Perkembangan CPUE
6.4. Analisis Pengembangan Ekonomi Perikanan Tuna Longline dan Kelayakan Investasi Berperspektif Mitigasi Bencana
6.6.2. Analisis Kebijakan Pengembangan Perikanan
Berdasarkan hasil analisis pada Sub Bab 6.6.1, telah diperoleh hasil bahwa perikanan merupakan sektor prioritas yang paling potensial dikembangkan pada bidang kelautan Kota Padang. Kebijakan ini dianggap paling tepat karena Kota Padang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar. Dalam rangka tercapainya pembangunan sub sektor perikanan yang optimal, maka pemerintah juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan ekosistem perairan. Hal ini didasari karena kondisi Samudera Hindia (WPP 572) yang menjadi fishing ground utama menghadapi tantangan keberlanjutan. Selain itu, untuk hasil yang optimal, perhatian pemerintah juga harus diarahkan pada aspek mitigasi bencana. Penyusunan hierarki pengambilan keputusan AHP dengan aktor adalah KKP, DKP Kota Padang dan Pemda Kota Padang, sedangkan kriteria yaitu ekonomi, ekologi, dan sosial. Bentuk hierarki ditampilkan dalam Gambar 34 dan hasil analisis pada Gambar 35.
Melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) diperoleh prioritas kebijakan pengembangan perikanan Kota Padang sebagaimana ditampilkan pada Gambar 34. Beberapa alternatif kebijakan disusun dengan mempertimbangkan kondisi wilayah Kota Padang, yaitu kondisi potensi dan permasalahan perikanan serta kondisi daerah yang rawan bencana.
Gambar 34. Hasil Penilaian AHP Prioritas Kebijakan Pengembangan Perikanan
Berdasarkan hasil analisis sesuai Gambar 34, prioritas kebijakan pengembangan perikanan di Kota Padang adalah penyediaan sarana pelabuhan, TPI, PPI dan fasilitas perikanan lainnya yang kondusif dan berperspektif mitigasi bencana dengan skor 0,203. Alternatif kebijakan ini dipilih mengingat kondisi sentra-sentra fasilitas perikanan yang ada di Kota Padang masih rawan mengalami risiko bencana, selain itu fasilitas perikanan ini juga tergolong masih kurang kondusif akibat terbatasnya prasarana dan sarana yang ada dalam memenuhi kebutuhan aktivitas perikanan setempat. Alternatif prioritas kebijakan berikutnya yaitu pendidikan dan pelatihan bagi nelayan dengan skor 0,163. Masih terbatasnya pengetahuan dan keterampilan nelayan lokal dalam meningkatkan kualitas hasil perikanan baik produksi penangkapan maupun nilai tambah yang dihasilkan, menuntut adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan pendidikan dan pelatihan bagi nelayan.
Prioritas kebijakan ketiga adalah bantuan modal usaha bagi nelayan serta masyarakat yang ingin mengembangkan usaha perikanan. Hasil AHP menunjukkan alternatif kebijakan ini dipilih dengan skor 0,133. Prioritas alternatif kebijakan selanjutnya adalah subsidi bahan bakar 0,109 dan Pusat informasi cuaca dan kebencanaan yang mudah diakses dengan skor 0,093. Secara umum, hasil judgement pakar dalam memberikan penilaian terkait prioritas kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan adalah dengan mempertimbangkan faktor potensi perikanan dan karakteristik sumberdaya yang ada di Kota Padang. Nilai Consistency Ratio pada pemilihan prioritas kebijakan pengembangan bidang kelautan adalah 0,0256, yang artinya dalam kasus ini penilaian kriteria telah dilakukan dengan konsisten. Tabel pengisian matriks berdasarkan kuesionerdan penormalan matriks serta penentuan nilai CR terdapat dalam Lampiran 18.
