• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.5 Analisis Efisiensi Penggunaan Input

Berdasarkan persamaan (24), maka tingkat penggunaan input yang efisien dapat dicari dengan menggunakan rumus :

NPM = b .Y. Py

X

atau

Xi = bi * Py * Y ...(25)

Pxi

Penggunaan input produksi yang efisien pada dasarnya bertujuan untuk menghasilkan

ouput yang optimal. Data secara lengkap mengenai hasil perhitungan untuk NPM, input dan output yang efisien serta rasio NPM dengan harga input pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Nilai NPM, Input dan Output yang Efisien, serta Nilai Rasio NPM dan Pxi

pada Usaha Pendederan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng Tahun 2007

No Keterangan bi Harga NPM NPM/Pxi Optimal Aktual

1 Output (ekor per m2) 95,00 124,00 39,00

2 Benih (ekor per m2) 0,8866 19,30 46,26 2,40 170,00 71,00

3 Kapur (kg per m2) 0,0131 714,20 2.514,74 3,52 0,07 0,02

4 Pakan (kg per m2) 0,0611 4141,10 1.888,03 0,45 0,05 0,12

5 TK2 (jam per m2) 0,0349 4999,43 4.505,38 0,90 0,02 0,03 6 TK3 (jam per m2) 0,1722 5252,63 48.702,37 9,27 0,12 0,01 Sumber : Data Primer Tahun 2007

Berdasarkan Tabel 10, harga rata-rata untuk output adalah Rp95,00, harga rata- rata untuk benih sebesar Rp19,30, kapur Rp714,20, pakan Rp4.141,10, TK2

Rp4.999,43, dan harga rata-rata untuk TK3 Rp5.252,63. Dari harga rata-rata input

tersebut diperoleh nilai produk marjinal (NPM) untuk benih sebesar Rp46,26 , nilai

NPM untuk kapur sebesar Rp2.514,74, nilai NPM pakan Rp1.888,03, nilai NPM TK2

Rp4.505,38, dan nilai NPM untuk TK3 sebesar Rp48.702,37.

Menurut Soekartawi (1994), penggunaan faktor produksi akan efisien apabila rasio antara NPM dan Pxi sama dengan satu (NPM/Pxi = 1). Apabila rasio ini lebih

besar dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) belum efisien dan masih dapat dilakukan penambahan. Apabila rasio ini kurang dari satu, maka penggunaan faktor produksi (input) sudah tidak efisien dan harus dikurangi.

Berdasarkan Tabel 10, diperoleh nilai rasio antara NPM dan Pxi untuk benih

sebesar 2,40, untuk kapur 3,52, dan nilai rasio NPM dan Pxiuntuk TK3 sebesar 9,27.

Dari nilai rasio ketiga variabel input yang nilainya lebih besar dari satu, maka penggunaan ketiga input ini belum efisien dan masih dapat ditingkatkan. Agar penggunaan input efisien dan dapat menghasilkan output yang optimal, maka

penggunaan benih perlu ditambah jumlahnya dari 71 ekor per m2 pada kondisi aktual menjadi 170 ekor per m2 pada kondisi optimal. Penggunaan kapur dapat ditingkatkan dari 0,02 kg per m2 menjadi 0,07 kg per m2 dan untuk TK3 dapat ditingkatkan dari

Variabel input yang lain, yaitu pakan dan TK2 memilki nilai rasio NPM dan Pxi

masing-masing sebesar 0,45 untuk pakan dan 0,90 untuk TK2. Nilai rasio antara NPM

dan Pxikedua variabel input ini yang nilainya kurang dari satu menunjukkan bahwa

penggunaannya sudah tidak efisien dan harus dikurangi. Penggunaan pakan yang pada kondisi aktual sebesar 0,12 kg per m2 dapat dikurangi menjadi 0,05 kg per m2, dan untuk TK2 dapat dikurangi dari 0,03 jam per m2 menjadi 0,02 jam per m2.

