BAB IV : HASIL PENELITIAN
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai Pada PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang
PT. Sawah Besar Farma merupakan Pengusaha Kena Pajak Pajak Pertambahan Nilai dengan NPWP 01. 310. 100.1.307.001. dan mempunyai wilayah Propinsi Pendistribusian dan Pemasaran Produk meliputi daerah Sumatera Selatan dan Jambi.
a. Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN
Dasar Pengenaan Pajak yang digunakan PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang adalah berdasarkan harga jual setelah dikurangi potongan harga. Harga jual yang menjadi dasar pengenaan pajak adalah harga pokok barang ditambah biaya-biaya yang berkaitan dengan proses penyerahan Barang Kena Pajak
Contoh. Pada Tanggal 30Juni 2008 PT. Sawah Besar Farma melakukan penyerahan obat-obatan kepada Apotik Sehati senilai Rp. 4.374.000,- Perusahaan
memberi potongan harga sebesar Rp.728.241. Perhitungan Dasar Pengenaan Pajaknya adalah:
Jumlah Harga Jual : Rp. 4.374.000 Dikurangi Potongan Harga : Rp. 728.241 Dasar Pengenaan Pajak : Rp.3.645.759
(-)
PPN 10% : Rp. 364.575
b. Tarif Pajak Pertambahan Nilai
Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan dalam rangka pembelian dan penjualan barang adalah tarif umum yaitu sebesar 10% dari Dasar Pengenaan Pajak untuk semua jenis Barang Kena Pajak.
c. Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai
PT. Sawah Besar Farma menghitung Pajak Pertambahan Nilai dengan metode Pajak Masukan (PM) dan Pajak Keluaran (PK). Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut oleh perusahaan pada saat melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, sedangkan Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar oleh Perusahaan atas Pembelian Barang kena Pajak. Dalam Melakukan Penghitungan besarnya PPN yang harus disetor serta PPN yang harus dipungut adalah berdasarkan rumus sebagai berikut:
Berikut ini adalah contoh Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang
a. Pajak Masukan
PT. Sawah Besar Farma Palembang Pada bulam Maret membeli Hufagrif Syrup 60 Ml dari PT. Gratia Husada Farma seharga Rp. 3.700.000,- sudah termasuk ongkos kirim. Maka sesuai dengan tarif yang berlaku Pajak Pertambahan Nilai yang terutang yang harus dibayar adalah:
DPP : Rp. 3.700.000,- PPN Masukan : RP. 370.000,- b Pajak Keluaran
PT. Sawah Besar Farma Palembang menjual Wintogeno Extra Cream 30 gram sebanyak 1000, dengan harga jual RP.7000 kepada apotik Puji Agung, Maka Pajak keluarannya adalah:
DPP : Rp. 7.000.000,- PPN Keluaran : Rp. 700.000,-
2. Mekanisme Penerbitan Faktur Pajak Pada PT. Sawah Besar Farma Palembang
Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai Pada PT. Sawah Besar Farma dimulai dari pembuatan Faktur Pajak. Perusahaan diwajibkan membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak karena telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Faktur Pajak pada umumnya dibuat:
Berdasarkan peraturan perpajakan Faktur Pajak harus dibuat paling lambat pada akhir bulan berikutnya setelah dilakukan penyerahan barang Kena Pajak atau penyerahan Keseluruhan Jasa Kena Pajak. Jika pembayaran telah diterima sebelum akhir bulan berikutnya, maka faktur pajak harus dibuat pada saat pembayaran. Demikian juga halnya, apabila pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak. Apabila penyerahan Barang Kena Pajak dilakukan menurut tahapan (termijn) tertentu, maka pembutan faktur pajak dilakukan pada saat pembayaran per termijn.
PT. Sawah Besar Farma menerbitkan Faktur Pajak pada saat diterimanya pembayaran. Apabila terjadi penjualan tunai maka Faktur Pajak dibuat pada tanggal penyerahan Barang Kena Pajak sedangkan apabila terjadi Penjualan kredit maka Faktur Pajak akan dibuat pada saat Pembayaran. Penjualan kredit yang terjadi di PT. Sawah Besar Farma yaitu maksimal 30 hari dari tanggal penyerahan barang. Namun sering terjadi Pembeli tidak melakukan pembayaran pada akhir masa tersebut.
Untuk mengambarkan hubungan antara saat terutang PPN dan saat pembuatan Faktur Pajak anggaplah bahwa tanggal 15 April 2008 terjadi penyerahan Barang Kena Pajak secara kredit seharga Rp. 10.000.000. Penjualan tersebut adalah penjualan kredit maksimal 30 hari. Pada saat penyerahan barang pembeli membayar tunai sebesar Rp. 2.500.000,-. Namun pada saat akhir masa pembayaran pembeli belum juga melakukan pembayaran. Dan setelah disepakati pembeli meminta keringanan dengan melakukan pembayaran secara cicilan. Pembayaran atas penyerahan Barang Kena Pajak dibagi sebagai berikut:
• Dibayar tunai sebesar Rp. 2.500.000.
Karena pada saat itu telah terjadi pembayaran sebesar Rp. 2.500.000, maka Faktur Pajak dibuat untuk pajak yang terutang atas jumlah tersebut, yaitu 10% x Rp. 250.000 = Rp. 250.000.
• Diangsur pada tanggal 22 Mei 2008 sebesar Rp. 6.000.000.
Karena terjadi pembayaran sebelum masa kredit berakhir dan sebelum akhir bulan berikutnya, Faktur Pajak perlu dibuat untuk pajak yang terutang atas pembayaran ini, yaitu sebesar : 10% x Rp. 6.000.000 = Rp.600.000.
• Sisanya sebesar Rp. 1.500.000 dibayar pada akhir masa kredit yaitu dua bulan setelah penyerahan.
Tanggal 31 Mei 2008 adalah akhir bulan berikut setelah terjadi transaksi. Menurut ketentuan perpajakan, Faktur Pajak harus dibuat selambat-lambatnya pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya transaksi. Oleh karena itu, pada tanggal ini sisa penjualan kredit yang belum dibayar yaitu sebesar Rp.1.500.000 perlu dibuat untuk Pajak Pertambahan Nilai yang terutang. Jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang terutang adalah 10% x Rp 1.500.000 = Rp 150.000.
Ilustrasi pembuatan Faktur Pajak untuk transaksi tersebut diatas dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 4.2
Gambar 4.2
Saat Pembuatan Faktur Pajak
TUNAI ? TERIMA ANGSURAN PEMBAYARAN SEBELUM AKHIR BULAN BERIKUT AKHIR BULAN BERIKUT AKHIR MASA KREDIT TERIMA PEMBAYARAN 15 APRIL 2008 15 APRIL 2008 22 MEI 2008 15 JUNI 2008 AWAL PROSES PENYERAHAN BKP/JKP DIBUAT FAKTUR PAJAK DIBUAT FAKTUR PAJAK DIBUAT FAKTUR PAJAK TERIMA PEMBAYARAN 31 MEI 2008 AKHIR PROSES YA YA YA YA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK YA/T IDAK
Sumber: PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang
3. Perlakuan Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai Pada PT. Sawah Besar Farma
Pemungutan dan Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak yaitu penjualan obat-obatan dilakukan ditempat kegiatan usaha, atau ditempat kedudukan perusahaan. Hal ini sama juga diberlakukan atas perolehan barang dan atau jasa. Jika perolehan tersebut berasal dari pembelian
Barang Kena Pajak, maka akan diperhitungkan di tempat kegiatan usaha atau tempat kedudukan perusahaan.
a. Akuntansi PPN Masukan.
Pencatatan PPN Masukan dimulai dari penerimaan faktur pembelian dan faktur pajak dari perusahan pemasok. Pada umumnya tanggal pembuatan faktur pembelian berbeda dengan tanggal penerbitan Faktur Pajak, hal ini dikarenakan adanya perbedaan dasar atau pedoman pembuatan dari kedua dokumen-dokumen tersebut. Faktur Pembelian diterima PT. Sawah Besar Farma pada saat barang diterima, Faktur Pajak diterima PT. Sawah Besar Farma pada saat pembayaran kepada Perusahaan Pemasok, berdasarkan Peraturan Perpajakan yang memperbolehkan tanggal faktur pajak tanggal faktur pajak mundur 1 (satu) bulan setelah akhir bulan penyerahan barang terjadi apabila penjualan dilakukan dengan kredit. Hal ini akan menimbulkan perbedaan pencatatan PPN pada laporan Akuntansi dengan Laporan Pajak.
Untuk mengatasi perbedaan pencatatan tersebut PT. Sawah Besar Farma menggunakan perkiraan sementara yaitu perkiraan “ PPN Masukan yang belum
difakturkan” dan pencatatan dilakukan dengan menggunakan Faktur Penmbelian
dan Faktur Pajak. Perkiraan ini akan didebit pada saat pencatatan Faktur Penjualan dan dikredit pada saat pencatatan Faktur Pajak, namun agar PPN yang telah dipungut tersebut dapat dikreditkan dalam SPT oleh pembeli maka Faktur Pajak Masukan tersebut harus dilaporkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai
biaya dan belum dilakukan pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Untuk lebih jelasnya kita ikuti ilustrasi berikut ini:
PT. Sawah Besar Farma Pada tanggal 7 Maret 2008 membeli Antalgin Kaplet dari PT. Emba Mefarma seharga Rp. 25.000.000,- ditambah PPN 10% .Faktur Pembelian diterima pada saat penyerahan barang. Pembayaran dilakukan pada tanggal 28 Mei 2008 dan faktur pajak diterima tanggal tersebut. Transaksi diatas akan dijurnal sebagai berikut:
a. Pada saat diterima Faktur Penjualan ( 7 Maret 2008)
Persediaan Antalgin Kaplet Rp. 25.000.000 PPN masukan belum difakturkan Rp. 2.500.000
Hutang Dagang Rp.27.500.000 b. Pada saat diterima Faktur Pajak ( 28 Mei 2008)
PPN Masukan Rp. 2.500.000
PPN Masukan belum difakturkan Rp. 2.500.000 Berdasarkan jurnal diatas dapat disimpulkan bahwa dalam Laporan Akuntansi atas pembelian persediaan tanggal 7 Maret 2008 sudah dilaporkan sebagai peningkatan persediaan, namun dalam Laporan Pajak belum diterbitkan dan diterima oleh perusahaan, walaupun perusahaan telah membayar hutang dagang pada tanggal 8 Maret 2008, namun sepanjang Faktur Pajak belum diterima maka belum dapat dilaporkan dalam laporan pajak, atas pembelian tersebut baru dapat dilaporkan dalam SPT Masa PPN masa Mei 2008 karena Faktur Pajaknya baru diterima dan masih dapat dikreditkan sebagai PPN Masukan karena belum lewat dari 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya masa pajak tersebut.
b. Akuntansi PPN Keluaran.
Pencatatan PPN Keluaran tidak jauh berbeda dengan PPN Masukan. Pada Laporan Pajak, PPN keluaran tidak hanya PPN-nya saja yang dilaporkan tetapi juga penjualan dari perusahaan tersebut. Secara garis besar pencatatan PPN keluaran pada PT. Sawah Besar Farma dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. PPN untuk penjualan tunai
Untuk pencatatan tunai tanggal Penjualan sama dengan pembuatan Faktur Pajak, dengan demikian pencatatan PPN-nya pada Laporan Akuntansi dan Laporan Pajak akan sama pula. Pencatatan jurnalnya jika terjadi transaksi penjualan tunai senilai Rp. 15.000.000,- adalah sebagai berikut :
Kas Rp. 16.500.000,-
Penjualan - Rp. 15.000.000,- PPN Keluaran - Rp. 1.500.000,- b.PPN untuk penjualan kredit
Untuk penjualan obat-obatan secara kredit, PT.Sawah Besar baru menerbitkan Faktur Penjualan pada saat penyerahan barang, sedangkan penerbitan Faktur Pajak pada saat diterimanya pembayaran dari pelanggan. PT. Sawah Besar Farma menerbitkan Faktur Pajak paling lambat 30 hari setelah penyerahan barang, hal ini sesuai dengan peraturan Perpajakan yang menerapkan pembuatan Faktur Pajak akhir bulan berikutnya setelah penyerahan barang dan atau jasa jika penjualan tersebut dilakukan secara kredit.
