• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM

A. Analisis Kasus

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Mahkamah Syar’iyah Jantho dan Mahkamah Syar’iyah Aceh, dapat diketahui lebih dalam tentang kasus pengembalian mahar yang yang dituntut oleh seorang suami kepada isterinya dikarenakan telah terjadi perceraian. Putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho Nomor: 191/Pdt.G/2010/MS- JTH dan Putusan Mahkamah Syar’iyah Aceh Nomor: 15/Pdt.G/2011/MS-Aceh, dapat diuraikan sebagai berikut:

Putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho Nomor: 191/Pdt.G/2010/MS-JTH. Mahkamah Syar’iyah Jantho yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tertentu pada tingkat pertama dalam persidangan Majelis Hakim telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut dalam perkara cerai gugat yang diajukan olehNyonya NA, melawan Tuan MR.

Tentang Duduk Perkaranya.

Nyonya NA telah mengajukan surat gugatan tertanggal 21 Oktober 2010 dan telah terdaftar di Kepaniteraan Mahkamah Syar;iyah Jantho pada tanggal tersebut, dengan Register Nomor: 191/Pdt.G/2010/MS-Jth, dengan dalil-dalil yang pada pokoknya mengemukakan sebagai berikut:

1. Bahwa, nyonya NA adalah isteri sah tuan MR yang menikah menurut syariat Islam di Kantor Urusan Agama Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 11 Oktober 2009, sebagaimana tersebut dalam Kutipan Akta Nikah Nomor: 124/17/X/2009, tanggal 20 Oktober 2009.

2. Bahwa antara nyonya NA dan tuan MR telah bergaul sebagaimana layaknya suami isteri, namun belum mempunyai keturunan.

3. Bahwa setelah menikah nyonya NA dan tuan MR tinggal bersama di rumah orang tua nyonya NA di Gampong Lamtanjong, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, selama lebih kurang 4 bulan, setelah itu tuan MR pulang ke kampung asalnya di Gampong Luthu Lamweu sedangkan nyonya NA tetap di Gampong Lamtanjong.

4. Bahwa rumah tangga nyonya NA dan tuan MR pada awalnya harmonis dan rukun, selama lebih kurang 2 bulan kemudian sering terjadi perselisihan dan percekcokan karena:

4.1.Bahwa pada dasarnya perkawinan nyonya NA dan tuan MR bukan atas dasar suka sama suka, tetapi dijodohkan dan nyonya NA tak kuasa untuk menolak kehendak orang tua.

4.2.nyonya NA tidak menghargai nyonya NA selaku seorang isteri bahkan tuan MR bersikap acuh tak acuh terhadap nyonya NA.

4.3.tuan MR di dalam berumah tangga tidak mau berkomunikasi dengan nyonya NA, setiap pembicaraan antara nyonya NA dengan tuan MR tidak pernah ada titik temu (jalan keluar).

5. Bahwa puncak perselisihan antara nyonya NA dan tuan MR terjadi pada bulan Mei 2010, pada saat tuan MR tanpa alasan yang jelas tidak mau lagi pulang pada nyonya NA dan sampai saat ini tidak pernah menghubungi lagi nyonya NA.

6. Bahwa selama berpisah tuan MR tidak pernah memberikan nafkah kepada nyonya NA baik itu nafkah lahir (kebutuhan sehari-hari) maupun nafkah batin.

7. Bahwa selama hidup berumah tangga, tuan MR sangat jarang memberikan nafkah kepada nyonya NA, sehingga segala kebutuhan rumah tangga nyonya NA yang menanggung.

8. Bahwa permasalahan keluarga nyonya NA dan tuan MR sudah pernah diselesaikan oleh keluarga dan aparat Gampong dan KUA Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, tetapi tidak ada hasilya.

9. Bahwa sekarang nyonya NA tidak ingin lagi mempertahankan perkawinan dengan tuan MR, karena tidak sesuai dengan tujuan perkawinan untuk mencapai keluara sakinah mawaddah warahmah maupun peraturan perundang-undangan lainnya, untuk itu nyonya NA ingin mengakhiri perkawinan dengan perceraian melalui Mahkamah Syar’iyah Jantho dengan mengingat alasan-alasan tersebut diatas.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas, nyonya NA mohon kepada Bapak Ketua Mahkamah Syar’iyah Jantho berkenan memanggil nyonya NA dan tuan MR dalam suatu persidangan khusus untuk itu guna diperiksa dan diadili dengan

menjatuhkan putusan menceraikan Penggugat (NA) dengan Tergugat (MR) berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas atau berdasarkan alasan-alasan lain menurut ketentuan yang berlaku.

Bahwa pada hari sidang yang telah ditentukan, nyonya NA dan tuan MR masing-masing hadir sendiri menghadap di persidangan, selanjutnya Majelis Hakim telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak berperkara tetapi tidak berhasil bahkan dalam mediasi oleh Hakim Mediasi Mahkamah Syar’iyah Jantho telah berupaya secara optimal untuk mendamaikan kedua belah pihak akan tetapi tidak berhasil, kemudian sidang dilanjutkan dengan terlebih dahulu membacakan surat gugatan nyonya NA yang isinya tetap dipertahankan oleh nyonya NA.

Terhadap gugatan nyonya NA tersebut, tuan MR telah menyampaikan jawaban secara lisan yaitu bahwa benar nyonya NA dengan tuan MR suami isteri, dan benar tuan MR pulang ke Lamtanjong pada rumah orang tua isteri selama 4 bulan tetapi yang rutin hanya 2 bulan saja sedangkan 2 bulan lagi pulangnya tidak menentu karena nyonya NA tidak mau tidur dengannya. Selama perkawinan dua bulan tidak terjadi masalah dalam keluarga, setelah itu nyonya NA tidak mau melayani tuan MR selaku suaminya. Tuan MR membantah berselisih paham tetapi yang benar nyonya NA tidak mau tidur dengannya, penyebabnya tuan MR tidak tahu. Bahwa masalah nafkah tidak diberikan benar, karena nyonya NA tidak talim kepada tuan MR dan tuan MR tetap keberatan bercerai dengan nyonya NA kecuali dkembalikan emas mahar yang pernah diberikan kepada nyonya NA, karena belum pernah melakukan hubungan suami isteri dengan nyonya NA.

Berdasarkan atas jawaban tuan MR tersebut, Nyonya NA dalam repliknya secara lisan di muka persidangan pada pokoknya menyatakan tetap pada gugatannya semula dan menolak jawaban tuan MR yang pada pokoknya menyatakan bahwa nyonya NA telah melayani tuan MR selama dua bulan lebih dan bergaul sebagaimana layaknya suami isteri, tetapi pihak suami kemudian tidak mau berkomunikasi dengannya tanpa sebab, dari situlah terjadi selisih paham. Seandainya tuan MR ingin berdamai tentu nya mengirim orang tua untuk damai karena telah selisih sekian lama, akan tetapi tidak dilakukan, bahkan nyonya NA dengan orang tua/ayah mengutus orang tua kampung Lamtanjong untuk menjemput tuan MR tetapi tidak ada sambutan dari tuan MR dan keluarganya dan nyonnya NA tidak bersedia mengembalikan mahar karena telah disetubuhi oleh tuan MR, dan bersedia bersumpah.

Tuan MR telah mengajukan dupliknya secara lisan yang pada pokoknya menyatakan tetap pada jawabannya semula dan keberatan bercerai dengan nyonya NA kecuali dengan syarat dikembalikan emas mahar karena belum dukhul dengan nyonya NA.

Tentang Hukumnya.

Berdasarkan keterangan nyonya NA dan tuan MR serta dikuatkan bukti P. 1 (Kutipan Akta Nikah) yang diajukan nyonya NA ternyata nyonya NA dan tuan MR adalah suami isteri yang sah dan belum pernah bercerai, dengan demikian nyonya NA dan tuan MR mempunyai hubungan hukum dan berkepentingan dengan perkara ini (persona standi in jidicio), bahwa berdasarkan alat bukti tertulis P. 2 ternyata nyonya NA berdomisili dalam wilayah hukum Mahkamah Syar’iyah Jantho, maka dengan

demikian syarat formal gugatan nyonya NA telah terpenuhi, sesuai dengan ketentuan pasal 73 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989.dan berdasarkan pasal 82 ayat (1) dan (4) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Majelis Hakim telah berusaha menasehati serta mendamaikan kedua belah pihak berperkara akan tetapi tidak berhasil dan telah dilakukan upaya mediasi sesuai Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 01 Tahun 2008 tentang Mediasi, namun usaha Mediasi tersebut gagal karena nyonya NA tetap pada tekadnya ingin diceraikan dari suaminya. Dari pemeriksaan terhadap perkara dimaksud, maka yang menjadi hal pokok dalam perkara ini adalah nyonya NA telah menggugat cerai terhadap tuan MR dengan alasan bahwa dalam rumah tangga nyonya NA dan tuan MR telah terjadi ketidak harmonisan yang puncaknya antara nyonya NA dan tuan MR sudah pisah tempat tinggal dan yang menjadi permasalahan perkara adalah masalah cekcok dan pengembalian mahar, maka yang perlu dibuktikan adalah tentang ada atau tidak adanya dukhul (persetubuhan) antara nyonya NA dengan tuan MR dan adanya percekcokan/perselisihan.

Berdasarkan fakta yang ada antara nyonya NA dengan tuan MR sudah sangat sukar dirukunkan dan persoalan tersebut telah menjadi konflik antar keluarga yaitu keluarga nyonya NA dengan keluarga tuan MR. Menurut keterangan tuan MR yang menginginkan pengembalian sejumlah mahar yang telah diberikan kepada nyonya NA pada saat akad nikah, karena dipandang nyonya NA adalah perempuan nusyuz dikarenakan tuan MR belum pernah dukhul dengan nyonya NA.

Bahwa berdasarkan keterangan nyonya NA bahwa ia tidak mau mengembalikan mahar karena ia telah dukhul dengan tuan MR dan nyonya NA tidak nusyuz kepada tuan MR, bahkan tuan MR lah yang telah menyia-nyiakan kehidupan nyonya NA dengan membiarkan nyonya NA tanpa nafkah lahir dan batin dan berdasarkan keterangan saksi, nyonya NA telah menerangkan bahwa bersama orang tua kampung dalam rangka merukunkan nyonya NA dengan tuan MR, mereka telah datang ketempat tuan MR untuk mencari solusi akan tetapi para saksi tidak mau diterima oleh keluarga tuan MR dan musyawarah tidak bisa dilaksanakan.

Berdasarkan keterangan nyonya NA, keterangan tuan MR, keterangan saksi- saksi telah terungkap fakta benar telah terjadi perselisihan dalam rumah tangga antara nyonya NA dengan tuan MR yang sudah sangat memuncak dan antar keluarga tidak bisa dimusyawarahkan lagi, sehingga tuan MR bersama keluarganya menuntut kembali mahar dengan alasan tuan MR belum dukhul dengan nyonya NA. Berdasarkan fakta pula antara nyonya NA dengan tuan MR pernah baik paling sedikit dua bulan lamanya dan tidak terjadi masalah apapun, fakta tersebut telah melahirkan persangkaan bahwa hubungan suami isteri antara nyonya NA dengan tuan MR telah terjadi, karena kedua mereka telah mengaku sebagai orang yang normal yang membutuhkan kepada pasangannya. Jika hubungan suami isteri tidak terjadi sudah pasti keributan/perselisihan terjadi sejak awal-awal perkawinan.

Tujuan perkawinan yang diinginkan dalam Islam dan pasal 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga

terwujud rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah dalam keluarga ini sudah tidak ditemukan lagi, dan apa yang diinginkan dari sebuah perkawinan sudah sirna. Pertimbangan-pertimbangan diatas telah nyata bila mempertahankan keluarga ini lebih besar mudharatnya dari pada manfaatnya, maka tanpa mempersoalkan pihak mana yang salah perceraian adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan mereka berdua (nyonya NA dan tuan MR).

Namun demikian, bahwa tuntutan tuan MR untuk dapat dikembalikan maharnya tidak berdasarkan hukum, karena didalam hukum Islam seseorang suami baru boleh meminta kembali mahar yang diberikan isterinya bila terjadi perceraian, apabila isterinya tersebut menuntut cerai dan belum terjadi dukhul, oleh karena berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang telah ditemukan didalam persidangan maka tuntutan tuan MR tidak mempunyai alasan hukum, oleh karena itu Majelis Hakim berpendapat tuntutan tuan MR tersebut tidak dapat diterima.

Gugatan nyonya NA telah memenuhi alasan menurut hukum sesuai dengan maksud pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, jo pasal 19 huruf d dan f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, jo pasal 116 huruf d dan f Kompilasi Hukum Islam, sehingga pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas terdapat cukup alasan bahwa gugatan nyonya NA patut dinyatakan dapat dikabulkan dan menjatukan talak satu bain sughra dari Tergugat (MR) terhadap Penggugat (NA). Analisis Kasus.

Tujuan peradilan adalah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bukan menegakkan peraturan perundang-undangan dalam arti sempit.107 Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan khususnya bagi yang beragama Islam. Hakim Peradilan Agama adalah pejabat yang diserahi tugas untu memimpin persidangan, oleh karena itu mutlak diperlakukan sikap arif , ia harus menjadi pelayan yang mengabdi kepada keadilan (agent of sevice) dan menjauhkan diri dari perilaku rogansi (arrogance of power), dan menghargai harta orang berperkara, dan mendapatkan mereka pada kedudukan yang sama di depan hukum.108

Salah satu bentuk negara demokrasi modern adalah susunan kekuasaan negaranya terdiri dari tiga bagian yaitu, eksekutif, legislatif dan yudikatif, tak terkecuali Indonesia. Dalam hal ini lembaga Peradilan Agama merupakan bagian dari kekuasaan yudikatif yang tetap menginduk kepada Mahkamah Agung (kedudukannya sederajad dengan Pengadilan Negeri), seperti yang diatur dalam Undang-undang nomor 3 Tahun 2006 jo Undang-undang Nomor 50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama yang berbunyi “Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentuyang diatur tentang undang ini”.

Khusus untuk Provinsi Aceh Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

107Abdul Manan, Etika Hakim dalam Penyelenggaraan Peradilan: Suatu Kajian dalam

Siatem Peradilan Islam,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007),hal. 184.

dan Qanun (Peraturan Daerah) Nomor 5 Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam, maka di seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berlaku Syari’at Islam seperti yang diatur didalam Qanun yang berlaku. Sebagaimana yang tertera didalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 Pasal 25 yang dalam ayat (1) berbunyi, “Peradilan Syariat Islam di Provinsi Aceh sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar’iyah yang bebas dari pengaruh pihak manapun”.

Kemudian didalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2003 tentang Mahkamah Syar’iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi di Provinsi Aceh, dijelaskan lebih lanjut mengenai kewenangan dan kedudukan yang di miliki oleh Mahkamah Syar’iyah dalam pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa “Pengadilan Agama yang telah ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diubah menjadi Mahkamah Syar’iyah”.

Berdasarkan kasus diatas, maka dapat dianalisis sebagai berikut:

Terhadap putusan tersebut Majelis Hakim mengabulkan gugatan cerai nyonya NA terhadap suaminya tuan MR, yaitu menjatuhkan talak satu bain sughra, dengan pertimbangan bahwa pengembalian mahar dianggap tidak berdasarkan hukum karena didalam hukum Islam seseorang suami baru boleh meminta kembali mahar yang diberikan isterinya bila terjadi perceraian, apabila isterinya tersebut menuntut cerai dan belum terjadi dukhul, fakta dan bukti-bukti yang telah ditemukan didalam persidangan maka tuntutan tuan MR tidak mempunyai alasan hukum.

Putusan tersebut didasarkan pada pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu “Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri”, juncto pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974, huruf d yaitu “salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain” dan huruf f yang isinya “antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga”.

Perselisihan dan pertengkaran sebagai alasan hukum perceraian, menurut Mahkamah Konstitusi (MK) dalam Putusan Nomor 38/PUU-IX/2011, tidak bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MK berpendapat bahwa putusnya perkawinan dengan lembaga perceraian atau dengan putusan pengadilan dalam perspektif hukum substansinya adalah peninjauan kembali terhadap persetujuan kedua belah pihak yang membentuk ikatan hukum yang disebut perkawinan yang dimohonkan oleh salah satu dari kedua belah pihak kepada pengadilan. Manakala pengadilan berdasarkan bukti-bukti yang diajukan berpendapat telah terbukti beralasan menurut hukum, maka pengadilan akan menjatuhkan putusan bahwa perkawinan sebagai ikatan hukum tersebut putus. Dengan demikian maka sejatinya putusan pengadilan yang menyatakan putusnya ikatan perkawinan tersebut hanya menyatakan dari perspektif hukumnya karena yang senyatanya “persetujuan” dari kedua belah pihak yang telah membentuk ikatan perkawinan, yang dulu pernah terjadi, telah tidak ada lagi sebagai akibat dari adanya perselisihan dan pertengkaran

yang terus menerus dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.109

Alasan pasal 19 huruf f, ialah bahwa antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran, tidak ada harapn hidup rukun lagi dalam rumah tangga dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab- sebab perselisihan dan pertengkaran itu setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang yang dekat dengan suami isteri itu.110

Menurut hukum Islam, perselisihan atau pertengkaran secara terus menerus disebut syiqaq. Dan menurut Hilman Hadikusuma, istri dapat pula mengajukan permintaan cerai pada suami melalui pengadilan dengan alasan syiqaq (pertengkaran).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hukum Islam dapat menjadikan perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus sebagai alasan hukum perceraian, jika mengakibatkan tidak ada sama sekali kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga, sehingga keutuhan rumah tangga yang demikian itu tidak dapat dipertahankan lagi.

Terhadap kasus penuntutan pengembalian mahar antara nyonya NA dengan tuan MR tersebut diatas, dapat diketahui bahwa dalam putusannya tertanggal 13 Oktober 2010 nomor 191/Pdt.G/2010/MS-JTH, dalam amar putusannya Majelis Hakim Mahkamah Syar’yah Jantho tidak mengabulkan tuntutan dari tuan MR yaitu

109Muhammad Syaifuddin, Sri Turatmiyah, Annalisa Yahanan, Op. Cit,hal. 209.

110Achmad Ichsan, Hukum Perkawinan Bagi yang Beragama Islam, (Jakarta: PT. Pradnya

tuntutan pengembalian mahar. Menurut keterangan Dra. Hj. Zuhrah, MH, selaku Hakim Anggota dalam persidangan tersebut, mengatakan bahwa, tuntutan tuan MR tersebut tidak beralasan, karena berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang ditemukan antara nyonya NA dengan tuan MR telahdukhul. Karena dalam hukum Islam seorang suami baru boleh meminta kembali mahar yang telah diberikan kepada isterinya, apabila isterinya tersebut menuntut cerai dan belum terjadidukhul.111

Kasus ini berlanjut sampai di tingkat banding, Tergugat merasa tidak adil dengan putusan Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Jantho, sehingga mengajukan banding ke Mahkamah Syar’iyah Aceh dengan Putusan Nomor 15/Pdt.G/2011/MS- Aceh, dapat diuraikan sebagai berikut:

Putusan Mahkamah Syar’iyah Aceh Nomor: 15/Pdt.G/2011/MS-Aceh.

Mahkamah Syar’iyah Aceh yang mengadili perkara gugat cerai pada tingkat banding dalam persidangan Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara: Pembanding (tuan MR) melawan Terbanding (nyonya NA)

Tentang Duduk Perkaranya.

Mengutip segala uraian tentang hal ini sebagaimana termuat dalam putusan Mahkamah Sya’iyah Jantho Nomor 191/Pdt.G/2010/MS-Jth tanggal 13 Desember 2010 bertepatan dengan tanggal 7 Muharram 1432 H, yang amar putusannya berbunyi sebagai berikut:

111 Wawancara dengan Zuhrah, selaku Hakim pada Mahkamah Syar’iyah Jantho, tanggal 19

1. Mengabulkan gugatan Penggugat.

2. Menjatuhkan talak satu bain sughra dari Tergugat terhadap Penggugat.

3. Memerintahkan Panitera Mahkamah Syar’iyah Jantho untuk mengirimkan sehelai putusan ini ke Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar.

4. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang sampai saat ini diperhitungkan sebesar Rp. 191.000,- (seratus sembilan puluh satu ribu rupiah).

Tentang Hukumnya.

Bahwa Mahkamah Syar’iyah Aceh tidak menyetujui dasar-dasar uraian yang telah dipertimbangkan oleh hakim tingkat pertama yang dalam pertimbangannya menyatakan bahwa telah terungkap kebenaran adanya perselisihan dalam rumah tangga antara penggugat dengan tergugat sementara tuntutan tergugat tentang pengembalian mahar dinyatakan tidak berdasarkan hukum karena telah terbukti antara nyonya NA dengan tuan MR telah dukhul, dan dalam persidangan berdasarkan pengakuan nyonya NA dan tuan MR serta keterangan saksi-saksi dibawah sumpah telah ditemukan fakta sebagai berikut:

1. Bahwa, setelah menikah tanggal 11 Oktober 2009 nyona NA dengan tuan MR tinggal bersama ikut orang tua Penggugat di Kabupaten Aceh Besar.

2. Bahwa, selama kurang lebih dua bulan tuan MR secara rutin mendatangi nyonya NA di rumah orang tua nyonya NA, sedangkan dua bulannya tidak menentu sampai dengan Mei 2010, kemudian tuan MR tidak pernah datang

lagi karena nyonya NA tidak mau lagi dengan tuan MR tanpa alasan yang jelas.

3. Bahwa, nyonya NA minta diceraikan dari tuan MR karena sudah tidak suka lagi dengan tuan MR, sementara tuan MR tetap mau rukun membina rumah tangga.

4. Bahwa, tuan MR termasuk keluarganya dan orang tua gampong dari pihak tuan MR bersikap bila nyonya NA tetap minta bercerai harus mengembalikan mahar kepada tuan MR yang diserahkan ketika menikah dahulu, sementara nyonta NA bersikap tidak mau mengembalikan mahar karena itu haknya dan antara keduanyan sudah bercampur sebagaimana layaknya suami isteri.

Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh berpendapat, petitum primair gugatan nyonya NA tidak dapat dikabulkan maka Majelis Hakim mempertimbangkan petitum subsidairnya, dengan memperhatikan fakta tersebut diatas Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh berpendapat, bahwa pisah rumah antara nyonya NA dengan tuan MR bukan kesalahan tuan MR sebagai suami akan tetapi disebabkan kesalahan nyonya NA sendiri yang tidak mau melayani tuan MR sebagai suaminya. Dikarenakan nyonya NA sudah tidak suka lagi kepada tuan MR dan tidak mau lagi melayani tuan MR sebagai suaminya dan minta diceraikan, maka jalan yang ditempuh dalam perceraian tersebut dengan cara khulu’ dimana nyonya NA sebagai isteri menyerahkan tebusan kepada tuan MR sebagai suaminya.

Perceraian dengan cara khulu’ tersebut, ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-

Dokumen terkait