• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data Penelitian

Setelah didapatkan hasil perhitungan validitas, reliabilitas, dan seleksi item, maka selanjutnya dilakukan uji asumsi dan uji hipotesis.

1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran atau distribusi skor mengikuti distribusi normal atau tidak. Apabila probabilitas skor lebih besar dari 0,05, maka dinyatakan distribusi skor kecenderungan perselingkuhan adalah normal. Sebaliknya bila probabilitas lebih kecil dari 0,05, maka dinyatakan tidak normal.

Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa probabilitas data sebesar 0,946. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi skor data penelitian ini normal.

b. Uji Homogenitas

Uji Homogenitas ini dilakukan untuk melihat apakah sampel-sampel dalam penelitian ini berasal dari populasi yang memiliki

varian yang sama (Azwar, 1999). Data dinyatakan homogen apabila p > 0,05, sebaliknya apabila p < 0,05 maka data dinyatakan tidak homogen.

Hasil uji homogenitas menunjukkan p = 0,400 sehingga dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh homogen.

2. Deskripsi Statistik hasil Penelitian

Untuk mengetahui tingkat kecenderungan perselingkuhan dari kelompok subyek penelitian dilakukan dengan cara melihat perbedaan antara mean teoritis dan mean empiris.

Dari hasil data penelitian diperoleh data sebagai berikut: Tabel IV. 1

Ringkasan Mean Empiris dan Teoritis Subyek Wanita Menikah yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja

Status Mean Teoritis Mean Empiris

Wanita bekerja 160 145,80

Wanita tidak bekerja 160 124, 26

Berdasarkan hasil dari mean empiris dan mean teoritis diperoleh hasil bahwa mean teoritis lebih besar daripada mean Empiris.

Kesimpulan dari hasil perbandingan antara mean empiris dan mean teoritis tersebut didukung juga oleh hasil kategorisasi. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan subyek kedalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut kontinum

berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2003). Berikut ini adalah tabel hasil kategorisasi kecenderungan perselingkuhan pada wanita bekerja dan yang tidak bekerja.

Tabel IV. 2

Kategori Kecenderungan Perselingkuhan pada Wanita Menikah Bekerja dan yang Tidak Bekerja.

Jumlah Subyek Rentang Nilai kategori

Wanita Bekerja Wanita tidak Bekerja X ≤ 112 Sangat rendah 12 17 112 < X ≤ 144 Rendah 14 24 144 < X ≤ 176 Sedang 19 8 176 < X ≤ 208 Tinggi 9 2 208 < X Sangat Tinggi 2 2 Jumlah 56 53

Dari tabel kategorisasi kecenderungan perselingkuhan pada wanita menikah yang bekerja dan tidak bekerja, terlihat bahwa tingkat kecenderungan perselingkuhan pada wanita menikah yang bekerja lebih tinggi daripada yang tidak bekerja. Kendati demikian, mayoritas subyek pada wanita menikah yang bekerja tergolong pada kategori sedang dan

rendah. Pada subyek wanita menikah tidak bekerja, mayoritas subyek masuk dalam kategori rendah dan sangat rendah.

Dari respon para subyek dapat dilihat bahwa bentuk-bentuk kecenderungan perselingkuhan yang tergolong pada kategori sangat rendah adalah keinginan untuk berbagi rasa, yaitu untuk menikmati pembicaraan yang hangat dengan lawan jenis, keinginan untuk memberi perhatian, bentuknya adalah ingin pergi makan malam, dan yang terakhir adalah keinginan untuk diberi perhatian seperti ingin mendapat dukungan dari orang lain.

Bentuk kecenderungan perselingkuhan pada kategori rendah adalah keinginan untuk berbagi rasa, keinginan untuk diberi perhatian, keinginan untuk memberi perhatian, dan keinginan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Bentuk –bentuk perilakunya adalah senang ketika diperhatikan orang lain, keinginan untuk mendapat dukungan, keinginan untuk memberikan perhatian dengan memberikan hadiah-hadiah kecil, keinginan untuk menikmati pembicaraan yang hangat dengan orang lain serta keinginan untuk berkenalan dengan lawa jenis yang menarik hatinya.

Bentuk kecenderungan perselingkuhan pada kategori sedang adalah keinginan untuk berbagi rasa, keinginan untuk memberi perhatian, keinginan untuk diberi perhatian, serta keinginan untuk berciuman dan bersentuhan. Bentuk perilakunya adalah ingin mendapat pujian dan bangga ketika disanjung, keinginan untuk berkenalan dan

berkencan dengan orang lain, keinginan untuk membantu secara materi, keinginan untuk berciuman dan mendapatkan belaian sayang.

Pada kategori tinggi bentuk-bentuk kecenderungan perselingkuhan pada aspek perilaku seksual adalah adanya keinginan untuk bercumbu, bersentuhan dan keinginan untuk bervariasi dalam hubungan seksual. Bentuk kecenderungan perselingkuhan pada aspek perilaku non seksual adalah keinginan untuk memberi perhatian dan diberi perrhatian, keinginan untuk berbagi rasa dan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Bentuk perilakunya adalah keinginan mendapatkan dukungan ketika sedih, ingin mendapat pujian dengan penampilannya serta bangga ketika dikatakan cantik, ingin pergi makan malam dan berkencan,serta memberikan hadiah-hadiah kecil.

