• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.3 Analisis Hasil Penelitian

Perbedaan respons inflamasi pada kelompok ekstrak kulit manggis 5%, ekstrak kulit manggis 10%, biodentin, dan kontrol negatif antara ke-3 periode waktu ( hari ke-1, 3, dan 7) dianalisa dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis Test, dengan derajat kemaknaan (α=0,05). Sedangkan perbedaan respon antiinflamasi kelompok ekstrak kulit manggis 5% dan ekstrak kulit manggis 10% terhadap biodentin (tabel 4 dan 7), serta perbedaan respon antiinflamasi kelompok ekstrak kulit manggis 5% dan ekstrak kulit manggis 10% antara ke-3 periode waktu (tabel 5 dan 6) dianalisa dengan menggunakan uji Mann-Whitney Test, dengan derajat kemaknaan (α=0,05). Hasil uji statistik dapat dilihat pada lampiran.

Tabel 4. Hasil uji Kruskal-Wallis Test α=0,05 perbedaan respons inflamasi seluruh bahan coba antara ke-3 periode waktu

Kelompok Mean Rank P

Hari 1 Hari 3 Hari 7

Ekstrak kulit manggis 5% 7.00 5.50 2.50 0.061 Ekstrak kuit manggis 10% 7.50 5.17 2.33 0.047*

Biodentin 7.50 5.50 2.00 0.029*

Kontrol (-) 4.00 4.00 7.00 0.102

Keterangan : * = signifikan bila P<0,05

Tabel 4 menunjukkan bahwa pada kelompok ekstrak kulit manggis 10% dan kelompok biodentin terdapat perbedaan respons inflamasi secara signifikan (p<0,05) antara ke-3 periode waktu (hari 1, hari 3, dan hari 7), sebaliknya pada kelompok ekstrak kulit manggis 5% dan kelompok kontrol negatif tidak terdapat perbedaan respons inflamasi yang signifikan (p>0,05) antara ke-3 periode waktu ( hari 1, hari 3, dan hari 7).

Tabel 5. Hasil Uji Mann-Whitney Test α=0,05 perbedaan respons inflamasi antara ke-3 periode waktu pada kelompok ekstrak kulit manggis 5%

Periode Waktu (hari) Mean Rank P

1 4.00 0.317 3 3.00 1 5.00 0.025* 7 2.00 3 4.50 0.114 7 2.50

Keterangan : * = signifikan bila P<0,05

Tabel 5 menunjukkan bahwa pada hari ke-1 dan hari ke-3, dan hari ke-3 dan ke-7 tidak terdapat perbedaan respons inflamasi yang signifikan (p>0,05), sebaliknya, pada hari ke-1 dan hari ke-7 menunjukkan adanya perbedaan respon inflamasi yang signifikan (p<0,05).

Tabel 6. Hasil Uji Mann-Whitney Test α=0,05 perbedaan respons inflamasi antara ke-3 periode waktu pada kelompok ekstrak kulit manggis 10% Periode Waktu (hari) Mean Rank P

1 4.50 0.114

3 2.50

7 2.00

3 4.67 0.099

7 2.33

Keterangan : * = signifikan bila P<0,05

Tabel 6 menunjukkan bahwa pada hari ke-1 dan hari ke-3, dan hari ke-3 dan ke-7 tidak terdapat perbedaan respons inflamasi yang signifikan (p>0,05), sebaliknya, pada hari ke-1 dan hari ke-7 menunjukkan adanya perbedaan respon inflamasi yang signifikan (p<0,05).

Tabel 7. Hasil uji Mann-Whitney Test α=0,05 perbedaan respons inflamasi antara ekstrak kulit manggis 5% dan ekstrak kulit manggis 10% terhadap biodentin.

