk indikator 1 dan 4 mendapatkan persentase 96.97 %, itu artinya hampir seluruh siswa di kelas kontrol memiliki sikap percaya diri dan fleksibilitas dalam belajar matematika.

Setelah melakukan perhitungan persentase setiap indikatornya, selanjutnya dilakukan analisis data rata-rata keseluruhan hasil angket disposisi siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, didapat bahwa rata-rata angket disposisi matematis siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol secara signifikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan diberikan bahan ajar matematika berkarakter lebih baik daripada yang memperoleh bahan ajar biasa.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar matematika berkarakter memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan pemahaman dan disposisi matematis siswa secara signifikan. Hal ini sejalan dengan hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik (Anonim, 2011).

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-38)

Dokumen terkait