• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4) Analisis data model kesesuaian habitat orangutan

Pembuatan model dilakukan dengan menggunakan analisis komponen utama (PCA), yaitu dengan menggunakan struktur varian-kovarian (kombinasi data multivariat yang beragam) melalui kombinasi linear dari variable-variabel tertentu. Tujuannya adalah untuk mereduksi data dan melakukan interpretasi dari data yang diperoleh.

Berdasarkan hasil analisis PCA dari 7 komponen utama diperoleh 3 komponen utama dengan keragaman total disajikan pada Tabel 9. Komponen utama yang dapat digunakan dan mewakili yaitu komponen utama ketiga dengan nilai kumulatif keragaman 76.1%. Nilai keragaman kumulatif tersebut telah dianggap mewakili total keragaman data yang ada, karena keragaman kumulatifnya terletak diantara 70%-80% (Timm 2002).

Tabel 9 Keragaman total komponen utama

Komponen Akar ciri

Total Keragaman (%) Kumulatif Keragaman (%)

1 2.4354 34.8 34.8 2 1.5753 22.5 57.3 3 1.3144 18.8 76.1 4 0.7968 11.4 87.5 5 0.3937 5.6 93.1 6 0.3145 4.5 97.6 7 0.1698 2.4 100.0

Hasil analisis tersebut (nilai total dari akar ciri) kemudian digunakan untuk menentukan bobot masing-masing parameter. Keeratan hubungan antara ketujuh parameter kesesuaian habitat orangutan dengan komponen utama seperti disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Vektor ciri PCA habitat orangutan

Parameter Komponen Utama

1 2 3 Sungai Besar 0.385 0.231 0.545 Kampung 0.062 0.756 -0.041 Sungai Kecil 0.244 -0.293 -0.460 Jalan -0.408 0.428 -0.044 Kelerengan 0.427 0.198 -0.505 Ketinggian 0.522 0.188 -0.161 NDVI 0.409 -0.176 0.455

Bobot masing-masing variabel untuk mendapatkan model kesesuian habitat orangutan diperoleh dari nilai vektor ciri PCA masing-masing variabel yang mempunyai nilai positif tertinggi terhadap komponen utama yang dihasilkan. Hasil di atas menunjukan bahwa variabel sungai kecil, ketinggian dan elevasi mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen utama pertama. Variabel kampung dan jalan mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen kedua, dan terakhir variabel nilai sungai besar dan NDVI mempunyai hubungan positif yang tinggi terhadap komponen utama ketiga. Dengan demikian besarnya bobot masing-masing variabel sajikan dalam tabel dibawah ini.

Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat masing-masing variabel memiliki angka satuan yang masuk ke dalam kelompok komponen utama. Sungai besar dan NDVI masuk ke dalam kelompok komponen utama ketiga, kampung atau pemukiman masuk ke dalam kelompok komponen kedua dan sungai kecil, ketinggian dan elevasi masuk kedalam kelompok komponen pertama. Dengan demikian pemberian bobnotnya juga akan disesuaikan dengan kelompok komponennya.

Tabel 11 Koefisien tiap variabel kesesuaian habitat orangutan (P. p. pygmaeus)

No. Parameter Nilai Bobot

1 Sungai Besar (sb) 1.3144 2 Kampung (kmp) 1.5753 3 Sungai Kecil (sk) 2.4354 4 Jalan (jln) 1.5753 5 Kelerengan (slope) 2.4354 6 Ketinggian (elev) 2.4354 7 NDVI (ndvi) 1.3144

Besaran skor yang digunakan dalam pengolahan kesesuaian habitat diuraikan pada Tabel 12. Pada tabel tersebut parameter kampung, jalan dan sungai besar memiliki nilai yang sama, ketiga parameter ini berhubungan langsung dengan kondisi habitat dan aktivitas yang dilakukan masyarakat yang bersentuhan secara langsung dengan hutan. Sungai kecil, kelerengan dan ketinggian berhubungan dengan kondisi habitat yang biasa digunakan oleh orangutansedangkan NDVI berhubungan dengan kondisi tutupan lahan di lokasi penelitian.