Bahan Mean Rank P

Ekstrak kulit Manggis 5% 11,67 0,062

Biodentin 7,33

Ekstrak kulit Manggis 10% 10,56 0,373

Biodentin 8,44

Keterangan : * = signifikan bila P<0,05

Tabel 7 menunjukkan bahwa pada ekstrak kulit manggis 5% dan ekstrak kulit manggis 10% terhadap biodentin tidak terdapat adanya perbedaan respons inflamasi yang signifikan (p>0,05).

BAB 6 PEMBAHASAN

Penelitian tentang efek antiinflamasi ekstrak kulit manggis pada gigi kelinci adalah untuk mengetahui apakah ekstrak kulit manggis mempunyai efek untuk meredakan inflamasi pada pulpa gigi. Dalam penelitian ini, digunakan kelinci sebagai hewan coba dan dilakukan secara in vivo. Perlakuan terhadap hewan coba didasarkan kepada pedoman nasional etik penelitian kesehatan dan prinsip 3 R, yaitu Reduction, Refinement dan Replacement. Reduction adalah pengendalian jumlah hewan coba yang digunakan melalui analisa statistik yang tepat dan desain penelitian yang baik. Refinement ditujukan untuk mengurangi rasa sakit dan stress hewan coba dengan menggunakan metode penelitian yang sesuai. Replacement meliputi penggunaan model alternatif, seperti penggunaan hewan dari kelas yang paling rendah menggunakan metode invasif, in vitro.26,51

Penggunaan kelinci sebagai hewan coba dalam penelitian ini telah mendapat persetujuan Komisi Etik dengan Pelaksanaan Bidang Kesehatan oleh Health Research Committee USU dengan No. 448/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2016.

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan perforasi pulpa gigi hewan coba secara mekanis seperti pada prosedur iatrogenik. Setelah perforasi, kavitas kemudian diirigasi dan perdarahan dihentikan dengan menggunakan cotton pellet. kemudian bahan coba diaplikasikan ke dalam kavitas dan ditumpat dengan RM-GIC. Setelah periode hari yang ditentukan, hewan coba didekapitasi dan giginya diekstraksi, lalu dilakukan persiapan preparat dengan pewarnaan Hemaktosilin-Eosin. Pengamatan efek antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan mikroskop chaya dengan perbesaran 400x. Metode ini juga dilakukan oleh Aljandan et al (2012).47 Dalam penelitian ini, dilakukan perforasi pada gigi insisivus labial, karena lebih mudah ditangani dibandingkan dengan palatal.

Pada penelitian ini digunakan ekstrak kulit manggis. Ekstrak kulit manggis dibuat dengan konsentrasi 5% dan 10% menggunakan suspending agent carboxyl methil cellulose (CMC). Pemilihan konsentrasi ekstrak kulit manggis ini adalah berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Mutmainah et al (2013) untuk melihat efek antiinflamasi ekstrak kulit manggis terhadap luka bakar pada kelinci. Pada penelitian tersebut, konsentrasi ekstrak kulit manggis 5% dan 10% menunjukkan adanya efek antiinflamasi. Konsentrasi 2,5% juga digunakan pada penelitian pendahuluan, namun efek antiinflamasi yang dihasilkan sangat kecil. Oleh sebab itu, dalam penelitian untuk menguji efek antiinflamasi pada gigi kelinci ini, konsentrasi ekstrak kulit manggis yang digunakan adalah 5% dan 10%.17

Biodentin digunakan sebagai kontrol positif dalam penelitian ini. Biodentin yang berbahan dasar kalsium-silikat ini dapat mempercepat proses penyembuhan pulpa dan mempertahankan vitalitasnya tanpa menimbulkan reaksi radang. Nowicka et al(2013) melakukan penelitian pada pulpa yang dikapingdengan menggunakan biodentin, dan tidak terdapat adanya sel-sel inflamasi serta terbentuknya jaringan keras seperti dentin.Dalam penelitian mengenai kaping pulpa dan pulpotomi pada hewan coba yang dilakukan Shayegan (2012), terlihat adanya kompabilitas antara biodentin dengan pulpa, sehingga memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan fibroblas, dengan respon inflamasi yang minimal. Tran et al(2012) mengobservasi pembentukan jembatan dentin di daerah injuri setelah 30 hari yang disekresikan oleh sel menunjukkan fenotip odontoblastik. Struktur reparatif yang diinduksi biodentin bersifat homogen dan berkontinuitas dengan dentin primer.20,32,34,35