Dalam melakukan pencataan PPN atas penjualan kredit ini timbul masalah yang diakibatkan perbedaan tanggal antara Faktur Penjualan dengan Faktur Pajak. Sama halnya dengan PPN Masukan untuk mengatasinya digunakan penerbitan sementara, yaitu “PPN Keluaran yang belum difakturkan”. Perkiraan ini akan dikredit pada saat pencatatan invoce dan di Debit pada saat pencatatan Faktur Pajak. Untuk lebih jelasnya kita lihat contoh sebagai berikut:
Pada tanggal 5 Maret 2008 PT. Sawah Besar Farma menjual Melanox Cream 20 gram kepada Apotek Kimia Farma sebesar Rp. 1.500.000,- ditambah PPN 10%. Pembayaran dilakukan Pada tanggal 10 April 2008. Perusahaan menerbitkan Faktur Penjualan pada tanggal 5 Maret 2008, dan menerbitkan Faktur Pajak tanggal 10 April 2008. transaksi akan dijurnal sebagai berikut:
Pada saat penerbitan invoice (5 Maret 2008)
Piutang Dagang Rp. 1.650.000
Penjualan- Melanox 20 gr Rp.1.500.000 Pajak keluaran belum difakturkan Rp. 150.000 Pada saat menerbitkan faktur pajak (10 April 2008)
Pajak Keluran belum difakturkan Rp. 150.000.
c. PPN untuk penjualan kepada pemungut PPN (Bendaharawan Pemerintah atau Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara)
PPN atas penjualan kepada Pemungut PPN (Bendaharawan Pemerintah atau Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara) akan disetor sendiri oleh pembeli barang atau si penerima jasa, yaitu pemungut PPN. Kewajiban PT. Sawah Besar Farma adalah menerbitkan invoice, Faktur Pajak, dan Surat Setoran Pajak(SSP) yang kemudian atas PPN Keluaran yang seharusnya dipungut dan disetor oleh PT. Sawah Besar Farma akan dialihkan kepada pembeli barang atau penerima jasa, yaitu pemungut PPN. Faktur Pajak (SSP) dibuat oleh PT. Sawah Besar Farma pada saat dilakukan penagihan, dan pemungut PPN akan mengembalikan Faktur Pajak lembar kedua yang dibubuhkan cap “Disetor……..” dan menandatanganinya pada lembar Faktur Pajak Standar serta memberikan bukti setor (SSP). PPN lembar pertama dan ketiga kepada penjual. SSP ini akan dilaporkan PT. Sawah Besar Farma dalam laporan pajak sebagai SSP terima dalam hal SSP telah dikembalikan oleh pemungut PPN atau SSP belum diterima dalam hal SSP belum dikembalikan oleh pemungut PPN, namun penjual tetap berhak memperhitungkan PPN keluaran tersebut sebagai pengurang total PPN keluaran ( Lampiran 1 Formulir 1107A.IV) dalam laporan Pajak.
