• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.2.3 Analisis Industri Five Porter’s Analysis

5.2.3.1 Persaingan antar bank dalam industri perbankan

Perkembangan perbankan nasional Indonesia saat ini sejak diberlakukannya Undang-undang No 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang No 7 Tahun 1992, perbankan nasional Indonesia telah berkembang dengan menggunakan kerangka dual banking system yang mana selain terdapat perbankan konvensional yang telah lama berkembang, juga tumbuh secara berdampingan sistem perbankan syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Dalam dual banking system, kedua jenis bank tersebut secara sinergis dan bersama-sama memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat terhadap produk dan jasa perbankan. Adanya dual banking system dalam industri perbankan akan menyebabkan terjadinya persaingan antara bank umum konvensional dan bank umum syariah.

Ancaman masuknya pendatang baru Industri perbankan mempunyai barriers to entry yang cukup kuat. Kesulitan terbesar untuk memasuki industri perbankan adalah regulasi dari Bank Indonesia. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No:11/1/PBI/2009 menyatakan bahwa untuk mendirikan bank membutuhkan modal disetor paling sedikit sebesar 3 triliun rupiah. Selain itu, sesuai dengan peraturan PBI No.7/15/PBI/2005 dan PBI No.9/16/PBI/2007 tentang Jumlah Modal Inti Minimum, jumlah modal inti minimum yang harus dipenuhi oleh semua bank umum yang beroperasi di Indonesia sebesar Rp100 miliar yang harus dipenuhi pada akhir tahun 2010. Bank Indonesia juga memberlakukan peraturan untuk membatasi jumlah perbankan asing yang ingin masuk ke pasar Indonesia.

Kendala lainnya untuk memasuki industri ini terletak di peta persaingan perbankan Indonesia yang didominasi oleh 10 bank terbesar yang sudah mempunyai brand image yang kuat di masyarakat yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, Bank Negara Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Permata, Bank Panin, Bank Internasional Indonesia dan Bank Tabungan Negara..

5.2.3.2 Kekuatan penawaran dari pembeli

Dalam industri perbankan, pembeli adalah nasabah atau debitur yang menggunakan jasa-jasa perbankan. Nasabah atau debitur tersebut dapat berasal dari korporasi ataupun pengguna perseorangan. Karena Bank ICB Bumiputera pada tahun 2013 merupakan bank Buku 1 yang merupakan Bank dengan modal intinya sampai atau kurang dari satu triliun, maka jumlah nasabahnya juga terbatas jika nasabah tidak dijaga dengan baik kemungkinan mereka akan pindah kepada pelayanan pada bank lain. Dalam hal ini, nasabah mempunyai kekuatan

penawaran yang sangat kuat dan memungkinkan untuk berganti menggunakan jasa ke bank lain. Hal-hal yang sangat menjadi perhatian bagi para nasabah adalah kualitas pelayanan atau service bank tersebut, tingkat suku bunga, brand image yang kuat sehingga nasabah merasa aman menggunakan jasa pada bank dan kemudahan fasilitas yang didapatkan. Bank ICB Bumiputera tentunya meningkatkan pelayanan dengan mengadakan program-program seperti memberikan hadiah langsung kepada para nasabah hanya dengan menukarkan struk ATM Bersama atau membuka rekening tabungan. Kemudian ada program

“Bung Hari Suka – Suka” dimana memberikan hadiah dimuka untuk setoran awal, dan keunggulan lainnya bebas premi asuransi rawat inap gratis hingga 182,5 juta rupiah, bebas pilih hadiah, bebas biaya tarik tunai dan bebas administrasi bulanan.

Nasabah mempengaruhi industri melalui kemampuan mereka untuk menekan turunnya harga, permintaan terhadap kualitas atau jasa yang lebih baik, dan memainkan peran untuk melawan satu pesaing dengan lainnya.