Hasil analisis prioritas kebijakan pengembangan perikanan yang diperoleh melalui teknik AHP ini dijadikan sebagai pertimbangan dalam menyusun kebijakan pengembangan perikanan berperspektif mitigasi bencana yang akan diuraikan pada bab selanjutnya. Pertimbangan pakar dalam analisis ini menjadi salah satu acuan dalam menyusun arahan kebijakan sebagaimana diuraikan pada Sub Bab 6.7.
6.7. Implikasi Kebijakan Pengembangan Ekonomi Perikanan Tuna
Longine Berperspektif Mitigasi Bencana
Tujuan akhir yang ingin dicapai dari penelitian ini sebagaimana disebutkan pada bagian awal adalah memperoleh rumusan kebijakan pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana. Berdasarkan hal tersebut serangkaian analisis dengan berbagai metode telah selesai dilakukan. Tahapan akhir sebelum merumuskan arahan kebijakan adalah menyiapkan landasan strateginya. Mintzberg (1994) menyebutkan bahwa strategi adalah sebuah pola dalam sebuah arus keputusan, kebijakan atau tindakan. Dengan demikian, pembahasan selanjutnya dalam penelitian ini adalah menyusun landasan strateginya. Secara ringkas hasil analisis dari studi ini disajikan pada Tabel 55.
Sebagai landasan strategi umum dalam pengembangan sumber daya alam khususnya perikanan yang dipergunakan adalah meletakkan pengembangan ekonomi lokal atas dasar prakarsa/inisiatif serta kekhasan daerah yang bersangkutan (endegenous development), melalui pemanfaatan sumberdaya lokal yang di perkokoh dengan ikatan modal sosial (Sanim, 2006). Hasil penelitian mengemukakan bahwa endegenous development Kota Padang adalah sub sektor perikanan.
Melalui analisis Shift Share, Location Quotient dan MRA diketahui bahwa sektor perikanan memberikan pengaruh yang berarti bagi perekonomian Kota Padang. Hal ini terbukti dari adanya peningkatan kontribusi dari tahun ke tahun dan tren positif nilai LQ selama sepuluh tahun terakhir, dimana sub sektor perikanan di Kota Padang tergolong pada sektor basis. Sektor basis menurut Sjafrizal (2008) adalah sektor yang dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian wilayah serta sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif (competitive advantage) yang cukup tinggi. Analisis MRA menguraikan multiplier effect perikanan pada sektor lain. Fakta ini memberikan peluang terhadap arahan kebijakan pembangunan Kota Padang untuk mempertimbangkan sektor basis sebagai penyangga perekonomian daerah. Hal ini didasari karena melalui kajian analisis ini dapat memberikan gambaran mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi pada suatu daerah (Benjamin dkk, 1980). Kajian ini juga didukung oleh hasil analisis prioritas pengembangan bidang kelautan melalui teknik AHP, hasil analisis mengemukakan bahwa perikanan menjadi sektor kelautan yang paling potensial untuk dikembangkan dengan nilai 0,364 melebihi sektor pertambangan laut (0,035), transportasi laut (0,068), industri kelautan (0,236), bangunan kelautan (0,047), jasa kelautan (0,101) ataupun pariwisata bahari (0,149).
Kontribusi yang dihasilkan sub sektor perikanan terhadap perekonomian daerah sebagian besar berasal dari perikanan tangkap sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 19. Perikanan tangkap menghasilkan nilai sebesar Rp 218.495.600.000, atau sekitar 83 persen dari total nilai produksi perikanan Kota Padang secara keseluruhan. Besarnya nilai produksi perikanan tangkap tidak terlepas dari tingginya nilai kontribusi yang dihasilkan jenis ikan tuna.
