• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.3 Analisis Hasil Penelitian

Perbedaan reaksi pembentukan dentin reparatif pada kelompok kitosan nanopartikel hidrogel gliserofosfat, Ca(OH)2, dan kontrol negatif antara ke-3 periode

Periode

waktu (hari ke 7, 14, dan 30) dianalisa dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis Test, dengan derajat kemaknaan (α=0,05). Sedangkan perbedaan efek kitosan nanopartikel hidrogel gliserofosfat dan Ca(OH)2 antara ke-3 periode waktu (hari ke 7, 14, dan 30 ) dianalisa menggunakan uji MannWhitney Test, dengan derajat kemaknaan (α =0,05).

Hasil uji statistik dapat dilihat pada lampiran.

Tabel 5. Hasil Uji Kruskal-Walis Test α=0.05 perbedaan reaksi pembentukan dentin reparatif seluruh bahan coba antara ke-3 periode waktu.

Kelompok Mean Rank P

Hari 7 Hari 14 Hari 30

Kn-GF 2,00 5,83 7,17 0.045*

Ca(OH)2 2,00 5,83 7,17 0.047*

Kontrol (-) 3,00 4,50 7,50 0,061

Keterangan : * = signifikan bila P<0,05

Tabel 5 menunjukkan bahwa pada kelompok Kn-GF dan Ca(OH)2 memiliki potensi dalam pembentukan dentin reparatif secara signifikan (p<0,05) antara ke-3 periode waktu (hari 7, hari 14, dan hari 30 ), sebaliknya, pada kelompok kelompok kontrol negatif tidak terbentuk jaringan keras yang signifikan (p>0,05) antara ke-3 periode waktu (hari 7, hari 14, dan hari 30).

Tabel 6. Hasil Uji Mann-Whitney Test α=0.05 perbedaan efek antara kitosan hidrogel gliserofosfat dan Ca(OH)2

Bahan Mean Rank P

Kn-GF 7,71

0,495

Ca(OH)2 5,83

Tabel 6 menunjukkan bahwa pada kelompok bahan Kn-GF dan Ca(OH)2 tidak ada perbedaan yang signifikan (p<0,05).

BAB 6 PEMBAHASAN

Penelitian tentang potensi hidrogel gliserofosfat kitosan terhadap pembentukan dentin reparatif pada gigi pulpitis reversibel. Dalam penelitian ini, digunakan tikus sebagai hewan coba. Spesies ini telah berguna dalam penelitian kedokteran gigi untuk menjelaskan informasi biologi untuk membuktikan pengertian dari mekanisme dasar proses penyakit, untuk eksperimen secara klinik dan epidemologi yang dimaksudkan untuk memberikan informasi yang dapat diaplikasikan secara langsung pada manusia.44 Penelitian ini menerapkan prinsip etik 3R yaitu : Replacement adalah keperluan memanfaatkan hewan percobaan sudah di perhitungkan secara seksama, dari pengalaman terdahulu maupun literatur. Reduction adalah pemanfaatan hewan dalam penelitian sesedikit mungkin, tetapi tetap mendapatkan hasil yang optimal. Refinment adalah memperlakukan hewan coba secara manusiawi.

Penggunaan tikus sebagai hewan coba dalam penelitian ini telah mendapat persetujuan Komisi Etik dengan Pelaksanaan Bidang Kesehatan oleh Health Research Ethical Committee USU dengan No. 484/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2016.

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan perforasi pulpa gigi molar tikus karena secara histologis dan fisiologis jaringan gigi molar tikus sangat mirip dengan gigi molar manusia, juga bentuk, fungsi, dan perkembangan gigi-giginya.46 Setelah gigi diperforasi terjadi perdarahan yang dibersihkan dengan cotton pelet lalu dilakukan bahan diaplikasikan dan dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400x. Kesulitan menggunakan gigi tikus sebagai hewan coba adalah letak gigi molar tikus yang terlalu jauh kebelakang dan ukuran gigi yang kecil sehingga menyulitkan akses preparasi gigi dan pengaplikasian bahan coba.

Daerah iritasi mengandung komponen-komponen: sel plasma, limfosit, makrofag dan lain-lain.Waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 7 hari, 14 hari, dan 30 hari. Pada hari ke-7 dan ke-14 dilakukan pengamatan sel makrofag.

Makrofag adalah mononuklear yang memegang peranan penting sebagai fagositir imunogen pada proses keradangan, sedangkan pada proses pemulihan jaringan fungsinya juga diperlukan untuk merangsang fibroblas.1 Sel makrofag muncul pada 48-96 jam setelah injuri dan mencapai puncak pada hari ke-3 setelah injuri.4

Sel-sel seperti leukosit PMN, makrofag, limfosit, sel-sel plasma, dan sel-sel mast dalam pulpa yang terinflamasi menunjukkan reaksi imunologis ikut berpartisipasi dalam mengatur patogenesis pulpa. Dalam perbaikan jaringan luka, fibroblas dan makrofag mulai me-remodelling daerah sekitar luka, menurunkan kadar protein yang membentuk matriks gumpalan darah dan menggantinya dengan sebuah matriks menyerupai seperti jaringan disekitarnya. Pada dentinogenesis tersier, matriks yang banyak mengandung fibronektin dapat menjadi reservoir dari faktor pertumbuhan, dimana telah diketahui sebagai molekul yang memberikan sinyal untuk terjadinya diferensiasi sel odontoblast yang baru.32

Bahan alami banyak digunakan dalam mengatasi inflamasi pulpa reversibel.