5.2.3.3 Kekuatan penawaran dari suplier

Supplier dalam industri perbankan adalah pemasok dalam menyokong alat – alat utama dan pendukung kegiatan perbankan seperti mesin ATM, aplikasi sistem informasi, atau Enterprise Resources Planning (ERP) perusahaan, Bank ICB Bumiputera berada pada ukuran perusahaan menengah dengan aset yang kecil dan modal inti pada buku 1 maka mempunyai supplier mempunyai kekuatan penawaran yang rendah dikarenakan jumlah pemasok relatif banyak dan pelanggan dari mereka (perbankan) terhitung sedikit, membuat tingkat permintaan akan produk mereka tidak terlalu tinggi. Ini akan memengaruhi tingkat daya tawar pemasok.

5.2.3.4 Ancaman dari produk atau jasa substitusi

Produk atau jasa substitusi sebagai pengganti dari perbankan meliputi produk-produk investasi lainnya seperti instrument pasar modal yaitu saham dan obligasi yang menawarkan return yang lebih tinggi namun risiko yang lebih besar. Para investor yang risk seeker lebih cenderung untuk berinvestasi di pasar modal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Selain itu ancaman subtitusi kekinian adalah Fintech (Financial Technology) yang merupakan perpaduan antara jasa keuangan dengan teknolgi, jika prosedur pembayaran saat ini terjadi dengan bertatap muka, sekarang dapat dilakukan dengan jarak jauh dalam hitungan detik saja, sehingga fintech dirasa dapat menyederhanakan transaksi, menekan biaya operasional dan biaya modal, fintech yang ada di Indonesia misalnya Go-pay, T-cash, Amartha, Doku, dan banyak lainnya. Ancaman dari sisi substitusi tergolong tinggi, ini diukur dari opsi atau pilihan masyarakat ketika ingin menginvestasikan uang yang dimiliki agar memperoleh manfaat lebih selain di perbankan seperti di Lembaga Keuangan Asuransi, Koperasi, Pasar Modal, Reksadana dan Pegadaian ataupun Fintech.

Tidak ada biaya peralihan pada faktor subtitusi lembaga keuangan, sehingga nasabah dengan mudah berpindah dari satu bank ke lembaga keuangan lainnya 5.3 Analisis Rasio Keuangan

Tabel 5.4 Rasio Keuangan PT. Bank ICB Bumiputera Tbk

Rasio

CAR 12,55 10,47 11,21 13,09 17,79 17,83 19,54 12,58 NPL Gross 4,34 6,25 5,78 4,88 5,88 2,97 2,77 7,23 NPL Net 3,24 3,35 3,99 2,36 3,86 2,43 2,38 2,82 BOPO 94,60 114,63 99,68 107,77 108,54 98,97 95,61 180,62

PDN 8,23 3,96 4,19 4,04 6,10 6,82 3,70 6,95

Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimun (CAR) rata-rata selama delapan tahun sejak 2010 sampai dengan 2017 adalah 14,3825%, terjadi penurunan jumlah CAR di tahun 2011 yakni menjadi sebesar 10,47%, namun meningkat terus ditahun selanjutnya sampai dengan tahun 2017. Rasio NPL Gross meningkat dari 4,34% di tahun 2010 menjadi 6,25% di tahun 2011, sementara BPL Net meningkat sedikit dari 3,24% menjadi 3,35% di tahun 2011, terlihat ada kendala dalam penyelesaian kredit bermasalah. NPL Gross sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 berfluktuasi sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari treshold OJK sebesar 5% sehingga kondisi ini mencerminkan keadaan yang tidak aman dan dimana perusahaan berusaha keluar dari tekanan menyelesaikan pinjaman bermasalah, namun pada tahun 2015 sampai dengan 2017 NPL Gross mulai membaik setelah terjadinya akuisisi oleh MNC Bank di Tahun 2014. ROA juga menurun di tahun 2011 menjadi -1,64% dibanding tahun 2010 sebesar 0,51%, penurunan ini sebanding dengan rugi yang terjadi di tahun 2011. Rugi bersih juga terjadi di tahun 2013, sehingga berdampak pada ROE di tahun tersebut, tahun 2011 menurun dibanding tahun 2010, begitu juga dengan ROE pada tahun 2013 menurun dibanding tahun 2012. Net Interest Margin (NIM) naik di tahun 2011 dan 2012 menjadi sebesar 5,43% dan 5,44% dan perlahan terus menurun di tahun 2014 sampai dengan tahun 2017.

