BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis Hasil Penelitian
Berikut ini disajikan data mengenai tiap variabel selama periode untuk dianalisis lebih lanjut.
1. Laba akuntansi perusahaan adalah sebagai berikut: No. Nama Perusahaan 2009 2010 2011 1 PT.Astra Internasional Tbk 10.040.000.000.000 14.366.000.000.000 17.785000.000.000 2 PT.Astra 768.265.000.000 1.141.179.000.000 1.006.716.000.000 Universitas Sumatera Utara
1. D a t B erdasar kan data
diatas, dapat disimpulkan bahwa:
a. Pada tahun 2009, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh laba akuntansi terbesar berjumlah Rp.10.040.000.000.0000 dan yang memperoleh laba akuntansi terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 58.765.937.225
b. Pada tahun 2010, PT.Astra Internasional Tbk masih memperoleh laba akuntansi terbesar berjumlah Rp. 14.366.000.000.0000 dan yang memperoleh laba akuntansi terkecil adalah PT. Goodyear Indonesia Tbk yaitu sebesar 58.765.937.225
c. Pada tahun 2011, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh laba akuntansi terbesar berjumlah Rp.10.040.000.000.0000 dan yang memperoleh laba akuntansi terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 58.765.937.225
d.
2. Data arus kas operasi perusahaan adalah sebagai berikut : No. Nama Perusahaan 2009 2010 2011 1 PT.Astra Internasional Tbk 11.335.000.000.000 2.907.000.000.000 9.330.000.000.000 2 PT.Astra 578.745.000.000 374.748.000.000 258.576.000.000 Otoparts Tbk 3 PT. Goodyear Indonesia Tbk 121.085.749.000 7.415.868.000 2.156.464.000 4 PT. Indospring Tbk 58.765.937.225 71.109.354.932 120.415.120.240 5 PT.Selamat Sempurna Tbk 132.850.275.038 150.420.111.988 219.260.485.960
Otoparts Tbk 3 PT. Goodyear Indonesia Tbk 389.391.836.000 19.583.845.000 16.294.712.000 4 PT. Indospring Tbk 122.838.213.571 7.369.876.033 26.255.543.773 5 PT.Selamat Sempurna Tbk 268.070.416.818 145.094.611.835 229.766.347.392
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa:
a. Pada tahun 2009, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh arus kas operasi terbesar berjumlah Rp. 11.335.000.000.000 dan yang memperoleh arus kas operasi terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 122.838.213.571
b. Pada tahun 2010, PT.Astra Internasional Tbk masih memperoleh arus kas operasi terbesar berjumlah Rp. 2.907.000.000.000 dan yang memperoleh arus kas operasi terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 7.369.876.033
c. Pada tahun 2011, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh arus kas operasi terbesar berjumlah Rp. 9.330.000.000.000 dan yang memperoleh arus kas operasi terkecil adalah PT. Goodyear Indonesia Tbk yaitu sebesar 16.294.712.000.
3. Data dividen kas perusahaan adalah sebagai berikut : No. Nama Perusahaan 2009 2010 2011 1 PT.Astra Internasional Tbk 3.479.000.000.000 5.295.000.000.00 8.191.000.000.000 2 PT.Astra 235.866.000.000 506.130.000.000 488.202.000000 Universitas Sumatera Utara
Otoparts Tbk 3 PT. Goodyear Indonesia Tbk 2.460.000.000 987.075.000 1.204.749.000 4 PT. Indospring Tbk 1.818.525.374 9.062.695.469 32.899.219 5 PT.Selamat Sempurna Tbk 185.835.607.500 141.270.197.400 117.123.509.385
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa:
a. Pada tahun 2009, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh dividen kas terbesar berjumlah Rp. 3.479.000.000.000 dan yang memperoleh dividen kas terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 1.818.525.374
b. Pada tahun 2010, PT.Astra Internasional Tbk masih memperoleh dividen kas terbesar berjumlah Rp. 5.295.000.000.00 dan yang memperoleh dividen kas terkecil adalah PT. Goodyear Indonesia Tbk yaitu sebesar 987.075.000
c. Pada tahun 2011, PT.Astra Internasional Tbk memperoleh dividen kas terbesar berjumlah Rp. 8.191.000.000.000 dan yang memperoleh dividen kas terkecil adalah PT. Indospring Tbk yaitu sebesar 32.899.219
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan secara manual terhadap laba akuntansi (variabel x1), arus kas operasi (variabel x2), dan dividen kas (variabel y). Maka penulis akan
melakukan analisis terhadap ketiga variabel tersebut dengan menggunakan analisis regresi dan analisis korelasi. Di dalam Analisis Regresi, penulis menggunakan metode Persamaan Regresi Linear Berganda.
