BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data …
4.2.1 Keterlaksanaan PMRI di Kelas PMRI
4.2.1.1 Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran PMRI Berdasarkan Dokumentasi
1. Pertemuan Pertama
Pada pertemuan pertama karakteristik PMRI 1 yaitu penggunaan konteks,
muncul ketika siswa diajak untuk melakukan permainan “Mencari Pasangan”. Dalam permainan siswa antusias mengikuti permainan sehingga mampu
memotivasi siswa untuk lebih bersemangat mengikuti pembelajaran. Dalam
permainan ini siswa diberikan potongan kertas yang terdiri dari beberapa warna.
Setelah siswa mendapatkan potongan kertas, lalu mereka mencari teman yang
memiliki warna yang sama. Setelah berkumpul bersama teman sekelompoknya,
mereka menggabungkan potongan tadi, maka terbentuk lingkaran yang terdapat
arsiran sebuah bilangan pecahan. Bilangan pecahan yang didapat akan menjadi
nama kelompok mereka. Kemunculan PMRI 1 juga muncul ketika siswa
mendapatkan dua buah soal cerita yang berkaitan denga penjumlahan pecahan
penyebut sama. Soal cerita yang diberikan merupakan soal cerita dengan
menggunakan permasalahan yang kontestual yang dekat dengan kehidupan siswa
seperti memotong roti tawar maupun memotong dan menggoreng tahu.
Kemunculan karakteristik PMRI 2 penggunaan model pada pertemuan
pertama yaitu ketika siswa menyelesaikan soal cerita menggunakan media roti
tawar dan tahu. Hal itu muncul pada kegiatan siswa ketika memotong roti tawar
dan tahu. Terlihat beberapa cara yang berbeda saat siswa memotong roti tawar
Kemunculan karakteristik PMRI 3 pemanfaatan konstruksi siswa pada
pertemuan pertama muncul saat guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
menanggapi jawaban teman yang presentasi dan saat siswa dibimbing guru
menyimpulkan materi yang telah dipelajari yaitu pola penjumlahan pecahan
berpenyebut sama.
Kemunculan karakteristik PMRI 4 interaktivitas muncul ketika siswa
membentuk kelompok, menyelesaikan soal menggunakan media roti tawar dan
tahu, presentasi, menanggapi atau bertanya pada kelompok yang sedang
presentasi, dan saat siswa berdiskusi pola penjumlahan berpenyebut sama.
Kemunculan karakteristik PMRI 5 keterkaitan muncul ketika guru
menyampaikan tujuan pembelajaran. Keterlaksanaan kemunculan karakteristik
PMRI pada proses pembelajaran melalui lembar pengamatan, total skor
pengamatan pada pertemuan pertama yaitu 40. Skor 40 termasuk kualifikasi
sangat terlaksana.
2. Pertemuan Kedua
Kemunculan karakteristik PMRI 1 pada pertemuan kedua ditunjukkan saat
siswa diajak untuk menyanyikan lagu ”ambilkan bulan”. Kegiatan menyanyi ini mampu memotivasi siswa untuk lebih semangat meskipun ada beberapa siswa
yang kurang hafal lirik lagu “ambilkan bulan”. Setelah bernyanyi, guru bercerita tentang kue terang bulan milik ibu. Tokoh dalam cerita merupakan tokoh yang
dekat dengan kehidupan siswa seperti ibu, kakak, dika yang merupakan salah satu
nama siswa.
Kemunculan karakteristik PMRI 2 ditunjukkan ketika setiap kelompok
didapatkan oleh setiap kelompok yaitu papan terang bulan dan satu paket papan
pecahan. Papan terang bulan digunakan siswa untuk menyelesaikan soal pertama
dan papan pecahan digunakan untuk menyelesaikan soal kedua.
Kemunculan karakteristik PMRI 3 ditunjukkan ketika siswa menanggapi
presentasi kelompok lain dan bertanya jika ada materi yang belum dipahami. Ada
beberapa siswa yang menanggapi jawaban dari kelompok yang presentasi karena
jawabannya berbeda kemudian guru menjelaskan kembali penyelesaian soal
tersebut.
Kemunculan karakteristik PMRI 4 ditunjukkan pada kegiatan siswa
berdiskusi menyelesaikan soal menggunakan media papan terang bulan dengan
cara mereka. Selain itu juga ditunjukkan dengan adanya presentasi hasil diskusi
setiap kelompok. Ketika kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya, siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapi.