Biodentin menginduksi pembentukan awal dari sintesa dentin reparatif, dikarenakan modulasi sel pulpa yang mengubah pertumbuhan sekresi Transforming Growth Factor-β1. Laurent et al(2012) menyatakan bahwa partikel-partikel dari biodentin terperangkap di dalam foci yang baru terbentuk, dan mineralisasi muncul sebagai osteodentin, menunjukkan bahwa sifat fitokimia biodentin mampu mendorong proses mineralisasi. Margunato et al (2015) melakukan uji biokompabilitas biodentin terhadap sel punca sumsum tulang manusia. Biodentin meningkatkan tingkat ekspresi tranksripsi runt-related faktor 2 dan menstimulasi

diferensiasi osteogenik dari sel sumsum tulang manusia. Lee et al (2014) menganjurkan penggunaan biodentin sebagai bahan untuk pengisian saluran akar karena ketika berkontak dengan sel punca mesenkim, biodentin akan menginduksi diferensiasi odontoblas.32,22

Selain itu, biodentin memiliki daya sitotoksitas yang rendah, mampu menstimulasi serat kolagen dan pembentukan fibroblas, kemampuan penyegelan yang sangat baik serta mencegah kebocoran mikro dan inflamasi pulpa dengan membentuk pembatas sekunder di bawah restorasi.Kemampuan penyegelan yang baik biodentin dikarenakan kemampuannya untuk memproduksi kalsium hidroksida selama proses hidrasi, yang akan membentuk fase kalsium fosfat ketika berkontak dengan fosfat dari cairan jaringan. Tingkat kebasaan yang tinggi dari biodentin ini akan menurunkan komponen kolagen dari interfasial dentin, dan akan membentuk struktur porus yang memfasilitasi penyerapan ion Ca(2+), OH(-), dan CO(3)(2-).32,33

Penelitian menunjukkan bahwa respon pulpa setelah dikaping secara direk berhubungan dengan kebocoran mikro. Mikroba akan mengganggu respon pulpa terhadap bahan material. Bakteri menstimulasi aktivitas inflamasi pulpa dan mengurangi area pembentukan jembatan dentin terlepas dari bahan yang digunakan untuk kaping pulpa. Banyak peneliti menyatakan bahwa kemampuan pulpa untuk bertahan hidup setelah terpapar, bukan disebabkan bioaktivitas dari bahan, namun kemampuannya untuk melindungi pulpa dari paparan bakteri.32

Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah hari ke-1,3 dan 7. Pada hari ke-1 neutrofil merupakan sel pertama yang muncul pada daerah injuri dan akan bertahan selama 3-4 hari. Neutrofil akan memfagositosis benda asing, bakteri dan jaringan yang rusak. Sel makrofag akan mulai muncul pada hari ke-2 dan mencapai puncaknya pada hari ke-3 setelah injuri. Sel ini melanjutkan proses fagositosis dan akan bertahan hingga penyembuhan luka selesai. Sedangkan sel limfosit akan mulai muncul pada hari ke-6 setelah injuri. Pada penelitian ini dilihat ke arah penyembuhan. Fibroblas merupakan sel yang berperan dalam proses penyembuhan dan pertama kali muncul 3 hari setelah injuri dan akan bertahan selama 2 minggu.16

Pada tabel 4, kelompok ekstrak kulit manggis 5% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Sedangkan pada kelompok ekstrak kulit manggis 10% terlihat perbedaan yang signifikan. Kelompok ekstrak kulit manggis 10% menunjukkan penurunan sel radang yang lebih banyak dibandingkan dengan kelompok ekstrak kulit manggis 5% setelah mengalami inflamasi. Hubungan antara kadar atau dosis obat bahwa peningkatan dosis akan menimbulkan peningkatan efek farmakobiologik.52 Pada penelitian ini, ekstrak kulit manggis 10% memeberikan hasil yang lebih baik dibandingkan ekstrak manggis 5%. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan adanya penurunan sel sel radang pada pulpa yang diberi ekstrak kulit manggis 5%.

