• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : Penyajian Data dan Analisis

KOMPOSISI RESPONDEN BERDASARKAN PEKERJAAN

3.5. ANALISIS DATA

Dari hasil analisis data diperoleh tingkat pendidikan sangat mempengaruhi partisipasi politik seseorang atau sekelompok masyarakat.Seseorang atau sekelompok masyarakat yang mempuyai tingkat pendidikan yang masih rendah kurang menarik perhatiannya terhadap partisipasi politiknya. Pada desa kelurahan Batukarang tidak ada lagi masyarakat yang tidak pernah menjalani pendidikan formal. Masyarakat Batukarang paling banyak berpendidikan sekolah SLTA (40,20%) lihat Tabel 11, dan yang perguruan tinggi hanya 36,86 %.

Masyarakat desa Batukarang menyadari bahwa pendidikan adalah usaha untuk membina kepribadian dan kemampuan manusia baik kemampuan jasmani maupun kemampuan rohani yang dilakukan dalam rumah tangga,sekolah dan dalam masyarakat agar dengan kemampuan dapat mempertahankan dan mengembakan hidup dan kelangsungan hidup masyarakat.hal ini didukung oleh Taufik Abdullah 1987:327

Melihat Tingkat Pendidikan, jenis pekerjaan, penghasilan dalam satu bulan masyarakat desa Batukarang secara umum dapat dikatakan sebagai masyarakat yang tergolong rendah dalam hal status, sosial ekonomi (lihat tabel 10). Namun tingkat partisipasi masyarakatnya dalam hal menentukan pilihan pada saat pemilihan Kepala Daerah Kabupaten 2005 sangat tinggi (lihat tabel 19).

Masyarakat Desa Batukarang yang terdaftar sebagai anggota partai politik hanya 13,40 % ( lihat tabel 24 ). Keseluruhan dari anggota partai politik adalah laki-laki. Ini merupakan pengurus ditingkat ranting maupun ditingkat cabang. Dalam hal keanggotaan partai politik perempuan tidak berminat.

Aktivitas kampanye diminati oleh masyarakat desa Batukarang. Masyarakat yang terlibat kampanye cukup banyak ( 77,32% ). Menurut Milbart dab Goel dalam buku Memahami Ilmu Politik oleh Surbakti Rahman. Partisipasi yang merupakan gladiator yaitu orang-orang yang secara aktif terlibat dalam proses politik yakni sebagai komonikator dengan tugas khusus mengadakan kontak tatap muka, aktifis partai dan pekerja kampanyenya serta aktifis masyarakat.

Kaseluruhan dari masyarakat yang mengikuti kampanye adalah laki-laki sedangkan perempuan tidak mengikuti kampanye, karena lebih mementingkan pekerjaan sebagai petani. Hal ini sesuai dengan Rosenberg yang mengatakan alasan orang tidak ikut berpartisipasi politik karena individu menganggap aktifitas politik merupakan kegiatan yang sia-sia belaka. Individu beranggapan bahwa ia tidak akan mungkin dapat mengubah keadaan dan melakukan kontrol politik.

Dapat dilihat partisipasi aktif mencakup kegiatan warga negara mengajukan usul mengenai suatu kebijakan umum, mengajukan kritik dan saran untuk meluruskan kebijaksanaan membayar pajak dan ikut serta dalam pemulihan pimpinan pemerintahan, dipihak lain ada partisipasi pasif antara lain berupa kegiatan mentaati peraturan pemerintah, menerima dan melaksanakan begitu saja setiap keputusan pemerintah.42

BAB IV PENUTUP

Pada Bab ini penulis akan memberikan beberapa kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan di Desa Masyarakat Batukarang Kabupaten Karo, mengenai Pengaruh tingkat pendidikan terhadap partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2005 di Kabupaten Karo. Kesimpulan disini merupakan hasil data sebagaimana yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya. Selain itu juga penulis juga akan memberikan saran-saran yang berhubungan dengan opini masyarakat.

4.1. Kesimpulan

Partisipasi politik merupakan masalah yang teramat penting dewasa ini. Partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting terwujudnya demokrasi, dimana dengan terwujudnya suatu partisipasi politik yang benar oleh masyarakat maka akan tercipta suatu sistem pemerintahan yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Permasalahan yang muncul adalah tingkat partisipasi politik masyarakat berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti : umur, status sosial-ekonomi, pendidikan dan pekerjaan. Dilihat dari salah satu faktor, faktor pendidikan sangat penting untuk diperhatikan, sebab pendidikan sebagai suatu aspek yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menganalisa suatu masalah serta mampu lebih baik dalam mengambil suatu keputusan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapi, karena pada umumnya semakin tinggi tingkat penndidikan dan status sosial-ekonomi seseorang maka ketajaman dalam menganalisa informasi tentang politik dan persoalan- persoalan sosial yang dihadapi semakin meningkat dan menciptakan minat untuk ikut

serta dalam berpolitik. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang pengaruh tingkat pendidikan terhadap partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2005 di kabupaten Karo tepatnya desa Batukarang kecamatan Payung dapat ditarik kesimpulan

1. Masyarakat desa batukarang kebanyakan hanya mendapat pendidikan sampai tingkat SLTA/sederajat, walaupun masyarakat menyadari pendidikan itu penting.

2. Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi partisipasi politik seseorang atau masyarakat, seseorang atau masyarakat yang tingkat pendidikannya masih rendah kurang tertarik terhadap partisipasi politik, dapat terlihat dari data sedikitnya masyarakat batukarang yang terdaftar sebagai anggota partai politik.

3. Keterlibatan masyarakat desa batukarang untuk aktif dalam kegiatan politik hanya pada saat pemilihan kepala daerah saja, dapat dilihat bagaimana antusiasnya masyarakat desa batukarang mengikuti kampanye pemilihan kepala daerah.

Pada penelitian penulis menarik kesimpulan bahwa keterlibatan untuk ikut aktif pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2005 pada masyarakat desa Batukarang partisipasinya masih pada tataran paling kecil sebab partisipasi masyarakat hanya pada saat Pemilihan Kepala Daerah saja.

4.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas penulis mencoba memberikan saran- saran sebagai berikut:

1. Dalam usaha meningkatkan partisipasi politik masyarakat desa Batukarang khusunya hendaknya diperhatikan bagaimana tingkat pendidikan masyarakat tersebut. Sebab apabila tingkat pendidikan masih sedang maka partisipasi politik masyarakat tersebut hanya pada Pemilihan Kepala Daerah saja.

2. Masyarakat Desa Batukarang terlihat kurang tertarik pada permasalah politik. Hal ini dapat diketahui dari jawaban responden yang mayoritas tidak mengikuti partai politik manapun dan kurangnya intensitas dalam menonton seputar permasalahan politik dan Pemilihan Kepala Daerah. Penyebabnya adalah kesibukan dari responden dalam mencari nafkah sepanjang hari karena umunya responden bekerja sebagai petani. Mereka menganggap bahwa keikutsertaan dalam bidang politik kurang penting dan tidak menghasilkan keuntungan apapun. Selain itu faktor kurangnya pendidikan dan sosialisasi politik yang diberikan sehingga menumbuhkan cara pandang yang demikian. Oleh karena itu, kiranya masyarakat desa Batukarang dapat lebih meningkatkan peran serta dalam kegiatan politik dan tidak bersikap apatis terhadap dunia politik khususnya yang berhubungan dengan kegiatan Pemilihan Kepala Daerah melalui media yang ada. Karena Pemilihan Kepala Daerah merupakan salah satu wujud demokrasi. Sehingga selanjutnya dapat ditingkatkan ke jenjang keikutsertaan dalam politik praktis seperti mengikuti partai politik tertentu.

3. Mengupayakan sosialisasi politik lebih khusus bagi masyarakat desa Batukarang sehingga mampu meningkatkan apresiasi mereka serta penerimaan terhadap politik masyarakat.

4. Perlunya ditingkatkannya peran wanita di dalam kegiatan politik. Agar kiranya tidak terjadi kesenjangan antar gender seperti yang terjadi selama ini. Sehingga pola pikir dari para masyarakat desa Batukarang dapat berubah dan berkembang lebih maju. 5. Meningkatkan kwalitas partisipasi politik melalui pendidikan politik dan

pembangunan politik sehingga kesadaran politik masyarakat desa Batukarang meningkatkan dan merasa mempunyai peranan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dokumen terkait