• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki

BAB IV PROFIL HARIAN TANGSEL POS DAN TEMUAN ANALISIS

B. Analisis Framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki

Struktur sintaksis berkaitan dengan bagaimana cara wartawan merangkai peristiwa di dalam sebuah berita.

a. Judul

Judul dari Harian Tangsel Pos pada edisi 22 Mei 2013 yaitu “MUI Dukung Miras Dilegalkan”. Judul yang dibuat di pemberitaan ini menonjolkan MUI sebagai subjek, dengan menggunakan MUI sebagai lembaga Islam yang dibingkai mendukung pelegalan miras. Penempatan MUI dalam judul dianggap mempunyai nilai jual dan menarik bagi khalayak sebagai informasi. Pernyataan dari M. Istijar Nusantara selaku Redaktur Pelaksana Harian Tangsel Pos juga memperkuat perihal tersebut, seperti dalam kutipan wawancara berikut ini:

“...MUI pada sasaran Majelis Ulama yang berkaitan dengan

yang halal dan haram,dianggap memiliki nilai jual, karena MUI sebagai lembaga agama, ia juga mendukung pelegalan miras. Kenapa demikian, dijelasin pada beritanya bahwa yang dimaksud melegalkan itu adalah mendukung Perda peraturan retribusi miras.”12

Suatu berita bisa dikatakan memiliki nilai jual apabila berita itu mengandung sesuatu yang akan menarik minat pembaca untuk membacanya bahkan berawal dari judulnya saja, seperti dalam pemaparan M. Istijar selaku Redaktur Pelaksana Harian Tangsel Pos, bahwa dengan menekankan MUI yang disandingkan dengan isu miras menjadikan sesuatu yang kontras pada judulnya karna antara MUI yang merupakan majelis penghimpun ulama muslim Indonesia untuk membuat kebijakan dakwah serta

12

mengeluarkan fatwah berkaitan dengan hukum Islam13, malah mendukung pelegalan miras yang faktanya dalam Islam miras itu diharamkan. Dengan demikian judul inimenjadikan kekontrasan atau pertentangan dalam konteks isu miras. Hal itulah menjadikan berita ini memiliki nilai jual untuk menarik perhatian pembaca.

b. Lead

Lead yang digunakan oleh Tangsel Pos sebagai berikut: “...Serpong,

Tapos. Majelis Ulama Indonesia (MUI) setuju dengan rencana Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkod Tangsel) untuk melegalkan minuman keras (miras). Dukungan itu bertujuan agar miras tidak dijual di sembarang tempat...” (paragraf 1)

Jenis lead yang digunakan Harian Tangsel Pos ialah lead who (teras berita siapa) yaitu teras berita yang menempatkan seseorang baik individu seperti tokoh penting, public figure, selebritis, orang terkemuka atau orang yang punya kedudukan dan juga institusi seperti lembaga pemerintah, organisasi, perusahaan dan lain-lain.14 Penggunakan lead who dalam berita ini untuk menggambarkan sebuah lembaga yaitu MUI yang menunjukkan dukungannya kepada Pemkot Tangsel terkait pelegalan miras. Teks dimaksud untuk menarik minat pembaca dengan langsung menjelaskan bahwa MUI mendukung program Pemkot Tangsel untuk melegalkan miras serta menuliskan tujuan MUI dalam mendukung pelegalan miras tersebut

13

MUI, Tujuan dan Fungsi MUI, artikel diakses pada 7 Maret 2014 dari http//:www.mui.or.id.

14

Suhaimi, M.Si dan Ruli Nasrullah, M.Si. Bahasa Jurnalistik (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009).

yaitu agar miras tidak dijual di sembarang tempat, hal tersebut diasumsikan dapat membatasi konsumen dan peredaran miras di Tangerang Selatan.

c. Background

Latar belakang mengenai dukungan MUI terhadap pelegalan miras untuk melokalisasi atau menertibkan penjualan miras khususnya di Tangerang Selatan. Berikut kutipan pemberitaan Harian Tangsel Pos mengenai hal tersebut: “...Sekertaris MUI Tangsel Abdul Rajak berpendapat, dengan melegalkan miras, tidak semua wilayah atau toko-toko mini market yang memiliki kewenangan menjual miras....” (paragraf 2)

Kutipan di atas merupakan pernyataan dari Abdul Rajak yang merupakan sekertaris MUI Tangerang Selatan. Melalui pernyataan Abdul Rajak, Tangsel Pos menjelaskan kepada para pembaca bahwa dengan melegalkan miras, bukan berarti MUI mendukung hal yang dilarang dalam Islam, tetapi menegaskan bahwa dengan diaturnya lokalisasi miras tidak semua orang dapat menjual dan membelinya disembarang tempat,tetap ada aturannya dimana tempat-tempat yang diberi kewenangan untuk menjualnya, siapa yang boleh mengkonsumsinya serta batasan umur berapa yang boleh membeli miras. Hal ini tampak pada kalimat yang menekankan bahwa melegalkan miras bertujuan untuk menertibkan penjualan miras di Tangerang Selatan. Berikut kutipannya: “...MUI menekankan, dalam rencana melegalkan miras itu, aturan tentang miras harus betul-betul mengatur hingga detail, seperti umur pembeli miras, toko penjual miras, dan pihak-pihak yang boleh mengkonsumsi miras...” (Paragraf 3)

d. Kutipan Sumber

Pemberitaan ini menggunakan kutipan wawancara dari Abdul Rajak selaku sekertaris MUI dan Fery Payacun selaku Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel mengenai rencana pelegalan miras dan aturan-aturan yang berlaku di Tangerang Selatan untuk menertibkan miras. Pemilihan kedua narasumber ini dapat dimaknai bahwa Harian Tangsel Pos ingin menunjukkan adanya dukungan dari lembaga agama dan pemerintah untuk melegalkan miras, selain itu penggunaan kedua narasumber tersebut menjadikan berita lebih terpercaya karena menggunakan narasumber yang kredibel di bidangnya. Abdul Rajak mengatakan bahwa dalam rencana melegalkan miras ini, harus jelas regulasinya, dari mulai penjualannya, umur pembeli dan siapa saja yang dapat mengkonsumsinya. Berikut kutipannya:

“Harus betul-betul jelas regulasinya. Dimana yang diperbolehkan untuk menjual, konsumen yang boleh beli usia berapa, ini harus diatur. Sehingga tidak semua orang bisa mengonsumsi dan membeli miras tersebut Jadi harus jelas seperti di negara-negara maju,

ungkap Rajak.” (paragraf 4)

Harian Tangsel Pos memberikan penekanan dari pernyataan Abdul Rajak dengan pemilihan kalimat “seperti di negara-negara maju”. Kalimat

tersebut memberikan asumsi bahwa di negara-negara maju aturan tentang miras sangat jelas dan pelaksanaannya benar-benar terkendali, sehingga tidak adanya penyalahgunaan dalam kebijakan ini. Abdul Rajak berharap agar Pemkot benar-benar serius dalam menangani peraturan ini agar tidak terjadi kesalahan.

Sementara pernyataan dari Fery Payacun lebih menjelaskan kepada mirasnya. Fery berpendapat bahwa Perda miras ini dibuat untuk mengamankan motto Tangerang Selatan yang religius, dengan mengatur regulasi miras. “...Perda ini untuk mengamankan motto Tangsel yang

religius untuk mengatur regulasi tempat mana saja yang bisa menjual...”

(paragraf 10)

Fery berpendapat dengan mengatur regulasi miras maka motto Tangsel yang ingin menjadikan kota religius berdasarkan iman dan takwa tetap terjaga. Regulasi yang berfungsi mengendalikan perilaku masyarakat dengan aturan atau batasan yang menggambarkan bahwa narasumber ingin menegaskan aturan-aturan tentang miras dengan jelas.

Sejalan dari pernyataan diatas, Fery Payacun menjelaskan tentang peraturan yang akan diterapkan oleh Pemerintah. Berikut kutipannya: “...Di dalam Raperda diatur mereka berjualan di hotel untuk golongan B dan C hotel dan restoran yang bertanda khusus, ungkapnya. (paragraf 12)

Dari kutipan diatas Fery Payacun menjelaskan bahwa ada tempat-tempat tertentu yang diperbolehkan untuk menjual miras dengan jenis-jenis atau golongan tertentu seperti penjualan miras di hotel, golongan miras yang diperjualkan adalah golongan B yaitu alkohol dengan kadar etanol (C2H5OH) sebanyak 5 sampai 20 persen, dan golongan yang bertanda khusus diperbolehan menjual miras yang bergolongan C, yaitu minuman beralkohol dengan kadar etanol (C2H5OH) sebanyak 20 sampai dengan 50 persen.15

15

Peraturan Daerah Kota Tanggerang Selatan Nomor 9 Tahun 2008 tebtabf Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.

e. Penutup

Pada bagian akhir penutup, Tangsel Pos mengambil pernyataan dari Fery Payacun, Kabid Disperindag Kota Tangsel. Pernyataan ini menjelaskan bahwa peraturan daerah tentang miras pada dasarnya sudah ada sejak dulu, jadi Perda ini merupakan Perda lanjutan dari Perda sebelumnya. “...Selain itu aturan ini juga merupakan kelanjutan dari Perda warisan Pemda Kabupaten Tangerang. Seperti Perda Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol...” (paragraf 17)

Harian Tangsel Pos menggunakan penekanan pada kata “warisan”

yang mana pemberi tanda petik atau kutip yang bermaknakan bahwa Perda ini merupakan Perda peninggalan dari Pemda Tangerang sebelumnya. Dalam framing bagian penutup juga terbilang penting karena inti dari sikap media itu terlihat, dengan fakta yang dihadirkan media untuk memperkuat pembingkaian mereka. Hal ini nampak pada bagian penutup, Tangsel Pos ingin menunjukan bahwa peraturan miras ini telah diatur berdasarkan hukumdengan menuliskan Perda Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.

2. Struktur Skrip (Kelengkapan Berita) Tabel 4

Kelengkapan Berita dari Harian Tangsel Pos

Perangkat Framing Hasil pengamatan pada berita di harian Tangsel Pos

What Majelis Ulama Indonesia (MUI) setuju dengan rencana

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) untuk melegalkan minuman keras (miras).

Where Tangerang Selatan

When -

Who MUI

Why Pelegalan miras dilakukan untuk menertibkan miras agar tidak dijual di sembarang tempat.

How Pemkot mengeluarkan Perda tentang Pelengalan miras dan mendapat dukungan dari lembaga agama MUI. Menurut MUI Perda ini dibuat untuk menertibkan lokalisasi miras serta siapa saja yang memiliki kewenangan untuk menjual miras.

Struktur skrip merupakan bagaimana cara wartawan menceritakan sebuah peristiwa secara lengkap. Jika dilihat dari struktur skrip, pemberitaan Harian Tangsel Pos belum memenuhi unsur 5W1H. Pernyataan lembaga Islam (MUI) dan Pemkot Tangsel yang mendukung dan menjabarkan tentang peraturan yang akan ditetapkan, ditampilkan dengan lengkap.

Kelengkapan berita pada Harian Tangsel Pos dapat dilihat sebagai berikut,

melegalkan miras), where (dimana pelegalan miras itu ditetapkan: perda pelegalan miras ini akan ditetapkan di Kota Tangerang Selatan), who (siapa narsumber yang berkaitan dalam berita: narasumber sekaligus yang menjadi perberitaan dalam berita ini adalah MUI yang diwakili oleh Abdul Rajak selaku Sekertaris MUI), why (kenapa perlu dilakukan pelegalan atau peraturan tentang miras: pelegalan miras ini dilakukan untuk menertibkan tempat-tempat yang menjual miras di Tangerang Selatan serta peraturan siapa saja yang boleh mengkonsumsi miras), how (uraian singkat tentang peristiwa yang terjadi dalam berita: Pemkot Tangerang Selatan mengeluarkan wacana tentang pelegalan miras, hal tersebut mendapat dukungan dari lembaga agama Islam yaitu MUI. MUI berdalih bahwa pelegalan ini justru untuk mengatur lokalisasi penjualan miras agar dapat terkendali). Dengan cara ini Harian Tangsel Pos menekankan kepada pembaca bahwa argumen dari lembaga Islam dan Pemerintah sama-sama mendukung pelegalan miras dengan aturan yang sudah ditetapkan. Dengan menggunakan unsurberita Harian Tangsel Pos bermaksud untuk memberikan penjelasan kepada pembaca agar mudah memahami isi berita.

3. Struktur Tematik a. Koherensi

Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami isi pesan yang dihubungkannya. Pada berita ini Harian Tangsel Pos menggunakan koherensi dalam teks berita yaitu: “...Harus betul-betul jelas regulasinya. Dimana yang diperbolehkan untuk menjual, konsumen yang

boleh beli usia berapa, ini harus diatur. Sehingga tidak semua orangbisa

mengonsumsi dan membeli miras tersebut...” (paragraf 4)

Teks diatas menggunakan koherensi simpulan,berarti kata-kata yang mengacu kepada hasil atau simpulan. Tangsel Pos menggunakan koherensi ini menjelaskan perlunya regulasi miras, dimana saja tempat-tempat yang diperbolehkan menjual miras dan usia pembeli supaya tidak semua orang mengkonsumsi dan membeli miras.

