• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Data Per Subjek Penelitian

Sembilan orang Subjek dipilih untuk menjadi sampel dalam penelitian ini. Mereka adalah para pedagang yang tipikal orang Jawa, yaitu orang yang berasal dari suku Jawa, sejak lahir menetap dan besar di pulau Jawa, menikah dengan orang yang juga berasal dari suku Jawa dan tidak pernah tinggal di luar pulau Jawa, yang bekerja di “Pasar Kota Wonogiri” dan merupakan penduduk asli Wonogiri serta daerah kecamatan sekitarnya yang masih termasuk dalam Kabupaten Wonogiri, diantaranya: Baturetno, Bulukerto, Eromoko, Girimarto, Giripurwo, Giritirto, Giriwono, Jatisrono, Ngadirejo, Nguntoronadi, Selogiri, Sidoharjo, Slogohimo, Wonoboyo, dan Wuryorejo, atau pendatang yang berasal dari daerah lain namun telah menetap di Wonogiri sedikitnya selama 10 tahun atau lebih. Pedagang yang dijadikan subjek penelitian adalah pedagang buah, pedagang sayuran, pedagang makanan, pedagang tahu/tempe dan pedagang daging. Para pedagang tersebut dipilih karena dianggap mewakili karakteristik pedagang pasar tradisional.

Peneliti mendapatkan informasi tentang altruisme pada para pedagang di pasar tradisional di Wonogiri serta bentuk-bentuk altruisme yang ada pada para pedagang melalui para Subjek tersebut. Informasi yang didapatkan peneliti adalah sebagai berikut.

Subjek I

a. Data demografi Subjek

Nama : NM

Usia : 32 tahun

Jenis kelamin : Wanita

Tempat tinggal : Kajen, Wonogiri

Asal : Demak

Pekerjaan : Pedagang Buah

Lama bekerja : 10 tahun b. Deskripsi mengenai Subjek 1) Latar belakang Subjek

Subjek berasal dari Demak, pindah ke Wonogiri tahun 1995 atas ajakan saudara kandungnya untuk membantu berdagang buah di pasar Wonogiri. Pada awalnya Subjek tinggal bersama saudara-saudaranya di rumah kontrakan dan berjualan bersama mereka dalam satu kios buah yang sama karena belum punya modal untuk membuka kios buah sendiri. Sebelum pindah ke Wonogiri dan menjadi pedagang buah, Subjek bekerja sebagai buruh tani di desanya dimana dalam melakukan pekerjaan tersebut Subjek terbiasa bekerja bersama-sama orang lain. Sejak kecil Subjek tinggal di desa dan belum pernah tinggal di daerah lain di luar pulau Jawa, khususnya luar daerah Jawa Tengah.

Tempat tinggal Subjek tak jauh dari lokasi pasar. Meskipun demikian Subjek jarang sekali meninggalkan kios untuk singgah sejenak di rumah pada waktu-waktu istirahat. Kalau ada keperluan yang mendesak barulah Subjek meninggalkan kios dan menitipkannya pada adiknya. Ia memiliki seorang putri yang masih duduk di bangku SD. Subjek juga mengikuti beberapa kegiatan kemasyarakatan yang diadakan di kampungnya, antara lain kerja bakti dan PKK. Kehidupan Subjek paling banyak dijalani di pasar sehingga ia banyak berinteraksi dengan orang-orang di pasar. Ia mengenal dengan baik kebanyakan pedagang buah dan pedagang lain yang kiosnya berada dekat dengan kios buah miliknya.

3) Pekerjaan Subjek

Pada awalnya, Subjek berjualan buah bersama-sama dengan adiknya, namun kemudian setelah menikah Subjek mulai berjualan sendiri, tidak lagi bergabung bersama saudara-saudaranya, dan memiliki sebuah kios buah di “Pasar Kota Wonogiri”. Jenis dagangan buah yang dijual Subjek waktu itu belum beragam. Subjek hanya menjual satu jenis buah saja, yaitu buah semangka. Lambat laun usahanya kian maju. Subjek menambah jenis dagangannya sedikit demi sedikit dan kini kios Subjek sudah dipenuhi dengan buahan dari berbagai jenis. Stok buah-buahan di kios Subjek diperoleh dari “Pasar Besar” yang berada di kota Solo. Setiap subuh, kira-kira jam 4 pagi setiap harinya, Subjek pergi ke Solo untuk membeli buah-buahan yang diangkut dengan mobil sendiri. Sesekali Subjek pergi bersama ke Solo dengan saudara-saudaranya yang lain. Kemudian, kira-kira jam 6 pagi, Subjek mulai membuka kiosnya dan berjualan sampai pukul 5 sore.

