IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4.2. Analisis Jenis RTH
Berdasarkan analisis urutan prioritas pengembangan jenis RTH di wilayah studi, dua kelompok responden yaitu akademisi dan birokrasi, menilai jalur hijau kota sebagai prioritas pertama dan kelompok responden praktisi menilai taman rekreasi/agrowisata. Prioritas kedua menurut kelompok responden akademisi dan birokrasi adalah taman kota, tetapi menurut kelompok responden praktisi adalah jalur hijau kota. Sedangkan urutan ketiga, masing-masing kelompok responden menilai lapangan olah raga. Urutan prioritas pengembangan RTH berdasarkan jenis menurut penilaian agregat seperti pada Tabel 24.
Analisis pengembangan RTH berdasarkan preferensi dua kelompok responden menilai jalur hijau kota sebagai prioritas pertama, taman kota sebagai prioritas kedua. Sedangkan prioritas ketiga, masing-masing kelompok responden menilai lapangan olah raga. Hasil analisis tertera pada Tabel 25, penilaian dan analisis dapat dilihat pada lampiran 7 sampai 10.
Tabel 24. Urutan prioritas pengembangan RTH bedasarkan jenis menurut penilaian agregat
Kelompok Responden No Jenis RTH
Akademisi Praktisi Birokrasi Nilai Priori tas
1 Hutan Kota 1403 760 1089 3252 7
2 Lapangan Olah Raga 2134 1640 2433 6207 3
3 Jalur Hijau Kota 3313 1798 3477 8588 1
4 Taman Kota 2392 1362 3007 6761 2
5 Taman Rekreasi/Agrowisata 1346 3369 1323 6038 4 6 Pemakaman Umum 1687 831 2180 4698 5 7 Green Belt 996 1538 905 3439 6
Sumber: Analisis data
Dari Tabel 25 dapat dijelaskan, berdasarkan penilaian dua kelompok responden yaitu akademisi dan birokrasi memberikan bobot penilaian yang tinggi terhadap kriteria aksessibilitas dan motivasi. Kelompok responden praktisi menilai dengan bobot yang tinggi adalah aksessibilitas dan aspek kelembagaan. Kriteria aksessibilitas dalam pengembangan RTH di wilayah studi merupakan faktor yang penting, karena RTH yang dibangun harus dapat diakses oleh masyarakat, sehingga memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Kriteria motivasi berasumsi bahwa dalam upaya pengembangan RTH harus mendapat dukungan potensial dari masyarakat, sehingga dalam upaya pengembangan RTH berkelanjutan dapat dilaksanakan secara bersama diantara
stakeholders yang ikut terlibat. Aspek kelembagaan merupakan kelompok
stakeholders yang terlibat baik dalam pengembangan RTH maupun dalam
pengelolaan. Pengembangan RTH akan berhasil apabila terdapat kelompok masyarakat yang terorganisir dalam wadah kelembagaan (Savage & Kong 2003). Kota-kota besar yang berhasil dalam pengembangan RTH umumnya memiliki kelembagaan yang baik.
Sebagai prioritas pertama jalur hijau di wilayah studi terdiri atas 4 (empat) jenis yaitu: (1) jakur hijau tepi jalan, (2) jalur hijau median jalan, (3) jalur hijau tepian air, dan (4) jalur hijau penyempurna. Berdasarkan data yang diolah dari Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Pontianak (2005), masing-masing bentuk jalur hijau tersebut dapat dijelaskan sebagai ber ikut: Tabel 25. Analisis alternatif Jenis RTH Metode Perbandingan Eksponensial
Kriteria
Respo
nden Alternatif Jenis
Ktl SDM Aks AK By KP M T v
Nilai Prio ritas
Hutan Kota 3.40 3.48 3.52 3.20 3.28 3.32 3.56 1402.82 5
Lap.Olah Raga 3.44 3.84 3.68 3.48 3.48 3.44 4.04 2134.27 3
Jalur Hijau Kota 4.28 4.48 4.16 3.76 3.64 3.64 4.28 3312.90 1
Taman Kota 3.68 3.92 4.00 3.88 3.72 3.60 3.92 2392.12 2 Taman Rekreasi/Agrowisata 3.40 3.48 3.44 3.32 3.40 3.12 3.56 1345.76 6 Pemakaman Umum 3.48 3.36 3.52 4.16 3.28 3.28 3.84 1687.50 4 Green Belt 3.88 3.48 3.24 3.16 3.16 3.28 3.20 996.06 7 Akade misi Bobot 3 4 5 3 3 3 5 - - Hutan Kota 2.72 2.60 3.12 2.08 2.28 2.32 4.28 759.69 7 Lap.Olah Raga 2.68 3.24 3.96 3.16 2.68 3.16 3.92 1639.86 3