5.4 Harga Saham

Informasi Harga Saham selama tahun 2009 -2013 adalah sebagai berikut : Tabel 5.5 Harga Saham PT. ICB Bank Bumiputera 2009-2013

Tahun Triwulan

penutupan I II III IV

2013 175 127 108 133

2012 130 140 140 168

2011 155 120 125 106

2010 140 84 120 135

2009 50 74 71 100

Harga saham yang terjadi pada perusahaan sangat fluktuatif, pada triwulan I tahun 2009 harga saham tercatat 50 rupiah, terus meningkat di triwulan II dan III, kemudian di triwulan IV tercatat pada harga 100 rupiah, di tahun 2010 sempat meningkat 40% di awal triwulan I, kemudian turun tajam di triwulan II menjadi 84 rupiah, harga saham tercatat pada angka tertinggi di awal tahun 2013, namun turun naik sampai dengan tutup tahun di triwulan IV 2013 menjadi 133 rupiah.

Jumlah saham yang diperdagangkan 2009-2013 :

Tabel 5.6 Jumlah Saham Diperdagangkan PT. ICB Bank Bumiputera 2009-2013 Tahun Jumlah Saham Yang Diperdagangkan

2013 5.431.217.756

2012 5.431.217.756

2011 5.431.217.756

2010 5.436.078.541

2009 4.950.000.000

Jumlah saham yang beredar meningkat jumlahnya pada tahun 2010, kemudian berkurang sedikit di tahun 2011 dan stabil sampai dengan tahun 2013, perusahaan

perlu berhati-hati dalam mengeluarkan saham beredar, jumlah saham yang terlalu banyak akan menurunkan nilai laba per saham (earning per share).

5.5 Penilaian Harga Saham 5.5.1 Asumsi Dasar

Dalam melakukan penilaian nilai intrinsik saham, diperlukan asumsi-asumsi yang mendasari proyeksi terhadap laporan keuangan. Asumsi-asumsi yang dijadikan dasar untuk proyeksi laporan keuangan bank periode 2010-2017 adalah sebagai berikut:

a) Kebijakan perusahaan maupun kebijakan industri perbankan diasumsikan sama sehingga tidak mempengaruhi kinerja perbankan secara signifikan.

b) Kondisi sosial dan politik tetap berjalan stabil dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan.

c) Mengikuti regulasi yang dikeluarkan BI yaitu menjaga rasio diatas nilai minimum.

d) Berdasarkan teori hipotesis efficient market yang dikutip dari Bodie, et.al, (2009), PT. ICB Bank Bumiputera berada pada posisi semistrong-form yang menyatakan bahwa semua informasi mengenai prospek perusahaan telah direfleksikan dalam harga saham seperti harga masa lalu, kualitas dari manajemen, komposisi neraca, proyeksi pendapatan dan praktik akuntansi.

e) Selain itu dalam melakukan proyeksi terhadap laporan keuangan, penulis juga melakukan asumsi-asumsi sebagai berikut:

f) Pertumbuhan proyeksi pendapatan pada masa sebelum akuisisi diasumsikan menggunakan analisa tren dihitung proyeksi perusahaan

membentuk trenline logaritma dengan fungsi y = 0,1337ln(x) – 0,1029 maka pada tahun 2014 pertumbuhan pendapatan menjadi 8,24%, tahun 2015 tumbuh 11,23%, tahun 2016 adalah 13,67%, tahun 2017 sebesar 15,73 % dan tahun 2018 adalah 17,51% dan sebesar 19,09% pada tahun 2019.

g) Pertumbuhan proyeksi pendapatan pada masa setelah akuisisi dihitung menggunakan analisa tren, sehingga proyeksi perusahaan membentuk trenline logaritma dengan fungsi y = -0,141ln(x) + 0,2428 dimana pada tahun 2017 perusahaan mengalami decline sebesar -43,83%, kemudian di tahun 2018 membentuk pertumbuhan sebesar -46,97% , tahun 2019 adalah -49,54%, tahun 2020 sampai dengan 2022 berturut-turut adalah -51,72 % , -53,60% dan -55,26%.

h) Kecenderungan modal kerja dalam 5 tahun terakhir pada masa 2010 sampai dengan 2014 adalah perlu penambahan modal kerja, sehingga pada saat sebelum akuisisi diasumsikan proyeksi untuk 2015 sampai dengan 2019 adalah sebesar rata-rata penambahan modal yang dihitung berdasarkan modal kerja pada laporan keuangan secara historis di tahun 2010 sampai dengan 2014 yakni sebesar 214.040 (dalam juta rupiah).

i) Kecenderungan modal kerja dalam 5 tahun terakhir pada masa 2013 sampai dengan 2017 adalah diperlukan penambahan modal kerja, maka proyeksi 2018 sampai dengan 2022 untuk perhitungan nilai pada masa setelah akuisisi diasumsikan sebesar rata-rata penambahan modal secara historis di tahun 2013 sampai dengan 2017 yakni sebesar 204.128 (dalam juta rupiah).

j) Capital Expenditures diasumsikan tidak ada pada masa proyeksi sebelum dan sesudah akuisisi karena tidak ada penambahan pada pembelian aktiva tetap dan inventaris serta modal lainnya pada laporan keuangan historis tahun 2010 sampai dengan 2017.

k) Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah sebesar 2,44% per tahun pada tahun 2010-2014 dengan mempertimbangkan kinerja masa lalu PT.

ICB Bank Bumiputera dan persaingan suku bunga lain yang tinggi.

Selanjutnya pada periode 2014- 2017 pertumbuhan DPK diasumsikan naik menjadi 8,19% per tahun dengan pertimbangan kestabilan di sisi ekonomi Indonesia dan asumsi peningkatan kinerja dari PT. ICB Bank Bumiputera.

l) Tarif pajak (tax rate) yang dipergunakan adalah sebesar 25% tetap selama periode perhitungan. Tarif ini diasumsikan sesuai dengan rata-rata tarif pajak penghasilan wajib pajak Badan untuk PT. ICB Bank Bumiputera selama tahun 2010 - 2017 berdasarkan peraturan perpajakan di Indonesia.

m) Rata-rata suku bunga kredit rupiah berdasarkan informasi dari website Bank Indonesia tahun 2010-2012 adalah sebesar 10% per tahun, sedangkan suku bunga kredit valas diasumsikan sebesar 3% per tahun.

Asumsi ini didasari oleh tingkat suku bunga yang cenderung menurun dalam menjaga kestabilan ekonomi paska krisis global. Sedangkan, pada tahun 2013-2015 suku bunga kredit rupiah diasumsikan naik sebesar 11%

per tahun, dan suku bunga kredit valas sebesar 3,5% per tahun.

n) Pertumbuhan cash flow to equity pada masa kekal (terminal value), untuk perhitungan pada saat sebelum akuisisi diasumsikan sebesar nilai

berdasarkan rata-rata Produk Domestik Bruto dari Jasa Keuangan pada tahun 2010-2014 yakni 2,37%

o) Pertumbuhan cash flow to equity pada masa kekal (terminal value), untuk perhitungan pada saat setelah akuisisi diasumsikan sebesar nilai berdasarkan rata-rata Produk Domestik Bruto dari Jasa Keuangan pada tahun 2013-2017 yakni 2,56%