4) Situasi lingkungan dan respon Subjek selama wawancara berlangsung

Ketika peneliti meminta kesediaannya untuk diwawancarai, Subjek berkata dirinya takut tidak bisa menjawab kalau ditanya. Pada awalnya Subjek menjawab pertanyaan hanya seperlunya dan berbicara hanya kalau ditanya. Setelah wawancara berlangsung beberapa lama kata-kata Subjek mulai lancar dan ia menjawab dengan panjang lebar sambil tersenyum. Ia menjawab pertanyaan dengan lancar dan mulai banyak bercerita tentang keluarga dan pembeli yang menjadi langganannya. Wawancara dilakukan di kios buah tempat Subjek berjualan. Kiosnya dipenuhi dengan berbagai macam buah-buahan yang tertata rapi sehingga ruang untuk duduk di dalam kios cukup sempit. Ketika wawancara berlangsung, Subjek sesekali menyapa orang yang lewat di depan kiosnya sambil menawarkan barang dagangannya meskipun orang lewat tersebut belum tentu berniat membeli buah. Kepada orang lewat yang dikenalnya ia menyapa mereka sambil mengajak mereka singgah di kiosnya, kalau ada yang singgah ia kemudian mengajaknya mengobrol sekalipun mereka tidak membeli dagangannya. Wawancara terkadang terhenti sejenak ketika ada pembeli. Suasana waktu itu ramai dan ada beberapa pembeli yang datang.

c. Hasil penelitian 1) Sikap empati

Subjek menolong orang lain karena ia melihat bahwa dengan memberikan pertolongan kepada orang lain akan membuat orang yang ditolong merasa senang. Subjek melihat dari sudut pandang orang yang ditolongnya dan berpendapat bahwa

mereka merasa senang ketika ditolong (Aa). Menurut Subjek, ketika orang lain melihat kita menolongnya, maka dia akan berpikir kita bermaksud baik kepadanya.

Subjek memiliki hubungan yang baik dengan kerabatnya maupun dengan pedagang lain. Latar belakangnya sebagai orang desa yang suka melakukan pekerjaan atau kegiatan secara bersama-sama membuatnya terbiasa bersosialisasi dengan orang lain. Subjek menganggap pedagang lain yang sudah dikenalnya seperti saudara sendiri dan mudah menjalin hubungan dengan pedagang lain dengan cara berkenalan dengan mereka. Subjek mengenal pedagang di sekitarnya dengan baik (Ab). Menurut keterangan Subjek, para pedagang di “Pasar Kota Wonogiri” memiliki hubungan sosial yang bagus, persatuan yang bagus, mengenal satu sama lain dengan baik (Ab). Mereka saling menyapa ketika sedang lewat didepan kios salah satu pedagang, menanyakan kabar atau sekedar mengobrol tentang persoalan sehari-hari. Apabila ada pedagang yang sakit atau sedang punya acara, maka kabarnya akan segera tersebar kepada pedagang lain, lantas para pedagang membesuk pedagang yang sakit atau menghadiri acara pedagang tersebut bersama-sama (Ab). Subjek juga turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Subjek menjaga hubungan baik dengan sesama pedagang. Selain itu, Subjek juga mengenal setiap pelanggannya dengan baik. Subjek mengobrol dengan mereka ketika mereka mampir di kiosnya (Ab).

Saat bekerja, tak jarang Subjek menjumpai hal-hal yang kurang menyenangkan, baik dengan pedagang maupun dengan pembeli. Subjek bersikap baik dan sabar ketika menghadapi pembeli yang kurang menyenangkan (Ac). Pernah suatu kali, uang pembeli tidak cukup untuk membeli barang. Subjek memberikan

kelonggaran kepada pembeli dengan mengizinkan pembeli membawa dulu barang yang dibeli, baru membayarnya kemudian (Ac). Persaingan pun terjadi diantara para pedagang di pasar, namun Subjek menghadapi persaingan tersebut secara sehat untuk menjaga hubungan baik dengan pedagang lain. Kebanyakan pedagang di pasar bersaing secara sehat karena mereka memiliki pengertian bahwa tiap pedagang punya pembelinya masing-masing dan ingin menjaga hubungan yang baik diantara pedagang, karena itu mereka tidak merasa terganggu apabila ada pembeli memilih untuk membeli di kios pedagang lain (Ac). Jarang sekali terjadi pertengkaran diantara pedagang akibat persaingan yang tidak sehat.