Kemunculan karakteristik PMRI 5 ditunjukkan pada kegiatan pembagian
kelompok berdasarkan nomor dada, siswa mendengarkan cerita “dafa dan putri”, kegiatan refleksi dan penguatan diakhir pembelajaran. Keterlaksanaan
kemunculan karakteristik PMRI pada proses pembelajaran melalui lembar
pengamatan, total skor pengamatan pada pertemuan kedua yaitu 34. Skor 34
termasuk kualifikasi terlaksana.
3. Pertemuan ketiga
Kemunculan karakteristik PMRI 1 ditunjukkan pada kegaitan kuis cepat
tepat yang menggunakan nama-nama siswa dalam soal cerita, siswa
konteks permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari akan memudahkan
siswa dalam mengerjakan soal.
Kemunculan karakteristik PMRI 2 ditunjukkan ketika siswa
menyelesaikan soal kedua dengan cara mereka sendiri tanpa menggunakan media.
Terdapat beberapa cara yang digunakan siswa untuk menjawab yaitu
menggunakan KPK, perkalian penyebut untuk menyamakan penyebut.
Kemunculan karakteristik PMRI 3 ditunjukkan ketika siswa bersama guru
menyimpulkan kembali pola penjumlahan pecahan berbeda penyebut.
Penyimpulan pola penjumlahan ini didapatkan dari beberapa hasil jawaban siswa
saat berdiskusi.
Kemunculan karakteristik PMRI 4 ditunjukkan ketika siswa mendapatkan
dua buah soal kemudian mendiskusikan cara penyelesaiannya. Setelah selesai
perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Kegiatan
presentasi juga memberikan kesempatan pada siswa lain yang ingin menanggapi
hasil diskusi kelompok yang sedang presentasi.
Kemunculan karakteristik PMRI 5 ditunjukkan pada kegiatan refleksi dan
penguatan di akhir pembelajaran. Keterlaksanaan kemunculan karakteristik PMRI
pada proses pembelajaran melalui lembar pengamatan, total skor pengamatan
pada pertemuan ketiga yaitu 29. Skor 29 termasuk kualifikasi terlaksana.
4. Pertemuan Keempat
Kemunculan karakteristik PMRI 1 ditunjukkan pada kegiatan permainan
“papan harga”. Permainan ini mampu memotivasi siswa untuk lebih bersemangat. Selain itu guru menanyakan kembali pola penjulahan pecahan melalui soal cerita
yang didalam soal cerita tersebut terdapat nama-nama siswa sehingga siswa lebih
bersemangat untuk menjawab.
Kemunculan karakteristik PMRI 2 ditunjukkan dengan adanya kesempatan
kepada didea untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda.
Kemunculan karakteristik PMRI 3 ditunjukkan dengan adanya kesempatan bagi
siswa yangbelum paham untuk bertanya. Kemunsulan karakteristik PMRI 4
ditunjukkan dengan adanya norma kelas yang telah disepakati siswa pada
pertemuan kedua yaitu untuk mendengarkan jika ada yang menjelaskan dan
mengangkat tangan sebelum bertanya atau menjawab. Sedangakan kemunculan
karakteristik PMRI 5 ditunjukkan pada menyampaian tujuan pembelajara yang
akan dilaksanakan. Keterlaksanaan kemunculan karakteristik PMRI pada proses
pembelajaran melalui lembar pengamatan, total skor pengamatan pada pertemuan
keempat yaitu 42. Skor 42 termasuk kualifikasi terlaksana.
4.2.1.2 Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran PMRI Berdasarkan Pengamatan
Data keterlaksanaan yang diperoleh jumlah skor tiap pertemuan
dikualifikasikan sesuai rentang skor yang sudah ditetapkan. Berikut analisis data
keterlaksanaan:
Tabel 4.8 Analisis Data Keterlaksanaan Berdasarkan Pengamatan
Pertemuan
ke-Aspek Kegiatan Total
Skor Kualifikasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 40 Sangat Terlaksana 2 3 3 3 4 2 3 3 4 3 3 3 34 Terlaksana 3 3 2 4 2 2 3 3 3 2 3 2 29 Terlaksana 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 42 Sangat Terlaksana
Total Skor Seluruh Pertemuan 145
Skor yang diperoleh pada tiap pertemuan, dikualifikasikan sesuai rentang
skor yang telah ditetapkan. Pada pertemuan pertama termasuk kualifikasi sangat
terlaksana karena memiliki skor 40, pertemuan kedua termasuk kualifikasi
terlaksana karena memiliki skor 34, pertemuan ketiga termasuk kualifikasi
terlaksana karena memiliki skor 29, dan pertemuan keempat termasuk kualifikasi
sangat terlaksana karena memilki skor 42.
Setelah total skor pada tiap pertemuan dihitung, kemudian semua total
skor dari seluruh pertemuan dijumlahkan diperoleh hasil 145. Total skor seluruh
pertemuan tersebut lalu dirata-rata. Hasil rata-rata skor seluruh pertemuan di kelas
eksperimen yaitu 36,25. Berdasarkan penghitungan rata-rata tersebut berarti
keterlaksanaan pembelajaran PMRI di kelas eksperimen sangat terlaksana.
4.2.2 Analisis Data Hasil Belajar
4.2.2.1 Analisis Data Hasil Belajar dengan Uji Statistik
A. Uji Normalitas data pretest dan posttest Hasil Belajar
Uji normalitas menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan jenis statistik yang akan digunakan. Analisis data menggunakan
hipotesis statistik yaitu:
H0 : Data berdistribusi tidak normal. H1 : Data berdistibusi normal.
Adapun kriteria yang digunakan dalam teknik Kolmogorov-Smirnov yaitu:
a. Jika harga sig.(2-tailed)>0,05, data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi normal, teknik statistik inferensial yang digunakan adalah
b. Jika harga sig.(2-tailed)≤0,05, data berdistribusi tidak normal. Jika data berdistribusi tidak normal, teknik statistik yang digunakan adalah statistik
non-parametrik.
Hasil uji normalitas pretest dan posttest menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Hasil Belajar dengan Kolmogorov-Smirnov
Mean Std. Deviasi Kolgomorof Smirnov Z Asymp.Sig. (2-tailed) Analisis Keterangan Pretest Eksperi men 5,56 1,009 1,091 0,185 Sig>0,05 Distribusi Normal Posttest Eksperimen 8,01 1,038 0,638 0,811 Sig>0,05 Distribusi Normal Pretest Kontrol 5,78 1,011 0,639 0,808 Sig>0,05 Distribusi Normal Posttest Kontrol 6,91 1,081 1,099 0,179 Sig>0,05 Distribusi Normal Pada tabel 4.9 hasil analisis statistik menunjukkan, pretest kelas kontrol dan posttest kelas kontrol memiliki distribusi data normal karena harga sig.(2-tailed) pretest kelas kontrol berada di atas 0,05 yaitu sebesar 0,808 dan harga
sig.(2-tailed) postest kelas kontrol 0,179. Pada kelas eksperimen memiliki distribusi data yang normal pada pretest maupun posttest. Harga sig.(2-tailed) pretest kelas eksperimen berada di atas 0,05 yaitu sebesar 0,185 dan harga sig.(2-tailed) posttest kelas eksperimen yaitu 0,811.
Harga sig.(2-tailed) pretest dan posttest kelas kontrol dan harga sig.(2-tailed) pretest dan posttest kelas eksperimen menunjukkan keadaan yang normal atau denga kata lain H0 ditolak dan H1 diterima sehingga aspek hasil belajar pada kedua kelas akan dianalisis dengan menggunakan statistik parametrik.
B. Uji homogenitas data pretest dan posttest
Uji homogenitas ini merupakan uji prasyarat yang harus dilakukan
sebelum melakukan uji statistik. Setelah mengetahui bahwa distribusi data
normal, maka untuk analisis selanjutnya digunakan statistik parametrik, yaitu
Levene’s test. Analisis data menggunakan hipotesis statistik sebagai berikut: H0 : varians sama
H1 : varians berbeda
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Jika harga sig.(2-tailed)>0,05, hasil pretest dan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians sama.
b. Jika harga sig.(2-tailed)≤0,05, hasil pretest dan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians berbeda.
Hasil uji homogenitas pretest dan posttest dengan menggunakan SPSS 20 dengan rumus Levene test diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.10 Uji Homogenitas Pretest Hasil Belajar
Levene’s
Test
Sig.(2-tailed) Analisis Keterangan Pretest 0,000 0,996 Sig > 0,05 Varian sama Posttest 0,253 0,617 Sig > 0,05 Varian sama
Pada tabel 4.10 menunjukkan, harga Sig.(2-tailed) pada pretest dan
posttest>0,05. Hasil pretest Sig.(2-tailed)>0,05 yaitu 0,996 dan hasil posttest Sig.(2-tailed)>0,05 yaitu 0,617. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak, artinya hasil pretest dan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians sama.
C. Uji Statistik
1. Uji perbedaan rata-rata pretest
Uji perbedaan pretest dilakukan untuk mengetahui apakah kedua data memiliki dasar yang sama sehingga memungkinkan untuk dilakukan
pembandingan. Uji perbedaan ini dilakukan dengan menganalisis hasil rata-rata
pretest yang dilakukan oleh kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hipotesis statistik uji perbedaan pretest sebagai berikut.
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata pretest dan rata-rata
pretest eksperimen kelas kontrol. Dengan kata lain antara kelas kontrol dan kelas eksperimen tidak memiliki perbedaan
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan kata lain antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
memiliki perbedaan data.
Kriteria untuk menilai perbedaan data yaitu :
a. Jika harga sig.(2-tailed)>0,05, H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelas eksperimen dan pretest kontrol. b. Jika harga sig.(2-tailed)≤0,05, H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelas eksperimen dan pretest kontrol. Hasil analisis data perbandingan rata-rata pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.11 Perbandingan Rata-rata Pretest
Hasil Pretest Signifikansi Keterangan Kelas eksperimen dan kelas kontrol 0,397 Tidak ada perbedaan
Dari tabel 4.11 rata-rata pretest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan bahwa harga (2-tailed)>0,05 adalah 0,397, sehingga dapat diketahui bahwa H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest kelas eksperimen dan pretest kontrol. Dengan kata lain kelas eksperimen dan keals kontrol berawal dari titik pijak yang sama.
2. Uji perbedaan rata-rata pretest dan posttest
Uji perbedaan rata-rata pretest dan posttest digunakan untuk memastikan apakah ada atau tidak ada kenaikan yang terjadi dalam kelas eksperimen dan
kontrol dengan membandingkan hasil rata-rata pretest dan posttest. Uji perbedaan ini berkaitan dengan uji normalitas. Pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
harga sig.(2-tailed) pada rata-rata pretest dan posttest > 0,05 sehingga data tersebut dikatakan normal, sehingga analisis statistik yang digunakan untuk data
normal adalah statistik parametrik paired t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan hipotesis
statistik sebagai berikut :
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata pretest dan posttest.
Dengan kata lain tidak ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara
rata-rata pretest dan posttest.
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata pretest dan posttest.
Dengan kata lain ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara rata-rata
pretest dan posttest.
Dengan kriteria sebagai berikut:
a. Jika harga sig.(2-tailed)>0,05, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
b. Jika harga sig.(2-tailed)≤0,05, terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata pretest dan posttest.
Hasil analisis data perbandingan rata-rata pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12 Uji perbedaan rata-rata pretest dan posttest
Kelas Df Sig.(2-tailed) Analisis Keterangan Eksperimen 30 0,000 Sig.≤ 0,05 Terdapat perbedaan
Kontrol 30 0,000 Sig.≤ 0,05 Terdapat perbedaan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hasil belajar pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol terdapat kenaikan yang signifikan pada rata-rata pretest dan
posttest. Hal itu ditunjukkan dengan harga sig. (2-tailed <0,05, yaitu 0,000 pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Maka H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara hasil rata-rata pretest dan posttest. Dengan kata lain ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara rata-rata pretest dan posttest
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4. Uji Perbedaan Posttest
Uji perbedaan Posttest dilakukan untuk memastikan ada atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis data uji pengaruh perlakuan menggunakan hipotesis
statistic two-tailed dan one-tailed. Berikut ini hipotesis statistik two-tailed pada uji perlakuan.
H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor posttest
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan kata lain perlakuan
penggunaan pendekatan PMRI tidak berpengaruh secara signifikan
H1 : Terdapat perbedaan yang signifikan atara posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan kata lain perlakuan penggunaan pendekatan PMRI
berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Kriteria yang digunakan dalam uji perbandingan posttest antara lain: a. Jika harga sig.(2-tailed) ≤0,05, terdapat perbedaan yang signifikan antara
posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b. Jika harga sig.(2-tailed) >0,05, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Hasil uji perbandingan posttest hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunkaan SPSS 20 dengan rumus Independent sample t-test
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.13 Perbandingan Rata-rata Posttest
Hasil Posttest Sig.(2-tailed) Analisis Keterangan Kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol
0,000 Sig.< 0,05 Terdapat pengaruh
Hasil uji perbandingan posttest sesuai tabel 4.12 menunjukkan, harga
sig.2-tailed≤ 0,05 yaitu 0,000. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan kata lain perlakuan penggunaan pendekatan PMRI berpengaruh secara
signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Hasil uji perbandingan untuk menentukan kelas yang lebih efektif dapat
dilihat dari hipotesis statistik one-tailed sebagai berikut.
H0 : rata-rata skor posttest kelas eksperimen ≤ rata-rata posttest kelas kontrol. H1 : rata-rata skor posttest kelas eksperimen > rata-rata posttest kelas kontrol Dengan kriteria sebagai berikut.
a. Ho diterima dan H1 ditolak jika t-test ≤ t tabel, maka rata-rata kelas eksperimen ≤ rata-rata kelas kontrol.
b. Ho ditolak dan H1 diterima jika t-test > t tabel, maka rata-rata kelas eksperimen > rata-rata kelas kontrol.
Berikut hasil analisis statistik One-Tailed.
Tabel 4.14 Hasil Analisis One-Tailed
Kelas N Mean Std. Deviation Std. Error Mean T Posttest Eksperimen 31 8.02 1.039 .187
4,109
Kontrol 31 6.91 1.081 .194
Berdasarkan tabel 4.13, t-test pada rata-rata posttest yaitu 4,109. T tabel
untuk distribusi frekuensi 60 yaitu 1,671. Maka dapat dikatakan bahwa t-test > t
tabel yaitu 4,109>1,671. Setelah melihat t-test dan t tabel, kemudian melihat
rata-rata posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rata-rata kelas eksperimen > rata-rata kelas kontrol yaitu 8,02>6,91. Sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti rata-rata skor posttest kelas eksperimen > rata-rata posttest kelas kontrol.
Selain membandingkan t test dan t hitung serta rata-rata skor, yang perlu
dilakukan perbandingan adalah Mean dan standar deviasi. Jika nilai rata-rata kelas mempunyai rata-rata skor tinggi namun standar deviasi rendah, maka kelas
tersebut lebih baik dari pada kelas yang mempunyai rata-rata skor rendah namun
standar deviasinya tinggi. Pada tabel 4.13 menunjukkan pada kelas eksperimen
mempunyai rata-rata skor 8,02 dan standar deviasi 1.039, sedangkan pada kelas
kontrol rata-rata skor 6,91 dan standar deviasi 1,081. Maka dapat disimpulkan
kelas eksperimen yang menggunakan pendekatan PMRI lebih baik daripada kelas
4.2.2.2 Analisis Data Hasil Belajar Berdasarkan KKM
Dari data posstest yang diperoleh, dianalisis ketuntasan nilai siswa. Batas tuntas KKM yaitu 70. Jika siswa mendapatkan nilai ≥70 maka dikatakan tuntas, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai < 70 maka dikatakan tidak tuntas.
Berikut tabel analisis hasil belajar berdasarkan KKM:
Tabel 4.15 Analisis Data Hasil Belajar Berdasarkan KKM Kelas Eksperimen
No Siswa Post-eksperimen Jum lah Nilai No Item Keterangan 1 2a 2b 2c 3 4 5 1 4 4 2 3 4 2 4 23 8.21 Tuntas 2 2 4 3 2 3 3 3 20 7.14 Tuntas 3 4 4 3 3 2 4 3 23 8.21 Tuntas 4 3 4 2 4 4 3 3 23 8.21 Tuntas 5 2 4 3 3 4 4 4 24 8.57 Tuntas 6 4 3 4 2 4 3 3 23 8.21 Tuntas 7 3 3 2 3 4 4 2 21 7.5 Tuntas 8 3 4 3 3 2 2 4 21 7.5 Tuntas 9 2 3 2 4 4 3 4 27 9.64 Tuntas 10 2 4 4 4 4 3 4 26 9.29 Tuntas 11 3 4 3 2 4 4 2 22 7.86 Tuntas 12 4 3 3 4 2 3 3 25 8.93 Tuntas 13 2 4 4 2 2 4 3 19 6.79 Tidak Tuntas 14 2 4 3 2 3 4 4 26 9.29 Tuntas 15 4 4 2 3 4 2 4 26 9.29 Tuntas 16 4 4 4 4 3 2 3 18 6.43 Tidak Tuntas 17 2 4 3 4 3 2 4 17 6.07 Tidak Tuntas 18 2 3 4 3 4 3 3 22 7.86 Tuntas 19 4 3 4 2 2 4 3 26 9.29 Tuntas 20 2 4 4 2 2 4 4 22 7.86 Tuntas 21 2 4 4 3 4 3 3 27 9.64 Tuntas 22 4 4 3 2 3 3 4 25 8.93 Tuntas 23 2 2 4 4 3 3 3 18 6.43 Tidak Tuntas 24 3 4 2 3 2 3 3 26 9.29 Tuntas 25 4 3 3 2 3 2 4 21 7.5 Tuntas 26 3 4 3 3 2 2 3 18 6.43 Tidak Tuntas 27 2 4 2 3 4 4 3 22 7.86 Tuntas 28 2 3 3 4 2 4 2 21 7.5 Tuntas 29 2 4 3 2 3 3 3 19 6.79 Tidak Tuntas
30 3 3 2 3 4 3 3 21 7.5 Tuntas 31 4 4 3 2 4 3 2 24 8.57 Tuntas Pada tabel 4.15 menunjukkan dari 31 siswa di kelas eksperimen terdapat
25 siswa atau 80,64% yang mendapatkan nilai diatas KKM atau tuntas KKM.
Maka dapat disimpulkan terdapat 80,64% siswa tuntas KKM. Sedangakan di kelas
kontrol diperoleh tabel analisis data sebagai berikut:
Tabel 4.16 Analisis Data Hasil Belajar Berdasarkan KKM Kelas Kontrol
No siswa Posttest Jumlah Nilai Keterangan No Item 1 2a 2b 2c 3 4 5 1 2 2 3 2 3 3 3 18 6.43 Tidak Tuntas 2 2 4 3 2 3 4 2 20 7.14 Tuntas 3 2 4 2 3 2 2 2 20 7.14 Tuntas 4 2 3 3 2 3 3 3 24 8.57 Tuntas 5 3 3 2 3 2 3 2 17 6.07 Tidak Tuntas 6 2 2 2 1 3 2 1 15 5.36 Tidak Tuntas 7 2 2 3 3 2 2 2 20 7.14 Tuntas 8 4 2 3 2 3 4 3 21 7.5 Tuntas 9 3 3 2 2 2 2 2 20 7.14 Tuntas 10 3 2 2 2 4 2 2 22 7.86 Tuntas 11 3 3 3 2 4 2 3 23 8.21 Tuntas 12 2 2 2 2 2 3 2 15 5.36 Tidak Tuntas 13 2 2 3 3 4 2 3 20 7.14 Tuntas 14 4 3 2 2 2 1 3 21 7.5 Tuntas 15 2 3 2 1 3 2 2 15 5.36 Tidak Tuntas 16 2 2 3 2 2 3 2 23 8.21 Tuntas 17 2 2 2 2 3 1 2 20 7.14 Tuntas 18 2 2 3 3 2 2 3 15 5.36 Tidak Tuntas 19 4 2 3 2 2 3 2 17 6.07 Tidak Tuntas 20 2 3 2 3 3 2 3 23 8.21 Tuntas 21 2 2 2 3 2 2 2 21 7.5 Tuntas 22 2 2 3 2 3 2 2 20 7.14 Tuntas 23 3 2 2 2 4 1 3 22 7.86 Tuntas 24 3 2 3 2 2 3 2 17 6.07 Tidak Tuntas 25 2 3 2 2 3 2 2 14 5 Tidak Tuntas 26 3 2 3 3 4 2 2 21 7.5 Tuntas 27 3 3 2 2 4 2 2 16 5.71 Tidak Tuntas 28 2 3 2 3 3 2 3 24 8.57 Tuntas
29 3 2 3 2 2 2 3 17 6.07 Tidak Tuntas 30 2 3 2 3 4 2 2 23 8.21 Tuntas 31 4 2 3 2 2 3 2 16 5.71 Tidak Tuntas Pada tabel 4.16 menunjukkan dari 31 siswa di kelas kontrol terdapat 19
siswa atau 61,29% siswa yang tuntas KKM atau memiliki nilai diatas atau sama
dengan 70. Persentase ketuntasan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol
disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut.
