• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data

Dalam dokumen TESIS. Oleh. ERNI ARIYANTI /M.Kn (Halaman 49-150)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

5. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kualitatif, yaitu didasarkan pada relevansi data, keakuratan data, dan keaktualan data terhadap permasalahan, bukan berdasarkan banyaknya data (kuantitatif).86 Analisis kualitatif menggunakan norma-norma, asas-asas, prinsip-prinsip, konsep-konsep, doktrin-doktrin87 para ahli yang mengandung pandangan-pandangannya tentang perjanjian atau kontrak, wanprestasi, perbuatan melawan hukum, dan berkaitan dengan hak milik. Menganalisis permasalahan di dalam ini berdasarkan ketentuan yuridis yang terdapat dalam bahan hukum primer antara lain di dalam KUH Perdata, UUPA, dan perjanjian.

Permasalahan dianalisis dan sekaligus diungkapkan argumentasi-argumentasi hukum secara logika induktif (penalaran logika dari khusus ke umum).88 Analisis sesuai logika induktif disebut sebagai cara berfikir analitik dengan bertolak dari

85Johny Ibrahim, Op. cit., hal. 323.

86Ibid., hal. 161.

87Johny Ibrahim, Op. cit., hal. 306, dan hal. 310-311.

88Ibid., hal. 393.

makna yang berlaku khusus dalam putusan ke makna yang berlaku umum dalam perundang-undangan atas suatu peristiwa atau permasalahan hukum tertentu.89 Permasalahan tertentu yang dimaksud adalah mengenai penerapan hakim dalam menjatuhkan putusan tentang PMH dan wanprestasi atas penguasaan tanah dan rumah dalam Putusan Nomor 44/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.

Argumentasi-argumentasi berdasarkan doktrin-doktrin, prinsip-prinsip atau asas-asas hukum di bidang hukum perdata, perjanjian/kontrak, dan ketentuan yuridis, serta norma-norma hukum di dalam perundang-undangan sebagaimana dalam bahan hukum primer, diberikan secara tajam dan mendalam terhadap permasalahan. Hasil akhir dari analisis ini berupaya menarik kesimpulan dengan logika induktif.90 Dari rumusan permasalahan (problem) ditarik suatu kesimpulan berdasarkan logika induktif tersebut sehingga permasalahan dapat dijawab dan diberi solusi ilmiah.

89Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Op. Cit., hal. 109-110.

90Ediwarman, Monograf Metodologi Penelitian Hukum, Panduan Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi, (Medan: Sofmedia, 2015), hal. 109-110.

BAB II

PERBUATAN MELAWAN HUKUM DAN WANPRESTASI MENURUT KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DI BIDANG HUKUM PERDATA

A. Perjanjian Sebagai Awal Dari Perikatan

Konsep hukum perjanjian berada dalam bidang hukum perdata. Hukum perjanjian merupakan bagian dari hukum perdata (hukum privat).91Hukum perjanjian merupakan turunan dari hukum perikatan, meskipun kadang-kadang kajiannya dibedakan antara perikatan dan perjanjian, tetapi pada prinsipnya antara hukum perjanjian dan hukum perikatan adalah sama. Kedudukan hukum perikatan boleh dikatakan berada pada tataran teoritis yang dapat disebut dengan teori kesepakatan sedangkan dalam tataran normatif terdapat di dalam KUH Perdata.

Pengaturan mengenai hukum perjanjian Dalam KUH Perdata dapat ditemukan dari sebahagian pasal-pasal di dalam buku III KUH Perdata yang secara khusus diatur mulai dari Pasal 1313 s/d Pasal 1351 KUH Perdata dan di bawah sub judul Bab II yaitu “Perikatan-Perikatan Yang Dilahirkan Dari Kontrak Atau Persetujuan”. Dari ketentuan-ketentuan tersebut diketahui bahwa pasal-pasal tersebut mengatur tentang hukum perjanjian.92

Meskipun Gunawan Widjaja mengkaji hukum perjanjian dan hukum perikatan dengan bab-babnya secara terpisah,93 namun hal itu tidak berarti konsepnya berbeda,

91R. Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, (Bandung: Mandar Maju, 2011), hal. 2.

92Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis….Op. cit.,, hal. 247.

93Ibid., hal. 247 dan hal. 309.

sebagaimana pada umumnya terdapat dalam karya-karya para ahli hukum, mengkaji kedua aspek ini berada dalam satu kajian,94meskipun sedikit berbeda.

Seperti misalnya kajian tentang perjanjian dan perikatan dalam pandangan Handri Raharjo merupakan dua hal yang berbeda meskipun keduanya memiliki ciri yang hampir sama. Handri Raharjo mengutip dari R. Subekti dan J. Satrio membedakan antara perjanjian dan perikatan sebagaimana dalam tabel berikut ini:95

Tabel

Perbedaan Perjanjian dan Perikatan

Perjanjian Perikatan

Perjanjian menimbulkan perikatan. Perikatan adalah isi dari perjanjian.

Perjanjian bersifat konkrit daripada perikatan (dapat dilihat / didengar).

Perikatan bersifat abstrak (hanya dalam alam pikiran saja).

Umumnya perjanjian merupakan hubungan hukum bersegi dua, akibat hukumnya dikehendaki oleh kedua belah pihak sehingga menimbulkan hak dan kewajiban. Para pihak berjumlah minimal dua atau lebih sehingga bukan pernyataan sepihak.

Perikatan bersegi satu karena pihaknya adalah satu, belum tentu menimbulkan akibat hukum, sebagai contoh, perikatan alami tidak dapat dituntut di sidang pengadilan (hutang karena judi) karena pemenuhannya tidak dapat dipaksakan.

Pernyataannya merupakan pernyataan sepihak serta merupakan perbuatan biasa (bukan perbuatan hukum).

Berdasarkan Pasal 1233 KUH Perdata yang menentukan tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena persetujuan, maupun karena undang-undang, sehingga

94Handri Raharjo, Op. cit., hal. 39.

95Ibid., hal. 43.

menurut J. Satrio, perjanjian merupakan sumber perikatan. Dari ketentuan tersebut disimpulkannya bahwa sumber perikatan adalah perjanjian dan undang-undang.

Perjanjian melahirkan perikatan-perikatan karena memang perjanjian seringkali bahkan kebanyakan melahirkan sekelompok perikatan.96

Berdasarkan hal tersebut sumber perikatan adalah perjanjian dan undang-undang. Perjanjian sebagai sumber perikatan berarti perikatan dikehendaki oleh para pihak yang berjanji, sedangkan undang-undang sebagai sumber perikatan tanpa ada kehendak dari para pihak yang terikat. Perikatan dapat lahir karena tanpa para pihak melakukan suatu perbuatan tertentu, perikatan bisa lahir karena para pihak berada dalam kondisi tertentu sesuai Pasal 1352 dan Pasal 1353 KUH Perdata.97

Penafsiran terhadap ketentuan Pasal 1233 KUH Perdata menegaskan sebagai sumber perikatan adalah perjanjian dan undang-undang. Selain itu Abdulkadir Muhammad menambahkan pula di samping berasal dari perjanjian dan undang-undang, sumber perikatan dapat juga berasal dari kesusilaan.98

Istilah perjanjian bernama dan perjanjian tidak bernama juga dikenal dalam hukum perjanjian. Perjanjian bernama adalah perjanjian yang ditentukan di dalam undang-undang yang secara khusus ditentukan di dalam Bab V s/d XVIII Buku III KUH Perdata.99 Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak ditentukan

96J. Satrio, Hukum Perikatan, (Bandung: Alumni, 1999), hal. 38.

97Ibid., hal. 40.

98Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 221.

