• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Intepretasi Data

Dalam dokumen Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (Halaman 33-38)

PERPUSTAKAAN CHANDRA WIDODO Iswanda F Satib

4. Analisis dan Intepretasi Data

Perpustakaan Chandra Widodo diresmikan tanggal 13 Februari 2006 yang dikemas dalam kegaitan seremonial berupa pengguntingan pita oleh Ibu Erry Chandra Widodo. Nama perpustakaan diambil dari salah satu mantan Direktur Operasi Rekayasa Industri yang meninggal dunia pada 8 September 2005. Nama perpustakaan Chandra Widodo sering juga disebut dengan Perpustakaan Rekind. Istilah „Rekind‟ merupakan kependekan dari Rekayasa Industri, perusahaan yang menaungi perpustakaan.

Perpustakaan Chandra Widodo didirikan dengan tujuan untuk mendukung proses bisnis perusahaan. Dukungan yang diberikan berupa penyajian informasi yang tepat guna terhadap karyawan PT. Rekayasa Industri untuk membantu pekerjaan yang akan dan sedang dilakukan. Oleh karena itu, struktur perpustakaan Chandra Widodo berada di bawah divisi Human Capital Empowerment (HCE).

Saat ini perpustakaan Chandra Widodo memiliki peran cukup penting guna mendukung kegiatan perusahaan. Keadaan ini sejalan dengan visi dan misi perpustakaan di atas, serta cita-cita pendirian perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan, transfer dan pemenuhan informasi kepada karyawan PT. Rekayasa Industri dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. Pengembangan insfratruktur teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di perpustakaan juga berdampak positif terhadap penyebaran informasi, terutama bagi karyawan PT. Rekayasa Industri yang sedang mengerjakan proyek di luar kantor.

Pengguna Perpustakaan

Pengguna di perpustakaan Chandra Widodo dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: (1) Pengguna Potensial (target dan non-target), pengguna potensial target adalah karyawan PT. Rekayasa Industri yang menjadi anggota perpustakaan. Anggota perpustakaan Chandra Widodo berjumlah sekitar 250 orang. Sedangkan

pengguna non target terdiri dari peserta magang, konsultan, dan tamu PT. Rekayasa Industri yang sedang melakukan kerja sama dengan PT. Rekayasa Industri. (2) Pengguna Aktual, adalah seluruh karyawan PT. Rekayasa Industri. Baik yang bekerja di komplek kantor (Kalibata, Jakarta Selatan), atau yang sedang melakukan pengerjaan proyek di berbagai daerah di Indonesia, serta Luar Negeri.

Berdasarkan penjelasan di atas, pengguna perpustakaan Chandra Widodo sebagian besar berada satu komplek dengan perpustakaan. Artinya, jarak antara perpustakaan dan pengguna tidak terlalu jauh karena pengguna adalah karyawan PT. Rekayasa Industri yang hampir setiap hari berada di kantor selama jam kerja. Selama Januari hingga November 2013, jumlah pengunjung perputakaan Chandra Widodo adalah 859 orang. Sebanyak 68% pengunjung adalah karyawan PT. Rekayasa Industri, 32% merupakan tamu dan peserta magang. Data tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar pengguna –khususnya karyawan PT. Rekayasa Industri– mengunjungi ke perpustakaan tidak untuk meminjam buku. Hal ini dapat dilihat dari statistik peminjaman buku pada periode yang sama dengan jumlah 244 peminjaman.

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pengguna perpustakaan Chandra Widodo tidak hanya untuk mendapatkan informasi, namun lebih cenderung pada kebutuhan rekreasi, sosialisasi, dan interaksi. Bentuk kegiatan rekreasi, sosialisasi, dan interaksi dapat didaasarkan pada jumlah kegiatan yang dilakukan beberapa komunitas di perpustakaan dan kegiatan konsultan perusahaan yang memanfaatkan ruang kerja/diskusi perpustakaan sebagai tempat kerja sementara mereka. Selama Januari hingga November, sejumlah 19 kegiatan komunitas perusahaan yang memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat penyelenggaraan. Sedangkan sejumlah 12 konsultan atau tamu yang menggunakan ruang diskusi perpustakaan.

