• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

Dalam dokumen pembaruan sistem pendidikan salaf di pon (1) (Halaman 101-106)

Bab ini berisi analisis terhadap data yang berhasil peneliti kumpulkan pada bab IV diatas. Berhubung penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, maka data tersebut menjadi titik tolak awal dalam proses analisis data. Selanjutnya teori yang terhimpun pada sub bab Kajian Teori dimanfaatkan sebagai bahan penjelas sehingga melahirkan suatu kesimpulan/ teori.111

A.Analisis Pembaruan di Pondok Pesantren Lirboyo

Sejalan dengan perkembangan sekolah-sekolah yang mengiblat pada sistem pendidikan Eropa yang menjangkau sebagian bangsa Indonesia, pesantren pun mengalami perkembangan kuantitatif maupun kualitatif. Pondok pesantren yang sering diidentikkan dengan tradisionalis-eksklusif dalam batas-batas tertentu tak bersikap jumawa dan menutup diri dengan pembaruan. Ini dikarenakan sesadar- sadarnya pondok pesantren mengakui bahwa kesempurnaan hakiki hanyalah milik sang khaliq al-kamil. Maka sejatinya upaya pembaruan menuju kesempurnaan adalah bagian dari taqorrub (pendekatan) diri kepada-Nya.

Dalam lingkup yang lebih luas, ide-ide pembaruan dunia Islam timbul sebagai respon dari dekadensi dan stagnasi umat Islam di satu sisi, dibarengi dengan semakin meningkatnya taraf hidup dunia Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di sisi lain. Bentuk dekadensi dan stagnasi tersebut dalam konteks pondok pesantren diutarakan oleh Abdurrahman Wahid sebagai berikut:

tidak adanya perencanaan terperinci dan rasional atas jalannya pendidikan itu sendiri. Kalaupun ada, perencanaan itu hanyalah bersifat sangat terbatas, tidak meliputi hubungan antara berbagai sistem pendidikan yang akan dikembangkan jenjangnya masing- masing. ... dengan demikian, tidak ada mekanisme pendidikan yang dapat dikata berlangsung secara menetap, kecuali kesadaran tunggal bahwa pengajian dan pengajaran harus diberikan secara berjenjang. ... tidak adanya keharusan membuat kurikulum dalam susunan yang lebih mudah dicernakan dan dikuasai oleh anak didik. ... hampir- hampir tidak adanya pembedaan yang jelas antara hal-hal yang benar- benar diperlukan dan yang tidak diperlukan bagi suatu tingkat pendidikan. Akibat dari tidak adanya pembedaan seperti ini adalah tidak adanya sebuah filsafat pendidikan yang jelas dan lengkap. ... usaha-usaha untuk menyempurnakan sistem pengajaran yang ada di pesantren harus diteruskan, terutama mengenai metode pengajaran dan penetapan materi pelajarannya.112

Jamak diketahui, bahwa sejak lama pondok pesantren terbukti secara massif telah melakukan proses perubahan dalam tubuhnya, baik karena mendapat pengaruh dari luar ataupun muncul inisiasi dari dalam pesantren itu sendiri. Dalam hal ini, yang patut dipertanyakan adalah apakah lembaga tradisional ini akan mampu bertahan terhadap perubahan dan arus modernisasi yang sedang berkembang dewasa ini. Jawabannya tentu tergantung pada daya tanggap ini terhadap tantangan-tantangan yang menimpanya.113

Menyikapi fenomena demikian, selayaknya pesantren tidak latah memberikan disposisi atas ‘proposal pembaruan’ yang ditawarkan, melainkan dengan arif dan cermat mengambil sikap dalam menentukan pilihan. Adakalanya

sikap ‘memilih untuk tidak memilih’ merupakan tindakan bijak. Sikap demikian

112 Abdurrahman Wahid, “Pendidikan Tradisional di Pesantren”, dalam Hairus Salim HS.

(Ed.), Menggerakkan Tradisi, (Yogyakarta: LKiS, 2007). hlm. 74-77.

113 Kafrawi, Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: PT. Cemara Indah,

sangatlah rasional, mengingat pondok pesantren merupakan ‘sub kultur’ tersendiri dengan coraknya yang khas.

Tarik-menarik antara kepentingan bersikukuh atas tradisi dan menerima pembaruan harus dicarikan jalan keluar yang ‘memuaskan’ kedua kepentingan tersebut. M. Ridlwan Nasir mengusulkan, agar pondok pesantren jeli dalam mengantisipasi perkembangan zaman, jangan sampai melalaikan khilqoh tradisi lamanya yang sebenarnya masih harus dipertahankan.114

Mengamati fenomena yang ada, bahwa pembaruan sistem atau kebijakan di MHM – termasuk juga di pondok Lirboyo pada lingkup yang lebih luas- akan dilakukan apabila tercium gelagat kurang beres, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar upaya pembaruan merupakan langkah kuratif (penanganan) daripada langkah preventif. Secara tidak langsung fenomena ini mengindikasikan bahwa secara makro upaya pembaruan di pondok Lirboyo, khususnya di MHM Lirboyo, terbilang kurang antisipatif terhadap potensi munculnya permasalahan.

Sistem pendidikan di pesantren Lirboyo dengan ‘warna’ salafnya telah

berjalan dan berkembang sedemikian rupa mewujud sebagai sebuah sistem pendidikan yang apik dan unik dalam rangka mencapai tujuan institusional yang

digariskan, yaitu ‘mencetak muslim intelektual yang beriman, bertaqwa dan

berakhlakul karimah, serta menciptakan kader-kader ulama yang mampu

mentransformasikan ilmu agama dalam berbagai kondisi’.

