• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.5 Analisis Jalur Sub Struktur-2

Dalam pengujian sub-struktur yang pertama, peneliti akan menguji pengaruh variabel Pengaruh CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO, ROA terhadap Harga Saham (Z) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018.

Berikut ini adalah hasil analisis regresi linear berganda menggunakan SPSS.

Tabel 5.12

Pengaruh CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO, ROA Terhadap Harga Saham

Coefficientsa

a. Dependent Variable: Harga Saham

Sumber : Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah)

Z= 11.895+0.435X1 + 0.411X2 - 0.324X3 + 1.364X4 – 1.733X5 + 0.462Y Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel CAR memiliki nilai koefisien negative terhadap Harga Saham, variabel LDR memiliki nilai koefisien positif terhadap Harga Saham, variabel NPL memiliki nilai koefisien positif atau berpengaruh positif terhadap Harga Saham, variabel NIM memiliki nilai koefisien positif atau berpengaruh positif terhadap Harga Saham, variabel BOPO memiliki nilai koefisien negative atau berpengaruh negative terhadap Harga Saham dan variabel ROA memiliki nilai koefisien positif atau berpengaruh positif terhadap Harga Saham . Hasil pengujian koefisien determinasi pada persamaan pengaruh variabel CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO, ROA terhadap Harga Saham (Z) adalah sebagai berikut:

Tabel 5.13

Pengaruh CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO , ROA Terhadap Harga Saham

Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), ROA, LDR, NPL, CAR, BOPO, NIM b. Dependent Variable: Harga Saham

Sumber : Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah)

Berdasarkan hasil pengujian koesfisien determinasi diperoleh nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0.516 atau 51.6%. Hasil tersebut menunjukan bahwa pengaruh variabel CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO, ROA terhadap harga saham adalah sebesar 51.6% sedangkan 48.4% adalah pengaruh variabel penelitian diluar penelitian ini.

Untuk mencari nilai e1 dapat dicari dengan rumus e1= √(1 − 0.516) = 0.69.

0.435 e2 = 0.69

Hasil Analisis Jalur Sub-struktur 2

ROA (Y)

Berdasarkan gambar 5.7 tentang hasil analisis jalur sub-struktur 2 (satu) dapat diperoleh hasil bahwa pengaruh CAR, NPL BOPO berpengaruh negatif sedangkan NIM, ROA, LDR berpengaruh positif.

5.4.1 Pengujian Hipotesis Simultan (Uji-F) Sub-Struktur 2

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Kriteria pengujiannya adalah :

3. Ho : b1 = 0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

4. Ho : b1 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

3. Ho diterima jika F hitung < F tabel pada α= 5%

4. Ho ditolak jika F hitung > F tabel pada α= 5%

Untuk menentukan nilai F, maka diperlukan adanya derajat bebas pembilang dan derajat bebas penyebut, dengan rumus sebagai berikut:

3. df (Pembilang) = k – 1 4. df (Penyebut) = n – k

Keterangan :

n = jumlah sampel penelitian

k = jumlah variabel bebas dan terikat

Pada sub-struktur 1 ini diketahui jumlah sampel (n) 125 dan jumlah keseluruhan variabel (k) adalah 6, sehingga diperoleh :

3. df (pembilang) = 6 – 1 = 5

4. df (penyebut) = 125 – 6= 119 (2.29)

Nilai Fhitung akan diperoleh dengan menggunakan bantuan SPSS, kemudian akan dibandingkan dengan Ftabel pada tingkat α = 5%.

Tabel 5.13

Pengujian Hipotesis Simultan (Uji-F)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 126.167 6 21.028 20.760 .000a

Residual 106.356 105 1.013

Total 232.523 125

a. Predictors: (Constant), ROA, LDR, NPL, CAR, BOPO, NIM b. Dependent Variable: Harga Saham

Sumber : Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah)

Pada Tabel 5.13 dapat dilihat bahwa hasil perolehan Fhitung pada kolom F yakni sebesar 20.760 dengan tingkat signifikansi = 0.000, lebih besar dari nilai Ftabel yakni 2.29, dengan tingkat kesalahan α = 5% atau 0.05, atau dengan kata lain Fhitung

> Ftabel (20.760 > 2.29). Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis jika Fhitung >

Ftabel dan tingkat signifikansinya (0.000 < 0.05), menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas (CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO<ROA) secara serempak adalah signifikan terhadap variabel terikat(Harga Saham).