5.5.2 Perhitungan Cost Equity

Dalam perhitungan FCFE, investor harus menggunakan discount rate dengan rumus CAPM sebagai berikut:

re = rf + βi ( rm – rf ) a. Sebelum akuisisi

Perhitungan ini mengasumsikan risk free rate (rf) adalah tingkat suku bunga obligasi pemerintah sehingga bebas dari risiko. Berdasarkan data per 30 Juni 2014 suku bunga Surat Utang Negara (SUN) jangka waktu 10 tahun adalah 8,215%.

Beta (β) BABP diambil berdasarkan averaged levered beta per 30 Juni 2014 pada perusahaan perbankan yang relatif sama yaitu β sebesar 0,6493 ( Tabel 5.7).

Tabel 5.7 Beta Levered perbankan di Indonesia Kode Saham Levered Beta

BACA 0,5010

BEKS 0,7100

BKSW 0,5050

BNBA 0,7490

BNII 0,6840

BSIM 0,7050

BSWD 0,6780

MCOR 0,5890

NISP 0,6300

SDRA 0,7420

Rata-Rata 0,6493 Sumber : PEFINDO 30 Juni 2014

Risk market menggunakan Return Indeks Harga Satuan Gabungan (IHSG) tahun 2014 sebesar 17,08%. Dengan menggunakan data-data ini, maka diperoleh hasil discount rate (re) sebesar:

re = rf + βi ( rm – rf )

= 8,215% + 0,649 (17,08% - 8,215%) = 13,97%

b. Setelah akuisisi

Perhitungan ini mengasumsikan risk free rate (rf) adalah tingkat suku bunga obligasi pemerintah sehingga bebas dari risiko. Berdasarkan data per 31 Desember 2017 suku bunga Surat Utang Negara (SUN) jangka waktu 10 tahun adalah 6,895%,. Beta (β) BABP diambil berdasarkan averaged levered beta per 31 Desember 2017 pada perusahan perbankan yang relatif sama yaitu β sebesar 0,5997 (tabel 5.8).

Tabel 5.8 Beta Levered perbankan di Indonesia Desember 2017 Kode Saham Levered Beta

AGRS 0,6180

BACA 0,6670

BBKP 0,6460

BKSW 0,5130

BNBA 0,4520

BVIC 0,7160

INPC 0,6820

MCOR 0,7640

NOBU 0,3920

SDRA 0,5470

Rata-rata 0,5997 Sumber : PEFINDO 31 Desember 2017

Risk market menggunakan Return Indeks Harga Satuan Gabungan (IHSG) tahun 2017 sebesar 18,63%. Dengan menggunakan data-data ini, maka diperoleh hasil discount rate (re) sebesar:

re = rf + βi ( rm – rf )

= 6,895% + 0,5997 (18,63%-6,895%) = 13,93%

5.5.3 Free Cash Flow to Equity

Dalam menilai perusahaan yang bergerak di industri keuangan, keputusan operasional tidak dapat dipisahkan dari pendapatan dan beban bunga karena merupakan komponen yang penting dalam pendapatan perusahaan. Perhitungan Equity Cash Flow disajikan dalam bentuk tabel pada perhitungan berikut:

a. Sebelum akuisisi

Tabel 5.9 Perhitungan Nilai Intrinsik Saham dengan FCFE

Operating Income 52.193 102.746 116.450 134.498 157.875 187.943

Discount Rate 13,97% 13,97% 13,97% 13,97% 13,97% 13,97%

Discount Factor 0,8774 0,7698 0,6755 0,5926 0,5200 0,5200 adalah Rp. 664.183.000.000, dengan jumlah perhitungan saham 100% maka Nilai

intrinsik saham per lembar dengan jumlah saham beredar sebanyak 5.486.078.541 lembar adalah Rp. 121.