Perbuatan baik Subjek terhadap orang lain ditunjukkan dengan cara membesuk tetangga atau sesama pedagang yang sakit serta menolong orang yang terkena musibah. Terhadap sesama pedagang, Subjek menjaga hubungan baik diantara mereka dengan bergaul dan tidak merebut pelanggan pedagang lain. Terhadap pembeli, ia bersikap baik agar pembeli merasa senang. Subjek juga berkeinginan untuk menyejahterakan keluarganya (Ad). Cara Subjek untuk menyejahterakan keluarganya adalah dengan memberikan kesempatan bekerja kepada keponakan-keponakannya dengan membantunya berjualan di kios (Ae).

Dalam usaha membangun kepercayaan dengan orang lain untuk menjaga kerukunan dengan sesama, Subjek melakukannya dengan cara menunjukkan kepedulian kepada mereka. Selain itu, agar kerukunan diantara pedagang tetap terjaga, Subjek menghadapi menghadapi persaingan yang terjadi diantara mereka dengan sikap yang positif, yaitu dengan tidak merebut pelanggan pedagang lain dan bersaing secara sehat. Cara Subjek mendapatkan pelanggan dan mempertahankan

pembeli tetap berlangganan di kiosnya adalah dengan bersikap ramah dan sabar terhadap pembeli (Ae). Subjek cukup berhati-hati dalam menolong orang lain, agar jangan sampai tertipu. Subjek cukup dekat dengan pelanggannya sehingga terkadang ia menghutangi pelanggannya. Si pelanggan boleh membawa barang dagangannya terlebih dulu baru membayar kemudian. Apabila Subjek belum begitu mengenal si pembeli, maka Subjek akan memikirkan dulu, tidak langsung menghutangi (Ae).

2) Memiliki kesadaran melakukan tugas dan tanggung jawab untuk menolong

Menolong orang lain merupakan sebuah kewajiban baginya karena dengan menolong orang lain hubungan bisa menjadi dekat dan rukun (Ba).

Subjek menyadari bahwa menolong orang lain merupakan kewajiban, menolong orang lain merupakan ibadah, karena itu ia tidak mengharapkan imbalan dari orang yang ditolong (Bb). Imbalannya berupa pahala yang disediakan oleh Yang Maha Kuasa.

3) Keyakinan pada keadilan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang layak

mereka dapatkan

Subjek percaya kepada prinsip keadilan, bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan. Hal ini ditunjukkan lewat sikap percayanya bahwa orang yang baik akan mendapatkan pahala, sebaliknya, orang yang jahat patut ditegur dan dihukum agar kelak tidak mengulangi kesalahannya (Ca). Subjek adalah orang desa asli. Sejak kecil ayah-ibunya mengajarkan untuk berbagi dan rukun dengan orang lain. Prinsip menolong diperoleh dari ajaran Jawa dan ajaran agama. Ajaran Jawa yang berkaitan dengan altruisme yang diterimanya

antara lain: berbagi dengan orang lain, rukun dengan sesama, mengerjakan pekerjaan bersama-sama (gotong-royong), tolong-menolong dan berbuat baik kepada sesama (Ca).

Subjek percaya bahwa orang yang menolong akan mendapatkan pahala dari Yang Kuasa dan dengan menolong orang lain kita akan menerima sesuatu yang baik juga. Apabila kita mau menolong orang lain maka kita sendiri akan ditolong ketika membutuhkan pertolongan, sebaliknya jika kita tidak mau menolong maka kelak ketika kita membutuhkan pertolongan tidak akan ditolong (Cb).

4) Memiliki inisiatif untuk menolong yang berasal dari dalam diri sendiri yang

ditunjukkan melalui dorongan untuk berbuat jasa bagi orang lain

“Ya dari dalem, mbak. Dari hati,” adalah faktor yang mendorongnya menolong, baik pembeli maupun pedagang (Da). Subjek menolong orang lain karena hatinya tergerak melihat orang yang membutuhkan.