Apabila efisiensi penggunaan input ini dilakukan, maka jumlah output yang dihasilkan akan bertambah dari 39 ekor per m2 pada kondisi aktual menjadi 124 ekor per m2 pada kondisi optimal. Pada kondisi aktual, usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini akan memberikan keuntungan sebesar Rp12.583,23 per m2. Pada kondisi optimal, keuntungan yang diperoleh pembudidaya sebesar Rp70.871,17 per m2 Modal tambahan yang harus dikeluarkan pembudidaya agar usaha yang dilakukan optimal sebesar Rp22.462,06 per m2 atau sebesar Rp99.432.127,14 untuk luas lahan 4.426,67 m2. Perbandingan biaya dan keuntungan pada kondisi aktual dan optimal dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11.Total Biaya, Total Penerimaan dan Keuntungan Usaha Pendederan Ikan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng per m2 pada Kondisi Aktual dan Optimal.

No Keterangan Aktual Optimal

1 Total biaya (Rp) 24.466,76 46.928,82

2 Total penerimaan (Rp) 37.050,00 117.800,00

3 Keuntungan (Rp) 12.583,23 70.871,17

4 Tambahan modal (Rp) 22.462,06

Sumber : Data Primer Tahun 2007

5.6 Analisis Finansial

Analisis finansial menurut Kadariah; L Karlina; dan C Gray (1976) ialah suatu usaha yang dilakukan untuk mengetahui kondisi keuangan dari suatu proyek melalui pengujian. Analisis finansial pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini meliputi analisis usaha, analisis kriteria investasi, dan analisis sensitivitas.

5.6.1 Analisis Usaha

Kegiatan usaha merupakan kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu kesatuan dengan menggunakan sumberdaya – sumberdaya yang dimiliki baik sebagian mau pun seluruhnya yang dikorbankan dari penggunaan masa sekarang untuk memperoleh manfaat di masa depan (Gittinger JP 1986). Analisis usaha pada usaha pendederan ikan lele dumbo ini meliputi analisis keuntungan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C), analisis Payback Period (PP), dan analisis

Break Event Point (BEP).

1) Analisis Keuntungan Usaha

Analisis keuntungan usaha digunakan untuk menghitung besarnya keuntungan yang diperoleh pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini. Pada analisis usaha pendederan ikan lele dumbo ini, biaya yang harus dikeluarkan pembudidaya dibagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Pada kondisi aktual, biaya tetap yang dikeluarkan sebesar Rp8.044.672,87 dengan biaya variabel Rp100.261.616,70 Sementara itu pada kondisi optimal setelah dilakukan efisiensi terhadap penggunaan input, biaya tetap yang harus dikeluarkan sebesar

Rp8.044.672,87 dengan biaya variabel sebesar Rp199.693.768,98.

Pada kondisi aktual, total biaya yang dibutuhkan selama satu tahun sebesar Rp108.306.289,57 dengan total penerimaan sebesar Rp164.008.123,50. Pada kondisi aktual ini keuntungan yang diperoleh pembudidaya sebesar Rp55.701.833,93 untuk jangka waktu satu tahun. Dengan asumsi dalam satu tahun terdapat sepuluh musim tanam, maka keuntungan per musim tanam pada kondisi aktual ini sebesar

Rp5.570.183,39.

Pada kondisi optimal, total biaya usaha yang diperlukan sebesar

Rp207.738.441,85 dengan total penerimaan sebesar Rp521.461.726,00. Pada kondisi optimal ini keuntungan yang diperoleh pembudidaya sebesar Rp 313.723.284,15 untuk jangka waktu satu tahun. Bila diasumsikan dalam satu tahun terdapat sepuluh musim tanam, maka pada kondisi optimal ini keuntungan yang diperoleh

pembudidaya sebesar Rp31.372.328,41 per musim tanam. Hasil analisis keuntungan usaha secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Biaya Usaha dan Penerimaan Usaha Pendederan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng pada Luas Lahan 4.426,67 m2 Tahun 2007

Keterangan Kondisi Aktual Kondisi Optimal

Biaya tetap Penyusutan 1.071.206,42 1.071.206,42 PBB 1.379.645,63 1.379.645,63 Pemeliharaan 221.333,50 221.333,50 Ember 24.733,32 24.733,32 Seser 35.750,00 35.750,00 Sewa kolam 5.312.004,00 5.312.004,00

Total Biaya Tetap 8.044.672,87 8.044.672,87

Biaya variabel

Benih Ikan Lele 60.648.287,32 145.214.209,08

Kapur 610.174,85 2.146.677,32 Pupuk 5.523.255,32 5.523.255,32 Pakan 21.282.619,72 10.027.211,87 TK1 (Persiapan) 2.799.764,79 2.799.764,79 TK2 (Pemeliharaan) 6.351.547,29 5.731.884,14 TK3 (Panen) 3.045.967,41 28.250.766,46