Dengan demikian, pengunjung perpustakaan

Chandra Widodo dapat dipetakan berdasarkan tiga kategori, yaitu: informatif, edukatif, dan rekreatif. Pengunjung kategori informatif merupakan pengunjung yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi melalui koleksi perpustakaan, baik koleksi tercetak maupun elektronik. Pengunjung edukatif merupakan pengunjung yang memanfaatkan perpustakaan untuk tujuan sarana pendidikan, termasuk untuk mendukung proses pekerjaan yang sedang dilakukan. Sedangkan pengunjung rekreatif adalah pengunjung yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana hiburan, sosialisasi, interaksi dan rekreasi.

Lokasi Perpustakaan

Perpustakaan Chandra Widodo menempati ruangan yang terletak di Gedung ROB 1 PT. Rekayasa Industri. Ruang perpustakaan bersebelahan dengan koperasi dan ruang istirahat karyawan (Gambar 1).

Gambar 1. Peta Lokasi Perpustakaan Chandra Widodo

Desain Ruang Perpustakaan

Ruang perpustakaan menurut Zverevich (2012) dapat diartikan sebagai,

aggregate of all physically existing squares (spaces), where documents on traditional carriers are stored and reader

services and the library’s operational,

technological and communication activities take place, as well as physically intangible spaces where circulation of electronic resources takes place, including the library

computer’s memory and

or wireless.” (Zverevich, 2012:5)

Perpustakaan Chandra Widodo saat ini menempati bangunan dengan luas ruangan 120 m2. Desain ruangan tersebut, berdasarkan hasil wawancara, sudah cukup nyaman bagi pengguna perpustakaan. Funitur yang digunakan hampir seluruhnya bercorak kayu. Dinding perpustakaan hampir 80% ditutup oleh rak

Bentuk gedung perpustakaan Chandra Widodo menyesuaikan dengan kondisi gedung. Menurut penuturan Kepala Perpustakaan, kondisi gedung perpustakaan memang sepenuhnya berdasarkan pada kondisi awal. Artinya, penanggung jawab tidak memiliki kewenangan dalam desain gedung perpustakaan. Hal ini menyebabkan sulitnya

pengembangan fasilitas perpustakaan.

Beberapa hasil survei tentang perpustakaan, kondisi fisik dan lingkungan perpustakaan dapat meningkatkan kepuasan pengguna layanan perpustakaan. Lebih lanjut, Li (2006) menjelaskan,

For information seekers living in a fast- paced, noisy society, libraries have a unique edge in providing a sanctuary for thinking, reflection, and socializing. This powerful, living and breathing experience is not replicable in an online environment.” (Li, 2006:371)

Gambar 2. Sketsa Gedung Perpustakaan Chandra Widodo Berdasarkan hasil wawancara, dua responden

menyatakan tidak puas dengan kondisi bangunan perpustakaan, sedangkan satu responden mengatakan cukup puas dengan kondisi bangunan. Ketidakpuasan responden didasari keterbatasan ruangan perpustakaan dan kebutuhan responden terhadap ruang perpustakaan, seperti yang diutarakan responden A berikut:

suasananya sih lumayan enak, tapi kalau tidak ada pembagian ruangan, maksudnya yang sebelah sini untuk membaca, di sana untuk diskusi, jadi

kalau ada yang sedang bekerja di sebelah sana, masa kita disini ketawa-

tawa. Kan nggak lucu.”

`

Sedangkan menurut responden B, ketidakpuasan lebih didasarkan pada desain interior yang terkesan kaku. Menurutnya,

..seharusnya lebih ya lebih elegan dikit lah ya. Kan rak buku tidak mesti diletakkan di dinding kayak gitu. Jadi bosen lihatinnya... Ya misalnya ditambahin lukisan, atau bisa lihat ke

luar ruangan, kan lebih seger gitu.”

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, perpustakaan Chandra Widodo dipersepsikan masih belum mampu memberikan kepuasan bagi pengguna yang berkunjung ke perpustakaan. Bagi staf perpustakaan, tidak adanya skat pemisah juga memberikan pengaruh kurang baik terhadap pekerjaan. Staf A menyatakan bahwa kadang merasa risih ketika bekerja dan mendapati beberapa pengunjung perpustakaan. Meskipun merasa risih, menurutnya, hal ini juga menjadikan interaksi antara pengunjung dan staf perpustakaan.

..ya pasti risih kalau kitanya lagi ngerjain sesuatu disini, dan sebelah kita lagi diskusi. Ntar dikiranya kita nguping obrolan mereka. Tapi kalau yang udah akrab, bisa sambil bercandaan, tapi ganggu kerjaan kita juga sih

sebenarnya.”