b. Setelah Akuisisi

Tabel 5.10 Perhitungan Nilai Intrinsik Saham Setelah Akuisisi dengan FCFE

Operating Income 78.656 115.361 364.517 343.851 324.657 306.270

Discount Rate 13,93% 13,93% 13,93% 13,93% 13,93% 13,93%

Discount Factor 0,8777 0,7704 0,6762 0,5935 0,5210 0,5210 Market Value of Equity 1.477.989.554.894 Jumlah Saham Beredar 21.261.473.347 adalah Rp. 4.340.645.000.000, dengan jumlah perhitungan saham 34,05% maka Nilai Pasar Saham Ekuitas adalah Rp. 1.477.989.554.893 , sehingga nilai intrinsik saham per lembar dengan jumlah saham beredar sebanyak 21.261.473.347 lembar adalah Rp. 70,-.

5.5.4 Price To Book Value

Berikut dapat ditentukan posisi saham PT. Bank ICB Bumiputera,Tbk periode 2004-2017 berdasarkan metode Price to Book Value:

Tabel 5.11 Posisi Saham PT. Bank ICB Bumiputera,Tbk berdasarkan Nilai Price Book Value (PBV)

Tahun Rasio PBV Posisi Saham

2004 1,31 overvalued

2005 1,22 overvalued

2006 0,89 undervalued

2008 0,86 undervalued

a. Penilaian Saham dengan PBV Sebelum Akuisisi

Hasil perhitungan Nilai Saham pada tanggal 30 Juni 2014 dengan Price to Book Value dimana Jumlah Ekuitas berbanding dengan Jumlah saham beredar adalah 98 sedangkan rasio PBV adalah 0,86.

Tabel 5.12 Perhitungan Book Value sebelum akuisisi Tahun Price Jumlah Ekuitas Jumlah Saham

Beredar

BV 2014 84 535.849.531.912 5.486.078.541 98 b. Penilaian Saham dengan PBV Setelah Akuisisi

Tabel 5.13 Perhitungan Book Value setelah akuisisi Tahun Price Jumlah Ekuitas Jumlah Saham

Beredar

BV 2017 51 1.658.394.921.066 21.261.473.347 78

Hasil perhitungan Nilai Saham pada tanggal 31 Desember 2017 dengan Price to Book Value dimana Jumlah Ekuitas dibagi dengan Jumlah Saham beredar adalah 78 sedangkan rasio PBV adalah 0,65.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Harga saham BBAP pada tahun 2014 sebelum terjadinya akuisisi adalah 84 rupiah, sementara Nilai Intrinsik Saham berdasarkan perhitungan dengan Free Cash Flow To Equity adalah sebesar 121 rupiah, maka nilai saham BABP sebelum akuisisi undervalued

2. Harga saham BABP pada tahun 2017 setelah terjadinya akuisisi adalah 51 rupiah, sementara Nilai Intrinsik Saham berdasarkan perhitungan dengan Free Cash Flow To Equity adalah sebesar 70 rupiah, maka nilai saham BABP setelah akuisisi undervalued

3. Harga saham BABP pada tahun 2014 sebelum terjadinya akuisisi oleh MNCKI adalah 84 rupiah, sementara Book Value adalah 98 rupiah berdasarkan perhitungan Relative Valuation dengan Price to Book Value adalah sebesar 0,86 maka nilai saham BBAP sebelum akuisisi dalam posisi undervalued

4. Harga saham BABP pada tahun 2017 setelah terjadinya akuisisi oleh MNCKI adalah 51 rupiah, sementara Book Value adalah 78 rupiah berdasarkan perhitungan Relative Valuation dengan Price Book Value adalah sebesar 0,65 maka nilai saham BBAP sebelum akuisisi dalam posisi undervalued.

