• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT LOKAL

HASIL/OUTPUT PENELITIAN

3.4 Analisis Data

Sesuai dengan tujuan penelitian serta jenis dan sifat data yang dikumpulkan, dilakukan analisis sebagai berikut:

Analisis Data untuk Tujuan Penelitian 1, 2, dan 3 1. Faktor Penentu Interaksi Masyarakat dengan Hutan

Untuk menganalisis faktor penentu interaksi masyarakat dengan hutan dilakukan analisis regressi berganda dengan formulasi umum sebagai berikut (Gaspersz 1992; Arif 1993; Pindyck dan Rubinfeld 1991):

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + ... + βnXn

Dimana :

Y = interaksi dengan hutan β0 = Konstanta

β1... βn = Koefisien regresi

X1... Xn = Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh

Dalam penelitian ini faktor-faktor yang diduga mempengaruhi interaksi masyarakat dengan hutan dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif, meliputi:

1) Lokasi interaksi (dummy: TNGR =1; luar TNGR = 0),

2) Willingness to pay (WTP);

3) Pengeluaran rumahtangga untuk kebutuhan makan;

4) Pengeluaran rumahtangga untuk kebutuhan bukan makanan; 5) Penghasilan rumahtangga dari luar hutan;

6) Luas lahan yang dimiliki/diusahakan;

7) Adanya aturan lokal/kebiasaan turun-temurun dalam pengambilan kayu di

hutan (dummy: ada = 1, tidak = 0);

8) Keikutsertaan dalam program HKm (dummy: ikut = 1, tidak = 0); dan

Selanjutnya untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh secara

nyata (significant), dilakukan uji lanjut koefisien regresi dengan menggunakan

taraf nyata (α) 5 - 20%. Hasil analisis berupa faktor-faktor yang berpengaruh

secara nyata (significant) ini selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan

model pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. 2. Nilai Ekonomi Sumberdaya Hutan yang Diambil/Diekstraksi Masyarakat

Jenis dan nilai ekonomi hasil hutan yang diambil/diekstraksi atau hasil interaksi masyarakat dengan hutan dihitung secara rinci sebagaimana disajikan pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Jenis dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan yang Diambil/Diekstraksi Masyarakat dari Hutan.

No Jenis Hasil Hutan Satuan (unit) Jlh yg diambil (Unit/Frek.) Frekuensi Pengambilan (Frek./bl) Harga Satuan (Rp/unit) Nilai Pengambil (Rp/bl) 1 …………. ……. ………. ……… ………….. ……… 2 …………. ……. ………. ……… ………….. ……… . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . n …………. ……. ………. ……… ………….. ……… Jumlah ……. ………. ……… ………….. ………

3. Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan TNGR

Untuk mengetahui persepsi masyarakat lokal terhadap keberadaan TNGR, digunakan skor penilaian yang dirumuskan berdasarkan Skala Likert (Meuller 1996). Dalam penelitian ini, untuk mengukur tingkat persepsi masyarakat terhadap TNGR dilakukan pengukuran terhadap beberapa obyek persepsi yang meliputi manfaat TNGR, dimana masing-masing obyek persepsi ini dirinci lagi kedalam beberapa butir persepsi seperti yang disajikan pada Tabel 6. Pengukuran persepsi pada setiap butir penilaian disusun dalam bentuk gradasi penilaian yang bergerak dari sangat bermanfaat sampai tidak bermanfaat.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat persepsi masyarakat berdasarkan obyek penilaian seperti yang diilustrasikan pada Tabel 6, maka dilakukan klasifikasi terhadap total skor penilaian yang diperoleh dari sejumlah obyek dan butir penilaian. Dalam hal ini tingkat persepsi masyarakat dipilahkan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Penentuan ketegori didasarkan

pada total skor penilaian dengan interval kelas: (skor tertinggi dikurangi skor terendah) dibagi jumlah kelas (yaitu 3).

Secara rinci obyek dan butir-butir penilaian persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNGR disajikan pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6. Obyek dan Butir-butir Penilaian Persepsi Masyarakat terhadap TNGR Skor Persepsi (Penilaian) No Uraian

1 2 3 4 5

A Manfaat Penggunaan (Use Value)

1 Manfaat Langsung

a. Sbr penghidupan masy. sekitar …. …. …. …. ….

b. Sumber mata air …. …. …. …. ….

c. Sumber perolehan makanan …. …. …. …. ….

d. Tempat penggembalaan …. …. …. …. ….

e. Sumber tanaman obat …. …. …. …. ….

2 Manfaat Fungsional

a. Mencegah banjir …. …. …. …. ….

b. Mencegah longsor …. …. …. …. ….

c. Perlindungan terhadap angin …. …. …. …. ….

