• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

7. Analisis Data

Semua data yang diperoleh dari bahan pustaka serta data yang diperoleh dilapangan dianalisa secara kualitatif. Metode analisa yang dipakai adalah metode deduktif dan induktif. Melalui metode deduktif, data sekunder yang telah diperoleh akan dijadikan pedoman secara komparatif dan dilihat pelaksanaannya dalam praktek

Aceh Utara. Dengan metode induktif, data primer yang diperoleh dilapangan setelah dihubungkan dengan aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan gadai tanah, baik berdasarkan kebiasaan masyarakat adat Aceh maupun hukum agraria nasional akan diperoleh asas-asas hukum yang hidup dalam pelaksanaan gadai tanah pada masyarakat Aceh di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara.

BAB II

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI KEBERADAAN PERJANJIANGALA(GADAI) TANAH PADA MASYARAKAT ACEH

DI KECAMATAN MEURAH MULIA KABUPATEN ACEH UTARA

A. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Kecamatan Meurah Mulia adalah salah satu kecamatan yang secara administratif termasuk dalam wilayah kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh. Kecamatan Meurah Mulia letaknya berbatasan dengan :

1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Syamtanira Bayu;

2. Sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Samudera dan kecamatan Nibong, sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Semudera;

3. Sebelah Selatan berbatas dengan Kabupaten Bener Meriah dan Kecamatan Geuredong Pase.

Kecamatan Meurah Mulia di pimpin oleh seorang Camat yang diangkat dan diberhentikan oleh dan atas kewenangan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Aceh Utara, dengan masa jabatannya sangat tergantung kepada Bupati yang mengangkatnya.

Kecamatan Meurah Mulia terdiri dari 50 (limapuluh) Gampoeng (desa), yang masing-masing Gampong (desa) dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut “Kechik”, Kechik dipilih langsung oleh warga masyarakat Gampong (desa) secara demokratis melalui suatu pemilihan umum Gampong untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk satu periode jabatan ke depan.

Kecamatan Meurah Mulia mempunyai luas wilayahnya 29.217 km2. Terdiri dari tiga kemukiman yaitu kemukiman Baroh dengan jumlah 15 (limabelas)

Gampong (desa), kemukiman Teungoh dengan jumlah 12 (duabelas) Gampong

(Desa) dan kemukiman Teungoh dengan jumlah 23 (dua puluh tiga) Gampong

(Desa). Dengan jumlah kepala keluarga (KK) 4410 dan jumlah penduduk: 17.812 jiwa, yang terdiri dari laki-laki : 8677 jiwa dan perempuan: 9162 jiwa dengan mata pencaharian masyarakat sebagai berikut :

1. Petani 95 %

2. Pedagang 1 %

3. Industri Rumah Tangga 1 %

4. PNS 2 %

5. Buruh dan Pegawai Swasta 1 %

Sumber : Profil Umum Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara Propinsi Aceh tahun 2013 pada Kantor Camat Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara.

Keadaan geografis Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara memiliki bentangan alam yang pada umumnya rata (datar) dan sebagian kecil yang keadaannya berbukit. Pada bagian yang datar terhampar areal persawahan yang dipasilitasi dengan irigasi teknis serta permukiman penduduk dalam bentuk perkampungan yang disebut “gampong”, sedangkan sebagian kecil daerah perbukitan difungsikan sebagai perkebunan rakyat, dimana masyarakat yang setelah menanam padi di sawah mereka pada setiap musim tanam, lalu sebagian diantara mereka mulai bekerja membersikan

areal perbukitan untuk menanam tanam-tanaman muda seperti jagung, kedelai, kacang hijau dan sayur-sayuran. Disamping itu ada pula yang menanam tanaman keras seperti durian, mangga dan karet.

Ketika musim tanam tiba, setiap hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya kira-kira jam 07.00 WIB para penduduk disetiap kampung baik laki-laki maupun perempuan (yang telah dewasa) berbondong-bondong keluar dari perkampungan menuju sawah mereka masing-masing dalam rangka mengolah sawah atau mempersiapkan keadaan sawah supaya dapat ditanami padi.

Setelah sawah mereka ditanami padi, maka tibalah waktu rehat atau waktu menunggu masa panen. Kalau masa panen tiba maka warga masyarakat berbondong-bondong turun lagi ke sawah untuk melakukan panenan padi mereka.

