• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Lingkungan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1. Analisis Lingkungan

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1. Analisis Lingkungan

3.1.1 Analisis Kualitas Air limbah Domestik Outlet STP

Sesuai dengan izin pemanfaatan air limbah domestic, PT. PJB UBJ O&M PLTU Rembang telah melaksanakan kewajibannya untuk memantau dan menganalisis kualitas air limbah domestic yang dilaporkan 3 bulan sekali dalam Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) PT PJB UBJ O&M Rembang. Sampel untuk pemantauan kualitas air limbah diambil dari Enfluent Chamber (Outlet STP) dengan titik koordinat S:06°38’09.61” E:1I1°28’21.57”. Berikut adalah hasil pemantauan kualitas air limbah domestik di STP PLTU Rembang selama 3 (tiga) tahun terakhir. Tabel 3.1 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik Tahun 2015

42

Tabel 3.2 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik Tahun 2016

Tabel 3.3 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik Tahun 2017

Gambar 3.1 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik

Gambar 3.2 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik

Parameter pH Tahun 2016

Gambar 3.3 Hasil Pemantauan Kualitas Air Limbah Domestik Parameter pH Tahun 2017

Berdasarkan hasil laboratorium pemantauan kualitas air limbah domestik PLTU Rembang pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 kelima parameter pemantauan (pH, total suspended solid, tembaga (Cu), besi (Fe), mangan (Mn)) memenuhi baku mutu yang telah di tetapkan. Rata – rata parameter pH pada tahun 2015 adalah sebesar 7.17, pada tahun 2016 sebesar 7,88 dan pada tahun 2017 sebesar 7,77. Pada bulan Juni, 2015 parameter TSS mengalami kenaikan yang sangat tinggi sebesar lebih 80 angka.

44

Namun, walaupun terjadi kenaikan yang sangat tinggi nilai TSS pada bulan Juni, 2015 masih tetap berada di bawah baku mutu. Karena pemeriksaan kualitas air limbah selama 3 tahun dilakukan pada laboratorium yang berbeda maka ada perbedaan pada batas bawah nilai pemantauan. Namun, untuk parameter tembaga, besi, dan mangan selama 3 tahun terakhir tidak ada yang melebihi baku mutu yang telah ditetapkan.

Selain pemeriksaan rutin diatas, PT PJB UBJ O&M PLTU Rembang juga melakukan pemeriksaan kualitas kimia air khususnya unsur –unsur yang merupakan unsur hara bagi tanaman. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kandungan unsur hara tanaman pada air STP karena air digunakan untuk penyiraman tanaman. Pengujian sampel air STP dilakukan pada tanggal 9 Februari 2018. Parameter yang dilakukan pengujian antara lain adalah : kalsium, magnesium, nitrogen total, kalium, seng, selenium, nitrat, phosphat, dan klor. Berikut adalah hasil laboratorium pemeriksaan dan pengujiannya.

Diantara ke 10 parameter diatas dapat dilihat bahwa unsur yang paling tinggi kandungannya dalam air STP adalah unsur magnesium. Kemudian unsur kalsium dan kalium. Magnesium, kalium, dan kalsium merupakan unsur basa yang umumnya

diserap tanaman dengan bentuk ion positif (kation) dalam tanah. Unsur magnesium yang tinggi ini mungkin yang menyebabkan pH air STP cenderung basa (pH diatas 7). Diantara semua parameter selenium adalah unsur yang paling rendang kandungannya di dalam air STP. Selenium selain merupakan unsur hara mikro tanaman juga dibutuhkan oleh manusia sebagai zat gizi makro yang jumlahnya sangat kecil.

Dalam peraturan daerah provinsi jawa tengah No. 5 tahun 2012 parameter Selenium memiliki baku mutu maksimal dalam air limbah yaitu sebesar 0,05mg/L, sehingga kandungan selenium dalam air STP memenuhi baku mutu tersebut. Kemudian parameter lain yang dilakukan pengukuran dimana baku mutunya juga ada dalam Perda Provinsi Jateng No.5 Tahun 2012 yaitu seng, klor bebas dan nitrat. Baku mutu untuk seng adalah 20mg/L, nitrat 20mg/L, dan baku mutu untuk klor bebas adalah 1mg/L. Pada ketiga parameter tersebut air limbah domestik (air STP) di PT PJB UBJ O&M PLTU Rembang memenuhi baku mutu.

3.1.2 Analisis Hasil Pemantauan Kualitas Air tanah di Lahan Aplikasi.

Sesuai dengan izin pemanfaatan air limbah domestic di STP yang dikeluarkan oleh kepala badan lingkungan hidup kabupaten rembang tahun 2013, PLTU Rembang telah melaksanakan kewajiban untuk membuat sumur pantau. Sumur pantau ini dibuat dengan maksud untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Sumur pantau pada lahan kontrol pemanfaatan air STP terletak di belakang masjid di sebelah lapangan futsal PLTU Rembang dengan titik koordinat S:06°38’06.0” E:111°28’36.0”. Pemantauan kualitas air tanah sumur pantau pemanfaatan air STP dilakukan secara

46

berkala setiap 3 bulan.

Tabel 3.4 Hasil Pemantauan Kualitas Air Tanah di Lahan Aplikasi Pemanfaatan Air Limbah Tahun 2017

Gambar 3.4 Hasil Pemantauan Kualitas Air Tanah Sumur Pantau Pemanfaatan Air STP

Parameter yang digunakan oleh PT PJB UBJ O&M PLTU Rembang untuk pemantauan kualitas air tanah adalah berdasarkan dari Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 tahun 1990 tentang Syarat – Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Pemantauan kualitas air tanah sumur pantau yang dilakukan pada tahun 2017 menunjukkan tidak melebihi dari baku mutu yang telah ditetapkan. Pada paremeter material organik total ada dua periode yang melebihi dari baku mutunya, yaitu pada triwulan kedua dan triwulan ketiga.

Pada parameter pH menunjukkan pH air tanah cenderung berada pada angka diatas 7 (netral) tapi tidak melebih baku mutunya yaitu 9, sehingga air tanah bersifat agak basa. Apabila dilihat dari hasil pemantauan parameter pH air limbah, rata – rata nilai pH-nya juga diatas pH netral atau cenderung basa. Kemudian pada master plant pengembangan kawasan konservasi PT PJB UBJ O&M PLTU Rembang dikatakan dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan bahwa air di Kabupaten Rembang banyak mengandung kapur. Nilai pH air tanah pada sumur pantau air STP yang cenderung basa kemungkinan disebabkan oleh hal

tersebut.

3.1.3 Analisis Status Kesuburan Tanah lahan Aplikasi pemanfaatan Air Limbah

Gambaran Umum Tanah dan Topografi PLTU Rembang

Secara topografi, Kabupaten Rembang memiliki karakteristik wilayah yang bervariasi meliputi : daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan daerah pegunungan. Berdasarkan peruntukannya wilayah di Kabupaten Rembang secara umum dibedakan menjadi lahan sawah, lahan bukan sawah, danlahan bukan pertanian. Sebagian besar wilayah Kabupaten Rembang digunakan untuk perkebunan (penggunaan lahan kering) dan sawah tadah hujan. PLTU Rembang berada di daerah pantai, tepi pantai utara pulau jawa. Kawasan PLTU memiliki ketinggian rata – rata setinggi 10m diatas permukaan laut. Secara umum keseluruhan dari kawasan PLTU Rembang memiliki relief datar. Kawasan ini telah mengalami proses gali urug sehingga membentuk dataran artifisial. Di kawasan PLTU Rembang juga terdapat cekungan – cekungan buatan yang digunakan untuk landfill dan kolam –kolam.

Menurut peta tanah FAO/UNESCO 1974 dalam master plant pengembangan kawasan konservasi , jenis tanah di kawasan PLTU Rembang termasuk jenis tanah Luvisols. Tanah luvisols adalah tanah dengan tanah liat aktivitas tinggi dan saturasi basa yang tinggi. Kemudian menurut PPT 1978/1982, tanah luvisols juga merupakan kelompok tanah mediteran. Tanah dalam kelompok mediteran bahan induk atau bahan penyusunnya terdiri atas kapur, dan tekstur pada tanah mediteran adalah tekstur lempung sehingga menyebabkan permeabilitasnya menjadi lambat.

Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah melalukan air (kecepatan air menembus tanah) pada periode tertentu diukur dengan menggunakan air dalam waktu tertentu dan dinyatakan dalam cm/jam.

Hasil Pemantauan Kualitas Tanah

Analisis status kesuburan tanah dapat dilihat dari unsur – unsur hara yang tersedia di dalam tanah. Unsur – unsur hara yang tersedia di tanah mempunyai peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan tanaman, khususnya tanaman yang di tanam pada tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik di STP PT PJB UBJ O&M Rembang Jawa Tengah. Tanah di lahan ini merupakan tanah yang menjadi pengaplikasian pemanfaatan air limbah domestik, digunakan untuk menyirami tanaman. Titik pengambilan sampel untuk pemantauan kualitas tanah terletak di dekat sumur pantau STP dengan koordinat S06°38.097’ E111°28.591’. Selain melihat ketersediaan unsur hara dalam tanah, dapat juga dilihat dari reaksi tanah yang ditandai dengan derajat keasaman tanah, kapasitas tukar kation, C/N ratio, kejenuhan basa, dan kejenuhan aluminium.

50

Tabel 3.5 Hasil Pemantauan Tanah Lahan Aplikasi Pemanfaatan Air Limbah Domestik di STP PT PJB UBJ O&M Rembang

1.Bahan Organik (C-organik)

Bahan organic tanah diartikan sebagai seluruh karbon di dalam tanah yang berasal dari sisa tanaman/tumbuhan dan hewan yang telah mati, kebanyakan sumbernya berasal dari tanaman dan hewan yang telah mati. Perbedaan sumber dan jumlah dari bahan organik yang tersedia akan memberikan pengaruh yang berbeda pula pada sumbangan bahan organic di dalam tanah.

Bahan organik tanah (BOT) berfungsi penting dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah - tanah mineral. Kadar BOT

secara langsung akan mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. Kadar bahan organik (nilai C-organik) di tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik tergolong tinggi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh adanya akumulasi bahan organik dan proses dekomposisi bahan organik yang terjadi pada lapisan tanah.

2.Nitrogen (N)

Nitrogen (N) merupakan hara makro utama yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian besar tanaman umumnya menyerap unsur N dari tanah dalam bentuk NH4+ (amoniak) dan NO3- (nitrat). Keberadaan N di dalam tanah bersifat mobile yaitu mudah hilang karena menguap ke udara, tercuci, maupun terangkut bersama erosi. Ketersediaan N tanah sangat tergantung dari bahan organik tanah sebagai sumber utamanya. Pada tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik di STP tergolong sangat rendah karena hanya sebesar 0,02mg/100g tanah.

Nitrogen memiliki peran dalam fungsi pertumbuhan tanaman. Nitrogen merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan terutama pada pertumbuhan batang, cabang, dan daun. Nitrogen juga mempunyai peran penting dalam proses fotosintesis yaitu dalam membantu pembentukan zat hijau daun (klorofil). Tanpa klorofil tanaman tidak dapat melakukan fotointesis, apabila proses fotosintesi terganggu maka proses pembuatan makanannya akan terganggu dan tentu saja akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, nitrogen juga dapat membentuk senyawa protein (asam amino), lemak dan senyawa organic lain.

Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen pertumbuhannya akan terlambat dan seringkali menjadi kerdil. Kekurangan nitrogen pada tanaman dapat menyebabkan daun

52

mengalami klorosis sehingga daun akan menguning, mongering, kemudian akan rontok. Ini dikarenakan terganggunya proses pembentukan klorofil.

3.C/N Ratio

C/N ratio adalah perbandingan antara ketersediaan bahan organic dengan nitrogen dalam tanah, rasio massa karbon terhadap massa nitrogen. Bahan organic yang masih baru memiliki C/N rasio yang lebih tinggi dibandingkan C/N rasio bahan organic yang telah mengalami penguraian (bisa juga dengan pengomposan). Setiap bahan organik memiliki C/N rasio yang berbeda – beda. Semakin tinggi C/N rasio maka waktu yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik tersebut akan semakin lama, sehingga akan membutuhkan waktu yang lama juga untuk tumbuhan menyerap unsur – unsur yang telah terurai pada bahan organic tersebut.

Pada tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik di STP menunjukkan nilai C/N rasio yang sangat tinggi, dikarenakan ketersediaan unsur nitrogen yang sangat rendah. Namun nilai C/N yang tinggi juga diartikan ketersediaan energy untuk organisme tanah berlimpah sehingga organisme tanah dapat berkembang pesat dengan melakukan dekomposisi pada bahan organic yang tersedia.

4.Fosfor (P)

Seperti unsur N, unsur hara P juga merupakan hara makro penting. Kadar hara P tersedia yang tinggi akan menguntungkan bagi tanaman sehingga tanah-tanah demikian cenderung subur (Leiwakabessy dan Koswara, 1985). Jumlah P tersedia dalam tanah ditentukan oleh besarnya P dalam komplek jerapan (P-total)

yang mekanisme ketersediaannya diatur oleh pH dan jumlah bahan organik tanah (Susanto, 2005). Kadar P tersedia di lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik termasuk medium dan cenderung tinggi dilihat dari kandungan P2O5.. Tingginya kandungan forfor di tanah juga diduga karena reaksi tanah yang cenderung basa dan ketersediaan bahan – bahan organik yang tinggi.

Fosfor digunakan oleh tanaman untuk merangsang pertumbuhan akar. Pertumbuhan akar ini khususnya pada pertumbuhan akar pada benih dan tanaman muda. Fosfor juga digunakan sebagai salah satu bahan untuk pembentukan senyawa protein dan mineral yang sangat penting bagi tanaman. Fungsi fosfor yang lain adalah untuk KT. Kekurangan unsur fofor pada tanaman akan menyebabkan pembungaan dan pembuahan terganggu. Apabila tanaman berbunga dan kekurangan fosfor maka bunga yang dihasilkan akan berukuran kecil, tidk sempurna, dan akan cepat layu.

5.Reaksi Tanah (pH)

Reaksi tanah yang ditunjukkan oleh nilai pH tanah merupakan petunjuk ketersediaan unsur-unsur hara bagi tanaman. Tanah di lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik di STP menunjukkan derajat kemasaman pada tanah tergolong agak alkalis atau basa dilihat dari pH air sebesar 8,13 dan pH KCl sebesar 7,40. Reaksi tanah yang cenderung atau agak basa ini mempengaruhi ketersediaan hara makro seperti P, K, Ca, dan Mg. Nilai pH yang cenderung basa ini dibuktikan dengan ketersediaan unsur hara fosfor dan magnesium yang tinggi untuk pertumbuhan tanaman di tanah lahan apiikasi pemanfaatan air limbah domestik.

54

6.Kapasitas Tukar Kation

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan status kesuburan tanah. KTK dapat diartikan sebagai kemampuan koloid tanah menyerap dan mempertukarkan kation yang ada di tanah. KTK merupakan nilai maksimal besarnya kemampuan tanah menyerap kation-kation baik basa maupun asam yang dinyatakan dalam milli ekuivalen (me) per 100 gram tanah. Kation-kation basa yang dijerap pada komplek koloid tanah umumnya adalah Ca, Mg, K dan Na. Nilai KTK pada tanah lahan aplikasi pemanfaatan air STP tergolong tinggi, sehingga memungkinkan penyerapan dan penyediaan unsure hara di tanah lebih baik daripada tanah yang memiliki nilai KTK yang rendah. Tingginya KTK tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik dikarenakan tanah termasuk tanah yang baru berkembang dan belum banyak mengalami proses pencucian. Selain itu pH tanah dan ketersediaan bahan organik dalam tanah juga akan memengaruhi tingginya kapasitas tukar kation pada tanah. Kemudian proses pemupukan juga dapat membantu meningkatnya KTK tanah

7.Kation Dapat Ditukar (K, Ca, Na , Mg)

Di samping unsur hara N dan P, unsur hara makro penting lainnya bagi pertumbuhan tanaman adalah unsur K, Ca, Mg dan Na. Unsur-unsur hara tersebut diserap dari tanah dalam bentuk ion-ion positif (kation-kation basa dapat ditukar). Keberadaan unsur-unsur hara tersebut secara cukup dapat menyeimbangkan kesuburan tanah. Kation dapat ditukar pada tanah lahan aplikasi untuk ketersediaan unsur kalium dan kalsium termasuk rendah hanya sebesar 0,27 mg/100g tanah untuk unsur kalium dan sebesar 3,66 mg/100g tanah untuk kalsium. Ketersediaan Natrium

pada tanah lahan aplikasi adalah medium, dan ketersediaan Magnesium sangat tinggi sebesar 14,5 mg/100g tanah. Sehingga disimpulkan bahwa pertukaran kation di tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestic di STP didominasi oleh unsur magnesium.

Secara spesifik kalium berfungsi dalam membantu pembentukan protein, karbohidrat, dan gula. Krbohidrat dan gula dibentuk dari proses fotosintesis. Gula yang terbentuk di daun akan diangkut ke jaringan tanaman yang lain, kalium sebagai kation membantu proses pengangkutan ini. Kation kalium juga membantu memperkuat jaringan tanaman sehingga daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Selain itu kalium jugadapat meningkatkan daya tahan tanaman trhadap menyakit. Kekurangan kation kalium ini dapat menyebabkan daun tumbuhan akan mengerut dan menjadi keriting. Kemudian perkembangan akar akan terhambat, kualitas dan mutu dari bungan dan buah yang dihasilkan juga akan menurun.

Fungsi kalsium pada pertumbuhan tanaman khususnya adalah mengaktifkan pembentukan bulu – bulu akar dan menguatkan batang. Kalsium juga membantu dalam proses penyerbukan dan merangsang pembentukan biji. Apabila tanaman kekurangan unsur kalsium maka akar tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, khususnya pada rambut akar. Kekurangan kalsium juga dapat menyebabkan menurunnya kualitas dan mutu dari buah yang dihasilkan. Kemudian dapat menyebabkan kuncup pada tanaman muda tidak berkembang dan mati.

Magnesium dalam tanaman berfungsi sebagai aktivator pada proses transportasi energy dari beberapa macam enzim. Magnesium di tanaman dominan terdapat pada bagian daun, karena sangat penting untuk ketersediaan di klorofil untuk membantu proses

56

fotosintesis. Magnesium juga adalah komponen yang sangat penting dalam pembentukan klorofil dan dalam proses sintesis protein. Hal yang tidak kalah penting dari magnesium adalah membantu transport fosfat pada tanaman. Apabila tanaman kekurangan unsure ini dapat menyebabkan kekurangan energy untuk mengangkut berbagai unsure. Tanaman yang kekurangan kation magnesium memiliki ciri - ciri yang mirip seperti gejala etiolasi atau gejala yang timbul sat tanaman kekurangan cahaya. Gejala lain yang timbul adalah pada daun tua akan timbul bercak – bercak kuning dan daun menjadi lemah, mudah layu dan terserang penyakit.

8.Kejenuhan Basa dan Kejenuhan Aluminium

Indikator tingkat kesuburan lainnya dapat dilihat dari besarnya parameter kejenuhan basa (base saturation). Kejenuhan basa adalah persentase banyaknya kation-kation basa yang terjerap dalam 100 g tanah. Kejenuhan basa pada tanah lahan apikasi pemanfaatan air limbah domestic tergolong tinggi sebesar 27,7 pada januari tahun 2017 dan kemudian sebesar 32,8 pada bulan juli tahun 2017. Hal ini dapat dilihat juga pada ph tanah yang cenderung basa, nilai kapasitas tukar kation yang tinggi, dan ketersedian unsur magnesium yang sangat tinggi serta ketersediaan unsur natrium yang medium.

Nilai kejenuhan aluminium pada tanah lahan aplikasi adalah 0 pada triwulan I dan II, dan bernilai 1 pada triwulan IV 2017. Ini dapat dikarenakan pH tanah yang cenderung basa dan jumlah kation basa yang tinggi. Hal ini juga didukung dengan kapasitas tukar kation untuk unsur basa yang tinggi sehingga tanah di dominasi oleh unsure basa daripada unsur asam yakni aluminium.

3.1.4 Analisa Pemanfaatan Air Limbah Domestik dan Tanah Lahan Aplikasi Pemanfaatan

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa tanah lahan aplikasi pemanfaatan air limbah domestik tergolong tanah yang cenderung basa atau alkalis dengan ketersediaan unsur kation basa khususnya unsur magnesium yang sangat tinggi. Jika dilihat dari kondisi tanah kawasan PLTU Rembang sebelumnya memang merupakan tanah mediteran yang memiliki tanah liat aktivitas tinggi dan saturasi basa yang tinggi. Dijelaskan juga sebelumnya bahwa tanah di kawasan PLTU Rembang bahan induknya adalah kapur. Hal ini juga yang menjadikan reaksi tanah (pH) cenderung basa atau alkalis.

Tabel 3.6 Hasil Pemantauan Tanah Lahan Aplikasi Pemanfaatan Air STP Parameter Tekstur

Pada hasil pemantauan tanah lahan aplikasi pemanfaatan air STP untuk parameter tekstur, didapati bahwa tekstur tanah lahan aplikasi pemanfaatan air STP adalah lempung berliat. Persentasi atau kadar liat di dalam tanah sebesar 37%. Tekstur tanah lahan ini masih tetap sesuai dengan tekstur tanah sebelum menjadi tanah lahan aplikasi. Kelompok tanah mediteran yang memiliki tekstur lempung ini berwarna merah sampai kecoklatan. Kelompok tanah mediteran ini juga merupakan tanah yang subur

58

di daerah kapur dari pada jenis tanah kapur lainnya.

Pada hasil pemeriksaan beberapa unsur hara dalam air STP didapatkan hasil bahwa kandungan magnesium adalah yang paling tinggi diantara unsur lainnya. Apabila dibandingkan dengan magnesium per 100gram tanah sebesar 14,5 , jumlah magnesium dalam air STP adalah sebesar 118mg per liter air. Jumlah unsur magnesium yang tinggi mungkin menyebabkan pH tanah dan pH air STP menjadi agak alkalis atau basa. Apabila dilihat dari nilai derajat keasaman (pH) pada air limbah domestik yang digunakan untuk menyirami tanaman di lahan aplikasi, air limbah domestik yang telah diolah di STP memiliki kecenderungan sifat agak basa. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.4 sampai tabel 4.6 hasil pemantauan kualitas air limbah parameter pH pada tahun 2015 - 2017 yang rata – rata berada pada nilai diatas 7 (netral). pH yang cenderung basa diduga karena di dalam outlet air limbah domestik terdapat unsur – unsur kation basa. Unsur – unsur kation basa tersebut sangat dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga kemungkinan penyiraman tanaman di lahan aplikasi menggunakan air STP membantu memberi ketersediaan unsur – unsur hara tanah yang dibutuhkan oleh tanaman selain dilakukannya pemupukan.

N total dalam air sebesar 2mg/L sedangkan pada tanah hanya sebesar 0,02. Nitrogen dalam tanah sangat mudah hilang karena menguap, tercuci, atau terbawa bersama erosi pada lapisan tanah. Unsur hara fosfor pada tanah lahan aplikasi termasuk dalam kategori medium sampai tinggi. Fosfor pada air STP di periksa dalam bentuk fosfatnya dengan hasil 1,03.

Rendahnya kadungan unsur Nitrogen dalam air STP atau tanah lahan aplikasi tidak menjadi masalah apabila tanaman yang ditanam di lahan aplikasi bukan jenis tanaman yang membutuhkan

unsur Nitrogen yang tinggi seperti padi. Proses aerasi dalam STP dapat menghasilkan nitrogen yang tinggi dengan cara mengatur mikroorganisme yang digunakan dalam proses aerasi. Atau menanam tanaman yang dapat menghasilkan atau mengikat nitrogen dalam tanah seperti tanaman kacang hijau, buncis, kacang tanah, dan kacang kedelai.

Selain itu untuk meningkatkan pemanfaatan air STP untuk kegiatan penghijauan dapat dilakukan juga bertanam dengan cara hidroponik. Selain dapat meminimalisasi limbah cair yang dibuang dan meningkatkan penggunaan kembali limbah cair, hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas untuk melakukannya dan membutuhkan biaya yang lebih ekonomis karena tidak perlu perawatan terhadap tanah yang lebih banyak faktor tak dapat dikendalikan seperti cuaca. Beberapa tanaman yang mungkin cocok dengan kondisi air STP dan bisa dimanfaatkan hasilnya antara lain seperti seledri dan sawi yang lebih banyak membutuhkan

Dokumen terkait