Bentuk altruisme Subjek terhadap pedagang lain: membesuk pedagang yang sakit, membantu menjagakan kios pedagang lain, membantu pedagang lain menata dagangan (Db). Bentuk altruisme Subjek terhadap pembeli: mengobrol dengan pembeli, menghutangi pembeli apabila uang pembeli kurang (Db). Bentuk altruisme Subjek terhadap sesama pada umumnya: memberi sumbangan, sedekah, memberi pinjaman uang (Db).

5) Memiliki perhatian yang lebih terhadap orang lain daripada dirinya sendiri Subjek adalah orang yang mudah bekerja sama dengan orang lain. Hal ini nampak lewat keikutsertaannya dalam membesuk orang sakit, menghadiri undangan,

melayat bersama-sama dengan pedagang lain. Subjek membantu menjagakan kios pedagang lain dan membantu pedagang lain menata kiosnya. Subjek juga ikut membantu untuk melaksanakan kepentingan kampung, seperti membangun masjid atau membantu tetangga yang sedang punya acara (Ea).

Subjek menolong siapapun, baik dikenal atau tidak dikenal tetap ditolong karena bentuk pertolongan yang diberikan bisa bermacam-macam asalkan ia mempunyai apa yang dibutuhkan oleh orang yang memerlukan pertolongan (Eb). Subjek memberikan pertolongan tergantung apa yang dibutuhkan orang lain, dengan melihat kemampuannya untuk memberikan pertolongan. Subjek mau mendahulukan kepentingan orang yang membutuhkan daripada kepentingannya sendiri. Ia memilih menitipkan kios atau bahkan menutupnya agar bisa menjenguk orang sakit bersama-sama dengan pedagang lain, ia memberikan kelonggaran kepada pembeli untuk membawa dulu barang yang dibeli dan membayarnya kemudian (Eb). Orang-orang yang pernah ditolong Subjek antara lain: sesama pedagang, pembeli, orang yang membutuhkan meskipun tidak dikenal, pengemis, sanak-saudara, warga di kampung tempat tinggal Subjek, serta teman di desa asalnya.

Subjek II

a. Data demografi Subjek

Nama : NY

Usia : 32 tahun

Jenis kelamin : Pria

Asal : Demak

Pekerjaan : Pedagang Buah

Lama bekerja : 13 tahun b. Deskripsi mengenai Subjek 1) Latar belakang Subjek

Subjek berasal dari Demak. Tahun 1990 bertandang ke Wonogiri, namun baru mulai tahun 1991 Subjek tinggal di Wonogiri dan sekarang sudah menjadi penduduk Wonogiri. Awalnya Subjek hanya mengunjungi teman yang tinggal di Wonogiri untuk mengisi waktu luang daripada menganggur di rumah. Sempat juga, sekitar tahun 1995-1996 Subjek mencoba mencari kehidupan yang lebih baik di kota-kota lain seperti Temanggung dan Mojokerto. Kondisi yang kurang nyaman itu membuat Subjek akhirnya memutuskan kembali lagi ke Wonogiri, saat itu sekitar tahun 1996.

2) Hubungan sosial Subjek

Pertama kali menetap di Wonogiri, Subjek tinggal di rumah kontrakan bersama tiga orang teman. Sebagai warga baru, kesan penduduk sekitar terhadap Subjek dan kawan-kawannya dinilai jelek. Subjek menilai bahwa penduduk sekitar memandang rendah laki-laki muda berambut gondrong yang sering berada di pasar. Penampilan tersebut menimbulkan kesan bahwa mereka suka mabuk-mabukan dan urakan (liar). Kesulitan menghadapi kesan negatif orang-orang sekitar, Subjek akhirnya pindah ke rumah yang benar-benar kosong. Langkah awal Subjek untuk menjalin keakraban dan dikenal oleh masyarakat sekitar adalah dengan tidak menutup diri dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di kampung. Kegiatan

kampung yang biasa diikuti diantaranya: olah raga, membesuk orang sakit bersama-sama, ronda, dan jimpitan (mengumpulkan beras atau uang dari rumah ke rumah). Lewat partisipasi mereka dalam setiap kegiatan yang ada pandangan masyarakat disekitarnya pun berubah. Mereka tidak lagi memandang rendah. Kebanyakan orang tua justru salut kepada Subjek dan kawan-kawannya karena masih muda, jauh dari orang tua, tapi sudah bisa mandiri.