Bentuk kecenderungan perselingkuhan pada kategori sangat tinggi adalah keinginan untuk bervariasi dalam melakukan hubungan seksual dan melakukan fantasi berhunbunganseksual dengan orang lain, keinginan untuk bercumbu, berciuman, dan bersentuhan seperti mendapatkan pelukan serta belaian sayang dari orang lain. Sedangkan bentuk perilaku non seksualnya adalah keinginan untuk memberi perhatian seperti keinginan untuk membantu secara materi, makan malam, saling memberi dukungan melalui telephon. Keinginan untuk diberi perhatian seperti bangga ketika dikatakan cantik dan menarik, senang mendapatkan dukungan dari orang lain. keinginan untuk menjalin hubungan interpersonal yaitu ingin berkencan dengan orang

lain dan menjalin hubungan yang khusus serta keinginan untuk saling berbagi rasa.

3. Uji Hipotesis

Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, maka dilakukan Uji Hipotesis dengan menggunakan Independent Sample T-Test.

Tabel IV.4

Hasil Analisa Data Uji t

F Sig t df Sig Mean Difference Std. Error Difference F* ,715 ,400 3,183 107 ,002 21,539 6,768 T test 3,185 106,893 ,002 21,539 6,763

Berdasarkan hasil uji perbedaan diperoleh harga t sebesar 3.183 dengan (p < 0,01), yang menunjukkan bahwa terdapat perbedan kecenderungan perselingkuhan yang sangat signifikan antara wanita menikah yang bekerja dan tidak bekerja. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi “ Kecenderungan berselingkuh pada wanita menikah yang bekerja di Yogyakarta lebih tinggi daripada wanita menikah yang tidak bekerja di Yogyakarta” diterima.

D. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil uji hipotesis yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecenderungan berselingkuh yang sangat signifikan antara wanita menikah yang bekerja dan yang tidak bekerja

dengan ( t = 3,183, p = 0,002). Dari perbedaan tersebut diperoleh hasil bahwa tingkat perselingkuhan pada wanita menikah yang bekerja lebih tinggi daripada wanita menikah yang tidak bekerja.

Perbedaan kecenderungan berselingkuh pada wanita menikah yang bekerja lebih tinggi daripada wanita yang tidak bekerja, hal tersebut tampak dari perbedaan mean antara wanita menikah yang bekerja dan yang tidak bekerja. Dari penelitian ini didapatkan bahwa mean wanita bekerja adalah 145,80 sedangkan mean wanita tidak bekerja adalah 124,26. Berdasarkan hasil kategorisasi diperolah data bahwa mayoritas kecenderungan berselingkuh subyek pada wanita menikah yang bekerja tergolong pada kategori sedang dan rendah. Pada subyek wanita menikah yang tidak bekerja, mayoritas subyek masuk dalam kategori rendah dan sangat rendah.

Dari hasil dari perbedaan mean pada wanita menikah yang bekerja dan yang tidak bekerja tersebut benar bahwa kecenderungan berselingkuh wanita menikah yang bekerja lebih tinggi daripada yang tidak bekerja, hasil tersebut mendukung pendapat yang diutarakan Satiadarma (2001) bahwa wanita menikah yang bekerja memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berselingkuh daripada wanita yang lebih banyak berada di rumah atau sebagai ibu rumah tangga. Sejalan dengan pendapat Rose (dalam Yulianto, 2000), yang mengutarakan bahwa perselingkuhan wanita terjadi karena pada masa kini seorang wanita juga aktif dalam dunia pekerjaan baik di bidang politik, sosial maupun budaya.

Kecenderungan berselingkuh yang lebih tinggi pada wanita bekerja dapat disebabkan karena seorang wanita menikah yang bekerja memiliki peluang dan kesempatan yang lebih besar, mereka memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Setiap harinya mereka bertemu dengan rekan kerja yang memiliki minat dan profesi yang sama (Rose, dalam Yulianto, 2000). Kondisi yang demikian memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para wanita untuk membina hubungan interpersonal yang lebih akrab dengan orang lain (Satiadarma, 2001).

Kecenderungan berselingkuh yang lebih tinggi pada wanita menikah yang bekerja juga dapat disebabkan karena pada masa kini wanita lebih mandiri. Kemandirian tersebut disebabkan karena wanita menikah yang bekerja memiliki penghasilan sendiri sehingga dari penghasilannya tersebut dapat mengurangi ketergantungan baik secara emosional maupun finansial dengan suaminya sehingga ketika timbul permasalahan dalam keluarga, mereka memiliki penghasilan sendiri untuk bertahan hidup (Moore, 2005).