Analisis ini untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Dan juga digunakan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
Tabel 4.1
Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 8,622E10 5,526E10 1,560 ,147
Arus Kas Operasi
,366 ,024 1,210 14,991 ,000
Laba Akuntansi -,076 ,017 -,368 -4,559 ,001
a. Dependent Variable: Dividen Kas Sumber : data diolah penulis, 2013
Dari hasil perhitungan SPSS, diperoleh persamaan regresi variabel laba akuntansi dan arus kas terhadap harga saham adalah sebagai berikut:
Ŷ = 8,622E10+ ,366x1 – 0.076x2
Konstanta sebesar 8,622E10) artinya, jika x1 dan x2 nilainya adalah 0, maka y nilainya adalah 8,622E10). Koefisien regresi x1 sebesar 0, 366 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap,
dan x1 mengalami kenaikan 1juta, maka y akan mengalami kenaikan sebesar 0,366 atau 36,6%. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara x1 dan y.
Koefisien regresi x2 sebesar (-0.076), artinya jika variabel variabel independen lain nilainya tetap, dan x2 mengalami kenaikan sebesar 1juta maka y mengalami penurunan sebesar (-0.076) atau sebesar 7,6%. Koefisien bernilai negatif, artinya terjadi hubungan negatif antara x2 dengan y.
4.2.2. Uji Asumsi Klasik Regresi Berganda
Untuk menguji model regresi ini, terdapat 4 (empat) uji asumsi yaitu sebagai berikut: a. Uji Normalitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Gambar 4.1
Dari gambar 4.1 di atas dapat diketahui bahwa data (titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Maka model regresi ini layak dipakai untuk memprediksi dividen kas berdasarkan masukan variabel independennya.
b. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain.
Gambar 4.2
Gambar 4.2 menunjukkan grafik scatterplot yang tersebar dan tidak membentuk pola. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini tidak terkena heterokedastitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai.
Mendeteksi ada tidaknya gejala multikolinieritas adalah dengan melihat besaran korelasi antar variabel independen. Batas tolerance value adalah 0,1 dan batas VIF adalah 10. Suatu data penelitian dikatakan terjadi multikolinieritas apabila tolerance value < 0,1 dan VIF > 10. Sebaliknya data yang terbebas dari multikolinieritas adalah
tolerance value > 0,1 dan VIF < 10. Hasil pengujian data disajikan pada tabel 4.3
sebagai berikut.
Tabel 4.2 Coefficientsa
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 Arus Kas Operasi ,492 2,035
Laba Akuntansi ,492 2,035
a. Dependent Variable: Dividen Kas Sumber : data diolah penulis,2013
Hasil pengujian multikolinearitas pada tabel 4.3 menunjukkan nilai tolerance variabel independen lebih dari 0,10. Hal ini dilihat pada tolerance value laba akuntansi yaitu 2,035; arus kas sebesar 2,035; dan hasil perhitungan VIF kurang dari 10 yakni terlihat pada nilai laba akuntansi sebesar 0,492, dan arus kas sebesar 0,492. Hal ini berarti tidak terjadi korelasi antar variabel independen sehingga data tersebut dapat digunakan dalam penelitian.
d. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode saat ini dengan kesalahan pengganggu periode sebelumnya. Autokorelasi sering terjadi pada sampel dengan data
time series dengan n sampel adalah periode waktu. Pengujian autokorelasi pada
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson.
Tabel 4.3 Durbin-Watson Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,982a ,965 ,958 1,861E11 ,896
a. Predictors: (Constant), Laba Akuntansi, Arus Kas Operasi b. Dependent Variable: Dividen Kas
Sumber : data diolah penulis, 2013
Hasil pengujian pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai D-W sebesar 0,896 lebih kecil daripada batas atas (du) 1,66 maka dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi positif pada model regresi.
4.2.3. Pengujian Hipotesis
Mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi berpengaruh terhadap variabel dependen, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan koefisien determinasi (R2), uji t (t test) dan uji F (F test).
a. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen (Lubis, 2007: 48). Range nilai dari R2 adalah 0-1. Semakin mendekati nol berarti model tidak baik atau variasi model dalam menjelaskan amat terbatas, sebaliknya semakin mendekati angka satu model semakin baik.
