• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis kedudukan strategis Pendidikan agama Islam dalam UU

KEDUDUKAN PENDIDIKAN AGAMA (ISLAM)

B. Kedudukan Pendidikan Agama dalam UU Sisdiknas 2003

II. Analisis kedudukan strategis Pendidikan agama Islam dalam UU

Sisdiknas

Membahas kedudukan pendidikan agama (Islam) dalam sistem pendidikan nasional, maka kita tidak terlepas dari urgensitas agama bagi manusia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, sikap hidup religius ini telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak dahulu kala, yaitu sejak kepercayaan animisme, dinamisme, berkembang di masyarakat Indonesia. Kemudian masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia diiringi dengan masuknya agama Islam, terakhir masuknya agama Kristen, membuktikan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Fakta-fakta sejarah juga melegitimasi ini. Dengan demikian tidak salah apabila dikatakan bahwa agama merupakan darah daging bagi masyarakat Indonesia. Karena itulah pendiri bangsa Indonesia tepat pada tanggal 18 Agustus 1945 merumuskan dasar Negara mereka dengan mencantumkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dari pancasila. Berakar dari keterangan diatas, maka diharapkan konsep pendidikan Islam dalam rangka pendidikan nasional

32 Abdur Rahman Assegaf, dkk. Pendidikan

Islam di Indonesia, op.cit., h. 146 atau baca M.

Arifin, Kapita selekta Pendidikan (Islam dan

Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 217.

Kemudian hasil penelitian yang dilakukan oleh Miftah Baidlowi di sekolah-sekolah di Kabupaten Sleman antara lain menunjukkan bahwa pendidikan agama di sekolah meberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pengamalan nilai-nilai keagamaan siswa. (Miftah Baidlowi, Kontribusi Keluarga, Sekolah, dan

Masyarakat Terhadap Pengamalan Nilai Agama Islam Siswa SMU Negeri di Kabupaten Sleman,

(Yogyakarta: Tesis, 2000), h. 79

harus dimulai secara integral dan utuh. Ketepatan mengkaji dan merumuskan konsep pendidikan Islam dalam system pendidikan nasional memerlukan landasan pendidikan yang kuat dan tepat,misalnya landasan filosofis, fungsional dan tujuan insidental pendidikan, yang selanjutnya dijadikan tolak ukur dalam menyatukan dan mengaitkan hubungan sebagai bagian integral dari mata rantai dalam kesatuan pendidikan nasional.a) Landasan Filosofis Secara substansial maupun eksistensial manusia berbeda dengan tuhan. Manusia diciptakan di muka bumi untuk beribadah pada-Nya. dan sebagai modal dasar, manusia diberikan kesempurnaan bentuk penciptaan dibandingkan makhluk yang lain, sehingga dengan dasar kemampuan yang dimilikinya itulah manusia diharuskan menuntut ilmu melalui proses pendidikan. Oleh sebab itu, pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia agar ia benar-benar mampu menjadi khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia dituntut untuk menjaga, memanfaatkan dan melestarikan alam semesta sebaik-baiknya. Dan melalui proses pendidikan itulah manusia belajar mengenal dan mengembangkan potensi yang dimilikinya sebagai upaya yang dilakukan secara sadar, untuk mencapai kesempurnaan hidup baik hubungannya dengan Al-Khalik, dengan sesama manusia maupun dengan alam.b) Landasan Fungsional landasan fungsional pendidikan berakar pada tuntutan atas diri manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, dalam artian manusia dituntut untuk bisa memfungsikan potensi manusiawi dalam dirinya yang tercermin sebagai optimalisasi kemampuan berfikir, menghargai perbedaan-perbedaan (tingkah laku, sistem pemikiran, etnis,

budaya), dan memaknai sunnatullah) Landasan Insidental. Landasan insidental pendidikan merupakan upaya peningkatan aspek kecerdasan manusia yang diasumsikan sebagai suatu bentuk kemampuan belajar yang dapat diukur

menurut standar tertentu (sesaat/insidental), maka tujuan insidental

pendidikan dapat dirumuskan pada aspek-aspek sebagai berikut;

a. Mengembangkan kecerdasan mo-torik.

b. Mengembangkan kecerdasan emo-sional.

c. Mengembangkan kecerdasan inte-lektual.

d. Mengembangkan kecerdasan spiri-tual.

Hal ini didasarkan pada sifat haki-ki manusia sebagai homo religius, mak-hluk beragama yang mempunyai fitrah untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, serta sekaligus menjadikan kebe-naran agama itu sebagai rujukan (referen-si) sikap dan perilakunya. Dalil yang me-nunjukkan bahwa manusia mempunyai fitrah beragama adalah al-Qur’an, surat Al-A’raf ayat 172, yang berbunyi: "Bu-kankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka men-jawab: "Betul (Engkau Tuhankami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang de-mikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". Dengan menyadari sepenuhnya akan hakikat pem-bangunan yaitu pempem-bangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, serta sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama Islam khususnya

mem-punyai peran yang sangat strategis dalam mewujudkan cita-cita nasional di bidang pendidikan.

Untuk itu pendidikan agama Islam dan pendidikan nasional harus diarahkan pada pembinaan dan pengembangan im-an, taqwa, akhlak mulia, kecerdasim-an, kete-rampilan serta aspek humaniora lainnya. Namun, kita juga perlu melihat sedikitnya tiga dimensi pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional antara lain yaitu:a) Dimensi Kegiatan, artinya pendidikan diselenggarakan sebagai upaya internalisasi nilai-nilai Islam. Konsekuensi dari pemaknaan ini adalah bahwa pendidikan Islam tidak terbatas pada institusi formal, seperti pesantren, sekolah atau madrasah saja melainkan lebih luas dari itu pendidikan Islam mencakup kegiatan diluar kelembagaan termasuk yang bersifat fisik atau material, mental atau spiritual. Dalam artian dari kegiatan itulah akan didapati kegiatan menanamkan nilai-nilai Islam yang tereduksi melalui proses pendidikan Islam) Dimensi Kelembagaan disini pendidikan Islam dimaknai sebagai tempat atau lembaga yang melaksanakan proses pendidikan Islam yang mendasarkan programnya atas pandangan dan nilai-nilai Islam. Hal ini mengukuhkan kedudukan pendidikan agama dalam UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 pasal 30 Pendidikan Islam Sebagai Lembaga dalam UU SISDIKNAS dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan

atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami

dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya

(3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal dan informal

(4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, dan bentuk lain yang sejenis).

Dimensi materi Pelajaran. Bahwa kurikulum sebagai perangkat pembelajaran disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

(1) Peningkatan iman dan takwa (2) Peningkatan akhlak mulia

(3) Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik

(4) Keragaman potensi daerah dan lingkungan

(5) Tuntutan pembangunan daaerah dan lingkungan

(6) Tuntutan dunia kerja

(7) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni

(8) Agama

(9) Dinamika perkembangan global (10) Persatuan nasional dan nilai-nilai

kebangsaan.

Dengan demikian jelaslah bahwa kedudukan pendidikan agama, dalam hal ini penulis fokuskan pada pendidikan agama Islam mempunyai tempat yang signifikan dalam sistem pendidikan nasional. Dimensi pemikiran Bahwa pendidikan agama Islam diartikan sebagai paradigma teoritik yang disampaikan berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Adapun hakikat nilai-nilai Islami yang terkandung dalam Undang-undang Sistem Pendidikan nasional No.20 tahun 2003 adalah nilai yang membawa pada kemaslahatan dan kesejahteraan bagi

seluruh mahluk (sesuai dengan konsep Rahmatan Lil‘alamiin), demokratis, egalitarian dan humanis. Dengan demikian terdapat benang merah bahwa pendidikan agama Islam di Indonesia adalah bagian yang (integral) tidak terpisahkan dari pendidikan nasional

Daftar Pustaka

Assegaf, Abdur Rahman, dkk. Pendidikan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Suka Press, 2007 Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam

Tradisi dan Modernisasi Menuju Milennium Baru, (Jakarta: Logo Wacana Ilmu, 1999)

Arifin, M Kapita selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)

Bahtiar Effendi, Masyarakat, Agama, dan Pluralisme Keagamaan. Yogyakarta: Galang Press, 2002 Baidlowi, Miftah, Kontribusi Keluarga,

Sekolah, dan Masyarakat Terhadap Pengamalan Nilai Agama Islam Siswa SMU Negeri di Kabupaten Sleman, (Yogyakarta: Tesis, 2000

Daradjat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000) Idi, Abdullah Idi dan Suharto, Toto,

Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006)

Iman, Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004)

Jabali, Fuad Jabali dan Jamhari (peny.) IAIN Modernisasi Islam di Indonesia. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002)

Kaelan, Filsafat Pancasila, Yogyakarta: Paradigma, 1996.

Langgulung, Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988) cetakan II.

Muhammad Ali, Indonesia Negara Sekuler?, Jakarta: Kompas, 2 Agustus 2002.

Syam, Yunus Hasyim, Mendidik Anak ala

Muhammad, (Yogyakarta: Penerbit Sketsa, 2005).

Sanaky, Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Press).

Supriyoko, Ki, Kuliah Politik Pendidikan Nasional Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sessi ke-12. UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan

Islam, alih bahasa Salman Harun, (Bandung: Al-Ma’arif, 1984), cetakan 1

Dokumen terkait