Sumberdaya tuna merupakan komoditi unggulan perikanan Kota Padang, jenis tuna yang didaratkan di Kota Padang adalah Tuna Mata Besar/bigeye (Thunus obesus) dan Tuna Sirip Kuning/yellowfin (Thunus albacares). Spesies ini merupakan sumberdaya ekspor Kota Padang tujuan Singapura, Jepang dan Amerika. Tuna merupakan komoditi perikanan tangkap yang memberikan nilai kontribusi terbesar dibandingkan spesies lain, yakni sebesar Rp 70.063.200.000 (DKP Kota Padang, 2011) atau sekitar 24 persen dari seluruh nilai produksi perikanan Kota Padang. Melihat kontribusi yang dihasilkan, maka amatlah wajar pengembangan sumberdaya ini akan memberikan keuntungan berganda bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Melalui analisis bioekonomi diperoleh informasi bahwa produksi tuna masih berada dibawah titik optimalnya, sehingga kebijakan yang harus dibuat adalah menetapkan jumlah ikan tuna yang boleh ditangkap per-tahunnya berjumlah 1.105,21 ton. Sehingga jumlah produksi dapat ditingkatkan sebesar 418,53 ton untuk hasil yang optimal. Kebijakan lainnya adalah dengan menambah effort sebanyak 133 trip. Penentuan tingkat discount rate menjadi salah satu pertimbangan yang penting dalam optimasi sumberdaya ini. Nilai discount rate yang menghasilkan rente optimal dan keberlanjutan adalah pada tingkat 16 persen.
Hasil analisis bioekonomi ini juga dapat menjadi landasan kebijakan pemerintah dalam mengalokasikan jumlah tenaga kerja perikanan. Kondisi tuna yang masih underfishing memberi peluang terhadap penyerapan jumlah tenaga kerja baru. Penambahan effort sebanyak 133 trip akan membuka setidaknya 1500 tenaga kerja perikanan tangkap. Jumlah ini belum memasukkan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap pada sektor lain, sebagaimana multiplier effect perikanan yang dijelaskan pada Sub Bab 6.1.3. dalam analisis Minimum Requirement Approach (MRA). Penambahan effort sebanyak 133 trip berarti diperlukan tambahan armada penangkapan sebanyak 33 unit dengan asumsi jumlah trip dalam satu tahun sebanyak 4 kali.
Dalam rangka meningkatkan produksi tuna, serangkaian upaya perlu dilakukan pengambil kebijakan. Kebijakan yang diambil dapat berupa aturan pengelolaan, prasarana-sarana maupun terkait sumberdaya manusia. Kebijakan
juga harus mempertimbangkan faktor bencana. Hal ini disebabkan karena lokasi pendaratan ikan yakni Kota Padang yang juga sebagai sentra perikanan tuna Indonesia bagian barat adalah daerah rawan bencana. Sehingga upaya mitigasi menjadi sebuah solusi dalam usaha meningkatkan optimasi yang ingin diperoleh. Berdasarkan hasil analisis MPE, bencana yang potesial terdapat di Kota Padang terkait pengembangan perikanan adalah gempa, tsunami dan badai. Mitigasi bencana dalam upaya pengembangan ekonomi perikanan tangkap di kawasan ini berupa penyediaan prasarana mitigasi darat dan laut serta sarana mitigasi armada penangkapan. Investasi pada prasarana mitigasi darat dan laut berupa penyediaan sistem peringatan dini, radar tsunami dan gelombang, pusat informasi bencana, jalur evakuasi dan assembly point, shelter pelabuhan dan tambat badai laut. Investasi sarana mitigasi armada penangkapan terdiri dari penyediaan GPS, aplikasi BB/android serta radio komunikasi dan navigasi.
Tahapan analisis makro ekonomi, bioekonomi dan kebencanaan memberikan rekomendasi terhadap pengembangan ekonomi perikanan dan kelayakan investasi berperspektif mitigasi bencana di Kota Padang. Hasil analisis berupa tambahan armada penangkapan sebanyak 33 unit serta prasarana dan sarana mitigasi pengembangan perikanan menjadi komponen yang digunakan dalam perhitungan analisis kelayakan investasi. Tahapan analisis ini menghasilkan kesimpulan bahwa usaha pengembangan perikanan berperspektif mitigasi bencana menguntungkan dan layak dilakukan ditinjau dari indikator NPV, B/C dan IRR. Analisis kelayakan invstasi menghasilkan nilai NPV sebesar Rp 45.530.835.838, B/C sebesar 2,4 dan IRR sebesar 54,73 persen. Penambahan prasarana dan sarana mitigasi ini merupakan upaya untuk meminimalisir dampak risiko bencana yang terjadi. Unsur mitigasi bencana yang dimasukkan ke dalam upaya optimalisasi produksi sumberdaya perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk memperoleh hasil yang optimal untuk kesejahteraan. Oleh sebab itu, perlu kebijakan stakeholder yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi dalam rangka mengembangkan sumberdaya perikanan di Kota Padang agar berkelanjutan dan berperspektif mitigasi bencana.
Stakeholder primer yang ditemukan dalam analisis stakeholder yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP RI), Dinas Kelautan dan Perikanan
Kota Padang serta Pemeritah Daerah Kota Padang. Stakeholder ini memiliki kewajiban dalam menjawab tantangan pengembangan dan pengelolaan perikanan di Kota Padang, karena memiliki kepentingan dan pengaruh yang paling besar. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka diperoleh alternatif kebijakan terkait pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana yaitu:
Optimalisasi produksi sumberdaya perikanan dengan memperhatikan faktor keberlanjutan dan mitigasi bencana.
Penyediaan sarana dan fasilitas perikanan yang kondusif dan berperspektif mitigasi bencana dengan mengedepankan karakteristik masyarakat lokal dan kondisi wilayah.
Meningkatkan partisipasi dan sinergisitas stakeholder dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.
Melalui alternatif kebijakan di atas dapat dirumuskan kebijakan pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana yaitu “Optimalisasi produksi sumberdaya perikanan dengan memperhatikan faktor keberlanjutan melalui penyediaan sarana dan fasilitas perikanan yang kondusif dan berperspektif mitigasi bencana serta meningkatkan partisipasi dan sinergisitas stakeholder untuk mencapai kesejahteraan”.
Dalam rangka menyusun rumusan arahan kebijakan pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana, maka karakteristik sumberdaya yang digambarkan mencakup tiga sistem yaitu sistem sumberdaya itu sendiri (natural system), sistem manusia (human system) dan sistem pengelolaan (management system). Pengembangan sub sektor perikanan harus dilakukan dengan membuat beberapa kebijakan pembangunan yang tepat serta mempertimbangkan karakteristik wilayah. Kota Padang memiliki kondisi wilayah yang rawan dilanda bencana, kondisi ini patut dipertimbangkan dalam merumuskan arahan kebijakan yang dibuat. Hal ini didasari karena pengembangan perikanan sangat berkaitan dengan sektor lain dan membutuhkan sinergisitas seluruh stakeholder dalam perencanaan dan pengembangannya. Rumusan kebijakan yang dibangun harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti ekologi, ekonomi dan sosial serta berbagai sektor. Rumusan arahan kebijakan
pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana di Kota Padang diuraikan pada point-point berikut ini.
a. Kebijakan Pengaturan Total Allowable Effort
Kebijakan pemerintah dalam mengatur jumlah effort yang diperkenankan tetap menjadi alternatif yang penting, sebab walaupun kondisi aktual suatu sumberdaya masih dibawah kondisi lestari, tetap saja akan membahayakan keberlanjutan apabila dibiarkan terbuka (open access) tanpa adanya regulasi yang kuat. Pengaturan Total Allowable Effort menjadi solusi dalam rangka mencapai optimalisasi dan keberlanjutan.
Pengelolaan sumberdaya perikanan tuna Kota Padang sebaiknya menggunakan rezim pengelolaan MEY atau Sole Owner. Diantara langkah teknis yang dapat dilakukan pemerintah sesuai dengan hasil analisis bioekonomi adalah menetapkan kebijakan dengan menambah effort (E) sebanyak 133 trip atau dengan hasil tangkapan tertinggi 1.105,21 ton pertahun. Kebijakan penambahan jumlah effort ini dilakukan juga mengingat kebutuhan terhadap tenaga kerja pada sektor ini tinggi. Penambahan effort ini dimungkinkan karena berdasarkan analisis bioekonomi masih terdapat potensi penambahan pada kondisi lestari.
b. Kebijakan Pengembangan Teknologi Perikanan
Dalam rangka meningkatkan produksi dan menjaga keberlanjutan, maka segenap upaya terarah perlu dilakukan. Pengembangan teknologi perikanan menjadi salah satu solusi untuk mencapai tujuan tersebut. Pemerintah perlu mengembangkan riset dan teknologi pada pengelolaan sumberdaya perikanan yang mengutamakan keberlanjutan, baik dari segi budidaya maupun penangkapan.
Sebagaimana yang disampaikan Kusumastanto (2003), perikanan sebagai salah satu sumberdaya pulih yang menjadi faktor kunci sustainability, maka investasi dalam penyediaan teknologi ramah lingkungan yang mengedepankan optimasi dan keberlanjutan perlu dilakukan. Perikanan sebagai sektor basis Kota Padang sudah seharusnya menjadi sektor unggulan daerah yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi setempat.
c. Kebijakan Pengembangan Pasca Panen
Pasca panen merupakan faktor penting dalam pengelolaan usaha perikanan, sebab sifat dari fisik ikan sendiri yang sangat rentan terhadap kondisi lingkungan. Hal ini juga karena Kota Padang sebagai daerah tropis dengan suhu dan musim yang kompleks memiliki potensi sumberdaya ekspor . Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dalam mengelola dan mengembangkan usaha perikanan perlu memperhatikan faktor pasca panen. Kebijakan pasca panen sumberdaya perikanan berkaitan erat dengan industrialisasi perikanan. Kebijakan industrialisasi perikanan tangkap dijabarkan ke dalam 7 strategi industrialisasi perikanan tangkap yaitu :
Penguatan sistem dan manajemen pengelolaan dan pemulihan sumber daya ikan.
Penguatan sistem dan manajemen standarisasi dan modernisasi sarana perikanan tangkap
Penguatan sistem dan manajemen pelabuhan perikanan Penguatan sistem dan manajemen pendaratan ikan Penguatan sistem dan manajemen perijinan
Penguatan sistem dan manajemen modal dan investasi Penguatan sistem dan manajemen usaha nelayan
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah salah satu dari 5 pelabuhan yang menjadi Pilot Project pengembangan kawasan industrialisasi di bidang perikanan tangkap. Konsep industrialisasi di kawasan ini adalah dengan tersedianya fasilitas pengolahan hasil perikanan. Sejauh ini peran pemerintah dalam industrialisasi perikanan tercermin melalui kebijakan dan aturan terkait kemudahan investasi dan sinergisitas antar instansi. Dalam rangka mencapai optimalisasi hasil perikanan, maka pemerintah perlu meningkatkan kapasitas kelembagaan terpadu dan pemasaran produk unggulan perikanan.
Fahrudin (2003) menyebutkan dalam rangka meningkatkan kompetensi pemasaran produk perikanan, maka pemerintah perlu mengembangkan teknologi eksploitasi dan pasca panen sumberdaya hayati laut yang disesuaikan dengan standar negara tujuan ekspor. Selain itu pemerintah juga perlu meningkatkan
arus informasi dari negara importir mengenai standar mutu dan arus informasi ke negara importir mengenai spesifikasi produk perikanan Indonesia.
d. Kebijakan Mitigasi Bencana
Beberapa kebijakan mitigasi bencana yang perlu dilakukan pemerintah (policy maker) dalam rangka pengembangan usaha perikanan di Kota Padang yaitu sebagai berikut:
Pembangunan dan penyediaan infrastruktur prasarana mitigasi bencana di areal pelabuhan (kawasan strategis perikanan) berupa sistem peringatan dini, radar tsunami dan gelombang, pusat informasi bencana, jalur evakuasi dan assembly point, shelter pelabuhan dan tambat badai laut.
Penyediaan sarana mitigasi armada penangkapan bagi nelayan seperti penyediaan GPS, aplikasi BB/android serta radio komunikasi dan navigasi. Memberdayakan masyarakat pesisir khususnya nelayan dalam bidang
penanggulangan bencana/mitigasi melalui usaha berupa penyuluhan, sosialisasi dan pendampingan pendirian bangunan/prasarana.
Merevisi RTRW Pesisir dan peraturannya dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana alam.
e. Kebijakan Pengembangan Sumberdaya Manusia Perikanan
Sumberdaya manusia perikanan merupakan faktor kunci dalam usaha pengembangan perikanan. Segenap upaya optimalisasi sumberdaya alam dan peningkatan prasarana perikanan saja tidak cukup tanpa mengembangkan sumberdaya manusia perikanan di dalamnya. Hasil analisis prioritas pengembangan perikanan (lihat Sub Bab 6.6.2) mengungkapkan bahwa salah satu prioritas pengembangan perikanan di Kota Padang adalah pendidikan dan pelatihan bagi nelayan. Keterbatasan dalam pengetahuan dan keterampilan nelayan lokal dalam meningkatkan kualitas hasil perikanan baik produksi penangkapan maupun nilai tambah yang dihasilkan menuntut adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan pendidikan dan pelatihan bagi nelayan. Dalam rangka mengembangkan sumberdaya manusia perikanan, pemerintah perlu mempertimbangkan aspek karakteristik masyarakat (kearifan lokal) dan kondisi
wilayah. Pertimbangan ini berkaitan dengan manajemen mitigasi bencana dan juga pengembangan sumberdaya perikanan di kawasan pesisir.
f. Kebijakan Pengelolaan Secara Terpadu
Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa lingkungan juga harus mengutamakan aspek keterpaduan. Kebijakan pemerintah dalam rangka mencapai pengelolaan yang terpadu diuraikan sebagai berikut:
Keterpaduan ekologis
Kota Padang sebagai daerah yang memiliki potensi ekonomi sumberdaya yang tinggi dihadapkan pada potensi bencana ekologi yang juga tinggi menuntut adanya kebijakan pemerintah dalam membangun keterpaduan ekologis. Keterkaitan ekologis yang sangat tinggi di wilayah pesisir dan lautan menyebabkan perlunya pengelolaan yang terpadu secara ekologis. Pemerintah daerah harus mampu menciptakan kebijakan pengelolaan yang selaras antara kegiatan ekonomi di wilayah daratan hingga lautan.
Keterpaduan sektoral
Sub sektor perikanan sebagai bagian dari multisektor bidang kelautan memiliki hubungan yang erat dengan sektor lainnya. Pengembangan sub sektor ini harus dilakukan secara terpadu dengan pengembangan sektor lain seperti pariwisata bahari, perhubungan laut, pertambangan laut, industri kelautan, bangunan kelautan dan jasa kelautan.
Keterpaduan bidang ilmu
Keterpaduan antara berbagai disiplin ilmu penting dilakukan untuk menjamin terciptanya sebuah konsep pengelolaan yang komprehensif. Hal ini juga didasari karena kondisi karakteristik wilayah yang komplek. Beberapa bidang ilmu yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut adalah oseanografi, biologi laut, keteknikan, sosiologi, hukum, mitigasi bencana, dan sebagainya.
Keterpaduan stakeholder
Melalui hasil analisis stakeholder pada tahapan analisis sebelumnya diperoleh gambaran mengenai stakeholder primer dalam usaha perikanan di Kota Padang. Keterpaduan antar berbagai stakeholder harus dilakukan oleh
pemerintah, swasta, masyarakat, LSM dan perguruan tinggi. Adanya hubungan kerjasama antar stakeholder ini dapat menjamin keberlangsungan sistem pengelolaan yang terpadu guna mencapai kesejahteraan masyarakat. Keterpaduan geografis
Keterpaduan geografis dalam pengembangan perikanan tuna di Kota Padang terkait dengan karakteristik sumberdaya tuna itu sendiri. Ikan tuna merupakan jenis highly migratory species, spesies ini mampu beruaya pada tempat yang jauh. Pertimbangan karakteristik sumberdaya tuna dalam pengelolaan dan pengembangan perikanan menjadi hal yang penting dalam membangun kerjasama dan koordinasi antar kabupaten/kota bahkan antar provinsi.
Prinsip keterpaduan perikanan tercermin melalui program minapolitan. Minapolitan adalah konsep pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan atas prinsip-prinsip terintegrasi, efesiensi, berkualitas dan percepatan. Kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang hadir dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran, komoditas perikanan, pelayanan jasa dan atau kegiatan lainnya. Tujuan program minapolitan adalah:
Meningkatkan produksi dan kualitas produk perikanan.
Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, pengusaha dan pengolah ikan yang adil dan merata.
Mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah.
PPS Bungus adalah kawasan minapolitan di Kota Padang dan ditetapkan sebagai zona inti atau pusat pengembangan kawasan minapolitan. Pelabuhan ini ditetapkan sebagai sentra perikanan tangkap di wilayah Sumatera Barat dengan komoditas utamanya adalah tuna. Program minapolitan dengan orientasi optimalisasi produksi ini juga harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Sebagaimana hasil bioekonomi pada analisis sebelumnya, maka diperoleh batasan maksimal effort dan produksi perikanan di daerah ini guna mencapai sustainability.
Beberapa arahan kebijakan yang telah dirumuskan dalam penelitian ini diharapkan dapat disusun program-program pengelolaan dan mitigasi oleh
pemerintah setempat untuk mendukung penerapan kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan berperspektif mitigasi bencana. Pemerintah Kota Padang sesuai dengan UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah memiliki kewenangan untuk menentukan program pembangunan sekaligus dengan anggaran pembangunannya, termasuk bentuk mitigasi yang efektif dan sesuai untuk diterapkan.
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian di atas, dapat disusun rangkuman hasil penelitian kebijakan pengembangan ekonomi perikanan berperspektif mitigasi bencana (lihat Tabel 55). Selanjutnya pembahasan akan mengemukakan kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan di Kota Padang (lihat Gambar 36) dan kesimpulan komprehensif pengembangan ekonomi perikanan berkelanjutan dan berperspektif mitigasi bencana di kota padang (lihat Gambar 37).
Tabel 55. Rangkuman Hasil Analisis Kebijakan Pengembangan Ekonomi Perikanan Tuna Longline Berperspektif Mitigasi Bencana Analisis Makro Perikanan dan Kelautan Analisis Bioekonomi Sumberdaya Perikanan Analisis Kebencanaan Analisis Kelayakan Investasi Analisis Kelembagaan Analisis Kebijakan Pengembangan Perikanan - Melalui analisis Shift Share, Location Quotient dan MRA diketahui bahwa sub sektor perikanan memberikan pengaruh yang berarti dan merupakan sektor basis bagi perekonomian Kota Padang serta memberikan dampak berganda bagi sektor lainnya. - Pemanfaatan sumberdaya perikanan di Padang khususnya tuna masih berada di bawah titik optimalnya. Sehingga masih ada peluang untuk meningkatkan produksi. Pada penelitian ini juga diperoleh hasil pengelolaan yang optimal adalah menggunakan rezim pengelolaan MEY atau Sole Owner dengan discount
rate sebesar 16
persen melalui penambahan effort sebesar 133 trip atau setara dengan penambahan 33 unit armada dan
produksi sebesar 418,53 ton.
- Potensi bencana terkait pengelolaan perikanan di Kota Padang adalah gempa bumi, tsunami, angin kencang, gelombang laut dan intrusi air laut.
- Prioritas mitigasi terkait