IV METODE PENELITIAN
4.6. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis aspek finansial dalam rencana pengembangan usaha Elsari Brownies and Bakery dilakukan dengan melakukan serangkaian perhitungan kuantitatif. Kegiatan yang dianalisis adalah penilaian terhadap kelayakan Elsari sebelum adanya pengembangan usaha (Skenario I) untuk memastikan rencana pengembangan usaha perlu dilakukan. Selain itu, akan dilakukan penilaian terhadap kelayakan pengembangan usaha Elsari. Skenario II yaitu penyewaan bangunan yang akan digunakan sebagai gerai baru Elsari dengan dilengkapi counter penjualan kopi sedangkan skenario III ialah pembelian bangunan di wilayah strategis yang akan digunakan sebagai pabrik sekaligus gerai baru Elsari.
Analisis yang dilakukan dalam aspek finansial mencakup nilai arus tunai (cash flow). Penilaian kelayakan secara finansial juga dilakukan berdasarkan kriteria investasi. Adapun kriteria kelayakan investasi yang akan digunakan dalam
penelitian ini antara lain Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR),
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Discounted Payback Period (DPP). 4.6.1. Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) adalah suatu alat analisis untuk menguji kelayakan dari suatu investasi. NPV adalah nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi pada tingkat bunga tertentu atau dapat dikatakan sebagai selisih antara nilai bersih dari manfaat dan biaya pada setiap tahun kegiatan usaha. Rumus yang digunakan dalam penghitungan NPV menurut
∑
Keterangan:
Bt = penerimaan (benefit) bruto tahun ke-t
Ct = biaya (cost) bruto tahun ke-t
N = umur ekonomis usaha
t = tahun
i = tingkat suku bunga (discount rate)
Dalam metode NPV, terdapat tiga penilaian kriteria investasi. Jika NPV
suatu usaha lebih besar dari nol (NPV›0) berarti usaha tersebut layak dilakukan
atau dilanjutkan karena memiliki arti bahwa manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, apabila NPV usaha kurang dari nol (NPV‹0), maka usaha tersebut tidak layak dilakukan atau dilanjutkan karena biaya yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Apabila NPV sama dengan nol (NPV=0) maka manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan artinya proyek mengembalikan persis sebesar modal sosial. Dengan demikian, usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi.
Namun, pada penelitian ini perhitungan NPV tidak dilakukan secara manual. Perhitungan NPV dilakukan dengan menggunakan formula yang telah
tersedia pada software Microsoft Excel 2007.
4.6.2. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)
Analisis imbangan biaya dan penerimaan adalah alat analisis tingkat
efisiensi setiap rupiah yang diperoleh dari penerimaan. Net Benefit-Cost Ratio
(Net B/C) merupakan perbandingan NPV total dari manfaat bersih terhadap total
dari biaya bersih atau dapat dikatakan sebagai perbandingan antara jumlah nilai bersih yang bernilai positif sebagai pembilang dan nilai bersih yang bernilai negatif sebagai penyebut. Analisis ini akan menguji seberapa jauh setiap nilai rupiah yang akan dipakai dapat memberikan sejumlah nilai penerimaan sebagai
manfaatnya. Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah nilai
sekarang yang bernilai positif dengan jumlah nilai sekarang yang bernilai negatif. Rumus untuk menghitung Net B/C adalah :
∑ ∑ Dimana, Keterangan:
Bt = manfaat yang diperoleh tiap tahun
Ct = biaya yang dikeluarkan tiap tahun
n = jumlah tahun
i = tingkat suku bunga (discount rate)
Kerangka keputusan :
1) Jika Net B/C › 1 maka proyek layak untuk dilakukan karena setiap pengeluaran akan menghasilkan penerimaan yang lebih besar dari pengeluaran tersebut.
2) Jika Net B/C ‹ 1 maka proyek tidak layak untuk dilanjutkan karena setiap pengeluaran akan menghasilkan penerimaan lebih kecil dari pengeluaran tersebut.
Namun, pada penelitian ini perhitungan Net B/C tidak dilakukan secara manual. Perhitungan Net B/C dilakukan dengan menggunakan formula yang telah
tersedia pada software Microsoft Excel 2007.
4.6.3. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan internal tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek
untuk sumberdaya yang digunakan. IRR juga merupakan nilai discount rate yang
menjadikan NPV proyek sama dengan nol. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Apabila nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Hubungan antara NPV dan IRR dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Hubungan Antara NPV dan IRR
(Sumber: Nurmalina et al 2009)
Rumus untuk menghitung IRR adalah :
Dimana :
i = discount rate yang menghasilkan NPV positif
i’ = discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV = NPV yang bernilai positif
NPV’ = NPV yang bernilai negatif
Kerangka keputusan :
1) Apabila IRR = tingkat diskonto maka usaha tidak mendapat keuntungan
maupun kerugian.