5. PT. MNCKI jeli melihat peluang untuk mengakuisisi PT. Bank ICB Bumiputera Tbk, dimana harga saham yang dibeli pada 2014 lalu, masih terlalu murah hal ini dapat dilihat dari harga pasar yang jumlahnya lebih kecil dari nilai intrinsiknya.

6. Setelah akuisi berlangsung selama tiga tahun, PT.Bank ICB Bumiputera Tbk yang telah berubah nama menjadi PT. MNC Bank International Tbk tetap dalam performa yang baik ditunjukan dengan harga saham masih dibawah nilai intrinsiknya, sehingga saham tersebut masih layak untuk dipertahankan.

7. Dari sisi investor, karena harga saham yang terjadi saat penilaian sebelum dan sesudah masih dibawah harga prediksi atau nilai intrinsik saham, maka masih ada kemungkinan harganya akan meningkat di masa mendatang, sebaiknya investor melakukan pembelian terhadap saham BABP tersebut.

8. Penelitian ini memiliki keterbatasan, dimana hanya satu objek yang dilakukan analisis yaitu PT. Bank ICB Bumiputera Tbk, sehingga untuk penelitian selanjutnya dapat ditambahkan beberapa objek penilaian lainnya sebagai komparasi nilai dan mengetahui range atas nilai yang dihasilkan serta peluang meningkatkannya harga saham di perusahan jasa perbankan.

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, Benedictus Bratawan Budi (2013), Evaluasi Harga Saham PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk pada saat Right Issue. Yogyakarta.

Universitas Gajah Mada.

Anindhito, Rezki. 2016, Merger, Akuisisi dan Inovasi Cerita yang Tertinggal dari Industri Migas. Jakarta: Jala Permata Aksara.

Anindita, Cantya (2017), Valuasi Nilai Intrinsik Saham PT. Bank Mandiri Tbk dengan Metode Discounted Cash Flow. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.

Damodaran, Aswath (2002), Corporate Valuation. Tools And Techniques For Determining The Value Of Any Asset (2nd ed). New York : John Wiley &

Sons, Inc, 2002.

Damodaran, Aswath. 2012. Investment Valuation. Tools and Techniques for Determining The Value of Any Asset (3nd ed). New York: John Wiley &

Sons, Inc.

Dendawijaya, Lukman .2006. Manajemen Perbankan. Indonesia : PT. Ghalia.

Diana Mardiana, Analisis Nilai Harga Saham Perdana PT. Bank DKI. Jakarta.

Universitas GunaDarma

Fridayani, Januari Ayu. 2016. Analisis Nilai Intrinsik Pada Saham Empat Bank Terbesar Nasional Dengan Metode Discounted Cash Flow Dan Relative Valuation Untuk Peramalan Nilai Saham Ekspektasian Dalam Pengambilan Keputusan Investasi. Semarang. Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Fahmi, Irham (2012). Analisis Laporan Keuangan . Bandung : Alfabeta

Falatehan, Indra. 2011. Analisis Penilaian Perusahaan Target Dalam Proses Akuisisi (PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk). Medan. Universitas Sumatera Utara.

Gillis Benyamin Panjaitan (2014), Analisis Valuasi Nilai Wajar Saham Dengan Metode Free Cash Flow To Firm Dan Relative Valuation Pada Emiten Gas.

(Studi Kasus PT. Elnusa, Tbk dan PT.Medco Energi International, Tbk), Tesis.

Gordon, M (1962), The Investment, Financing And Valuation Of The Corporation, Irwin & Co.

Grace Sintari Siregar (2012), Analisis Valuasi Grace Sintari Siregar (2012), Analisis Valuasi Harga Saham Perdana Dengan Moetode Free Cash Flow To Firm Dan Relative Valuation (Studi Kasus : PT. Krakatau Steel,Tbk), Jurnal Manajemen dan Bisnis.

Gumanti, Tatang A.(2002), Underpricing dan Biaya – biaya di sekitar Initial Public Offering. Wahana Vol.5, No.2.