Jalur Hijau Kota 3.28 4.16 4.08 2.80 2.72 3.20 4.08 1797.88 2
Taman Kota 3.52 3.20 3.68 2.80 2.68 3.16 4.16 1362.01 5 Taman Rek./Agrowisata 3.88 4.12 4.16 4.24 3.96 4.40 4.40 3369.03 1 Pemakaman Umum 2.96 2.72 3.16 2.68 2.56 2.80 4.00 830.85 6 Green Belt 3.52 3.52 3.68 3.04 2.72 3.36 4.40 1537.90 4 Pra k tisi Bobot 4 3 5 5 3 2 4 - - Hutan Kota 2.80 3.28 3.24 2.76 2.76 2.76 3.40 1088.69 6 Lap.Olah Raga 3.40 3.76 3.84 3.68 2.84 3.60 4.00 2433.15 3
Jalur Hijau Kota 4.00 3.84 4.20 3.96 3.60 3.84 4.24 3476.88 1
Taman Kota 3.76 3.84 3.96 3.48 3.28 3.60 4.24 3006.85 2 Taman Rekreasi/Agrowisata 2.92 3.24 3.12 3.76 3.16 3.04 3.68 1323.56 5 Pemakaman Umum 3.16 3.68 3.52 3.60 3.04 3.12 4.12 2180.11 4 Green Belt 2.88 2.96 2.84 3.32 2.64 2.84 3.40 904.72 7 Birok rasi Bobot 4 4 5 3 3 4 5 - - Sumber: Analisis data
Keterangan:
Ktl : Ketersediaan Lahan By : Biaya
SDM : Sumberdaya Manusia KP : Keb ijakan Pemerintah
Aks : Aksessibilitas MTv : Motivasi (dukungan potensial dari masyarakat) Ak : Aspek Kelembagaan
1. Jalur hijau tepi jalan
Kondisi eksisting jalur hijau tepi jalan di wilayah studi dengan panjang keseluruhan 98.212 m dan luas 322.537 m2. Hasil pengamatan, dari kondisi yang ada perlu pengembangan. Salah satu contoh jalur hijau tepi jalan yang terdapat di Jalan A. Yani (Gambar 9). Jalan ini merupakan salah satu jalur utama di wilayah studi, dan banyak dipergunakan oleh masyarakat, baik pejalan kaki maupun kendaraan bermotor. Kawasan ini rawan dengan polusi udara dan kebisingan.
2. Jalur hijau median jalan
Jalur ini merupakan pemisah dua jalur jalan, di lokasi studi kondisi eksisting terdapat beberapa jenis tanaman penutup tanah (ground cover) dan jenis semak. Dari kondisi eksisiting tersebut, secara kualitas dan kuantitas perlu pengembangan, baik sebagai pengaman maupun penambah nilai estetika. Kawasan ini terdapat di Jalan Tanjung Pura seluas 852,85 m2, Jalan Tanjung Pura II 852,85 m2, Jalan A. Yani 2800 m2, Jalan MT. Haryono 4000 m2. Salah satu kondisi median jalan seperti terlihat pada Gambar 10.
Gambar 9. Salah satu kondisi jalur hijau tepi jalan di Jalan A. Yani
b a
Gambar 11. Jalur hijau tepian air, (a) sebagai drainase induk di Parit Sungai Jawi, (b) Jalur hijau tepi Sungai Kapuas sebagai penahan abrasi di Kecamatan Pontianak Utara
3. Jalur hijau tepian air/sungai
Jalur ini merupakan jalur hijau yang terdapat pada sempadan/pinggir parit sungai di Kota Pontianak. Kawasan ini pada umumnya sudah banyak ditempati oleh pedagang kaki lima (PKL) dan pemukiman, terutama pada Parit Sungai Jawi dengan panjang 7,11 km dan Parit Tokaya dengan panjang 7,50 km. Bagian hulu kedua parit ini berfungsi sebagai drainase induk kota, pada kawasan hilir terutama di pusat-pusat kota berfungsi sebagai penyerap polusi, pengarah dan perbaikan iklim mikro. Di kawasan lainnya, yaitu jalur hijau tepian Sungai Kapuas sebagian besar sudah di manfaatkan oleh kawasan perdagangan, pelabuhan, dermaga, industri dan pemukiman. Sedangkan kawasan yang masih dapat dimanfaatkan sebagai jalur hijau tepian air yang merupakan kawasan lindung atau kawasan konservasi di tepian Sungai Kapus Kecamatan Pontianak Barat. Kawasan tepi sungai di Jalan Khatulistiwa Kecamatan Pontianak Utara (Tugu Khatulistiwa, Makam Batu Layang) kedua kawasan ini rawan terhadap ombak sungai dan abrasi. Beberapa kondisi jalur hijau tepian air/sungai seperti tertera pada Gambar 11. Kawasan mangrove yang terdapat di tepi Sungai Kapuas Kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat telah banyak dimanfaatkan sebagai kawasan pemukiman.
Gambar 12. Jalur hijau penyempurna di Jembatan Kapuas 4. Jalur hijau penyempurna
Kawasan ini merupakan jalur hijau yang terdapat pada kawasan-kawasan tertentu. Fungsi jalur hijau ini sebagai penyeimbang tapak dari bentuk yang kurang bagus, misalnya pada kaki jembatan, fly over, jalur kereta, terminal bis, dan kawasan tergenang. Di wilayah studi kawasan ini terdapat di Jembatan Kapuas dan Jembatan Landak, Fery Penyeberangan, Terminal Batu Layang. Kondisi eksisting pada kawasan Jembatan Kapuas jalur hijau ini mulai tertata dengan baik, sedangkan kawasan lain perlu peningkatan dan pengembangan. Kawasan ini rawan macet dan kumuh (Gambar 12). Secara rinci penyebaran kawasan jalur hijau tertera pada Tabel 26.
Tabel 26. Penyebaran jalur hijau Kota Pontianak
Dimensi N o Jenis jalur
hijau Fungsi eksisting usulan pengembangan 1 Tepi jalan Pejalan kaki, penyerap polusi, Panjang 98.212 m Luas 322.537 m2
Gambar 13. Tama n Tugu Khatulistiwa dan festival budaya, merupakan simbol Kota Pontianak
2 Median jalan Pengaman, pengarah Luas 8506 m2 Luas 4.253 m2
3 Tepian air Penahan abrasi, tergenag, pengarah Panjang 15 km Luas 15.000 m²
4 Penyempurna Penghalang bentuk kurang bagus, kumuh, pencegah polusi
Luas 1,00 h a Luas 7 ha
Sumber:Bappeda Kota Pontianak 2002 dan analis data.
Sebagai prioritas kedua adalah taman kota, merupakan salah satu kategori penting sebagai komponen penghijauan kota. Nagtegaal dan Nas (2005), menjelaskan taman kota pada umumnya mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai simbul (landmark) kota dan tempat rekreasi. Sebagai simbul kota taman dapat mencerminkan karakter suatu kota. Di wilayah studi, Taman Tugu Khatulistiwa merupakan simbul kota Pontianak sebagai kota equator. Taman ini berukuran 2,92 ha termasuk jalan raya pada bagian utara, sedangkan sebelah selatan berhadapan langsung dengan Sungai Kapuas. Vegetasi yang terdapat di kawasan ini pada umumnya merupakan pohon dan semak hutan sekunder, sedangkan pada sisi barat dan timur ditanami dengan tanaman ornamen yang masih perlu penataan. Taman ini pa da bulan Maret dan September selalu ramai dikunjungi oleh turis lokal maupun manca negara untuk menyaksikan titik kulminasi matahari berada tepat pada titik 00 pada garis khatulistiwa, sedangkan
pada hari-hari biasa digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga (Gambar 13).
Taman-taman lain sebagai tempat rekreasi keluarga adalah, Taman Mesjid Raya Mujahidin 5,23 ha, Pelabuhan Seng Hie 0,56 ha, Taman Keraton Kadriah 1,44 ha, Makam Batu Layang 0,07 ha. Taman Alun Kapuas dengan luas 0,66 ha (Gambar 14), terletak pada di tengah kota dan di pinggir Sungai Kapuas. Taman kota lainnya yang terdapat pada sudut atau persimpangan jalan dengan ornamen pelengkap, diantaranya Taman Tugu Keluarga Berencana, taman Tugu Adipura, Taman Bambu Runcing (Degulis), Taman Jalan Johan Idrus, lokasinya tersebar di Kota Pontianak dengan luas 2,16 ha (DKPP Kota Pontianak 2003). Penyebaran taman di Kota Pontianak tertera pada Tabel 27.
Tabel 27. Penyebaran taman kota di Kota Pontia nak
Dimensi/luas (ha) No Nama Taman
eksisting usulan pengembangan 1 Taman Tugu Khatulistiwa 2,92 4,85
2 Taman Alun Kapuas 0,66 1,00
3 Taman Pelabuhan Seng Hie 0,56 0,56
4 Taman Mesjid Raya Mujahidin 5,23 5,23
5 Taman Keraton Kadriah 1,44 1,44
6 Taman ornamen (taman Bambu Runcing, taman Adipura, taman Keluarga Berencana)
2,16 2,16
Sumber:DKPP Kota Pontianak 2003 dan analis data.
Gambar 15. Stadion Olah Raga Sultan Syarif Abdurrachman
Prioritas ketiga adalah lapangan olah raga, merupakan kawasan terbuka dan vegetasinya sebagai penyeimbang ekologi kota. Namun pada beberapa sisi kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan hijau dengan vegetasi yang beragam sesuai dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan fungsinya. Dari aspek ekonomi, hasil pengamatan di wilayah studi kawasan yang kosong dimanfaatkan sebagai etalase tanaman hias (nursery). Lapangan olah raga yang terdapat di wilayah studi antara lain Stadion Sultan Syarif Abdurrachman 31,24 ha (Gambar 15), Lapangan Bal Keboen Sayoek 2,00 ha, Stadion Olah Raga Universitas Tanjung Pura 13,25 ha, Lapangan Bola Hanura 1,00 ha.
Pengembangan lapangan olah raga di pemukiman yang berpotensi, akan bermanfaat sebagai pengembangan RTH, diantaranya Kecamatan Pontianak Barat yaitu Lapangan Bola Sepakat seluas 1,00 ha. Kecamatan Pontianak Utara Lapangan Bola Jl. Budi Utomo dengan luas 3,00 ha, dan Kecamatan Pontianak Timur Lapangan Bola Parit Mayor seluas 3,00 ha. Kecamatan dengan kepadatan penduduk yang tinggi, misalnya di Kelurahan Tanjung Hilir dapat dikembangkan lapangan olah raga sebagai RTH binaan. Secara rinci penyebaran lapangan olah raga tertera pada Tabel 28.
Tabel 28. Penyebaran lapangan olah raga Kota Pontianak
Dimensi/luas (ha) No Nama Lapangan olah raga
a b
Gambar 16. Taman rekreasi/agrowisata (a. Taman Ria Agro Khatulistiwa di Kecamatan Pontianak Barat, b. Agrowisata Kawasan Sentra Agribisnis/Pusat Kajian Lidah Buaya Nasional – AVC)
penambahan 1 Stadion Sultan Syarif Abdurrachman 31,24 - 2 Lapangan Bal Keboen Sayoek 2,00 -
3 Stadion Universitas Tanjung Pura 13,25 -
4 Lapangan Olah Raga Pontianak Kota 1,00 0,50
5 Lapangan Olah Raga Pontianak Utara 3,00 12,00
6 Lapangan Olah Raga Pontianak Timur 3,00 7,50
Sumber:Bappeda Kota Pontianak 2003 dan analis data.
Prioritas keempat yaitu taman rekreasi/agrowisata. Kawasan RTH ini pada lokasi studi terdapat di Kecamatan Pontianak Utara merupakan kawasan sentra agribisnis dengan luas 807,50 ha, dan Pusat Kajian Lidah Buaya Nasional/Aloe
vera Center (AVC) seluas 2,50 ha, objek wisatanya antara lain lahan budidaya
dan pengolahan hasil. Selain itu terdapat juga kawasan pengemba ngan anggrek hitam, serta budidaya sayuran dan buah-buahan di lahaan gambut, seluas 411 ha. Di Kecamatan Pontianak Barat merupakan tempat wisata dengan objek wisata tanaman buah lokal, kolam renang, dan rumah makan, dengan luas 10,74 ha (Gambar 16).
Urutan kelima adalah pemakaman umum. Selain memiliki fungsi ekologis pamakaman dapat juga menandakan usia peradaban masyarakat suatu kota. Kondisinya harus dipertahankan di tengah-tengah kota karena merupaka n komponen utama siklus kehidupan kota yang memberi jaminan hak hidup dan hak
mati tanpa terkecuali kepada warga kota, dan sebagai informasi untuk mempelajari sejarah kota yang panjang. Berdasarkan data spasial Bappeda Kota Pontianak tahun 2002 luas pemakaman umum di wilayah studi seluas 44,59 ha (Tabel 29), secara rinci penyebaran pemakaman umum di wilayah studi tertera pada Lampiran 11.
Tabel 29. Penyebaran pemakaman umum Kota Pontianak
Kecamatan Pemakaman Umum Luas (ha)
(1) (2) (3)
Pontianak Utara Pemakaman Batu layang 1,07 Pemakaman Tionghoa Batu Layang 21,40 Pemakaman Tionghoa Siantan Hulu 2,00 Pemakaman Gang Dharma Putra 1,12 Pemakaman lainnya 1,05
Total 26,64
Pontianak Timur Pemakaman Jl. Sultan Hamid 0,56 Pemakaman lainnya 2,12
Total 2,68
Pontianak Barat Pemakaman Gang Kenari 0,73 Pemakaman lainnya 3,63
Total 4,36
Pontianak Kota Pemakaman Sungai Bangkong 2,47 Pemakaman Danau Sentarum 0,53 Pemakaman Jl. Kartini 0,60 Pamakaman Jl. Bungur 0,94 Pemakaman Gang Tengah 1,65 Pemakaman lainnya 0,49
Total 6,68
Pontianak Selatan Pemakaman Muslimin Kp. Bangka 2,24 Pemakaman Gang Meliau 0,70 Pemakaman lainnya 1,29
Total 4,23
Kota Pontianak 44,59
Sum ber: Bappeda Kota Pontianak 2002 dan analisis data
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan Inmendagri Nomor 14 tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan, serta Peraturan Daerah Kota Pontianak merupakan dasar hukum pengembangan pemakaman umum bersejarah. Beberapa pemakaman umum bersejarah di wilayah studi diantaranya Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang dan Pemakaman umum Sungai Bangkong. Di Makam Batu Layang
a b
Gambar 17. Kondisi greenbelt di Kecamatan Pontianak Barat (a. kawasan hutan sekunder yang berubah fungsi. b. kebun campuran)
terdapat makam Sultan Syarif Abdurrachman pendiri Kota P ontianak. Dinamakan Batu Layang konon terdapat sebuah batu yang mengambang (melayang), sampai sekarang batu tersebut masih dapat dijumpai. Pemakaman umum Sungai Bangkong merupakan pemakan yang berukuran luas dibandingkan dengan pemakaman lainnya. Pemakaman ini sebelumnya terdapat makam pahlawan pejuang Kota Pontianak sebelum dipindahkan ke Makam Pahlawan.
Urutan pengembangan keenam adalah green belt. Kawasan ini merupakan hutan sekunder dan kebun campuran milik masyarakat, berbentuk mema njang yang berbatasan dengan wilayah administrasi Kabupaten Pontianak. Berdasarkan RTRW Kota Pontianak sampai dengan tahun 2012 kawasan ini sebagai lahan konservasi. Pada Kecamatan Pontianak Utara jenis tanah didominasi oleh tanah gambut, yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Hutan sekunder pada kawasan ini berfungsi sebagai penyangga kawasan sekitarnya. Kondisi eksisting kawasan ini pada umumnya sudah mulai berubah dengan pemanfaatan lain, terutama sebagai kawasan pemukiman dan infra struktur lainnya (Gambar 17).
Hutan kota merupakan urutan prioritas pengembangan yang ketujuh. Di wilayah studi terdapat beberapa bentuk hutan kota yaitu (a) bentuk jalur, mengikuti suatu bentukan berupa garis lurus atau garis lengkung, (b) menyebar, tidak mempunyai pola tertentu, vegetasi tumbuh berpencar -pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol kecil, (c) bergerombol atau menumpuk, komunitas
a b
Gambar 18. Kondisi hutan kota, a. Hutan kota di kawasan Universitas Tanjung Pura, b. Hutan kota (latar belakang) di Pendopo Gubernur
vegetasinya terkonsentrasi pada luas lahan tertentu. Hutan kota yang terdapat di wilayah studi berbentuk gerombol atau menumpuk diantaranya kawasan Universitas Tanjung Pura dengan luas 8,57 ha, di Jalan Pahlawan luas 2,38 ha (Gambar 18), hutan kota di Jalan Tabrani Achmad luas 1 ha (Bappeda Kota Pontianak 2003).