3 Manfaat Pilihan

a. Tempat pelaks upacara adat/ritual …. …. …. …. ….

b. Rekreasi

B. Manfaat Bukan Penggunaan (Non Use Value)

1 Manfaat Keberadaan

a. Habitat berbagai jenis tumbuhan …. …. …. …. ….

b. Habitat berbagai jenis hewan …. …. …. …. ….

2. Manfaat lainnya

a. Keindahan/pemandangan …. …. …. …. ….

Ket. : 1 = tidak bermanfaat 2 = kurang bermanfaat 3 = cukup bermanfaat 4 = bermanfaat 5 = sangat bermanfaat

4. Contingen Valuation Methods (CVM)

Contingen Valuation Methods (CVM) digunakan untuk mengetahui penilaian masyarakat lokal terhadap keberadaan sumberdaya hutan. CVM ini

pada hakekatnya untuk mengetahui: (1) keinginan membayar (willingness to pay

atau WTP) dari masyarakat terhadap perbaikan kualitas hutan, dan (2) keinginan

Dalam hal ini WTP adalah merupakan tingkat kesediaan/kemauan masyarakat lokal (responden) untuk membayar biaya perbaikan kondisi hutan agar menjadi baik. Sedangkan WTA merupakan kompensasi yang bersedia diterima masyarakat lokal (responden) sehingga mereka mau menerima perubahan lingkungan kearah yang lebih buruk.

5. Analisis Korelasi Spearman

Korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara persepsi masyarakat dengan tinggi rendahnya penilaian ekonomi terhadap sumberdaya hutan. Analisis ini juga digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan rumahtangga dengan kesediaan menjaga atau memelihara kelestarian sumberdaya hutan. Perhitungan korelasi spearman ini dilakukan dengan formulasi sebagai berikut (Siegel 1990):

N

N

d

r

N i i s

=

= 3 1 2

6

1

dimana: d = x – y (range)

6. Analisis Pendapatan dan Kebutuhan Rumahtangga (Keseimbangan Ekonomi Rumahtangga)

Untuk mengetahui pendapatan rumahtangga dilakukan dengan menjumlahkan penghasilan semua anggota keluarga (kepala keluarga, istri, anak, dan anggota lainnya) yang bersumber dari luar kehutanan maupun dari kehutanan; dihitung dalam suatu periode tertentu. Selanjutnya dihitung proporsi/kontribusi pendapatan rumahtangga yang bersumber dari kehutanan.

Sementara itu perhitungan kebutuhan rumahtangga dilakukan dengan menjumlahkan semua kebutuhan rumahtangga, baik untuk kebutuhan primer, sekunder, dan kebutuahn tersier; dihitung dalam suatu periode tertentu. Perhitungan ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pemenuhan kebutuhan keluarga dan diinventaris berbagai macam kebutuhan berdasarkan prioritas pemenuhannya. Selanjutnya dilakukan formulasi keseimbangan antara kebutuhan dengan penghasilan rumahtangga. Dalam hal ini kebutuhan rumahtangga dibatasi pada kebutuhan-kebutuhan pokok (kebutuhan primer)

Selanjutnya untuk menganalisis tingkat pendapatan rumahtangga yang layak sehingga bersedia untuk ikut menjaga kelestarian sumberdaya hutan atau

tidak mengekspolitasi hutan secara berlebihan yang menimbulkan kerusakan, maka dilakukan dengan pendekatan kebutuhan hidup layak bagi masyarakat lokal. Dalam hal ini kebutuhan hidup layak didasarkan pada kebutuhan dasar, yaitu untuk pangan, sandang, papan, pendidikan dasar anak, dan kesehatan. Standar hidup layak yang digunakan sesuai dengan kriteria BPS. Analisis ini dipadukan dengan menghitung opportunity cost seseorang untuk mengambil hasil hutan.

Untuk melengkapi hasil analisis ini dilanjutkan dengan analisis kebutuhan lahan minimal yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hidup layak, yaitu dengan mengkonversi nilai kebutuhan hidup layak ke nilai produktivitas lahan minimum. Disamping itu dilakukan analisis peluang usaha/kegiatan yang dapat dikembangkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan. Kegiatan usaha ini diharapkan dapat mengkompensasi upaya masyarakat mengeksploitasi sumberdaya hutan.