5.4.2 Pengujian Hipotesis Parsial (Uji-t)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suatu variabel bebas secara parsial (individual) terhadap variasi variabel terikat. Kriteria pengujiannya adalah :

3. Ho : b1 = 0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

4. Ho : b1 ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

Kriteria pengambilan keputusan adalah:

3. Ho diterima jika t hitung < t tabel pada α= 5%

4. Ho ditolak jika t hitung > t tabel pada α= 5%

Hasil pengujian adalah :

5. Tingkat kesalahan (α) = 5% dan derajat kebebasan (df) = (n-k) 6. n = jumlah sampel, n = 125

7. k = jumlah variabel yang digunakan, k = 6

8. Derajat kebebasan/ degree of freedom(df) =(n-k) = 125- 6 = 119

Uji-t yang dilakukan adalah uji satu arah, maka ttabel yang digunakan adalah t-tabel 0,05 (119) = 1.65. Berikut ini adlaah hasil pengujian t-hitung menggunakan alat analisis SPSS.

Tabel 5.14

Sumber : Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 5.14 dapat dilihat bahwa:

1. Variabel CAR (X1)

Nilai thitung variabel CAR adalah 1.450 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung <

ttabel (1.450 < 1.65 ) dan nilai sig (0.150 > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel CAR tidak memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

2. Variabel LDR (X2)

Nilai thitung variabel LDR adalah 0.643 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung <

ttabel (0.643 < 1.65 ) dan nilai sig (0.527 > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel LDR tidak memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

3. Variabel NPL (X3)

Nilai thitung variabel NPL adalah 2.063 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung >

ttabel (2.063 > 1.65 ) dan nilai sig (0.042 < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel NPL memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

4. Variabel NIM (X4)

Nilai thitung variabel NIM adalah 3.463 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung >

ttabel (3.463 > 1.65 ) dan nilai sig (0.001 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel NIM memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

5. Variabel BOPO (X5)

Nilai thitung variabel BOPO adalah 4.066 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung

> ttabel (4.066 > 1.65 ) dan nilai sig (0.000 < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

6. Variabel ROA (Y)

Nilai thitung variabel ROA adalah 2.314 dan nilai ttabel 1.65 maka thitung >

ttabel (2.314 > 1.65 ) dan nilai sig (0.023 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ROA memiliki pengaruh terhadap Harga Saham.

5.5 Pembahasan

Tabel 5.15 Rangkuman Hipotesis

Hasil Pengujian Hipotesis

No Variabel Hipotesis Keterangan

1 X1 Terhadap Y Ditolak Thitung < Ttabel

0.868<1.65

2 X2 Terhadap Y Ditolak Thitung < Ttabel

0.131<1.65

3 X3 Terhadap Y Diterima Thitung > T tabel

2.125>1.65

4 X4 Terhadap Y Diterima Thitung > T tabel

7.672>1.65

5 X5 Terhadap Y Diterima Thitung > T tabel

10 X5 Terhadap Z Diterima Thitung > T tabel

4.066>1.65 Sumber : Hasil Penelitian, 2020 (Data Diolah)

1. Pengaruh Variabel CAR terhadap ROA

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kecukupan modal yang berfungsi menampung rasio kerugian dan kemungkinan yang dihadapi oleh Bank.

Semakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang beresiko. Jika nilai CAR tinggi, maka bank tersebut mampu membiayai kegiatan operasional dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi profitabilitas. Berdasarkan pengujian signfikansi parsial atau uji-t diperoleh hasil bahwa variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Return On Assets (ROA). Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan permodalan bank dalam menjaga kemungkinan timbulnya risiko kerugian kegiatannya tidak sepenuhnya

mempengaruhi tingkat profitabilitas atau earning yang dihasilkan oleh bank dan juga belum mampu secara optimal mempengaruhi kinerja bank.

Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa semakin tinggi CAR yang dicapai oleh bank tidak menunjukkan kinerja bank semakin baik. Dengan kata lain, mengindikasikan bahwa kinerja bank-bank mempunyai permodalan yang relatif standar, sehingga semakin tinggi CAR yang dicapai oleh bank tidak mempengaruhi besarnya ROA. Capital Adequacy Ratio (CAR), merupakan salah satu rasio yang menggambarkan analisa rentabilitas, dimana secara teoritis peningkatan modal sendiri yang dimiliki oleh bank akan menurunkan biaya dana sehingga perubahan laba perusahaan akan meningkat. Namun bila modal perbankan rendah, maka dana dari pihak ketiga akan menjadi mahal dan biaya bunga menjadi tinggi sehingga perubahan laba bank akan rendah. Jika tidak diikuti dengan peningkatan ekspansi manajemen bank maka hal ini juga tidak membawa perubahan yang signifikan pada perubahan laba perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan laba perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi CAR yang baik, tapi harus didukung oleh keputusan ekspansi dari manajemen, seperti perluasan wilayah kerja.

