• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN PEMBAHASAN

IV.I. Analisis Berita Majalah Mingguan Tempo

4. Analisis Framing Majalah Tempo Edisi 18-24 Juni

Edisi ini adalah edisi kedua Tempo memuat laporan tentang Abu Dujana dan kelompoknya di laporan Utama. Sejak tertangkapnya kelompok Abu Dujana akhir Maret lalu, edisi ini adalah edisi keempat yang memuat berita seputar kasus terorisme kelompok Abu Dujana. Di edisi ini faktor keberimbangan berita sudah lebih baik dari edisi-edisi sebelumnya. Di edisi ini pernyataan dari nara sumber tidak selalu datangnya dari pihak kepolisian, tetapi dari pihak Abu Dujana juga sudah diberi ruang yang cukup demi keberimbangan berita.

Di edisi ini terdapat enam tulisan seputar sepak terjang Abu Dujana dan kelompoknya, ditambah dua hasil wawancara masing-masing dengan Abu Dujana dan istrinya Sri Murdiyati. Kemudian ditutup dengan sebuah tulisan dari Sidney Jones, Direktur Program Asia Tenggara di International Crisis Group.

Tulisan pertama di rubrik opini dengan judul “Abu Dujana dan Teror yang Menyelinap” mengulas tentang betapa cara-cara yang dilakukan Abu Dujana selama ini tidak cocok dengan alam demokrasi seperti Indonesisa. Tulisan ini juga mengulas tentang siapa

orangnya dan apapun profesinya, masyarakat jangan sampai tertipu dengan tampilan luar tersebut. Dan penanganan polisi selama ini sudah cukup baik yaitu dengan metode menyadarkan para teroris.

Tulisan selanjutnya “Bunyi Dor Pada Hari Pencobosan” lebih bercerita seputar penangkapan Abu Dujana dan tersangka lainnya yang ditangkap pada hari yang bersamaan. Tulisan ini juga membahas siapa sebenarnya Abu Dujana dan apa posisinya di tubuh Jamaah Islamiyah serta para petinggi Jamaah Islamiyah yang lain. Begitu juga dengan tulisan ketiga “Si Amir dari Sleman” lebih membahas sosok Zarkasih dan sepak terjangnya selama ini. Sementara itu hasil wawancara dengan istri Abu Dujana, Sri Murdiyati, dengan judul “Suami Saya Ditembak di Depan Anak-anak”, Tempo cukup memberikan ruang pembelaan kepada istri Abu Dujana. Walaupun begitu, yang lebih ditonjolkan Tempo bukanlah pembelaan si istri yang yang keberatan suami dianggap teroris, tetapi proses penembakan terhadap Abu Dujana. Hal yang sama juga diulangi ketika menuliskan hasil wawancara dengan Abu Dujana.

Untuk lebih jelasnya bagaimana Tempo membingkai berita tersangka teroris kelompok Abu Dujana, berikut akan dianalisis menggunakan pisau analisis Framing versi Robert N. Entman.

Define problems: Tempo melihat kasus ini sebagai kasus kejahatan kemanusiaan, karena

orang yang ditangkap polisi adalah otak dari berbagai aksi bom di tanah air. Menurut Tempo penangkapan Abu Dujana akan bisa membuat kelompok ini semakin terdesak. Bahkan saking berbahayanya dan pentingnya Abu Dujana ini, Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, langsung meminpin operasi penangkapan ini. Berikut Tempo menuliskannya:

“Yusron rupanya menjadi incaran polisi, yang telah mengidentifikasi dirinya sebagai Abu Dujana, buron kelas kakap yang dituduh terlibat serangkaian aksi terorisme di tanah air…”

“…Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, yang baru tiba dari Singapura, terbang ke Cilacap menggunakan pesawat khusus polisi, Beecraft 1900D. Dari

Cilacap, kedua jenderal ini meluncur ke Banyumas untuk ikut mengendalikan operasi dari lapangan.”