99 Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit, Beberapa Masalah Hukum Dalam Perjanjian Kredit Bank Dengan Jaminan Hypotheek Serta Hambatan-Hambatannya Dalam Praktek, (Bandung: Alumni, 1983), hal. 40.

dalam undang-undang tetapi terjadi di dalam praktik yang diperbolehkan berdasarkan asas kepantasan, kepatutan, dan kesusialaan.100

Menurut Gunawan Widjaja, hukum perjanjian adalah seperangkat aturan hukum yang mengatur mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masalah perjanjian. Hukum perjanjian tidak hanya berhubungan mengenai sahnya suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak, tetapi juga akibat hukumnya, dan pelaksanaannya. Hukum perjanjian merupakan lingkup hukum perdata yang lebih sempit daripada hukum perikatan. Hukum perjanjian bagian dari hukum perikatan yang lebih luas cakupannya.101

Hukum perjanjian identik dengan hukum kontrak karena norma, asas dan dasar hukum pembentukannya adalah sama. Bagaimana pula perbedaan antara kedua hal ini. Beberapa literatur membedakan kedua istilah ini tetapi makna dari kedua istilah sebenarnya sama, yakni sama-sama menyatakan suatu kesepakatan. Hanya penggunaan dalam penempatan istilah saja yang berbeda.

Perjanjian lebih luas daripada kontrak, perjanjian menyangkut segala bidang kehidupan sedangkan kontrak hanya menyangkut penggunaan istilah untuk kegiatan dagang atau bisnis). Perjanjian ada yang tertulis dan ada pula yang tidak tertulis sedangkan kontrak umumnya tertulis. Meskipun hukum perjanjian bersifat lebih luas daripada hukum kontrak, atau hukum kontrak merupakan derivatif dari hukum perjanjian, tetapi hakikatnya tetap sama.

100Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1990), hal. 77.

101Gunawan Widjaja, Op. cit., hal. 247-248.

Hukum kontrak lahir dari kehendak para pihak yang menghendaki suatu perjanjian harus dibuat dalam bentuk tertulis, sebab hingga kini tidak pernah ditemukan ada kontrak yang tidak dilaksanakan secara tertulis, atau tidak ada kontrak yang dilaksanakan dalam bentuk lisan. Perlunya perjanjian dalam bentuk tertulis dimaksudkan untuk menciptakan kepastian hukum bagi para pihak dalam melaksanakan prestasi.

Berdasarkan asas kewajaran dan kepatutan dalam kegiatan bisnis atau perdagangan serta untuk lebih protektif bagi para pihak dalam persoalan dagang, maka perjanjian umumnya dibuat dalam bentuk tertulis. Perjanjian yang dibuat dalam bentuk tertulis inilah yang sering diidentikkan dengan kontrak. Berdasarkan perbedaan inilah Agus Yudha Hernoko dengan tegas menentang pendapat yang menyamakan penggunaan kedua istilah ini meskipun maksudnya sama.102

Banyak orang mencampuradukkan istilah perjanjian dan kontrak dengan mendasarkan dan menafsirkan perjanjian (overeenkomst) dalam Buku III KUH Perdata (BW), padahal sebenarnya hukum kontrak (contract law) merupakan bidang dalam kegiatan bisnis atau kegiatan perdagangan. Menurut Subekti hukum kontrak mengandung makna yang lebih sempit dari hukum perjanjian.103 Sedangkan Agus Yudha Hernoko tidak sependapat untuk membedakan kedua istilah itu, ia justru menyamakan pengertian antara perjanjian dan kontrak.104

102Agus Yudha Hernoko, Op. cit., hal. 13 dan hal. 15.

103R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 1987), hal. 1.

104Ibid., hal. 13.

Para ahli hukum yang lain seperti Jacob Hans Niewenhuis, Hofman, J. Satrio, Soetojo Prawirohamidjojo, Mathalena Pohan, Mariam Darus Badrulzaman, Purwahid Patrik, Trtodiningrat, dan Pothier menyebutkan kedua istilah ini adalah sama.105 Sedangkan Peter Mahmud Marzuki sependapat dengan Subekti. Peter Mahmud Marzuki menyebut untuk agreement yang berkaitan dengan bisnis harus disebut contract, sedangkan untuk yang tidak terkait dengan bisnis hanya disebutnya sebagai agreement saja.106

Y. Sogar Simamora juga memaknai kontrak merupakan aspek yang berada dalam lapangan bisnis. Kontrak merupakan bagian yang melekat dari transaksi bisnis baik dalam skala besar maupun skala kecil, baik domestik maupun internasional.

Fungsinya adalah sangat penting untuk menjamin seluruh harapan yang dibentuk dari janji-janji para pihak dalam memenuhi hak dan kewajiban para pihak dalam pelaksanaan kontrak.107

Perbedaan perjanjian dan kontrak juga dikaji secara kritis di dalam buku Muhammad Syaifuddin berjudul, “Hukum Kontrak”. Pelaku bisnis banyak memahami kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda, padahal menurutnya secara dogmatik, KUH Perdata sebagai induk hukum yang menggunakan istilah overeenkomst adalah juga istilah contract, karena titel Buku III berjudul

“Perikatan-Perikatan yang Lahir Dari Kontrak Atau Perjanjian” diterjemahkan ke

105Ibid., hal. 13-14.

106 Peter Mahmud Marzuki, “Batas-Batas Kebebasan Berkontrak”, Jurnal Yuridika, Vol. 18, No. 3, Tahun 2003, hal. 195-196.

107Y. Sogar Simamora, Hukum Kontrak, Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah di Indonesia, (Surabaya: Kantor Hukum Wins & Partners dan Laksbang Justitia Surabaya, 2013), hal. 23-25.

dalam Bahasa Belanda sebagai Van Verbintenissen Die Uit Contract of Overeenkomst Geboren Worden.108

Peter Mahmud Marzuki menyebut istilah kontrak lebih menunjukkan nuansa bisnis atau komersil dalam hubungan hukum yang dibentuk,109 sedangkan istilah perjanjian cakupannya lebih luas. Pembedaan kedua istilah ini bukan pada bentuknya tetapi terletak pada bidang aspek penggunaan dan ruang lingkupnya.110

Berdasarkan pendekatan istilah bahasa kedua istilah ini pada prinsipnya memiliki maksud yang sama. Dalam kebiasaan penggunaannya di Indonesia sering digunakan istilah perjanjian, demikian pula dalam tradisi di Eropa Barat termasuk Belanda, istilah contract (kontrak) sudah menjadi istilah sehari-hari untuk menyebutkan kesepakatan, baik untuk kesekapatan dalam kegiatan yang mendatangkan nilai ekonomis maupun tidak tetap digunakan istilah kontrak.111

Berdasarkan ketentuan di Pasal 1313 KUH Perdata dapat dipamahi bahwa pengertian perjanjian adalah “suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Istilah perjanjian ini sebenarnya sama dengan istilah kontrak di Eropa Barat, tetapi di Indonesia sering menggunakan istilah kontrak hanya untuk kegiatan dalam bisnis atau perdagangan, padahal tidak demikian menurut asal muasal istilah ini digunakan.

108 Muhammad Syaifuddin, hukum Kontrak, Memahami Kontral Dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik, dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan), (Bandung: Mandar Maju, 2012), hal. 15.

109Peter Mahmud Marzuki, Op. cit., hal. 195.

110R. Subekti, Loc. Cit.

111Muhammad Syaifuddin, Ibid., hal. 17-25.

Pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata memiliki kelemahan, oleh sebab itu semestinya harus diperbaiki. Handri Raharjo berupaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Kelemahan itu terdapat pada beberapa hal yang harus diperbaiki sebagaimana tabel berikut ini.112

Tabel

Kelemahan Pengertian Perjanjian Dalam Pasal 1313 KUH Perdata

Kelemahan Seharusnya

Merupakan perbuatan yang bermakna terlalu luas.

Seharusnya dikhususkan hanya merupakan perbuatan hukum.

Mereka yang mengikatkan dirinya hanya satu pihak, kurang lengkap, sehingga bisa disebut perjanjian sepihak. Alasannya karena ketentuan tersebut menentukan suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Mereka tidak saling mengikatkan dirinya, melainkan dimulai dari perbuatan satu orang atau lebih.

Seharusnya saling mengikatkan diri atau syarat minimal pihaknya harus dua orang saja. Perbuatan saling mengikatkan diri tersebut harus dimulai dari keinginan mereka kedua belah pihak.

Tujuannya tidak jelas. Seharusnya dijelaskan untuk apa tujuannya.

Berdasarkan tabel tersebut kelemahan Pasal 1313 KUH Perdata berkaitan dengan subjek perjanjian hanya menyangkut perjanjian sepihak saja, kata perbuatan

112Handri Raharjo, Op. cit., hal. 41.

mencakup juga perbuatan tanpa kesepakatan termasuk mengurus kepentingan orang lain dan perbuatan melawan hukum, pengertiannya terlalu luas (bisa termasuk perjanjian kawin), tanpa menyebutkan tujuannya.113

Kata perbuatan dalam Pasal 1313 KUH Perdata terlalu luas dapat berupa perbuatan hukum dan perbuatan yang bukan aspek hukum, juga bisa termasuk perbuatan melawan hukum. Dari kalimat “mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih” dapat diartikan hanya cocok untuk perbuatan sepihak.114 Handri Raharjo mencoba memberikan penyempurnaan, seharusnya pengertian perjanjian di dalam Pasal 1313 KUH Perdata sebagai berikut:115

Suatu hubungan hukum di bidang harta kekayaan yang didasari kata sepakat antara subjek hukum yang satu dengan yang lain, dan di antara mereka (para pihak/subjek hukum) saling mengikatkan dirinya sehingga subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga dengan subjek hukum yang lain berkewajiban melaksanakan prestasinya sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati para pihak tersebut serta menimbulkan akibat hukum.

Redaksi yang dicetak miring tersebut di atas harus ada dalam pengertian perjanjian di Pasal 1313 KUH Perdata. Harus diharmonisasikan dengan makna tersebut agar tidak membingungkan, mengenai syarat minimal jumlah para pihak, apakah perjanjian atau perikatan, bidang perjanjian yang dimaksud, tujuannya, kekuatan mengikatnya, kewajiban melaksanakan prestasi, dan akibat hukumnya.

Unsur-unsur penting yang harus ada di dalam suatu perjanjian harus dipenuhi yaitu: harus ada subjek para pihak sedikitnya dua pihak, harus ada persetujuan dari

113 Taryana Soenandar, Prinsip-Prinsip Unidroit, Sebagai Sumber Hukum Kontrak dan Penyelesaian Sengketa Bisnis Internasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal. 105.

114Ibid., hal. 104.

115Handri Raharjo, Op. cit., hal. 42.

para pihak yang bersifat tetap, harus ada tujuan yang akan dicapai yaitu untuk memenuhi kebutuhan para pihak, harus ada prestasi yang akan dilaksanakan, harus ada bentuk tertentu baik lisan maupun tulisan, dan harus ada syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian.116

Unsur para pihak inilah yang disebut sebagai subjek perjanjian yang terikat di dalam perjanjian tersebut. Subjek perjanjian dapat berupa orang atau badan hukum.

Syarat agar bisa menjadi subjek perjanjian adalah harus mampu atau berwenang melakukan perbuatan hukum, yang dalam KUH Perdata dibagi tiga golongan yaitu para pihak yang mengadakan perjanjian, para ahli waris dari para pihak, dan pihak ketiga.117

Subjek perjanjian adalah orang-orang sebagai anggota masyarakat, bisa pula suatu badan hukum, atau suatu korporasi. Umumnya subjek perjanjian di dalam KUH Perdata hanya mengenal orang perseorangan dan badan hukum.118 Subjek hukum korporasi mulai dikenal hanya pada beberapa bidang hukum misalnya dalam hukum lingkungan hidup, dalam hukum perusahaan, dan lain-lain.119

Subjek perjanjian merupakan pelaku yang bertindak dan sangat dipentingkan.

