• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME KERJA BIMBINGAN DAN KONSELING MA AL-

C. Analisis Data Penelitian

1. Analisis Tentang Manajemen Bimbingan dan Konseling di MA Al-Hikmah Kajen Margoyoso Pati.

Pendidikan mempunyai pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup.

Pendidikan merupakan proses yang esensi untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi bagi individu. Hal ini terlihat dari akhir tujuan pendidikan Nasional, sebagaimana yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II pasal 3 yang berbunyi:

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang yang berdemokrasi serta bertanggung jawab”.90

90

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Citra Umbara, Bandung, 2003, hlm. 7.

Fungsi dan tujuan pendidikan tersebut menunjukkan karakter pribadi peserta didik yang diharapkan dapat terbentuk melalui pendidikan. Apa yang diamanatkan oleh Undang-Undang di atas nyata bahwa karakter seseorang diharapkan terbentuk melalui pendidikan, sehingga diharapkan pendidikan baik formal maupun non formal mampu membagun karakter peserta didik yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana yang diharapkan oleh undang-undang.

Ditinjau dari visi, misi dan tujuan dari MA Al-Hikmah Kajen yaitu adalah terwujudnya Madrasah Aliyah yang mampu mencetak lulusan yang berakidah islamiah, berakhlakul karimah, berprestasi dan cakap di dalam lingkungan masyarakat. Maka jelaslah pendidikan yang diselenggarakan bertujuan membantu siswa agar dapat berprestasi secara optimal di segala bidang, seperti mampu melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, serta mampu mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Secara umum bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan sistematis dan terencana agar individu dapat mengembangkan dirinya secara maksimal sesuai dengan potensi yang dimiliki dan membantu menyelesaikan masalah melalui bimbingan dan konseling. Adapun program bimbingan dan konseling itu menyangkut dua faktor yaitu: faktor pelaksana atau orang yang akan memberikan bimbingan biasa disebut konselor dan faktor-faktor yang berkaitan dengan perlengkapan, metode, bentuk bimbingan dan layanan yang berkaitan dengan pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling.

Pendekatan keagamaan dalam setiap bimbingan lebih ditekankan, karena dengan cara yang seperti inilah peserta didik akan cepat memahami dan karena segala kegiatan pendidikan semua bermuara pada tujuan yaitu menjadikan peserta didik berilmu ilmiah, beramal amaliyah dan berakhlakul karimah. Lulusan MA Al-Hikmah diharapkan tidak kalah dengan lulusan SMK, oleh karena itu siswa tidak hanya dibekali ilmu yang bersifat kognitif saja tetapi juga diasah skill yang mereka miliki. Di

sekolah diajari menjahit untuk yang putri dan ada teknik listrik untuk yang putra selain itu yang lebih ditekankan adalah praktek imamuddin, kesemuanya bertujuan agar lulusan MA Al-Hikmah mampu berkompetisi dan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

Berdasarkan kenyataan tersebut seyogyanya program yang diselenggarakan akan lebih bersifat fleksibel namun tetap ideal, dan masih tetap berpegang kepada norma-norma yang ada, dalam pengembangan program ini perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Merumuskan tujuan layanan yang berorientasi kepada pengembangan tugas-tugas perkembangan peserta didik.

b. Mengintegrasikan program-program bimbingan dan konseling kepada program intrakurikuler, maupun pendidikan yang bergerak pada kegiatan lainnya.

c. Menata dan menjaga struktur organisasi dan mekanisme kerja yang baik sehingga program layanan bimbingan dan konseling tersebut dapat dilaksanakan dan berjalan secara efektif dan efisien.

d. Merumuskan bidang isi bimbingan atau topik-topik yang relevan dengan pengembangan tugas-tugas perkembangan peserta didik.91

Kegiatan manajemen ini merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan pengembagan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan kebijakan.

1) Perencanaan

Hasil penelitian tentang perencanaan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen menyimpulkan sebagai berikut. Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen dilakukan pada waktu liburan sebelum awal tahun pelajaran baru, yaitu satu minggu sebelum KBM dimulai serta merujuk pada pelaksanaan program bimbingan dan konseling pada tahun lalu.

91

Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, Rafika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 41.