Salah satunya penelitian Trimurni Abidin et al (2006) menggunakan kitosan dan derivatnya terhadap inflamasi jaringan pulpa reversibel. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahan tersebut mampu menstimulasi pembentukan dentin reparatif dan penurunan jumlah sel-sel inflamasi. Pada penelitian ini menggunakan kitosan gliserofosfat menunjukkann adanya efek antiinflamasi. Pada tabel 3 terlihat pada kelompok hidrogel K-GF hari ke-7 masih terlihat sel inflamasi ringan, yaitu infiltrasi sel makrofag dalam jumlah sedikit sementara pada hari ke 14 tidak terdapat sel inflamasi. Kitin-kitosan digunakan sebagai bahan untuk mempercepat dan menyembuhkan luka karena sifatnya dapat mengkoagulasikan darah dengan cepat.27

Larutan hidrogel kitosan gliserofosfat bersifat termosensitif dan akan mengalami gelasi pada suhu tubuh (sekitar 37 °C). Nilai pH larutan ini berada di sekitar pH fisiologis. Hidrogel kitosan-gliserofosfat juga bersifat biokompatibel dan dapat menyediakan lingkungan untuk proliferasi dan diferensiasi sel. Penelitian ini menggunakan HPMC karena bersifat netral. Hal ini di dukung oleh Rowe et al (2009) menyatakan bahwa HPMC dapat membentuk gel yang jernih serta memiliki viskositas yang stabil pada penyimpanan jangka panjang. HPMC juga tidak

memengaruhi fungsi dari zat yang dikentalkannya, sehingga tidak memengaruhi hasil penelitian yang dilakukan.41

Penelitian in vitro oleh Tien (2014) menunjukkan kemampuan K-GF mendukung odontogenesis dan angiogenesis relatif sebanding dengan MTA.

Kelebihan dari K-GF sebagai perancah adalah karena berada pada pH fisiologis, membentuk gel pada suhu tubuh. Protein yang menjadi penanda diferensisasi odontogenesis adalah kolagen I, dentin sialophosphoprotein (DSPP). Penelitian Tien menunjukkan terjadi peningkatan sekresi kolagen pada kelompok K-GF dan MTA.

Sifat kimia dan lingkungan fisik pada kelompok K-GF dan MTA menginduksi sel pulpa untuk melepaskan growth factor yang terlibat dalam diferensiasi sel pulpa.

Pada tabel 4, hidrogel kitosan nanopartikel gliserofosfat dan Ca(OH)2 pada periode waktu hari ke 14 dan 30 menunjukkan hasil yang signifikan (p<0.05).

Kelompok hidrogel Kn-GF dan Ca(OH)2 terjadi deposisi jaringan keras pada hari ke-14 dan semakin jelas terbentuknya dentin reparatif hari ke-30 pada kelompok hidrogel Kn-GF. Dari penelitian ini terlihat bahwa hipotesis pertama diterima yaitu hidrogel Kn-GF dan Ca(OH)2 memiliki potensi dalam pembentukan dentin reparatif.

Penelitian Trimurni et al (2006) kitosan yang diperoleh dari cangkang blangkas mempunyai berat molekul tinggi mampu menstimulasi dentin reparatif dengan memacu sel-sel pulpa odontoblas untuk mengadakan migrasi dan proliferasi.

Hal ini disebabkan karena kitosan akan menghasilkan koagulan yang padat yang memungkinkan terbentuknya sub-base membran yang memungkinkan perlekatan sel-sel pulpa seperti odontoblas untuk mengadakan migrasi dan proliferasi. Pemeriksaan imunohistokimia dari sampel gigi tikus yang diletakkan kitosan blangkas menunjukkan ekspresi Alkaline Fosfatase yang merupakan marker dari sel odontoblas yang aktif.38 ALP merupakan enzim hidrofilik yang bekerja dengan membebaskan fosfat organik dari ester fosfat. ALP yang dihasilkan oleh odontoblas adalah tipe non spesifik.39 ALP merupakan penanda terjadinya remineralisasi jaringan, suatu aspek proses penyembuhan.2 Adanya aktivitas TGF-β1 yang merupakan growth factor sebagai molekul pesinyal pada perawatan pulpa yang

terbuka dengan kaping pulpa direk menunjukkan adanya mekanisme seluler dan molekuler pada regulasi dentinogenesis.38

Hasil penelitian Dian Susanthy (2015) hidrogel kitosan-gliserofosfat dapat digunakan sebagai bahan perancah gigi karena bersifat termosensitif, dapat bergelasi pada suhu tubuh, mempunyai pH di sekitar pH fisiologis, bersifat biokompatibel, dan dapat menyediakan lingkungan untuk proliferasi dan diferensiasi sel.47 Sementara antara hidrogel Kn-GF dan Ca(OH)2 yang terlihat pada tabel 6 tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0.05) sehingga hipotesis kedua ditolak artinya K-GF tidak lebih unggul dari Ca(OH)2 dalam pembentukan dentin reparatif pada gigi pulpitis reversibel. Namun, pada tabel 4 kelompok hidrogel Kn-GF pada hari ke-30 terlihat dentin reparatif yang terbentuk lebih jelas dibanding Ca(OH)2. Hasil penelitian terdahulu Trimurni et al (2006) bahwa pemakaian kitosan blangkas, kitosan komersial, dan Ca(OH)2 dapat memacu dentinogenesis pada pengamatan 2 minggu dan 1 bulan. Walaupun ada perbedaan dalam dentinogenesis yang terjadi bahwa kitosan blangkas dan kitosan komersil dapat memacu proliferasi sel pulpa secara in vivo untuk menbentuk dentin reparatif lebih baik dari kalsium hidroksida.12

BAB 7

Dokumen terkait