4. Lama bekerja
5.2.3. Analisis Inferensial 1. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk meyakinkan bahwa model regresi yang diperoleh mempunyai kemampuan prediktif serta memenuhi asumsi klasik. Hasil uji asumsi klasik adalah sebagai berikut :
a. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas terjadi jika varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain terjadi ketidaksamaan. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi heteroskedastisitas dalam penelitian ini digunakan uji korelasi spearman’s. Hasil analisis korelasi spearman antara residual persamaan regresi disajikan sebagai berikut :
Tabel 5.7.
Hasil Uji heterokodesitas
Korelasi Variabel Bebas dengan Unstandardized Residual
Koefisien
Spearman's rho Sig.
X1 -0,044 0,706
X2 0,005 0,965
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa seluruh variabel penelitian tidak memiliki korelasi Spearman’s dengan residual persamaan regresi. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Sig. (2-tailed) yang seluruhnya > 0,05. Dengan demikian pada persamaan regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. b. Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan
variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis menggunakan SPSS.
Hasil pengujian multikolinearitas pada persamaan regresi adalah sebagai berikut :
Tabel 5.8.
Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber : Data Primer Diolah 2013
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa besarnya Tolerance
Value dan Variance Inflation Factor (VIF) memiliki nilai Tolerance Value ≥
0,10 atau sama dengan nilai VIF ≤ 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi
multikoloniearitas antar variabel independennya. c. Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, seluruh variabel memiliki distribusi normal. Uji normalitas data adalah
Variabel Tolerance VIF
X1 ,830 1,205
pengujian terhadap normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis (Arikunto, 2009). Hasil uji normalitas menggunakan one sample Kolmogorov
Smirnov dalam SPSS adalah sebagai berikut :
Tabel 5.9.
Uji normalitas menggunakan one sampleKolmogorov Smirnov
X1 X2 Y
Kolmogorov-Smirnov Z
0,898 0,912 0,691
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,396 0,376 0,726
Sumber : Data Primer Diolah 2013
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa uji one sample
Kolmogorov Smirnov seluruh variabel penelitian tidak signifikan (Asymp. Sig.
(2-tailed)> 0,05) yang berarti distribusi dikatakan normal. d. Analisis Regresi Linear Berganda
Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, regresi berganda berguna mencari suatu hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Variabel yang mempengaruhi (independen) adalah X (Motivasi kerja (X1) dan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah (X2) sedangkan variabel yang dipengaruhi adalah Disiplin Kerja Guru (Y). Hasil regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 5.10.
Hasil Regresi Linear Berganda Standardized Coefficients
t Sig.
Beta
Persamaan X1 0,693 10,832 0,000
X2 0,307 4,795 0,000
Sumber : Data Primer Diolah 2013 a. Model Persamaan Regresi
Model persamaan regresi ganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Y = 0,693.𝑋1 + 0,307.𝑋2
Dimana :
Y :Disiplin kerja 𝑋1 : Motivasi kerja
𝑋2: Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Pada persamaan regresi linier berganda tersebut menunjukkan bahwa: a. Pada persamaan regresi berganda diatas, untuk variabel motivasi kerja
guru koefisien regresinya sebesar 0,693 dan bertanda positif (+). Ini artinya setiap variabel motivasi meningkat, maka akan diikuti dengan peningkatan disiplin kerja guru dengan anggapan variabel bebas lainnya tetap, dalam penelitian ini adalah komptensi manajerial kepala sekolah b. Untuk variabel kompetensi manajerial kepala sekolah koefisien regresinya
sebesar 0,307 dan bertanda positif (+). Ini artinya setiap variabel kompetensi manajerial meningkat, maka akan diikuti dengan peningkatan
disiplin kerja guru dengan anggapan variabel bebas lainnya tetap, dalam penelitian ini adalah, motivasi kerja guru.
c. Berdasarkan persamaan regresi berganda di atas, menunjukkan bahwa variabel motivasi kerja merupakan variabel dominan dalam mempengaruhi disiplin kerja guru, yang diikuti oleh variabel kompetensi manajerial kepala sekolah.
b. Pengujian Signifikansi
Pengujian siginifikansi dalam penelitian ini dilakukan uji statistik t dan uji statistik F.
1) Uji t (t test)
Uji-t dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel independen dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Taraf signifikansi yang
digunakan adalah 0,05 (α = 5%). Hasil pengujian statistik t hitung adalah
sebagai berikut: Persamaan 1 :
a. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada tabel 5.10. diperoleh signifikansi t hitung variabel Motivasi kerja (𝑋1) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian variabel Motivasi kerja (𝑋1) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Disiplin kerja (Y).
b. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada tabel 5.10. diperoleh signifikansi t hitung variabel Kompetensi Manajerial Kepala
Sekolah (𝑋2) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian variabel Kompetensi
Manajerial Kepala Sekolah (𝑋2) secara parsial berpengaruh signifikan
terhadap Disiplin kerja (Y1). 2) Koefisien Determinasi (R2)
Untuk mengukur sumbangan variabel bebas terhadap variabel terikat dapat diketahui besarnya koefisien determinasi ganda (R2). Berdasarkan analisis koefisien determinasi untuk persamaan regresi diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,749, artinya pengaruh variabel Motivasi kerja,
dan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah terhadap disiplin kerja sebesar
74,9% sedangkan sisanya sebesar 25,1% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.
3). Uji F (F test)
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan atau tidak pengaruh variabel Motivasi kerja, dan Kompetensi
Manajerial Kepala Sekolah terhadap disiplin kerja .
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diperoleh F hitung sebesar 110,351 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti Ada pengaruh yang signifikan antara variabel–variabel independen (X) secara bersama–
sama terhadap variabel dependen (Y). Dengan demikian hipotesis penelitian yang berbunyi terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama sama
antara motivasi kerja, kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap disiplin kerja guru diterima.
5.3. Pembahasan
Penelitian di lakukan pada guru SMP Negeri se Komwil 05 Tarub di Kabupaten Tegal. Sebagian besar responden adalah perempuan, usia antara 41 hingga 45 tahun, lulusan Sarjana dan memiliki masa kerja lebih dari 15 tahun. 5.3.1. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Disiplin Kerja Guru.
Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia no 53 tahun 2010 yang mengatur tentang disiplin kerja guru dan pegawai negeri sipil lainnya, diterangkan bahwa disiplin kerja guru sebagai pegawai negeri sipil adalah kesanggupan pegawai negeri sipil atau guru untuk mentaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang undangan dan /atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar akan dijatuhi hukuman disiplin. Disiplin kerja guru yang dilakukan dengan efektif akan mempercepat tercapainya tujuan-tujuan yang diharapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Motivasi kerja (𝑋1) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Disiplin kerja (Y). Menurut Umam Khaerul (2010 : 159), Motivasi adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja pada diri seseorang Atau dengan kata lain sebagai dorongan mental terhadap perseorangan atau orang orang sebagai anggota anggota masyarakat. Guru dengan motivasi kerja yang baik akan terdorong juga untuk memiliki disiplin kerja yang baik.
5.3.2. Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah terhadap Disiplin