• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dimensi entrepreneurial skill

Dalam dokumen Persoalan Penelitian. Tujuan Penelitian (Halaman 43-47)

Lanjutan 1. Tabel 5. Matriks Capability Dimensi Modal Sosial

3. Analisis dimensi entrepreneurial skill

a. Deskripsi perbedaan capability dimensi entrepreneurial skill dan entrepreneurial knowledge

Gambar 12 skill dan pengetahuan Ibu Romiyatun lebih tinggi dibandingkan Bapak Joko karena Ibu Romiyatun memang memiliki hobi seni dan menerapkan pengetahuan seninya untuk usaha. Ibu Romiyatun melihat suatu produk dan memikirkan cara untuk menciptakan produk serupa tetapi dengan harga dan biaya yang lebih murah. Kepuasan pelanggan adalah tujuan utama Ibu Romiyatun, ketika barang tidak sesuai Ibu Romiyatun langsung memperbaiki. Sedangkan Bapak Joko kurang mampu memiliki ide untuk pengembangan bisnis karena Bapak Joko berfokus menjadi seorang guru.

Gambar 13 skill dan knowledge Ibu Romiyatun dalam menangkap kebutuhan pasar lebih tinggi dibandingkan Bapak Joko karena Ibu Romiyatun mampu menjalin relasi yang baik dengan customer. Sering berhadapan langsung dengan calon customer dan meyakinkan kepada customer untuk membeli produk dari Ibu Romiyatun.

Gambar 14 skill dan knowledge Ibu Romiyatun lebih tinggi dibandingkan Bapak Joko karena Ibu Romiyatun terjun langsung di usaha membuat Ibu Romiyatun berhadapan langsung dengan supplier, karyawan, dan customer. Ibu Romiyatun memperlakukan karyawan seperti anak, memberikan kesempatan bagi karyawan jika memiliki saran bagi kemajuan usaha. Meski

0 2 4 6 8 Gambar 13. Konsep Bisnis Romiyatun Joko 0 2 4 6 8 10 Gambar 14. Lingkungan Usaha Romiyatun Joko 0 2 4 6 8 10 Gambar 15. Networking Romiyatun Joko

44

otoritas ada pada Ibu Romiyatun tetapi tetap memberikan kesempatan bagi karyawan, hal ini bertujuan untuk menjalin hubungan yang baik dengan karyawan. Sedangkan Bapak Joko yang bekerja sebagai guru kurang memiliki waktu untuk berinteraksi langsung dengan karyawannya. Bapak Joko berkomunikasi dengan karyawannya melalui handphone atau meninggalkan catatan kecil di kertas untuk ditempel pada mading ditempat usaha.

b. Uji beda rata-rata penguasaan skill (µ1) dan knowledge (µ2) Ho: µ1 = µ2 Ho: µ1 ≠ µ2

Tabel 9. Hasil SPSS Entrepreneurial Skill dan Entrepreneurial Knowledge

- Dua sampel penelitian memiliki varians yang sama (hasil Levene test menunjukkan level of siginificans lebih besar dari α =0.05)

- Hasil uji hipotesis di atas, menunjukkan level of significans dari perbedaan rata-rata kepadatan entrepreneuiral skill dan entrepreneurial knowledge lebih kecil dari α=0.05, maka diputuskan Ho ditolak.

- Rata-rata penguasaan entrepreneurial skill dan entrepreneurial knowledge wirausaha yang memiliki bidang pendidikan sesuai dan wirausaha yang memiliki bidang pendidikan tidak sesuai terdapat perbedaan signifikan.

- Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial skill dan entrepreneurial knowledge Ibu Romiyatun lebih unggul dibandingkan entrepreneurial skill dan entrepreneurial knowledge Bapak Joko.

- Keputusan hipotesis tersebut didukung oleh data perbedaan capability pada dimensi entrepreneurial skill dan entrepreneurial knowledge antara wirausaha yang memiliki pendidikan sesuai dengan bidang usahanya dan wirausaha yang pendidikannya tidak sesuai dengan bidang usahanya sebagaimana dideskripsikan di atas.

45 4. Analisis dimensi personal maturity skill

a. Deskripsi perbedaan capability dimensi personal maturity skill dan personal maturity knowledge

Gambar 15 skill dan pengetahuan Ibu Romiyatun lebih tinggi dibandingkan Bapak Joko karena Ibu Romiyatun mengawasi usaha secara langsung. Ibu Romiyatun sering berhadapan dengan permasalahan-permasalahan usaha dan memikirkan cara untuk penyelesaian tersebut. Berhadapan langsung dengan customer, supplier, dan karyawan membuat Ibu Romiyatun mengerti cara-cara untuk mencari jalan keluar penyelesaian masalah.