Faktur pajak diserahkan ke Pemungut PPN keluaran bagi penjual dan SSP (bukti setor) yang diterima berfungsi sebagai bukti hutang pajak (PPN Keluaran) telah disetor oleh Pemungut PPN. Berdasarkan uraian diatas, PPN atas penjualan kepada pemungut PPN tidak diadakan pencatatan akuntansi, karena itu bukan merupakan hutang pajak yang harus dibayar oleh perusahaan. Akan tetapi
perusahaan mempunyai catatan khusus mengenai rincian Faktur Pajak yang dikeluarkan untuk Pemungut PPN dan juga mempunyai rincian Faktur Pajak yang telah diterima bukti setornya serta Faktur Pajak yang belum diterima SSP-nya. Dalam hal ini piutang dagang yang dicatat hanya senilai harga barangnya saja. Contoh: PT. Sawah Besar Farma Palembang menjual Serum Anti Rabies 20 ml ke RS.DR. Mohammad Hoesin (Instansi Pemerintah- Pemungut PPN) senilai Rp. 3.750.000,- ditambah PPN 10% maka transaksi ini akan dicatat sebagai berikut:
Piutang dagang Rp. 3.750.000,-
Penjualan Rp. 3.750.000
PPN Rp. -0-
4. Mekanisme Kredit Pajak serta Pelaporan SPT Masa PPN
Mekanisme pengkreditan yang dilakukan PT. Sawah Besar Farma dilakukan pada setiap akhir bulan dengan menandingkan pajak masukan yang diperoleh melalui bukti faktur pajak standar dengan pajak keluaran yang sudah dipungut dengan bukti faktur pajak standar. Kemudian dihitung apakah terjadi lebih bayar atau kurang bayar, yang kemudian akan dilaporkan dalam SPT Masa PPN. SPT Masa PPN terdiri dari:
1. Induk SPT- Formulir 1107 ( F.1.1.32.01)
2. Lampiran 1 Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM- Formulir 1107 A (D.1.2.32.02); dan
3. Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan dan PPnBM- Formulir 1107 B (D.1.2.32.02).
Contoh: Pada Bulan Januari 2007 ( lihat lampiran 1) diketahui Pajak Keluaran PT. Sawah Besar Farma adalah sebesar Rp. 99.028.260,- Pajak Masukannya adalah sebesar Rp.120.173.520,- maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Pajak Keluaran Rp. 99.028.260,- Pajak Masukan Rp.
PPN lebih bayar Rp. (21.145.260) 120.173.520,-
Dari perhitungan diatas diketahui PPN Masukan lebih besar dari pada PPN keluarannya yang berarti ada kelebihan setoran maka jurnal penutupnya adalah sebagai berikut:
PPN Keluaran Rp. 99.028.260,- PPN Lebih dibayar Rp. 21.145.260,-
PPN Masukan Rp. 120.173.520,-
PPN yang lebih dibayar akan dikompensasikan dengan masa pajak berikutnya Dalam hal pelaporan SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai, PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang telah melaporkan tepat waktu yaitu setiap tanggal 20 setiap bulannya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan data-data yang telah diperoleh serta hasil yang telah dipaparkan, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang merupakan perusahaan Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang mendistribusikan produk obat-obatan ethical, OTC dan obat kontrasepsi meliputi wilayah pemasaran Sumatera Selatan dan Jambi. PT. Sawah Besar Farma mendistribusikan perbekalan farmasi ke apotik, rumah sakit, instalasi kesehatan dan toko obat dan dalam setiap transaksi diwajibkan untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
2. Dalam melakukan penghitungan Pajak Pertambahan Nilai PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang menggunakan tarif tunggal 10% (sesuai peraturan perpajakan yang berlaku) untuk semua transaksi penjualan secara tunai dan kredit. PT Sawah Besar Farma memberikan potongan penjualan kepada pelanggan yang memenuhi syarat dan ketetuan perusahaan.
3. PT. Sawah Besar Farma menerapkan pengakuan pendapatan berdasarkan penjualan tunai dan kredit, dimana penjualan kredit terbagi 3, yaitu
a. Penjualan kredit yang memiliki jangka waktu 1 (satu) minggu b. Penjualan kredit yang memiliki jangka waktu 1 (satu) bulan
c. Penjualan Kredit kepada Pemungut PPN/ Bendaharawan Pemerintah Dalam prakteknya pengakuan pendapatan mempunyai perbedaan yang cukup mendasar, dimana pada penjualan tunai dan kredit dalam umur satu minggu dan satu bulan, Pajak Pertambahan Nilai yang terutang langsung dapat diperhitungkan, sedangkan penjualan kredit kepada pemungut PPN harus menunggu pembayaran sebagai dasar memperhitungkan Pajak Pertambahan Nilainya. Untuk menghindari kesalahan dalam memperhitungkan Pajak Pertambahan Nilai terutang maka dibuat perkiraan sementara.
4. PT. Sawah Besar Farma Cabang Palembang sudah melaporkan secara akurat dalam SPT Masa PPN, baik Paik Pajak Masukan maupun Pajak Keluarannya. Pencatatan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran dilakukan setiap akhir bulan, yaitu setelah dibuatnya rekapitulasi pembelian dan rekapitulasi penjualan.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan kajian pustaka, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Diperlukan Penerapan Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai dalam menentukan besarnya Pajak Pertambahan Nilai yang terutang untuk menghindari kesalahan.
2. Untuk menghindari kesalahan karena dibuatnya perkiraan sementara maka diharapkan perusahaan menggunakan beberapa catatan untuk menampung
transaksi kepada Pemungut PPN sebelum dilakukannya pembayaran sebagai dasar penghitungan PPN terutang.
3. Untuk menghindari kerugian perusahaan dalam menetapkan PPN terutang maka pembuatan Surat Pemberitahuan Masa PPN diharapkan tetap memperhatikan Faktur Pajak Masukan yang diterima maupun Faktur Pajak Keluaran, sebab apabila ada kesalahan sekecil apapun maka harus dilakukan pembetulan pada masa berikutnya.
4. Agar lebih efisien dan menghindari rangkap jabatan diperlukan adanya petugas Administrasi PPN yang bertugas mencatat /membukukan PPN Masukan dan Keluaran serta mengisi surat-surat yang berhubungan dengan PPN termasuk mengisi SPT Masa PPN.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno dan Estrakta Trisnawati, 2007. Akuntansi Perpajakan, Salemba Empat, Jakarta.
Arifin, Johar, Dedi Junaedi dan Yasdin Darwis, 2002. Pajak Pertambahan Nilai berbasis Komputer, PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
Brotodihardjo, R,Santoso,1991. Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Edisi Ketiga, PT Eresco, Bandung.
Harnanto, 2003. Akuntansi Perpajakan, Edisi Pertama, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.
Ilyas, Wirawan B. dan Rudi Suhartono, Panduan Komprehensif dan Praktis Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan barang Mewah, 2007. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.
Ilyas, Wirawan B dan Waluyo, 2002. Perpajakan Indonesia, Salemba Empat, Jakarta.
Ismawan, Indra, 2001. Memahami Reformasi Perpajakan 2000, PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
Mardiasmo,2002. Perpajakan, Edisi Revisi, Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta.
Resmi, Siti, 2007. Perpajakan Teori dan Kasus, Buku 2, Edisi 3, Salemba Empat, Jakarta
S.R., Soermarso, 2007 Perpajakan Pendekatan Komprehensif, Salemba Empat, Jakarta.
Suandy, Erly, 2003. Perencanaan Pajak, Edisi Revisi, Salemba Empat, Jakarta. Sukardji, Untung, Pajak Pertambahan Nilai, 2000. PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Soemitro, Rochmat, 1990. Pengantar Singkat Hukum Pajak, PT Eresco, Bandung. Waluyo, Perpajakan Indonesia,2006. Buku 2, Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta.
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Departemen Akuntasi,2004. Buku Petujuk Teknik Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.
Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER- 146/PJ/2006; Tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)
Republik Indonesia,Undang-Undang Pajak tahun 2000, 2001. Edisi Lengkap, Salemba Empat, Jakarta.
Yayasan Artha Bhakti Cabang Medan Pelatihan dan Pendidikan Brevet A/B Angkatan IX Tahun 2008. Materi PPN dan SPT, Medan.