Sehingga dengan temuan tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa hipotesis pada pengujian pengaruh CAR terhadap ROA ditolak. Dan hasil tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian dari Said (2019) yang menemukan bahwa CAR memiliki pengaruh yang positif dan signfikan terhadap ROA. Tetapi penelitian ini selaras dengan penelitian dari Catur (2016) yang menemukan bahwa variabel CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ROA.

2. Pengaruh Variabel LDR terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel LDR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel ROA. Hal ini berarti kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dari pihak ketiga kepada pihak kreditur berpengaruh terhadap tingkat pendapatan atau laba bank tersebut. Jika presentase penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga berada antara 80%-110%, maka bank tersebut dapat dikatakan mempunyai tingkat likuiditas yang baik, namun tidak menjamin bank tersebut mendapatkan laba yang optimal.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian dari Yani (2018) yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan positif antara LDR dengan ROA pada bank domestic. Tetapi penelitian ini selaras dengan penelitian dari Wildan (2016) yang menemukan bahwa LDR tidak mempengaruhi besarnya ROA.

Nilai LDR yang dimiliki bank akan menunjukan seberapa jauh bank dalam membayar kembali dana yang dimiliki deposan dengan menggunakan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditas. Dengan semakin tingginya rasio LDR maka memberikan indikasi semakin rendah kemampuan likuditas karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Peraturani Banki Indonesiai menyatakani bahwai kemampuani likuiditas banki dapati diproksikani dengani LDRi (Loani toi Depositi Ratio)i yaitu perbandingani antarai krediti dengani Danai Pihaki Ketigai (DPK).i Rasioi ini digunakani untuki menilaii likuiditasi suatui banki yangi dengani carai membagi jumlahi krediti yangi diberikani olehi banki terhadapi danai pihaki ketiga.Semakini tinggii LDRi menunjukkani semakin riskani kondisii likuiditasi

bank,i sebaliknyai semakini rendahi LDR menunjukkan likuiditas bank yang semakin baik, namun juga berartii kurangnyai efektifitasi banki dalami menyalurkani kredit.i Jika rasioi LDRi banki beradai padai standari yangi ditetapkani olehi Banki Indonesia, makai labai yangi diperolehi olehi banki tersebuti akani meningkati (dengan asumsii banki tersebuti mampui menyalurkani kreditnyai dengani efektif). Dengan kata lain, rendahanya LDR berdampak pada pendapatan yang diterima perbankan dari biaya kredit yang disalurkan.

3. Pengaruh NPL terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel NPL memiliki pengaruh yang negatif dan signfikan terhadap variabel ROA. Hasil ini selaras dengan hasil penelitian dari Ariyanto (2015) yang menemukan adanya pengaruh yang negative dan signifikan dari variabel NPL terhadap ROA. i Dalami hali inii perubahani labai tentunyai mempengaruhi besari kecilnyai nilaii ROA,i karenai labai merupakani komponeni pembentuk ROA.

Noni Performingi Loani (NPL)i merefleksikani besarnyai risikoi kredit yangi dihadapii bank,i semakini kecili NPL,i makai semakini kecili pulai resiko krediti yangi ditanggungi pihaki bank.i Banki dalami memberikani krediti harus melakukani analisisi terhadapi kemampuani debituri untuki membayar kembalii kewajibannya.i Setelahi krediti diberikan,i banki wajibi melakukan pemantauani terhadapi penggunaani krediti sertai kemampuani dani kepatuhan debituri dalami memenuhii kewajiban.i Banki melakukani peninjauan, penilaian,i dani pengikatani terhadapi

agunani untuki memperkecili resiko krediti.i Dengani demikiani apabilai suatui banki mempunyaii Non Performingi Loani (NPL)i yangi tinggi,i makai akani memperbesari biayai baik biayai pencadangani aktivai produktifi maupuni biayai lainnya,i sehingga berpengaruhi terhadapi kinerjai bank.

