IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Analisis Lingkungan
4.3.2 Analisis Lingkungan Internal Perusahaan
Lingkungan internal adalah lingkungan organisasi yang berada dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi yang langsung terhadap kinerja organisasi. Analisis lingkungan internal ini merupakan proses identifikasi terhadap faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal organisasi dengan mengkaji kinerja bagian fungsional yang ada, seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan manajemen operasi serta aspek ekonomi dan keuangan.
a. Aspek Pasar dan Pemasaran 1. Harga
Produk tersebut dijual ke pasaran dengan ukuran antara 1-2,5 inci, tetapi kebanyakan pada ukuran 1-2 inci. Dengan ukuran tersebut benih ikan Patin sudah kuat untuk di tebar dalam kolam budidaya pembesaran dengan tingkat Survival Rate (SR) yang tinggi dibandingkan dengan ukuran yang lebih kecil. Harga untuk benih ikan Patin tersebut bervariasi tergantung dari ukuran benih dan kondisi jumlah benih ikan Patin yang ada dipasaran. Semakin besar ukuran benih ikan dan ketersediaanya terbatas di pasaran menyebabkan semakin mahal harganya dengan kisaran harga antara Rp.150 – 250 per ekor.
2. Jalur Pemasaran
Benih Patin umumnya dijual langsung ke pembudidaya ikan atau pedagang perantara. Rantai pemasaran benih Patin dapat dilihat pada Gambar 5. Penjualan secara langsung tersebut mencapai sekitar 70-90% (rataan 80%), baik dengan cara datang langsung ke lokasi pembenihan maupun pemesanan benih terlebih dahulu. Penerimaan hasil penjualan oleh CV. Mika Distrindo sesuai dengan harga kesepakatan harga di tempat. Pembeli datang langsung ke hatchery untuk melakukan transaksi jual beli sehingga untuk biaya transportasi tidak di bebankan kepada CV. Mika Distrindo.
Gambar 5. Jalur pemasaran benih Patin CV. Mika Distrindo
Pembenih Pengelondongan Pedagang
Pengusaha pembenihan ikan Patin melakukan pemanenan benih, penghitungan, dan pengepakan sendiri terhadap benih yang dijual. Jika pengiriman dilakukan atas dasar permintaan dari konsumen maka biaya pengiriman dengan sarana transportasi yang dimiliki pembenih maka dikenakan biaya tambahan dari harga pokok pembelian benih. Besar kecilnya tambahan biaya disesuaikan dengan jumlah pembelian dan jarak lokasi pengiriman. Dengan demikian, harga yang diterima produsen atau pengusaha pembenih rata-rata 110- 115% dari harga pokok pembelian. Penerimaan pembenih yang lebih tinggi dari harga yang dibayarkan konsumen disebabkan biaya transportasi untuk pengiriman benih ke lokasi konsumen atau pedagang perantara.
3. Kendala Pemasaran
Sampai saat ini relatif tidak ada kendala yang dihadapi pengusaha pembenih ikan Patin di CV. Mika Distrindo dalam hal pemasaran benih ikan Patin, karena hasil produksi belum mampu memenuhi permintaan pasar yang tinggi. Namun dalam kondisi tertentu, terjadi persaingan harga yang kurang sehat disebabkan oleh pedagang yang benihnya berasal dari luar daerah (benih dari Jawa Barat dan sekitarnya). Untuk itu peran asosiasi pengusaha pembesaran, pembenih dan pedagang ikan di Kota Metro khususnya dan Lampung pada umumnya untuk dapat mengontrol peredarannya. Salah satu cara guna menstabilkan harga adalah dengan meningkatkan produksi benih ikan Patin yang memiliki mutu, kuantitas dan kontinuitas benih yang dihasilkan agar dapat bersaing dengan benih kiriman dari luar daerah lampung.