Antara waktu selesai masa tanam dengan tibanya masa panen (masa rehat), waktu inilah yang digunakan sebagian penduduk desa untuk mengerjakan kebun/ lahan mereka yang berada di daerah perbukitan guna menambah penghasilan keluarga dengan menanam berbagai tanaman palawija dan tanaman sayur-sayuran.

Kehidupan masyarakat desa dalam wilayah Kecamatan Meurah Mulia pada umumnya sama, yaitu setiap desa ditandai dengan adanya sebuah bangunan Menasah yang bentuknya adalah sama persis dengan bangunan rumah adat Aceh, hal ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan bangunan rumah adat Aceh yang semakin lama semakin menghilang keberadaannya.

Fungsi Menasah adalah sangat banyak, diantaranya : 1. Sebagai tempat shalat berjamaah, kecuali hari Jumat

2. Sebagai tempat musyawarah desa

3. Sebagai tempat pertemuan, bila ada acara-acara pertemuan yang diprakarsai oleh pihak kecamatan atau oleh pemerintah kabupaten

4. Sebagai tempat belajar para orangtua yang biasanya diadakan setiap hari Jumat

Fungsi menasah sebagaimana disebut di atas semakin lama semakin berkurang seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Kalau tempo dulu fungsi menasah sangat strategis dimana para pemuda desa senantiasa menggunakan menasah sebagai tempat berkumpul pada siang hari sekedar untuk beristirahat setelah bekerja di sawah dan pada malam hari berfungsi untuk tempat istirahat (tidur) bersama dengan para pemuda sekampung, karena pada waktu tempo dulu sangat jarang para pemuda tidur di rumah pada malam hari.45

Pada waktu sekarang ini menurut penelitian, bahwa menasah tidak lagi mempunyai fungsi strategis, dimana para pemuda sangat jarang berkumpul di Menasah, kecuali sudah ditentukan secara khusus, misalnya pada acara rapat pemuda sekampung yang secara kebetulan mengambil tempat di menasah. Selebihnya para pemuda lebih suka berkeliaran kemana mereka suka, seperti pada warung-warung yang ada, baik di desa yang bersangkutan maupun di luar desa dengan berbagai macam kegiatan seperti menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi atau sebagian hanya dengan nongkrong sambil ngobrol bersama di teras warung.

Pada waktu malam ada yang pulang kerumah masing-masing, ada yang tidur di warung-warung tempat mereka bekerja pada siang hari. Keadaan seperti ini adalah

merupakan delemma tersendiri yang tengah terjadi di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara.

Ketidak konsistenan para pemuda dalam memiliki tempat istirahat pada malam hari membuat orang tua akan sangat sulit untuk mengontrol keadan dan keberadaan anaknya pada malam hari, keadaan seperti ini membuat pusing orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka.

Berkaitan dengan pendidikan di kalangan para pemuda dan pemudi desa sangat beragam. Ada yang masih sekolah ditingkat SLTA bahkan ada juga sebagian kecil yang sedang mengikuti pendidikan tinggi (kuliah). Namun disamping itu banyak juga para pemuda yang tidak lagi dalam pendidikan, atau pengangguran setelah tamat sekolah tingkat SMP, para pemuda yang tergabung dalam kelompok ini keberadaannya sangat rentan terhadap pengaruh negatif khususnya narkoba, hal ini memang terbukti dilapangan memang sangat memperhatinkan, bahkan pengaruh narkoba ini tidak hanya dikalangan pemuda yang menganggur akan tetapi sudah merambah sampai ke pematang persawahan, dimana para bapak-bapak muda sudah kecanduan sabu-sabu yang tidak segan-segan menghisapnya di pematang persawahan ketika istirahat sejenak dari mengerjakan sawahnya.

Keadaan seperti ini sudah sangat memprihatinkan masyarakat disana, khususnya di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara yang merupakan bagian dari keprihatinan secara nasional dari bangsa kita republik Indonesia.

B. Gadai Tanah Menurut Hukum Adat

Di lingkungan masyarakat adat istilah gadai sudah sangat popular dipergunakan untuk melakukan suatu transaksi yang berhubungan dengan tanah. Pada dasarnya alasan yang paling mendasar seseorang melakukan transaksi gadai adalah keadaan kebutuhan akan uang.

