BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.5. Analisis Data
Setelah semua data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Proses analisis adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar. Sebelum analisis data diolah terlebih dahulu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi editing dan koding.
Editing dilakukan dengan memeriksa daftar pertanyaan-pertanyaan yang telah dikembangkan oleh responden, yang bertujuan untuk mengurangi kesalahan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah dilakukan. Sedangkan koding dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban-jawaban informan kedalam kategori-kategori. Berdasarkan jenis data kualitatif kata-kata dibangun dari hasil wawancara atau pengamatan terhadap data yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan dan dirangkum (Patilima, 2005:88).
Adapun kegiatan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan lapangan (Patilima, 2005:98). Dalam tahapan tersebut reduksi data merupakan bagian dari analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan dan mengorganisasikan data dengan sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan di verifikasi.
Penyajian data yang dimaksud adalah dengan menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan diseleksi atau konfigurasi yang sudah dipahami. Penarikan kesimpulan didasarkan pada konsep
dan alat yang diperoleh oleh peneliti dari lapangan. Data-data tersebut sebelumnya telah melalui proses verifikasi atau proses pembuktian kembali yang dimaksudkan untuk mencari pembenaran dan persetujuan sehingga validitas dapat tercapai.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1. Deskripsi Umum Tentang Bank X 4.1.1. Perkembangan Bank X
Bank X merupakan bagian dari program restrukturisasi perbankan oleh Pemerintah Indonesia yaitu dengan meleburkan Bank Ekspor Impor Indonesia, Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, dan Bank Pembangunan Indonesia pada Juli 1999 (Laporan Tahunan Bank X, 2018). Tahun 2003 Bank X melakukan Initial Public Offering (IPO). 2005 Menjadi tahun titik balik dengan mencanangkan Transformasi Tahap 1 sampai dengan 2010, untuk menjadi Bank yang unggul di tingkat regional (regional champion). Transformasi dilakukan dengan 4 (empat) strategi utama, yaitu implementasi budaya, pengendalian non-performance loan secara agresif, meningkatkan pertumbuhan bisnis yang melebihi rata-rata pertumbuhan pasar, serta pengembangan dan pengelolaan program aliansi antar-direktorat
Tahun 2006-2007, Bank X menjalankan Program Transformasi “Back on Track”. Tahun 2010 menjadi tahap terakhir dalam rangkaian transformasi
“Shaping the end game” yang sudah dijalankan sejak 2005, dimana Bank X menargetkan untuk menjadi bank regional terdepan melalui konsolidasi dari bisnis jasa keuangan dan lebih mengutamakan peluang strategi pertumbuhan non-organik. Melalui proses transformasi tersebut, Bank X secara konsisten berhasil meningkatkan kinerjanya yang tercermin dari peningkatan di berbagai indikator finansial. 2011 pada tahun ini Bank X melakukan right issue dengan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham dengan harga Rp5.000 per lembar saham. (Laporan Tahunan Bank X 2018).
Periode 2008 Bank X mengimplementasikan Tahap 2 Program Transformasi “Outperform the Market” yang berfokus pada ekspansi bisnis untuk menjamin pertumbuhan yang signifikan di berbagai segmen usaha dan mencapai level profit yang melampaui target rata-rata pasar. Pada tahun 2011 Bank X melakukan right issue dengan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham dengan harga Rp 5.000 per lembar saham. Tahun ini sekaligus menjadi tahap awal
pelaksanaan Transformasi Lanjutan tahun 2010-2014, dimana Bank X telah melakukan revitalisasi visi nya menjadi “Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”. 2012 Transformasi lanjutan di tahun 2012 dilakukan melalui Transformasi Bisnis, yang berfokus pada 3 (tiga) area utama, yaitu Wholesale Transaction, Retail Deposit and Payment serta Retail Financing.
2014 Bank X telah berhasil melaksanakan transformasi tahap kedua dan bersiap untuk melanjutkan Corporate Plan 2015-2020.
Tahun 2015 Tahun ini menjadi babak baru dalam Transformasi Tahap 3 untuk menjadi “The Best Bank in ASEAN 2020”. Transformasi Tahap 3 (tiga) ini akan membawa Bank X menjadi Regional Player yang siap berkompetisi di pasar ASEAN untuk memberikan layanan keuangan terbaik bagi seluruh nasabah dan masyarakat sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia sebagai institusi keuangan terbaik di ASEAN.
Tahun 2016 Tahun ini Bank X telah melakukan sejumlah aksi korporasi seperti penerbitan Obligasi Keberlanjutan, Efek Beragun Aset Dalam Bentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) dan nilai total aset yang menembus Rp1.000 triliun.
2017 Bank X mulai menerapkan Corporate Plan Restart yang telah dicanangkan pada September 2016. Sebagai hasil dari penerapan strategi tersebut, Laba bersih Bank X secara tahunan berhasil tumbuh signifikan sebesar 49,5%.
Akhirnya tahun 2018 Bank X menerapkan new culture di awal tahun 2018.
Penerapan dari budaya baru ini berhasil menjadikan Bank X berada di peringkat 11 dari 500 Perusahaan terbaik dunia dari sisi lingkungan kerja atau “The World Best Employers 2018” versi Majalah Forbes. Sebagai sumber pendanaan baru, tahun ini Bank X menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Bank X Tahap III Tahun 2018 sebanyak Rp3 triliun dan Medium Term Notes Subordinasi I Bank X Tahun 2018 sebanyak Rp 500 miliar (Laporan Tahunan Bank X 2018).
Tahun 2018 bertepatan dengan 20 (dua puluh) tahun usia Bank X. Dengan perjalanan yang relatif masih muda, Bank X telah mampu memantapkan kinerjanya di tengah berbagai tantangan yang dihadapi. Kinerja Bank X telah back on the track yang antara lain diwujudkan dengan kinerja penurunan Non Performing Loan (NPL) yang cukup signifikan, dari sebesar 4,0% di tahun 2016 menjadi kurang dari 2,9% di tahun 2018 serta pertumbuhan kredit di atas 10,0%
yang diikuti dengan pencapaian laba yang berkisar sebesar Rp25 triliun secara konsolidasi. Hal ini merupakan hasil dari perubahan strategi bisnis yang efektif, antara lain dengan kembali ke Existing Core Competence di segmen Corporate-Large Corporate dan mengakselerasi New Core Competence di segmen Retail Banking.
Kedepannya, dengan semangat Satu Hati Satu Mandiri yang kuat dan rencana strategi yang tepat, khususnya melalui transformasi Teknologi Informasi yang lebih fundamental disertai penguatan pengelolaan Human Capital yang fokus dalam menghadapi era digitalisasi dan generasi milenial, Bank X optimis akan dapat menangkap berbagai peluang sehingga mampu bertumbuh dengan sangat baik.
Tahun 2017 Bank X berada pada fase Transformasi tahap III yang berlangsung pada tahun 2015 sampai dengan 2020. Pada fase ini Bank X ingin memantapkan visinya menjadi “Indonesia’s best, ASEAN’s prominent” yang dibuktikan dengan upaya dalam mengatasi tantangan yang dihadapi di tahun sebelumnya. Bank X senantiasa berupaya untuk menciptakan kerja nyata dalam segala aspek usahanya. Berbagai langkah strategis, inovasi yang berkelanjutan serta peningkatan kualitas SDM juga terus dikembangkan sepanjang tahun 2016 yang didukung oleh implementasi prinsip tata kelola perusahaan yang baik, untuk memperkuat landasan usaha Bank X di masa yang akan datang.
Bank X sebagai sahabat negeri adalah sebuah bakti dari sebuah Bank terbesar di Indonesia, dengan produk dan jasa yang dimiliki, maka Bank X dapat memberikan inspirasi, bekerja dan tumbuh bersama serta mendukung seluruh lapisan masyarakat. Berpegang pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik, sepanjang tahun 2015 Bank X tidak hanya berhasil merealisasikan rencana bisnis serta mampu menciptakan kemajuan dan pertumbuhan bisnis, namun juga telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Laporan Tahunan Bank X 2018).
Dalam rangka membawa misi untuk mengambil peran aktif dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang Indonesia, Bank X selalu melakukan segala upaya untuk terus berkarya untuk Indonesia. Hal itu Bank X wujudkan dengan selalu menyalakan semangat menjadikan Bank X sebagai bank dengan
kinerja keuangan dan operasional terbaik serta memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan lingkungan.
4.1.2. Kode Etik Collection
Sistem perbankan Bank X memiliki kode etik yang harus dipegang teguh oleh pihak penagih/collection dan diketahui oleh pihak RRCC Maneger Bank X dan ditandatangani oleh pihak Collection diatas materai enam ribu rupiah yang memperlihatkan komitmen Bank X untuk menghindari segala bentuk penyelewengan kode etik collection sebagai berikut.
