• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis global yang terjadi pada kuartal ke 3 tahun 2008 membawa dampak pada ekspor karet alam Indonesia. Hal ini terlihat dari penurunan indeks RCA yang terjadi pada tahun 2009, di mana pada tahun ini indeks RCA karet alam Indonesia menurun drastis dari 35,37 pada tahun 2008 menjadi hanya sebesar 30 pada tahun 2009. Indeks ini kembali berada di bawah indeks Thailand yang pada saat yang sama memiliki nilai sebesar 30,44. Penurunan nilai ini terjadi karena akibat dari penurunan kuantitas ekspor karet alam berdasarkan kesepakatan dari ITRC yang merupakan gabungan tiga eksportir terbesar karet alam, di mana persentase penurunan kuantitas ekspor Indonesia pada kuartal pertama tahun 2009 yang lebih besar dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Jika dilihat dari pembagian penurunan kuantitas ekspor karet alam, Indonesia pada kesepakatan ini mengalami penurunan mencapai 6%, sementara Thailand 5% dan Malaysia 3% dari total kuantitas ekspor tahun sebelumnya (AntaraNews (diolah), 2008). Sementara jika dilihat dari pertumbuhan kuantitas ekspor karet alam Indonesia, maka pada tahun tersebut, total penurunan terjadi hingga 13,3% dari tahun 2008, sementara Thailand mengalami penurunan total sebesar 3,2% dari tahun sebelumnya (International Trade Statistic (diolah), 2010).

8.2. Analisis Export Competitiveness Index

Analisis Export Competitiveness Index dalam penelitian ini digunakan untuk melihat apakah negara-negara eksportir karet alam dunia memiliki keunggulan kompetitif dan daya saing yang cukup kuat terhadap komoditas karet alam. Nilai yang diperoleh menggambarkan kecenderungan trend pertumbuhan

87 yang meningkat atau menurun. Gambar 9 memperlihatkan hasil perhitungan nilai ECI untuk negara eksportir utama karet alam.

Sumber: International Trade Statistics (diolah), 2010

Gambar 9. Hasil Perhitungan ECI Negara Eksportir Karet Alam

Export Competitiveness Index merupakan suatu indeks yang

menggambarkan keunggulan kompetitif suatu komoditi pada suatu negara dibandingkan dengan negara pesaingnya. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan terhadap komoditi karet alam pada tiga negara eksportir terbesar dunia, diperoleh bahwa pada periode 2002-2008, ECI Thailand memiliki nilai kurang dari 1. Hal ini mengindikasi bahwa komoditi karet alam Thailand mengalami penurunan pangsa pasar atau trend daya saing yang semakin melemah di pasar internasional. Penurunan daya saing ini bisa jadi disebabkan karena pertumbuhan ekspor karet alam Thailand yang masih dibawah pertumbuhan ekspor karet alam dunia, sehingga nilai yang diperoleh menjadi lebih kecil. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir ini, Thailand lebih memfokuskan diri pada peralihan penanaman tanaman karet menjadi kelapa sawit, tanaman buah, dan kayu. Pengembangan karet secara substansial juga telah digerakkan di wilayah-wilayah

0,8 0,85 0,9 0,95 1 1,05 1,1 1,15 1,2 2000 2002 2004 2006 2008 2010 EC I Tahun ECI Thailand ECI Indonesia ECI Malaysia

88 timur laut, tetapi pengembangan tersebut masih berjalan lambat (Dongguan Wanlixing Rubber, 2010).

Indonesia pada periode yang sama jika dibandingkan dengan negara eksportir lain memiliki nilai ECI yang lebih dari satu. Hal tersebut berarti bahwa komoditi karet alam Indonesia mengalami trend daya saing yang meningkat. Peningkatan tersebut seiring dengan usaha pemerintah Indonesia dalam hal perbaikan kinerja ekspor karet alam di pasaran dunia dengan pengadaan revitalisasi dan peremajaan pohon karet yang telah tua dan tidak produktif lagi. Selain itu, potensi lahan yang masih cukup luas memungkinkan bagi Indonesia untuk meningkatkan luas areal tanamnya, sehingga produksi masih memiliki potensi untuk ditingkatkan.

Perkembangan dalam keunggulan kompetitif karet alam Indonesia semakin mengalami trend pertumbuhan yang menurun sejak tahun 2007. Bahkan pada tahun 2009, nilai ECI Indonesia sudah berada di bawah 1, yang berarti trend daya saing karet alam Indonesia mengalami penurunan daya saing. Hal ini dapat diindikasi sebagai akibat dari jatuhnya harga karet alam di pasar internasional karena krisis gobal yang mengakibatkan penurunan terhadap permintaan karet dunia. Berbeda dengan Indonesia, Thailand justru mengalami trend daya saing yang meningkat sejak tahun 2005. Hal ini dapat terlihat dari nilai ECI Thailand yang berada di atas 1 pada tahun 2009. Hal demikian terjadi karena pada tahun 2009 tersebut, Indonesia mengalami penurunan nilai ekspor karet alam hingga 46,45%, sementara Thailand mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 35,79%. Penurunan yang terjadi pada pertumbuhan karet alam dunia (43,54%) yang lebih

89 kecil dibanding penurunan yang terjadi pada pertumbuhan nilai ekspor karet alam Indonesia juga turut berpengaruh terhadap perhitungan nilai ECI yang dilakukan.

Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Thailand, Malaysia juga memiliki nilai ECI kurang dari satu. Hal ini mengindikasi adanya penurunan pangsa pasar atau daya saing yang semakin melemah. Penyebab penurunan daya saing Malaysia ini karena saat ini, selain sebagai eksportir terbesar dunia, Malaysia juga bertindak sebagai importir terbesar terhadap komoditas karet alam. Sejauh ini, Malaysia lebih fokus terhadap ekspor barang olah karet dengan pengembangan industri produk karet yang semakin meningkat, dibanding dengan ekspor karet mentah, karena nilainya yang juga jauh lebih tinggi. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2001) mencatat bahwa perkembangan ekspor karet alam Malaysia diperkirakan akan tertahan oleh adanya keterbatasan sumberdaya lahan dan tingginya upah pekerja, di samping perubahan orientasi ke arah industri hilir. Kondisi ini jelas berbeda dengan Indonesia dan Thailand yang masih memiiki potensi pengembangan karena adanya ketersediaan lahan dan dukungan biaya produksi yang lebih rendah (Dradjat, 2003).