Kondisi demikian menyebabkan jarak preferensi ruangan perpustakaan dan kepuasan pengunjung tidak berjalan maksimal. Artinya, gangguan (noise) yang dirasakan terlampau banyak karena tidak adanya batas antara ruang kerja pustakawan (privat) dan ruang publik di perpustakaan. Gambar 2 merupakan sketsa ruangan perpustakaan Chandra Widodo.

Preferensi Ruangan Perpustakaan

Niegraad (2011) menyatakan bahwa preferensi, konten, dan kinerja perpustakaan masa depan dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu: (1) perpustakaan dengan koleksi dan fokus layanan informasi berbasis dokumen tercetak dengan menerapkan format digital, musik, gambar/citra, dan layanan berbasis website, (2) perpustakaan yang menyediakan tempat pertemuan interaktif untuk komunitas lokal, pembelajaran/pendidikan, dan transformasi ruangan, yang keseluruhannya dapat digunakan oleh pengunjung. Hasil studi Niegraad pada tahun 2009 menjelaskan bahwa setengah pengunjung perpustakaan di Denmark tidak bertujuan untuk meminjam buku

perpustakaan, namun “to use the library as a

place of sanctuary and a place for information,

inspiration, and work.” (Niegraad, 2011:177). Berdasarkan hasil observasi, pengunjung perpustakaan Chandra Widodo memiliki kesamaan dengan temuan Niegraad di atas. Sebanyak 859 pengunjung perpustakaan, hanya 37% yang melakukan transaksi peminjaman koleksi perpustakaan. Sisanya, 63% menggunakan perpustakaan sebagai aktivitas bisnis, istirahat (rekreatif), kegiatan komunitas, dan tempat interaksi. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap Kepala Perpustakaan, kondisi ini sudah berlangsung sejak perpustakaan berdiri. Ruang Sirkulasi, ruang sirkulasi di perpustakaan Chandra Widodo terletak di dekat pintu masuk perpustakaan. Ruang ini menjadi satu dengan ruangan staf perpustakaan (Gambar 3). Menurut Rockwell (1989) dalam Pavlovsky (2003), ruang sirkulasi seharusnya bersandingan dengan fungsi esensial perpustakaan, yaitu jasa referensi (Pavlovsky, 2003 :28)

Perpustakaan Chandra Widodo tidak memiliki kekhususan ruangan untuk layanan referensi, kegiatan referensi dilakukan oleh staf perpsutakaan dan dilaksanakan di meja sirkulasi. Hal ini terbukti cukup efektif mengingat intensitas layanan referensi dan sirkulasi tidak terlalu tinggi.

Gambar 3. Ruang Sirkulasi

Ruang Penyimpanan, terletak di hampir seluruh dinding perpustakaan (Gambar 4 & 5). Kondisi ini mengakibatkan kebosanan/kejenuhan bagi pengunjung perpustakaan –seperti penjelasan di atas. Namun demikian, hal ini dapat menghemat ruang perpustakaan dan menurut sebagian pengunjung, dapat meningkatkan minat untuk

membaca. Pernyataan Naudé (1950) yang dikutip oleh Dahlkild (2011) menyebutkan bahwa preferensi penyusunan buku yang tepat adalah,

Even less ought one to use gold on his ceilings, ivory and glass on his wall, cedar for shelves or marble for his floors, since this sort of display is no longer in style, nor to put books on desks, as the fashion once was, but on shelves that cover entire walls” (Dahlkild, 2011:13).

Gambar 4. Ruang Penyimpanan I

Gambar 5. Ruang Penyimpanan II

Namun demikian, pernyataan Naudé tersebut merupakan konsep perpustakaan lama. Konsep shelving di perpustakaan modern cenderung meminimalisasi ruangan untuk tempat penyimpanan sebagai isu utama desain perpustakaan (Dahlkild, 2011:13).

Ruang Kerja Staf Perpustakaan, ruang ini dapat ditemukan di sebelah kiri dari pintu masuk perpustakaan. Ruangan ini terbagi menjadi dua dengan skat papan yang memisahkan ruang staf perpustakaan dan kepala perpustakaan (Gambar 6). Ruang ini terlihat „bebas‟ dari seluruh ruangan perpustakaan, hampir tidak ada

pembatas ruangan. Keadaan ini secara langsung akan memengaruhi privacy staf perpustakaan dan mengganggu kinerja mereka. Pavlovsky (2003) mengemukakan bahwa area untuk staf dan fungsi khusus harus mendapatkan perhatian berbeda

dengan ruang publik, “while the peripheral space

are allocated to staff and specialized function/purposes that are outside the standard

public domain.” (Pavlovsky, 2003 :82).

Gambar 6. Sketsa Ruang Staf

Ruang Komputer/Internet, ruang ini dapat ditemukan di sebelah kanan pintu masuk perpustakaan. Kondisi ini secara langsung dapat mengganggu pengguna komputer karena arus keluar masuk pengguna lain. Selain itu, posisi yang berdekatan dengan meja sirkulasi juga dapat memberikan gangguan pengguna fasilitas internet /komputer.

Gambar 7. Fasilitas Inernet

Ruang komputer seharusnya mendapatkan jarak yang cukup jauh dari ruang penyimpanan. Gambar 7 di atas memperlihatkan ruang komputer berada di bawah rak penyimpanan. Hal ini akan berdampak pada proses penulusuran informasi pengguna lain apabila koleksi terletak

di atas meja komputer. Library as a Place

Konsep library as a place merupakan konsep desain perpustakaan yang menekankan aspek humanities. Artinya, perpustakaan dapat menjadi media pengguna/pengunjung untuk berinteraksi, bersosialiasi, dan rekreasi. Heather Simpson (2007) dalam studinya menyatakan bahwa perpustakaan harus meningkatkan layanan tradisional dan terus bertransformasi sebagai bagian dari masyarakat/komunitas. Simpson jug berpendapat,

Most libraries will need more study spaces to accommodate changes in pedagogy, meeting spaces for groups and reading and research spaces, all regardless of how much technology moves into libraries. Collections and services, organizational needs, and library missions will evolve, and space planning needs to provide for these changes.” (Simpson, 2007:21-22).

Berdasarkan pembahasan kondisi perpustakaan Chandra Widodo, konsep library as a place dapat diterapkan guna mendukung aktivitas pengunjung perpustakaan. Tren yang berkembang saat ini adalah peran perpustakaan sebagai third places. Kosep thrid places dikemukakan oleh Ray Oldenburg dalam bukunya yang berjdul, “The Great Good Places” tahun 1989. Konsep tersebut mengacu pada tempat-tempat hangouts yang berada dekat atau di tengah-tengah komunitas. Perpustakaan Chandra Widodo dengan potensi pengunjung dan peningkatan fasilitas perpustakaan, dapat menjadi thrid places bagi karyawan PT. Rakayasa Industri pada khususnya, dan pengunjung lainnya.

5. Kesimpulan

Pengunjung perpustakaan Chandra Widodo dapat dipetakan berdasarkan tiga kategori, yaitu: informatif, edukatif, dan rekreatif. Pengunjung kategori informatif merupakan pengunjung yang

bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi melalui koleksi perpustakaan, baik koleksi tercetak maupun elektronik. Pengunjung edukatif merupakan pengunjung yang memanfaatkan perpustakaan untuk tujuan sarana pendidikan, termasuk untuk mendukung proses pekerjaan yang sedang dilakukan. Sedangkan pengunjung rekreatif adalah pengunjung yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana hiburan, sosialisasi, interaksi dan rekreasi.

Preferensi ruangan perpustakaan Chandra Widodo adalah dengan koleksi dan fokus layanan informasi berbasis dokumen tercetak dengan menerapkan format digital, musik, gambar/citra, dan layanan berbasis website. Hal ini berdasarkan preferensi ruangan yang ada saat ini, yaitu: ruang sirkulasi, ruang penyimpanan, ruang staf perpustakaan, dan ruang komputer/internet. Kondisi tersebut berdampak pada kurang maksimalnya peran perpustakaan sebagai tempat pertemuan interaktif untuk komunitas lokal, pembelajaran/pendidikan, dan transformasi ruangan. Namun demikian, dengan potensi pengunjung dan peningkatan fasilitas, Perpustakaan Chandra Widodo dapat menjadi thrid places bagi karyawan PT. Rakayasa Industri pada khususnya, dan pengunjung lainnya.

Dalam dokumen Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (Halaman 33-38)

Dokumen terkait