1) Melakukan aktivitas kunjungan di luar kantor, wajib membawa surat tugas yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dan menggunakan kartu identitas resmi yang dikeluarkan oleh PT Bank X (Persero) Tbk yang dilengkapi dengan foto diri;
2) Bersikap jujur dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diterima dan hasil pembayaran kewajiban debitur;
3) Berpenampilan rapi dan bersikap sopan pada waktu melakukan penagihan.
4) Melakukan kunjungan pada pukul 08.00 s.d. 20.00 waktu setempat. Di luar waktu tersebut, dapat dilakukan atas persetujuan debitur atau dengan sepengetahuan atasan.
5) Dilarang menerima segala bentuk pemberian dari pihak Debitur selain dari pembayaran kewajiban kredit Debitur;
6) Dilarang mengambil keputusan sepihak diluar tugas dan kewenangannya;
7) Dilarang memberikan data debitur kepada pihak lain (perorangan maupun istitusi) yang tidak berkepentingan
8 Dilarang melakukan kerjasama/hubungan dengan Debitur diluar hubungan pekerjaan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.
Bahwa saya sebagai Petugas Penagihan/collectormenyatakan telah membaca dan memahami Kode Etik ini. Jika saya melanggar Kode Etik ini, maka saya bersedia dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan PT Bank X (Persero) Tbk maupun ketentuan perundangan-undangan yang berlaku dan bersedia mengganti/menanggung semua kerugian yang timbul kepada PT Bank X (Persero) Tbk.
4.1.3. Sistem Kerja Devisi Collection
Sistem kerja devisi Collection/penagihan di Bank X Retail Credit Collection (RCC) adalah devisi yang menangani kredit bermasalah di Bank X.
Yang mana penaganan yang dilakukan adalah melalui tunggakan 1 bulan (30 hari) sampai kepada pelelangan asset debitur. Biasanya nasabah yang masih menunggak 1 bulan itu hanya dilakukan melalui desk call atau penagihan melalui telp kepada debitur,untuk 2 bulan sampai 3 bulan juga masih melalui telp dan kunjungan ke tempat debitur melalui pegawai yang mengelola debitur-debitur yang ada di cabang dan unit masing masing.
Untuk kredit bermasalah atau NPL, pegawai yang menagani kredit tersebut juga diberikan pekerjaan berdasarkan unit atau cabang kelolaan masing masing yang telah ditentukan berdasarkan pembagian kerja oleh atasan. Hasil dari pekerjaan sebagai collection ini yang menentukan hasil dari pekerjaannya.
Status kepegawaian collection di Retai Credit Collection. Untuk status kepegawaian di collection mandiri yaitu ada yang status sebagai pegawai mandiri dan ada sebagai pegawai pihak ke 3 atau melalui tenaga kontrakkan. Yang mana perubahan status ini dapat berubah apabila hasil dari pekerjaannya sebagai collection mendapatkan target, sehingga pihak manajemen dapat mengangkat pegawai tersebut berubah alih status menjadi pegawai tetap, bahkan sampai kejenjang atas, dan ini dilihat dari hasil kinerja.
Penetapan kualitas kredit hanya dapat didasarkan pada ketepatan pembayaran berikut :
1. Lancar (Kolektibilas 1): apabila tidak terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/bunga.
2. Dalam perhatian khusus (kolektibilitas 2): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/bunga sampai 90 hari.
3. Kurang lancar (kolektibilitas 3): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan /bunga sampai dengan 120 hari.
4. Diragukan (kolektibilitas 4): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga sampai dengan 180 hari.
5. Macet (kolektibilitas 5) apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga diatas 180 hari.
Kredit yang akan digolongkan bermasalah (Non Performing Loan/NPL), apabila telah masuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. Tujuan klasifikasi tersebut antara lain untuk menetapkan tingkat cadangan potensi kerugian akibat kredit bermasalah, dan inilah yang menyebabkan keadaan suatu bank yang di nilai apakah kondisi bank tersebut sehat atau tidak melalui besarnya kredit macet suatu perbankan.
4.1.4. Deskripsi Jabatan PT. Bank X
Deskripsi Jabatan adalah dimana bagaimana sebuah jabatan dideskripsikan yang mempunyai tugas, fungsi dan menjelaskan kegiatan-kegiatan dari sebuah jabatan tertentu. Berikut dibawah ini adalah struktur yang menggambarkan beberapa posisi yang ada di kantor pusat PT Bank X.
PT. Bank X meliputi layanan nasabah yang berupa pinjaman kredit yang berasal dari luar daerah atau berjarak sekitar 20 km maka nasabah tersebut akan diproses di cabang PT Bank X terdekat.
Di PT. Bank X terdapat beberapa posisi atau jabatan yang bertugas sesuai dengan fungsinya, diantaranya yaitu:
1. Kepala Cabang Bank X bertugas sebagai pimpinan cabang dan bertanggung jawab atas semua fungsi Bank X tersebut.
2. Customer Service Officer CSO terdapat tiga(3) posisi sebagai Customer Service bertugas melayani nasabah bila ada complain, mutasi buku,buka rekening,dan lain-lain.
3. Head Teller adalah bertugas sebagai pengawas teller-teller yang melayani nasabah dan bertanggung jawab terhadap penyetoran modal yang masuk.
4. Teller adalah yang bertugas melayani nasabah yang melakukan setoran rekening, transfer,dan lain-lain.
5. General Affair adalah bertugas melayani dan bertanggung jawab atas tamu-tamu penting yang akan datang,keamanan Bank selain itu juga dapat bertanggung jawab atas nasabah Bank X.
6. Mikro Credit adalah yang bertanggung jawab atas nasabah yang akan memohon bantuan kredit,dan mencari database yang menjadi calon nasabah yang akan melakukan perkreditan.
4.1.5.Aspek Kegiatan Perusahaan
Aspek kegiatan PT Bank X yang utama adalah perkreditan perkreditan makro (Rp 350.000.000,00 - Rp 10.000.000.000,00) dan perkreditan mikro dengan nilai pinjaman (Rp 1.000.000,00-Rp 350.000.000,00). Selain itu ada juga kegiatan lainnya untuk menambah para nasabah baru, peningkatan transaksi, kartu kredit dan pembayaran tagihan listrik, telefon, dan lain-lain. Kegiatan tersebut berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, pengembangan sumber daya professional, manfaat yang maksimal bagi stakeholder, manajemen terbuka, dan kepedulian pada masyarakat sekitar.
4.1.6. Fungsi Bank X:
Berikut adalah fungsi Bank X dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, yaitu:
1. Bank X menawarkan jasa-jasa bisnis terpadu dengan nilai, bekualitas, aman dan nyaman bagi nasabah, baik individu maupun korporasi.
2. Bank X senantiasa berpijak pada idealisme dan falsafah yang telah dianutnya selama ini.
3. Bank X sebagai Universal Banking yang menawarkan beragam produk dan layanan prima kepada para nasabahnya.
4.1.7. Tugas Bank X
Berikut adalah tugas-tugas Bank X dalam dunia perbankan di Indonesia, diantaranya:
1. Bank X mengembangkan sistem teknologi informasinya secara berkesinambungan dalam memenangkan persaingan dimasa depan.
2. Bank X berupaya meningkatkan pelayanan kepada nasabah dengan berbagai pilihan produk.
3. Bank X bertugas mengembangkan kualitas pegawainya dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para pegawainya.
4. Bank X berupaya mempromosikan budaya perusahaan yaitu profesionalisme, kerjasama, komitmen , dan inisiatif.
4.1.8. JumlahDebitur
Jumlah debitur untuk bulan Juni 2019 adalah 285 orang. Jumlah debitur ini diklasifikasikan menurut jatuh tempoh pembayarannya.Pertama status normal, artinya tidak pernah telat dalam membayar angsuran. Kedua status debitur dinyatakan non-performance loan (NPL)jika mengalamiketertalambatanpembayaranangsuranselamatigakali.Penagihandebitu r NPL dilakukan oleh firstcollection.Ketiga, status debitur dinyatakan write off (WO) apabila debitur tidak membayar 5 kali angsuran, penanganan penagihan ini diserahkan kepada first collection.
4.1.9. Jenis Produk Kredit Mikro
Sejalan dengan perkembangan bisnis mikro, maka terdapat beberapa penyesuaian terhadap manual produk kredit mikro nomor 005/KRD/MRB.MBD/2017 tanggal 28 Agustus 2017 sebagai berikut yang diatur dalam tabel 5.2. Pengintegrasian Memorandum prosedur ke Manual Produk Kredit Mikro.
