BAB III ISU STRATEGIS
A. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS
Setiap organisasi bagaimanapun bentuk dan apapun fungsinya tidak akan mampu untuk berdiri sendiri tanpa interaksi dengan lingkungannya. Sementara itu lingkungannya sendiri selalu mengalami perubahan. Dalam banyak hal perubahan lingkungan sering bersifat spontan dan tidak terantisipasi sebelumnya oleh karena itu analisa lingkungan organisasi merupakan bagian penting dalam kajian manajemen.
Pemahaman terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan strategis bersifat kompleks dan tidak menentu sangat diperlukan untuk menyusun strategi dan rencana program kegiatan organisasi. Perencanaan yang bersifat responsif dan antisipatif terhadap kemungkinan perubahan lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap kinerja organisasi, yang pada akhirnya akan sangat menentukan eksistensinya.
Secara umum lingkungan organisasi diklasifikasikan menjadi dua, pertama lingkungan eksternal dan kedua lingkungan internal, yaitu berbagai kondisi atau kekuatan-kekuatan yang berada didalam organisasi itu sendiri.
1. Analisis Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan kekuatan-kekuatan/kondisi yang berada didalam kendali organisasi. Lingkungan internal secara umum meliputi 3 kategori, yaitu pertama input (Resource) yang mencakup sumber daya yang dimiliki oleh organisasi, misal SDM, kemampuan ekonomi, informasi dan kompetensi, kedua proses kerja (Present strategy) dan ketiga kinerja (Performance), yang menunjukkan pada hasil yang dicapai dengan perkembangannya dari waktu ke waktu.
a. Input (Resourced)
Kualitas dan alokasi sumber daya yang dimiliki organisasi akan sangat menentukan kualitas kerja yang dilakukan oleh organisasi itu sendiri. Bagaimana organisasi akan mampu mengembangkan potensinya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kemampuan sumber daya manusianya, seberapa besar kemampuan anggarannya seberapa memadai sistem informasi dan teknotogi yang diterapkan, seberapa besar sarana dan prasarana yang tersedia dan seberapa besar kompetensi yang dimiliki dan yang lebih penting adalah bagaimana sumber daya yang dimiliki dapat di alokasikan secara tepat dengan kata lain seberapa besar kemampuan organisasi dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk
merespon segala kondisi dan perubahan-perubahan yang terdapat pada lingkungannya.
Apapun perencanaannya, apapun strateginya, setaip organisasi, terutama organisasi publik, keberhasilan semua itu akan sangat ditentukan oleh komitmen dari manajemen puncaknya (Top Manajement).
Dalam konteks ini Walikota Semarang memiliki komitmen yang sangat tinggi dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Adapun gambaran Input (Resource) yang ada pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan adalah sebagai berikut:
1) Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber Daya Manusia merupakan kunci bagi kelangsungan aktivitas kerja organisasi, karena organisasi itu sendiri pada hakekatnya adalah kerjasama antar manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga tingkat keberhasilan kerja suatu kelembagaan / organisasi sangat dipengaruhi dari sumber daya manusia yang ada didalamnya.
Dilihat dari motivasi kerja, loyalitas dan disiplin Sumber daya manusia yang ada pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang terhadap pekerjaannya, dapat dikatakan cukup memadai.
Hal ini dapat dilihat dari tingkat absensi kehadiran pegawai yang tinggi, tingkat penyelesaian pekerjaan yang bahkan harus dilaksanakan melalui lembur di luar jam kerja.
Disamping itu dilihat dari kuantitas / jumlah sumber daya manusia pendukung pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan dapat dikatakan cukup banyak dan memadai yaitu sebanyak 266 orang, yang terdiri dari 254 orang PNS dan 12 orang TPHL.
Namun jika dilihat dari kualitas sumber daya yang ada, masih dirasakan perlunya peningkatan kompetensi teknis tertentu. Hal ini dapat dilihat dari jenis tugas dan jumlah pelayanan yang harus diselengarakan membutukan keahlian dan ketrampilan khusus tersebut belum sebanding dengan jumlah SDM yang berkompeten.
2) Sumber Daya Ekonomi / Pendanaan
Sumber daya ekonomi dalam hal ini terutama dilihat dari kemampuan pembiayaan atau kemampuan anggota. Walaupun banyak pihak mengatakan bahwa persoalan anggaran merupakan persoalan klasik yang sering dijadikan sebagai alasan pembenaran baik buruknya kinerja organisasi, namun harus diakui bahwa bagaimanapun juga aktivitas organisasi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya akan sangat tergantung pada seberapa besar kemampuannya dalam pengelolaan anggaran operasionalnya.
Dilihat dari kemampuan anggaran yang dialokasikan kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang bisa dikatakan masih rendah dibawah target PAD yang dibebankan kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan , meskipun mampu mendongkrak kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebagai unit kerja dengan tuntutan tugas dan fungsi utama (Core Bussiness) yang sangat luas, ternyata ini sangat tidak berimbang antara tuntutan kinerja dengan kemampuan dasar organisasi, sehingga ini nampak hambatan yang sangat besar, bukan saja pada aspek operasional, namun juga pada mekanisme perencanaan pada tahun berikutnya.
Dalam konteks perencanaan program dan kegiatan organisasi, kondisi ini masih sangat kurang relevan untuk dijadikan dasar, mengingat belum adanya trend yang kondusif, sehingga masih terlalu sulit untuk membuat proyeksi kemampuan anggaran pada tahun-tahun berikutnya yang dapat mendukung program maupun kegiatan yang telah direncanakan.
Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang Tahun Anggaran 2006 sampai dengan 2010, sebagai berikut:
No Tahun Target Rp.
Realisasi Prosentase + / -
1 2005 5.298.446.400 5.418.604.083 102,27 % 2,27
2 2006 5.522.924.400 5.581.535.553 101,06 % 1,06
3 2007 5.645.210.000 5.653.347.500 100,14 % 1,14
4 2008 5.761.162.000 5.822.427.925 101,06 % 1,06
5 2009 6.302.385.000 6.423.604.012 101,92 % 1,92
6 2010 6.428.432.700 6.431.200.950 100,04% 0,04
3) Sumber Daya Teknologi (Sarana Prasarana)
Teknologi yang terlihat dari penyediaan sarana dan prasarana serta sistem informasi dalam rangka peningkatan pelayanan akan menentukan seberapa besar kemampuan manajemen Dinas Kebersihan dan Pertamanan dalam menjalankan tugasnya. Disamping itu dengan kemampuan teknologi akan dapat diketahui bagaimana kemampuan organisasi dalam merespon kebutuhan perubahan dimasa yang akan datang. Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebagai unit kerja yang melayani masyarakat dibidang tata kota terkait RTH, prasarana persampahan dan pertamanan dasar yang sangat diperlukan.
Disamping sarana dan prasarana kantor sangat terbatas yang merupakan hambatan tersendiri dalam kinerja organisasi. Salah satu hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan adalah sarana tehnologi yang menunjang sistem informasi, baik dalam rangka untuk mengakses informasi dari luar maupun dalam rangka penyampaian informasi yang bersifat promosi, ketersediaan sarana ini tentu saja akan sangat mendukung peningkatan kinerja organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang. Adapun dalam pengolahan data Dinas sudah berbasis komputerisasi, disamping itu dalam pelaksanaan tugas tugas tertentu juga telah didukung dengan sistem aplikasi antara lain Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian, Sistem Monitoring dan Evaluasi Kegiatan serta Digital Matrik Persampahan dan Pertamanan Kota Semarang
4) Otoritas /Kewenangan
Dilihat dari sisi otoritas atau kewenangan yang dimiliki, secara yuridis berdasarkan Perda no. 12 tahun 2008 Dinas Kebersihan dan Pertamanan , memiliki kewenangan yang cukup besar dalam melaksanakan Otonomi Daerah dibidang Persampahan dan Pertamanan. Namun dalam implementasinya masyarakat masih kurangmemahami peraturan dibidang tersebut, hal ini tercermin dari masih Rendahnya masyarakat dalam hal kebersihan dan keindahan taman kota, sehingga menimbulkan tingkat hambatan dalam peningkatan kinerja.
b. Proses Kerja (PresentStrategy)
Proses kerja dalam hal ini mencakup prosedur dan mekanisme kerja yang dilaksanakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan . Proses kerja disini menyangkut pola hubungan kerja yang dilakukan antar bidang maupun unit organisai terkait termasuk bagaimana pola komunikasi antara Dinas Kebersihan dan Pertamanan dengan kolega atau calon kolega.
Dari sisi hubungan kerja antar bidang yang ada dalam struktur organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan , dapat dikatakan bahwa mekanisme kerja yang terjadi telah berjalan cukup sistimatis, dalam arti setiap bidang dapat menginteprestasikan job discriptions dan mengimplementasikannya secara kordinatif, walaupun harus diakui bahwa untuk meningkatkan kinerja secara lebih optimal masih diperlukan adanya evaluasi terhadap struktur dan job descriptions yang ada, karena dengan struktur dan job descriptions yang ada saat ini masih rentan terhadap terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.
Sedangkan dalam perspektif pola hubungan dengan unit/instansi terkait, seperti halnya dengan pola umum yang terdapat dalam organisasi birokrasi yang cenderung merefleksi egoisme sektoral, dimana setiap unit kerja telah berorientasi pada kepentingan Internal secara parsial, dalam arti bahwa pelaksanaan tugas setiap unit belum mendasarkan pada pendekatan sistem, kecenderungan ini sering menghambat hubungan diskresi dan independensi unit untuk meningkatkan kinerja secara optimal.
c. Kinerja (Performance)
Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu organisasi adalah kinerja dan produktivitas pegawai. Setiap organisasi atau instansi dalam melaksanakan programnya diarahkan selalu berdaya guna untuk mencapai tujuan yang diinginkan, diantaranya dengan meningkatkan kinerja pegawainya. kinerja (prestasi kerja) merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai tanggungjawab yang diberikan. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan sehingga mempengaruhi kontribusi yang diberikan pada organsiasi atau instansi tersebut, termasuk kualitas pelayanan yang disajikan dalam dinas kebersihan dan pertamanan kota semarang diharapkan yang melaksanakan tugas dan fungsi memberikan dukungan operasional dan Teknis Kota Semarang. Untuk itu, diharapkan satuan kerja ini dituntut memiliki SDM yang handal dan profesional, unggul, kompetitif dan akuntabel.
2. Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal dalam konteks kajian organisasi/manajemen merupakan kondisi yang terdapat diluar organisasi, lingkungan ini meliputi kekuatan-kekuatan atau kecenderungan-kecenderungan (Force and Trends) yang mencakup aspek politik, ekonomi dan tehnologis, sosial (Pet), klien (Client), pelanggan (Custome) maupun pembayar (Payer) dan juga pesaing (Competitive Force) maupun kolaborator (Collaborative Force),
a. Trends/ Forces 1) Aspek Politik
Aspek ini biasanya menghubungkan manajemen organisasi dengan berbagai kebijakan ataupun kondisi politik yang terjadi.
Dalam konteks organisasi publik, perubahan yang terdapat pada aspek politik atau kebijakan publik akan sangat berpengaruh terhadap kinerja organisasi, karena pada dasarnya organisasi publik (dan terlebih organisasi Pemerintah) merupakan bagian dari sistem politik itu sendiri. Sehingga kebijakan-kebijakan tersebut dapat memberikan kelonggaran maupun memperkuat atau bahkan menghambat proses penyelenggaraan fungsi organisasi.
Perlu disadari bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh tidak akan pernah terlepas dari faktor kepentingan. Sehingga tidak tertutup kemungkinan setiap kebijakan mengandung "pesan" yang bermuatan kepentingan pihak-pihak tertentu.
Pihak-pihak itu bisa saja masyarakat luas sebagai kepentingan bersama, tetapi bisa juga kepentingan-kepentingan yang memberikan peluang dan manfaat bagi lembaga atau organisasi tertentu, atau pihak-pihak yang berperan dibalik lahirnya kebijakan tersebut. Hal ini sering harus disadari mengingat adanya berbagai keterbatasan dan pertimbangan-pertimbangan dilematis yang dihadapi oleh Pemkot sebagai upaya mencapai akselerasi pembangunan.
Kondisi politik di Kota Semarang yang cenderung kondusif hal ini cukup mendukung dan memberikan kontribusi positif terhadap pelaksanaan tugas-tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan . Hal ini juga didukung dengan kebijakan Walikota Semarang yang mengarahkan konsep – konsep pembangunan melalui perubahan
”Wajah Kota” dimana Dinas Kebersihan dan Pertamanan mejadi salah satu andalan untuk pelaksanaannya melalui konsep perencanaan tata ruang kota yang terpadu di Kota Semarang.
2) Aspek Ekonomi
Perubahan yang terjadi pada aspek ekonomi sangat berpengaruh, karena bagaimanapun juga Pemda tidak akan mampu melaksanakan fungsinya tanpa peran serta masyarakat, baik dalam konteks masyarakat social (Society) maupun sector swasta (Private sector). Oleh karena itu peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dapat merupakan dukungan yang sangat positif.
Disamping itu aspek ekonomi ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan terhadap perumahan dan iklim investasi, dimana Kota Semarang dengan potensi perdagangan dan jasa tentunya akan menjadi daerah tujuan untuk berinvestasi. Hal ini tentunya akan diikuti dengan peningkatan infrastruktur perkotaan oleh pemerintah daerah maupun infrastruktur perdagangan berupa pembangunan gedung-gedung oleh para pengusaha yang tentunya berdapak terhadap tantangan akan tuntutan peningkatan kinerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan .
3) Aspek Sosial
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap permohonan pengajuan perijinan. Perubahan sosial yang terjadi menggambarkan adanya perubahan pada pola pikir, sikap dan pola perilaku masyarakat.
Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat terhadap kebijakan Pemerintahan dan pembangunan.Sebagai konsekuensi dari keberhasilan pembangunan adalah terjadinya perubahan sosial, dalam arti perubahan masyarakat pada kondisi yang lebih maju dan lebih baik dari sebelumnya.
Implikasi dari kemajuan yang dicapai salah satunya tercermin dari adanya perubahan preferensi, pola pikir dan pola perilaku masyarakat menjadi semakin kritis terhadap berbagai fenomena dan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kota.
Konsekuensi logis dari kenyataan tersebut adalah bahwa masyarakat memiliki diskresi yang lebih besar dalam menentukan pilihan-pilihan aktifitas. Dan disinilah letak tuntutan yang harus direspon oleh Pemerintah Daerah agar Pemerintah Daerah tetap memiliki kredibilitas dan akuntabilitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
4) Pelanggan (Customer)
Dalam setiap bentuk usaha, faktor pelanggan (customer) merupakan faktor penting yang turut menentukan eksistensi usaha tersebut. Tumbuh dan berkembangnya usaha akan sangat ditentukan oleh bertahan/tidaknya pelanggan dan akan sangat tergantung dari pembayaran yang diberikan.
Dengan mencermati pertumbuhan dan perkembangan minat interest masyarakat yang ingin membangun Kota Semarang mengalami pertumbuhan positif, sehinga perlu direspon dengan peningkatan pelayanan.
Demikian halnya dengan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dimana sesuai dengan paradigma baru yang berkembang adalah menempatkan masyarakat tidak lagi sebagai obyek tetapi lebih sebagai pelanggan (customer) yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebagai salah satu lembaga pelaksanan otonomi daerah yang berhubungan langsung dengan masyarakat, untuk dapat meningkatkan kinerja pelayanan guna menjawab dinamika harapan dan tututan masyarakat terhadap pelayanan publik yang prima.
5) Pesaing (Competitive Force)
Pesaing dalam hal ini harus dilihat dari institusi usaha sejenis, yaitu penyedia fasilitas/pelayanan perijinan, yang berada disektor kegiatan pelanggan/masyarakat. Untuk meningkatkan kinerja manajemen harus dilakukan kompetisi secara sehat dengan para pesaing. Keberhasilan memenuhi harapan konsumen dengan sendirinya konsumen akan menumbuhkan kesanggupan menjadi pelanggan.
Disadari atau tidak di era reformasi dan transparansi ini kinerja pemerintahan khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan telah memasuki era persaingan antar daerah untuk menarik investasi di wilayahnya. Demikian halnya Kota Semarang yang secara geografis terletak sebagai persimpangan dari daerah hinterland maupun kota besar lainnya dalam upaya menarik investasi tentunya sangat dipengaruhi oleh kinerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan dalam palayanan persampahan yang semakin baik.
6) Collaborators
Collaborates dalam hal ini adalah berbagai pihak, terutama unit kerja yang terkait dengan upaya peningkatan kinerja manajemen pelayanan perijinan. Kolaborasi yang sistimatis dan sinergis dari berbagai unit kerja yang ada akan sangat mendukung peningkatan kinerja peningkatan pelayanan perijinan sesuai Standar Pelayanan Publik.
Didalam penyelenggaraan pelayanan perijinan Dinas Kebersihan dan Pertamanan sangat terkait dengan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu terkait pola pelayanan One Stop Service (OSS) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Dalam pelaksanaan kolaborasi dan koordinasi pelayanan ini telah disusun beberapa regulasi sebagai payung hukum antara lain tentang Standar Pelayanan Publik DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN , Pola Hubungan Kerja dan Pendelegasian Kewenangan