Hasil penelitian ini didukung dengan pernyataan Bumrungpert et al (2009) bahwa kulit manggis memiliki efek antiinflamasi dengan komponen aktif dari Xanthone yaitu α-mangostin dan γ-mangostin. Dia menemukan bahwa α-mangostin dan γ-mangostin menghambat inflamasi yang diinduksi oleh Lipoposakarida di dalam sel adiposa manusia.Selain itu, α-mangostin dan γ-mangostin mampu mengurangi ekspresi tumor necrosis factor (TNF)-α dan IL-6. Liu et al (2012) dalam studi antiinflamasinya menyatakan bahwa α-mangostin mampu menghambat TNF-α dan InterLeukin(IL)-4.Penelitian ini juga didukung oleh Nakatani et al (2002) yang menyatakan bahwa gamma mangostin mampu menghambat sintesa PGE2 dan siklooksigenase (COX) dalam sel glioma tikus C6. Kedua senyawa dan enzim tersebut merupakan mediator terpenting dalam terjadinya reaksi inflamasi. Selain itu, Sukma et al (2011) menemukan efek antiinflamasi dari kulit manggis, γ-mangostin, dengan meningkatkan gen reseptor serotonin 2, histamin H1 dan bradikinin 2 yang berperan besar dalam penyembuhan inflamasi.53,54

Hasil penelitian ini juga didukung oleh Chonmawang et al(2007) yang meneliti efek kulit manggis dalam supresi inflamasi, dengan cara menghambat radikal bebas dan sitokin pra-inflamasi dan menurunkan produksi TNF-αyang dideterminasi dengan teknik ELISA. Pada penelitian yang dilakukan Agni (2013) menyatakan senyawa lain seperti tanin dancatechin (golongan flavonoid) pada kulit manggis juga memilikiaktivitas antiinflamasi karena tanin dan catechindapat menghambat

pengeluaran prostaglandin pada jalur asam arakhidonat yang merupakan mediatorperadangan penting.45,54

Efek antiinflamasi diamati melalui penurunan sel radang pada hari ke-1, 3, dan 7. Pada tabel 5, ekstrak kulit manggis 5% antara hari ke-1 dan 3 serta hari ke-3 dan 7 tidak menunjukkan adanya perbedaan penurunan sel radang, namun antara hari ke-1 dan 7 menunjukkan adanya perbedaan penurunan sel radang. Pada tabel 6, ekstrak kulit manggis 10% antara hari ke-1 dan 3 serta hari ke-3 dan 7 tidak menunjukkan adanya perbedaan penurunan sel radang, namun antara hari ke-1 dan 7 menunjukkan adanya perbedaan penurunan sel radang.

Hasil uji efek antiinflamasi ekstrak kulit manggis pada inflamasi gigi kelinci menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka efek antiinflamasi semakin baik. Namun, biodentin memiliki efek antiinflamasi yang lebih baik dibandingkan ekstrak kulit manggis pada penelitian yang dilakukan. Pada tabel 7, efek antiinflamasi ekstrak kulit manggis 5% dibandingkan dengan biodentin menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (P=0,062) dalam mengatasi inflamasi pulpa. Hal yang sama juga terjadi saat membandingkan ekstrak kulit manggis 10% dengan biodentin (P=0,373). Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa hipotesis kedua ditolak yaitu ada perbedaan efek antiinflamasi ekstrak kulit manggis 5% dan 10% terhadap biodentin.

BAB 7

Dokumen terkait