Dalam hal pengikatan agunan diputuskan beberapa hal yang menjadi produk dari kredit Mikro.
1) Pengikatan Agunan
a) Agunan berupa tanah/tanah dan bangunan dengan bukti kepemilikan SHM/SHGB/SHGU/hak milik atas satuan rumah susun dengan limit dilakukan pengikatan dengan:
Limit > Rp 25 Juta s.d Rp 50 Juta, dilakukan pengikatan dengan agunan kuasa membebankan hak surat kuasa, membebankan hak tanggungan (SKMHT).
Limit > Rp 50 juta dilakukan pengikatan hak tangggungan (HT).
b) Kendaraan bermotor dilakukan pengikatan dengan fidusia notariil dan
didaftarkan untuk limit kredit > Rp 100 juta.
4.2. Karakteristik Informan
Berikut merupakankarakteristik informan dalam penelitian ini:
4.2.1. Karakteristik Debitur
Metode pendekatan dengan masyarakat memerlukan pola-pola dan berbagai cara untuk bisa diterima dalam komunitas yang berbeda. Apalagi bila tujuan pendekatan itu sudah menyangkut kewajiban masyarakat yang didekati, maka sering sekali terjadi resistensi. Kredit perbankan adalah “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.
Pemahaman istilah “kredit” sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh informan N. Batubara (manager bagian penagihan NPL) sebagai berikut.
Kredit mikro yang kita berikan kepada debitur adalah kepercayaan. Kita percaya bahwa debitur bisa bertanggungjawab terhadap kepercayaan yang kita berikan dalam bentuk uang. Atas kepercayaan itu, debitur terikat dengan kewajiban untuk membayar bunga sesuai yang sudah ditetapkan. Maka pola yang sering kita terapkan adalah pola pendekatan 5 nilai budaya (trust, integrity, profesionalism, customer focus, dan excellence). Itu sebabnya, kami tidak diperkenankan melakukan kekerasaan atau pemaksaan kepada debitur. Pelayanan harus berlandaskan kemanusiaan.
Keterangan dari informan di Bank X, awalnya tidak sependapat karena berbagai kasus kekerasan diberbagai lokasi yang dilakukan oleh collector terhadap debitur yang bermasalah, artinya tidak mampu mencicil kredit pada waktu yang sudah ditetapkan. Pendapat ini dibantah oleh meneger collector yang sudah lama bekerja di Bank X, ia melanjutkan pernyataannya sebagai berikut:
Dalam sistem pelayanan kita kepada debitur atau nasabah, tidak diperkenankan sesekali menggunakan kekerasan. Jika itu terjadi, maka pihak managemen bank, bisa melakukan pemecatan terhadap oknum atau pegawai yang melakukan kekerasan kepada debitur dan bahkan sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan sebelum mengadakan kontrak kerja dengan pihak managemen bank. Saya kira kejadian itu terjadi, sebagian besar dari bank swasta yang sering menggunakan jasa debt collector. Inilah bedanya dengan bank BUMN, kita tidak diperkenankan menggunakan pihak ketiga dalam urusan penagihan kepada debitur, sementara swasta tak jarang memakai jasa debt collector.
Menanggapi hal tersebut, peneliti melakukan wawancara dengan salah satu pegawai bank swasata di Kota Medan, bagian debt Collection yang sudah bekerja selama lima (5) tahun di Bank tersebut.
Selama ini bang, dapat kasus tertentu, kita menggunakan debt collector terhadap debitur yang bermasalah, pada awalnya kita tidak menggunakan itu, tetapi karena debitur tidak punya niat baik untuk membayar cicilan kreditnya, malah ia pernah menggunakan preman untuk mengusir kami. Ya, akhirnya kita mencari ormas setempat/OKP untuk meminta bantuan dengan perjanjian akan membayar jasanya, apabila debitur itu melunasi uang tersebut. Kalau kita tidak menggunakan debt collector maka sangat sulit dilunasin, kalau kita hanya menunggu dan menunggu, kita mendapatkan tekanan dari kantor.
Inilah cara bertahan hidup bang.