Hampir semua masalah tentang Abu Dujana dan kelompoknya ini ditarik ke permasalahan kejahatan kemanusiaan. Banyak korban yang telah berjatuhan akibat aksi ini. Dalam tulisan ini juga diingatkan kembali betapa banyaknya korban yang berjatuhan baik di Bali, pemboman JW Marriot, pemboman Kedubes Australia, dan kerusuhan di Poso. Semua ini akibat ulah dari kejahatan kemanusiaan kelompok Abu Dujana. Untuk lebih menegaskannya lagi, tempo memasang foto evakuasi korban pemboman kedubes Australia setengah halaman lebih. Sungguh Tempo ingin menegaskan aksi kelompok Abu Dujana ini adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang memakan banyak korban baik dari warga negara asing maupun WNI. Berikut Tempo menuliskannya :

“Nama Abu Dujana muncul dalam radar polisi setelah peledakan hotel JW Marroit, Jakarta, 5 Agustus, 2003…”

“Polisi betul-betul mengawasi Abu Dujana dengan ketat setelah meletusnya konflik di Poso, Sulawesi Tengah. Dari sejumlah orang tersangka yang ditangkap, polisi menyimpulkan bahwa keterlibatan pria bernama kecil Ainul Bahri itu sangat besar. “Ia mengendalikan pengiriman senjata api, amunisi, bahan peledak, dan bom dari Jawa ke Poso,” kata Surya Darma dalam konferensi pers, Jum’at peka lalu.”

Diagnose Cause: Setelah permasalahan ini jelas diidentifikasi sebagai suatu kasus kejahatan

kemanusiaan, maka tidak sulit mencari siap yang menjadi dalang di balik kejahatan ini. Tempo dengan tegas menyebut Abu Dujana berada di balik semua kejahatan ini walaupun posisinya sebagai penglima perang Jamaah Islamiyah, namun otoritasnya menurut Tempo sangatlah besar. Berikut Tempo menuliskan :

“Jabatan yang dipegang Abu Dujana adalah komandan sariyah. Di bawahnya ada

ishobah, lalu di bawahnya lagi majmuah dan qism dzakiroh, yang mengurus logistik.

Komandan satuan di bawah qoryah ditunjuk oleh Abu Dujana dala pertemuan di Solo, tahun lalu.”

Selain Abu Dujana yang diklaim tempo sebagai biang kejahatan, juga terdapat beberap nama lain yang fungsinya tidak kalah vitalnya dengan yang diperankan oleh Abu

Dujana. Diantaranya ada Zarkasih yang disebut-sebut sebagai amir baru Jamaah Islamiyah, pengendali operasi teror di seluruh Asia Tenggara. Seperti kutipan Tempo berikut ini:

“Dari situ terungkap bahwa Abu Dujana meminpin Sayap Militer Jamaah Islamiyah sejak 2004, ketika pemimpin tertinggi organisasi itu dijabat Adung alias Sunarto bin Kartodiharjo. Terungkap pula bahwa Zarkasih alias Mbah kini adalah pemimpin tertinggi darurat Jamaah Islamiyah, setelah Adung ditangkap polisi di Surakarta pada tahun yang sama.”

Abu Dujana juga diidentikkan sebagai orang yang sangat licin dan susah untuk melacaknya. Beberapa kali dia lolos dari kepungan polisi. Dia juga digambarkan sebagai orang yang lihai menghilangkan jejak dari kejaran polisi, terbukti sudah beberapa kali ia berpindah tempat untuk menghindari kejaran aparat.

Sedangkan untuk polisi, frame yang diberikan Tempo cukup baik. Polisi dianggap telah sukses dalam perang melawan terorisme. Kesuksesan ini tidak hanya dari banyaknya pimpinan kelompok ini yang ditangkap, tetapi polisi juga dinilai berhasil mengubah cara pandang para teroris terhadap garis perjuangan mereka. Berikut Tempo menuliskannya dalam rubrik opininya :

“Kini banyak pujian ditujukan kepada tim antiteror kepolisian, setelah dua pentolan Jamaah Islamiyah Asia Tenggara, Abu Dujana dan Zarkasih, dapat ditangkap.”

Di bagian lain Tempo menuliskan sebagai berikut:

“Dan sejauh ini, polisi juga telah membuktikan bahwa perang melawan teroris bukan saja perang menaklukkan, tetapi juga menyadarkan…”

Moral Evaluation: Penilaian moral yang diberikan Tempo terhadap Abu Dujana dan

anggotanya adalah, kejahatan seperti ini tidak pantas dilakukan karena akan merugikan banyak pihak. Atas dasar apapun itu jika jalan kekerasan yang ditempuh dianggap sangatlah tidak bijak. Dalam hal ini Tempo mengcover cukup banyak prinsip Abu Dujana yang sudah mulai tidak setuju dengan jalan kekerasan yang ditempuh Noor Din M Top. Berikut Tempo menuliskannya:

“Menurut seorang penyidik, Abu Dujana selama pemeriksaaan sepanjang pekan lalu mengakui adanya pertemuan itu. Namun ia mengaku tidak setuju dengan pengeboman Marriot dan sempat ribut dengan Noor Din serta Azhari. “Abu Dujana mengaku mempertanyakan alasan Noor Din dan Azhari mengebom Marriot,” kata penyidik itu kepada Tempo.”

Selain itu, Tempo juga cukup kritis menilai polisi yang ketika membekuk Abu Dujana harus melumpuhkannya dengan tembakan. Padahal yang bersangkutan sudah menyerah. Mungkin berita Tempo seperti juga dipengaruhi oleh surat kabar harian yang terlebih dahulu mengutuk tindakan polisi yang menembak kaki Abu Dujana, padahal dia sudah menyerah. Berikut bagaimana Tempo menuliskannya, walaupun itu melalui pernyatan istri Abu Dujana Sri Murdiyati :

“Tiba-tiba sebuah mobil memepet Yusron dan tiga anaknya. Seorang penumpang yang ternyata anggota Satuan Tugas Bom Kepolisian, meminta pria yang dikenal tetangganya sebagai pedagang kelontong itu turun. Lalu terdengar tembakan. Paha kiri Yusron tertembus peluru.. Menurut polisi, ia didor karena hendak lari. Tapi kepada Erwin Dariyanto dari Tempo, kamis pekan lalu, istrinya menuturkan bahwa Yusron ditembak setelah menuruti perintah untuk berjongkok dan angkat tangan.” Dari kutipan di atas bisa dilihat tempo cukup berimbang memberitakan kronologis penangkapan Abu Dujana alias Yusron. Tidak seperti berita-berita sebelumnya yang sangat sedikit memberikan ruang untuk pembelaan terhadap Abu Dujana. Pada edisi ini fakta yang ditonjolkan cukup berimbang dari kedua belah pihak.

Treatment Recommendation: Atas semua peran yang dimainkan oeh Abu Dujana dan

kelompoknya serta dampak yang telah dirasakan akibat perbuatan mereka, Tempo merekomendasikan agar kasus ini ditangani oeh pihak kepolisian. Mengingat jaringan ini cukup berbahaya. Dan kepada masyarakat, Tempo mencoba untuk menggiring masyarakat agar membantu setiap upaya yang dilakukan pihak kepolisian dalam membongkar jaringan ini. Berikut Tempo menggambarkannya melalui tulisan Sidney Jones:

“Kita harus memuji kerja polisi dalam penangkapan Abu Dujana dan sejumlah tersangka lain. Namun, jejaring teroris tidak mudah dibasmi. Jika rakyat ingn larangan

berkunjung ke negeri ini dicabut dan citra Indonesia sebagai surga pariwisata kembali bersinar, bagian-bagian lain dari pemerintahan harus mulai ikut memikirkan beban ini.”

Framing Majalah Tempo Edisi 18-24 Juni 2007

Problem Identification Kasus kejahatan kemanusiaan

Diagnose Causes Abu Dujana sebagai panglima perang Jamaah Islamiyah harus bertanggungjawab terhadap semua ini, karena semua yang terjadi atas sepengetahuan dan restunya.

Polisi dinilai cukup berhasil dalam mengatasi masalah ini. Tidak hanya itu polisi dinilai mampu menggoyahkan keyakinan para teroris selama ini.