3) Pekerjaan Subjek

Sejak awal, pekerjaan Subjek adalah berdagang buah. Subjek belum pernah memulai sebuah pekerjaan lain selain berdagang buah. Subjek menjadi seorang pedagang buah sejak tahun 1991. Awalnya ia hanya mencoba-coba saja, mencari pengalaman bersama teman dan saudara-saudaranya yang mengajaknya ke Wonogiri, namun pekerjaan tersebut justru ditekuninya hingga sekarang. Sebelumnya Subjek tidak pernah berpikir akan menjadi pedagang buah. Cita-citanya adalah menjadi insinyur pertanian. Ia merasa, sebagai orang desa, ia memiliki jiwa petani. Disamping itu, ia merasa ingin memperjuangkan nasib petani yang diombang-ambingkan kian-kemari oleh pihak-pihak tertentu yang sering mempermainkan harga pupuk dan obat-obatan. Cita-cita tersebut terhalang oleh biaya. Subjek tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi demi mencapai cita-citanya. Bagaimanapun, Subjek menikmati pekerjaannya sebagai seorang pedagang buah karena pekerjaan tersebut menjadi sumber penghidupannya sampai saat ini.

Wawancara dilakukan di sebuah warung makan setelah Subjek selesai makan siang. Suasana di warung itu agak ramai karena berbarengan dengan jam makan siang. Pembawaan subjek santai, menjawab pertanyaan perlahan-lahan, volume suaranya pelan. Subjek menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan baik. c. Hasil Penelitian

1) Sikap empati

Dalam hidup bermasyarakat, Subjek membangun hubungan sosial dengan melihat dari sudat pandang orang lain. Bertolak dari pengalaman yang kurang menyenangkan dengan penduduk di kampung tempat tinggalnya, dimana para penduduk memiliki kesan negatif terhadap Subjek dan kawan-kawannya ketika pertama kali tiba di Wonogiri, dalam bergaul dengan orang lain Subjek kemudian memiliki prinsip tidak mengganggu orang lain kalau kita sendiri tidak ingin diganggu, tidak ikut campur dalam hidup orang lain (Aa).

Kerukunan antar penduduk di Wonogiri terbilang baik, dekat, saling mengenal satu sama lain (Ab). Meski tidak lagi aktif mengikuti kegiatan kampung akibat kesibukan bekerja, Subjek tetap dekat, memiliki hubungan yang baik dengan warga kampung karena sudah saling mengenal antara satu sama lain dan masih menghadiri acara-acara yang diadakan di kampung walau tidak rutin (Ab). Kegiatan yang diikuti Subjek di kampung antara lain: jimpitan, ronda, olahraga, membesuk orang sakit. Subjek membuka dirinya terhadap masyarakat disekitarnya. Kebiasaan hidup dalam kesederhanaan bersama orang lain membangun rasa memiliki dan saling berbagi dalam diri Subjek. Hampir setiap malam rumahnya disinggahi oleh

anak-anak muda di kampungnya (Ab). Subjek juga dekat dengan para pedagang di pasar. Hubungan antar pedagang di pasar cukup dekat, seperti saudara. Menurut Subjek, para pedagang saling membantu ketika ada kesulitan. Subjek suka mengobrol dengan pembeli yang mampir di kiosnya, menceritakan masalah kehidupan masing-masing dan saling memberikan masukan (Ab).

Terkadang terjadi konflik-konflik kecil antara Subjek dengan pedagang lain namun Subjek lebih memilih mengalah dan tidak terlalu mempermasalahkannya karena ingin menjaga hubungan baik (Ac). Konflik dengan pembeli juga dialami Subjek, namun Subjek menghadapinya dengan sikap yang lunak, sabar serta memberi pengertian kepada pembeli ketika terjadi kesalahpahaman (Ac).

Subjek memiliki keinginan untuk berbuat baik kepada orang lain, yang ditunjukkannya dengan menjaga kerukunan, baik dengan warga kampung tempat tinggalnya maupun kerukunan dengan pedagang di pasar, membuka rumahnya bagi anak-anak muda di kampungnya untuk singgah dan mempersilahkan mereka untuk makan dan memakai peralatan di rumahnya, menanggapi pembeli yang mengajaknya mengobrol, memperkenalkan dunia kerja kepada teman dan tetangga di desa asalnya agar mereka dapat belajar tentang dunia kerja dan mandiri, mengajak bekerja tetangga yang menganggur (Ad). Dalam tujuannya membangun hubungan yang baik dengan warga kampungnya dan orang-orang disekitarnya, Subjek memilih mengalah ketika menghadapi konflik (Ae).

2) Memiliki kesadaran melakukan tugas dan tanggung jawab untuk menolong

Tolong-menolong adalah sesuatu yang penting bagi Subjek. “Penting sekali. Ya, kita hidup bermasyarakat, kok. ‘Kan kita tidak selamanya mandiri, suatu saat

membutuhkan orang lain. Bila kita cuma sendiri, maksudnya tidak membutuhkan pertolongan orang lain, ‘kan jadinya repot...” (Ba).

Subjek memberikan pertolongan diberikan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang ditolong: “Kalau saya menolong itu tanpa pamrih. Tidak mengharap apa-apa. Namanya hidup bermasyarakat. Mana yang merasa mampu dan merasa kurang punya kegiatan kita ajak saja. Biar sama-sama merasakan,” (Bb).

3) Keyakinan pada keadilan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang layak

mereka dapatkan

Subjek percaya pada prinsip menanam budi suatu saat akan menuai hasilnya, berkaitan dengan nilai ajaran Jawa yang pernah diajarkan kepadanya: “Ya sebagai… kita hidup di masyarakat kita menolong tetep wajib. Harus. Soale (soalnya) ada istilah siapa yang menabur dia akan menuai. Siapa menebar kebaikan, nanti kita juga akan menerima hasilnya,” (Ca). Subjek juga percaya bahwa setiap orang akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya (Ca). Beberapa ajaran Jawa yang didapatnya mendorongnya untuk bergotong-royong, menolong orang lain dan hidup dengan sikap yang baik ditengah masyarakat (Ca). Subjek berpendapat, apabila kita baik kepada orang lain maka suatu saat ketika kita membutuhkan pertolongan orang lain akan mau menolong kita (Cb).

4) Memiliki inisiatif untuk menolong yang berasal dari dalam diri sendiri yang

ditunjukkan melalui dorongan untuk berbuat jasa bagi orang lain

Dorongan untuk menolong orang lain muncul dalam diri Subjek ketika melihat orang lain yang membutuhkan pertolongan. “Ya ndak (tidak) ada unsur

apa-apa, ‘tu (itu). Ya kita tolong saja. Kita secara otomatis lihat orang yang butuh ya kita tolong. Itu datang dari hati kita,” (Da). Tindakan untuk menolong orang lain muncul karena inisiatifnya sendiri.

Bentuk altruisme Subjek terhadap pedagang lain: menghadiri undangan, membesuk pedagang yang sakit, melayat, mengikuti kegiatan yang ada di pasar, meminjamkan modal kepada sesama pedagang, membantu menjagakan kios pedagang lain, saling meminjamkan barang dagangan ketika ada pedagang yang kehabisan barang dagangan, yang istilah Jawa-nya adalah nempil, yaitu meninjam barang dagangan dari pedagang lain untuk dijual kepada pembeli yang nantinya barang yang dipijam tersebut akan dikembalikan bukan lagi dalam bentuk barang yang sama namun berupa uang (Db). Bentuk altruisme Subjek terhadap pembeli: menanggapi obrolan pembeli, memberi nasehat dan masukan kepada pembeli yang menceritakan masalahnya, membawakan belanjaan pembeli sampai ke depan, memberikan wadah belanjaan kepada pembeli secara cuma-Cuma . Bentuk altruisme Subjek terhadap sesama pada umumnya: memperkenalkan teman dan tetangga kepada dunia kerja, menjamu orang yang singgah dirumahnya (Db).

5) Memiliki perhatian yang lebih terhadap orang lain daripada dirinya sendiri

Subjek menjaga sistem kekeluargaan yang sudah terbangun sejak lama diantara pedagang. Sebuah kerja sama terjalin diantara para pedagang di pasar. Subjek termasuk orang yang mudah bekerja sama dengan pedagang lain. Hal ini nampak dalam tindakan Subjek untuk membantu meminjamkan modal berupa uang atau barang dagangan kepada pedagang lain, membantu menjagakan kios pedagang lain, Subjek ikut membesuk orang sakit, menghadiri undangan, melayat

Dokumen terkait