Seorang wanita menikah yang bekerja memiliki beberapa persoalan yang dialami diantaranya yaitu yang berkaitan dengan komunikasi dan relasi dengan keluarga akibat peran ganda yang dialaminya. Seorang wanita yang bekerja memiliki peran ganda yaitu dalam lingkungan pekerjaannya dan di lingkungan keluarga, disamping itu seorang wanita menikah yang bekerja dituntut perannya untuk menjalankan tanggung jawab dengan baik di lingkungan pekerjaan maupun sebagai ibu rumah tangga. Kondisi yang

demikian mengakibatkan waktu bersama keluarga menjadi terbagi, sehingga kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga menjadi berkurang padahal kebersamaan antara suami dan anak-anak secara rileks, dan hangat merupakan kegiatan penting yang tidak bisa diabaikan untuk membina dan mempertahankan kedekatan keluarga (Rini, 2002). Hal ini tentu saja mempengaruhi hubungan antara suami isteri maupun dengan anak-anak, sebagaimana dikatakan Shaevitz (1999) wanita yang bekerja terkadang kurang peduli dan kekurangan waktu untuk berkumpul bersama keluarga sehingga tidak sempat untuk sekedar mengungkapkan perasaan dan masalah rumah tangga kepada suami. Kondisi yang demikian mengakibatkan seorang wanita merasa kurang dimengerti sehingga mencari dukungan dari orang lain sehingga hal tersebut menjadi suatu peluang untuk melakukan perselingkuhan (Chapman, dalam Normant 1998). Seorang psikolog dari Colombia juga menambahkan bahwa pasangan-pasangan yang terancam perceraian terjadi karena kurangnya kebersamaan dengan suami (Shaevitz, 1999).

Dari data yang diperoleh bahwa mean wanita bekerja 145,80 sedangkan mean wanita tidak bekerja 124,26 menunjukkan bahwa kecenderungan berselingkuh pada wanita menikah yang tidak bekerja lebih rendah daripada wanita menikah yang bekerja. Kecenderungan berselingkuh yang lebih rendah pada wanita menikah yang tidak bekerja dapat disebabkan karena seorang wanita yang tidak bekerja memiliki waktu untuk keluarga yang lebih banyak sehingga penanganan terhadap pekerjaan rumah tangga

bisa terselesaikan dengan baik. Intensitas pertemuan juga cukup karena waktu isteri hanya dicurahkan lebih banyak untuk urusan rumah tangga sehingga komunikasi dan keterbukaan pasangan suami isteri bisa dilakukan pada setiap saat. Kondisi yang demikian dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga sehingga tidak menciptakan konflik dalam rumah tangga yang dapat mengakibatkan timbulnya alasan suatu tindakan perselingkuhan.

Pemenuhan kebutuhan sehari-hari seorang wanita tidak bekerja dipenuhi oleh suaminya. Dengan demikian seorang wanita yang tidak bekerja menjadi tergantung secara finansial dan emosional pada pasangannya sehingga wanita tidak bekerja hanya bergelut dalam kehidupan rumah tangga dan tidak memiliki usaha untuk mengembangkan kehidupannya secara mandiri (Hastuti & Murniati, 2004; 1992). Hal tersebut mengakibatkan ketergantungan dengan suami baik seacara emosional dan finansial menjadi tinggi sehingga seorang wanita yang tidak bekerja akan lebih menghargai suaminya.

Peluang dan kesempatan wanita menikah yang tidak bekerja lebih sedikit daripada wanita yang bekerja. Sebagian besar waktu seorang wanita yang tidak bekerja dicurahkan untuk mengurusi pekerjaan rumah tangganya, berbeda dengan wanita yang bekerja yang setiap harinya bertemu dengan rekan-rekan seprofesinya. Dengan demikian sosialisasi wanita tidak bekerja lebih terbatas sehingga kemungkinan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan lawan jenis menjadi rendah.

Perbedaan kecenderungan perselingkuhan yang lebih tinggi pada wanita bekerja sejalan dengan penelitian yang dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penelitian Travis dan Sadd (Satiadarma, 2001) melakukan penelitian pada wanita bekerja yang berusia di bawah 40 tahun memperoleh data bahwa 27 % wanita bekerja dan bekerja paruh waktu telah berselingkuh, sedangkan 47 % wanita bekerja telah melakukan perselingkuhan. Dari hasil survei majalah Femina (Oktober, 1998) yang diberikan kepada sejumlah wanita di Jakarta, diperoleh hasil bahwa 55 % responden wanita pernah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Penelitian yang dilakukan di Bandung Jawa Barat juga mengemukakan hal yang senada bahwa 2 dari 5 wanita menikah yang bekerja telah melakukan perselingkuhan (Boyke, 2004). Berdasarkan penelitian kecenderungan perselingkungan ini secara diskriptif diketahui bahwa mean wanita menikah yang bekerja lebih tinggi daripada mean wanita menikah yang tidak bekerja, meskipun demikian mean empiris yang diperoleh masih dibawah mean teoritis, hal tersebut terjadi karena ada faktor-faktor lain yang mungkin terjadi sehingga kecenderungannya menjadi rendah.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait