• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

4.2.3 Analisis Kelayakan Modul

Setelah modul pembelajaran yang berjudul “Menulis Kreatif” selesai divalidasi oleh dosen ahli dan telah melalui uji coba terbatas pada mahasiswa semester V peserta mata kuliah menulis kreatif, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas PGRI Yogyakarta, maka modul tersebut dianalisis untuk mengetahaui tingkat kelayakannya. Aspek yang dianalisis dalam modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba, yaitu aspek isi/materi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafikan, dan aspek media. Berikut ini uraian analisis kelayakan modul dari kelima aspek berdasarkan validasi dosen ahli dan uji coba mahasiswa.

Tabel 4.16 Hasil Analisis Kelayakan Modul Digital oleh Dosen Ahli dan Mahasiswa

No. Aspek penilaian Skor

Rata-rata Persentase Kategori

1 Kelayakan Isi/Materi 3,68 73,6% Baik

Aspek isi/materi dalam modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif”

mendapatkan skor rata-rata yang diperoleh dari dosen ahli sebesar 3,00 dengan kategori “Cukup Baik”, sedangkan dari uji coba terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif yang berjumlah 24 responden mendapatkan skor rata-rata sebesar 4,37 dengan kategori “Sangat Baik”. Dari kedua nilai tersebut, diperoleh

skor rata-rata 3,68 dengan persentase 73,6%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul digital “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba pada aspek isi/materi dinyatakan layak untuk digunakan.

2. Aspek penyajian

Aspek penyajian dalam modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif”

mendapatkan skor rata-rata yang diperoleh dari dosen ahli sebesar 3,14 dengan kategori “Cukup Baik”, sedangkan dari uji coba terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif yang berjumlah 24 responden mendapatkan skor rata-rata sebesar 4,34 dengan kategori “Sangat Baik”. Dari kedua nilai tersebut, diperoleh skor rata-rata 3,74 dengan persentase 74,8%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul digital “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba pada aspek penyajian dinyatakan layak untuk digunakan.

3. Aspek Bahasa

Aspek bahasa dalam modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif”

mendapatkan skor rata-rata yang diperoleh dari dosen ahli sebesar 3,2 dengan kategori “Cukup Baik”, sedangkan dari uji coba terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif yang berjumlah 24 responden mendapatkan skor rata-rata sebesar 4,37 dengan kategori “Sangat Baik”. Dari kedua nilai tersebut, diperoleh skor rata-rata 3,78 dengan persentase 75,6%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul digital “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba pada aspek bahasa dinyatakan layak untuk digunakan.

4. Aspek Kegrafikan

Aspek kegrafikan dalam modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif”

mendapatkan skor rata-rata yang diperoleh dari dosen ahli sebesar 3,5 dengan kategori “Baik”, sedangkan dari uji coba terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif yang berjumlah 24 responden mendapatkan skor rata-rata sebesar 4,31 dengan kategori “Sangat Baik”. Dari kedua nilai tersebut, diperoleh skor rata-rata 3,90 dengan persentase 78%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul digital “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba pada aspek kegrafikan dinyatakan layak untuk digunakan.

5. Aspek Media

Aspek media dalam modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif”

mendapatkan skor rata-rata yang diperoleh dari dosen ahli sebesar 3,71 dengan kategori “Baik”, sedangkan dari uji coba terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif yang berjumlah 24 responden mendapatkan skor rata-rata sebesar 4,56 dengan kategori “Sangat Baik”. Dari kedua nilai tersebut, diperoleh skor rata-rata 4,13 dengan persentase 82,6%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa modul digital “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba pada aspek media dinyatakan layak untuk digunakan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diketahui bahwa penelitian Research and Development (R&D) ini telah menghasilkan sebuah produk modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba yang berjudul “Menulis Kreatif”.

Pengembangan modul digital ini bertujuan untuk membantu mahasiswa agar

mampu menulis kreatif sastra dengan memanfatkan nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Sumba sebagai sumber ide atau sumber inspirasi mereka. Hal itu dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti terhadap mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif di Universitas PGRI Yogyakarta.

Pada kenyataannya masih ada mahasiswa yang masih sulit menuangkan ide atau gagasan mereka ke dalam tulisan sastra. Hal tersebut terbukti dari hasil analisis kuesioner yang dianalisis peneliti. Sebanyak 43,33% dari responden menyatakan bahwa mereka masih sedikit kesulitan dalam menulis kreatif sastra.

Hal tersebut dikarenakan kurangnya contoh-contoh yang membantu mahasiswa untuk menemukan ide dalam menulis kreatif.

Mahasiswa juga menyatakan bahwa adanya modul yang lebih menarik akan membantu mereka untuk lebih senang belajar menulis kreatif. 86,66% dari responden menyatakan bahwa mereka lebih tertarik menggunakan modul berbentuk digital sebagai sumber referensi dalam pembelajaran menulis kreatif.

Modul digital memiliki sisi efektif tersendiri dibandingkan modul bentuk konvensional. Modul digital membantu mahasiswa untuk tidak hanya monoton membaca teori di dalam modul, tetapi juga bisa menyimak video simakan dan audio.

Pengembangan modul ini dilakukan berdasarkan 6 tahapan penelitan Research & Development (R&D) yang sudah disederhanakan oleh peneliti.

Keenam tahapan itu antara lain; penelitian dan pengumpulan informasi, pengembangan produk, uji validasi, revisi produk I, uji coba produk, dan revisi tahap II. Pengembangan bahan dalam modul digital ini dilakukan dengan

menentukan judul, tujuan, pemilihan bahan, penyusunan kerangka, dan pengumpulan bahan yang relevan dengan modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba. Selain itu, peneliti menilai kelayakan modul digital dengan melakukan uji validasi produk oleh dosen ahli dan uji coba produk oleh mahasiswa semester V peserta mata kuliah menulis kreatif, Universitas PGRI Yogyakarta. Aspek kelayakan yang dinilai dalam modul digital, yaitu aspek isi/materi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafikan, dan aspek media.

Hasil yang diperoleh dari akumulasi skor rata-rata dari validasi dosen dan uji coba produk oleh mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif, yakni aspek isi/materi memperoleh skor rata-rata sebesar 3,68 dengan kategori “Baik”, aspek penyajuan memperoleh skor rata-rata sebesar 3,74 dengan kategori “Baik”, aspek bahasa memperoleh skor rata-rata sebesar 3,78 dengan kategori “Baik”, aspek kegrafikan memperoleh skor rata-rata sebesar 3,90 dengan kategori “Baik‟, dan aspek media memperoleh skor rata-rata sebesar 4,13 dengan kategori “Sangat Baik”. Jika kelima skor masing-masing aspek di atas diakumulasikan, maka modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif” memperoleh skor rata-rata sebesar 3,84 dengan persentase 76,96%.

Sesuai kriteria kelayakan modul yang dikembangkan merujuk pada bab III (halaman 65), yang menjelaskan bahwa nilai kelayakan sebuah produk yang dikembangkan ditentukan dengan nilai “C” dengan kategori “Cukup”. Jadi, jika pernyataan itu dikorelasikan dengan hasil skor rata-rata yang diperoleh dari produk modul digital yang dikembangkan, yaitu 3,84 dengan persentase kelayakan

76,99%, maka dapat dinyatakan bahwa modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif” dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba layak digunakan.

4.2.4 Kajian Produk Akhir

Produk modul digital berjudul “Menulis Kreatif” yang dikembangkan oleh peneliti telah direvisi sesuai dengan komentar dan saran yang disampaikan oleh dosen ahli dan mahasiswa sebagai peserta uji coba. Produk modul digital pembelajaran direvisi berdasarkan lima aspek penilaian, yaitu aspek isi/materi, aspek bahasa, aspek penyajian, aspek kegrafikan, dan aspek media. Kelima aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.

1. Aspek Isi/Materi

Aspek isi/materi modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan skor rata-rata dari hasil akumulasi penilaian oleh dosen dan mahasiswa sebesar 3,68 dengan kategori “Baik”. Terdapat beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh dosen ahli dan mahasiswa yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk merevisi kembali aspek isi/materi modul digital pembelajaran menulis kreatif agar lebih optimal. Beberapa komentar dan saran dari dosen ahli serta mahasiswa antara lain; 1) materi dalam modul digital harus ditambahkan lagi dan bisa mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan, 2) konstruksi kata kerja “menguraikan” diubah dengan kata kerja operasional yang lebih bisa diukur ketercapaiannya, 3) penulis harus membuktikan keefektifan nilai moral dalam cerita rakyat dapat menjadi sumber ide menulis karya

oleh mahasiswa. Berikut ini disajikan gambar yang memperlihatkan kajian produk awal dan kajian produk akhir dalam aspek isi/materi.

Gambar 4.18 Kajian Produk Awal pada Gambar 4.19 Kajian Produk Akhir pada

Bagian Teori Bagian Teori

Gambar 4.20 Kajian Awal Produk Gambar 4.21 Kajian Akhir Produk Bagian Tujuan Pembelajaran Bagian Tujuan Pembelajaran

Gambar 4.22 Kajian Awal Produk Gambar 4.23 Kajian Akhir Produk Bagian Latihan Bagian Latihan

2. Aspek Penyajian

Aspek penyajian modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan skor rata-rata dari hasil akumulasi penilaian oleh dosen dan mahasiswa sebesar 3,74 dengan kategori “Baik”. Terdapat beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh dosen ahli dan mahasiswa yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk merevisi kembali aspek penyajian modul digital pembelajaran menulis kreatif agar lebih baik lagi. Komentar dan saran dari dosen ahli serta mahasiswa, yakni pada bagian uraian materi dalam modul digital perlu diberikan tabel atau bagan agar lebih baik. Berikut ini disajikan gambar yang memperlihatkan kajian produk awal dan kajian produk akhir dalam aspek penyajian.

Gambar 4.24 Kajian Awal Produk pada Bagian Uraian Materi

Gambar 4.25 Kajian Akhir Produk pada Bagian Uraian Materi

3. Aspek Bahasa

Aspek bahasa modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan skor rata-rata dari hasil akumulasi penilaian oleh dosen dan mahasiswa sebesar 3,78 dengan kategori “Baik”. Terdapat beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh dosen ahli dan mahasiswa yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk merevisi kembali aspek bahasa modul digital pembelajaran

menulis kreatif agar lebih baik lagi. Bagian yang harus direvisi adalah penggunaan ejaan yang salah dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Berikut ini disajikan gambar yang memperlihatkan kajian produk awal dan kajian produk akhir dalam aspek bahasa.

Gambar 4.26 Kajian Awal Produk pada Bagian yang Tidak Sesuai PUEBI

Gambar 4.27 Kajian Awal Produk pada Bagian yang Tidak Sesuai PUEBI

4. Aspek Kegrafikan

Aspek kegrafikan modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan skor rata-rata dari hasil akumulasi penilaian oleh dosen dan mahasiswa sebesar 4,31 dengan kategori “Sangat Baik”.

Terdapat beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh dosen ahli dan mahasiswa yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk merevisi kembali aspek

kegrafikan modul digital pembelajaran menulis kreatif. Bagian yang direvisi oleh peneliti adalah sampul modul yang kurang memperlihatkan keterampilan menulis.

Validator menyarankan agar di sampul modul memperlihatkan ilustrasi keterampilan menulis. Berikut ini disajikan gambar yang memperlihatkan kajian produk awal dan kajian produk akhir dalam aspek kegrafikan.

Gambar 4.28 Kajian Awal pada Bagian Gambar 4.29 Kajian Akhir pada Bagian sampul Modul Digital Sampul Modul digital

5. Aspek Media

Aspek kegrafikan modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan skor rata-rata dari hasil akumulasi penilaian oleh dosen dan mahasiswa sebesar 4,56 dengan kategori “Sangat Baik”.

Tidak ada yang perlu direvisi oleh peneliti untuk media yang digunakan dalam modul digital pembelajaran menulis kreatif. Validator hanya memberikan masukan

agar tetap memperhatikan navigasi (petunjuk), video, dan audio dalam modul digital agar berfungsi dengan baik ketika digunakan oleh mahasiswa.

BAB V PENUTUP

Bab ini memaparkan dua subbab, yaitu (1) simpulan, dan (2) saran.

Simpulan berisi rangkuman terkait keseluruhan proses penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, sedangkan saran berisi hal-hal yang kiranya perlu untuk diperhatikan oleh (1) para dosen, (2) mahasiswa, dan (3) peneliti lainnya.

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian pengembangan modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba yang berjudul “Menulis Kreatif”, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pada kenyataannya, masih ada mahasiswa yang kesulitan dalam menulis kreeatif sastra.

hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni 1) mahasiswa kesulitan menulis karena kurangnya contoh-contoh dalam sumber belajar pembelajaran menulis kreatif, 2) sumber belajar yang digunakan belum bisa membantu mahasiswa memahami dengan baik hakikat menulis kreatif, 3) mahasiswa masih kesulitan dalam menemukan ide atau sumber inspirasi dalam menulis karya sastra, dan 4) sumber belajar yang isinya monoton dan kurang menarik memengaruhi minat mahasiswa dalam menulis.

Dari kesimpulan di atas, peneliti menemukan kendala yang perlu untuk diperbaiki. Maka dari itu, peneliti menawarkan sebuah modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba. Modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif” tidak hanya menyajikan teori saja, tetapi juga

menyajikan video simakan dan audio yang menarik perhatian mahasiswa. Selain itu, nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Sumba yang disajikan di dalam modul dapat dijadikan sumber inspirasi atau sumber ide mahasiswa dalam menulis kreatif sastra. Dengan demikian, mahasiswa bisa mengelaborasikan antara pengetahuan, keterampilan, dan kreativitasnya melalui penggunaan modul digital tersebut.

Kedua, modul pembelajaran yang berjudul “Menulis Kreatif” ini dikembangkan oleh peneliti melalui enam tahapan pengembangan Research and Development (R&D) menurut Borg dan Gall (dalam Sugiyono, 2015). Enam tahapan pengambangan itu antara lain; penelitian dan pengumpulan informasi, pengembangan produk, uji validasi, revisi produk tahap I, uji coba produk, dan revisi produk tahap II. Hasil penelitian berdasarkan keenam tahap pengembangan ini antara lain; 1) mahasiswa masih kesulitan dalam menemukan ide atau sumber inspirasi dalam menulis kreatif sastra, 2) pengembangan modul ini dilakukan dengan menentukan judul, tujuan, pemilihan bahan, penyusunan kerangka, dan penyusunan bahan yang relevan dengan materi dalam modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba.; 3)Untuk menilai kelayakan produk modu digital yang dikembangkan, peneliti melakukan uji validasi oleh dosen ahli dan uji coba produk oleh mahasiswa peserta mata kuliah menulis kreatif, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Universitas PGRI Yogyakarta.

Penilaian kelayakan modul digital terdiri dari lima aspek, yakni aspek isi/materi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafikan, dan aspek media; 4) revisi tahap I yang dilakukan oleh peneliti berdasarkan komentar dan saran dari

dosen ahli, yakni a) perbaikan materi dan penambahan teori-teori yang mendukung tujuan pembelajaran yang dicapai, b) penambahan tabel dan bagan dalam modul digital, c) perbaikan kata dan kalimat agar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), d) perbaikan sampul modul digital yang belum terlihat keterampilan menulisnya, e) perbaikan dalam latihan-latihan, dan f) mengganti gambar tokoh sastrawan dalam modul digital. 5) revisi tahap II yan dilakukan peneliti berdasarkan komentar dan saran dari responden uji coba produk, yaitu 1) bagian font dalam modul digital diperbesar lagi, 2) pewarnaan kurang mencolok dan gambar kurang menarik, 3) jika penggunaan modul digital di smartphone juga bisa lebih maksimal.

Ketiga, Modul digital pembelajaran menulis kreatif yang berjudul

“Menulis Kreatif” memiliki beberapa keunggulan/daya tarik. Pertama, modul digital yang terintegrasi dengan nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Sumba dapat membantu menumbuhkan nilai pendidikan dalam diri mahasiswa sehingga mahasiswa tidak hanya belajar menambah pengetahuan, tetapi juga membangun karakter positif di dalam diri mereka. Kedua, modul digital dapat menerapkan empat keterampilan berbahasa saat mengerjakan latihan di dalam modul.

Mahasiswa bisa melakukan kegiatan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara saat pembelajaran menulis kreatif di kelas. Ketiga, mahasiswa bisa lebih mudah menemukan sumber ide menulis puisi dan cerpen menggunakan nilai moral yang ada dalam cerita rakyat Sumba yang disajikan dalam modul. Hal itu akan membuat mahasiswa belajar mengelaborasikan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menulis kreatif sastra.

Keempat, modul pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba yang berjudul “Menulis Kreatif” memperoleh hasil dari akumulasi skor rata-rata dari validasi dosen dan uji coba produk oleh mahasiswa peserta mata kuliah menulis kretaif, yakni aspek isi/materi memperoleh skor rata-rata sebesar 3,68 dengan kategori “Baik”, aspek penyajuan memperoleh skor rata-rata sebesar 3,74 dengan kategori “Baik”, aspek bahasa memperoleh skor rata-rata sebesar 3,78 dengan kategori “Baik”, aspek kegrafikan memperoleh skor rata-rata sebesar 3,90 dengan kategori “Baik‟, dan aspek media memperoleh skor rata-rata sebesar 4,13 dengan kategori “Sangat Baik”. Jika kelima skor masing-masing aspek di atas diakumulasikan, maka modul digital yang berjudul “Menulis Kreatif” memperoleh skor rata-rata sebesar 3,84 dengan persentase 76,96%, maka dapat disimpulkan bahwa modul digital pembelajaran menulis kreatif dengan memanfaatkan cerita rakyat Sumba yang berjudul “Menulis Kreatif” layak untuk digunakan.