Diagram 4.1 Hasil Belajar Berdasarkan KKM
Pada diagram 4.1 menunjukkan persentase ketuntasan rata-rata hasil
belajar berdasarkan KKM pada kelas eksperimen yang pembelajarannya
menggunakan pendekatan PMRI lebih tinggi daripada kelas kontrol yang
pembelajarannya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hal itu
ditunjukkan dengan persentase ketuntasan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen
80,64% dan kelas kontrol 61,29%.
4.2.3 Analisis Data Keaktifan
4.2.3.1 Analisis Data Keaktifan Berdasarkan Pengamatan
Pengamatan keaktifan dianalisis dengan melihat jumlah skor yang
diperoleh oleh setiap siswa disetiap pertemuan. Selain itu peneliti juga
80.64% 61.29% 19.36% 38.71% 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Tuntas
menganalisis skor rata-rata keaktifan kelas. Berikut ini hasil pengamatan keaktifan
siswa kelas eksperimen.
Tabel 4.17 Analisis Data Pengamatan Keaktifan Kelas Eksperimen
No Siswa
SKOR TIAP PERTEMUAN
I Kualifikasi II Kualifikasi III Kualifikasi IV Kualifikasi 1 9 Aktif 10 Sangat Aktif 11 Sangat Aktif 10 Sangat Aktif 2 6 Cukup Aktif 8 Aktif 8 Aktif 6 Cukup Aktif 3 7 Cukup Aktif 10 Sangat Aktif 7 Cukup Aktif 9 Aktif 4 10 Sangat Aktif 9 Aktif 8 Aktif 9 Aktif 5 7 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 8 Aktif 7 Cukup Aktif
6 8 Aktif 8 Aktif 9 Aktif 9 Aktif
7 9 Aktif 11 Sangat Aktif 7 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif
8 9 Aktif 8 Aktif 9 Aktif 9 Aktif
9 9 Aktif 8 Aktif 7 Cukup Aktif 9 Aktif 10 7 Cukup Aktif 8 Aktif 8 Aktif 8 Aktif 11 8 Aktif 11 Sangat Aktif 9 Aktif 8 Aktif 12 10 Sangat Aktif 9 Aktif 7 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 13 10 Sangat Aktif 8 Aktif 7 Cukup Aktif 10 Sangat Aktif 14 9 Aktif 10 Sangat Aktif 8 Aktif 9 Aktif 15 7 Cukup Aktif 8 Aktif 9 Aktif 8 Aktif 16 9 Aktif 10 Sangat Aktif 10 Sangat Aktif 7 Cukup Aktif 17 8 Aktif 10 Sangat Aktif 6 Cukup Aktif 10 Sangat Aktif 18 9 Aktif 7 Cukup Aktif 9 Aktif 10 Sangat Aktif 19 6 Cukup Aktif 9 Aktif 6 Cukup Aktif 6 Cukup Aktif 20 6 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 9 Aktif 8 Aktif 21 6 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 8 Aktif 8 Aktif 22 10 Sangat Aktif 9 Aktif 9 Aktif 9 Aktif 23 7 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 8 Aktif 11 Sangat Aktif 24 6 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 7 Cukup Aktif 10 Sangat Aktif 25 10 Sangat Aktif 9 Aktif 10 Sangat Aktif 8 Aktif 26 9 Aktif 7 Cukup Aktif 8 Aktif 10 Sangat Aktif 27 7 Cukup Aktif 6 Cukup Aktif 9 Aktif 9 Aktif 28 9 Aktif 9 Aktif 9 Aktif 7 Cukup Aktif 29 10 Sangat Aktif 10 Sangat Aktif 10 Sangat Aktif 8 Aktif
30 9 Aktif 9 Aktif 9 Aktif 8 Aktif
31 9 Aktif 7 Cukup Aktif 10 Sangat Aktif 10 Sangat Aktif Berdasarkan tabel 4.17 dapat terlihat persentase siswa yang sangat aktif,
aktif, cukup aktif dan kurang aktif. Berikut ini tabel persentase siswa tiap
Tabel 4.18 Persentase Keaktifan Siswa Kelas Eksperimen Kriteria Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Pertemuan IV Rata-rata Sangat aktif 19,35% 25,80% 16,12% 25,80% 21,77% Aktif 45,16% 45,16% 58,06% 51,61% 50% Cukup aktif 35,48% 29,03% 25,80% 22,58% 28,22% Kurang aktif 0% 0% 0% 0% 0%
Kriteria keaktifan kelas dalam pengamatan kelas yaitu diatas kriteria