VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3. Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih
6.3.2. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif
Keunggulan kompetitif diukur dengan PCR (Private Cost Ratio) yang mencerminkan daya saing lada putih dalam kondisi aktual (harga privat). Nilai PCR merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan nilai tambah keluaran dari biaya input tradable yang dihitung pada harga privat. Tabel 11 memperlihatkan bahwa secara umum pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas memiliki keunggulan kompetitif, hal ini didasarkan pada
hasil analisis dari nilai PCR yang kurang dari satu (PCR < 1) untuk masing-masing tahun produksi yakni berkisar antara 0,19 sampai 0,76.
Tingkat keunggulan kompetitif tertinggi dicapai pada produksi tahun ke-4 dengan nilai PCR sebesar 0,22, sedangkan yang terendah terjadi pada produksi tahun 7 dengan nilai PCR sebesar 0,85 (Tabel 11). Sementara untuk tahun ke-3, ke-5 dan ke-6 nilai PCR masing-masing sebesar 0,2ke-3, 0,26 dan 0,40. Artinya untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan pada harga privat di Kecamatan Airgegas, diperlukan tambahan biaya faktor domestik masing-masing sebesar 0,23 satuan (tahun 3), 0,22 satuan (tahun 4), 0,26 satuan (tahun ke-5), 0,40 satuan (tahun ke-6) dan 0,85 satuan (tahun ke-7). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas sangat layak untuk diusahakan.
Keunggulan komparatif diukur dengan DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) yang menggambarkan daya saing lada putih pada kondisi pasar tidak terdistorsi (harga sosial). DRCR merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan nilai tambah keluaran dari biaya masukan yang diperdagangkan secara sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Airgegas mempunyai keunggulan komparatif untuk memproduksi komoditi lada putih. Hal ini terlihat dari produksinya di setiap tahun yang memiliki nilai DRCR kurang dari satu (DRCR < 1) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11.
Nilai DRCR terendah terjadi pada produksi tahun ke-4 dengan nilai sebesar 0,18 dan tertinggi terjadi pada produksi tahun ke-7 yakni sebesar 0,77 (Tabel 11). Nilai tersebut menandakan bahwa tingkat keunggulan komparatif tertinggi dicapai pada produksi tahun ke-4, sedangkan yang terendah terjadi pada
produksi tahun ke-7. Sementara itu, untuk nilai DRCR tahun produksi ke-3, ke-5, dan ke-6 dapat dilihat pada Tabel 11. Nilai DRCR tersebut mengandung arti bahwa untuk mengembangkan usahatani lada putih di Kecamatan Airgegas hanya membutuhkan korbanan sumberdaya domestik masing-masing sebesar 0,19 satuan (tahun ke-3), 0,18 satuan (tahun ke-4), 0,21 satuan (tahun ke-5), 0,34 satuan (tahun ke-6) dan 0,77 satuan (tahun ke-7). Dengan demikian, pengusahaan terhadap komoditi lada putih sangat ekonomis untuk terus dikembangkan mengingat hanya membutuhkan alokasi biaya domestik yang relatif rendah, sehingga dapat mendorong peningkatan produksi.
Tabel 11. Keunggulan Kompetitif dan Komparatif pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006 Keterangan PCR DRCR l. Tahun ke-3 ll. Tahun ke-4 lll. Tahun ke-5 lV.Tahun ke-6 V. Tahun ke-7 0,23 0,22 0,26 0,40 0,85 0,19 0,18 0,21 0,34 0,77 Siklus 7 tahun 0,53 0,48
Hasil analisis (Tabel 11) juga menunjukkan bahwa pengusahaan lada putih dengan siklus tanaman 7 tahun yang didasarkan pada net present value (NPV) di Kecamatan Airgegas memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR yang kurang dari satu yaitu sebesar 0,53 dan 0,48. Artinya, untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan pada harga privat di Kecamatan Airgegas, diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar 0,53 satuan dan hanya dibutuhkan sumberdaya domestik sebesar 0,48 satuan untuk pengembangan pengusahaan lada putih di kecamatan tersebut. Dengan kata lain, komoditi lada putih jauh lebih efisien jika
diusahakan/diproduksi di dalam negeri bila dibandingkan dengan mengimpornya. Hal ini karena produksi lada putih di Kecamatan Airgegas sangat layak untuk diusahakan dan efisien dalam penggunaan sumberdaya domestik, sehingga berdampak pada penghematan devisa.
Selanjutnya bila dibandingkan antara nilai PCR dengan DRCR (siklus 7 tahun) ternyata memiliki nilai yang besarannya tidak jauh berbeda, di mana nilai PCR relatif lebih besar dari nilai DRCR (PCR > DRCR). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih yang ada di Kecamatan Airgegas saat ini layak untuk dikembangkan meskipun tanpa adanya dukungan proteksi input-output dari pemerintah.
6.3.3. Dampak Kebijakan Pemerintah
Dampak kebijakan dan kegagalan pasar pada pengusahaan komoditi lada putih dapat diidentifikasi dari nilai NPCO (Nominal Protection Coefficient on Output), NPCI (Nominal Protection Coefficient on Tradable Input) dan EPC (Effective Protection Coefficient). Nilai NPCO dan NPCI mencerminkan dampak kebijakan pemerintah secara parsial, sementara dampak secara simultan dapat dilihat dari nilai EPC.
Nilai NPCO menunjukkan dampak insentif pemerintah menyebabkan terjadinya perbedaan nilai output yang diukur dengan harga privat dan sosial. Namun, mengingat sampai saat ini belum ada kebijakan pemerintah untuk perdagangan lada putih, maka pada output lada putih ini diduga kegagalan pasar yang menyebabkan harga yang diterima petani lebih rendah dari seharusnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCO untuk pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas pada masing-masing tahun produksinya sama yakni
kurang dari satu (NPCO < 1) sebesar 0,96 seperti yang tertera pada Tabel 12. Artinya petani menerima harga lebih murah dari harga dunia, dimana harga jual lada putih di tingkat petani 4 persen lebih murah dari harga output yang seharusnya diterima. Dengan arti lain, telah terjadi pengalihan pendapatan dari petani lada ke konsumen lada (industri makanan, industri farmasi dan industri yang berbahan baku lada putih).
Tabel 12. Dampak Kebijakan dan Kegagalan Pasar pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006
Keterangan NPCO NPCI EPC
l. Tahun ke-3 ll. Tahun ke-4 lll. Tahun ke-5 lV.Tahun ke-6 V. Tahun ke-7 0,96 0,96 0,96 0,96 0,96 0,81 0,80 0,77 0,79 0,80 0,96 0,96 0,96 0,97 0,98
Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa besar insentif yang diberikan pemerintah terhadap input produksi tradable dapat diketahui dari nilai NPCI. NPCI merupakan rasio biaya input tradable berdasarkan harga privat dan harga sosial. Tabel 12 memperlihatkan bahwa nilai NPCI untuk pengusahaan komoditi lada putih pada setiap tahun produksinya kurang dari satu (NPCI < 1) yakni berkisar antara 0,77 sampai 0,81. Hal ini berarti bahwa harga input yang dibayar petani lebih rendah 19 sampai 23 persen dari harga dunia, maksudnya pemerintah melakukan kebijakan subsidi terhadap input produksi tradable dengan menetapkan harga domestik lebih rendah dari harga dunia. Kondisi tersebut berpengaruh pada tingkat pegusahaan lada putih, karena harga input produksi tradable yang rendah akan membantu meningkatkan pendapatan petani di Kecamatan Airgegas.
Indikator untuk mengetahui dampak kebijakan terhadap output dan input tradable apakah bersifat menghambat atau melindungi produksi lada putih domestik dapat dijelaskan dari nilai EPC. EPC merupakan rasio yang membandingkan antara nilai tambah input tradable pada tingkat harga privat dengan nilai tambah input tradable pada tingkat harga sosial. Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai EPC pada pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas kurang dari satu (EPC < 1) untuk setiap tahun produksinya yaitu berkisar antara 0,96 sampai 0,98 (Tabel 12). Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani lada cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output tidak sesuai dengan harga yang seharusnya (harga sosial). Kondisi ini membuktikan bahwa secara simultan kebijakan pemerintah terhadap output – input tidak memberikan perlindungan yang efektif bagi petani lada untuk berproduksi.
6.4. Analisis Sensitivitas Terhadap Daya Saing Pengusahaan Komoditi