Beberapa langkah yang harus dipahami oleh pihak first collection, pertama adalah memahami karakteristik debitur. E.B. Tylor (1871), memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai berikut (terjemahanya):
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain
kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Berdasarkan pengertiankebudayaantersebut, terdapat hubunganantara karakteristik dengan kebudayaan. Misalnya karakter orang Jawa sangatlah berbeda dengan orang Batak. Ada debitur yang benar-benar bertanggungjawab, mempunyaiitikadbaikuntuk menyelesaikantagihan. Ada pula debitur yang memang tidak mau menyelesaikan kredit macetnya.
Kegagalan pembayaran tagihan
hutangdikarenakanpadaawalmelakukanpeminjamantidakada agunan. Karena tidak adanya agunan debitur menganggaptidaklah akan ada kerugian jika dilakukan penyitaan aset karena tidak diatur di awal perjanjian. Situasi demikian merugikan pihak bank karena di anggap tidak berhasilmengelolakeuangan.Bagi debiturberisikomendapatcatatankredit macet diBankIndonesia(BI)sehinggaakan kesulitanmendapatkanpinjaman dibeberapa bank.
Berikut wawancara dengansalah satu staffBankIndonesia dalammonitoring di Bank XAreaMedan:
“Kredit atau pembiayaan yang diberikan oleh bank, baik dengan system konfensional ataupun syari’ah, keduanya berakar pada suatu perjanjian yang merujuk pada ketentuan yang di atur dalam buku III KUH perdata. Berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yangmewajibkanpihakpeminjamuntukmelunasiuangnyasetelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Ketika debitur tidakmelakukanangsuransesuaikesepakatanawalmakadebitur
dinyatakan melakukan pengingkaran janji maka yang dilakukan pihak bank yang bekerja sama dengan bank Indonesia (BI) melakukan pemblokiran sehingga debitur tidak bisa melakukan peminjaman di banyakbank”.
Temuan ini dapat dipahami bahwa interaksi sosial dalam sistem perbankan tetap memperhatikan aspek sosial dengan berbagai pendekatan komunikasi yang
baik dengan pihak debitur. Pada dasarnya, tindakan kekerasan yang sering terjadi antara debitur dengan debt collector “pihak penagih”, karena menyalahi prosedur yang sudah ditetapkan oleh pihak bank dalam hal ini “oknum penagih”. Artinya, penagih harus mampu memahami karakteristik debitur tanpa menggunakan pihak ketiga.
Character debitur Bank X dalam memenuhi kewajiban mempunyai kaitan agama untuk berperilaku lebih baik. Weber dalam bukunya, The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism, berkesimpulan adanya keterkaitan antara agama dengan perilaku berekonomi. Perkembangan kapitalisme modern di Eropa Barat dan Amerika merupakan akibat dari etika protestan (Calvinisme) yang melahirkan nilai-nilai mendasar baru. Hal ini mendorong usaha-usaha untuk menggiatkan ekonomi. Salah satu nilai baru tersebut adalah sikap berperilaku rasional yang dapat dihubungkan dengan kepatuhan membayar hutang sehingga menghasilkan citra dirinya yang positif. Penilaian positif tersebut membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan bank untuk mendapatkan kredit lebih besar dalam mengembangkan usahanya (Siregar, 2013:77).
Berikut adalah jenis-jenis usaha yang dimiliki debitur Bank X yaitu:
Tabel 5.1
Daftar Jenis Usaha Debitur tahun 2019
No Jenis Usaha Jumlah
1 Kedai/grosir 105
2 Foto copi dan warnet 45
3 Bengkel kendaraan 55
4 Jual Pakaian 50
5 Lain-Lain 30
Berdasarkan tabeltersebut bahwa jumlahtotaldebiturdi bulan Juni 2019 ada 285orang. Selanjutnya jenis pekerjaan tersebut dikategorikan sebagai jenis usaha peracangan yaitu sebuah bentuk usaha yang menyediakan keperluan rumah tangga seperti beras, gula, sabun, sikat gigi, minyak, dan sumbu kompor dan lain-lain. Selanjutnya terdapat jenis usaha yang tidak masuk
kriteria dalam pengajuan kredit yaitu seperti penjualan minuman keras, usaha kredit barang. Untuk jenis usaha yang sudah mempunyai paten merk berpeluang mendapatkan pembiayaan lebih besar dari bank.
kriteria dalam pengajuan kredit yaitu seperti penjualan minuman keras, usaha kredit barang. Untuk jenis usaha yang sudah mempunyai paten merk berpeluang mendapatkan pembiayaan lebih besar dari bank.