Hasil pengujian dengan menggunakan koefisien determinasi menunjukkan bahwa nilai R = 0,982 yang berarti hubungan antara variabel independen (laba akuntansi, arus kas operasi ), dengan variabel dependen (dividen kas) adalah sedang yaitu sebesar 98,42%%. Tingkat hubungan yang sedang ini dapat dilihat dari tabel pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi.
R Square sebesar 0,965 berarti 96,5% profitabilitas perusahaan dipengaruhi oleh laba
akuntansi, arus kas operasi. Sisanya 3,5% dapat dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak diteliti
pada penelitian ini. Nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,958. Angka ini mengidentifikasikan bahwa variabel independen (laba akuntansi, arus kas operasi) mampu menjelaskan variabel dependen
(dividen kas) sebesar 95,8%, sedangkan selebihnya sebesar 4,2% dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
a. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji Anova / F test)
Secara simultan, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji-F (F test). Uji-F dilakukan untuk menguji apakah variabel-variabel independen berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Dalam uji-F digunakan hipotesis sebagai berikut:
H0 = variabel laba akuntansi, arus kas operasi secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap dividen kas perusahaan.
H1 = variabel laba akuntansi, arus kas operasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
dividen kas perusahaan.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi F hitung dengan F tabel dengan ketentuan: 1) jika Fhitung < Ftabel pada α 0.05, maka Ha ditolak dan H0 diterima,
2) jika Fhitung > Ftabel pada α 0.05, maka Ha diterima H0 ditolak.
Tabel 4.4
Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji Anova / F test)ANOVAb
Model Sum of Squares Df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 1,043E25 2 5,214E24 150,616 ,000a Residual 3,808E23 11 3,462E22
Total 1,081E25 13
a. Predictors: (Constant), Laba Akuntansi, Arus Kas Operasi b. Dependent Variable: Dividen Kas
Sumber : data diolah penulis, 2013
Dari uji ANOVA (Analysis of Variance) didapat F hitung sebesar 150,616 dan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 (<0,005), maka hipotesis Ha diterima dan hipotesis Ho ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara simultan ditemukan ada pengaruh signifikan variabel laba akuntansi, arus kas operasi terhadap dividen kas perusahaan manufaktur jenis otomotif yang terdaftar di BEI.
a. Analisis Koefisien Korelasi Parsial
Secara parsial, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t-test. Uji-t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Dalam uji-t digunakan hipotesis sebagai berikut:
H0= laba akuntansi, arus kas operasi berpengaruh signifikan secara parsial terhadap
dividen kas perusahaan.
H1= laba akuntansi, arus kas operasi ) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap
dividen kas perusahaan.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi thitung dengan ttabel dengan ketentuan:
1. Jika t-hitung < t-tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima,
Tabel 4.5 Correlations
Control Variables Dividen
Kas
Laba Akuntansi Arus Kas
Operasi
Dividen Kas Correlation 1,000 -,809 Significance (2-tailed) . ,001 Df 0 11 Laba Akuntansi Correlation -,809 1,000 Significance (2-tailed) ,001 . Df 11 0
Berdasarkan hasil korelasi parsial pada tabel 9 di atas, dapat dilihat antara laba akuntansi (X1) dengan dividen kas (Y) dengan asumsi arus kas operasi (X2) tetap sebsar 0,995 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,000<0,01, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan dengan menganggap arus kas operasi tetap, terdapat korelasi yang kuat dan laba akuntansi secara parsial berhubungan sangat signifikan terhadap dividen kas. Salah satu faktor yang membuat korelasi menjadi kuat adalah faktor politik dan nilai tukar mata uang asing. Sedangkan arah hubungan adalah positif yang artinya ada hubungan erat antara laba akuntansi terhadap dividen kas.
Tabel 4.6
Korelasi Parsial Hasil Arus Kas Operasi Terhadap Dividen Kas
Correlation
Berdas arkan hasil korelasi parsial di atas, dapat dilihat bahwa antara arus kas operasi (X2) dengan dividen kas (Y) dengan asumsi laba akuntansi (X1) tetap sebesar -0,665 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,009<0,01, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan dengan menganggap laba akuntansi tetap, terdapat korelasi yang rendah dan arus kas operasi secara parsial berhubungan sangat signifikan terhadap dividen kas. Arah hubungan negatif, artinya ada hubungan yang tidak erat antara arus kas operasi terhadap dividen kas.