III. METODOLOGI PENELITIAN
5.3 Analisis Kinerja Piutang
5.3.1 Analisis Kinerja Kebijakan Pemberian Kredit
Analisis yang digunakan untuk mengetahui kinerja dari kebijakan pemberian kredit adalah:
5.3.1.1 Analisis 5C
Ada dua kriteria utama yang menjadi bahan pertimbangan oleh perusahaan dalam memilih pelanggannya, yaitu lokasi dan citra yang dimiliki oleh calon pelanggan. Lokasi merupakan faktor yang paling penting dalam memilih pelanggan, jika lokasi calon pelanggan terletak di jalur distribusi perusahaan maka selanjutnya akan dilakukan penilaian
terhadap image atau citra yang dimiliki calon pelanggan. Untuk mengetahui karakter calon pelanggan, perusahaan hanya melakukan pengamatan langsung terhadap kebiasaan sehari-hari dari yang bersangkutan melalui rekan bisnis yang dimiliki calon pelanggan. Perusahaan tidak melakukan penelitian terhadap kondisi politik yang memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan membayar dari calon pelanggannya namun berdasarkan pengalaman perusahaan, kerusuhan dan pemilu adalah dua kondisi yang menyebabkan penurunan penjualan sayur dan peristiwa penurunan penjualan ini dapat dijadikan indikasi bahwa kemampuan membayar dari pelanggan tengah menurun. Setelah melakukan tahap penilaian seperti di atas barulah perusahaan memutuskan apakah akan melakukan kerja sama atau tidak.
Dalam prakteknya perusahaan tidak melakukan analisis 5C secara mendetail, hal ini disebabkan karena:
1. Perusahaan adalah perusahaan yang melakukan penjualan barang dan bukanlah perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal sehingga pada dasarnya perjanjian dilakukan atas dasar kepercayaan. Bagi perusahaan, semakin banyak pelanggan artinya semakin banyak pembelian yang akan terjadi dan hal ini dapat berakibat pada peningkatan volume penjualan.
2. Perusahaan hanya memiliki jumlah karyawan kantor sebanyak 24 orang, sehingga tidak ada tim khusus yang di bentuk oleh perusahaan untuk melakukan analisis mendalam terhadap calon pelanggan.
Penilaian melalui analisis 5C dapat membantu perusahaan dalam menyaring dan menyeleksi pelanggannya, akan tetapi karena perusahaan tidak melakukan analisis ini secara mendetail maka dikhawatirkan bahwa pelanggan yang ada adalah pelanggan yang berada di atas batas resiko yang dapat diterima perusahaan.
36
5.3.1.2 Analisis Investasi Piutang
Analisis investasi piutang digunakan untuk menunjukkan besarnya dana yang tertanam dalam satu kali perputaran dan besar kecilnya tergantung jumlah penjualan yang dilakukan dan lamanya periode kredit. Semakin lama periode kredit berlangsung, semakin besar dana yang tertanam dalam piutang untuk setiap kali perputaran. Tabel di bawah ini menyajikan hasil perhitungan analisis investasi piutang sebagai berikut:
Tabel 2 . Analisis Investasi Piutang (Dalam Milyar Rupiah )
Analisis Investasi Piutang Tahun
2006 2007 2008 1. Rasio Investasi Piutang 0,86 1,23 1,34
0 0.5 1 1.5 Rupiah (dalam milyar) 2006 2007 2008 Tahun
Rasio Investasi Piutang
Rasio Investasi Piutang
Gambar 4. Rasio Investasi Piutang Tahun 2006-2008.
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa biaya investasi piutang mencapai angka milyaran rupiah, angka investasi ini terus meningkat tiap tahunnya dan ini menandakan bahwa piutang baru dapat dikumpulkan dalam waktu yang lama.
5.3.1.3 Analisis Rasio Solvabilitas
Analisis solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajibannya. Analisis ini disebut juga analisis pengungkit, yang dapat mengukur kemampuan perusahaan menggunakan utang untuk meningkatkan pengembalian kepada pemegang saham. Tabel di bawah ini menyajikan hasil perhitungan analisis rasio sebagai berikut:
Tabel 3. Rasio Solvabilitas Tahun 2006-2008 (Dalam Persentase)
Rasio Solvabilitas Tahun
2006 2007 2008 1. Rasio Kewajiban 4,69 3.25 5.35 2. Rasio Modal Sendiri 95,31 96.75 94.65
0 20 40 60 80 100 Persentase 2006 2007 2008 Tahun Rasio Solvabilitas Rasio Kewajian Rasio Modal Sendiri
Gambar 5. Rasio Solvabilitas Tahun 2006-2008.
Rasio kewajiban adalah rasio yang mengukur besarnya total aktiva yang dibiayai oleh kreditur perusahaan. Dari standar maksimal sebesar 100 persen, perusahaan hanya memiliki nilai dengan kisaran tiga hingga enam persen. Hal ini berarti aktiva perusahaan telah dibiayai sebesar tiga hingga enam persen oleh hutang sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan memiliki kemampun yang besar untuk melunasi seluruh kewajibannya. Angka rasio modal sendiri dari tahun 2006 hingga 2008 selalu berada diatas angka 90 persen artinya jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva hanya sedikit dan angka ini juga mencerminkan margin of safety yang tinggi bagi perusahaan yaitu 9:1. 5.3.2 Analisis Kinerja Kebijakan Penagihan Piutang
Analisis yang digunakan untuk mengetahui kinerja dari kebijakan penagihan piutang adalah:
5.3.2.1 Analisis Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur kinerja
38
perusahaan adalah rasio lancar dan rasio cepat. Tabel di bawah ini menyajikan hasil perhitungan rasio likuiditas perusahaan sebagai berikut: Tabel 4. Rasio Likuiditas Tahun 2006-2008 (Dalam persentase)
Rasio Likuiditas Tahun
2006 2007 2008 1. Rasio Lancar 695,37 1275,65 850,26 2. Rasio Cepat 695,37 1275,65 850,26 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 persentase 2006 2007 2008 tahun Rasio Likuiditas Rasio Lancar Rasio Cepat
Gambar 6. Rasio Likuiditas Tahun 2006-2008.
Hasil analisis likuiditas yang terdiri dari rasio lancar dan rasio cepat menunjukkan bahwa perusahaan sangat likuid karena untuk tiap tahunnya perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva yang dimiliki perusahaan. Angka rasio lancar perusahaan untuk tiap tahunnya berada diatas 200 persen. Pada tahun 2007 angka rasio lancar dan rasio cepat meningkat sebanyak 580,28 persen, hal ini disebabkan karena total aktiva lancar mengalami peningkatan sebesar 40,42 persen sementara total kewajiban mengalami penurunan sebesar 23,46 persen. Pada tahun 2008 angka rasio lancar dan rasio cepat kembali menurun sebesar 425,38 persen karena jumlah kewajiban di tahun 2008 meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah kewajiban pada tahun 2007.
Angka rasio cepat memiliki nilai yang sama dengan angka rasio lancarnya, hal ini terjadi karena perusahaan tidak memiliki persediaan bahan olahan. Semakin tinggi nilai rasio lancar dan rasio cepat maka
likuiditas perusahaan semakin baik, akan tetapi perusahaan perlu memperhatikan bahwa rasio lancar yang terlalu tinggi mungkin menunjukkan kelebihan uang kas atau aktiva lancar lainnya dibandingkan dengan yang dibutuhkan sekarang. Perusahaan harus mewaspadai kemungkinan bahwa saldo piutang yang besar merupakan piutang yang sudah lama terjadi dan sulit ditagih sehingga nilai realisasinya mungkin lebih kecil dibandingkan dengan yang dilaporkan.
5.3.2.2 Analisis Rasio Aktivitas
Analisis aktivitas mengukur efisien tidaknya pengelolaan piutang yang dimiliki oleh perusahaan. Analisis ini menganggap perlunya suatu keseimbangan yang tepat antara investasi dalam pos aktiva (piutang) dengan hasil yang diperoleh dari investasi tersebut. Analisis aktivitas yang digunakan adalah :
1. Analisis Perputaran Piutang
Analisis perputaran piutang menunjukkan berapa kali suatu perusahaan menagih piutangnya dalam suatu periode. Angka ini menunjukkan efisiensi perusahaan dalam mengelola piutangnya. Tabel di bawah ini menyajikan hasil perhitungan analisis perputaran piutang sebagai berikut:
Tabel 5. Rasio Perputaran Piutang Tahun 2006-2008 (Dalam Kali)
Rasio Aktivitas Tahun 2006 2007 2008 1. Rasio Perputaran Piutang 4,14 3.08 3.33
0 2 4 6 kali 2006 2007 2008 t ahun Rasio Aktivitas Rasio Perputaran Piutang
40
Angka rasio perputaran tahun 2007 menurun sebesar 1,06 kali bila dibandingkan tahun 2006, sedangkan dari tahun 2007 ke tahun 2008 perputaran piutang mengalami peningkatan sebesar 0,15 kali. Rasio yang rendah dan saldo piutang yang besar menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kesulitan dalam penagihan. Putaran piutang tahun 2007 merupakan angka rasio terkecil jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, hal ini menunjukkan bahwa efisiensi penagihan makin buruk selama periode itu, karena makin lamanya penagihan dapat dilakukan. 2. Analisis Periode Penagihan Rata-Rata.
Angka yang dihasilkan dari analisis periode penagihan rata-rata merupakan petunjuk lain untuk mengetahui efisiensi pengelolaan piutang. Ia menunjukkan berapa lama, secara rata-rata, perusahaan memerlukan waktu untuk menagih piutangnya. Tabel di bawah ini menyajikan hasil perhitungan rasio penagihan rata-rata sebagai berikut:
Tabel 6. Rasio Penagihan Rata-Rata Tahun 2007-2009 (Dalam Hari)
Rasio Aktivitas Tahun
2006 2007 2008 1. Rasio Penagihan Rata-Rata 87 117 109
0 20 40 60 80 100 120 Hari 2006 2007 2008 Tahun
Rasio Penagihan Rata-Rata
Rasio Penagihan rata-rta
Gambar 8 . Rasio Penagihan Rata-Rata Tahun 2006-2008.
Angka rasio penagihan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa perusahaan memerlukan waktu selama 87 hari, kemudian pada tahun 2007 angka rasio ini meningkat sebanyak 20 hari dan artinya pada tahun 2007 perusahaan memerlukan waktu yang lebih lama dalam mengumpulkan
piutangnya. Pada tahun 2008 angka rasio kembali menurun selama 6 hari. Perusahaan menetapkan kredit dengan batas waktu 30 hingga 90 hari setelah invoice diterima. Jika angka rasio penagihan rata-rata dibandingkan dengan batas bawah yaitu 30 hari maka angka ini membuktikan bahwa pembayaran piutang pelanggan pada perusahaan sangat lambat. Jika angka rasio penagihan rata-rata dibandingkan dengan batas atas yaitu 90 hari maka dari tiga tahun terbukti hanya tahun 2006 saja yang masih di bawah batas atas waktu kredit meskipun angka rasio pada tahun tersebut hanya memiliki selisih selama 3 hari. Dengan keadaan yang telah disebutkan di atas maka angka rasio dari tahun 2006 hingga 2008 menunjukkan pengelolaan kredit perusahaan yang buruk atau penagihan yang kurang baik.