b. Aspek Teknis dan Manajemen Operasi
Dalam budidaya ikan pada umumnya dan ikan Patin pada khususnya terdapat tiga (3) sub sistem pemeliharaan, yaitu pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Pembenihan ikan Patin pada umumnya bersamaan dengan subsistem pendederan, baik pendederan di dalam bak dan kadang dikombinasikan dengan pendederan di dalam kolam untuk mendapatkan benih kelas tebar kategori P II A (ukuran 1-2 inci) maupun hanya di dalam kolam untuk mendapatkan benih kategori P II B (ukuran 2-3 inci). Namun demikian ada pula kegiatan pendederan yang hanya dilakukan di dalam bak pemeliharaan larva (tanpa menggunakan
kolam). Pembenihan adalah kegiatan pemeliharaan induk untuk menghasilkan telur sampai dengan larva. Pendederan adalah kegiatan pemeliharaan benih ikan Patin hasil pembenihan untuk mencapai ukuran tertentu dan sebagai masa adaptasi sebelum dipelihara di tempat pembesaran. Agar dapat memperoleh produk benih sesuai dengan target kuantitas dan mutu yang diharapkan serta tepat waktu sesuai dengan permintaan, maka dalam proses produksi benih ikan Patin terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan akan dijelaskan dalam uraian di bawah ini.
1. Tanah dan Lahan
Tanah untuk lokasi pembenihan, terutama untuk kolam induk menggunakan kolam semi permanen. Kolam indukan yang digunakan memiliki dinding beton dengan dasar tanah. Sifat tanah yang baik untuk perikanan adalah tanah liat, atau lempung berpasir dan tidak porus, berwarna coklat atau kehitaman, tingkat keasaman (pH tanah) > 6, dengan tekstur 50-60 % liat, atau liat berlempung, fraksi pasir kurang dari 20 %, dan sisanya serbuk bahan organik. Sedangkan untuk kolam pendederan menggunakan konstruksi kolam dari beton dengan tambahan pelapis plastik atau terpal pada sisi-sisi dinding dan dasar kolam.
Lokasi pembuatan kolam tersebut tersebut berada di atas lahan stabil dengan kemiringan < 10%, sumber air yang digunakan adalah dari sumur bor, karena untuk menghindari terjadinya pencemaran dari bahan kimia berbahaya yang berasal dari obat-obatan pertanian jika menggunakan air dari saluran irigasi, gangguan keamanan, dan gangguan kompetitor untuk kolam indukan serta predator untuk kolam pedederan. Lahan yang digunakan berada di sekitar lahan pekarangan rumah di area permukiman dengan jarak kurang lebih 10 m dari rumah dan dekat dengan area persawahan.
2. Sumber Air
Air merupakan salah satu komponen penting dari proses produksi benih. Air yang digunakan untuk kegiatan pembenihan berasal dari air tanah (sumur bor). Mutu yang layak atau baik serta kuantitas yang mencukupi merupakan syarat utama dalam penggunaan air sebagai media dari pemeliharaan indukan, pemeliharaan larva sampai pada proses pendederan. Penggunaan air yang berasal
dari air tanah (sumur bor) memiliki keunggulan jika dibanding dengan penggunaan air dari saluran irigasi. Penggunaan air tanah dapat mengurangi terjadinya pencemaran terhadap media pemeliharaan jika dibanding dengan penggunaan air irigasi. Tetapi ada beberapa kelemahan dari air tanah jika dibandingkan dengan air yang berasal dari irigasi. Kandungan mineral air yang berasal dari air tanah sangat minim, jika dibandingkan dengan air yang berasal dari air irigasi. Tetapi dengan kemajuan teknologi yang telah berkembang, untuk menjadikan air tanah lebih kaya akan kandungan mineral, beberapa perlakuan dapat di tambahkan ke dalam media pemeliharaan sehingga dalam pembentukan badan air kaya mineral yang diinginkan dapat terpenuhi.
Perlakuan umum yang sering dilakukan dalam proses penggunaan air tanah yang akan digunakan adalah dengan melakukan treatment pada tendon (reservoir). Perlakuan dengan menggunakan kapur pada air tandon dilakukan selain untuk mensucihamakan air media juga dapat berperan dalam upaya penetralan pH air dan mengurangi kandungan phyrite yang ada di air tanah. Keadan pH air yang stabil merupakan salah satu syarat utama yang dibutuhkan dalam keberhasilan pembenihan.
3. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Fasilitas produksi dan peralatan yang dibutuhkan dalam pembenihan ikan Patin menjadi salah satu pendukung keberhasilan dalam usaha pembenihan. Kolam induk atau perawatan induk yang digunakan bersifat semi permanen yaitu menggunakan kolam dengan pematang tembok dengan dasar kolam dari tanah. Kolam indukan terdiri dari 3 unit ukuran (5x5x2) m3 dengan luasan 25 m2. Induk ikan Patin jantan dan betina dipelihara secara terpisah, tetapi dalam kolam yang sama dengan padat penebaran sekitar 4 ekor/m2. Dalam proses pemijahan, induk jantan dan betina digunakan hanya sekitar 5-6 kali pemijahan dan setelah itu dikategorikan sebagai induk afkir.
Tandon (recervoir) digunakan untuk mengolah air sebelum digunakan sebagai media pemeliharaan. Pengolahan air perlu dilakukan jika menggunakan air sumur bor sebagai air sumber kegiatan pembenihan mempunyai keasaman (pH) < 6,5. Tandon ini terdiri dari empat (4) unit dengan ukuran volume air sebesar 10 ton yang terbuat dari beton. Tandon digunakan untuk treatment air
menggunakan kapur, sehingga dapat menetralkan pH air dan dapat juga sebagai disinfektan. Volume kapur yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dengan rataan kebutuhannya sebanyak 50 kg/bulan.
Wadah isolasi/pemberokan induk yang telah diseleksi dan pemeliharan induk betina yang sudah dilakukan penyuntikan merupakan kolam induk yang di sekat dengan hapa ukuran (3x2x1)m3. Jumlah wadah isolasi/pemberokan induk sebanyak 2 unit untuk memisahkan indukan jantan dan betina.
Bangsal pembenihan, atau panti benih adalah bangunan permanen dengan seluas 120 m2. Panti benih berfungsi sebagai tempat penetasan telur ikan Patin, penetasan cyste artemia, perawatan larva di akuarium dan bak pemeliharaan larva. Penggunaan panti benih yang tertutup dari kontak luar untuk menjaga kestabilan suhu media dan udara di dalam panti benih pada siang dan malam hari, serta menjaga keamanan isi bangsal pembenihan. Bak penetasan dan pemeliharaan larva yang terdapat di dalam panti benih, difungsikan sebagai bak pemeliharaan ikan Patin sampai ukuran 0,5-0,75 inci. Bak pemeliharaan larva terbuat dari fiber dengan ukuran 1,5 ton dengan jumlah 20 unit bak fiber. Jumlah larva yang dipelihara di dalam bak ini sekitar 15.000-20.000 ekor/bak fiber.
Pendederan dilakukan pada kolam pendederan yang terletak di luar dari panti benih. Kolam pendederan yang digunakan berukuran (5x3x1) m3. Kolam pendederan digunakan untuk membesarkan benih sampai ukuran sekitar 1-2 inci atau lebih, karena beberapa konsumen menginginkan benih dengan ukuran tersebut. Jumlah kolam pendederan sebanyak 10 unit dimana dalam proses pendederan untuk tiap unit kolam dapat menampung 40.000-50.000 benih Patin.
Fasilitas pembenihan juga mempunyai wadah penetasan artemia sebagai pakan alami. Wadah ini berukuran sekitar 30 liter dan terbuat dari bahan fiber yang di pesan khusus, dengan jumlah 10 unit. Selain menggunakan wadah penetasan, di dalam lokasi pembenihan juga tersedia dua unit kolam untuk pakan alami. Fungsi kolam pakan alami tersebut selain untuk menampung cacing sutera juga digunakan sebagai tempat pengkulturan Daphnia.
Usaha pembenihan juga dilengkapi dengan sarana untuk meningkatkan suhu dan oksigen media pemeliharaan larva/benih. Sarana untuk meningkat suhu terutama di dalam panti benih dengan menggunakan kompor dengan bahan bakar
minyak tanah, atau gas. Sedangkan untuk meningkatkan kandungan oksigen di dalam media pemeliharaan larva digunakan Hi-blow mikro blower dengan 40-60 titik aerator per-blower. Untuk menjalankan mikro blower, diperlukan aliran listrik yang berasal dari PLN atau menggunakan genset cadangan.
4. Bahan Baku
Bahan yang diperlukan antara lain indukan Patin jantan dan betina, hormon buatan ovaprim, pakan alami (artemia dan cacing sutera), pakan buatan untuk induk dan benih, larutan fisiologis (larutan NaCl 0,9% atau larutan Ringer), garam dapur atau obat-obatan untuk perawatan larva yang terkena penyakit, kapur untuk meningkatkan pH air sumber yang rendah, gas elpiji atau minyak tanah untuk bahan bakar pemanas ruangan, solar dan bensin untuk bahan bakar genset, dan lain sebagainya.
Untuk target produksi benih Patin siam persiklus dengan jumlah lebih dari 250 ribu benih berukuran 1-1,5 inci, dibutuhkan bahan berupa induk jantan dengan jumlah 6-8 ekor yang berukuran > 2 kg/ekor dan betina 4-6 ekor dengan ukuran > 3 kg/ekor. Selanjutnya dibutuhkan ovaprim 20 ml atau 2 botol, larutan fisiologis (NaCl 0,9%) 3-4 botol, artemia 8-10 kaleng, cacing rambut atau cacing sutera 200-250 liter, pelet udang ukuran halus untuk pakan benih di bak pemeliharaan dan pendederan sekitar 30 kg.
5. Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja dalam usaha pembenihan Patin tergantung kepada skala usaha. Pada usaha pembenihan Patin di CV. Mika Distrindo menggunakan tenaga kerja dengan jumlah lima (5) orang. Setiap karyawan memiliki tanggung jawab yang berbeda beda atau ada pembagian kerja dalam sistem pembenihannya, dari yang bertanggungjawab terhadap peralatan, manajemen indukan, manajemen pakan dampai dengan pemanenan larva, tetapi dalam proses kegiatannya dijalankan secara bersama sama.
6. Teknologi
Teknologi yang diterapkan dalam pembenihan Patin yaitu pemijahan buatan dan treatment air. Pemijahan buatan dilakukan karena Patin dalam wadah budidaya sangat sulit untuk melakukan pemijahan secara alami. Pada prinsipnya pemijahan buatan dilakukan dengan dua (2) metode yaitu sistem kering dan sistem
basah dan di CV. Mika Distrindo melakukan dengan kombinasi sistem basah dengan sistem kering. Teknik metode pembuahan buatan, yaitu :
a) Pembuahan Sistem Kering
Dalam sistem kering ini telur yang telah dikeluarkan dan ditampung dalam wadah, kemudian dicampur dengan sperma yang baru/langsung dikeluarkan dari induk jantan, kemudian dicampur dengan bulu ayam selama kurang lebih 1 menit. Kemudian untuk aktifasi ditambahkan air yang kaya oksigen sambil diaduk-aduk dengan bulu ayam. Selanjutnya dibilas dengan air segar beberapa kali, kemudian ditetaskan.
b) Pembuahan Sistem Basah
Pada sistem basah ini, sebelum telur dikeluarkan terlebih dahulu dikeluarkan sperma dari induk jantan dan ditampung dalam wadah dan diencerkan dengan larutan NaCl fisiologis (larutan infus NaCl). Larutan tersebut selain berfungsi sebagai pengencer juga berfungsi sebagai pengawet. Spermatozoa dapat tahan hidup dalam larutan tersebut selama 12–24 jam pada suhu 5–10°C.
7. Proses Produksi a) Pengelolaan Induk
Pengelolaan induk merupakan tahap awal untuk menghasilkan benih yang bermutu baik sehingga menentukan keberhasilan kegiatan pembenihan ikan. Mutu induk yang baik ditunjang dengan pengelolaan yang tepat diharapkan dapat menghasilkan benih dengan mutu yang baik dan jumlah yang mencukupi. Kriteria induk yang akan digunakan antara lain, berdasarkan bentuk fisik, ukuran berat, umur, dan kesehatan. Induk betina yang layak dipijahkan telah berumur tiga (3) tahun dan beratnya telah mencapai > 3 kg/ekor. Sedangkan induk jantan yang siap dipijahkan telah berumur 2 tahun dan beratnya mencapai > 2 kg/ekor. Induk yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik, yaitu tidak terinfeksi oleh penyakit, parasit, dan luka akibat benturan, pukulan, goresan, sayatan, dan lain-lain.
Induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah tetapi dalam satu kolam pemeliharaan dengan memberikan skat berupa jaring hapa untuk memisahkannya. Kepadatan pemeliharaan indukan dalam satu (1) kolam, yaitu 2-4 ekor/m2. Pemeliharaan Induk dibuat dalam beberapa kelompok dan dipelihara secara terpisah untuk dapat digunakan pada proses pemijahan secara bergantian. Kolam
pemeliharaan induk menggunakan kolam semi permanen dengan ukuran (5x5x2)m3 dan memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air agar mempermudah dalam penyeleksian indukan yang siap dipijahkan.
Manajemen induk merupakan salah satu mata rantai yang amat penting dalam proses produksi benih ikan Patin, selain menajemen air dan pemeliharaan larva serta benih. Jumlah indukan yang dipelihara disesuaikan dengan skala usaha, karena harus memperhitungkan kebutuhan jumlah dan luasan kolam indukan serta biaya untuk pakan. Disamping itu, perlu dihindari terjadi lonjakan jumlah induk yang matang gonad dan siap dipijahkan karena dapat menjadi kendala dalam kontinuitas produksi atau sarana yang tersedia tidak memadai baik jumlah dan kapasitasnya dalam produksi. Jumlah indukan dan calon indukan sebanyak 180 ekor dimana jumlah induk jantan sebanyak 80 ekor dan indukan betina sebanyak 100 ekor. Dalam pengaturan ukuran indukan juga perlu menjadi pertimbangan, yaitu dengan ukuran berat yang relatif mengikuti sebaran normal miring ke kiri, baik untuk induk jantan maupun induk betina. Modus sebaran normal bobot indukan adalah sekitar 2 kg untuk induk jantan dan 3 kg untuk induk betina.
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan dengan mutu yang baik dan kuantitas yang mencukupi. Pakan harus memiliki kandungan protein 30-35%. Pemberian pakan dilakukan setiap hari sebanyak 3% bobot biomas/hari dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali/hari. Menurut Yulfiperius et al. (2003), mutu telur dapat ditingkatkan antara lain dengan melakukan perbaikan mutu pakan induk. Salah satu unsur nutrien pakan yang harus ada dalam pakan induk untuk meningkatkan reproduksinya adalah vitamin E (o-tokoferol).
b) Seleksi Induk
Ciri-ciri induk jantan yang matang gonad adalah alat kelamin (urogenital) membengkak dan berwarna merah tua. Apabila bagian perut dekat lubang kelamin diurut akan mengeluarkan cairan putih kental (cairan sperma). Sedangkan induk ikan betina yang telah matang gonad, memiliki ciri-ciri yang ditunjukkan dengan papila membengkak dan berwarna merah tua, selain itu perut membengkak ke arah belakang (ke arah genital).
c) Pemijahan
Induk yang akan dipijahkan diberok dahulu 1-2 malam di dalam wadah isolasi induk untuk mengurangi kadar lemak pada saluran pengeluaran telur dan membuang kotoran/feces. Pemijahan dilakukan secara buatan melalui pemberian rangsangan hormon untuk proses pematangan akhir gonad, pengurutan untuk proses pengeluaran telur dan pembuahan dengan mencampur sperma dan telur.
Hormon yang digunakan adalah ovaprim atau sejenisnya. Standar dosis ovaprim yang diberikan untuk induk betina adalah 0,5 mL/kg dan untuk jantan adalah 0,2 mL/kg (bila diperlukan). Penyuntikan pada indukan betina dilakukan sebanyak dua (2) kali pada bagian intramuskular dengan interval waktu penyuntikan pertama dan kedua 6-12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dosis total dan sisanya (2/3 bagian) diberikan pada penyuntikan kedua (Hamid et al., 2006).
Setelah penyuntikan kedua, 6-8 jam kemudian dilakukan pengecekan ovulasi induk. Pengecekan ini akan menentukan saat pengeluaran telur untuk proses pembuahan. Bila pengeluaran telur dilakukan sebelum ovulasi, pengeluaran telur tidak akan lancar dan biasanya persentase keberhasilan pembuahan akan kecil. Sedangkan bila terlalu lambat, pembuahan biasanya juga gagal karena air sudah masuk ke dalam kantung telur yang menyebabkan lubang mikrofil pada telur sudah tertutup. Pengecekan ovulasi dilakukan dengan cara melakukan pengurutan pada bagian dekat urogenital secara pelan dan hati-hati. Ovulasi sudah tercapai bila sudah ada sedikit telur yang keluar sehingga pengurutan secara keseluruhan dapat dilanjutkan untuk proses pembuahan.
Proses pembuahan didahului dengan penyiapan sperma yang dikeluarkan dari induk jantan. Sperma ditampung dalam wadah dan diencerkan dengan larutan NaCl 0,9% (larutan infus) dengan perbandingan 1 : 100. Sperma yang tercampur urine (air kencing ikan) sebaiknya tidak digunakan. Selanjutnya telur dikeluarkan dengan melakukan pengurutan induk betina secara hati-hati dan ditampung dalam wadah. Tetesan air dalam wadah atau pada telur harus dihindari. Bila dikehendaki, pengurutan dapat dilakukan secara berulang, tetapi dalam tenggang waktu yang relatif singkat. Telur yang sudah ditampung ditambahkan dengan sperma dan
diaduk secara merata. Untuk memudahkan pencampuran telur dan sperma dapat diberi tambahan larutan fisiologis secukupnya.
d) Penetasan Telur
Penetasan telur yang dilakukan di CV. Mika Distrindo menggunakan dua (2) cara yaitu dengan menggunakan bak penetasan dengan trai hapa sebagai tempat penetasannya dan dengan menggunakan corong tetas. Telur yang sudah dibuahi diletakkan di atas trai hapa jaring dalam bak pembenihan yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Jumlah trai hapa jaring (0,7m x 0,7m) dalam bak penetasan (4x1x0,4) m3 sebanyak empat (4) unit. Aerasi yang cukup untuk menjamin kandungan oksigen terlarut serta suhu perlu diperhatikan agar proses penetasan telur berjalan secara optimal. Pada suhu 29–30°C biasanya telur mulai menetas setelah inkubasi 18-24 jam. Setelah proses penetasan selesai, larva ikan Patin dijaring dengan menggunakan scoopnet, sehingga tinggal menyisakan cangkang telur dan telur yang tidak menetas. Hapa jaring diangkat, karena pada saat penetasan terdapat sisa cangkang telur yang dapat membusuk dan menyebabkan bahan beracun bagi larva. Alternatif lain dalam penetasan telur dapat menggunakan corong penetasan. Prinsip kerjanya hampir sama dengan menggunakan trai hapa. Tetapi dengan menggunkan corong tetas sisa cangkang dan telur yang tidak menetas mengendap pada 1 sisi saja yaitu ada central drain pembuangan pada corong tetas. Telur yang telah menetas kemudian dipelihara dalam akuarium sampai berumur kurang lebih 10-14 hari. Setelah itu dipelihara di bak pemeliharaan larva selama 16-18 hari.
e) Pemeliharaan Benih
(1) Pemberian Pakan dan Pengaturan Kualitas Air
Benih ikan Patin mempunyai sifat kanibal yang tinggi sehingga untuk menghindarinya perlu diperhatikan waktu untuk pemberian pakan. Jenis pakan untuk benih Patin diberikan berdasarkan umur dari benih. Pakan pertama dapat diberikan sekitar 24 jam setelah menetas pada kisaran suhu pemeliharaan 29– 30°C. Karena pada 24 jam pertama setelah menetas, larva ikan Patin masih memiliki yolk sack (kuning telur) sebagai cadangan makanan. Pakan awal yang diberikan berupa nauplii Artemia. Proses pembenihan ikan Patin sangat tergantung oleh ketersediaan pakan alami sebagai sumber energinya. Artemia
merupakan pakan alami yang banyak diberikan pada saat larva ikan mulai makan, namun harganya relatif tinggi. Untuk menekan biaya produksi, pembenih ikan Patin cenderung mengurangi frekuensi pemberian Artemia dan mempersingkat waktu pemberiannya 2 – 4 hari dan disubstitusi dengan Tubifex (Effendi et al., 2006).
Tabel 13. Jenis pakan berdasarkan umur dalam pemeliharaan benih Patin
Umur Larva (hari) Jenis Pakan
2-6 7-20 > 20
Artemia
Cacing sutera/Cacing rambut Pelet
Penyiapan nauplii artemia dilakukan pada saat telur Patin menetas, sehingga pakan nauplii artemia sudah dapat diberikan pada saat benih berumur 1 hari. Pengkulturan artemia dilakukan dengan menggunakan media air yang ditambahkan garam dan menambahkan aerator yang berfungsi memberikan suplai oksigen dan mengaduk air supaya tidak terjadi penumpukan cyste yang dapat mengurangi daya tetas artemia. Untuk setiap corong penetasan artemia yang berkapasitas 30 liter air memerlukan tambahan garam sebanyak 300-400 gram dengan jumlah cyste artemia sebanyak 100-150 gram. Setelah 18-24 jam cyste artemia akan menetas dan sudah dapat diberikan kepada larva ikan Patin.
Seleksi induk Pemberokan Penyuntikan
Striping Penetasan
Artemia Cacing sutra Pakan Buatan
4-6 hari 14-16 hari 14-16
Akuarium Bak pemeliharaan larva Kolam pendederan
4-5 hari 10-12 hari 14-16 hari 10-12 hari
Sumber: Data Primer, 2011
Gambar 6. Diagram kegiatan pembenihan ikan Patin di CV. Mika Distrindo Pemberian pakan Artemia selanjutnya dapat dilakukan pada kisaran 4–5