• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berikut disajikan tabel 4.10 yang memuat karakteristik responden penelitian

4.2.2. Analisis Deskripsi Variabel Hasil Panen 1. Variabel Jenis Bibit

Faktor-faktor yang ingin dikaji dalam penelitian ini menyangkut pengaruh terhadap hasil panen para petani, dapat dikelompokkan menjadi 6 variabel, yaitu : jenis bibit yang digunakan (tabel 4.12). Umumnya para responden (59,6%) menggunakan bibit hibrida dengan berbagai macam varietas. Hal ini didasarkan pada keunggulan dan kualitas yang relatif lebih baik dibandingkan jenis bibit lainnya. Hanya sebagian kecil (3,2%) saja yang menggunakan bibit komposit/lokal. Alasan mereka, karena ketiadaan modal untuk mendapatkan bibit hibrida. Bibit lokal ini diperoleh dari seleksi atas panen yang dilakukan pada periode sebelumnya.

Tabel 4.13. Jenis Bibit Tanaman Jagung yang Digunakan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Lokal 3 3.2 3.2 3.2

Hibrida 56 59.6 59.6 62.8

Komposit 35 37.2 37.2 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

4.2.2.2. Variabel Jenis Lahan

Selain itu, variabel jenis lahan juga dapat mempengaruhi hasil panen jagung mereka. Umumnya para responden menggunakan lahan kering (43,6%), sawah tadah hujan (36,2%) dan lahan sawah irigasi (20,2%). Berikut disajikan tabel 4.13 mengenai jenis lahan yang dimanfaatkan oleh para responden.

Tabel 4.14. Jenis Lahan yang Dimanfaatkan untuk Menanam Jagung

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

4.2.2.3. Variabel Luas Lahan

Variabel lain yang juga dapat mempengaruhi hasil panen para petani jagung adalah luas lahan yang ditanam atau digarap. Umumnya, semakin luas lahan yang digarap maka semakin besar hasil panen yang akan diperoleh. Para petani memberikan informasi bahwa umumnya mereka mengerjakan lahan dengan luas antara 1-4 ha (52,13%).

Selain itu, sebagian para petani juga menggarap lahannya antara 5-10 ha (24,47%), >15 ha (15,95%) dan dibawah 1 ha (7,45%). Khusus para petani yang menggarap lahan dibawah 1 ha adalah karena mereka melakukan kegiatan lain berupa penanaman padi di sawah. Artinya, keterbatasan luas lahan yang mereka miliki tetap dimanfaatkan untuk kegiatan penanaman jagung.

Tabel 4.15. Luas Lahan yang Digunakan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid < 1 ha 7 7.45 7.45 7.45

1-4 ha 49 52.13 52.13 59.58

5-10 ha 23 24.47 24.47 84.05

> 10 ha 15 15.95 15.95 100.0

Total 94 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

4.2.2.4. Variabel Pupuk

Terkait dengan peningkatan hasil panen melalui penggunaan pupuk pada tanaman jagung, ternyata tidak semua petani menggunakannya. Alasan mereka adalah karena kegiatan menanam jagung yang dilakukan sejak jaman dahulu oleh para pendahulu mereka, walaupun tidak menggunakan pupuk namun hasilnya bagus. Pemikiran ini didasarkan pada keyakinan mereka bahwa lahan yang mereka kerjakan tergolong subur.

Tabel 4.16. Penggunaan Pupuk Pada Tanaman Jagung

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid ya, selalu 56 59.6 59.6 59.6

kadang-kadang 38 40.4 40.4 100.0

Total 94 100.0 100.0

Melalui tabel 4.15 diatas dapat dijelaskan bahwa 59,6% dari jumlah responden selalu menggunakan pupuk dan selebihnya (40,4%) kadang-kadang saja, tergantung pada pertumbuhan tanaman jagung itu sendiri. Bahkan mereka mengemukakan argumennya bahwa penggunaan pupuk tidak terlalu mempengaruhi hasil panen tanaman jagung. Berikut ditampilkan beberapa alasan atas penggunaan pupuk bagi tanaman jagung.

Tabel 4.17. Alasan Penggunaan Pupuk

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent Valid agar tanaman subur dan

berbuah bagus 84 89.4 89.4 89.4

mencegah kematian

tanaman 10 10.6 10.6 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

Tabel 4.16 diatas, memberikan gambaran bahwa alasan penggunaan pupuk adalah agar tanaman subur dan berbuah bagu (89,4), hanya sebagian dari para responden yang menyatakan bahwa pupuk itu digunakan untuk mencegah kematian tanaman (10,6%). Jika diamati lebih mendalam lagi, pupuk yang digunakan oleh seluruh petani jagung merupakan pupuk anorganik yang diperoleh atau dibeli dari distributor pabrik. Berikut ditampilkan, jenis pupuk yang digunakan oleh para petani jagung di Kabupaten Aceh Tenggara.

Tabel 4.18. Jenis Pupuk yg Digunakan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid NPK 15 16.0 16.0 16.0

POG 9 9.6 9.6 25.5

POC 14 14.9 14.9 40.4

NPK, POG, POC 56 59.6 59.6 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

4.2.2.5 Variabel Obat-obatan

Ketika diajukan pertanyaan mengenai hama dan penyakit yang sering dihadapi oleh para petani jagung, para responden menjelaskan bahwa umumnya mereka pernah (58,5%) menghadapi hama dan penyakit pada tanaman jagung yang mereka kelola.

Tabel 4.19. Frekwensi Hama dan Penyakit pada Tanaman Jagung

Frequency Percent

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

Sejalan dengan upaya mengeliminasi hama dan penyakit tersebut, para petani berupaya mencari cara agar hama dan penyakit tersebut dapat segera diatasi, antara lain melakukan diskusi dengan kelompoknya (74,5%).

Tabel 4.20. Konsultasi Hama Dan Penyakit

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Dinas Pertanian (pemda) 15 16.0 16.0 16.0

Kelompok 70 74.5 74.5 90.4

penjual pupuk 5 5.3 5.3 95.7

mencari informasi sendiri 4 4.3 4.3 100.0

Total 94 100.0 100.0

Tabel 4.19 diatas memberi gambaran bahwa apapun yang dihadapi para petani umumnya selalu dibicarakan dengan kelompoknya mereka masing-masing, hanya 15% saja yang berupaya mencari solusi melalui diskusi dengan dinas terkait atau dalam hal ini pemerintah daerah. Para petani juga menjelaskan bahwa hama dan penyakit yang timbul pada tanaman jagung mereka, biasanya terjadi antara penyemaian bibit hingga saat akan dipanen.

Tabel 4.21. Terjadinya Hama dan Penyakit

Frequency Percent

Dapat disimpulkan bahwa sepanjang tanaman jagung itu tumbuh, hama dan penyakit akan tetap ada, tergantung dari para petani dalam mensikapinya.

Walaupun demikian, mayoritas responden memberikan penjelasan bahwa mereka dapat mengatasi permasalahan seputar hama dan penyakit yang melanda tanaman jagung mereka (62,8%).

Tabel 4.22. Hama dan Penyakit Dapat Diatasi

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Ya 59 62.8 62.8 62.8

Tidak 35 37.2 37.2 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

4.2.2.6. Variabel Pengetahuan

Pengetahuan terhadap teknis budidaya tanaman jagung yang diterima oleh para petani jagung, umumnya berasal dari kelompok mereka (83%). Hal ini memberika gambaran jelas bahwa kelompok merupakan sarana yang efektif bagi para petani dalam diskusi dan kegiatan lainnya. Hanya 16% saja yang memperoleh pengetahuan dari dinas pertanian.

Tabel 4.23. Sumber Pengetahuan Tentang Tanaman Jagung

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Dinas pertanian 16 17.0 17.0 17.0

kelompok 78 83.0 83.0 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

Sejalan dengan fenomena yang terjadi pada Tabel 4.22 diatas, ternyata pola peningkatan pengetahuan teknis budidaya yang dilaksanakan oleh instansi terkait (Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tenggara) adalah dengan mengumpulkan perwakilan (biasanya para ketua kelompok) pada tempat dan waktu tertentu kemudian diberikan bimbingan dan penyuluhan. Diharapkan, pengetahuan yang diterima oleh para ketua kelompok dapat diteruskan kepada para anggotanya. Namun disadari, bahwa tidak semua informasi dan pengetahuan yang diterima dapat diberikan secara penuh kepada anggotanya, banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Sehingga, ada sebagian para petani yang menguasai dan sebagian lagi tidak menguasai. Hal ini sejalan dengan tabel 4.23 dibawah ini.

Tabel 4.24. Merasa Cukup dengan Pengetahuan Tanaman Jagung

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid ya, cukup 44 46.8 46.8 46.8

belum cukup 50 53.2 53.2 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

Mayoritas responden (para petani) mengemukakan bahwa mereka belum merasa cukup (53,2%) dengan pengetahuan yang ada selama ini. Oleh karena itu, penyuluhan, bimbingan dan kordinasi kiranya tetap perlu dilakukan oleh dinas terkait. Konsekwensi logis dari fenomena diatas adalah keyakinan para petani dalam meningkatkan hasil panen. Berikut ditampilkan tabel 4.24 mengenai korelasi pengetahuan yang ada dengan hasil panen para petani.

Tabel 4.25. Dengan Bekal Pengetahuan, Hasil Panen Meningkat Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid ya, meningkat 57 60.6 60.6 60.6

biasa saja 37 39.4 39.4 100.0

Total 94 100.0 100.0

Sumber : Data Primer Hasil Penelitian, 2010

Tabel diatas menberikan gambaran bahwa sebagian besar para responden/petani (60,6%) meyakini pengetahuan yang diperoleh dan diimplementasikan di lapangan dapat meningkatkan hasil panen mereka.

4.3. Pembahasan

Data yang behasil dikumpulkan melalui kuisioner selanjutnya akan dianalisis sesuai kebuthan hipotesis. Namun sebelum hal itu dilakukan, data tersebut harus dilakukan uji cronbach alpha untuk dilihat validitas dan realibilitas

data. Jika nilai cronbach alpa tersebut rendah, kiranya uji statistik tidak dapat dilakukan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa data primer yang dikumpulkan melalui kuisioner layak dan dapat dilakukan uji statistik dalam rangka testing hipotesis, karena nilai cronbach alpha nya relatif tinggi, yaitu sekitar 0,964.

Dokumen terkait