7. Analisis Partisipasi dalam pengelolaan TNGR;

Sama halnya dengan persepsi, pengukuran partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan TNGR juga dilakukan dengan skoring yang dirumuskan berdasarkan Skala Likert (Meuller 1996). Obyek partisipasi yang diukur adalah partisipasi langsung dan partisipasi tidak langsung, dimana masing-masing obyek persepsi ini dirinci lagi kedalam beberapa butir persepsi seperti yang disajikan pada Tabel 7. Pengukuran persepsi pada setiap butir penilaian disusun dalam bentuk gradasi penilaian yang bergerak dari partisipasi sangat tinggi sampai tidak berpartisipasi.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan obyek penilaian seperti yang diilustrasikan pada Tabel 7, maka dilakukan klasifikasi terhadap total skor penilaian yang diperoleh dari sejumlah obyek dan butir penilaian. Dalam hal ini tingkat partisipasi masyarakat dipilahkan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Penentuan ketegori didasarkan pada total skor penilaian dengan interval kelas: (skor tertinggi dikurangi skor terendah) dibagi jumlah kelas (yaitu 3).

Secara rinci obyek dan butir-butir penilaian partisipasi masyarakat dalam pengelolaan TNGR disajikan pada Tabel 7 berikut.

Tabel 7. Obyek dan Butir-butir Penilaian Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan TNGR Skor Partisipasi No Uraian 1 2 3 4 5 A Partisipasi Langsung 1. Perencanaan …. …. …. …. …. 2. Pemeliharaan …. …. …. …. …. 3. Pengawasan/Pengamanan …. …. …. …. ….

B Partisipasi Tidak Langsung

1. Ketaatan terhadap peraturan per UU …. …. …. …. ….

2. Ketaatan terhadap awig-awig …. …. …. …. ….

Ket. : 1 = tidak terlibat 2 = kurang terlibat 3 = cukup terlibat 4 = sering terlibat 5 = sangat sering atau selalu terlibat

Analisis Data untuk Tujuan Penelitian 4 1. Analisis Isi (Content Analysis)

Digunakan untuk mengkaji potensi kebijakan yang mengaitkan berbagai perundang-undangan, surat keputusan menteri dan peraturan pemerintah berkenaan dengan keberlanjutan pengelolaan hutan.

2. ArcView GIS Versi 3.3

Untuk mengetahui perkembangan keadaan biofisik dari TNGR dilakukan dengan ArcView GIS Versi 3.3. Kondisi biofisik ini akan dilihat selama beberapa periode, tergantung kesediaan data GIS. Kondisi biofisik ini selanjutnya akan dikaitkan dengan sejarah perkembangan perubahan tata nilai dan perilaku masyarakat dalam mengelola dan berinteraksi dengan sumberdaya hutan.

3. Sintesis

Berbagai hasil analisis parsial untuk tujuan 1, 2, dan 3 disintesis secara deskriptif dan selanjutnya dijadikan dasar untuk merumuskan berbagai alternatif desain model pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan hutan TNGR. Desain model yang dihasilkan sesuai dengan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi dan budaya masyarakat serta sumberdaya hutan setempat (spesifik lokasi). Dua sasaran utama yang dijadikan dasar pertimbangan dalam perumusan model pemberdayaan adalah: (1) kesejahteraan

Dalam hal ini parameter yang dijadikan penentu kesejahteraan adalah pendapatan/penghasilan rumahtangga, sementara itu ukuran kelestarian adalah

kondisi biofisik TNGR.

Berkenaan dengan kedua kriteria di atas, maka dalam rangka merumuskan model pemberdayaan masyarakat di kawasan TNGR diasumsikan beberapa hal sebagai berikut :

1) Kelestarian dan daya dukung TNGR dianggap:

a. Tetap (stabil); jika tidak ada perambahan, penebangan liar (pengambilan kayu), perburuan satwa, serta dilakukan pengamanan;

b. Menurun; jika ada eksploitasi masyarakat (kecuali pengambilan rumput, sayur, buah-buahan yang diijinkan serta tracking);

c. Meningkat; jika ada usaha konservasi dan rehabilitasi. 2) Kesejahteraan masyarakat di kawasan TNGR dianggap:

a. Tetap (stabil); jika tidak ada peluang kerja baru dan/atau sumber penghasilan tambahan (ttap seperti sebelumnya);

b. Menurun; jika terjadi kehilangan peluang dan/atau sumber penghasilan; c. Meningkat; jika ada lapangan kerja baru dan/atau peningkatan

produktivitas dari kegiatan sebelumnya.

Selanjutnya yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam penyusunan desain model pemberdayaan masyarakat di kawasan TNGR hanyalah kriteria “tetap” atau “meningkat” dari salah satu atau kedua sasaran pemberdayaan, sedangkan untuk kriteria “menurun” tidak akan dirumuskan.

Pertimbangan ini didasarkan pada Teori Pareto (Paretian Welfare Economic)

mengenai Kesejahteraan Ekonomi (Bergson 1954) yang menegaskan bahwa dalam pembangunan ekonomi sedikitnya seorang harus meningkat kesejahteraannya dan tidak boleh ada satu orangpun yang mengalami penurunan kesejahteraan.

Berkenaan dengan pertimbangan di atas, dapat dirumuskan 4 (empat) skenario model pemberdayaan, yaitu :

Pertama : model pemberdayaan yang mengarah pada peningkatan kelestarian dan daya dukung TNGR maupun kesejahteraan masyarakat sekitar; merupakan model yang paling ideal.

Kedua : model pemberdayaan yang mengarah pada peningkatan kesejahtera- an masyarakat sekitar sedangkan kelestarian dan daya dukung TNGR tetap tidak berubah.

Ketiga : model pemberdayaan yang mengarah pada peningkatan kelestarian dan daya dukung TNGR sedangkan kesejahteraan masyarakat sekitar tetap tidak berubah.

Keempat : model yang lebih menekankan pada penjagaan keamanan TNGR; tanpa dibarengi dengan upaya peningkatan kesejahteraan maupun

kelestarian dan daya dukung TNGR.

Model-model pemberdayaan yang dapat dirumuskan berkenaan dengan pertimbangan di atas dapat diilustrasikan dalam bentuk matrik sebagaimana disajikan pada Gambar 6 berikut.

Biofisik (Kelestarian) 

Sasaran 

Pemberdayaan  Menurun ( ‐ )  Tetap ( 0 )  Meningkat ( + ) 

Menurun ( ‐ ) 

X X X  X X 

 

X

Tetap ( 0 ) 

X X

Model Keempat Model Ketiga K  e s r a Meningkat ( + )  

X 

  Model        Kedua  Model Pertama (Paling Ideal) Gambar 6. Matrik Skenario Model Pemberdayaan Masyarakat di Kawasan TNGR

4. Analisis Hirarki Proses (AHP).

Untuk menjawab tujuan umum yang memberikan keputusan terhadap desain model pemberdayaan masyarakat lokal yang paling realistis berdasarkan tujuan yang dibangun, dilakukan Analisis Hirarki Proses (AHP). Dalam hal ini, dari berbagai model pemberdayaan yang sifatnya spesifik, dirumuskan/didesain model pemberdayaan yang menjadi prioritas pengembangan berdasarkan kriteria pemanfaatan hutan secara lestari sebagaimana ditegaskan pada Pasal 15 ayat (3) PP No 34 Tahun 2002 tentang “Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan”; yaitu mencakup aspek ekonomi, sosial dan ekologi.

1) Kriteria Ekonomi

b. Kebutuhan modal/biaya investasi pelaksanaan c. Pendapatan yang diperoleh masyarakat d. Lama waktu menunggu hasil

e. Ketersediaan pasar untuk output yang dihasilkan 2) Kriteria Ekologi/Biofisik

a. Vegetasi hutan atau tutupan lahan b. Potensi lahan yang tersedia 3) Kriteria Sosial Budaya

a. Kerawanan terhadap munculnya konflik sosial

b. Ketermpilan/kesiapan masyarakat sebagai kelompok sasaran

c. Peningkatan kesadaran lingkungan hidup atau kelestarian hutan TNGR Selengkapnya mengenai rancangan dan struktur Analisis Hirarki Proses (AHP) untuk pemilihan model pemberdayaan masyarakat di sekitar TNGR disajikan pada Gambar 7 berikut.

Gambar 7. Struktur Analisis Hirarki Proses (AHP) Model Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani

Untuk menghasilkan model pemberdayaan diperlukan penilaian pakar melalui teknik wawancara langsung dengan para pakar. Penilaian

elemen-Model Pemberdayaan Masyarakat Ekonomi Ekologi/Biofisik Sosbud Pendapatan Vegetasi Hutan Masa tunggu Kebt. Modal Pasar Potensi Lahan Jlh TK terlibat Konflik Sosial Ketramp. Masy. Kesadaran LH Model Pemberdayaan 1 Model Pemberdayaan 2 Model Pemberdayaan 3 Model Pemberdayaan 4 Model Pemberdayaan …

elemen yang dilibatkan dalam analisis menggunakan skala perbandingan berpasangan dengan penilaian seperti pada Tabel 8 berikut (Marimin 2004; Saaty 1993; Widodo 2006):

Tabel 8. Skala Pembandingan Berpasangan Dalam Penilaian Elemen-Elemen Suatu Hirarki

Nilai Keterangan

1 Kriteria/alternatif yang dibandingkan (mis A & B) “sama

penting”

3 Kriteria/alternatif A “sedikit lebih penting” dari B

5 Kriteria/alternatif A “jelas lebih penting” dari B

7 Kriteria/alternatif A “sangat jelas lebih penting” dari B

9 Kriteria/alternatif A “mutlak lebih penting” dari B

2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan