BAB IV PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN DATA
B. Pembahasan Data
2. Analisis Gender Novel Mataraisa
Analisis gender dalam novel Mataraisa karya Abidah El-Khalieqy
terdiri atas identifikasi tokoh perempuan dan kedudukannya dalam
masya-rakat, kekerasan emosional tokoh utama perempuan, perempuan sebagai
subjek aktif, pemahaman masyarakat tentang gender dan seks, dan
pandangan agama yang membebaskan dan transformasi perempuan.
Data-data tentang analisis gender dalam novel Mataraisa karya Abidah El-
Khalieqy disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 3
Analisis Gender Novel Mataraisa
No. Analisis gender Halaman
1. Identifikasi tokoh perempuan dan
kedudukannya di masyarakat.
16, 28, 35, 38, 88, 68, 89, 116, 117, 140, 193, 251.
2. Kekerasan emosional tokoh utama
perempuan.
16, 119, 324,
3. Perempuan sebagai subjek aktif. 12, 14, 17, 19, 47-48, 61,
88, 89, 92, 150, 216, 254.
4. Pemahaman masyarakat tentang
gender dan sex.
18, 49, 26, 119, 120,.
5. Pandangan agama yang
membebas-kan dan transformasi perempuan.
Data yang digunakan sebagai acuan pembahasan pembelajaran novel
Mataraisa karya Abidah El-Khalieqy di kelas XI SMA, meliputi perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan refleksi. Di bawah ini disajikan
tabel data ketiga tahap tersebut.
Tabel 4
Sajian Data Skenario Pembelajaran Novel Mataraisa di Kelas XI SMA
No. Tahap Kegiatan
1 Perencanaan a. Menyusun RPP
b. Menyiapkan media pembelajaran
2 Pelaksanaan a. Kegiatan awal
1) Guru mengawali pembelajaran dengan salam dan disusul doa bersama-sama. 2) Guru menyampaikan informasi
me-ngenai Standar Kompetensi dan kom-petensi Dasar pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3) Guru memberikan semacam pemanas-an sebentar kepada siswa, misalnya menonton film yang berisi motivasi. b. Kegiatan inti
1) Siswa membentuk kelompok kecil. 2) Setiap kelompok disuruh membaca
si-nopsis novel Mataraisa karya Abidah El-Khalieqy secara bersamaan.
3) Setelah membaca sinopsis novel ter-sebut, setiap kelompok disuruh men-catat dan mendiskusikan perwatakan tokoh utama.
4) Siswa menemukan karakter atau per-watakan yang dimiliki tokoh utama perempuan dalam novel tersebut. 5) Setiap kelompok membacakan hasil
diskusinya masing-masing.
6) Guru mengarahkan hasil diskusi setiap kelompok atau siswa. dengan mengo-mentari hasil kerja mereka serta me-lengkapi hal-hal yang belum terdapat dalam laporan kegiatannya.
c. Kegiatan akhir
1) Guru dan siswa bersama-sama
menyimpulkan hasil pembelajaran.
3 Refleksi Menganalisis hasil tes siswa
B. Pembahasan Data
1. Struktur Novel Mataraisa
Meneliti sebuah karya sastra melalui pendekatan strukturalisme
merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seorang peneliti.
Walaupun penelitian ini dominan dengan analisis gender novel Mataraisa
dan skenario pembelajarannya di kelas XI SMA, analisis struktur novel
tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Analisis struktur novel akan
mempermudah analisis gender. Struktur atau unsur intrinsik novel
Mataraisa yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu tema, tokoh dan
penokohan, latar, alur, dan sudut pandang. Unsur-unsur intrinsik tersebut
akan diuraikan sebagai berikut.
a. Tema dan Masalah
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang
sebuah karya sastra. Tema berasal dari masalah-masalah yang ada
dalam suatu karya sastra. Sebelum menentukan tema, terlebih dahulu
diuraikan masalah-masalah yang ada dalam karya sastra tersebut.
Masalah-masalah yang ada dalam novel Mataraisa sebagai berikut.
1) Masalah Peran Tradisional Perempuan
Masalah peran tradisional perempuan ditunjukkan ketika
Istri laki-laki tersebut melakukan demo mogok masak setelah mendapat
pencerahan dari membaca novel yang Raisa tulis. berikut ungkapan laki-laki
tersebut.
“ Maaf mbak jika agak menyinggung. Tetapi ini penting saya ungkapkan karena saya jadi gelisah setelah membaca buku mbak. Saya membaca buku itu bersama istri. Setelah istri saya membacanya, eh, sekarang ia tak mau lagi cuci piring, bersih-bersih rumah, nyetrika. Ia juga tak mau lagi masakin telur goreng kesukaan saya. Bahkan lebih jauh, maaf sekali lagi, jika diajak begituan, ia berlagak mengukur-ukur dulu tingkat kesehatan dan kenyamanan dirinya. kalau sudah ngantuk, ia bilang ‘lagi makruh nih! gutbai! Mohon penjelasan!” (Mataraisa, 2012: 47-48).
Masalah yang pertama adalah peran tradisional perempuan sebagai
istri dan Ibu rumah tangga. Sebagai pihak yang berkuasa, laki-laki seringkali
memanfaatkan kekuasaannya dalam berbagai institusi. Kekuasaan laki-laki
inilah salah satunya yang memunculkan citra tentang peran tradisional
perempuan.
2) Masalah Prasangka Gender
Masalah yang kedua ini ditunjukkan ketika seorang laki-laki peserta
talkshaw menyatakan ketidaksetujuannya dengan pendapat Raisa mengenai
demo atau mogok masak bagi perempuan. Ungkapan laki-laki tersebut seperti
pada kutipan berikut ini.
“Perempuan diciptakan di dunia ini memanglah untuk mengurusi kebutuhan laki-laki. Begitulah kodrat perempuan di seluruh dunia. Mau mereka lulusan SD, SMP, atau sarjana atau professor pun, jika kelaminnya perempuan, harusnya tetap mau cuci-piring, nyapu-nyapu rumah, masak-memasak untuk suaminya. Mana ada di dunia ini laki-laki mau menggantikan urusan remeh-temeh seperti itu.
para perempuan itu berkutat dengan urusan belakang.” (Mataraisa, 2012: 49).
Konsep penting yang harus dipahami adalah konsep gender dan
konsep seks (jenis kelamin). Banyak orang, bahkan sebagian besar masyarakat
di dunia menganggap bahwa gender itu adalah kodrat Tuhan yang diberikan
kepada kaum laki-laki dan perempuan. Padahal anggapan tersebut sama sekali
tidak benar. Anggapan laki-laki dalam kutipan di atas bahwa kodrat
perempuan mengurusi rumah tangga yang dianggapnya remeh itu merupakan
salah satu faktor rendahnya kedudukan kaum perempuan.
3) Masalah Cinta
Novel Mataraisa selain memiliki masalah gender juga memiliki
masalah cinta. Masalah cinta dalam novel ini melibatkan dua tokoh, yaitu
Raisa (tokoh utama) dengan Fozan Ibadi (managernya). Hal tersebut
dijelaskan melalui kutipan berikut.
“Nyaman benar Raisa, hatinya bertumbuhan mawar surga, selalu setelah meneger memintanya rehat dengan nada hangat kebak sayang. Melambung hatinya, melayang-layang sekan dunia hanya dihuni berdua, dia dan manager saja. Orang lain numpang Cuma. Kadang ingin juga mengutarakan isi hati, namun belum ada waktu yang pas. Biar menyelam dulu sedalamnya, minum susunya belakangan.” (Mataraisa, 2012: 61).
Permasalahan cinta yang dialami oleh tokoh utama, yaitu Raisa
dengan managernya (Fozan Ibadi) menambah keindahan alur dalam novel
Mataraisa. Raisa adalah seorang penulis buku-buku kotroversial dan sangat
ketika rasio sirna Raisa memutuskan untuk hidup menjadi pendamping Fozan
Ibadi (managernya) dengan kebahagiaan.
Dari masalah-masalah yang terdapat dalam novel Mataraisa, dapat
disimpulkan bahwa tema novel Mataraisa adalah perjalanan tokoh utama
perempuan memberantas ketidakadilan gender yang mempertemukan ia
dengan cinta sejatinya. Tema tentang perjalanan tokoh perempuan
mem-berantas ketidakadilan gender yang dipadukan dengan kisah cintanya
membuat novel Mataraisa makin menarik.
b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam novel ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama
dan tokoh tambahan. Uraian tokoh utama dan tokoh tambahan dalam novel
Mataraisa sebagai berikut. 1) Tokoh Utama
(a) Raisa
Tokoh utama dalam novel Mataraisa karya Abidah El-
Khalieqy adalah seorang perempuan yang cerdas dan kritis bernama
Raisa Fairuza. Raisa selalu dimunculkan oleh pengarang dalam setiap
bab pada novel. Hal ini dijelaskan melalui kutipan berikut.
“Matahari boleh tidur selamanya Tetapi aku, Raisa Fairuza tak! Tak sekarang, tak jua di hari depan, pun kapan-kapan. Raisa Fairuza, perempuan satin yang menyimpan magma di dada, perjalanan tak kenal rehat, terus melangkah sibak kerumunan para penghujat. Lempeng tak nengok kiri kanan, sebab merasa ummatan-wassathan. Baginya kehidupan ideal adalah berjalan di garis tengah.” (Mataraisa, 2012: 12).
menjadi fokus perhatian dari narator dan tokoh-tokoh cerita lain. Ia muncul
sejak awal cerita. Tokoh Raisa berkedudukan sebagai penulis terkenal.
Ide-idenya mengenai kesetaraan gender yang dituangkan dalam buku-buku yang
ditulisnya mengundang pro dan kontra di masyarakat. Pada bagian
selanjutnya, ia mendapatkan perhatian khusus dari Fozan Ibadi sebagai
managernya. Raisa sebagai penulis dibuktikan melalui kutipan berikut.
“ Saya ini perempuan sastrawan. Tugas mulia saya adalah memberi pencerahan atas kondisi yang tidak seimbang yang dialami perempuan. Hal paling saya akrabi di dunia ini adalah isu-isu perempuan, karena saya seorang perempuan. Apakah jika perempuan membicarakan isu-isunya selalu dianggap feminis? Liberal lagi?” (Mataraisa, 2012: 88).
Di samping apresiasi positif, Raisa tak jarang mendapatkan
apresiasi negatif dari masyarakat. Bahkan usahanya dalam memberikan
pencerahan kepada kaum perempuan dihujat terutama oleh pemuka agama,
seperti yang dilakukan oleh Ko-Mir. Ko-Mir adalah seorang kyai sebuah
pesantren yang menggap bahwa Raisa adalah perempuan sesat dan
buku-buku yang ditulisnya adalah buku-buku kafir.
(b) Fozan Ibadi
Fozan Ibadi adalah tokoh tambahan yang paling banyak
pen-ceritaannya dalam novel. Fozan Ibadi adalah manager Raisa yang selalu
menyertai kemanapun Raisa pergi. Itulah sebabnya Fozan Ibadi banyak hadir
Kakak kelas dua tahun di atasnya. Oleh Raisa, perkawanan lama yang penuh kenangan indah, ingin dilanjut dengan mengangkatnya jadi manager pribadi, saat ia merasa banyak tantangan menjadi publik-figur. Popularitas memaksa seseorang untuk memilih mitra pendamping kerja. Dan Raisa teringat kawan lama yang memiliki sifat pemimpin dan amanah. Fozan Ibadi laki-laki cerdas, santun dan sederhana.” (Mataraisa, 2012: 55).
Padatnya jadwal talkshaw Raisa dari satu tempat ke tempat yang
lain menuntut Raisa memiliki mitra pendamping. Sesuai dengan profesi Raisa
sebagai penulis terkenal, Fozan Ibadi pun selalu mendampingi Raisa ke
manapun ia pergi dan mengurus segala sesuatunya. Raisa dan Fozan Ibadi
adalah tokoh utama karena intensitas keterlibatannya dalam peristiwa
pembangun cerita cukup tinggi.
2) Tokoh Tambahan
Seorang tokoh tentunya tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya tokoh
tambahan lain. Tokoh tambahan dalam novel Mataraisa, secara keseluruhan
lebih sedikit kemunculannya jika dibandingkan dengan kemunculan tokoh
utama (Raisa).
(a) Bi Julipat
Bi Julipat adalah seorang pembantu di rumah Raisa. Ia membantu
segala urusan rumah tangga Raisa yang tak sempat ia kerjakan sendiri
karena padatnya jadwal talkshaw. Bi Julipat ini merupakan tokoh
tambahan yang berhubungan langsung dengan tokoh utama, yaitu sebagai
bibi sendiri, orang tua yang menjadi pengganti Ayah-Ibu yang jauh di mata. Karena sejak kuliah, Raisa menetap menjadi warga kota budaya. Hampir sepuluh tahun sudah. Pindah dari satu kost ke kost yang lain. dari satu kontrakan ke kontrakan berikutnya dan akhirnya sukses menempati rumah sendiri dua tahun lalu.” (Mataraisa, 2012:68).
Bi Julipat tidak digambarkan secara fisik dalam novel ini. Akan
tetapi, cara komunikasi bi Julipat dengan Raisa menunjukkan bahwa
mereka saling menyayangi. Citra domestik Bi Julipat jelas terlihat karena ia
bertugas sebagai pembantu di rumah Raisa.
(b) Ayah (Fuad Hifdzi)
Fuad hifdzi adalah ayah Raisa. Ia adalah orang yang kaya dan
berkecukupan. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
“Ayah Raisa seorang orator yang mencintai kaligrafi Arab. Bertahun-tahun menghabiskan waktu kuliah di Timur Tengah. Selaku anak tuan-tanah, ia juga mewarisi hobi naik haji, jadi ammirul Hajj dan ke Mekah enam belas kali. Link pergaulannya luas dan gemar melakukan petualangan intelektual. Dua kamar di rumahnya, penuh berisi buku kepustakaannya pribadi. Kitab-kitab tebal warna coklat tua kusam atau hijau lumut kusam berbahasa Arab dan Belanda. Sekalinya bahasa Indonesia, hurufnya pegon.” (Mataraisa, 2012: 115).
Fuad Hifdzi merupakan tokoh tambahan yang berhubungan
langsung dengan Raisa. Ia merupakan tokoh yang menggunakan
kekayaan-nya untuk pergi ke Mekah dan berpetualang ke negara-negara lain. Ia
seringkali merendahkan kemampuan atau daya pikir istrinya. Ia menganggap
otak perempuan lebih kecil daripada otak laki-laki, sehingga cara berpikirnya
yang ringan, kecil, lebih kecil dibanding otak laki-laki. Jadi begitulah cara mereka berpikir, tak bisa jauh-jauh dari ujung hidungnya sendiri, ni!’ Ayah menyentil ujung hidung Raisa, beharap Raisa akan tertawa. Namun Raisa kian serius dan ogah tertawa. Bahkan ia mengusir ayahnya keluar kamar.” (Mataraisa, 2012: 119).
Ayah Raisa adalah seorang yang tidak menghargai kedudukan
perempuan, dan merendahkan perempuan. Padahal hal tersebut tidak benar.
Dalam Alquranpun dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan
sama, sebagai mitra sejajar.
(c) Ummi Lubna Falakhy
Ummi Lubna adalah istri pertama dari Fuad Hifdzi sekaligus ibu tiri
Raisa. Ummi Lubna Falakhy merupakan tokoh tambahan yang tidak
berhubungan langsung dengan Raisa. Hal itu dibuktikan dengan kutipan
berikut.
“Memilih tiga diantara putri pemilik ternak zebra. Ohoi! Itulah Umi Lubna, ibu tiri Raisa yang bermata biru, rambut pirang menggelombang, kulit putih, hidung mancung, bicaranya sengau-sengau basah dan sempurna sebagai bidadari turun ke bumi bagi ayah. Umi Lubna bernama asli Lubna Falakhy, sayang rahimnya tak subur untuk dibuahi. Umi Lubna pun kesepian dan meminta ayah menikah lagi dengan rela hati.”(Mataraisa, 2012: 116).
Ummi Lubna Falakhy dalam novel tidak pernah berkomunikasi
langsung dengan Raisa. kemunculannya hanya pada bayangan waktu kecil
Raisa ketika Raisa menanyakan perihal otak perempuan kepadanya.
Kemunculannya hanya dilukiskan oleh tokoh utama (Raisa) sebagai Ibu
Ummi Duhita Quari adalah ibu kandung Raisa dan istri kedua Ayah.
Ia adalah tokoh tambahan yang berhubungan langsung dengan Raisa. Hal itu
dijelaskan melalui kutipan berikut.
“wajah ningrat kearab-araban. Mata sayu yang memendam misteri di lubuk dalam, serta kerelaan diperistri laki-laki yang telah menikah sebelumnya, Duhita Quari adalah citra perempuan jawa dalam serat Centhini. Meski berumah lain dari Lubna Falakhy, Duhita mengelola keluarga seperti gagasan kakak-madunya. Walau sering terasa di penjara, ia coba terus tampil bahagia. Itulah sosok Ibunda Raisa.” (Mataraisa, 2012: 117).
Ummi Duhita adalah sosok perempuan jawa yang memiliki
kesabaran dan mematuhi suami. Ummi Duhita seringkali mendapatkan
kekerasan mental dengan ucapan-ucapan suaminya yang selalu
merendahkan-nya. Sebagai istri kedua ia juga harus rela untuk selalu mengalah.
(e) Ko-Mir
Ko-Mir adalah seorang kyai dari sebuah pesantren, di mana Raisa
mengisi acara talkshaw. Ko-Mir merupakan tokoh tambahan yang
berhubung-an lberhubung-angsung dengberhubung-an tokoh Raisa. Hal itu dijelaskberhubung-an melalui kutipberhubung-an berikut. “Hening semesta aula kampus yang besar dan luas itu. Enam-ratusan para santri dan mahasiswa mahasiswi sama henyak, terlongong tak percaya akan segitunya laki-laki yang mereka takuti dan hormati selama ini, berbicara di hadapan ratusan calon intelektual dan sorotan kamera mass media, seenaknya minjam bahasa macan. Jantung Raisa mendesir ngeri. Semua tahan napas menanti kata lanjutan Kopiah Miring.” (Mataraisa, 2012: 13).
Ko-Mir merupakan sosok kyai dan pemuka agama yang kasar dan
perempuan sesat. Hal ini menyebabkan kekerasan emosional pada tokoh Raisa.
(f) Ummi Farhan (istri Ko-Mir)
Ummi Farhan adalah istri Ko-Mir yang cerdas dan aktif. Selain
pengetahuan yang luas, pengalaman Ummi Farhanpun sangat luas. Hal
tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
“Ummi Farhan sudah keliling Timur Tengah untuk seminar dan ceramah. Pernah juga ke Beijing untuk konferensi. Kopiah Miring selalu mengizinkan karena Ummi Farhan juga selalu bilang Uthlubul Ilma walaw bissinin, carilah ilmu sampai negri China. Apa mau dikata, Ko-Mir? Begitulah panggilan sayang Ummi Farhan pada Abu Farhan yang suka pakai kopiah miring itu.” (Mataraisa, 2012: 28).
Ummi Farhan merupakan tokoh tambahan yang berhubungan langsung
dengan Raisa. Mereka terlibat sebuah percakapan ketika di masjid usai acara
talkshaw. Tokoh Ummi Farhan ini sebenarnya sangat cocok dengan tokoh
Raisa karena sama-sama memiliki pengalaman dan wawasan serta
penge-tahuan yang luas. Akan tetapi, pertemuan mereka harus berhenti ketika
jadwal-jadwal Raisa memaksanya untuk segera pamit.
(g) Muna
Muna adalah seorang perempuan temannya Fozan ketika kerja di
salah satu media lokal. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
“Muna tengah mengawasi Raisa dan mendekat hanya untuk
memastikan, seperti apa wajahnya. Kebencian tak bisa
disembunyikan di balik mata. Mendesis bibirnya melihat Raisa dikerubuti fans beratnya. Saat meneger datang dan menghentikan aksi foto-foto yang tak ada habisnya, Muna ikut mendekat dan
2012: 92).
Muna merupakan tokoh tambahan yang tidak berhubungan langsung
dengan Raisa. kemunculan Muna ketika menghadiri talkshaw tidak
menimbul-kan komunikasi di antara Muna dengan Raisa. Muna hanya mendekat dan
berbicara dengan sindiran yang tidak terlalu diperhatikan oleh Raisa. hal itu
dilakukan karena Muna merasa cemburu dengan Raisa yang dekat dengan
Fozan, laki-laki yang dicintainya sejak dulu.
(h) Rita
Rita adalah fans Raisa. Ia adalah seorang mahasiswa yang datang ke
rumah Raisa untuk menceritakan masalahnya. Hal itu dijelaskan melalui
kutipan berikut.
“saya benar-benar bingung, sementara kehamilan saya kian membesar. Pada suatu malam, terbesit ide, mungkin dari setan, kalau saya harus menggugurkan kandungan saya, aborsi. Ya, tak ada jalan lain. Saya benci pacar saya dan tak mau gagal kuliah juga gara-gara urusan ini. Esuknya saya benar-benar menempuh cara itu. Aborsi. Selang beberapa waktu, oleh deraan bersalah dan tanpa akhir, saya ber-keputusan untuk mengubah cara hidup dan pakaian seperti ini. Saya ingin menutup masa lalu, bahkan bekas-bekasnya yang masih sisa. Namun apa yang terjadi? Saya gagal mengingat masa-masa hitam itu mbak. Meski sudah tertutup begini, saya terus dihantui arwah bayi saya dan dosa-dosa saya. Saya bingung mbak. Apa yang meski saya lakukan. Tolonglah, mbak Raisa!”(Mataraisa, 2012: 141).
Rita merupakan tokoh tambahan yang berhubungan langsung dengan
Raisa. mereka berhubungan langsung ketika Rita datang ke rumah Raisa untuk
juga mengalami kekerasan emosional ketika akhirnya ia hamil.
(i) Nor Bahanan
Nor Bahanan adalah kawan lama Raisa. Mereka berkawan ketika
masih duduk di bangku SMA. Hal itu dijelaskan melalui kutipan berikut.
Raisa: “Jadi sekarang jadi pemberontak nih Nor?”
Nor :“Bukan maksud hati. Tapi apa daya, Cha. Lagian cintaku berlabuh di hati ahwal (sebutan untuk orang-orang non-arab).” (Mataraisa, 2012: 193).
Nor Bahanan merupakan tokoh tambahan yang berhubungan
lang-sung dengan Raisa. Ia adalah teman Raisa ketika masih bersekolah di Ma’had.
Mereka dipertemukan kembali ketika acara reunian di Ma’had. Tokoh Nor
Bahanan ini merupakan tokoh perempuan yang berani memperjuangkan
haknya dalam memilih pasangan hidupnya.
(j) Ustadz Zakky
Ustadz Zakky adalah seorang ustadz Ma’had yang menyukai Raisa.
akan tetapi, Raisa sama sekali tidak menyukainya. Hal tersebut dibuktikan
dengan kutipan sebagai berikut.
“Raisa memperoleh jatah kursi di sebelah kanan Mudir. Sebelah kiri Mudir adalah Fozan Ibadi dan ustadz Muttabiq. Empat kursi telah penuh terisi. Yang membuat Raisa benar-benar tidak nyaman adalah, tiap lima menit, mudir nengok ke arahnya dan bertanya tentang hal remeh temeh dunia. Dunia atas tanah atau bawah tanah. Bayangkan ia juga menanyakan perihal kandungan bumi dari uraniumnya, logam mulianya, endapan batu baranya, pair kuarsa, granit, batu gamping, sirtu, diorite, andesit sampai lempung.” (Mataraisa, 2012: 207).
langsung dengan Raisa. mereka berhubungan ketika Raisa hadir di Ma’had
untuk mengisi talkshaw dan menghadiri reuni. Ustadz Zakky ini termasuk
tokoh yang memanfaatkan kedudukannya sebagai ustadz untuk merayu
Raisa.
(k) Farha Assegaf, Sopir, Produser, dan Istri Produser
Keempat tokoh ini, yaitu Farha Assegaf, sopir, produser, dan istri
produser merupakan tokoh tambahan yang kemunculannya sangat sedikit,
sehingga sulit untuk diidentifikasi perwatakannya. Pengarang tidak
menggambarkan fisik dari tokoh-tokoh tambahan ini.
Demikian, penokohan pada novel Mataraisa dapat menimbulkan
kecenderugan sifat-sifat manusia yang beragam dan saling berseberangan
ketika muncul gagasan perubahan. Bagaimanapun, isi dunia ini beragam dan
tidak selalu sama. Hal ini sekaligus menjadi petunjuk bahwa semangat
pembaharuan anggapan gender belum didukung oleh semua pihak.
c. Latar
Latar merupakan unsur yang sangat penting bagi penentuan nilai
estetik dalam kegiatan analisis novel. Latar dalam karya fiksi terbagi menjadi
tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat dapat
menunujukkan lokasi terjadinya cerita. Latar waktu dapat memberikan
penjelasan mengenai masa atau zaman terjadinya peristiwa. Latar sosial dapat
berikut.
1) Latar Waktu
Terdapat beberapa latar dalam novel Mataraisa. Latar waktu dalam
novel Mataraisa, yaitu shubuh, pagi hari, siang, hari, sore hari, dan malam
hari. Latar waktu yang terpenting di sini, yaitu peristiwa dalam novel
terjadi pada zaman modern atau masa kini. Hal tersebut dibuktikan melalui
kutipan berikut.
“Pada zamannya, Rasulullah juga pernah dihujat seorang perempuan Anshar Madinah, dengan kritik yang benar-benar menohok, sampai Rasulullah tak sanggup menjawabnya. Dan kita tahu Allah lah yang menjawabnya dengan wahyu yang seketika itu turun. Surah Al Ahzab ayat 35 itulah, alat egalitarian yang pertama turun dari langit, yang seterusnya menjadi kebanggaan bagi kita karena sesungguhnya emansipasi sudah digemakan sejak