5.2 Saran

Pada bagian ini, peneliti memberikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi kepentingan pihak-pihak terkait. Saran dari peneliti ini ditujukan untuk 1) dosen, 2) mahasiswa, dan 3) peneliti lanjutan. Ketiga saran tersebut diperinci sebagai berikut.

1. Bagi Para Dosen

Para dosen diharapkan untuk lebih memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa ketika menulis kreatif sastra. Hal itu dikarenakan masih ada mahasiswa yang belum betul-betul memahami bagaimana cara menemukan ide dan

menuangkan ide tersebut ke dalam bentuk tulisan sastra. Oleh karena itu, para dosen diharapkan dapat memberikan motivasi dan dukungan yang baik untuk membantu mahasiswa membangun minat dalam menulis kreatif sastra dan meningkatkan aspek keterampilan menulis mereka. Selain itu, metode pembelajaran yang digunakan oleh peneliti dalam modul digital terbatas, maka peneliti berhaap para dosen bisa menentukan metode pembelajaran yang lebih cocok dan spesifik saat menggunakan modul digital pembelajaran menulis kreatif di kelas.

2. Bagi Mahasiswa

Bagi para mahasiswa diharapkan untuk memiliki kesadaran akan pentingnya keterampilan menulis, termasuk keterampilan menulis kreatif. Keterampilan menulis kreatif membantu mahasiswa untuk bisa menuangkan ide, perasaan, dan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan. Untuk itu, mahasiswa diharapkan untuk selalu tekun dan belajar mengasah keterampilan menulis kreatif dengan menggunakan modul digital pembelajaran menulis kreatif yang dikembangkan oleh peneliti sebagai salah satu sumber referensi. Modul digital pembelajaran menulis kreatif membantu mahasiswa menemukan sumber inspirasi menulis kreatif melalui nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Sumba yang disajikan di dalam modul.

Dengan demikian, mahasiswa lebih mudah menulis kreatif karya sastra.

3. Bagi Peneliti Lain

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini masih banyak kekurangan, seperti dalam hal desain, materi, dan metode pembelajaran. Peneliti lainnya yang ingin mengambil judul penelitian yang hampir sama dengan penelitian ini diharapkan

dapat mengembangangkan modul digital lebih baik lagi. Modul digital pembelajaran sangat perlu untuk dikembangkan di era yang serba canggih saat ini, sehingga dunia pendidikan bisa mengikuti setiap perkembangan zaman yang ada.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi informasi dan inspirasi mengenai penelitian pengembangan dalam aspek keterampilan menulis kreatif maupun aspek-aspek lainnya, sehingga dapat memotivasi untuk adanya penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Irzal dan Syahrul R. Ermanto. Cerita Rakyat Penamaan Desa di Kerinci.

Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran, Volume 1, Nomor 1, Februari 2013.

Anas, Ridwan. 2015. “Analisis Cerita Rakyat “Sasakala Desa Kelapa Genep” di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya Menggunakan Aspek Sintaksis, Semantik, Dan Pragmatik”. Skripsi. Tasikmalaya: Universitas Siliwangi Tasikmayalaya

Direktoral Tenaga Kependidikan. 2008. Penulisan Modul. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Furchan, arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.

Gusnetti, Syofiani, dan Isnandia, R. 2015. Struktur dan Nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Jurnal Gramatika, Vl. i2, 183-1 92.

Gusal, La Ode. Nilai-nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Karya La Ode Sidu. Jurnal Humanika, No. 15, Vol.3, Desember 2015 Hanifa, Umi. 2014. Pentingnya Buku Ajar yang Berkualitas dalam Meningkatkan

Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab. Jurnal Ilmu Tarbiyah “At-Tajdid” ,Vol. 3, No. 1, 99-121.

Heksari, Karina. 2015. “Pengembangan Buku Ajar Keterampilan Menulis Berdasarkan Strategi 3W2H untuk SMA Kelas XI”. Skripsi.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Irada, Sumardiah Nurul. 2017. “Pengembangan Buku Ajar Menulis Kreatif Naskah Drama Berbasis kontekstual Siswa kelas VIII MTSN Nglawak Kertosono Nganjuk”. Skripsi. Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri

Kusmana, Suherli.2014. Kreativitas Menulis. Yogyakarta: Penerbit Ombak (Anggota IKAPI)

Kurniawan, Heru dan Sutardi. 2012. Penulisan Sastra Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu