• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

KOTA BONTANG

7.2.4 Analisis Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

Setelah mengetahui beberapa permasalahan di atas selanjutnya dilakukan analisis permasalahan dengan kerangka fikir analisis yaitu :

7-32 2. Mengetahui urgensitas permasalahan

3. Menawarkan solusi alternatif pemecahan masalah (rekomendasi)

Dari tiga aspek permasalahan di atas maka dapat dianalisis penyebab permasalahan sebagai berikut :

1. Permasalahan di Bidang Bangunan Gedung a. Tata Bangunan Gedung

Permasalahan yang muncul pada penataan bangunan yang tidak tertib karena belum memiliki Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang lengkap terutama pada kawasan-kawasan perkotaan. Salah satu bentuk ketidak tertiban ini adalah munculnya overlapping pada fungsi lahan di perkotaan. Di sisi yang lain permasalahan kota terus berkembang dan semakin kompleks sehingga menuntut adanya penataan baik pada bangunan maupun lingkungan kota. Pertumbuhan Kota Bontang sangat cepat, sehingga menuntut penataan kawasan yang serasi melalui perencanaan tata bangunan dan lingkungan. Di samping itu adanya penataan bangunan dan lingkungan secara baik dan terkendali dapat mengurangi konflik kepentingan dalam pemanfaatan ruang kota, misalnya penggunaan untuk usaha-usaha informal.

b. Proteksi Kebakaran

Sebagaian besar acuan pengaturan keselamatan bangunan gedung dari proteksi bahaya kebakaran belum banyak dilakukan. Hal ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya masih lemahnya pengawasan dan kurang ditegakkan aturan yang berlaku. Hampir secara keseluruhan untuk bangunan-bangunan perkantoran dan perdagangan jasa belum mengakomodasi sistem proteksi kebakaran.

c. Penegakan Aturan

Belum sepenuhnya produk yang terkait dengan penataan ruang dapat dilaksanakan sepenuhnya sebagai dampak dari penyimpangan fungsi lahan dan bangunan yang tidak sesuai dengan aturan tata ruang yang berlaku. Salah satu fakta yang ada, pembangunan perkantoran pemerintahan lebih didahulukan dari pada pembuatan dan penerbitan IMB terlebih dahulu. Selain dari pada itu, lemahnya pengawasan dan pengontrolan sehingga terdapat bangunan-bangunan liar yang kurang tertib dan cenderung menyalahi tata fungsi pemanfaatan kawasan. Dilain sisi selama ini untuk aturan penegakan aturan tata bangunan gedung dan lingkungan belum dibuatkan dalam perda sehingg sangat rawan terhadap penyimpangan-penyimpangan pemanfaatan kawasan pengembangan. Untuk fasilitas bangunan yang ada di Kota Bontang secara keseluruhan belum mengakomodasi bagi penyandang cacat. Kondisi ini mengingat belum adanya tata aturan yang membawahi persoalan peyediaan fasilitas bagi penyandang cacata terutama pada fasilitas-fasilitas pelayanan publik.

d. Pendataan Bangunan

Belum optimlnya kegiatan pendataan bangunan diseluruh Kota Bontang lebih disebabkan karena tidak adanya intitusi khusus yang membawahi persoalan tersebut. Kondisi ini tentunya menjadi kendala terutama pada saat kegiatan perencanaan yang memerlukan kebutuhan data bangunan salah satunya adalah kegiatan penyusunan RPIJM ini. Secara rinci pendataan bangunan di Kota Bontang belum dilakukan dan hanya dilakukan secara parsial dan tidak terkelola dengan baik. Untuk kedepannya diharapkan adanya upaya pengembangan

7-33

sistem informasi data base tata bangunan gedung dan lingkungan di Kota Bontang. Hal ini sebagai upaya aintisipasi dalam kegiatan perencanaan kedepan agar lebih mudah dalam menginvemtarisasi data kondisi eksisting.

2. Permasalahan di bidang penataan lingkungan a. Permukiman Kumuh dan Nelayan

Permukiman kumuh merupakan fenomena yang sering muncul di daerah perkotaan. Di daerah perkotaan, kondisi ini tidak lepas dari ketidakseimbangan pendapatan perekonomian masyarakat kota dan desa sehingga memunculkan arus perpindahan penduduk dari desa ke kota. Perpindahan ini tidak diimbangi dengan penataan ruang perkotaan yang baik dan peningkatan sumberdaya manusia yang terampil. Hal ini mendukung munculnya daerah-daerah kumuh perkotaan. Sedangkan di daerah kawasan pinggiran kota Bontang, faktor kemiskinan dan ketidakpahaman masyarakat terhadap pola hidup sehat memicu munculnya kawasan permukiman kumuh dan tidak layak huni khususnya pada kawasan pesisir laut di Kota Bontang. Bila dianalisis maka kemiskinan ini disebabkan beberapa faktor yaitu:

 Kurangnya kebutuhan dasar  Tidak mempunyai usaha produktif  Tidak mempunyai keterampilan  Tidak mempunyai modal

 Kurangnya pendidikan/ rendanya kualitas SDM b. Penataan Bangunan Tradisional Bersejarah

Berbagai bangunan tradisonal bersejarah (Rumah Tua Bontang Kuala) menjadi objek wisata budaya yang merupakan peninggalan sejarah. Permasalahan yang sering dihadapi di daerah-daerah tersebut adalah menurunnya kualitas dan citra daerah wisata dikarenakan pembangunan bangunan-bangunan baru permanen maupun tidak permanen akibat penataan ruang tidak terkendali. Munculnya bangunan-bangunan perdagangan dan jasa membuat kawasan tersebut menjadi tidak teratur dan cenderung kumuh sehingga menghilankan nuansa budayanya. Di sisi lain penataan ruang parkir menjadi problem penting mengingat kawasan tersebut banyak dikunjungi oleh wisatawan

c. Ruang Terbuka Hijau dan Taman Jalan

Saat ini telah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas ruang terbuka kota yang diakibatkan perubahan fungsi lahan sehingga membutuhkan penanganan yang cepat terhadap pengadaan dan penataan ruang terbuka kota demi meningkatnya citra kawasan kota. Ini juga disebabkan karena belum adanya sistem pengendalian pemanfaatan ruang terbuka kota, tata bangunan dan lingkungan. Keberadaan ruang terbuka kota sangat dibutuhkan karena mempunyai fungsi :

1. Media dan sarana sosial, misalnya sebagai ruang berkumpulnya individu-individu masyarakat untuk kegiatan-kegiatan informal

2. Estetika, yaitu menambah keindahan dan keasrian kota.

3. Lingkungan, yaitu mengurangi dampak polusi kota, pemanasan bumi serta daerah resapan kota.

Selain itu pula kondisi jalan dan lingkungan belum tertata secara baik karena tidak ada perencanaan yang detail terhadap penataan lingkungan jalan

7-34

khususnya taman jalan. Akibatnya beberapa sarana lingkungan jalan seperti taman sebagai pendukung fungsi jalan tidak terfungsikan secara baik. Dengan adanya pengadaan taman jalan yang terdiri pohon-pohon pelindung dan sarana taman lainnya dapat membantu memberikan fungsi :

1. Lingkungan, yaitu menyerap polusi udara jalan dan mengurangi panas bumi 2. Estetika, yaitu menciptakan suasana indah dan asri/sejuk ruang dan dapat

meningkatkan citra kawasan

3. Kenyamanan pengguna jalan, yaitu peneduhan.

Untuk pemeliharaan taman jalan sampai saat belum dimiliki tenaga operasional yang handal di bidang perawatan taman jalan beserta sarana pendukung operasionalnya menyebabkan sarara lingkungan jalan yang telah ada mudah rusak dan tidak terawat.

d. Sarana Parkir, Reklame dan Bangunan Telepon Selular (BTS)

Sarana reklame, seperti papan iklan, baliho, spandulk dll, merupakan salah satu sarana yang sangat diperlukan oleh masyarakat untuk memberikan dan memperoleh informasi Sampai saat ini sarana tersebut belum tertata secara baik. Dalam melakukan pengadaan maupun penataan sarana reklame pada ruang publik diperlukan masterplan sarana reklame. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kebutuhan dan lokasi penempatan sarana reklame. Di samping itu dampak adanya aglomerasi dan perkembangan kawasan pusat kota serta pengembangan kawasan baru kota di Kota Bontang menuntut keterpaduan dari berbagai aspek, diantaranya adalah sarana reklame. Sering penempatan sarana reklame tidak tertata atau tertib dengan asal menempatkan sesuai dengan keinginan sponsor, akibatnya sarana reklame ini sering mengganggu pengguna jalan dan dalam jangka panjang dapat menurunkan kualitas ruang kota.

Di sisi lain terbatasnya ruang publik untuk lokasi sarana reklame mengurangi tingkat kenyamanan masyarakat untuk memberikan atau mendapatkan informasi yang berkualitas. Selain itu informasi yang diharapkan tidak tersampaikan secara baik kepada masyarakat dikarenakan posisi atau lokasi sarana reklame yang tidak strategis dam mudah terbaca oleh masyarakat. Keterbatasan ruang publik untuk lokasi sarana reklame juga berakibat munculnya sarana reklame ilegal dan menyajikan informasi yang tidak berkualitas. Dengan demikian diperlukan penataan sarana reklame di ruang publik kota.

Selain sarana reklame persoalan parkir juga perlu menjadi perhatian karena selalu menjadi keluhan bagi pengguna jalan dan parkir itu sendiri. Sampai saat ini penempatan parkir yang berada di kawasan perdagangan masih banyak menggunakan ruang publik yaitu trotoar dan badan jalan. Ini tentu saja berdampak kepada fungsi jalan sebagai sarana sirkulasi yang tidak berjalan baik e. Pedagang Kaki Lima (PKL)

Sampai saat ini penataan PKL oleh pemerintah daerah sering dilakukan secara sporadis bahkan represif tanpa didasari dengan perencanaan yang matang dan didasari pedoman penataan yang baku.dan tawaran solusi yang tetap menjaga eksistensi usaha informal. Oleh karena itu dibutuhkan pedoman penataan usaha PKL yang terpadu dan dapat dijadikan landasan bersama baik pemerintah daerah maupun PKL itu sendiri. Di samping itu kondisi bentuk bangunan usaha

7-35

PKL yang tidak rapi dan cenderung kumuh sering ditinggalkan oleh PKL setelah bekerja. Kondisi bangunan yang tidak fleksibel dan sangat mengganggu/memenuhi ruang publik menyebabkan bangunan usaha PKL tidak dapat ditata dengan baik. PKL membutuhkan bangunan usaha yang lebih fleksibel dan ramah lingkungan. Penggunaan ruang publik oleh PKL ini karena tidak tersedianya lahan-lahan untuk usaha informal seperti PKL dan bentuk bangunan usaha PKL yang tidak fleksibel. Akhirnyat PKL cenderung tidak tertib dan mengeksploitasi ruang publik. Sehingga dibutuhkan penertiban PKL pada semua aspek.

Dengan alasan untuk mendekati konsumennya PKL sering menempatkan usahanya di sepanjang Jalan Protokol Kota sehingga menghilangkan citra kawasan dan mengganggu pemandangan ketertiban jalan-jalan tersebut terutama bila ada kunjungan tamu pemerintahan atau wisatawan.dan hal ini melanggar Perda Jalan.

3. Analisis Indeks Kenyamanan Lingkungan

2008 2009 2010 2011 2012 2013

Kepadatan Penduduk jiwa/km2 924 945 967 990 1,013 1,038 Indeks Kenyamanan Lingkungan IKL 108.23% 105.82% 103.41% 101.01% 98.72% 96.34%

Tahun Satuan Uraian 95.00% 97.00% 99.00% 101.00% 103.00% 105.00% 107.00% 109.00% 111.00% 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Tahun IK L

Indeks Kenyaman Lingkungan

Gambar 7.3

Degradasi Indeks Kenyamanan Lingkungan Tanpa Upaya Penataan Bangunan dan Lingkungan

Indeks kenyamanan lingkungan digunakan untuk mengukur tingkat kenyaman lingkungan. Indeks kenyamanan lingkungan diasumsikan berkorelasi dengan tingkat kepadatan penduduk. Indeks keyamaan lingkungan adalah perbandingan antara kepadatan peduduk ideal (1000 jiwa/km2) dengan kepadatan penduduk. Sehingga seiring pertambahan penduduk indeks kenyamanan angka semakin kecil jika tidak melakukan upaya-upaya penataan lingkungan. Berikut gap analisis indeks kenyaman lingkungan Kota Bontang yang terus menurun jika tidak ada upaya-upaya perbaikan penataan lingkungan.

Dari analisis maka dapat dibuat rekomendasi-rekomendasi, yaitu : a. Penataan Bangunan Gedung

7-36

1. Untuk menangani permasalahan penataan bangunan gedung maka diperlukan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan bagi daerah yang belum memilikinya.

2. Untuk menegakkan hukum pada sektor penataan bangunan gedung perlu dilakukan legalisasi rencana tata bangunan dan lingkungan yang telah disusun. 3. Perlu ada sosialisasi RTBL yang telah disusun kepada masyarakat secara umum.

Dalam hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat megetahui dan sadar akan tanggung jawab dan dapat berpastipasi dalam proses pembangunan kota.

4. Perlu ada langkah-langkah penguatan fungsi kelembagaan dalam penegakan hukum di bidang penataan bangunan dan lingkungan.

5. Untuk menanggulangi bencana kebakaran perlu penyusunan manajemen Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran

6. Perlu adanya institusi dan tim ahli bangunan gedung yang bertugas dalam pembinaan penataan bangunan dan lingkungan.

7. Perlu adanya kegiatan pelaksanaan pemeriksaan secara berkala terhadap prasarana dan sarana penanggulangan bahaya kebakaran dan bangunan gedung serta permukiman secara umum.

b. Penataan Lingkungan

1. Mengingat belum optimalnya dalam pengelolaan kawasan bersejarah di kawasan Bontang Kuala Kota Bontang maka diperlukan upaya penataan dan perencanaan PSD pada kawasan tersebut. Hal ini perlu dilakukan khususnya pada bangunan fisik sejarah dan bangunan PSD permukiman dan PSD pendukung kawasan wisata.

2. Menyikapi persoalan adanya spot-spot kawasan kumuh nelayan mala perlu untuk meningkatkan kualitas pemukiman penduduk di kawasan kumuh dan nelayan dengan dilakukan penataan dan peningkatan sarana prasarana dan penyedian dukungan PSD.

3. Mengingat belum terkelolanya RTH kota maka diperlukan upaya perencanaan penataan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau dan taman Jalan. Halm ini dimaksudkan sebagai antisipasi perkembangan pembangunan kota agar RTH dapat tersedia dengan baik guna mengimbangi kawasan terbangun fisik kota. Selain itu RTH juga dapat berfungsi sebagai kawasan resapan air yang nantinya akan dapat membantu baik dalam bidang pengendalian banjir kota, membantu dalam mengantisipasi kerawasan air dalam penyediaan air bersih kota serta sebagai area open space publik.

4. Khusus untuk penataan dan pengelolaan parkir selama ini belum banyak dilakukan di Kota Bontang. Sehingga kedepannya pelu direncanakan pengelolaan dan penataan parkir yang diharapkan dari sini akan tercapai pengeloaan dan penataan parkir secara optimal. Disamping itu kedepannya dapat dijadikan sebagai alternatif dalam meningkatkan tingkat PAD Kota Bontang.

5. Mengingat belum optimalnya pentaan reklame maka diperlukan upaya perencanaan penataan reklame dengan pemberlakuan zoning regulatian pada setiap spot-spot kawasan. Disamping itu perlu adanya pendataan ulang permasalaha perijinan pemasangan reklame khususnya pada kawasan perdagangan jasa. Hal ini perlu dilakukan agar pengendalaian dapat dilakukan secara menyeluruh serta sebagai uapaya peningkatan PAD kota.

7-37

6. Mengingat adanya persaingan operator telepon seluler dalam menjangkau pelayanan, maka diperlukan upaya pengaturan dan pengketatan perijinan pemasangan BTS sebagai antisipasi penataan ruang kota dan wilayah secara umum.

7. Mengingat belum optimlnya penataan kawasan PKL di Kota Bontang, maka diperlukan upaya penataan PKL baik pada kawasan sentara perdagangan dan jasa ya ng telah dialokasikan maupun pada kawasan-kawasan strategis kota seperti pada kawasan jalan-jalan utama, persimpangan dan pada areal terbuka umum.

Tabel 7.9

SPM Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

No. Jenis Pelayanan Dasar

Standard Pelayanan

Minimal PencapaiaWaktu n Keterangan Indikator Nilai I Penataan Bangunan dan Lingkungan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di Kab/Kota 100% 2014 Dinas Tata Ruang Kota Harga Standard Bangunan Gedung Negara (HSBGN) Tersedianya pedoman HSBGN di Kab/Kota 100% 2014 Dinas Pekerjaan Umum II Penataan Ruang Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik Tersedianya luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan perkotaan

33,04% 2014 Dinas Tata Ruang Kota

Tabel 7.10

Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan

No Uraian Sat Kebutuhan Ket

2015 2016 2017 2018 2019

I Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman

1 Ruang Terbuka Hijau (RTH) m2

2 Ruang Terbuka m2 3 PSD Kel 15 15 15 15 15 4 PS Lingkungan Kel 15 15 15 15 15 5 HSBGN Lapora n 1 1 1 1 1 6 Pelatihan Teknis Tenaga Pendata HSBGN Lapora n 1 1 1 1 1

7-38

No Uraian Sat Kebutuhan Ket

2015 2016 2017 2018 2019 II Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara

1 Bangunan Fungsi

Hunian Unit

2 Bangunan Fungsi Keagamaan Unit 3 Bangunan Fungsi Usaha Unit 4 Bangunan Fungsi Sosial Budaya Unit 5 Bangunan Fungsi Khusus Unit 6 Bintek Pembangunan Gedung Negara Lapora n 1 1 1 1 1

III Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan

1 P2KP Paket 1 1 1 1 1

6.2.3 Kesiapan Daerah Terhadap Kriteria Kesiapan (Redlines Criteria)