Tabel 12 Skor yang digunakan dalam menentukan kesesuaian habitat bagi orangutan di lokasi penelitian

No. Parameter Kelas Skor

1 Kampung 0-1000 m 1 2 Jalan 1000-3000 m 2 3 Sungai Besar 3000-5000 m 3 5000-7000 m 4 >7000 m 5 4 Sungai Kecil 0-2000 m 5 2000-4000 m 4 4000-6000 m 3 6000-8000 m 2 > 8000 m 1 5 Kelerengan 0 - 8 % 5 8 - 15 % 4 15 - 25 % 3 25 - 40 % 2 > 40 % 1 6 Ketinggian 0-300 m dpl 5 300-400 m dpl 4 400-500 m dpl 3 500-750 m dpl 2 >750 m dpl 1 7 NDVI < 0 1 0 - 0.3 2 0.3 - 0.4 3 0.4 - 0.5 4 > 0.5 5 Keterangan:

Skor 1 = kelas untuk kondisi yang paling buruk bagi orangutan Skor 2 = buruk

Skor 3 = cukup baik Skor 4 = baik

Skor 5 = kelas untuk kondisi yang paling baik bagi otrangutan Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan Minitab 16 untuk masing-masing variabel, maka dapat disusun persamaan untuk model kesesuaian habitat orangutan di TNBK, koridor dan TNDS sebagai berikut:

Y = 1.5753kmp + 1.5753jln + 1.3144sb + 2.4354sk + 2.4354slope + 2.4354elev + 1.3144ndvi

Persamaan diatas menunjukkan bahwa jarak dari sungai kecil, ketinggian (elev) dan kelerengan (slope) mempunyai koefisien (bobot) yang paling tinggi dibandingkan variabel yang lain, kemudian disusul oleh variabel kampung dan jalan, dan bobot terkecil adalah variabel sungai besar dan tutupan vegetasi (ndvi). 5) Kesesuaian habitat bagi orangutan

Berdasarkan persamaan atau model kesesuaian yang telah didapatkan, dihitung nilai maksimum dan nilai minimum kesesuaian. Hasil penghitungan menunjukkan nilai maksimum sebesar 65.4280, sedangkan nilai minimum sebesar 24.5284. Kemudian dilakukan penghitungan selisih dari nilai maksimumdan minimum ini. Selanjutnya untuk mengetahui selang untuk tiga kelas berbeda selisih tadi dibagi 3, selang terkecil untuk kesesuaian terendah, dilanjutkan dengan kesesuaian sedang dan untuk selang terbesar digunakan untuk menentukan kesesuaian yang tinggi.

65.4280–24.5284

Selang = = 13.6332 3

Kesesuaian habitat orangutan di lokasi penelitian dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu kesesuaian rendah, sedang dan tinggi yang disajikan pada Tabel 13, sedangkan peta kesesuaian habitat orangutan disajikan pada Gambar 10. Besarnya tingkat kesesuaian yang tinggi adalah sebesar 53.72% dan jika dilihat pada peta kesesuaian habitat maka sebaran lokasi yang tinggi ini sebagian besar berada di TN Danau Sentarum, sebagian kecil di koridor dan sebagian lagi di TNBK. Sebagian besar daerah TNDS wilayahnya merupakan daerah dataran rendah berawa dan rawa gambut dan walaupun ada masyarakat yang menempati daerah TNDS, sebagian besar merupakan masyarakat Melayu yang bermata pencaharian sebagai nelayan, mereka sangat jarang melakukan perburuan terhadap satwa primata termasuk orangutan. Selain itu wilayah yang memiliki kesesuaian tinggi merupakan daerah yang memiliki tutupan lahan yang baik dan umumnya banyak dijumpai tanaman buah sebagai sumber pakan bagi orangutan. Marshallet al. menyebutkan bahwa orangutan lebih menyukai hutan rawa gambut dibandingkan dengan hutan kering atau karst, dan hutan rawa gambut secara

konsisten menyediakan sumber pakan bagi orangutan seperti buah-buahan dibanding hutan kering (Cannonet al.2007).

Di daerah koridor hampir seluruh pemukiman yang ada di lokasi ini merupakan masyarakat Dayak yang sejak dahulu memiliki kebudayaan berburu di hutan (Rijsen dan Meijaard 1999), selain berburu masyarakat di daerah koridor juga memiliki budaya bertani daur ulang (Husson et al. 2000) yang dilakukan dengan membuka lahan untuk ditanami padi. Aktivitas manusia di sekitar habitat orangutan sangat berpengaruh terhadap orangutan, kegiatan penebangan hutan, pembukaan lahan pertanian dan pembuatan jalan membuka akses untuk terjadinya perburuan orangutan, (Rijksen dan Meijaard 1999) dan ini memberi dampak negatif terhadap populasi orangutan secara langsung (Leighton et al. 1995, Marshallet al.2006)

Tabel 13. Nilai Indeks Kesesuaian Habitat luas habitat untuk orangutan di TNBK, Koridor dan TNDS

Selang Kategori Luas (ha) % Klasifikasi Kesesuaian

24.5284 - 38.1616 IKH1 7 023.40 3.34 Rendah

38.1616 - 51.7948 IKH2 218 814.87 42.94 Sedang

51.7948 - 65.428 IKH3 273 718.37 53.72 Tinggi

Jumlah 509 556.64 100.00

Di dalam TNDS sulit melakukan pertanian daur ulang karena lahannya sebagian terendam oleh air, untuk daerah TNBK dapat dilihat pada Gambar 10 bahwa habitat yang sesuai untuk orangutan adalah yang terletak di sekitar sungai kecil yang terletak di lembah yang ditunjukkan dengan warna hijau tua. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Delgado dan Schaik (2000), Rijksen dan Meijaard (1999) yang menyebutkan orangutan lebih menyukai hutan dataran rendah alluvial yang bersungai atau rawa yang dapat menyediakan air secara permanen dan tidak menyukai dataran rendah kering, daerah yang berair ini dapat mnyediakan sumber pakan secara stabil. Selain itu kelimpahan buah sebagai sumber pakan dianggap sebagai prediktor ekologi yang paling baik bagi keberadaan orangutan pada habitat yang belum terganggu. Sehingga produktivitas habitat dianggap sebagai kunci faktor ekologi keberadaan orangutan karena menyediakan sumber pakan berupa buah-buahan (van Schaik 1995, Rijksen dan Meijaard 1999).

Pada tingkat kesesuaian yang sedang sebesar 42.94% atau seluas 218 804.87 Ha ditunjukkan dengan warna hijau muda pada Gambar 10. Sebagian besar kawasan dengan tingkat keseuaian sedang terletak di TN Betung Kerihun, hal ini terjadi karena tidak ada pemukiman di dalam kawasan TNBK yang menjadi wilayah penelitian. Selain itu daerahnya memiliki topografi yang cukup curam, daerahnya terdiri dari banyak bukit yang tinggi dan lembah, memiliki kelerengan yang curam dan ketinggian yang bervariasi sampai sehingga jika dikombinasikan daerahnya menjadi kawasan yang memiliki kesesuaian sedang.

Persentase tingkat kesesuaian rendah adalah sebesar 3.34% atau seluas 7 023.40 ha, daerahnya dapat dilihat pada Gambar 10 yaitu yang berdekatan dengan daerah pemukiman di daerah koridor dan wilayah yang memiliki ketinggian daerah yang tinggi yaitu di atas 750 m dpl di kawasan TNBK. Di Pulau

Kalimantan orangutan lebih menyenangi habitat dengan ketinggian kurang dari 500 m dpl.

6) Validasi

Tahap validasi sangat penting dalam menilai pendugaan akurasi kesesuaian habitat. Hal ini didapat dengan menguji potensial distribusi suatu jenis pada suatu model kesesuaian habitat terhadap data rekaman di lapangan (Ottaviani et al. 2004). Validasi dilakukan untuk menguji model yang telah dibuat dengan menggunakan data yang telah disiapkan untuk validasi, dalam hal ini digunakan sebanyak 267 titik hasil pengamatan (30% dari data keseluruhan hasil pengamatan). Validasi dilakukan dengan menggunakan peta model kesesuaian habitat orangutan dan titik validasi selanjutnya kedua komponen ini dioverlay. Dari hasil overlay ini maka didapat data sebagai berikut:

Tabel 14 Hasil validasi model kesesuaian habitat orangutan di TNBK, koridor dan TNDS

Kelas Kesesuaian Jumlah titik Persentase

Rendah 17 6.37

Sedang 176 65.91

Tinggi 74 27.72

Jumlah 267 100.00

Dari Tabel 14 dapat dilihat nilai validasi dengan kelas kesesuaian rendah sebesar 6.37%, nilai ini jauh berbeda dibandingkan dengan kelas kesesuaian sedang sebesar 65.91% dan kesesuaian tinggi sebesar 27.72%. Jika dijumlahkan antara tingkat kesesuaian sedang dan tinggi maka jumlahnya adalah sekitar 93.63%, artinya model yang dibuat menunjukkan lokasi penelitian merupakan daerah yang sesuai sebagai habitat bagi orangutan.

3.2 Sebaran Spasial Berdasarkan Karakteristik perbedaan genetik MtDNA Dloop dan DNA Inti berupa gen SRY pada kromosom Y Orangutan Kalimantan

Dokumen terkait