2) Apabila IRR ‹ tingkat diskonto maka usaha tidak layak untuk dilakukan. 3) Apabila IRR › tingkat diskonto maka usaha layak untuk dilakukan.
Namun, pada penelitian ini perhitungan IRR tidak dilakukan secara manual. Perhitungan IRR dilakukan dengan menggunakan formula yang telah
tersedia pada software Microsoft Excel 2007.
4.6.4. Discounted Payback Period (DPP)
Metode ini mengukur seberapa cepat investasi dapat kembali. DPP merupakan metode yang digunakan untuk mengatasi kelemahan dari metode payback period (PP) yang tidak memperhitungkan nilai waktu uang. Bisnis yang
memiliki nilai discounted payback period singkat atau cepat pengembaliannya
i’ i NPV NPV’ IRR i=discount rate (%) NPV
kemungkinan besar akan dipilih oleh investor. Discounted payback period
menggunakan manfaat bersih yang telah dikalikan dengan discount rate. Adapun
rumus untuk menghitung payback period adalah:
Discounted
Keterangan :
I = besarnya investasi yang dibutuhkan
Ab discounted = manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya yang
telah dikalikan dengan discount rate.
Menurut Umar (2007), nilai discounted payback period diperoleh melalui
nilai investasi dikurangi saldo nilai tunai bersih sekarang dengan tingkat diskonto
yang berlaku (present value net benefit). Lalu dilihat periode tahun yang dapat
mengembalikan seluruh nilai investasi. Semakin kecil angka yang dihasilkan memiliki arti semakin cepat tingkat pengembalian investasinya, maka usaha tersebut semakin baik untuk dilaksanakan.
4.6.5. Incremental Net Benefit
Incremental Net Benefit merupakan tambahan manfaat bersih yang dapat
diperoleh dengan membandingkan net present value dengan bisnis dan net present
value tanpa bisnis. Contoh yang biasa digunakan dalam perhitungan incremental net benefit adalah tanah. Tanah yang diberakan tidak akan memiliki manfaat bersih tetapi jika diolah menjadi kawasan perkebunan maka akan menghasilkan
manfaat bersih bagi pemilik usaha. Secara sistematis, perhitungan incremental net
benefit dapat diperoleh sebagai berikut:
Incremental net benefit=manfaat bersih dengan bisnis-manfaat bersih tanpa bisnis 4.7. Analisis Sensitivitas dan Nilai Pengganti (Switching Value)
Analisis switching value merupakan variasi dari analisis sensitivitas.
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat kembali hasil analisis suatu kegiatan investasi atau aktivitas ekonomi. Analisis sensitivitas ini perlu dilakukan karena dalam kegiatan investasi perhitungan didasarkan pada proyek-proyek yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu mendatang.
Analisis nilai pengganti (switching value) digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan pada biaya dan manfaat yang akan menghasilkan keuntungan normal yaitu NPV sama dengan nol, IRR mendekati atau sama dengan tingkat suku bunga, dan Net B/C sama dengan satu. Pada analisis switching value secara langsung memilih sejumlah nilai yang dengan nilai tersebut dapat dilakukan perubahan terhadap masalah yang dianggap penting pada analisis proyek dan kemudian dapat menentukan pengaruh perubahan tersebut terhadap daya tarik proyek.
Variabel yang dianalisis merupakan variabel yang dianggap signifikan terhadap usaha yaitu kenaikan harga input dan penurunan penjualan. Dengan analisis ini, akan dicari jumlah maksimum kenaikan biaya usaha yang dominan
dan jumlah maksimum penurunan penjualan brownies yang membuat usaha ini
masih tetap layak untuk dijalankan. 4.8. Laporan Laba Rugi
Analisa laba rugi digunakan perusahaan untuk mengetahui perkembangan
usaha dalam periode tertentu. Komponen laba rugi usaha Elsari Brownies and
Bakery terdiri dari pendapatan penjualan hasil produksi, biaya operasional, biaya penyusutan, beban bunga, dan pajak penghasilan. Laba sebelum pajak (EBT) diperoleh dari pendapatan penjualan dikurangi dengan biaya operasional, beban bunga, dan biaya penyusutan. Laba setelah pajak (EAT) diperoleh dari laba sebelum pajak dikurangi dengan pajak penghasilan.