Objek perjanjian juga merupakan suatu hal yang dipentingkan mengenai suatu hal yang diperlakukan oleh subjek perjanjian. Objek perjanjian harus terang dan jelas sebagai hal yang diwajibkan kepada para pihak dalam memenuhi prestasi

masing-116Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 222.

117Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 222.

118R. Wijono Prodjodikoro, Op. cit., hal. 7.

119M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 4-5.

masing.120 Itulah sebabnya objek perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata harus disebutkan dalam makna yang bersifat general yaitu suatu hubungan hukum di bidang harta kekayaan.

Sifat perjanjian yaitu persetujuan (kesepakatan) di antara para pihak merupakan salah satu unsur penting yang harus ada di dalam suatu perjanjian untuk melakukan tujuan perjanjian tersebut. Tujuan untuk mengadakan perjanjian terutama untuk memenuhi kebutuhan para pihak. Sifat dari tujuan perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan tidak dilarang dalam perundang-undangan yang berlaku.121

Hakikat perjanjian sesungguhnya menghendaki suatu prestasi. Prestasi merupakan kewajiban yang wajib dipenuhi oleh para pihak sesuai dengan kesepakatan yang telah diperjanjikan.122 Jika makna perjanjian sebagaimana yang ditemukan di dalam Pasal 1313 KUH Perdata sedemikian adanya, tidak menunjukkan hakikatnya untuk menimbulkan suatu prestasi. Tujuan menimbulkan suatu prestasi hanya pada umumnya berada pada penafsiran di dalam doktrin para ahli hukum, sementara makna yuridisinya tidak terpenuhi.123

Pentingnya prestasi sebagai hakikat dari perjanjian bertujuan adalah sebagai penegasan agar para pihak dapat memahami lingkup objek perjanjian yang mereka

120R. Wirjono Prodjodikoro, Op. cit., hal. 223.

121Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 223.

122Ibid.

123Gunawan Widjaja, Op. cit., hal. 248-249.

sepakati, hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan dapat menunjukkan sebagai sarana pencegah untuk meminimalisir terjadinya perbuatan wanprestasi.

Bentuk perjanjian mesti pula harus ditentukan, karena ada ketentuan undang-undang yang kadang-kadang menentukan hanya dengan bentuk tertentu suatu perjanjian memiliki kekuatan mengikat dan kekuatan sebagai bukti. Perjanjian dalam bentuk tertentu dapat berupa sebuah akta. Bentuknya dapat dibuat secara lisan kecuali jika para pihak menghendaki harus dalam bentuk tertulis.124

Prestasi dalam suatu perjanjian dapat dikatakan telah terlaksana bila mereka para pihak telah melaksanakan masing-masing hak dan kewajibannya sesuai kesepakatan. Meskipun suatu prestasi telah terlaksana namun bila masa waktu atau batas waktu tertentu yang telah mereka sepakati belum berakhir, belum bisa dikatakan mereka telah berprestasi karena prestasi juga harus dilihat dari masa berakhirnya perjanjian.

Sebaliknya jika masa waktu atau batas waktu tertentu yang telah mereka sepakati di dalam perjanjian sudah berakhir, namun progres pelaksanaan dari isi perjanjian tidak terlaksana sesuai kesepakatan atau terlaksana tapi terlambat, maka kondisi demikian ini juga belum bisa dikatakan bahwa mereka telah melaksanakan prestasi. Mereka para pihak yang tidak melaksanakan prestasi, atau melaksanakan prestasi tetapi terlambat, atau tidak sesuai isi perjanjian, disebut wanrestasi.

124Titik Triwulan Tutik, Op. cit., hal. 224.

B. Wanprestasi

Wanprestasi tidak bisa dilepaskan dari konsep hukum perjanjian karena wanprestasi membicarakan tentang perbuatan yang tidak melaksanakan prestasi dari perjanjian. Pihak yang tidak melaksanakan isi perjanjian disebut wanprestasi sebagai bentuk pengingkaran terhadap isi perjanjian. Berarti ruang lingkup wanprestasi adalah termasuk ke dalam lingkup hukum perdata, bukan hukum pidana.

Wanprestasi merupakan suatu istilah untuk menyatakan suatu perbuatan atau prestasi yang telah diperjanjikan tidak terlaksana sesuai kesepakatan. Mereka para pihak yang melakukan wanprestasi bisa dari pihak pertama (kreditur) maupun pihak kedua (debitur), atau pihak pemberi pinjaman atau pihak penerima pinjaman, dan lain-lain. Jika misalnya dicontohkan yang melakukan wanprestasi adalah dari pihak debitur, maka wanprestasi tersebut dapat berwujud dalam bentuk yaitu:125

1. Debitur sama sekali tidak melaksanakan kewajibannya.

2. Debitur tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya atau melaksanakan kewajibannya tetapi tidak sebagaimana mestinya.

3. Debitur tidak melaksanakan kewajibannya tepat pada waktunya.

4. Debitur melaksanakan sesuatu yang tidak diperbolehkan.

Wanprestasi tersebut dapat terjadi karena debitur sengaja tidak melaksanakannya, maupun karena kelalaian debitur untuk tidak melaksanakannya.126 Wanprestasi debitur harus mengandung kesalahan, baik yang disengaja debitur maupun yang karena kelalaian debitur. Perjanjian yang dibuat oleh para pihak

125Gunawan Widjaja, Op. cit., hal. 356.

126Ibid., hal. 357.

mengikat kedua belah pihak sebagai undang-undang sehingga kesalahan melaksanakan perjanjian adalah karena sengaja atau karena lalai.

Bentuk-bentuk kesalahan dalam wanprestasi adalah tidak berprestasi sama sekali atau berprestasi tetapi tidak bermanfaat lagi atau tidak dapat diperbaiki, terlambat memenuhi prestasi, memenuhi prestasi secara tidak baik atau tidak sebagaimana mestinya, atau melakukan sesuatu namun menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.127

Bentuk-bentuk wanprestasi seperti tidak melaksanakan prestasi sama sekali, melaksanakan prestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya, melaksanakan prestasi tetapi tidak tepat pada waktunya, atau melaksanakan perbuatan yang dilarang di dalam perjanjian tidak bersifat akumulatif, tetapi bersifat alternatif, cukup dengan terpenuhinya salah satu unsur saja sudah dapat dikatakan wanprestasi.128

Wanprestasi dalam kamus hukum diartikan sebagai “keadaan di mana debitur tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, tidak memenuhi janji dalam suatu perikatan, kealpaan, kelalaian”.129

Debitur yang tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian dapat juga dilihat dari kesalahannya dikaitkan dengan keadaan memaksa.130Wanprestasi menunjukkan keadaan atau kondisi di mana debitur (si berutang) tidak melaksanakan prestasinya

127Handri Raharjo, Op. cit., hal. 80.

128Muhammad Syaifuddin, Op. cit., hal. 338.

129M. Marwan dan Jimmy P., Op. Cit., hal. 643.

130Handri Raharjo, Op. cit., hal. 81.

yang telah diwajibkan di dalam perjanjian/kontrak, yang dapat timbul karena kesalahan debitur itu sendiri dan karena adanya keadaan memaksa.131

Dipersyaratkan kepada debitur harus ada dua aspek penting dalam wanprestasi sekaligus harus dibuktikan oleh debitur yaitu pertama, disebabkan karena kesalahan, kedua disebabkan karena kondisi yang memaksa. Bila debitur dipersyaratkan pada aspek yang terakhir yaitu karena keadaan memaksa, secara hukum tidak dapat

Dipersyaratkan kepada debitur harus ada dua aspek penting dalam wanprestasi sekaligus harus dibuktikan oleh debitur yaitu pertama, disebabkan karena kesalahan, kedua disebabkan karena kondisi yang memaksa. Bila debitur dipersyaratkan pada aspek yang terakhir yaitu karena keadaan memaksa, secara hukum tidak dapat

Dalam dokumen TESIS. Oleh. ERNI ARIYANTI /M.Kn (Halaman 49-150)

Dokumen terkait