Komponen-komponen dalam sistem pendidikan di pesantren Lirboyo saling taut dan padan serta saling menunjang satu dengan lainnya. Dilihat dari

kompleksitas komponen-komponen yang ada di pesantren Lirboyo, sangatlah layak apabila pesantren disebut dengan sub-kultur tersendiri.

B.Analisis Pembaruan Kurikulum di MTs. HM

1. Prinsip Pembaruan Kurikulum di MHM Tingkatan Tsanawiyah

Dalam melakukan pembaruan kurikulumnya, pimpinan MHM Lirboyo terlihat sangat cermat dan berhati-hati mengambil langkah. Bukan berarti bahwa kurikulum di MHM Lirboyo sudah berketetapan final dan mengikat, namun selayaknya setiap kebijakan pembaruan -terlebih terkait kurikulum- harus dipertimbangkan matang-matang. Terlebih lagi, terdapat kepercayaan – yang didukung dengan kepatuhan- bahwa ‘ijtihad kurikulum’ yang dilakukan para sesepuh (kiai senior terdahulu) tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan dari hasil kontemplasi tingkat tinggi disertai dengan riyadloh yang berat.115 Dari sini dapat dipahami kenapa kurikulum di MHM Lirboyo tidak mengalami perubahan signifikan setiap tahunnya.

Betapa pun keberadaan kurikulum lama sebagai hasil ijtihad sesepuh selalu membayangi, pembaruan kurikulum tak dapat dielakkan manakala pimpinan MHM memandang terdapat kurikulum alternatif yang lebih ashlah (maslahat). Hal ini membuktikan bahwa pembaruan kurikululm yang dilakukan di tubuh MHM menerapkan prinsip kehati-hatian dan pertimbangan secara matang.

Disamping itu, pimpinan MHM juga telah menerapkan beberapa prinsip- prinsip yang ditetapkan dalam pengembangan kurikulum. Adapun Prinsip-prisip

yang cukup signifikan diterapkan adalah prinsip relevasi, fleksibilitas dan kesinambungan (kontinuitas).

Pertama, prinsip relevansi (kesesuaian), baik relevansi ke luar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri. Relevansi ke dalam berarti bahwa terdapat kesesuaian pembaruan kurikulum yang telah diterapkan dengan komponen lain dalam sistem pendidikan, yaitu tujuan, metode/ strategi pembelajaran, maupun sisi evaluasi.

a. Relevansi Pembaruan Kurikulum dengan Tujuan Pendidikan

Dalam konteks relevansi kurikulum dengan tujuan pendidikan bisa dilihat dari tujuan awal pendirian pondok pesantren Lirboyo yang dilatarbelakangi oleh keadaan masyarakat desa Lirboyo pada waktu itu yang bermoral rendah, bahkan bersifat bromo corah.116 Berangkat dari kondisi ini, maka bisa disimpulkan

bahwa tujuan pertama dari pendirian pesantren ini adalah amar ma’ruf nahi

munkar.117 Tujuan pertama ini dalam perkembangannya terus disempurnakan sesuai dengan tuntutan keadaan. Ketika jumlah santri yang berdatangan terus meningkat, maka tujuan dari pesantren ini, menurut KH. Fuad Hasyim, adalah menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang mewariskan

ilmu ulama’ as-salaf as-sholih.118

Dengan diteguhkannya pesantren Lirboyo sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan Islam, maka didirikanlah Madrasah Hidayatul

Mubtadi’ien dengan visi misi yang senafas dengan tujuan pertama didirikannya

116 Moh. Aliyah Zen, ¾ Abad Pondok Pesantren Lirboyo, (Kediri: Siswa Kelas III Aliyah

MHM Lirboyo 1984-1985, 1985), hlm. 58.

117 Ali Anwar, Pembaruan Pendidikan di Pesantren Lirboyo, hlm. 98. 118 Narjohn Najich Afnany, Le Azm, hlm. xi

pondok pesantren Lirboyo, yaitu ‘menciptakan kader-kader ulama yang mampu mentransformasikan ilmu agama dalam berbagai kondisi’. Untuk memenuhi misi tersebut, maka tata kurikulum di MHM Lirboyo terus disempurnakan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Hal ini dilakukan dengan Hal ini membuktikan, bahwa terdapat relevansi pengembangan kurikulum dengan tujuan pendidikan.

Hal ini dapat diilustrasikan dalam gambar di bawah:

BAGAN 2

KORELASI PEMBARUAN KURIKULUM DAN TUJUAN MHM

b. Relevansi Pembaruan Kurikulum dengan Metode Pembelajaran

Relevansi kurikulum dengan metode pembelajaran bisa dilihat dari penyusunan kitab taqrirot119 sebagai kitab ajar untuk sebagian disiplin ilmu. Dari studi dokumentasi dapat dilihat bahwa penggunaan kitab taqrirot sebagai

119Kitab Taqrirot merupakan istilah kitab karya ulama’ abad pertengahan (antara abad 12-

15 M.) yang dijadikan rujukan, disertai dengan penjelasan, komentar atau contoh yang disarikan dari kitab-kitab karya ulama’ lain yang terkait. Kitab taqrirot ini disusun oleh tim ahli dari MHM.

MHM

Dalam dokumen pembaruan sistem pendidikan salaf di pon (1) (Halaman 101-106)

Dokumen terkait