Ada beberapa aspek kegiatan penting yang harus dilakukan dalam melakukan perencanaan bimbingan dan konseling yaitu:

a) Analisis kebutuhan dan permasalahan peserta didik.

b) Penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai. c) Analisis situasi dan kondisi di sekolah.

d) Penentuan jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan.

e) Penetapan metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan. f) Penetapan personil-personil yang akan melaksanakan kegiatan yang

telah ditetapkan.

g) Persiapan fasilitas dan biaya pelaksanaan kegiatan bimbingan yang direncanakan.

h) Perkiraan tentang hambatan yang akan ditemui dan usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut.

penyusunan program bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen melibatkan semua guru bimbingan dan konseling dan masukan dari kepala sekolah, guru mapel, wali kelas, sapras, dan kesiswaan. Peran dari masing-masing pihak adalah sebagai berikut: peran siswa dalam penyusunan program bimbingan dan konseling adalah mengisi angket dan memberikan masukan tentang kebutuhan dan permasalahan yang sedang dialami siswa. Kepala sekolah berperan memberikan masukan terhadap program bimbingan dan konseling terkait dengan permasalahan yang ada di sekolah, memberikan data untuk keperluan program bimbingan dan konseling, penyediaan fasilitas bimbingan dan konseling, dan mengesahkan program bimbingan dan konseling.

Guru mapel berperan sebagai sumber informasi dalam menyusun program bimbingan dan konseling terkait dengan masalah kesulitan belajar, sebagai sumber informasi tentang data siswa, seperti daftar nilai siswa dan laporan observasi. Peran wali kelas dalam menyusun program bimbingan dan konseling adalah sebagai narasumber terkait dengan kondisi umum kelas yang diasuhnya dan siswa-siswa yang perlu mendapat perhatian khusus.

Sapras berperan memberi masukan kaitannya dengan macam-macam kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan sarana dan prasarana antara lain menyediakan dan membantu menata ruang bimbingan dan konseling. Peran kesiswaan yaitu memberi masukan terhadap program bimbingan dan konseling kaitannya dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan siswa.

Konsep perencanaan bimbingan dan konseling menurut Nurihsan, ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan dalam perencanaan bimbingan dan konseling yaitu: (1) analisis kebutuhan dan permasalahan peserta didik, (2) penentuan tujuan program layanan yang hendak dicapai, (3) analisis situasi dan kondisi di sekolah, (4) penentuan jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan, (5) penetapan metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan, (6) penetapan personil-personil yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan, (7) persiapan fasilitas dan biaya pelaksanaan kegiatan-kegiatan bimbingan yang direncanakan, (8) perkiraan tentang hambatan-hambatan yang akan ditemui dan usaha-usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasi hambatan-hambatan.92

Dari paparan tersebut, menunjukkan bahwa langkah-langkah yang ditempuh oleh guru bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen dalam menyusun perencanaan program bimbingan dan konseling sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ahmad Juntika Nurihsan dan akur sudiarto, yaitu

(a) Penilaian kebutuhan siswa dapat dilakukan dengan berbagai instrumen seperti menggunakan angket dan daftar cek masalah, bisa dari pengamatan baik itu guru mapel, wali kelas, maupun guru bimbingan dan konseling itu sendiri. Berdasarkan data hasil ungkap masalah kemudian dianalisis kebutuhan apa saja yang diharapkan atau masalah apa yang dirasakan oleh siswa di sekolah serta berdasarkan hasil 92

Ahmad Juntika Nurihsan dan akur sudiarto, Manajemen Bimbingan dan Konseling di sekolah Dasar,Grasindo, Jakarta, 2009, hlm. 29-30.

analisis ini selanjutnya disusunlah perencanaan program bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen.

(b) Tujuan program bimbingan dan konseling secara umum ada dalam visi dan misi sekolah dan secara khusus tujuan progam bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen seperti yang dijabarkan dalam tujuan satuan layanan dan kegiatan pendukung.

(c) Analisis situasi dan kondisi sekolah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dengan menganalisis kemampuan sekolah. Program bimbingan dan konseling yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang paling banyak dengan kemampuan sekolah tersebut, yaitu kemampuan keuangan dan sarana prasarana yang ada.

(d) Guru bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen membuat rencana operasional program bimbingan dan konseling dengan mengidentifikasi dan merumuskan berbagai kegiatan yang harus dilakukan, mempertimbangkan waktu pelaksanaan kegiatan, serta mempertimbangkan metode yang akan digunakan. Rencana operasional kegiatan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen, dituangkan dalam bentuk program tahunan, program semesteran, program bulanan dan program mingguan.