90 IX. KESIMPULAN DAN SARAN

9.1. Kesimpulan

Berdasarkan data dan hasil analisis pada penelitian ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Indonesia memiliki perkembangan yang cenderung meningkat terhadap nilai ekspor komoditas karet alam dari tahun ke tahun. Hal serupa terjadi pada kedua negara eksportir karet alam pesaingnya, yaitu Thailand dan Malaysia. Peningkatan ini terjadi selain karena meningkatnya permintaan dunia terhadap komoditas karet alam sebagai dampak dari perkembangan industri, juga didorong oleh peningkatan produksi karet alam domestik. Perbaikan terhadap harga karet alam di pasar internasional turut mendorong perkembangan nilai ekspor komoditas ini. Karet alam Indonesia sebagian besar diekspor ke negara-negara tujuan utama, antara lain Amerika Serikat, Jepang, dan China. Penurunan kuantitas ekspor pada tahun 2009 karena terjadinya penurunan permintaan karet alam dunia sebagai akibat krisis global berdampak pada penurunan terhadap nilai ekspor karet alam Indonesia. 2. Struktur pasar yang terbentuk pada komoditas karet alam yang dihitung

dengan menggunakan alat analisis Herfindahl Index dan Concentration Ratio menunjukkan struktur pasar yang berbentuk oligopoli. Struktur pasar demikian menggambarkan bahwa pada komoditas ini penguasaan pasar terbesar dipegang oleh tiga negara eksportir utama, yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

3. Perhitungan keunggulan komparatif dengan analisis RCA menunjukkan bahwa ketiga negara eksportir karet alam, yaitu Thailand, Indonesia dan

91 Malaysia masing-masing memiliki keunggulan komparatif. Hasil ini berbeda dengan perhitungan yang dilakukan terhadap keunggulan kompetitif negara-negara eksportir tersebut. Perhitungan keunggulan kompetitif dengan menggunakan ECI menunjukkan bahwa Malaysia tidak memiliki keunggulan ini. Thailand yang bertindak sebagai eksportir utama karet alam juga tidak memiliki keunggulan kompetitif hingga tahun 2008. Adapun penyebab dari penurunan trend daya saing kompetitif, baik bagi Thailand maupun Malaysia antara lain karena adanya penurunan persentase pertumbuhan ekspor akibat peningkatan konsumsi domestik guna pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri. Krisis global yang melanda pada tahun 2008 membawa dampak terhadap penurunan trend daya saing Indonesia tahun 2009. Salah satu penyebab penurunan daya saing ini adalah merosotnya harga karet alam pada tahun 2009 akibat penurunan permintaan karet global.

9.2. Saran

Berdasarkan pada kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Peningkatan volume dan nilai ekspor karet alam Indonesia dapat ditempuh antara lain dengan peningkatan kualitas karet alam sehingga harga ekspor komoditas ini dapat meningkat. Peningkatan produksi karet alam dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas mengingat luas lahan karet Indonesia telah cukup besar atau dengan meningkatkan teknologi pengolahan karet guna peningkatan efisiensi. Selain itu, mengingat bahwa kondisi perkebunan karet Indonesia lebih didominasi oleh perkebunan rakyat

92 dibanding perkebunan besar swasta dan negara, maka perlu adanya pembinaan yang lebih intensif untuk peningkatan hasil yang lebih optimal. Kebijakan yang akan ditempuh sebaiknya perlu untuk mempertimbangkan aspek wilayah produksi dan jenis pengusahaan.

2. Struktur pasar yang berbentuk oligopoli pada komoditas karet alam memungkinkan Indonesia untuk dapat meningkatkan posisi daya saingnya. Oleh karena struktur pasar oligopoli saling bersaing bukan dalam hal harga komoditas, tetapi lebih pada kampanye komoditi yang dijual, maka disarankan untuk meningkatkan promosi dan diferensiasi produk serta peningkatan pada kualitas produk yang dipasarkan. Selain itu, kondisi oligopoli lazimnya menimbulkan kesalingtergantungan antara masing-masing produsen, sehingga penggabungan produsen-produsen tersebut dalam suatu wadah (IRCo) perlu tetap dipertahankan guna menjaga kestabilan perdagangan, baik dari segi harga maupun penawaran.

3. Daya saing yang dimiliki terhadap komoditas karet alam Indonesia dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas (mutu) produk, diferensiasi produk olahan, serta peningkatan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah produk.

93 DAFTAR PUSTAKA

Abdmoulah, W. dan B. Laabas. 2010. Assessment of Arab Export Competitiveness

in International Markets using Trade Indicators. The Arab Planning

Institute, Kuwait.

Anonim. 2010. Kontribusi Karet dan Produk Karet Indonesia Selama Lima Tahun

Terakhir. http://bataviase.co.id/node/140821. diakses pada tanggal 21 Agustus 2010.

Anonim. 2010. Perbaikan Mutu Karet Lamban.

http://bataviase.co.id/node/140821. diakses pada tanggal 21 Agustus 2010. Antara News. 2008. Indonesia Tahun 2009 Kurangi Kuota Ekspor Karet 116 Ribu

Ton. http://www.antaranews.com/view/?i=1229555077&c=EKB&s=.

diakses pada tanggal 15 Juni 2010.

Anwar, C. 2006. Perkembangan Pasar dan Prospek Agribisnis Karet di

Indonesia. Lokakarya: Budidaya Tanaman Karet. Pusat Penelitian Karet.

Balai Penelitian Sungei Putih, Medan.

Association of Natural Rubber Producing Countries. April 2010. hal. 19-20. Area

Planted during each Year in ANRPC Member Countries. Volume 1 No. 9.

Astuty, E.D. dan Zamroni. 2000. Kajian Daya Saing Ekspor Komoditas

Pertanian. PEP-LIPI, Jakarta.

Azwar, R. dan I. Suhendry. 1998. Kemajuan Pemuliaan Karet dan dampaknya

terhadap Peningkatan Produktivitas. Prosiding: Lokakarya Nasional

Pemuliaan Karet 1998 dan Diskusi Nasional Prospek Karet Alam Abad 21. Pusat Penelitian Karet, Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Medan. Hal. 51-64

Badan Pusat Statistik. 2003. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ___. 2004. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ___. 2005. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

___. 2006. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

___. 2006. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ___. 2007. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

___. 2008. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

94 ___. 2009. Data Strategis BPS. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

___. 2009. Indikator Ekonomi. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ___. 2010. Data Strategis BPS. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Basri, C., A. Hadianto, M.F. Hasan, T. Lacey dan T.Sudaryanto. 2010. Indonesian

Business Guide. IRAI, Jakarta.

Basri, F. 2002. Perekonomian Indonesia. Erlangga, Jakarta.

Bastari, D.H. 1998. Pengelolaan Agribisnis Karet Secara Terpadu. Prosiding: Lokakarya Nasional Pemuliaan Karet 1998 dan Diskusi Nasional Prospek Karet Alam Abad 21. Pusat Penelitian Karet, Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Medan. Hal. 27-29.

Daryanto, A. 2009. Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya

Peningkatannya. Seminar Nasional: Peningkatan Daya Saing Agribisnis

Berorientasi Kesejahteraan Petani. Departemen Pertanian, Jakarta.

Departemen Perdagangan. 2010. ASEAN-China Free Trade Area. Departemen Perdagangan, Jakarta.

Departemen Perindustrian. 2007. Gambaran Sekilas Industri Karet. Departemen Perindustrian, Jakarta.

___. 2009. Roadmap Industri Pengolahan Karet dan Barang Karet. Departemen Perindustrian, Jakarta.

Departemen Pertanian. 2006. Statistik Pertanian 2006. Departemen Pertanian, Jakarta.

___. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet. Edisi Kedua. Departemen Pertanian, Jakarta.

___. 2008. Peraturan Menteri Pertanian No: 38/Permentan/OT.140/8/2008

tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (BOKAR). Departemen Pertanian, Jakarta.

___. 2009. Statistik Pertanian 2009. Departemen Pertanian, Jakarta.

Department of Statistics Malaysia. 2010. Malaysian Natural Rubber Production

and Yield. http://www.lgm.gov.my/nrstat/T4A.htm. diakses pada tanggal 31 Mei 2010.

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2007. Pedoman

Penanganan Pasca Panen Karet. Departemen Pertanian, Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian. 2004. Undang-Undang

95 Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Luas Areal dan Produksi Perkebunan

Seluruh Indonesia Menurut Pengusahaan.

http://ditjenbun.deptan.go.id/cigraph/index.php/viewstat/komoditiutama/2-Karet. diakses pada tanggal 4 Juni 2010.

Dongguan Wanlixing Rubber. 2010. Status of the world's natural rubber industry

trends.

http://en.wlxrubber.com/news_detail/newsId%3D5bd934b1-55a3- 4a54-b374-d10ae9ae6813%26comp_stats%3Dcomp-FrontNews_list01-1262913064306.html. diakses pada tanggal 26 Agustus 2010.

Dradjat, B. 2003. Kinerja Subsektor Perkebunan: Evaluasi Masa Lalu (1994-1998) dan Prospek Pada Era Perdagangan Bebas Dunia (2003-2008).

Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Dumairy. 1996. Perekonomian Indonesia. Erlangga, Jakarta.

Food And Agriculture Organization. 2010. Statistics Production.

http://faostat.fao.org/site/567/DesktopDefault.aspx?PageID=567#ancor. diakses pada tanggal 15 Mei 2010.

Hadianto, A. 2010. Makalah Makroekonomi: Analisis Daya Saing Ekspor

Nasional. Ilmu Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hady, H. 2004. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Perdagangan

Internasional. Jilid Satu. Edisi Revisi. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Handyoko, A. 2010. Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDB.

http://www2.bbpp-lembang.info/index.php?option=com_content&view=article&id=515:kontr ibusi-sektor-pertanian-terhadap-pdb&catid=110&Itemid=304. diakses pada tanggal 26 Mei 2010.

Hikaru, E. 2010. Bentuk-Bentuk Pasar. http://ejohikaru.multiply.com/favicon.ico. diakses pada tanggal 11 Juli 2010.

International Rubber Concortium Limited. 2010. Historical Rubber – Market

Update. http://www.irco.biz/Statistic-index.php?st. diakses pada tanggal 25 April 2010.

International Rubber Study Group. 2010.

http://www.rubberstudy.com/statistics.aspx. diakses pada tanggal 16 Mei 2010.

International Trade Statistics. 2010. List of exporters for the selected product:

TOTAL All products.

http://www.trademap.org/tradestat/Country_SelProduct_TS.aspx. diakses pada tanggal 10 Mey 2010.

96 International Trade Statistics. 2010. List of exporters for the selected product:

4001 Natural rubber, balata, gutta-percha etc.

http://www.trademap.org/tradestat/Country_SelProductCountry_TS.aspx. diakses pada tanggal 10 Mey 2010.

Jaya, W.H. 2001. Ekonomi Industri. Edisi Kedua. BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta. Johari. 2009. Indonesia Miliki Perkebunan Karet Terluas di Dunia.

http://joharicybermedia.wordpress.com/2009/11/13/indonesia-miliki-perkebunan-karet-terluas-di-dunia/. diakses pada tanggal 1 Oktober 2010. Kementerian Pertanian. 2009. Rancangan Rencana Strategis Kementerian

Pertanian Tahun 2010-2014. Kementerian Pertanian, Jakarta.

Kuncoro, M. 2008. Indonesia Bangkit 2008. Warta Ekonomi’. http://mudrajad.com/upload/Indonesia%20Bangkit%202008.pdf. diakses pada tanggal 25 Juni 2010.

Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2010. Pusat Penelitian Karet. http://www.ipard.com/produk_layanan/tarif--.htm. diakses pada tanggal 29 Mei 2010.

Limbong, W. H. 1994. Keragaan Karet Alam Indonesia Ditinjau dari Jenis Pengusahaan dan Wilayah Produksi. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Mansur. 2009. Dinamika Agribisnis dan Industri Karet Indonesia dalam

Persaingan Pasar Global 2009.

http://mediadata.co.id/Multi-Client- Studies/MCS-Indonesian-Edition/Dinamika-Agribisnis-dan-Industri-Karet-Indonesia-dalam-Persaingan-Pasar-Global-2009.html. diakses pada tanggal 20 Mei 2010.

M.S., Amir. 1984. Seluk-Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri: Suatu

Penuntun Impor dan Ekspor. PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.

___. 2004. Strategi Memasuki Pasar Ekspor. PPM, Jakarta.

Meryana, E. 2007. Analisis Dayasaing Kopi Robusta Indonesia di Pasar Kopi Internasional. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Nazaruddin dan F.B. Paimin. 2006. Karet. PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Nicholson, W. 2002. Mikroekonomi Intermadiate dan Aplikasinya. Edisi Kedelapan. Erlangga, Jakarta.

Novianti, T. dan E.H. Hendratno. 2008. Analisis Penawaran Ekspor Karet Alam

Indonesia ke Negara Cina. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut

97 Oktaviani, R. dan Tanti Novianti. 2009. Teori Perdagangan Internasional dan

Aplikasinya di Indonesia. Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Bogor.

Parhusip, A. B. 2008. Potret Karet Alam Indonesia. Economic Review. No. 231 Prabowo, D.W. 2006. Dampak Kebijakan Perdagangan Terhadap Dinamika

Ekspor Karet Alam Indonesia ke Negara-Negara Importir Utama. Tesis

Magister Sains. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Purnama, H., Firdaus dan Mildaerizanti. 2007. Perencanaan Penggunaan Lahan

Multiple untuk Peremajaan Karet Rakyat. BPTP Jambi, Jambi.

Rachman, C. 2008. Kebijakan Pengolahan Bahan Olah Karet. Prosiding: Lokakarya Nasional Agribisnis Karet 2008. Pusat Penelitian Karet, Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Yogyakarta. Hal. 39-42.

Saboniene, A. 2009. Lithuanian Export Competitiveness: Comparison with other

Baltic States. The Economic Conditions of Enterprise Functioning. Kaunas

University of Technology, Lithuania.

Schwab, K. 2010. The Global Competitiveness Report 2010-2011. World Economic Forum. Geneva, Switzerland.

Siswanto, A. 2004. Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia, Bogor.

Soekarno. 2009. Analisis Keunggulan Komparatif Karet Alam Indonesia Tahun 2003-2007. Skripsi. Departeman Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sore, B. 2010. Produktivitas Kebun Karet Indonesia Rendah.

http://www.pn8.co.id/pn8/images/ptpn.ico. diakses pada tanggal 29 Mei 2010.

Suciati, R. 2006. Kajian Perkembangan Perdagangan Internasional Karet Indonesia ke Negara Anggota ISO/TC 45. Jurnal Standarisasi. Vol. 8 No.1: 10-17

Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi Revisi. LP3ES, Jakarta.

Sugiyanto, Y., H. Sihombing dan Darmandono. 1998. Pemetaan Agroklimat dan

Tingkat Kesesuaian Lahan Perkebunan Karet. Prosiding: Lokakarya

Nasional Pemuliaan Karet 1998 dan Diskusi Nasional Prospek Karet Alam Abad 21. Pusat Penelitian Karet, Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Medan. Hal. 201-218

Sukarmi. 2002. Regulasi Antidumping: Dibawah Bayang-Bayang Pasar Bebas. Sinar Grafika Offset, Jakarta.

98 Sunandar, I. 2007. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Pengusahaan Komoditi Tanaman Karet Alam (Kasus di Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, Propinsi Sumatera Selatan).

Skripsi. Program sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas

Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tambunan, T.T.H. 2003. Perekonomian Indonesia: Beberapa Masalah Penting. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Undri. 2004. Kepemilikan Tanah di Sumatera Barat Tahun 1950-an (Kasus Konflik Kepemilikan Tanah Perkebunan Karet di Kabupaten Pasaman).

Workshop on the Economic Side of Decolonosatioan. Universitas Gajah

Mada, Yogyakarta.

United Nations Comtrade. 2010. United Nations Commodity Trade Statistics

Database: Statistics Division. http://comtrade.un.org/db/. diakses pada tanggal 17 April 2010.

Zainuddin, H. 2007. Kalsel Ingin Rebut Peluang Sentra Karet Indonesia.

http://hasanzainuddin.wordpress.com/2007/10/27/kalsel-ingin-rebut-peluang-sentra-karet-indonesia/. diakses pada tanggal 1 Oktober 2010. Zebua, A. 2008. Integrasi Pasar Karet alam Indonesia dan Dunia. Skripsi. Program

sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

99

100 Lampiran 1. Luas Areal Karet Perkebunan Rakyat Menurut Provinsi di Indonesia (Ha)

No. Provinsi Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008*)

1 Nanggroe Aceh Darussalam 97.513 95.738 98.581 114.950 116.071 117.711 118.860 121.742 2 Sumatera Utara 439.285 437.672 448.945 440.647 448.852 456.986 461.496 474.725 3 Sumatera Barat 103.958 103.940 101.340 104.197 102.242 124.256 126.135 128.970 4 Riau 405.905 397.515 423.020 353.506 362.090 369.911 389.535 385.754 5 Jambi 438.463 433.881 424.838 436.462 429.170 433.739 440.809 443.025 6 Sumatera Selatan 685.686 682.688 637.868 644.385 655.230 648.754 659.134 663.909 7 Bengkulu 76.723 75.684 72.218 72.367 71.137 71.334 72.401 74.065 8 Lampung 80.808 80.795 71.879 84.008 81.884 81.466 82.399 84.521 9 Bangka Belitung 34.730 34.694 31.095 30.387 29.279 28.845 29.381 30.098 10 Kepulauan Riau - - - 30.955 30.524 30.929 31.368 31.999 11 DKI Jakarta - - - - - - - - 12 Jawa Barat 57.602 56.745 57.924 51.904 51.989 52.336 52.449 53.382 13 Jawa Tengah 29.764 29.770 32.576 32.021 30.581 30.135 30.191 30.990 14 DI Yogyakarta - - - - - - - - 15 Jawa Timur 25.377 25.377 18.962 26.540 25.362 25.180 25.174 25.606 16 Banten 21.731 21.709 21.119 23.341 23.057 23.507 23.846 23.519 17 Bali 90 90 102 89 95 95 95 95

18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - -

19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - -

20 Kalimantan Barat 374.091 373.858 369.258 365.780 375.310 379.038 387.768 405.516 21 Kalimantan Tengah 263.494 261.773 261.834 259.001 256.596 255.657 261.947 272.221 22 Kalimantan Selatan 130.138 129.615 144.424 128.292 129.582 129.946 132.675 134.490 23 Kalimantan Timur 54.614 52.046 43.537 49.441 45.487 58.105 59.132 57.357 24 Sulawesi Utara - - - - - - - - 25 Sulawesi Tengah 3.310 3.310 11.500 3.078 3.143 3.160 3.160 3.160

101 26 Sulawesi Selatan 12.192 12.175 12.553 5.686 5.848 19.475 19.901 18.436 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - 28 Gorontalo - - - - - - - - 29 Sulawesi Barat - - - 756 1.209 1.209 1.209 1.209 30 Maluku 935 935 935 - - - - - 31 Maluku Utara 1.351 1.351 1.309 - - - - - 32 Papua 7.007 6.998 4.295 4.459 4.619 4.619 4.617 5.136

33 Irian Jaya Barat - - - - - - - -

34 Papua Barat - - - 16 34 34 34 35

Indonesia 3.344.767 3.318.359 3.290.112 3.262.268 3.279.391 3.346.427 3.413.716 3.469.960

Sumber: Departemen Pertanian, 2009

Lampiran 2. Produksi Karet Perkebunan Rakyat Menurut Provinsi di Indonesia (Ton)

No. Provinsi Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008*)

1 Nanggroe Aceh Darussalam 45.990 48.344 49.527 63.863 70.032 83.368 89.378 95.777 2 Sumatera Utara 333.917 339.194 363.357 358.580 391.398 427.872 447.202 475.307 3 Sumatera Barat 54.087 55.042 60.058 64.505 71.452 90.468 93.348 98.570 4 Riau 206.476 202.992 224.809 258.879 285.594 350.808 366.781 379.592 5 Jambi 160.330 160.916 177.704 232.646 256.790 292.653 306.026 332.256 6 Sumatera Selatan 266.179 267.927 321.277 405.693 450.495 517.799 542.538 572.282 7 Bengkulu 36.222 36.738 37.699 39.317 43.311 49.980 52.174 53.624 8 Lampung 46.192 46.837 43.987 51.188 55.862 68.366 70.403 74.702 9 Bangka Belitung 13.926 13.773 15.570 16.534 18.330 19.151 19.821 20.720 10 Kepulauan Riau - - - 16.780 18.574 21.296 22.358 22.834

102 11 DKI Jakarta 0 - - - - - - - 12 Jawa Barat 37.607 42.636 35.198 39.936 43.217 57.572 59.058 62.677 13 Jawa Tengah 23.090 23.244 24.843 21.638 23.198 29.419 30.480 32.370 14 DI Yogyakarta - - - - - - - - 15 Jawa Timur 16.320 16.332 14.327 16.977 18.169 23.963 24.550 26.073 16 Banten 12.440 14.172 10.735 11.144 12.409 15.167 15.709 16.312 17 Bali 77 79 84 70 75 108 111 117

18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - -

19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - -

20 Kalimantan Barat 146.624 149.541 169.463 204.516 224.805 256.751 266.643 291.160 21 Kalimantan Tengah 127.977 127.918 143.519 158.407 174.061 189.372 198.384 209.850 22 Kalimantan Selatan 46.642 49.972 63.265 73.938 80.840 104.216 109.368 113.740 23 Kalimantan Timur 19.174 20.307 21.261 21.067 20.054 24.465 25.890 27.990 24 Sulawesi Utara - - - - - - - - 25 Sulawesi Tengah 2.162 2.215 4.165 3.154 3.622 3.597 3.680 3.713 26 Sulawesi Selatan 8.646 8.681 10.097 5.513 5.910 7.979 8.299 9.054 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - 28 Gorontalo - - - - - - - - 29 Sulawesi Barat - - - 593 1.215 1.263 1.320 1.385 30 Maluku - - - - - - - - 31 Maluku Utara 1.385 1.385 1.350 - - - - - 32 Papua 1.998 2.114 53 867 1.455 1.573 1.625 1.740

33 Irian Jaya Barat - - - - - - - -

34 Papua Barat - - - 12 23 25 26 27

Indonesia 1.607.461 1.630.359 1.792.348 2.065.817 2.270.891 2.637.231 2.755.172 2.921.872

103 Lampiran 3. Perhitungan Penguasaan Pasar Negara Eksportir Karet Alam Dunia

Exporters Sik 2001 Sik 2002 Sik 2003 Sik 2004 Sik 2005 Sik 2006 Sik 2007 Sik 2008 Sik 2009 Thailand 0,39359 0,394076 0,421517 0,390513 0,36983 0,357689 0,341479 0,335263 0,381777 Indonesia 0,234334 0,235477 0,225259 0,249464 0,258652 0,284703 0,294864 0,302204 0,287483 Malaysia 0,147895 0,148712 0,142099 0,156835 0,152999 0,147979 0,12931 0,121278 0,112289 Viet Nam 0,049443 0,06143 0,056923 0,054982 0,071518 0,074906 0,079451 0,077953 0,042404 Singapore 0,043666 0,036152 0,029357 0,03297 0,030022 0,026025 0,019622 0,018667 0,030553 Liberia 0,021021 0,016244 0,013544 0,017982 0,016922 0,015454 0,014026 0,013139 0,015872 Côte d Ivoire 0,020784 0 0 0,018812 0,019987 0,020772 0,02179 0,024849 0,015099 United States of America 0,016755 0,012157 0,014104 0,007073 0,005806 0,004615 0,004834 0,004408 0,013578 Guatemala 0,007474 0,006535 0,005525 0,006718 0,008143 0,006173 0,009259 0,010001 0,012073 Sri Lanka 0,007071 0,005982 0,005803 0,005806 0,004692 0,006053 0,006599 0,006231 0,010384 Cameroon 0,005903 0,005241 0,004894 0,004857 0,004449 0,0043 0,007269 0,007009 0,008749 France 0,005617 0,005313 0,003665 0,002713 0,002889 0,002892 0,00489 0,003777 0,007946

Hong Kong (SARC) 0,005541 0,005684 0,004093 0,003444 0,003403 0,002826 0,002057 0,001875 0,007711

Cambodia 0,005499 0,006419 0,005068 0,004224 0,007293 0,00621 0,006412 0,004581 0,00613 Germany 0,005395 0,005399 0,004343 0,004939 0,003874 0,003851 0,007122 0,004657 0,005593 Italy 0,004185 0,002649 0,002187 0,002477 0,001341 0,001189 0,002029 0,001375 0,00548 Philippines 0,003946 0,004126 0,00494 0,003944 0,003654 0,003066 0,002491 0,002626 0,005147 Myanmar 0,00358 0,003429 0,002081 0,002805 0,004271 0,002491 0,003866 0,00478 0,002406 United Kingdom 0,002487 0,001457 0,001748 0,000805 0,000656 0,000445 0,000514 0,000425 0,002249 Belgium 0,002391 0,001785 0,00688 0,004208 0,002569 0,006045 0,010342 0,008436 0,002234 Canada 0,001938 0,000963 0,001152 0,001301 0,000625 0,000463 0,000807 0,000535 0,002138

104

Spain 0,001185 0,001075 0,00091 0,000588 0,001623 0,000921 0,001346 0,00114 0,001913

India 0,001014 0,006629 0,008326 0,007041 0,007304 0,008136 0,003062 0,00843 0,001665

Australia 0,000867 0,000651 0,000478 0,000102 8,4E-05 4,62E-05 4,31E-05 7,45E-05 0,001647

Netherlands 0,00079 0,00097 0,000762 0,000457 0,000422 0,000631 0,000916 0,001 0,001604

Sweden 0,000742 0,001324 0,000532 0,00024 0,00014 0,000176 0,000236 0,000251 0,001528

Malawi 0,000718 0,000447 0,000407 0,000416 0,000208 0,000328 0,000343 0,000368 0,001306

Papua New Guinea 0,000678 0,000417 0,000532 0,00055 0,00072 0,000702 0,000876 0,00092 0,00128

Gabon 0,000629 4,31E-05 0,000107 0,000198 0,001039 0,001433 0,001592 0,002629 0,001063

Japan 0,000613 0,001225 0,001496 0,000444 0,000145 0,000161 0,000162 0,000114 0,001033

Denmark 0,000501 0,000331 0,000337 0,000563 0,001311 0,001024 0,000922 0,00071 0,000984

Mexico 0,000336 0,000334 0,000427 0,000438 0,000234 0,000211 0,000358 0,00046 0,00073

Ireland 0,000277 4,58E-05 8,89E-05 0,000107 0,00014 0,000107 0,000539 0,000121 0,000721

Republic of Korea 0,000227 0,00041 0,000163 0,000145 0,000162 0,000171 0,000104 0,000159 0,000666 South Africa 0,000199 0,000108 0,000326 0,000314 0,000357 0,000308 0,000272 0,000128 0,00065 China 0,000126 0,000196 0,000237 9,29E-05 0,000693 0,000514 0,000554 0,000432 0,000566 Austria 0,000125 0,000138 0,000118 0,000167 0,000164 0,000259 0,000352 0,000135 0,000559 Lao People s Democratic Republic 0,000125 0,000325 0,000353 0,000176 0,000423 0,0008 0,000792 0,000624 0,000539 Luxembourg 0,000122 0,000195 0,000161 0,000188 0,000112 7,73E-05 8,89E-05 8,25E-05 0,000374

Czech Republic 0,000114 5,87E-05 5,74E-05 0,000115 0,000233 0,000267 0,000237 0,000249 0,000357

Portugal 9,68E-05 7,85E-05 5,67E-05 3,09E-06 3,1E-06 1,86E-05 1,98E-05 3,22E-05 0,000339

Poland 9,23E-05 0,000447 0,000398 0,000621 0,000909 0,000216 0,000332 0,000516 0,000333

Lithuania 8,91E-05 4,54E-07 0,000116 0 5,94E-05 0 1,03E-06 4,49E-06 0,000263

Congo 7,42E-05 4,29E-05 0,000198 0,000172 0,000222 0,000361 0,000342 0,00042 0,000245

Russian Federation 7,24E-05 4,67E-05 2,13E-05 6,63E-06 7,11E-06 6,59E-07 7,57E-06 5,59E-06 0,000233

105

of the Congo Libyan Arab

Jamahiriya 6,58E-05 0 0 0 0 2,44E-06 0 0 0,000178

Netherland Antilles 6,08E-05 3,58E-05 3,62E-05 0 0 0 0 0 0,000165

Chad 5,87E-05 1,29E-05 3,95E-05 0 0 0 0 0 0,000157

Saudi Arabia 5,75E-05 6,44E-05 0,000193 0,000226 0,000228 0,000392 0,000296 0,000137 0,000149

Ecuador 5,21E-05 3,06E-05 6,77E-05 8,33E-05 0,000102 0,000114 0,000127 0,000129 0,000112

Free Zones 5,06E-05 2,04E-06 9,34E-06 0 1,35E-05 1,06E-05 1,82E-07 4,99E-08 0,000106

United Arab Emirates 4,71E-05 1,88E-05 1,67E-05 2,16E-05 0,000401 2,85E-05 5,12E-05 3,83E-05 9,45E-05

Switzerland 4,41E-05 2,25E-05 1,48E-05 1,85E-05 9,41E-06 9,55E-06 4,21E-05 2,78E-05 8,61E-05

Romania 4,26E-05 2,63E-05 4,52E-07 8,35E-06 5,21E-06 6,69E-05 2,33E-05 5,28E-05 8,14E-05

Albania 3,07E-05 0 0 1,14E-07 0 0 0 3,49E-07 7,52E-05

Sierra Leone 2,95E-05 1,16E-05 2,5E-05 5,97E-05 7,71E-06 4,9E-05 4,49E-05 1,34E-05 7,28E-05

Slovenia 2,86E-05 7,71E-06 4,81E-05 4,14E-05 4,73E-05 8,12E-05 6,18E-05 9,73E-06 6,9E-05

Argentina 2,71E-05 9,52E-06 1,33E-05 4,81E-05 1,64E-05 1,25E-05 1,59E-05 5,14E-06 5,96E-05

Hungary 2,59E-05 4,49E-05 4,87E-05 9,95E-06 5,58E-05 3,89E-06 2,43E-05 1,63E-05 5,95E-05

Aruba 2,56E-05 2,83E-05 1,43E-05 1,9E-05 8,11E-06 3,95E-06 7,26E-06 8,33E-06 4,63E-05

Brazil 2,38E-05 6,1E-05 5,02E-05 5,49E-05 3,26E-05 3,6E-05 0,000167 9,25E-05 4,24E-05

Equatorial Guinea 2E-05 0 0,000182 3,67E-05 5,41E-06 0 0 1,13E-05 3,36E-05

Turkey 1,94E-05 8,46E-05 6,59E-05 9,97E-05 0,000175 9E-05 0,000132 0,000193 3,36E-05

Rwanda 1,76E-05 0 0 0 0 0 0 0 3,29E-05

Greece 1,7E-05 4,54E-06 6,03E-06 1,16E-05 2,2E-06 1,65E-06 5,93E-06 6,63E-06 3,01E-05

Slovakia 1,58E-05 2,27E-07 0,000232 0,000189 0 0,000205 0,000124 0,00027 2,12E-05

Norway 1,43E-05 1,25E-05 1,15E-05 2,29E-06 9,01E-07 0 1,7E-06 8,28E-06 1,76E-05

Costa Rica 1,37E-05 6,58E-06 3,32E-06 3,43E-07 1E-06 4,61E-07 1,76E-06 4,49E-07 1,36E-05

106

Egypt 1,13E-05 2,27E-06 6,63E-06 0 0 0 0 9,1E-05 1,24E-05

Gibraltar 1,13E-05 2,25E-05 0 0 0 0 0 0 1,23E-05

New Zealand 9,53E-06 7,26E-06 2,11E-06 2,06E-06 8,21E-06 1,46E-05 3,51E-05 2,44E-06 1,06E-05

Bulgaria 9,53E-06 0,000233 1,25E-05 8,58E-06 9,21E-06 2,9E-06 1,88E-05 5,49E-06 1,05E-05

European Union Nes 9,23E-06 0 0 0 0 0 0 0 1,02E-05

United Republic of

Tanzania 7,45E-06 4,54E-07 2,22E-05 6,63E-06 3,6E-06 3,47E-05 7,09E-05 1,42E-05 9,84E-06 Honduras 7,15E-06 0 1,51E-06 0 1E-07 6,59E-08 7,87E-07 2,64E-06 8,51E-06

Chile 6,55E-06 9,07E-06 1,69E-05 1,29E-05 2,43E-05 4,35E-06 8,54E-05 1,69E-05 6,29E-06

Namibia 5,96E-06 2,2E-05 1,9E-05 5,44E-05 1,3E-06 1,32E-06 1,21E-07 4,99E-07 6,11E-06

El Salvador 5,66E-06 9,07E-07 0 1,14E-07 1E-07 6,59E-08 0 9,98E-08 5,14E-06

Serbia and

Montenegro 5,66E-06 7,26E-06 0 1,3E-05 4,15E-05 0 0 0 4,79E-06 Finland 5,06E-06 2,04E-06 2,26E-06 2,17E-06 2,6E-06 0,000266 0,000931 0,00159 4,08E-06

Venezuela 4,47E-06 2,04E-06 2,56E-06 5,86E-05 2E-07 1,32E-07 0 1,55E-06 3,99E-06

Estonia 3,87E-06 3,65E-05 2,03E-05 0 1,6E-06 1,78E-06 2,18E-06 4,94E-06 3,9E-06

Kenya 3,28E-06 9,75E-06 1,73E-05 1,17E-05 1,11E-05 4,94E-06 9,08E-07 4,49E-07 3,63E-06

Mauritius 2,98E-06 6,8E-07 0 1,14E-07 1E-07 0 0 0 3,37E-06

Afghanistan 2,98E-06 0 0 0 0 0 0 0 3,37E-06

Croatia 2,68E-06 1,59E-06 1,51E-07 1,37E-06 0 6,59E-08 1,27E-06 1,75E-06 2,75E-06

Belize 2,38E-06 7,26E-06 1,66E-06 0 0 0 0 0 2,66E-06

Democratic People s

Republic of Korea 2,09E-06 1,36E-05 1,13E-05 1,03E-06 1E-07 7,9E-07 7,26E-07 3,49E-07 2,39E-06 Peru 1,49E-06 1,07E-05 3,23E-05 4,69E-06 9,81E-06 2,95E-05 9,81E-06 6,98E-06 1,86E-06

Belarus 1,19E-06 4,15E-05 4,79E-05 9,38E-06 1E-07 0 0 6,98E-07 1,6E-06

107

Swaziland 8,94E-07 2,27E-07 7,54E-07 4,57E-07 3E-07 3,1E-06 0 0 1,51E-06

Israel 5,96E-07 1,81E-06 3,66E-05 1,83E-05 2,02E-05 1,5E-05 2,15E-05 1,17E-05 1,33E-06

Europe Othr. Nes 2,98E-07 0,000103 4,52E-07 2,74E-06 5,11E-06 1,82E-05 0,00095 4,55E-05 1,33E-06

Panama 2,98E-07 1,79E-05 0 0 0 0 0 0 1,24E-06

Guyana 2,98E-07 2,04E-06 2,64E-05 0 0 0 0 0 8,86E-07

Chinese Taipei 0 3,47E-05 1,1E-05 3,24E-05 0,000127 0,000221 0,000132 0,000339 5,32E-07

Colombia 0 2,27E-07 1,99E-05 8,01E-07 2,8E-06 1,32E-06 1,87E-05 7,25E-05 4,43E-07

Dominican Republic 0 3,4E-06 1,81E-06 0 0 0 4,06E-05 1,15E-06 4,43E-07

Uruguay 0 6,8E-07 1,51E-07 1,03E-06 0 0 0 0 3,54E-07

Jordan 0 4,76E-05 0 1,14E-06 7,01E-07 2,44E-06 1,21E-07 3,49E-07 3,54E-07

Madagascar 0 1,59E-06 4,52E-07 0 0 0 0 2E-07 2,66E-07

Republic of Moldova 0 0 0 0 0 7,25E-07 0 0 2,66E-07

Macao (SARC) 0 0 0 0 0 0 0 0 1,77E-07

Azerbaijan 0 0 0 9,15E-07 0 0 0 0 1,77E-07

Bolivia 0 0 0 0 1E-07 0 0 0 1,77E-07

Iceland 0 0 0 0 0 3,29E-07 0 0 1,77E-07

Latvia 0 8,84E-06 7,99E-06 5,15E-06 4,7E-06 0 4,24E-07 3,99E-07 8,86E-08

Niger 0 0 0 0 0 0 0 0 8,86E-08

Paraguay 0 0 0 0 0 0 0 0 8,86E-08

Zambia 0 6,8E-07 5,27E-06 4,69E-06 4,4E-06 5,27E-07 1,21E-07 1,75E-06 0

Qatar 0 2,27E-07 0 0 0 3,29E-07 1,15E-06 2E-07 0

Nigeria 0 8,16E-06 0,000224 0 0 0,001125 0,01171 0,020996 0

Nicaragua 0 0 0 1,03E-06 0 0 0 1,41E-05 0

Mozambique 0 0 0 4,69E-06 0 0 0 0 0

Oman 0 3,63E-06 0 0 0 0 0 0 0

108

Malta 0 2,04E-06 0 0 5,51E-06 9,88E-07 0 0 0

Syrian Arab Republic 0 0 1,81E-06 0 1,49E-05 2,17E-06 0 1,6E-06 0

Trinidad and Tobago 0 0 0 0 1E-07 6,59E-08 6,05E-08 2,49E-07 0

Tunisia 0 0 0 1,21E-05 0 5,65E-05 8,9E-06 6,98E-07 0

Uganda 0 4,54E-07 0 0 2E-06 1,98E-07 6,05E-08 0 0

Ukraine 0 2,27E-07 0,000135 1,09E-05 1,31E-05 6,59E-08 0 2E-07 0

The former Yugoslav Republic of

Macedonia

0 0 7,54E-07 0 0 0 0 0 0

Zimbabwe 0 1,81E-06 0 0 0 3,95E-07 0 0 0

Sudan 0 0 0 0 0 1,98E-07 0 0 0

Senegal 0 0 0 0 1,1E-06 0 0 0 0

Seychelles 0 0 1,51E-07 0 0 0 0 0 0

Kazakhstan 0 0 0 0 5,51E-06 0 0 5,99E-05 0

Kuwait 0 1,47E-05 0,001027 0 0 3,21E-05 0 2,64E-06 0

Iran (Islamic Republic

of) 0 1,77E-05 0 0 9,41E-06 6,13E-06 2,24E-06 1,1E-06 0

Guinea 0 0,000522 0,001505 0,001111 0,001345 0,000774 0,000783 0,001158 0

Botswana 0 1,72E-05 5,27E-06 2,29E-07 5E-07 0 4,84E-07 0 0

Barbados 0 0 1,66E-06 0 0 0 0 0 0

Algeria 0 0 0 0 6,01E-07 1,32E-07 0 0 0

Cuba 0 0 0 0 0 0 2,42E-07 2E-07 0

Cyprus 0 0 0 0 3E-07 6,59E-08 0 0 0

Central African

Republic 0 0 0 0 0 8,37E-06 2,72E-06 2,49E-06 0

Yemen 0 0 0 0 8,01E-07 3,95E-07 0 0 0

109

United States Minor

Outlying Islands 0 0 0 0 3,88E-05 4,48E-06 0 0 0

Guinea-Bissau 0 0 1,19E-05 0 0 1,09E-05 2,36E-06 3,1E-05 0

Timor-Leste 0 0 0 0 0 1,65E-06 0 0 0

America not elsewhere

specified 0 0 0 0 0 0 0 1,9E-06 0

Pakistan 0 0 0 1,03E-05 0 0 4,84E-07 2,49E-07 0

Morocco 0 4,54E-07 0 3,43E-07 5,15E-05 1,42E-05 1,65E-05 3,49E-07 0

Nauru 0 0 0 0 0 2,7E-06 0 0 0

Tokelau 0 2,49E-06 0 0 0 2,63E-06 0 0 0

Ship stores and

bunkers 0 0 0 0 1E-07 0 0 0 0

Somalia 0 0 0 0 0 5,81E-05 0 0 0

Suriname 0 5,9E-06 2,86E-06 0 0 0 0 2,05E-06 0

St. Pierre and

Miquelon 0 0 0 0 2,5E-06 7,77E-06 9,08E-06 0 0

Serbia 0 0 0 0 6,81E-06 8,37E-06 1,57E-05 1,89E-05 0

Lesotho 0 0 0 0 0 0 0 2,1E-06 0

Eritrea 0 0 0 0 3,1E-06 0 0 0 0

Fiji 0 0 1,51E-07 0 0 1,98E-07 0 0 0

Ghana 0 0 0,001349 0,001128 0,001412 0,000801 0,001073 0,001184 0

Haiti 0 0 0 0 0 0 1,82E-07 0 0

Bosnia and

Herzegovina 0 0 0 1,14E-07 0 3,69E-06 1,21E-07 6,48E-07 0 British Indian Ocean

Territories 0 3,17E-06 0 0 0 0 0 0 0

110

Brunei Darussalam 0 0 0 0 0 0 9,11E-05 3,6E-05 0

Bahrain 0 0 0 0 2E-07 6,59E-08 7,26E-07 9,13E-06 0

Bangladesh 0 0 1,05E-06 1,37E-05 1,54E-05 2,44E-06 2,47E-05 2,45E-05 0

Bermuda 0 0 0 0 2,5E-06 0 0 0 0

Angola 0 0 0 5,38E-06 0 0 0 0 0

Sumber: ITC (diolah), 2010

Lampiran 4. Hasil Perhitungan RCA Negara Eksportir Karet Alam

Tahun RCA

Thailand Indonesia Malaysia

2001 36,7824 25,2444 10,1957 2002 36,9389 26,3007 10,0937 2003 39,115 27,4983 10,1154 2004 37,0104 31,7892 11,2967 2005 34,8757 31,3535 11,2176 2006 33,0682 34,0973 11,1186 2007 30,7482 35,7353 10,1479 2008 30,4816 35,2738 9,7544 2009 30,4425 29,9715 8,67677