Hamonangan, F dan Sulistyawati, D. 2012. Perhitungan harga saham wajar PT.

Bank Central Asia, Tbk dengan menggunakan metode Discounted Earning Approach dan Price to Book Value. Jakarta. Universitas Tarumanegara.

Hawtan, P. 2010. Analisis Fundamental dan Teknikal Saham PT. PP London Sumatera Indonesia, Tbk. Jakarta. MM UI.

Husnan, S. (1996). Dasar-dasar Manajemen Keuangan. UPP AMP YKPN.

Yogyakarta

I Dewa Ayu Kristiantari (2012), Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Penawaran Saham Perdana Di Bursa Efek Indonesia.

Ivalandari (2010), Penentuan Nilai Wajar Saham Melalui Metode Discounted Cash Flow Dan Relative Valuation (Studi Kasus : PT. Bumi Resources, Tbk Periode 2005-2009).

John C. Gardner, Carl B. Mc Gowan, Susan E, Moeller (2012), Valuing Coca Cola Using The Free Cash Flow To Equity Valuation Model.

Magdalena, M. 2012. Valuasi pada Industri Tambang Batubara dengan Menggunakan Analisis Free Cash Flow to Equity, Abnormal Earning dan Relative Valuasi (Studi Kasus PY. Bukit Asam, Tbk). Jakarta. MM UI.

Massari, M., et all (2014). The Valuation Of Financial Companies Tools and techniques to value bank, insurance companies and other financial institutions. United Kingdom : John Wiley& Sons Ltd .

Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (2015), Kode Etik Penilai Indonesia Dan Standar Penilaian Indonesia Edisi VI-2015.

Nur Khasanah : Penilaian Harga Saham Dengan Dividen Discount Model (DDM) Dan free Cash Flow To Equity Model(FCFE) (Studi Pada Index Saham LQ 45 Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011).

Palepu, Krisna G., Paul M. Healy, Erik Peek (2014), Analisis dan Valuasi Bisnis berbasis IFRS. Jakarta : Salemba Empat

Pangow, Lydia Ribca Anna. 2009. Analisis Nilai Akuisisi Bank Sinar Harapan Bali Menggunakan Metode Dividen Discount Model dan Ratio Price To Book Value. Depok. Universitas Indonesia

Pendapat Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 07/KPPU/PDPT/V/2015 Tentang Penilaian Terhadap Pengambilalihan (Akuisisi) Saham Perusahaan PT. Bank ICB Bumiputera Tbk oleh PT. MNC Kapital Indonesia Tbk.

Pettit, J., et al.(2001). The Equity Risk Measurement Handbook Evaluation. New York : Stern Stewart & Co..

Pratama, Aditya Surya. 2010. Analisis Valuasi Harga Saham Dengan Metode Discounted Cash Flow Dan Relative Valuation (Studi Kasus : PT. Bank Negara Indonesia, Tbk)

Pratt, Shannon P. Valuing A Business. The Analysis and Appraisal of closely Held Companies 1.(5th ed). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Khoiruddin, Rifki. DCF dan Relative Valuatioin Untuk Mengestimasi Saham PT.

Atlas Resources Dalam IPO.

Saleh, Muhammad. 2009. Penilaian Saham PT. Unilever Indonesia Tbk Pasca Akuisis Bisnis Kecap Bango Yogyakarta.. Universitas Gajah Mada.

Satjawidjaja, A. 2012. Komparasi Nilai Intrinsik Harga Saham PT. Bank Bukopin berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2009-2010. Jakarta. MM UI.

Satya, Adyatmaak Ananta, 2010. Analisis Penilaian Harga Saham Perdana Menggunakan Metode Free Cash Flow To Equity Dan P/E Multiple (Studi

Satya, Adyatmaak Ananta, 2010. Analisis Penilaian Harga Saham Perdana Menggunakan Metode Free Cash Flow To Equity Dan P/E Multiple (Studi