Gambar 16 skill dan pengetahuan Ibu Romiyatun lebih tinggi dibandingkan Bapak Joko karena Ibu Romiyatun langsung memperbaiki kecacatan atau kekurangan produk yang telah dijual kepada customer. Karena merasa karya yang dibuat harus sempurna, jika ada kekurangan sedikit saja pasti akan diperbaiki. Ibu Romiyatun akan merasa kecewa jika produk yang telah diberikan kepada customer terjadi kecacatan. Bapak Joko juga memberikan ganti produk baru jika terjadi kekurangan pada produk yang diproduksi usahanya. Bapak Joko sering memberikan ganti meskipun kesalahan tersebut berasal dari customer sendiri, Bapak Joko lebih memilih tidak memperpanjang lebarkan hal tersebut. Mengganti produk baru karena kesalahan customer sendiri membuat Bapak Joko mengalami sedikit kerugian, tetapi itu tetap dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab Bapak Joko.

0 2 4 6 8 10 Gambar 16. Self Awareness Romiyatun Joko 6.5 7 7.5 8 Gambar 17. Accountability Romiyatun Joko 0 2 4 6 8 Gambar 18. Emotional Coping Romiyatun Joko 0 2 4 6 8 10 Gambar 19. Creativity Romiyatun Joko

46

Gambar 17 skill dan pengetahuan pengendalian emosi Ibu Romiyatun lebih baik dibandingkan Bapak Joko. Ibu Romiyatun memberikan sanksi kepada para karyawan jika melakukan kesalahan, sanksi dapat berupa potongan gaji bagi karyawan. Sebenarnya Ibu Romiyatun tidak tega untuk memotong gaji karyawan, tetapi dilakukan untuk memberikan shock terapi bagi karyawan agar terbiasa bekerja tanpa kesalahan. Jika kesalahan sudah berkaitan dengan kriminalitas karyawan akan langsung diberhentikan oleh Ibu Romiyatun. Pengendalian emosi Bapak Joko cukup terkontrol, tetapi kurang memiliki sikap tegas bagi karyawan. Tidak sedikit karyawan yang melakukan tindak kecurangan tetapi tidak terlalu dihiraukan oleh Bapak Joko. Selama hal itu tidak membawa kerugian yang besar bagi usaha, Bapak Joko membiarkan karyawan mengambil uang dari usaha. Karyawan mengambil uang untuk membeli rokok atau bensin tanpa memberikan nota untuk pencatatan keuangan usaha,

Gambar 18 skill dan pengetahuan penyelesaian masalah Ibu Romiyatun lebih kreatif dibandingkan Bapak Joko. Hal ini dikarenakan Ibu Romiyatun bergerak dibidang seni, merupakan lulusan seni dan memiliki dibidang seni. Ibu Romiyatun memiliki pandangan untuk melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Cara berpikir Ibu Romiyatun adalah out of the box untuk menciptakan sesuatu yang baru. Cara berpikir ini membuat Ibu Romiyatun dapat memiliki ide kreatif dalam penyelesaian masalah. Sedangkan Bapak Joko yang merupakan lulusan ekonomi dan bekerja menjadi seorang guru membuat Bapak Joko kurang fokus untuk usaha atau pekerjaan apa yang dia pilih. Bapak Joko saat ini masih memilih kedua pekerjaannya dan tidak dapat untuk menghentikan satu pekerjaannya. Kurang fokus inilah yang membuat Bapak Joko lebih memilih untuk menghindari permasalahan, Bapak Joko lebih memilih segera menyelesaikan masalah meski harus mengalami kerugian. Karena jika memperpanjang permasalahan akan membuat pekerjaan yang lain ikut berantakan.

b. Uji beda rata-rata penguasaan skill (µ1) dan knowledge (µ2) Ho: µ1 = µ2 Ho: µ1 ≠µ2

47

- Dua sampel penelitian memiliki varians yang sama (hasil Levene test menunjukkan level of siginificans lebih besar dari α =0.05)

- Hasil uji hipotesis di atas, menunjukkan level of significans dari perbedaan rata-rata kepadatan personal maturity skill dan personal maturity knowledge lebih kecil dari α=0.05, maka diputuskan Ho ditolak.

- Rata-rata kepadatan personal maturity skill dan personal maturity knowledge wirausaha yang memiliki bidang pendidikan sesuai dengan wirausaha yang memiliki bidang pendidikan tidak sesuai terdapat perbedaan signifikan.

- Berdasarkan data peneltian menunjukkan bahwa personal maturity skill dan personal maturity knowledge Ibu Romiyatun lebih unggul dibandingkan personal maturity skill dan personal maturity knowledge Bapak Joko.

- Keputusan hipotesis tersebut didukung oleh data perbedaan capability pada dimensi personal maturity skill dan personal maturity knowledge antara wirausaha yang memiliki pendidikan sesuai dengan bidang usahanya dan wirausaha yang pendidikannya tidak sesuai dengan bidang usahanya sebagaimana dideskripsikan di atas.

Dalam dokumen Persoalan Penelitian. Tujuan Penelitian (Halaman 43-47)

Dokumen terkait