BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
G. Analisis Efesiensi Perusahaan (PDAM) Kota Makassar
Untuk mengukur Efisiensi pendapatan perusahaan, formulasi yang digunakan adalah:
Rasio Efesiensi = x 100%
Tabel 11
Efisiensi perusahaan (PDAM) Kota Makassar Tahun 2012-2013
No. Tahun Realisasi Biaya Realisasi Pendapatan
Efisiensi (%)
1 2012 153.339.581.094, 65 145.268.834.705,97 105,55 2. 2013 234.557.552.672, 01 257.397.557.461,54 91,12
Realisasi Biaya - biaya yang dikeluarkan perusahaan
Ralisasi pendapatan yang diterima perusahaan
Rata – rata 387.897.133.766, 66 402.666.392.167.51 96,33
Berdasarkan tabel 11 diatas, diketahui secara keseluruhan selama tahun 2012-2013 tingkat efisiensi PDAM Kota Makassar sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan. Di tahun 2012 tingkat efisiensi perusahaan mencapai 105,55 % berdasarkan standarisasi dari PDAM Kota Makassar yang mengacu pada Buku Pedoman Sistem Akuntansi PDAM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Otonomi Daerah Nomor 8 Tahun 2000 tentang Pedoman Akuntansi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maka selama tahun 2012 PDAM Kota Makassar menjalankan operasional perusahaan sangat tidak efisien karena dari tingkat efisiensi 105,55 % angka persentasenya berada di atas 50%. Seperti itu juga di tahun 2013 yang tingkat efisiensinya mencapai 91,12 % berarti di tahun 2012 perusahaan berjalan tidak efisien lagi karena persentase tersebut masih di atas 50%.
Rata-rata tingkat efisiensi PDAM Kota Makassar selama tahun 2012-2013 sebesar 96,33 % atau dalam posisi yang tidak efisien angka persentase berada di atas 50%. Ketidak efisienan yang terjadi di PDAM Kota Makassar selama 2 tahun terakhir dari tahun 2012-2013 disebabkan adanya kerugian yang sangat besar karena biaya yang dikeluarkan oleh PDAM Kota Makassar jauh lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan oleh PDAM Kota Makassar.
Keterlambatan pembayaran rekening air yang cukup besar akan merugikan PDAM kota Makassar karena dapat meminimalkan pendapatan yang diperoleh oleh PDAM sedangkan biaya yang dikeluarkan PDAM sungguh sangat besar
jumlahnya. Oleh karena itu keterlambatan pembayaran rekening air yang cukup besar yang menjadi salah satu penyebab ketidak efisienan perusahaan.
Berdasarkan apa yang diuraiakan diatas diharapkan PDAM kota Makassar dapat meningkatkan efisiensi perusahaannya dengan cara meningkatkan laba lebih besar lagi untuk mengatasi kerugian ditahun-tahun yang lalu. Karena kerugian perusahaan sangat berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang.
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya maka dalam penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan:
a. Anggaran pendapatan PDAM kota Makassar untuk tahun 2012 sebesar Rp. 168.180.122.909,16 dengan realisasi pendapatannya sebesar Rp. 145.268.834.705,97. Anggaran pendapatan PDAM kota Makassar tahun 2013 sebesar Rp. 269.431.481.628,36 dengan realisasi pendapatannya sebesar Rp. 257.397.557.461,54.
b. Dari hasil analisis varians diketahui bahwa diketahui selama satu tahun ini realisasi pendapatan (PDAM) kota Makassar mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 realisasi pendapatan sebesar Rp.
145,268,834,705,97 dengan anggaran yang ditetapkan sebesar Rp.
168,180,122,909,16, kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp. 257,397,557,461,54 dengan anggaran Rp.