(e) Dalam program bimbingan dan konseling telah ditetapkan metode yang akan digunakan dalam kegiatan seperti ceramah, diskusi dan tanya jawab.

(f) Persiapan personil-personil yang akan melakukan kegiatan telah ditetapkan. Kegiataan ini dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling saat rapat koordinasi awal tahun.

(g) Ada anggaran untuk kegiatan bimbingan dan konseling. Anggaran tersebut bergabung dengan pos-pos tertentu. Mekanisme perencanaan anggaran adalah sebagai berikut. Unit bimbingan dan konseling membuat dan mengajukan proposal/merumuskan anggaran untuk program yang dibuatnya kepada kepala sekolah. Kepala sekolah menyampaikan proposal tersebut pada tim perumus RAKS untuk maju

dan dibahas dalam rapat dewan. Rapat pleno dari pengurus dewan sekolah akan memutuskan hasil akhir dari anggaran yang diajukan oleh unit bimbingan dan konseling.

(h) Perkiraan tentang hambatan-hambatan yang akan ditemui dan usaha-usaha apa yang harus dilakukan dalam mengatasi hambatan-hambatan, hal ini belum dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling.

2) Pengorganisasian

Dalam hasil penelitian tentang pengorganisasian bimbingan dan konseling di MA AL-Hikmah Kajen, menyimpulkan tentang beberapa kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan pengorganisasian bimbingan dan konseling, meliputi: pengorganisasian sarana dan prasarana bimbingan dan konseling, struktur organisasi bimbingan dan konseling, kegiatan koordinasi personil bimbingan dan konseling.

a) Sarana dan prasarana bimbingan dan konseling (1) Sarana bimbingan dan konseling meliputi:

(a) Alat pengumpul data berupa tes dan non tes

Alat pegumpul data berupa tes yang ada di unit bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen meliputi: tes intelegensi, tes minat dan bakat, dan tes prestasi belajar. Sedangkan alat pengumpul data teknik non tes yang ada di unit bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen antara lain: biodata siswa, pedoman wawancara, pedoman observasi, catatan anekdot, angket, sosiometri, AUM, format satuan layanan, format surat panggilan, format surat referal, format pelaksanaan pelayanan, format evaluasi.

(b) Alat penyimpan data

Alat penyimpan data yang ada antara lain: kartu pribadi, buku pribadi, map, flash disk, dan file dalam komputer.

(c) Kelengkapan penunjang teknis

Perlengkapan teknis yang ada meliputi kartu konseling, buku pedoman/petunjuk, buku informasi (pribadi, sosial,

karier, pendidikan), serta buku-buku tentang bimbingan dan konseling.

(d) Perlengkapan administrasi

Perlengkapan administrasi bimbingan dan konseling yang ada di MA Al-Hikmah Kajen antara lain: blangko surat, agenda surat, dan alat-alat tulis.

(2) Prasarana bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen

(a) Ruang bimbingan dan konseling. Ada dua ruang bimbingan dan konseling yang terletak di gedung barat dan gedung timur MA Al-Hikmah. Ruang bimbingan dan konseling untuk siswa putra terletak di gedung timur tepatnya di sebelah ruang TU. Sedangkan ruang bimbingan dan konseling untuk siswi putri terletak di gedung barat, tepatnya terletak di pojok kanan ruang guru.

(b) Anggaran biaya

Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling disesuaikan dengan kondisi setempat, namun untuk keperluan ini perlu diprogramkan sebelum tahun pelajaran baru, agar pelayanan dapat berjalan lancar. Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain: sarana meliputi alat pengumpul data, alat penyimpan data, perlengkapan teknis, perlengkapan administrasi. Prasarana meliputi ruang bimbingan dan konseling dan anggaran biaya.93

Dari paparan di atas menunjukkan bahwa pengorganisasian sarana dan prasarana bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen sesuai dengan teori Dewa Ketut Sukardi. Untuk sarana bimbingan dan konseling sebagian besar sudah dimiliki. Hanya saja untuk ruang bimbingan dan konseling belum ideal, karena ruang

93

Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah,PT Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hlm. 63.

bimbingan dan konseling masih bergabung dengan ruang lain, jadi dalam penanganan siswa sedikit banyak hal ini akan mempengaruhi. b) Struktur organisasi bimbingan dan konseling di MA Al-hikmah

Hasil penelitian tentang struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen menyimpulkan sebagai berikut. Struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen melibatkan instansi/lembaga terkait, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, komite madrasah, staf tata usaha, guru bimbingan dan konseling, wali kelas, guru mapel, dan siswa.

Dari konsep tentang struktur organisasi bimbingan dan konseling menurut Zainal Aqib dapat disimpulkan jika organisasi bimbingan dan konseling meliputi segenap unsur instansi pemerintah, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, orang tua siswa, tata usaha, konselor, wali kelas, guru mapel, dan siswa.94

Dari paparan di atas dapat dilakukan pembahasan sebagai berikut: struktur organisasi pelayanan bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen sesuai dengan struktur organisasi bimbingan dan konseling menurut Zainal Aqib. Dalam struktur organisasi bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah dapat dilihat bahwa antara wali kelas, guru pembimbing, dan guru mapel ada garis koordinasi dan juga garis konsultasi, hal ini akan membantu dalam penangganan siswa, karena semua informasi dapat tersampaikan dengan baik. Dalam bimbingan dan konseling peran guru juga sangat penting seperti dalam ungkapan Gary S Belkin:

“Probably the single most important member of the counseling team, in addition to thecounselor, is the teacher”.95

Salah satu anggota penting dari sebuah tim konselor adalah guru, maka dalam struktur organisasi sudah seharusnya ada garis 94

Zainal Aqib, Ikhtisar Bimbingan & Konseling di Sekolah, YRAMA WIDYA, Bandung, 2012, hlm. 62.

95

Gary S Belkin, Introduction to Counseling, Wm. C. Brown Company Publishers, United Of America, 1984, hlm. 468.

koordinasi dan konsultasi yang menghubungkan antara guru pembimbing dan guru mapel agar tidak terjadi kesenjangan informasi. c) Kegiatan koordinasi personil bimbingan dan konseling

Dari hasil penelitian tentang kegiatan koordinasi personil bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen dapat disimpulkan sebagai berikut. Kegiatan koordinasi personil yang terlibat dalam pelayanan bimbingan dan konseling, dilaksanakan secara periodik dan insidental. Koordinasi secara periodik, antara lain: rapat koordinasi antara guru bimbingan dan konseling setiap satu bulan sekali, rapat koordinasi antara guru bimbingan dan konseling dengan kepala madrasah pada awal tahun pelajaran baru. Pelaksanaan koordinasi secara insidental, disesuaikan dengan kebutuhan. Seperti rapat koordinasi antar personil bimbingan dan konseling bila ada masalah-masalah yang perlu pemecahan bersama.

Dari konsep tentang koordinasi personil bimbingan dan konseling menurut Dewa Ketut Sukardi & Desak P. E. Nila Kusmawati disimpulkan sebagai berikut. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pengorganisasian kegiatan bimbingan dan konseling dapat mengkoordinasikan kegiatan bimbingan dan konseling yang baik di sekolah meliputi: semua personil sekolah dihimpun dalam satu wadah sehingga terwujud satu kesatuan cara bertindak dalam usaha membantu memberikan layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah; mekanisme kerja, pola kerja, atau prosedur kerja bimbingan dan konseling di sekolah harus tunggal sehingga tidak membinggungkan siswa, tugas, tanggung jawab dan wewenang masing-masing petugas yang terlibat dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah harus dirinci dengan jelas.

Dari paparan di atas dapat dilakukan pembahasan berikut ini. Kegiatan koordinasi antar personil bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen telah dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Koordinasi dilaksanakan baik secara periodik maupun insidental.

Koordinasi secara periodik antara lain: rapat koordinasi antara guru bimbingan dan konseling setiap satu bulan sekali, rapat koordinasi antara guru bimbingan dan konseling dengan kepala madrasah pada awal tahun pelajaran baru. Koordinasi secara insidental, disesuaikan dengan kebutuhan. Seperti rapat koordinasi antar personil bimbingan dan konseling bila ada masalah-masalah yang perlu pemecahan bersama.

3) Pelaksanaan

Hasil penelitian tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen menyimpulkan sebagai berikut. Kegiatan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen mulai dilaksanakan setiap awal tahun pelajaran baru. Dimana siswa baru dikenalkan dengan bimbingan dan konseling karena di sekolah mereka yang dulu masih ada yang belum mempunyai guru bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah tidak ada jam pelajaran tersendiri, namun kebijaksanaan sekolah dan karena kesadaran akan pentingnya bimbingan dan konseling di sekolah maka setiap ada jam kosong guru bimbingan dan konseling masuk kelas untuk memberikan materi.

Selain itu setiap harinya pada pukul 06.30 s/d 07.00 WIB guru bimbingan dan konseling dan dibantu oleh dua orang siswa berada di gerbang pintu masuk, untuk melakukan pemeriksaan tentang kerapihan, kelengkapan dan kebersihan. Setelah bel masuk sekolah guru bimbingan dan konseling akan berada di depan ruang guru untuk menjalankan fungsinya sebagai guru piket.

Dalam menangani siswa yang bermasalah prosedurnya adalah untuk siswa yang melakukan kesalahan 1 atau 2 kali akan ditegur di tempat tetapi kalau sudah 3 kali siswa yang bersangkutan akan dipanggil ke ruang guru bimbingan dan konseling untuk mendapat bimbingan dan membuat surat pernyataan. Untuk siswa yang mondok, biasanya guru bimbingan dan konseling akan melapor kepada pengasuh pondok terlebih dahulu

kemudian pihak pondok yang akan menyampaikan kepada orang tua jika dibutuhkan.

Di MA Al-Hikmah telah dilaksanakan semua jenis layanan bimbingan dan konseling serta semua kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang meliputi: layanan orientasi, layanan informasi, layanan penguasaan konten, layanan penyaluran dan penempatan, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, alih tangan kasus, kunjungan rumah, koferensi kasus, dan layanan konsultasi. Layanan bimbingan dan konseling bukanlah layanan yang menjenuhkan melainkan layanan yang mencoba fleksibel terhadap kebutuhan anak. Memang layanan itu tidak perlu diberikan secara monoton di dalam kelas, melainkan peserta didik dapat memanfaatkan layanan tersebut dimanapun berada.

Dari konsep tentang jenis layanan bimbingan dan konseling menurut Sofyan S. Willis yang terdiri dari: layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan penempatan dan penyaluran, layanan bimbingan belajar, layanan konseling perseorangan, dan layanan bimbingan kelompok.96 Konsep tentang kegiatan pendukung bimbingan dan konseling menurut Prayitno meliputi: aplikasi instrumen data, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.97 Dan dari konsep tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menurut Anas Salahudin menyimpulkan bahwa kegiatan pelayanan konseling dapat dilaksanakan di dalam atau di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah. Pelayanan konseling dilaksanakan dalam empat bidang layanan bimbingan dan konseling. Keempat bidang layanan tersebut diselenggarakan dalam sembilan jenis layanan konseling dan enam

96

Sofyan S. Willis,Konseling Individual Teori dan Praktek,Alfabeta, Bandung, 2010, hlm. 33.

97

Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1999, hlm. 205.

kegiatan pendukung. Satu kali penyelenggaraan salah satu layanan konseling ekuivalen dua jam pembelajaran.98

Dari paparan diatas dapat dilakukan pembahasan sebagai berikut. Guru bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen telah melaksanakan semua jenis layanan dan kegiatan pendukung yang dikemukakan dalam konsep. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di MA Al-Hikmah Kajen dimulai pada kegiatan masa orientasi sekolah tujuannya untuk mengenalkan kepada siswa baru mengenai bimbingan dan konseling. Guru bimbingan dan konseling setiap pagi akan standby digerbang sekolah dengan dibantu 2 orang siswa untuk memeriksa kerapihan, kebersihan dan ketertiban para siswa. Tidak ada jadwal masuk kelas bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling akan memasuki kelas untuk memberikan materi jika ada kekosongan kelas atau pada jam pulang sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dilakukan secara periodik dan insidental. Untuk cara menangani siswa guru bimbingan dan konseling MA Al-Hikmah Kajen diberi wewenang tersendiri oleh kepala sekolah tidak harus mengacu pada tata tertib sekolah. Selain itu guru bimbingan dan konseling difungsikan sebagai guru piket, hal ini dilakukan untuk mempermudah guru bimbingan dan konseling dalam mengawasi seluruh keadaan sekolah baik dari siswa, guru atau yang lainnya.

4) Pengarahan dan pengawasan

Hasil dari penelitian tentang pengarahan dan pengawasan bimbingan

Dokumen terkait