Kemudian koherensi kedua dari Harian Tangsel Pos menggunakan koherensi pembeda (kontras) Berikut kutipannya: “...Menurut Rajak secara prinsip dahlil apa pun, miras tidak diperbolehkan karena dapat merusak akal. Walaupun di jaman Nabi Muhamad miras ada manfaatnya namun

sedikit...” (paragraf 6)

Teks diatas menunjukkan adanya koherensi pembeda (kontras) yang menggambarkan kalimat satu dipandang kebalikan atau lawan dari kalimat berikutnya dengan penggunaan kata walaupun dan namun. Tangsel Pos mengambil pernyataan dari Abdul Rajak selaku sekertaris MUI dengan

menyatakan “...miras tidak diperbolehkan karena dapat merusak akal

Walaupun di jaman Nabi Muhammad miras ada manfaatnya namun

sedikit”. Dengan menggunakan koherensi kontras tersebut, Tangsel Pos

menggiring pembaca untuk memahami bahwa ada isi pesan yang ingin disampaikannya dengan terlihat objektif tapi justru hal tersebut menguatkan bingkai dari Tangsel Pos.

Kemudian koherensi yang ketiga menggunakan koherensi penjelas. Pada koherensi penjelas ini memandang kalimat satu sebagai kalimat

penjelas dari kalimat lain. Koherensi ketiga ini digunakan Tangsel Pos untuk menjelaskan pelegalan yang dilakukan adalah untuk mengatur dan membatasi penjualan miras di Tangerang Selatan. Berikut kutipannya:

“...Dia mengatakan, dengan nantinya ada Perda ini, bukan berarti Pemkot Tangsel melakukan sebuah pelegalan miras, namun untuk mengatur dan membatasi keberadaan tempat penjualan miras di Kota Tangsel ini...”

b. Bentuk Kalimat

Bentuk kalimat yang terdapat pada paragraf pertama bersifat aktif serta menggunakan kata dari umum ke khusus yang mana paragraf utama telah menyimpulkan maksud dan inti dari sebuah pemberitaan. “...Majelis Ulama Indonesia (MUI) setuju dengan rencana Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) untuk melegalkan minuman keras (miras)...” (paragraf 1)

Harian Tangsel Pos menggunakan bentuk kalimat berpola aktif agar berita terlihat hidup dan aktual serta pembaca lebih memahami isi pesan yang ingin menjelaskan pelegalan seperti apa yang dimaksud oleh MUI terkait dukungannya tersebut. Penggunaan bentuk kalimat aktif oleh Tangsel pos menjadikan MUI sebagai subjek atas pernyataannya. Teks berita tersebut diletakkan pada inti kalimat dengan meletakkan kalimat utama lalu kalimat penjelas, sehingga dapat dipaparkan secara jelas alasan MUI mendukung pelegalan miras, dan mekanisme peredarannya.

“...Sekertaris MUI Tangsel Abdul Rajak berpendapat, dengan melegalkan miras, tidak semua wilayah atau toko-toko mini market yang memiliki kewenangan menjual miras...”(paragraf 2), kutipan paragraf kedua merupakan pengembang paragraf pertama. Dukungan MUI pada pelegalan

miras yang terdapat dalam paragraf pertama, pada paragraf kedua lebih menjelaskan alasan MUI mendukung Perda tersebut untuk mengatur peredaran miras agar lebih terkendali.

4. Struktur Retoris

Struktur retoris membuat citra, meningkatkan penonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita, menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan. Pada bagian retoris ini Harian Tangsel Pos memberikan penonjolan pada unsur grafis atau gambar dari sekertaris MUI Abdul Rajak.

a. Leksikon

Leksikon berarti pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa. Penekanan unsur leksikon pada kata dilegalkan berati dukungan untuk mengatur peredaran miras. Sementara dalam kamus bahasa Indonesia, legal berarti sah menurut undang-undang. Pelegalan yang telah diatur oleh Perda Pemkot Tangsel bukan pelegalan secara bebas. Hal ini dijelaskan dalam kutipan wawancara oleh bapak Muhammad Istijar Nusantara:

“selama ini miras tidak dilegalkan tapi penyebarannya seakan

akan dilegalkan, makanya ada berita MUI mendukung Perda pengaturan tentang miras sehingga peredaran-peredaran miras itu terjaga. Dimana saja yang harus diedarkan tempat-tempatnya dalam sebuah peraturan, oleh karena itu dibuat sebuah berita, terlebih Pemkot juga ingin mengambil retribusi dari minuman keras.”16

“...Isu miras adalah isu biasa, isu bisnis bahwa bisnis yang dibayar kaum urban disini juga banyak kaum petani yang biasa minum

miras, dan itu menjadi sumber pendapatan PAD.”17

16

Wawancara langsung dengan Muhammad Istijar Nusantara, Tangerang 8 Juli 2013.

17 Ibid.,

Dari pernyataan diatas bisa dijelaskan bahwa disini Harian Tangsel Pos mencoba mengartikan kata dilegalkan ini bisa berarti mengatur dan menjaga peredaran miras. Dalam pemilihan kata legal selain berita atau judul nampak menarik serta sahih, juga merepresentasikan sikap MUI untuk mendukung Perda itu secara tegas.

Selain itu terdapat lebel otoritas ketokohan, yakni terdapat kata

“Sekertaris MUI Tangsel” pada Abdul Rajak, dan “Kabid Perindustrian

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel” pada

Fery Payacun. Otoritas ketokohan tersebut digunakan untuk memberi penegasan kepada khalayak bahwa mereka layak berbicara mengenai isu pelegalan miras di Tangerang Selatan ini.

b. Grafis

Gambar 1018

Foto Sekretaris MUI Tangsel Abdul Rajak

Sumber: Harian Tangsel Pos edisi 22 Mei 2013.

Foto digunakan untuk mendukung pemberitaan, menonjolkan kesan yang ingin disampaikan oleh media. Foto yang terdapat dalam artikel ini adalah gambar dari Abdul Rajak, seorang tokoh dalam sebuah lembaga yaitu MUI dengan posisi sebagai sekertaris MUI Tangsel. MUI sendiri merupakan majelis yang menghimpun ulama muslim Indonesia untuk

18

membuat kebijakan dakwah Islam serta mengeluarkan fatwah berkaitan dengan hukum Islam sehingga disini Harian Tangsel Pos menaruh gambar dari perwakilan MUI dan menjadikannya narasumber. Hal ini diperkuat oleh adanya pernyataan dari bapak Muhammad Istijar Nusantara:

“Karena narasumbernya dia, makanya dipakainya penegasan. Kalo dalam ilmu media itu ada framing, kita menggunakan penegasan inilah kita munculkan, kita tonjolkan wajahnya Abdul Rajak sebagai narasumber bahwa, perda ini yang jadi narsum itu Abdul Rajak, yang ditonjolkan adalah Abdul Rajak sebagai narsum tentang MUI mendukung miras dilegalkan dalam arti, MUI mendukung tentang retribusi miras di Tangerang Selatan.”19

Dari pernyataan diatas menunjukkan bahwa Tangsel Pos ingin merepresentasikan Abdul Rajak selaku perwakilan dari MUI. Terkait kebijakannya yang menyetujui untuk mendukung pelegalan atau lebih tepatnya retribusi miras di Tangerang Selatan. Tangsel Pos menggunakan Abdul Rajak sebagai representasi dari MUI untuk mendukung atau menguatkan pembingkaiannya.

Dari analisis teks diatas menunjukkan bahwa secara garis besar faktanya yang lebih ditonjolkan dalam berita terletak pada frame Harian Tangsel Pos berbicara mengenai MUI yang mendukung pelegalan miras. Pada dasarnya MUI menjadi subjek utamanya dalam berita tersebut.

Harian Tangsel Pos memaknai berita ini sebagai sebuah peraturan pemerintah yang akan mengatur lokalisasi penyebaran miras dengan melibatkan dukungan dari lembaga agama padahal miras sendiri berdampak luas bagi kehidupan masyarakat yang mana miras merupakan isu sosial yang menjadi sumber penyakit masyarakat dan berpotensi mengganggu

19

ketertiban. Selain itu unsur grafis yang dimunculkan oleh Harian Tangsel Pos berupa foto dari Abdul Rajak selaku sekertaris MUI dipilih untuk dimunculkan dalam berita tersebut untuk lebih menguatkan frame dari Harian Tangsel Pos bahwa MUI mendukung atas wacana Pemkot Tangerang Selatan.

Dokumen terkait