Moral Evaluation Kejahatan ini tidak pantas dilakukan oleh Abu Dujana dan kelompoknya atas alasan apapun, karena banyak pihak yang jadi korban dan dirugikan oleh tindakan ini. Polisi juga diminta mengetengahkan cara-cara yang lebih manusiawi dengan tidak menembak orang yang telah menyerah.

Treatment Recommendation Menyerahkan kepada polisi penyelesaiannya. Serta minta dukungan masyarakat untuk terus mengungkap dan membasmi tindakan terorisme.

5. Judul Berita : Bahasa Rahasia Kelompok Mbah Edisi : 25 Juni- 1 Juli 2007

Pada edisi ini hanya satu laporan yang memuat berita pasca tertangkapnya Abu Dujana. Berita dimulai dengan cerita tentang pemindahan para tersangka dengan sebuah

pesawat khusus polisi dari Yogyakarta ke Jakarta. Para tersangka yang diyakini sebagai bawahan Abu Dujana ini semuanya dipindahkan ke Jakarta. Sedangkan Abu Dujana beserta Zarkasih alias Mbah masih ditahan di Yogykarta untuk keperluan pengembangan penyelidikan.

Dalam pemberitaan ini Tempo mencoba menjelaskan kepada pembaca siapa sebenarnya Abu Dujana dan Zarkasih. Tempo, mencoba menceritakan latar belakang Zarkasih atau Mbah yang pernah mengikuti Pelatihan Militer Mujahidin di Afghanistan dan Filipina Selatan.

Cerita lebih dititikberatkan pada Zarkasih. Mulai dari aktivitasnya, jaringan yang dipimpinnya, para pengikutnya, dan orang-orang yang selalu berada di sekitar Zarkasih. Sayangnya semua keterangan itu diperoleh Tempo melalui hasil pemeriksaan polisi kepada tersangka. Artinya, dari mulut para polisilah Tempo mendapatkan ceritanya.

Dalam pemberitaan ini juga dibeberkan beberapa bahasa rahasia atau bahasa sandi yang kerap digunakan para tersangka untuk menyebut beberapa daerah yang sering dijadikan tempat pertemuan. Selain itu, Tempo juga memberitahukan bahwa Abu Dujanalah yang mengatur penyimpanan senjata dan bahan peledak kelompok ini. Serta beberapa pertemuan kelompok ini sebelum tertangkapnya beberapa anggota Abu Dujana dalam aksi penukaran senjata di Yogyakarta yang menjadi pintu masuk bagi polisi untuk mengendus keberadaan kelompok ini.

Tak lupa pemberitaan kali ini sedikit menyinggung hubungan kelompok Abu Dujana dengan Noor Din M Top. Ditambah lagi dengan sikap Abu Dujana serta garis perjuangan Abu Dujana yang tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukan oleh Noor Din M Top.

Tabel Uraian Frame Tempo Edisi 25 Juni- 1 Juli 2007

1 Bahasa Rahasia Kelompok Mbah

Berita bercerita seputar pemindahan tersangka teroris dari Yogyakarta ke Jakarta. Latar belakang Zarkasih alias Mbah serta perannya di Jamaah Islamiyah. Juga dimuat sikap Abu Dujana terhadap garis perjuangan Noor Din M Top.

Sisno Adiwinoto (juru bicara Mabes Polri), Achmad Michdan (Ketua Tim Pengacara Muslim), Sarwo Edi (tersangka teroris yang sudah tertangkap), Beberapa polisi yang

namanya tidak disebutkan.

Dari pemilihan judul yang dimuat Tempo, seakan ingin menyampaikan bahwa dalam setiap aksinya, kelompok ini menggunakan bahasa yang tidak dimengerti orang awam. Tetapi pembahasan tentang bahasa rahasia ini hanya sedikit sekali, hanya satu paragraf dari 21 paragraf berita ini . Berita lebih diarahkan kepada pengenalan sosok Zarkasih alias Mbah yang digambarkan sebagai orang yang telah kenyang pengalaman dalam peperangan di medan jihad.

Dari pemilihan kata-kata untuk menggambarkan Zarkasih, Tempo berusaha untuk memilih kata ganti untuk menyebut Zarkasih yang menguatkan pernyataan bahwa Zarkasih adalah alumnus perang dari berbagai negara. Seperti pernyataan Tempo berikut ini

“Nama Zarkasih diumumkan polisi pada Jumat pekan lalu, hampir sepekan setelah penangkapannya, Namun aparat sebenarnya sudah mencium jejaknya sebulan lalu. Nama dan posisi alumni Akademi Militer Mujahidin Afganistan ini bahkan sudah ditanyakan kepada Sarwo Edi dan Sutarjo alias Ayyasy, tersangka yang ditangkap pada 20 Maret lalu di Yogyakarta”

Berita ini menampilkan sebuah foto Abu Dujana yang mengenakan baju koko putih dengan tangan terbelenggu. Tidak jelas sebenarnya maksud pemilihan foto ini karena tidak berhubungan langsung dengan berita yang disajikan

Untuk pemilihan nara sumber, Tempo terlihat sangat tidak berimbang. Hanya dua pernyataan nara sumber dari pihak tersangka. Yaitu, dari Tim Pengacara Muslim dan Sarwo Edi. Selebihnya pernyataan dari pihak kepolisian. Bahkan lebih parahnya lagi pernyataan dari tersangka yang sebaiknya langsung keluar dari mulut tersangka malah diambil melalui pernyataan polisi. Apapun itu pernyataan tersangka, kalau sudah melalui mulut polisi sudah pasti pernyataan yang muncul akan mendukung segala tindakan polisi. Berikut akan dilihat bagaimana Tempo membingkai kasus ini.

Define problems: Edisi Tempo kali ini melihat bahwa apa yang dilakukan oleh kelompok

Abu Dujana, yaitu pengumpulan dan kepemilikan senjata adalah masalah pelanggaran hukum. Dan oleh sebab itu para pelakunya sudah seharusnya ditindak dan ditangkap. Dan semua prosedur yang dilakukan oleh polisi, mulai dari penangkapan dan pemindahan tahanan dari Yogyakarta ke Jakarta semata-mata hanya untuk membongkar jaringan kelompok Abu Dujana. Berikut Tempo menuliskan :

“Sisno Adiwinoto, juru bicara Markas Besar Kepolisian, menyatakan Abu Dujana dan Mbah masih dibutuhkan untuk pengembangan penyelidikan. “Mereka tetap diperlukan di lapangan,” katanya. Ia juga mengumumkan penangkapan tersangka lain yaitu Ruri alias Taufik Kondang (40), yang disebut-sebut sebagai seorang petinggi Jamaah Islamiyah.”

Di paragraf berikutnya Tempo menambahkan :

“Abu Dujana mengatakan kepada polisi bahwa pemindahan senjata itu dilakukan untuk menghindari kejaran aparat. Tapi ternyata rencana itu sudah dicium aparat. Ayyasy dan kawan-kawan disergap. Agus Suryanto dan Saro Edi ditembak. Agus tewas sedangkan Sarwo terluka di pinggang. Kelompok Zarkasih dan Abu Dujana semakin tersisih”

Dalam pemberitaan juga disebutkan kepada siapa saja senjata itu dikirim. Dari sini Tempo juga mengurai jaringan Abu Dujana dan Mbah. Permasalahan hukum sangat dominan dalam pemberitaan ini. Hal ini bisa dilihat dari beberapa nara sumber yang diambil. Diantaranya dari Tim penyidik Mabes Polri, Tim Pengacara Muslim, dan beberapa polisi yang terlibat walaupun nama mereka tidak disebutkan.

Diagnose Causes: Setelah kasus ini jelas diposisikan sebagai kasus pelanggaran hukum.

Maka tidak sulit untuk menemukan pelakunya. Dalam kasus ini kelompok Abu Dujana dan Zarkasih alias Mbah diposisikan sebagai penyebab masalah. Mereka berdualah orang yang diduga menciptakan kekacauan di beberapa tempat seperti di poso. Zarkasih dianggap pelatih militer dari para bawahannya. Untuk hal ini tempo menuliskannya sebagi berikut:

“Sisno Adiwinoto, juru bicara Markas Besar Kepolisian, menyatakan Abu Dujana dan Mbah masih dibutuhkan untuk pengembangan penyelidikan. “Mereka tetap diperlukan di lapangan,” katanya. Ia juga mengumumkan penangkapan tersangka lain yaitu Ruri alias Taufik Kondang (40), yang disebut-sebut sebagai seorang petinggi Jamaah Islamiyah.”

Namun, untuk memenuhi konsep keberimbangan dalam berita (cover both side), Tempo tetap memberikan porsi dari pihak Abu Dujana yang diwakili oleh Achmad Michdan dari Tim Pengacara Muslim. Achmad Michdan membantah bahwa Zarkasih sebagai pimpinan Jamaah Islamiyah. Malah menurutnya polisi terlalu membesar-besarkan masalah ini. Padahal manurutnya, polisi harus mencari kejahatan para tersangka dan bukan kaitannya dengan Jamaah Islamiyah.

Walaupun pernyataan dari pihak Abu Dujana dan Zarkasih diberi ruang dalam pemberitaan ini, namun porsinya tidak sebanding dengan ruang yang diberikan untuk pihak kepolisian yang terligat sangat besar. Dari sini terlihat jelas bahwa Tempo mencoba mengarahkan pembaca dengan frame yang dibuatnya bahwa Abu Dujana dan Zarkasih adalah orang di balik peristiwa ini

Moral Evaluation: Penilaian atas Abu Dujana dan Zarkasih sebagai penyebab masalah

adalah sama-sama negatif. Penilaian moral terhadap Abu Dujana ditekankan bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu tindakan yang salah dan melanggar. Mulai dari kepemilikan senjata kemudian mengorganisirnya untuk didistribusikan ke berbagai daerah. Begitu juga dengan possisi Abu Dujana sebagai salah seorang petinggi Jamaah Islamiyah. Sedangkan penilain moral yang diberikan kepada Zarkasih kurang lebih sama dengan Abu Dujana.

Bedanya mungkin untuk Zarkasih adalah seputar keterlibatannya di pelatihan militer di beberapa negara. Dan keterlibatan inilah yang nantinya dibawa oleh Zarkasih ke tanah air untuk kemudian menyebarkan keyakinan tersebut.

Sedangkan untuk polisi penilaian moral yang diberikan cenderung baik. Karena apa yang dilakukan polisi adalah untuk melemahkan para teroris. Walaupun terkadang caranya sudah tidak manusiswi lagi. Penembakan terhadap Sarwo Edi sampai mati ketika penyergapan dianggap bukanlah suatu pelanggaran HAM atau sejenisnya. Karena Sarwo digambarkan sebagai penjahat yang melakukan perlawanan dan eksekusi terhadapnya adalah tindakan yang benar. Tempo dalam berita ini sangat mengelu-elukan setiap tindakan yang dilakukan polisi. Hal ini bisa terlihat dari beberapa paragraf pemberitaannya.

Treatment Recommendation: Atas semua sepak terjang jaringan kelompok Abu Dujana di

tanah air dan efek yang akan ditimbulkannya nanti. Tempo mencoba merekomendasikan agar kasus ini ditangani oleh polisi dan mengungkapnya sedalam-dalamnya. Sedangkan untuk masyarakat, Tempo secara tersirat mengajak untuk memaklumi setiap tindakan yang dilakukan polisi, karena apapun yang dilakukan tidak ada tujuan apapun kecuali untuk mengungkap jaringan Abu Dujana. Tempo juga tidak lupa untuk mengingatkan agar berhati- hati terhadap kelompok ini.

Framing Tempo Edisi 25 Juni- 1 Juli 2007

Problem Identification Masalah pelanggran hukum

Diagnose Causes Abu Dujana dan Zarkasih adalah penyebab tindakan terorisme, sedangkan pihak kepolisian adalah pihak yang sedang menjalankan tugasnya dengan semua tindakan yang diambil terhadap tersangaka

Moral Evaluation Tindakan teroris sangat membahayakan dan masyarakat harus berhati-hati, sedangkan tindakan polisi harus didukung

Treatment Recommendation Menyerahkan kepada kepolisian untuk terus mengungkap dan membasmi tindakan terorisme.

BAB V

Dokumen terkait