Total Biaya Variabel 100.261.616,70 199.693.768,98

Total Biaya 108.306.289,57 207.738.441,85

Penerimaan

Penjualan Benih 164.008.123,50 521.461.726,00

Total Penerimaan 164.008.123,50 521.461.726,00

Keuntungan 55.701.833,93 313.723.284,15

Sumber : Data Primer Tahun 2007

2) Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana manfaat yang diperoleh dari kegiatan usaha selama periode tertentu cukup menguntungkan. Pada penelitian ini diketahui bahwa pada kondisi aktual, nilai R-C sebesar 1,51 yang artinya bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan pada usaha pendederan ikan lele dumbo ini akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,51. Pada kondisi optimal, nilai R-C yang diperoleh sebesar 2,51 yang artinya bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan pada usaha pendederan lele dumbo ini akan menghasilkan penerimaan sebesar

Rp2,51. Dari nilai R/C ratio pada kondisi aktual dan optimal yang lebih besar dari satu dapat disimpulkan bahwa usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini menguntungkan dan masih dapat ditingkatkan.

3) Analisis Payback Period (PP)

Analisis Payback Period ini bertujuan untuk mengetahui seberapa cepat investasi yang ditanamkan pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini dapat kembali. Pada kondisi aktual diperoleh Payback Period selama 2,62 tahun yang artinya bahwa modal yang dikeluarkan untuk usaha ini dapat kembali dalam waktu 2,62 tahun. Pada kondisi optimal waktu pengembalian investasinya lebih cepat bila dibandingkan pada kondisi aktual. Hal ini dapat dilihat dari nilai

Payback Period pada kondisi optimal sebesar 0,46 tahun, yang artinya bahwa modal yang dikeluarkan untuk kegiatan usaha dapat kembali dalam waktu 5,52 bulan.

4) Analisis Break Event Point (BEP)

Break event point merupakan suatu nilai di mana hasil penjualan output

produksi sama dengan biaya produksi. Pada kondisi break event point ini pengusaha mengalami impas. Perhitungan BEP ini digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan agar suatu perusahaan tidak rugi.

Pada kondisi aktual nilai BEP produksi untuk usaha pendederan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng sebesar Rp20.627.366,33, artinya titik impas pada usaha lele dumbo ini terjadi pada saat nilai penerimaan dan biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp20.627.366,33. Pada kondisi ini pembudidaya tidak memperoleh

keuntungan dan tidak menanggung kerugian. BEP volume pada kondisi aktual yang diperoleh sebesar 217.836 ekor. Nilai BEP volume ini menunjukkan batas minimum volume penjualan agar pembudidaya tidak mengalami kerugian.

Nilai BEP produksi pada kondisi optimal dimana telah dilakukan efisiensi terhadap input yang digunakan sebesar Rp12.975.278,50, ini artinya titik impas terjadi pada saat nilai penerimaan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk

menunjukkan batas minimum volume penjualan agar pembudidaya tidak mengalami kerugian adalah sebesar 137.234 ekor.

5.6.2 Analisis Kriteria Investasi

Kelayakan usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng dapat diketahui melalui analisis terhadap kriteria investasi pada usaha tersebut. Beberapa kriteria investasi yang penting untuk dianalisis diantaranya adalah nilai Net Present Value (NPV), Net B/C, dan Internal Rate of Return (IRR). Analisis kriteria investasi yang dilakukan pada penelitian ini merupakan analisis kriteria investasi pada kondisi aktual dan optimal. Kondisi aktual dihitung dengan analisis tanpa proyek, sedangkan untuk kondisi optimal dihitung menggunakan analisis dengan proyek.

Analisis kriteria investasi dilakukan dengan menggunakan cashflow dari usaha yang dilakukan. Dalam cashflow ini terdapat dua komponen penting yaitu arus kas masuk (inflow) dan arus kas keluar (outflow). Dari hasil penelitian diperoleh nilai arus kas masuk pada kondisi tanpa proyek sebesar Rp164.008.123,50 dan berasal dari penjualan output. Pada kondisi dengan proyek, arus kas masuk sebesar Rp

521.461.726 yang berasal dari penjualan output dan pada tahun akhir proyek terdapat tambahan arus kas masuk sebesar Rp593.082,58 yang berasal dari nilai sisa.

Penghitungan nilai sisa ini diperoleh dari nilai komponen investasi yang tidak terpakai habis selama umur proyek.

Berdasarkan analisis usaha yang diperoleh, maka dalam analisis kriteria investasi ini akan digunakan tiga skenario analisis. Skenario satu yaitu pembudidaya menggunakan lahan milik sendiri. Pada skenario dua diasumsikan pembudidaya menggunakan lahan dengan cara menyewa dan pada skenario tiga selain

menggunakan lahan sewa, pembudidaya juga memperoleh sebagian modalnya melalui pinjaman bank.

Pada analisis kriteria investasi ini, arus kas keluar (outflow) terdiri dari biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel. Biaya investasi dihitung dari besarnya biaya yang dikeluarkan untuk barang-barang yang memiliki umur teknis minimal satu

tahun. Pada kondisi tanpa proyek, biaya investasi diperoleh dari biaya penyusutan dan sewa lahan.

Dalam suatu analisis kriteria investasi, cashflow dibuat untuk mengetahui arus tambahan manfaat bersih sebagai akibat pengurangan biaya bersih tambahan selama umur proyek, yaitu dari kondisi aktual ke kondisi optimal dengan tambahan biaya operasional yang harus disediakan sebesar Rp99.432.127,14. Beberapa asumsi yang digunakan dalam menyusun cashflow dalam penelitian usaha budidaya pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini diantaranya adalah :

1) Usaha dianalisis berdasarkan tiga skenario kondisi usaha, yaitu :

a) Skenario pertama adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan milik sendiri.

b) Skenario kedua adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan milik orang lain melalui mekanisme sewa.

c) Skenario ketiga adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank. Pinjaman bank diberikan dalam bentuk kredit sebesar Rp55.000.000,00. Jangka waktu kredit sepuluh tahun dengan tingkat suku bunga 16% per tahun dan tingkat pengembalian tetap.

2) Dalam satu tahun terdiri atas sepuluh kali panen

3) Umur proyek selama 10 tahun yang didasarkan kepada umur teknis terlama dari komponen investasi yaitu konstruksi kolam.

4) Tingkat suku bunga yang digunakan adalah 16% per tahun dan merupakan suku bunga pinjaman Bank Mandiri Kabupaten Bogor untuk usaha sektor perikanan. 5) Luas lahan yang dianalisis sebesar 4.426,67m2 dan merupakan luas lahan rata-rata

usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng.

a) Skenario 1

Analisis kriteria investasi pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng dengan menggunakan skenario pertama, yaitu menggunakan lahan milik sendiri, diperoleh nilai NPV sebesar Rp1.105.752.421,46. Nilai NPV ini menunjukkan

besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% per tahun.

Tabel 13. Kriteria Investasi pada Skenario 1 untuk Usaha pendederan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng Tahun 2007

No Kriteria Investasi Jumlah

1 Net Present Value (Rp) 1.105.752.421,46

2 Net B/C 6,48

3 Internal Rate of Return (%) 99,13

Sumber : Data Primer Tahun 2007

Berdasarkan pada Tabel 13, nilai Net B/C pada skenario pertama sebesar 6,48. Nilai Net B/C ini dapat diartikan bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pendederan ikan lele dumbo ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp6,48 selama sepuluh tahun umur proyek dengan discount rate 16%.

Nilai Internal Rate of Return (IRR) pada skenario pertama ini sebesar 99,13%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pendederan lele dumbo dengan lahan milik sendiri ini memberikan manfaat bersih internal sebesar 99,13% per tahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek

Analisis kriteria investasi untuk skenario pertama ini diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hasil analisis kriteria investasi ini menunjukkan bahwa usaha pendederan lele dumbo dengan menggunakan lahan milik sendiri layak untuk dijalankan.

b) Skenario 2

Pada skenario kedua ini diasumsikan bahwa lahan yang digunakan untuk kegiatan usaha pendederan lele dumbo ini merupakan lahan sewa. Harga sewa lahan di Kecamatan Ciseeng rata-rata sebesar Rp100,00 per m2 selama satu bulan. Dari hasil analisis kriteria investasi dengan skenario lahan sewa ini diperoleh nilai NPV Rp1.174.981.305,75. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% per tahun.

Tabel 14. Kriteria Investasi pada Skenario 2 untuk Usaha pendederan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng Tahun 2007

No Kriteria Investasi Jumlah

1 Net Present Value (Rp) 1.174.981.305,75

2 Net B/C 14,00

3 Internal Rate of Return (%) 238,40

Sumber : Data Primer Tahun 2007

Berdasarkan pada Tabel 14, nilai Net B/C pada analisis kriteria investasi

dengan skenario lahan sewa ini sebesar 14,00 Nilai Net B/C ini dapat diartikan bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pendederan lele dumbo ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp14,00 selama sepuluh tahun umur proyek dengan discount rate 16%. Dari hasil perbandingan keuntungan dengan biaya ini terlihat bahwa pada skenario kedua ini manfaat yang diperoleh lebih besar bila dibandingkan dengan menggunakan lahan milik sendiri.

Nilai Internal Rate of Return (IRR) pada skenario kedua ini sebesar 238,40%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pendederan ikan lele dumbo dengan lahan sewa ini memberikan manfaat bersih internal sebesar 238,40% per tahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek.

Analisis kriteria investasi untuk skenario kedua ini diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hasil analisis kriteria investasi ini menunjukkan bahwa usaha pendederan ikan lele dumbo dengan menggunakan lahan sewa layak untuk dijalankan dan memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan menggunakan lahan milik sendiri.

c) Skenario 3

Pada skenario ketiga ini diasumsikan bahwa lahan yang digunakan untuk

kegiatan usaha pendederan lele dumbo ini merupakan lahan sewa dan sebagian modal usaha berasal dari pinjaman bank. Pinjaman yang digunakan berasal dari Bank berupa kredit sebesar Rp55.000.000,00 dengan cicilan (pokok dan bunga) tetap selama jangka waktu sepuluh tahun dengan tingkat suku bunga pinjaman 16% per tahun. Dari hasil analisis kriteria investasi dengan skenario lahan sewa dan pinjaman ini

diperoleh nilai NPV sebesar Rp1.174.981.305,75. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% per tahun.

Tabel 15. Kriteria Investasi pada Skenario 3 untuk Usaha pendederan Lele Dumbo di Kecamatan Ciseeng Tahun 2007

No Kriteria Investasi Jumlah

1 Net Present Value (Rp) 1.174.981.305,75

2 Net B/C 34,23

3 Internal Rate of Return (%) 603,00

Sumber : Data Primer Tahun 2007

Berdasarkan pada Tabel 15, nilai Net B/C pada analisis kriteria investasi dengan skenario lahan sewa dan pinjaman ini sebesar 34,23. Nilai Net B/C ini dapat diartikan bahwa setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pendederan ikan lele dumbo ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp34,23 selama sepuluh tahun umur proyek dengan discount rate 16%. Dari hasil perbandingan keuntungan dengan biaya ini terlihat bahwa pada skenario ketiga ini manfaat yang diperoleh lebih besar bila dibandingkan dengan menggunakan lahan milik sendiri pada skenario pertama dan lahan sewa tetapi modal milik sendiri pada skenario kedua.

Nilai Internal Rate of Return (IRR) pada skenario ketiga ini sebesar 603,00%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pendederan lele dumbo dengan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank ini memberikan manfaat bersih internal sebesar 603,00% per tahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek.

Analisis kriteria investasi pada skenario ketiga ini diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hasil analisis kriteria investasi ini menunjukkan bahwa usaha pendederan ikan lele dumbo dengan menggunakan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank (skenario ketiga) layak untuk dijalankan dan memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan menggunakan skenario pertama dan skenario kedua.

Dari hasil analisis kriteria investasi pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng dengan menggunakan tiga skenario ini menunjukkan bahwa usaha pada skenario ketiga memberikan manfaat terbesar. Pada skenario ketiga ini diperoleh nilai NPV, Net B/C, dan IRR terbesar. Pada kondisi sebenarnya, analisis kriteria investasi dengan skenario ketiga paling layak untuk dilaksanakan. Hal ini karena pada kondisi sebenarnya, yang menjadi hambatan pembudidaya melakukan perluasan usaha adalah masalah permodalan, karena itu skenario usaha dengan

menggunakan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank layak untuk dilaksanakan.

5.6.3 Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh perubahan biaya terhadap kriteria investasi. Pada usaha pendederan ikan lele dumbo di Kecamatan Ciseeng ini, analisis sensitivitas akan dilakukan dengan menggunakan metode switching value. Dalam analisis sensitivitas dengan menggunakan metode

switching value ini, harga benih akan dinaikkan sedikit demi sedikit hingga nilai NPV

negatif yang berarti usaha sudah tidak menguntungkan lagi. Harga benih dipilih sebagai komponen yang dinaikkan dalam melakukan analisis sensitivitas dengan metode switching value ini, karena harga benih merupakan faktor produksi yang paling besar biayanya dan amat penting untuk kelangsungan usaha.

Analisis sensitivitas pada skenario pertama menunjukkan bahwa kenaikan harga benih sebesar 157,55% baru akan menyebabkan nilai NPV menjadi negatif dan usaha tidak lagi memberikan keuntungan. Pada skenario pertama ini harga benih dinaikkan dari Rp19,30 per ekor menjadi Rp49,70 yang menyebabkan nilai NPV menjadi sebesar (Rp17.461,49).

Nilai Net B/C pada analisis sensitivitas pada skenario pertama sebesar 1,00, artinya setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pendederan lele dumbo ini tidak akan menghasilkan manfaat. Nilai NetB/C ini menunjukkan bahwa kenaikan harga benih sebesar 157,55% akan menurunkan manfaat bersih proyek sebesar Rp5,48 dari setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan.

Nilai IRR setelah terjadi kenaikan harga benih sebesar 157,55% menjadi 0,00%, hal ini berarti usaha pendederan lele dumbo tidak lagi memberikan manfaat. Kondisi usaha pada skenario pertama setelah dilakukan analisis sensitivitas dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 1 Setelah Terjadi Kenaikan Harga Benih Sebesar 157,55%

No Kriteria Investasi Sebelum Kenaikan Harga Benih Setelah Kenaikan Harga Benih 157,55% Perubahan 1 NPV (Rp) 1.105.752.421,46 (17.461,49) 1.105.769.882,95 2 Net B/C 6,48 1,00 5,48 3 IRR (%) 99,13 0,00 99,13

Sumber : Data Primer Tahun 2007

Analisis sensitivitas pada skenario kedua menunjukkan bahwa NPV akan bernilai negatif bila kenaikan harga benih mencapai 167,41% dari Rp19,30 per ekor menjadi Rp51,61. Pada kondisi ini nilai NPV mengalami perubahan sebesar

Rp1.174.986.655,96 menjadi (Rp5.350,21).

Nilai Net B/C pasca kenaikan harga benih menjadi 1,00 yang artinya setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pendederan ikan lele dumbo ini tidak menghasilkan manfaat. Nilai Net B/C ini menunjukkan bahwa kenaikan harga benih sebesar 167,41% akan menurunkan manfaat bersih proyek sebesar Rp13,00 dari setiap Rp1,00 biaya yang dikeluarkan.

Nilai IRR setelah terjadi kenaikan harga benih sebesar 167,41% menjadi 0,00%, hal ini berarti usaha pendederan lele dumbo tidak lagi memberikan manfaat. Kondisi usaha secara lengkap setelah dilakukan analisis sensitivitas pada skenario kedua dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17.Perbandingan Nilai Kriteria Investasi pada Skenario 2 Setelah Terjadi Kenaikan Harga Benih Sebesar 167,41%

No Kriteria Investasi Sebelum Kenaikan Harga Benih Setelah Kenaikan Harga Benih 167,41% Perubahan 1 NPV (Rp) 1.174.981.305,75 (5.350,21) 1.174.986.655,96 2 Net B/C 14,00 1,00 13,00 3 IRR (%) 238,40 0,00 238,40

Sumber : Data Primer Tahun 2007

Pada skenario ketiga, analisis sensitivitas dilakukan dengan menaikkan harga benih sebesar 167,41% dari Rp19,30 per ekor menjadi sebesar Rp51,61. Kondisi usaha setelah dilakukan analisis sensitivitas ini memiliki nilai NPV sebesar

(Rp5.350,21) yang berarti mengalami perubahan sebesar Rp1.174.986.655,96 dari nilai semula yang sebesar Rp1.174.981.305,75. Nilai NPV yang lebih kecil dari nol

Dokumen terkait