Sepertii halnyai perusahaani padai umumnya,i bisnisi perbankani juga dihadapkani padai berbagaii risiko,i salahi satui risikoi tersebuti adalahi risiko kredit.i Padai penelitiani inii rasioi keuangani yangi digunakani sebagaii proksi terhadapi nilaii suatui resikoi krediti adalahi rasioi Noni Performingi Loan (NPL).i Rasioi inii menunjukani bahwai kemampuani manajemeni banki dalam mengelolai krediti bermasalahi yangi diberikani olehi bank.i Sehinggai semakin tinggii rasioi inii makai akani semakini semakini buruki kualitasi krediti bank yangi menyebabkani jumlahi krediti bermasalahi semakini besari maka kemungkinani suatui banki dalami kondisii bermasalahi semakini besar.i Kredit dalami hali inii adalahi krediti yangi diberikani kepadai pihaki ketigai tidak termasuki krediti kepadai banki lain.i Krediti bermasalahi adalahi krediti dengan kualitasi kurangi lancar,i diragukani dani macet.i Standari yangi ditetapkani oleh Banki Indonesiai adalahi kurangi darii 5%,i dengani rasioi dibawahi 5%i maka Penyisihani Penghapusani Aktivai Produktifi (PPAP)i yangi harusi disediakan banki gunai menutupi kerugiani yangi ditimbulkani olehi aktivai produktifi non lancari (dalami hali inii krediti bermasalah)i menjadii kecil.

4. Pengaruh NIM terhadap ROA

Berdasarkan pengujian diperoleh hasil bahwa variabel NIM memiliki pengaruh yang positif dan signifkan terhadap variabel ROA. Hasil penelitian ini selaras dengan

penelitian dari Kartawati (2018) yang menemukan bahwa NIM memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel ROA. Hali ini berartii kemampuani manajemeni banki dalami menghasilkani bungai bersih berpengaruhi terhadapi tingkati pendapatani banki akani totali assetnya. Bungai bersihi merupakani salahi satui komponeni pembentuki laba (pendapatan),i karenai labai merupakani komponeni pembentuki returni on asset,i makai secarai tidaki langsungi jikai pendapatani bungai bersih meningkati makai labai yangi dihasilkani banki jugai meningkat,i sehingga akani meningkatkani kinerjai keuangani banki tersebut.

Berdasarkani ketentuani padai peraturani BIi No.5/2003,i salahi satu proksii darii resikoi pasari adalahi sukui bunga,i dengani demikiani rasioi pasar dapati diukuri dengani selisihi antarai sukui bungai pendanaani (funding) dengani sukui bungai pinjamani diberikani (lending)i ataui dalami bentuk absolute,i yangi merupakani selisihi antarai totali biayai bungai pendanaan dengani totali biayai bungai pinjaman.i Didalami duniai perbankani dinamakan Neti Interesti Margini (NIM).i Rasioi inii digunakani untuki mengukur kemampuani manajemeni banki dalami mengelolai aktivai produktifnyai untuki menghasilkani pendapatani bungai bersih.i Pendapatani bungai bersih diperolehi darii pendapatani bungai dikurangii bebani bunga.i Rasioi ini menunjukkani kemampuani banki dalami memperolahi pendapatan operasionalnyai darii danai yangi ditempatkani dalami bentuki pinjaman (kredit).i Semakini tinggii NIMi menunjukkani semakini efektifi banki dalam penempatani aktivai produktifi dalami bentuki kredit.i Standari yangi ditetapkan Banki Indonesiai untuki rasioi NIMi adalahi 6%i keatas.i Semakini besari rasio inii makai meningkatnyai pendapatani

bungai atasi aktivai produktifi yang dikelolai banki sehinggai kemungkinani suatui banki dalami kondisi bermasalahi semakini kecil.i Sehinggai dapati disimpulkani bahwai semakin besari neti interesti margini (NIM)i suatui perusahaan,i makai semakini besar pulai returni oni asseti (ROA)i perusahaani tersebut,i yangi berartii kinerja keuangani tersebuti semakini membaiki ataui meningkat.i Begitui jugai dengan sebaliknya,i jikai neti interesti margini (NIM)i semakini kecil,i returni oni asset jugai akani semakini kecil,i dengani katai laini kinerjai perusahaani tersebut semakini menurun.

5. Pengaruh OER terhadap ROA

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel OER memiliki pengaruh yang negative dan signfikan terhadap ROA.Hali ini berartii tingkati efisiensii banki dalami menjalankani operasinya, berpengaruhi terhadapi tingkati pendapatani ataui “earning”i yangi dihasilkan olehi banki tersebut.i Jikai kegiatani operasionali dilakukani dengani efisien (dalami hali inii nilaii rasioi OERi rendah)i makai pendapatani yang dihasilkani banki tersebuti akani naik. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian dari Buchory (2015), Utami (2015), Paulin dan Sudarso(2015), Manurung (2015), Pratiwi dan Wiagustini (2015), Kristianti dkk.(2015),dan Chimkono dkk.(2016) yang menemukan bahwa OER memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA .

Padai penelitiani inii variabeli OERi diambili sebagaii salahi satu variabeli ataui faktori yangi mempengaruhii kinerjai keuangani bank,i karena bagaimanapuni jugai jikai kitai berbicarai mengenaii kinerjai suatui perusahaan pastilahi jugai berhubungani

dengani efisiensii operasii perusahaani tersebut. Rasioi yangi seringi disebuti rasioi efisiensii inii digunakani untuki mengukur kemampuani manajemeni banki dalami mengendalikani biayai operasional terhadapi pendapatani operasional.i Semakini kecili rasioi inii berartii semakin efisieni biayai operasionali yangi dikeluarkani banki yangi bersangkutan sehinggai kemungkinani suatui banki dalami kondisii bermasalahi semakin kecil.

Menuruti Banki Indonesia,i efisiensii operasii diukuri dengan membandingkani totali biayai operasii dengani totali pendapatani operasii atau yangi seringi disebuti OER.i Rasioi OERi inii bertujuani untuki mengukur kemampuani pendapatani operasionali dalami menutupi biayai operasional. Rasioi yangi semakini meningkati mencerminkani kurangnyai kemampuani banki dalami menekani biayai operasionali dani meningkatkani pendapatan operasionalnyai yangi dapati menimbulkani kerugiani karenai banki kurang efisieni dalami mengelolai usahanya.i Banki Indonesia menetapkani angkai terbaiki untuki rasioi OERi adalahi dibawahi 90%,i karena jikai rasioi OERi melebihii 90%i hinggai mendekatii angkai 100%i makai bank tersebuti dapati dikategorikani tidaki efisieni dalami menjalankani operasinya.

6. Pengaruh CAR terhadap Harga Saham

Berdasarkan pengujian diperoleh kesimpulan bahwa CAR tidak berpengaruh terhadap Harga Saham. Sehingga hasil tersebut bertentangan dengan hasil penelitian dari bertentangan dengan penelitian dari Takarini dan Hayudanto (2013) yang menemukan bahwa CAR berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham.

Tetapi penelitian ini selaras dengan penelitian dari Murni (2016) yang menemukan

bahwa variabel CAR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham.

Secara teori, CAR yang tinggi akan meningkatkan harga saham, begitu pula sebaliknya. Namun pada penelitian ini ditemukan bahwa CAR tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham perbankan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa meskipun CAR berada diatas batasan yang diberikan oleh BI tidak langsung memengaruhi perubahan harga saham, dikarenakan investor lebih melihat pada faktor eksternal perusahaan dalam menilai harga saham perusahaan. Investor menganggap bahwa CAR belum cukup baik dalam menggambarkan return yang sepadan dengan resiko yang ditanggung. Hal tersebut mengakibatkan investor tidak terlalu memperdulikan CAR dalam berinvestasi.

CARi merupakani rasioi kecukupani modali yangi berfungsii menampungi risikoi kerugiani yangi kemungkinani dihadapii olehi bank.i Semakini tinggii CARi makai semakini baiki kemampuani banki tersebuti dalami menanggungi risikoi darii setiapi krediti ataui aktivai produktifi yangi berisikoi sehinggai banki dapati menjagai likuiditasnyai dani stabilitasi sertai efisiensii operasionali bank.i Dengani demikian,i akani berpengaruhi positifi terhadapi profitabilitasi banki sekaligusi terhadapi hargai sahamnya.i

7. Pengaruh Variabel LDR terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel LDR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Harga Saham. Berdasarkan hasil tersebut juga dapat diperoleh kesimpulan bahwa hipotesis pada pengujian pengaruh variabel LDR terhadap Harga Saham ditolak. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian dari

Ulfa (2014) yang menemukan bahwa variabel LDR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Peraturani Banki Indonesiai menyatakani bahwai kemampuani likuiditasi banki dapati diproksikani dengani LDR,i yaitui rasioi krediti yangi diberikani kepadai pihaki ketigai dalami rupiahi dani valutai asing,i tidaki termasuki krediti kepadai banki lain,i terhadapi danai pihaki ketigai yangi mencakupi giro,i tabungan,i dani depositoi dalami rupiahi dani valutai asing,i tidaki termasuki danai antari bank.i Rasioi LDRi dihitungi dengani carai membagii jumlahi krediti yangi diberikani olehi banki terhadapi danai pihaki ketiga.

LDR tidak berpengaruh terhadap harga saham dikarenakan untuk menyalurkan kredit atas kemampuan bank untuk menyediakan dana pinjaman dan dana simpanan bukanlah tolok ukur keberhasilan bank untuk memperoleh laba. LDR yang tinggi akan meningkatkan resiko kebangkrutan yang tinggi. Di sisi lain tingkat LDR tidak banyak memberikan kontribusi terhadap profitabilitas yang tinggi. Maka dari itu banyak investor yang kurang memperhatikan LDR sebagai alat pengambilan keputusan investasi.

8. Pengaruh NPL terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel NPL memiliki pengaruh signfikan terhadap variabel harga saham. Hasil ini selaras dengan hasil penelitian dari Yanti (2018) yang menemukan adanya pengaruh signifikan dari NPL terhadap Harga Saham.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi NPL,

menunjukkan semakin tinggi resiko kredit bermasalah yang akan berpotensi menurunkan keuntungan perbankan, maka harga saham juga akan ikut menurun. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya income perbankan dari suku bunga kredit yang ditawarkan kepada debitur. Suku bunga kredit merupakan slaah satu income terbesar bagi bank, jika bank tidak mendapatkan angsuran kredit dalam jangka waktu yang ditentukan, maka akan mengakibatkan kehilangan sumber pemasukannya. Begitu pula sebaliknya, jika NPL rendah, maka bank akan mendapatkan lebih banyak lagi income.

9. Pengaruh NIM terhadap Harga Saham

Berdasarkan pengujian diperoleh hasil bahwa variabel NIM memiliki pengaruh yang positif dan signifkan terhadap variabel Harga Saham.. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian dari Said (2019) yang menemukan bahwa NIM memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel Harga Saham.

NIMi adalahi rasioi yangi digunakani untuki mengetahuii kemampuani manajemeni banki dalami hali pengelolaani aktivai produktifi sehinggai bisai menghasilkani bungai bersih.i Aktivai produktifi yangi diperhitungkani adalahi aktivai produktifi yangi menghasilkani bungai (interesti bearingi assets).i Pendapatani bungai bersihi itui sendirii bisai dihitungi dengani carai pendapatani bungai dikurangii dengani bebani bungai yangi disetahunkan.i Pendapatani bungai misalnyai bisai berasali darii bungai pinjamani kepadai nasabah,i sedangkani bebani bungai dapati berupai bungai tabungani ataui bungai depositoi yangi dibayarkani kepadai nasabahi bank.i Semakini tinggii rasioi NIM,i yangi berartii semakini tinggii profitabilitasi bank,i akani

berpengaruhi positifi bagii hargai saham.i Neti Interesti Margini miripi dengani margini kotori padai perusahaani nonfinansial.

10. Pengaruh OER terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa variabel OER memiliki pengaruh yang negative dan signfikan terhadap Harga Saham.. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian dari Dendawijaya (2015) yang menemukan bahwa variabel OER memiliki pengaruh yang signfikan terhadap harga saham.

Rasioi OERi ataui seringi disebuti rasioi efisiensii digunakani untuki mengukuri kemampuani manajemeni lembagai keuangani dalami mengendalikani biayai operasionali terhadapi pendapatani operasional.i Rasioi inii membandingkani antarai jumlahi biayai operasionali dani pendapatani operasionali bank.i Semakini kecili rasioi inii berartii semakini efisieni biayai operasionali yangi dikeluarkani lembagai keuangani yangi bersangkutani sehinggai kemungkinani suatui lembagai keuangani dalami kondisii bermasalahi semakini kecil.i Semakini efisieni manajemeni banki

Rasioi OERi ataui seringi disebuti rasioi efisiensii digunakani untuki mengukuri kemampuani manajemeni lembagai keuangani dalami mengendalikani biayai operasionali terhadapi pendapatani operasional.i Rasioi inii membandingkani antarai jumlahi biayai operasionali dani pendapatani operasionali bank.i Semakini kecili rasioi inii berartii semakini efisieni biayai operasionali yangi dikeluarkani lembagai keuangani yangi bersangkutani sehinggai kemungkinani suatui lembagai keuangani dalami kondisii bermasalahi semakini kecil.i Semakini efisieni manajemeni banki

Dokumen terkait