Pada mulanya istilah gadai tanah ini (grondverpanding) diperkenalkan oleh Van Vollenhoven. Pemberian nama untuk gadai ini dalam masyarakat hukum adat di Indonesia terdapat beraneka ragam, misalnya di daerah Minangkabau dikenal dengan nama “Manggadai” di Jawa dikenal dengan “Odol Sende” di sunda dikenal dengan

Jual Sende”, di Pariangan, Bogor, Purwokerto Selatan dan Kuningan memakai

istilah “Akad”, “Gade”, “jual akad”, “Jual Gade” atau “Tandon”, di Jakarta, Cirebon dikenal dengan istilah “gade” di Riau dan Jambi dikenal istilah “menjual gade” di Medan dikenal dengan istilah “menggadai”, di beberapa daerah Nusa Tenggara Timur seperti daerah Kupang/Desa Teubaun disebut “Tarun”, di daerah Ermera disebut “Pinor”.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas di daerah Istimewa Aceh gadai tanah ini juga diberi nama beraneka ragam, misalnya di Kuala Simpang dipergunakan istilah “Agun”, Kecamatan Babussalam dipakai istilah

Cinderan”, daerah Lawe Alas menyebut istilah “Cinder”, Kecamatan

Peugasing dan Bebesan menyebutnya dengan nama “Garal” Kecamatan Kluet Selatan, Kecamatan Meukiek, Kecamatan Pidie, Kecamatan Meureudu dan Kecamatan Indrapuri menyebut dengan “Gala”, Kecamatan Montasik, Kecamatan Darussalam ada juga menyebut dengan istilah “Geumala” atau “Gala-Geumala”.46

46T.I. EL. Hakimy, Beberapa Segi Hukum Adat Tanah Pedesaan Aceh, (Banda Aceh: Sinar Darussalam, 1981), hal. 152.

Di samping itu ada yang menyebut dengan istilah “Publo-Gala” atau “Publo Akad”.47 Khusus Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara disebut dengan istilah “Gala” (gadai). Istilah-istilah gadai tersebut di atas pada prinsipnya di daerah masyarakat hukum adat Aceh, diperuntukan terutama tanah-tanah pertanian.

Di dalam hukum tanah adat istilah menjual gadai ini tidak sama pengertian dengan istilah menjual lepas, menjual tahunan, walaupun ketiga jenis ini merupakan transaksi tanah yang bersifat riil di dalam hukum harta kekayaan. Pada prinsipnya pemilik tanah yang melakukan transaksi gadai tidak menginginkan pelepasan tanahnya itu kepada pihak lain, melainkan pada suatu saat tertentu si pemilik tanah dapat menebus hak atas tanah tersebut dengan syarat membayar kembali uang tebusan yang diterimanya dahulu, adanya penebusan kembali ini merupakan salah satu ciri jual gadai yang artinya sebelum ditebus tanah yang bersangkutan berada dalam penguasaan pemegang gadai.

Sesuai dengan aneka ragam istilah menjual gadai dalam masyarakat hukum adat di daerah masing-masing, maka mengenai pengertian gadai ini juga terdapat berbagai bentuk pengertian yang diungkapkan oleh para sarjana, namun tujuan dan artinya tetap sama.

47 Syahbuddin Mahyuddin, Pelaksana Gadai di Lampuuk Darussalam Aceh Besar dan Tinjauannya Menurut Hukum Islam, (Banda Aceh: Sinar Darussalam, 1980), hal. 256.

Adapun pengertian gadai menurut para sarjana adalah sebagai berikut :

1. R. Supomo, pengertian gadai tanah adalah penyerahan hak atas tanah dengan syarat bahwa tanah itu tidak dapat pulang kembali pada yang menjual, kecuali uang pembayaran dari pembeli itu dikembalikan (ditebus).48

2. Iman Sudiyat, pengertian menjual gadai yaitu menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai dengan ketentuan si penjual tetap berhak atas pengambilan atas tanahnya dengan jalan menebusnya kembali.49

3. Soerojo Wignjodipuro, gadai adalah penyerahan kontan disertai ketentuan, bahwa yang menyerahkan tanah mempunyai hak mengambil kembali tanah itu dengan pembayaran uang yang sama jumlahnya.50

4. A. Fauzi Ridwan, pengertian gadai adalah suatu transaksi (penyerahan) tanah kepada pihak lain (pemegang gadai) dengan menerima sejumlah uang pembayaran dengan tunai, dengan perjanjian bahwa pemberi gadai yang menyerahkan tanah berhak menarik kembali tanah itu dengan jalan menebus pembayaran di atas.51

5. Van Dijk, gadai tanah adalah perpindahan tanah dengan pembayaran dengan sejumlah uang, yang dibayar dengan tunai dan yang memindahkan hak tanah itu (si pemberi gadai atau yang menggadaikan) dapat memperoleh kembali tanah itu

48R. Supomo,Bab-Bab Tentang Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1960), hal. 28. 49Iman Sudiyat,Op.Cit, hal. 28.

50 Soerojo Wignjodipuro, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 207.

jika ia membayar kembali kepada yang mendapatkan tanah itu, uang sejumlah yang diterimanya dahulu.52

6. S.A. Hakim, jual gadai adalah penyerahan tanah dengan pembayaran sejumlah uang secara kontan, demikian rupa sehingga yang menyerahkan tanah itu masih mempunyai hak untuk mengembalikan tanah itu kepadanya dengan pembayaran kembali sejumlah yang tersebut.53

7. Wirjono Prodjodikoro, merumuskan gadai tanah adalah seseorang menyerahkan tanah kepada orang lain dengan menerima sejumlah uang tunai dengan perjanjian dikemudian hari ia berhak menebus kembali tanah itu dengan membayar sejumlah uang tunai yang sama dengan uang yang ia terima semula.54

8. Soerjono Soekanto dan Soeleman B. Taneko, jual gadai adalah merupaan suatu perbuatan pemindahan hak atas tanah kepada pihak lain yakni pribadi kodrati yang dilakukan secara terang dan tunai sedemikian rupa, sehingga pihak yang melakukan pemindahan hak, mempunyai hak untuk menebus kembali tanah tersebut. Dengan demikian maka pemindahan hak atas tanah pada jual gadai bersifat sementara, walaupun kadang-kadang tidak ada patokan tegas mengenai sifat sementara waktu tersebut.55

52Van Dijk,Op.Cit, hal. 56. 53S.A. Hakim,Op.Cit, hal. 19.

54Wirjono Prodjodikoro,Op.Cit, hal. 57. 55Soerjono Soekanto,Op.Cit, hal. 214.

9. Soerjono Soekanto mengatakan gadai tanah adalah penyerahan tanah dengan pembayaran kontan, akan tetapi yang menyerahkan mempunyai hak mengambil kembali tanah itu dengan pembayaran uang yang sama jumlahnya.56

Kalau diperhatikan beberapa konsep uraian yang dikemukakan oleh para sarjana sebagaimana tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ada beberapa unsur penting yang dapat ditarik dari transaksi gadai tanah, yaitu :

a. Yang menjadi subjek gadai adalah penjual dan pembeli gadai. b. Yang menjadi objek gadai adalah tanah.

c. Transaksi gadai ini mempunyai sifat berdiri sendiri.

d. Transaksi gadai terjadi apabila objek gadai telah diserahkan oleh penjual gadai kepada pembeli gadai.

e. Sifat penyerahan tanah dilakukan bersama dengan penerimaan sejumlah uang secara tunai.

f. Hak untuk menebus kembali objek gadai terletak pada penjual gadai dengan cara mengembalikan harga gadai yang diterima semula.

g. Transaksi gadai tidak mengenal dengan istilah bunga.

Berdasarkan konsepsi gadai tanah tersebut dan berdasarkan unsur-unsur, dapat dirumuskan “Gala” (gadai) adalah sebagai suatu perbuatan hukum (rechthandeling) berupa penyerahan tanah pertanian/kebun atau benda-benda lainnya yang berharga oleh pemberi gadai (ureung peugala) dengan menerima sejumlah uang secara tunai

56Soerjono Soekanto,Meninjau Hukum Adat Indonesia, Suatu Pengantar untuk Mempelajari Hukum Adat, (Jakarta: Rajawali, 1981), hal. 85.

dari penerima gadai (ureung Gala) dan pada waktu pemberi gadai hendak menguasai kembali atas tanah/benda gadai dapat dilakukan dengan cara menebus kembali sebesar sejumlah uang seperti semula.

Pemegang gadai mendapat hak untuk menarik manfaat yang timbul dari hukum hak-hak milik. Tetapi ada perkecualiannya, Pertama, pemegang gadai tidak boleh menjual tanah itu dalam arti jual lepas, juga tidak boleh mempersewakannya lebih dari satu musim (jual tahunan). Kedua, dia harus membiarkan tanah itu kosong agar sewaktu-waktu tanah itu dapat ditebus kembali oleh pemberi gadai.57

Disamping apa yang telah diuraikan di atas, ada bentuk/cara lain dalam transaksi gadai yaitu perjanjian penglunasan (delgings-overeenkomst) yakni penyerahan sebidang tanah guna penglunasan sejumah hutang uang artinya dengan pemebrian sebidang tanah oleh debitur kepada kreditur untuk dipergunakan oleh kreditur, maka debitur memberikan kepada kreditus sebagai suatu jalan untuk melunasi hutangnya dengan memperhitungkan harga hasil tanah tersebut dengan jumlah hutang itu.58

Dalam hubungan yang tersebut di atas, Hilman Hadikusuma, menguraikan dengan contoh mengenai delgings-overeenkomst ini gadai pelunasan atau disebut juga dengan nama persetujuan pelunasan misalnya, apabila si berhutang A mempunyai hutang pada B, maka untuk dapat melunasi hutangnya itu A menyerahkan (menggadaikan) tanahnya kepada B dan dengan demikian maka tanah lalu diusahakan oleh B, dari hasil tanah itu diperhitungkan sebagai pembayaran hutang sampai lunas, tentu saja dengan menarik keuntungan dari hasil tanah tersebut.59

Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam lapangan hukum adat, tanah sebagai objek hukum khusus mengenai jual gadai dapat dialihkan untuk sementara waktu adalah melalui 2 (dua) cara yaitu jual gadai dan perjanjian pelunasan hutang (delgingsovereenkomst).

57Nico Ngani, Perkembangan Hukum Adat Indonesia, Penerbit Pustaka Yutisia, Yogyakarta, 2012, hal. 62.

58S.A. Hakim,Op.Cit, hal. 19.

Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, maka dalam praktek masyarakat hukum adat, diperoleh ciri-ciri hak gadai adalah sebagai berikut :

1) Hak gadai jangka waktu terbatas, artinya pada suatu waktu akan dihapus apabila sipemberi gadai menebusnya.

2) Hak gadai tidak berakhir dengan sendirinya, bila si pemberi gadai meninggal dunia, akan tetapi hak gadai tersebut beralih kepada ahli warisnya.

3) Hak gadai dapat dibebani dengan hak-hak tanah lainnya, seperti menyewakan atau sewa bagi hasil kepada pihak lain.

4) Hak gadai dengan persetujuan pemberi gadai dapat dialihkan kepada pihak ketiga apabila sipemegang gadai sangat memerlukan uang.

5) Hak gadai tidak menjadi hapus walaupun hak atas tanah dialihkan kepada pihak lain.

6) Selama hak gadai berlangsung, maka atas persetujuan kedua belah pihak, uang gadainya dapat ditambah (mendalami gadai).

7) Gadai sebagai lembaga, karena ketentuan Pasal 53 UUPA, bersifat sementara maka pada waktunya akan dihapus.

Di samping ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, maka berikut ini akan diuraikan perbedaan jual gadai tanah dalam hukum adat dengan pinjaman uang dengan jaminan. Transaksi gadai tanah dalam hukum adat, tanah bukanlah jaminan hutang akan tetapi perjanjian yang berdiri sendiri, sedangkan pand dalam KUHPerdata objeknya tidak menyangkut tanah atau benda tidak bergerak, melainkan

benda-benda bergerak dan perjanjian tersebut merupakan perjanjian pinjam meminjam uang dengan benda bergerak sebagai jaminannya.

Untuk lebih jelas perbedaan antara 2 (dua) lembaga tersebut, dapat diuraikan berikut ini :

a) Jual gadai merupakan perjanjian yang berdiri sendiri, sedangkan pinjaman dengan jaminan adalah perjanjian tambahan (accessoire overeenkomst) disamping hutang uang.

b) Jual gadai mengakibatkan penyerahan barang (objek) gadai kepada si pemegang gadai, sedangkan pinjaman dengan jaminan barang tidak diserahkan untuk dinikmati kepada yang memberi hutang.

c) Jual gadai dilakukan dalam tempo/jangka waktu tertentu atau tidak ditentukan, sedangkan pinjaman dengan jaminan dilakukan hanya untuk jangka waktu yang pendek.

d) Apabila tidak ditentukan jangka waktu dalam perjanjian maka jual gadai berakhir jika pemberi gadai menebusnya, sedang dalam pinjaman dengan jaminan ditentukan waktu.

e) Apabila dalam jual gadai ditentukan jangka waktu, maka si pemegang gadai dapat meminta agar perjanjian diakhiri, jika si pemberi gadai tidak mampu untuk menebusnya, maka si pemegang gadai memintakan penetapan hukum lain dengan si pemegang gadai untuk memperoleh hak milik atas benda gadai tersebut, sedangkan pinjaman dengan jaminan apabila jangka waktu yang telah

ditentukan berakhir maka yang menerima jaminan berhak untuk meminta pembayaran hutang.

f) Dalam jual gadai memebri hak kepada si pemegang gadai untuk memindahkan atau mengalihkan gadai kepada pihak lain, sedangkan jaminan dengan pinjam tidak memberikan hak untuk memberikan barang jaminan kepada pihak lain. g) Dalam jual gadai apabila barang yang telah digadaikan itu musnah maka dengan

sendirinya hubungan berakhir dan si penerima gadai tidak berhak meminta kembali uang gadai tersebut dari pemberi gadai, sedangkan pinjaman dengan jaminan apabila barang jaminan tersebut musnah maka si penerima jaminan tetap berhak meminta pembayaran hutang.

h) Dalam jual gadai apabila pihak-pihak meninggal dunia maka perjanjian tersebut beralih kepada ahli warisnya masing-masing sedangkan pinjaman dengan jaminan apabila yang berhutang meninggal dunia maka hutang dapat ditagih.

C. Faktor Telah Melembaga PerjanjianGala(Gadai) Tanah pada Masyarakat

Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960 menyangkut gadai tanah diatur pada Pasal 16 ayat (1) huruf h junto Pasal 53 ayat (1), Pasal 53 ayat (1) berbunyi sebagai berikut :

Hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf h, ialah hak gadai, hal usaha bagi hasil, hak menumpang dan hak sewa tanah

pertanian diatur untuk membatasi sifat-sifatnya yang bertentangan dengan undang-undang ini dan hak-hak tersebut diusahakan hapusnya di dalam waktu yang singkat”.

Dalam penjelasan Pasal 16 UUPA, antara lain dijelaskan bahwa : “Dalam pada itu hak-hak adat yang sifatnya bertentangan dengan ketentuan-ketentuan undang-undang ini, tetapi berhubung dengan keadaan masyarakat sekarang ini belum dapat dihapuskan, diberi sifat sementara dan akan diatur”.60

Dari aturan yang telah disebutkan di atas, menginsyaratkan bahwa : pemerintah republik Indonesia tidak menginginkan praktek gadai tanah pertanian terus berlangsung di kalangan masyarakat warga negara Indonesia khususnya di pedesaan, karena pemerintah telah terlanjur mengasumsikan bahwa gadai tanah pertanian telah mengandung unsur pemerasan. Hal itu diperkirakan banyak masyarakat yang mengadaikan tanahnya akan tetapi tidak mampu menembus sampai dalam waktu yang lama bahkan bisa mencapai puluhan tahun hingga meninggalnya pemberi gadai.

Disisi lain sipenerima gadai telah mendapat hasil atau keuntungan yang diperoleh dari pengolahan tanah tersebut, hingga melebihi bunga yang wajar dari besarnya uang gadai yang dikeluarkannya. Hal ini menjadi tidak sebanding, dan pihak pemberi gadai dianggab sebagai pihak yang sangat merugi.

Mengenai asumsi yang telah menjiwai UUPA tersebut ternyata berbanding terbalik dengan apa yang sesungguhnya terjadi dan dialami oleh masyarakat Aceh di Kecamatan Meurah Mulia kabupaten Aceh Utara. Dari 10 (sepuluh) orang responden,

60Boedi Harsono,Hukum Agraria Indonesia (Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah), Cetakan Keduabelas, (Jakarta: Djambatan, 2008), hal. 42.

3 (tiga) orang Keucik (kepala desa), 1 (satu) orang kepala Mukim (pengetua adat) dan 1 (satu) orang Camat kepala wilayah Kecamatan Meurah Mulia yang telah saya wawancarai sebagai responden semuanya memberi jawaban yang sama, yaitu Gala geumala (gadai mengadai) tersebut tidak dapat dipisahkan lagi dengan masyarakat, hal itu disebabkan perjanjianGala(gadai) tanah sudah begitu membudaya dan sangat

Dokumen terkait