269,431,481,628,36. Efektifitas pendapatan tertinggi terjadi pada tahun 2013 yaitu 95,53% dan terendah pada tahun 2012 yaitu 86,37%. Dari tabel diatas terlihat juga rata-rata yaitu sebesar 90,95%. Berdasarkan standarnisasi dari system administrasi pembukuan perusahaan yang mengacu pada buku pedoman sisstem akuntansi PDAM yang ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Negara Otonomi Daerah Nomor 08 tahun 2000 tentang Pedoman
akuntansi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan usaha PDAM kota Makassar untuk tahun 2012-2013 berjalan efektif, dengan persentase 90,95% yang berada diantara 80%-100%. Sedangkan diketahui selama satu tahun ini realisasi biaya operasional PDAM kota Makassar mengalami peningkatan pada tahun 2012 realisasi biayanya sebesar Rp. 153,339,581,094,65 dengan anggaran yang ditetapkan sebesar Rp. 163,483,408,925,52. Kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp. 234,557,552,672,01. Persentase efektivitas biaya tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu 93,75% dan terendah pada tahun 2013 yaitu 92,65%. Jadi berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata biaya operasional PDAM kota Makassar sudah berjalan cukup efektif 93,2% yang berarti terdapat penghematan biaya sebesar 6,8%.
c. Efisiensi PDAM kota Makassar untuk tahun 2012 adalah 105,55 % yang menunjukan bahwa PDAM kota Makassar tidak efisien.
Efisiensi PDAM kota Makassar untuk tahun 2013 adalah 91,12 % yang menunjukan PDAM kota Makassar tidak efisien.. Efisiensi keseluruhan PDAM kota Makassar tahun 2012-2013 menunjukan bahwa PDAM kota Makassar tahun 2012-2013 tidak efisien karena hasil yang diperoleh berada lebih dari 50%. Hal ini berarti selama tahun 2012-2013 PDAM kota makassar mengalami kerugian karena biaya yang dikeluarkan PDAM kota Makassar lebih besar dari pendapatan yang diterimannya.
B.Saran
Berikut ini dikemukakan beberapa saran yang dapat diajukan berkaitan dengan kesimpulan tersebut adalah :
1. Perusahaan hendaknya ditahun-tahun mendatang lebih meningkatkan laba perusahaan serta lebih meminimalkan lagi biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang
2. Untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran, maka manajemen perusahaan sebaiknya meningkatkan konsolidasi dalam penyusunan anggaran dan lebih meningkatkan ketelitian dalam mengestimasi dan merencakanan biaya-biaya yang akan terjadi.
3. Manajemen perusahaan juga diharapkan untuk mengoptimalkan pusat-pusat pertanggungjawaban biaya agar lebih meningkatkan pengendalian terhadap pengeluaran biaya pada masing-masing divisi atau unit.
4. pelaporan anggaran sebaiknya ditingkatkan untuk menghasilkan informasi yang akurat terjadi selisih dan perlu dilakukan investigasi terhadap pusat-pusat biaya atas selisih anggaran yang terjadi.
5. Perusahaan disarankan untuk mengajukan usulan penggantian atau sistem liasing beberapa assets jangka panjang yang sudah tidak layak digunakan atau dioperasikan, dalam hal ini demi untuk menghindari tingkat perbaikan atau terjadi pengeluaran terhadap assets yang ada.
6. Sebaiknya penerapan Teori Manajemen dan Prinsip Bisnis pada PDAM ini senantiasa dikaitkan dengan budaya /kondisi masyarakat sekitar guna terciptanya keamanan dan efisiensi agar seluruh kegiatan dapat dioptimalkan.
7. Pihak PDAM Kota Makassarharus lebih memperketat lagi peraturannya, yaitu peraturan yang berhubungan dengan dengan keterlambatan pembayaran rekening air oleh konsumen. Pihak PDAM Kota Makassar harus lebih tegas dalam pemberian sangsi kepada konsumen yang menunggak pembayaran airnya. Sangsi tersebut antara lain:
a. Menaikkan denda tunggakan
b. Memberikan surat peringatan pemutusan saluran kepada konsumen yang menunggak lebih dari tiga (3) bulan.Masalah Keterlambatan pembayaran rekening air harus mendapat perhatian khusus karena sangat berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan.