BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Metode Analisis Data
2. Analisis LQ
Kegiatan perencaanan ekonomi untuk pengembangan sektor kegiatan ekonomi dimulai dengan melakukan proses identifikasi sektor unggulan atau potensial ekonomi daerah. Penentuan sektor-sektor ekonomi unggulan perlu dikembangkan agar perekonomian daerah tumbuh cepat dan di sisi lain mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat potensi sektor tertentu rendah dan menentukan apakah prioritas untuk menanggulangi kelemahan tersebut.
Setelah otonomi daerah, masing-masing sudah lebih bebas dalam menetapkan sektor/komoditi yang diprioritaskan pengembangannya. Kemampuan daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan/kelemahan di wilayahnya menjadi semakin penting. Sektor yang memiliki keunggulan, memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sektor-sektor lain untuk berkembang.
Salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi relatif perekonomian suatu wilayah adalah LQ (Location Quotient). LQ Dalam penelitian ini, digunakan untuk menentukan sektor-sektor ekonomi yang dominan yang dapat dikategorikan sebagai sektor basis pada kabupaten yang merupakan pusat pertumbuhan yang ada di Provinsi Jawa Tengah dengan membandingkan besarnya peranan suatu sektor disuatu
commit to user
Kabupaten Boyolali terhadap besarnya peranan suatu sektor yang sama pada Provinsi Jawa Tengah. Metode LQ (Location Quotient) adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor tersebut secara nasional. Adapun rumus untuk menghitung LQ adalah sebagai berikut (Arsyad,1999:142) :
t t i i t i t i V v V v V V v v LQ / / / / = = Keterangan: LQ = Location Quotient i
v = Nilai sektor i di Kabupaten Boyolali
t
v = Total nilai PDRB Kabupaten Boyolali
i
V = Nilai sektor i di Provinsi Jawa Tengah
t
V = Total nilai PDRB Provinsi Jawa Tengah Kriteria pengukuran LQ adalah sebagai berikut :
· Bila nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor tertentu di tingkat Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah sama dengan sektor yang sama pada perekonomian tingkat Provinsi Jawa Tengah.
· Bila nilai LQ > 1. Sektor tertentu merupakan sektor basis atau Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor tertentu di tingkat Kabupaten
commit to user
33
Boyolali di Provinsi Jawa Tengah lebih besar dari sektor yang sama pada perekonomian tingkat Provinsi Jawa Tengah.
· Bila nilai LQ < 1. Sektor tertentu merupakan sektor non basis atau Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor tertentu di Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah lebih kecil dari sektor yang sama pada perekonomian tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Metode location quotient (LQ) dibedakan menjadi dua, yaitu: static
location quotient (SLQ sering disebut LQ) dan dynamic location quotient (DLQ).
a. Static Location Quotient (SLQ) adalah suatu perbandingan tentang
besarnya peran suatu sektor atau industri di suatu daerah terhadap besarnya peran sektor atau industri tersebut secara nasional.
SLQ dirumuskan sebagai berikut:
Qn Qi qr qi SLQ= di mana: SLQ j Qi qi Qn Qr = = = = =
Koefisien StaticLocation Quotient
Pendapatan sektor i Provinsi Jawa Tengah Pendapatan sektor i Kabupaten Boyolali Pendapatan total Provinsi Jawa Tengah Pendapatan total Kabupaten Boyolali
commit to user
Berdasarkan formula di atas dapat dijelaskan bahwa jika koefisien LQ > 1, maka sektor tersebut cenderung akan mengekspor keluaran produksinya ke wilayah lain, atau mungkin ekspor ke luar negeri. Sedangkan jika nilai koefisien LQ < 1, ini berarti sektor tersebut cenderung mengimpor dari wilayah lain atau dari luar negeri.
b. Dynamic Location Quotient (DLQ) adalah modifikasi dari SLQ,
dengan mengakomodasi faktor laju pertumbuhan sektor ekonomi dari waktu ke waktu. DLQ dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (dimodifikasi Saharuddin, 2006 dalam Ma’ruf, 2009):
( ) ( )
( ) ( )
1 1
1 1
t ij j ij ij i ig g IPPS
DLQ
G G IPPS
é + + ù
ê ú
= =
+ +
ê ú
ë û
di mana : DLQij gij gj Gi G t = = = = = =Indeks potensi sektor i di regional Laju pertumbuhan sektor i di regional
Rata-rata laju pertumbuhan sektor di regional Laju pertumbuhan sektor i di nasional
Rata-rata laju pertumbuhan sektor di nasional Selisih tahun akhir dan tahun awal
commit to user 35 IPPSij IPPSi = =
Indeks Potensi Pengembangan sektor i di regional Indeks Potensi Pengembangan sektor i di nasional Nilai DLQ yang dihasilkan dapat diartikan sebagai berikut: jika DLQ > 1, maka potensi perkembangan sektor i di suatu regional lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di nasional. Namun, jika DLQ < 1, maka potensi perkembangan sektor i di regional lebih rendah dibandingkan nasional secara keseluruhan. Gabungan antara nilai SLQ dan DLQ dijadikan kriteria dalam menentukan apakah sektor ekonomi tersebut tergolong unggulan, prospektif, andalan, dan kurang prospektif.
Tabel 3.2
Identifikasi SLQ dan DLQ
Sumber: Tri Widodo, 2006: 120
Kriteria DLQ > 1 DLQ < 1 SLQ > 1 Unggulan Prospektif SLQ < 1 Andalan Kurang Prospektif
commit to user 3. Analisis SWOT
Secara khusus, model analisis SWOT yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah yang diperkenalkan oleh Kearns pada tahun 1992, Diagram ini menampilkan matriks delapan kotak, dua yang paling atas adalah faktor eksternal, yaitu faktor peluang dan ancaman/tantangan. Sedangkan di sebelah kiri adalah kotak faktor internal, yaitu kekuatan-kekuatan dan kelemahan sektoral. Empat kotak lainnya merupakan kotak isu-isu strategis yang timbul sebagai hasil titik pertemua antara faktor-faktor internal dan eksternal.
Tabel 3.3
Matriks analisa SWOT-Klasifikasi Isu
Sumber: Rangkuti, 2001
Keterangan :
a. Comparative Adventage
Apabila di dalam kajian terlihat peluang-peluang yang tersedia ternyata juga memiliki posisi internal yang kuat, maka sektor tersebut dianggap memiliki keunggulan komparatif. Dua elemen potensial eksternal dan internal yang baik ini tidak boleh
OPPORTUNITY Comparative Asventage Divestmen/Investmen Mobilization Damage Control TREATHS STRENGTH WEAKNESS
commit to user
37
dilepaskan begitu saja, tetapi akan menjadi isu utama pengembangan. Meskipun demikian, dalam proses pengkajiannya tidak boleh dilupakan adanya berbagai kendala dan ancaman perubahan kondisi lingkungan yang terdapat di sekitarnya untuk digunakan sebagai usaha dalam mempertahankan keunggulan komparatif tersebut (Strategi Strength - Opportunity :
Menggunakan kekuatanmemanfaatkan peluang).
b. Mobilization
Kotak ini merupakan kotak kajian yang mempertemukan interaksi antara ancaman/tantangan dari luar yang diidentifikasikan untuk memperlunak ancaman/tantangan dari luar tersebut, bahkan kemudian merubah ancaman tersebut menjadi sebuah peluang.
(Strategi Strength - Treaths : Menggunakan kekuatan untuk
mengusirhambatan).
c. Invesment/Divesment
Kotak ini merupakan kajian yang menuntut adanya kepastian dari berbagai peluang dan kekurangan yang ada. Peluang yang besar di sini akan dihadapi oleh kurangnya kemampuan potensi sektor untuk menangkapnya. Pertimbangan harus dilakukan secara hati-hati, apakah memutuskan untuk menggarap peluang itu,
commit to user
atau melepas peluang yang ada untuk dimanfaatkan organisasi lain.
(Strategi Weakness - Opportunity : Menggunakan peluang untuk
menghindari kelemahan).
d. Damage Control
Kotak ini merupakan tempat untuk menggali berbagai kelemahan yang akan dihadapi oleh sektor di dalam pengembangannya. Hal ini dapat dilihat dari pertemuan antara ancaman dan tantangan dari luar dengan kelemahan yang terdapat di dalam kawasan. Strategi yang harus ditempuh adalah mengambil keputusan untuk mengendalikan kerugian yang akan dialami, sehingga tidak menjadi lebih parah dari perkiraan. (Strategi Weakness - Treaths : Meminimalkan kelemahan dan mengusir hambatan).
4. Analisis Gravitasi
Analisis gravitasi adalah analisis untuk mengetahui seberapa kuat hubungan interaksi antara Kabupaten Boyolali dengan daerah-daerah lain lain disekitarnya. Dalam analisis gravitasi, daerah dianggap sebagai suatu massa. Hubungan antara daerah dipersamakan dengan hubungan antara massa-massa wilayah yang mempunyai daya tarik, sehingga saling mempengaruhi antara daerah sebagai perwujudan kekuatan tarik menarik
commit to user
39
antar daerah. Rumus gavitasi yang digunakan adalah sebagai berikut (Prishardoyo, 2008):
Dimana :
Tij = kekuatan gravitasi antara kota I dan kota j Pi = jumlah penduduk di kota I
Pj = jumlah penduduk di kota j dij = jarak fisik antara kota I dan kota j
Nilai Tij menunjukkan eratnya hubungan antara daerah 1 dan daerah 2, semakin besar nilai Tij maka semakin erat hubungan interaksi antara dua daerah tersebut, maka semakin besar juga perjalanan ekonomi yang terjadi. (Badrudin dalam Sabana 2007)
commit to user
40 BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Boyolali 1. Aspek Geografis
a. Letak Geografis
Kabupaten Boyolali terletak pada posisi geografis antara 1100 22’-110050’ Bujur Timur dan antara 707’-7036’ Lintang Selatan. Posisi geografis wilayah Kabupaten Boyolali merupakan kekuatan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah karena berada pada segitiga wilayah Yogyakarta-Solo-Semarang (Joglosemar) yang merupakan tiga kota utama di wilayah Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kabupaten Boyolali dengan bentang Barat-Timur sejauh 48 km dan bentang Utara-Selatan sejauh 54 km, mempunyai luas wilayah kurang lebih 1.015,10 , dengan batas-batas wilayah, sebagai berikut :
Sebelah Utara : yaitu Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang. Sebelah Timur : yaitu Kabupaten Karanganyar, Sragen, dan Sukoharjo. Sebelah Selatan: yaitu Kabupaten Klaten dan Provinsi D.I. Yogyakarta. Sebelah Barat : yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang.
Kabupaten Boyolali secara administratif terbagi dalam 19 kecamatan terdiri 263 desa dan 4 kelurahan.
commit to user
41
Sumber: Muhammad Syaiful Nazar
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Boyolali
b. Luas Penggunaan Lahan
Wilayah Kabupaten Boyolali dengan luas 1.015,10 , sebagian besar (70%) merupakan lahan kering baik berupa tegalan, pekarangan, maupun hutan dan sisanya berupa sawah, waduk/kolam, dan lahan lainnya. Wilayah yang memiliki lahan kritis dan lahan kering meliputi Kecamatan
commit to user
Sambi, Simo, Nogosari, Andong, Klego, Karanggede, Wonosegoro, Kemusu, dan Juwangi. Sementara itu, wilayah Kecamatan Selo, Cepogo, Ampel, dan Musuk beriklim cukup sejuk mendukung untuk pengembangan budidaya peternakan sapi dan hortikultura.
c. Topografi
Topografi wilayah Kabupaten Boyolali adalah, sebagai berikut: · Antara 75-400 m dpl yaitu Kecamatan Teras, Banyudono, Sawit,
Mojosongo, Ngemplak, Simo, Nogosari, Kemusu, Karanggede, dan sebagian Boyolali.
· Antara 400-700 m dpl yaitu Kecamatan Boyolali, Musuk, Mojosongo, Cepogo, Ampel, dan Karanggede.
· Antara 700-1000 m dpl yaitu sebagian Kecamatan Musuk, Ampel, dan Cepogo.
· Antara 1000-1300 m dpl yaitu sebagian Kecamatan Cepogo, Ampel, dan Selo.
· Antara 1300-1500 m dpl yaitu Kecamatan Selo.
d. Keadaan Iklim dan Hidrologi
Wilayah Kabupaten Boyolali termasuk iklim tropis dengan rata-rata curah hujan sekitar 2824 milimeter/tahun. Dari sisi hidrologi, terdapat potensi/kekayaan sumber daya air, meliputi :
commit to user
43
· Sumber air dangkal/mata air atau masyarakat setempat menyebutnya umbul, terdapat di Tlatar (Kecamatan Boyolali), Nepen (Kecamatan Teras), Pengging (Kecamatan Banyudono), Pantaran (Kecamatan Ampel),
· Waduk, terdapat di Kedungombo (Kecamatan Kemusu) seluas 3.536 ha, Kedungdowo (Kecamatan Andong) seluas 48 ha, Cengklik (Kecamatan Ngemplak) seluas 240 ha, dan Bade (Kecamatan Klego) seluas 80 ha.
· Terdapat 4 (empat) sungai sebagai penyedia air baku yaitu Sungai Serang, Cemoro, Pepe, dan Gandul.
2. Aspek Demografi
Penduduk merupakan komponen yang sangat penting dalam pembangunan. Terutama jika jumlah penduduk yang besar, itu mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi dari penduduk rendah, maka jumlah penduduk yang banyak akan menjadi beban bagi masyarakat.
Penduduk Kabupaten Boyolali pada tahun 2006 berjumlah 944.181 jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak 461.806 jiwa dan perempuan sebanyak 482.375 jiwa, dengan luas wilayah 101.510,10 ha maka kepadatan penduduk sebesar 930 jiwa/ km2. Sedangkan pada akhir tahun 2010 jumlah penduduk menjadi 953.839 jiwa dengan komposisi laki-laki sebanyak 467.762 jiwa dan perempuan sebanyak 486.077 jiwa, serta kepadatan penduduk
commit to user
sebesar 940 jiwa/ km2. Data tersebut memberikan gambaran bahwa jumlah penduduk Kabupaten Boyolali selama 5 tahun terjadi penambahan 9.738 jiwa atau terjadi pertumbuhan rata-rata 0,25%. Data perkembangan penduduk Kabupaten Boyolali sejak akhir tahun 2006 sampai dengan awal tahun 2010, seperti tabel berikut :
Tabel 4.2 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Boyolali Tahun 2006 – 2010 Tahun Jenis Kelamin Jumlah Pertum buhan (%) Luas Wilayah ( ) Kepadatan Penduduk ( Jiwa/Km) Laki – Laki Peremp uan 2006 461.806 482.375 944.181 - 1.015,10 930 2007 463.295 483.731 947.026 0,30 1.015,10 933 2008 464.837 484.757 949.594 0,27 1.015,10 935 2009 466.481 485.236 951.717 0,22 1.015,10 938 2010 467.762 486.077 953.839 0,22 1.015,10 940
Sumber data: BPS Kab. Boyolali, diolah.
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun mengalami penurunan, yaitu dari periode 2006-2007 tumbuh sebesar 0,30% dan pada akhir periode 2010 hanya tumbuh 0,22%. Namun tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi yang perlu menjadi perhatian utamanya dalam penyediaan lahan pemukiman dan pertanian.
Sedangkan penduduk Kabupaten Boyolali sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 menurut kelompok umur dapat dilihat tabel berikut.
commit to user
45
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kabupaten Boyolali Tahun 2006 – 2010
Rentang Usia (Tahun) Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 0 – 4 69.648 69.857 70.989 71.154 94.649 5 – 9 78.311 78.546 77.8 77.982 65.479 10 – 14 87.254 87.52 87.944 88.15 84.616 15 – 19 71.165 71.381 72.975 73.142 72.777 20 – 24 76.952 77.179 76.414 76.586 62.253 25 – 29 78.217 78.451 78.24 78.416 72.864 30 – 34 76.404 76.633 79.091 79.261 71.682 35 – 39 63.373 35.06 64.3 64.438 70.737 40 – 44 70.475 70.69 70.554 70.701 71.279 45 – 49 63.143 63.328 63.573 63.716 65.082 50 – 54 51.05 51.208 48.795 48.902 57.586 55 – 59 21.449 41.953 42.145 42.231 44.054 60 – 64 24.672 42.29 43.259 43.352 34.035 > 64 74.196 74.43 73.515 73.686 87.746 JUMLAH 944.181 947.026 949.594 951.717 953.839 Sumber data: BPS Kab. Boyolali data diolah
Pengelompokkan penduduk berdasarkan kelompok umur sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan utamanya dalam penataan jumlah angkatan kerja penduduk yang umumnya adalah usia di atas 15 tahun sampai dengan dibawah 64 tahun atau yang dikenal dengan usia produktif. Usia produktif tersebut akan dikurangi perkembangannya tiap tahun pada jumlah yang melanjutkan sekolah dan jumlah penduduk yang terserap pada lapangan kerja maka selisihnya dikenal dengan angka pengangguran.
commit to user
Penduduk Kabupaten Boyolali sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 usia 10 tahun ke atas yang bekerja berdasar lapangan pekerjaan dapat dilihat tabel berikut.
Tabel 4.4 Sebaran Penduduk Usia 10 Tahun Ke atas yang Bekerja Berdasar Lapangan Pekerjaan di Kabupaten Boyolali
Tahun 2006 – 2010 Lapangan Pekerjaan Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Pertanian Tanaman Pangan 234.847 241.398 243.264 244.493 243.360 Perkebunan 16.088 16.511 16.733 17.122 17.256 Perikanan 1.241 1.327 1.262 1.258 1.358 Peternakan 47.014 49.878 51.172 50.398 54.225 Pertanian Lainnya 25.235 24.908 25.126 25,410 25.318 Industri Pengolahan 41.917 42.591 43.455 42.591 41.128 Perdagangan 54.956 52.055 51.366 51.542 50.573 Jasa 60.033 53.381 54.015 53.059 48.164 Angkutan 7.191 7.090 7.128 7.177 6.745 Lainnya 308.840 313.897 307.284 315.459 306.017 TOTAL 797.362 798.623 800.805 802.581 793.635
Sumber Data : BPS Kab. Boyolali data diolah
Struktur mata pencaharian penduduk Kabupaten Boyolali, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, diikuti sektor jasa dan sektor perdagangan.
commit to user
47
3. Aspek Ekonomi
Dalam melihat perekonomian daerah , salah satu indikator yang sering digunakan adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah yang bersangkutan. PDRB juga merupakan indikator untuk mengukur kinerja daerah dalam membangun daerah Kabupaten Boyolali, yang dihitung dengan mengunakan harga berlaku dan harga konstan.
Tabel 4.5 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Boyolali Tahun 2006-2010
Tahun PDRB ADHB PDRB ADHK Nilai (juta Rp) Pertumbuhan (%) Nilai (juta Rp) Pertumbuhan (%) 2006 5.142.433,04 3.601.225,20 2007 5.708.063,97 11,00 3.748.120,11 4,08 2008 6.446.546,37 12,94 3.899.372,86 4,04 2009 7.142.868,31 10,80 4.100.520,26 5,16 2010 8.101.684,49 13,42 4.248.048,24 3,60 Rata-rata 6.508.319,83 12,04 3.919.322,52 4,22 Sumber Data : BPS Kab. Boyolali data diolah
Dengan menggunakan harga berlaku, PDRB Boyolali mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Diketahui pada tabel 4.5 PDRB Kabupaten Boyolali pada tahun 2006 sebesar Rp 5.142.436,03 juta meningkat pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 5.708.063,97 juta pada tahun 2008 terjadi peningkatan PDRB menjadi sebesar Rp 6.446.546,37 juta pada tahun 2009 dan 2010 PDRB meningkat lagi masing-masing menjadi sebesar Rp 7.142.868,31 juta dan Rp 8.101.684,49 juta. Sementara jika menggunakan
commit to user
harga konstan, PBRB Boyolali terus mengalami peningkatan yang dapat diartikan adannya kemajuan dalam pembangunan di Kabupaten Boyolali. Diketahui pada Tabel 4.5 pada tahun 2006 PDRB Kabupaten Boyolali sebesar Rp 3.600.897,97 juta meningkat sampai tahun 2010 menjadi sebesar Rp 4.248.048,24 juta.
Laju pertumbuhan PDRB di Kabupaten Boyolali menurut harga berlaku pada periode 2006-2007 mengalami pertumbuhan sebesar 11,00 persen, terus meningkat sebesar 12,94 persen pada periode 2007-2008, pada periode 2008-2009 tumbuh sebesar 10,80 persen dan pada periode 2009-2010 tumbuh sebesar 13,42 persen. Sementara laju pertumbuhan PDRB di Kabupaten Boyolali menurut harga konstan pada periode 2006-2007 mengalami pertumbuhan sebesar 4,08 persen, dan terus meningkat sampai tahun 2010 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,22 persen.
B. Gambaran umum Provinsi Jawa Tengah 1. Aspek geografis
a. Letak Geografis
Provinsi Jawa Tengah terletak antara 50 40’ dan 70 30’ Lintang Selatan dan antara 1080 30’ dan 1110 30’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 km dan dari Utara ke Selatan 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa). Jawa Tengah
commit to user
49
memiliki luas wilayah yakni 32.548 , atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa, dan mempunyai batas-batas wilayah yaitu :
Sebelah utara : Laut Jawa
Sebelah timur : Provinsi Jawa Timur
Sebelah selatan : DI Yogyakarta dan Samudra Indonesia Sebelah barat : Provinsi Jawa Barat
Sumber : Dinas PSDA Provinsi Jawa Tengah
commit to user
b. Luas Penggunaan Lahan
Secara administratif Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Luas wilayah Jawa Tengah pada tahun 2010 tercatat sebesar 32.548 . Luas yang ada, terdiri dari 991.524 hektar (30,47 persen) lahan sawah dan 2.262.888 hektar (69,53 persen) bukan lahan sawah.
Menurut penggunaannya, persentase lahan sawah yang berpengairan teknis adalah 39,02 persen, tadah hujan 27,47 persen dan lainnya berpengairan setengah teknis , sederhana, dan lain-lain.
c. Keadaan Iklim
Menurut Stasiun Klimatologi Klas I Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah tahun 2011 berkisar antara 24,9°C sampai dengan 27,6°C. Tempat - tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 76 persen sampai dengan 85 persen. Curah hujan tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus Bojongsari sebesar 2196 mm dan hari hujan terbanyak tercatat di Stasiun Meteorologi Cilacap sebesar 302 hari.
2. Aspekdemografi
Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 32.282.657 jiwa atau sekitar
commit to user
51
13,58 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Tabel 4.7 Penduduk Jawa Tengah Menurut Jenis Kelamin dan Sex Rasio Tahun 2006-2010
Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Sex rasio
2006 16.054.473 16.123.257 32.177.730 99,57 2007 16.064.122 16.316.157 32.380.279 98,46 2008 16.192.295 16.434.095 32.626.390 98,53 2009 16.123.190 16.741.373 32.864.563 96,31 2010 16.091.112 16.291.545 32.382.657 98,77 Sumber : Survei Penduduk Tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Tengah
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui pada tahun 2006, jumlah penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 32.177.730 jiwa. Dengan jumlah penduduk perempuan lebih besar yaitu 16.123.257 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk laki-laki sebesar 16.054.473 jiwa. Jumlah penduduk Jawa Tengah terus meningkat dari tahun 2006 hingga tahun 2009, yaitu sebesar 32.864.563 jiwa. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Jawa Tengah mengalami penurunan menjadi sebesar 32.382.657 jiwa. Ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Ini ditunjukkan oleh sex rasio (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan) sebesar 98,77%.
commit to user
Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Jawa Tengah. Umumnya penduduk banyak menumpuk di daerah kota dibandingkan kabupaten. Secara rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 994,92 jiwa setiap kilometer persegi.
3. Aspek ekonomi
Pada Tabel 4.8 dapat dilihat kondisi/gambaran perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Tengah yang merupakan indikator ekonomi utama untuk mengukur sejauh mana Provinsi Jawa Tengah melakukan kegiatan pembangunan.
Tabel 4.8 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006-2010
Tahun
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
PDRB Atas Dasar Harga Konstan Nilai (juta Rp) Pertumbuhan (%) Nilai (juta Rp) Pertumbuhan (%) 2006 281.996.709,11 20,29 150.682.654,74 5,33 2007 312.428.807,07 10,79 159.110.253,79 5,59 2008 367.135.954,90 17,51 168.034.483,29 5,61 2009 397.903.943,75 8,38 176.673.456,57 5,14 2010 444.396.468,19 11,68 186.995.480,65 5,84 Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Tengah, data diolah
Berdasarkan harga konstan, nilai PDRB Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang dapat diartikan adannya kemajuan dalam pembangunan di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2006 diketahui PDRB Provinsi Jawa Tengah sebesar
commit to user
53
Rp150.682.654,74 juta hingga tahun 2010 PDRB Provinsi Jawa Tengah menjadi sebesar Rp 186.995.480,65 juta. Sementara berdasarkan harga berlaku ,nilai PDRB Provinsi Jawa Tengah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 diketahui PDRB Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 28.996.709,11 juta hingga tahun 2010 PDRB Provinsi Jawa Tengah menjadi sebesar Rp 444.396.468,19 juta
Laju pertumbuhan PDRB di Provinsi Jawa Tengah menurut harga berlaku mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 20,29 persen. Pada tahun 2007 laju pertumbuhan menurun menjadi sebesar 10,79 persen. Pada tahun 2008 laju pertumbuhan meningkat dengan pertumbuhan sebesar 17,51 persen. Pada tahun 2009 laju pertumbuhan menurun menjadi sebesar 8,38 persen. Dan pada tahun 2010 laju pertumbuhan meningkat kembali dengan pertumbuhan sebesar 11,68 persen. Sementara Laju pertumbuhan PDRB di Provinsi Jawa Tengah menurut harga konstan pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan sebesar 5,33 persen, terus meningkat hingga tahun 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen. Pada tahun 2009 laju pertumbuhan menurun dengan pertumbuhan sebesar 5,14 persen, dan menigkat kembali pada tahun 2010 dengan laju pertumbuhan sebesar 5,84 persen.
commit to user
Tabel 4.9 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006-2010 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (juta rupiah) Sektor/Lapangan Usaha Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Pertanian 31.002.199,11 31.862.697,60 32.880.707,85 34.101.148,13 34.955.957,64 Pertambangan dan Galian 16.782.99,61 1.782.886,65 1.851.189,43 1.952.866,7 2.091.257,42 Industri Pengolahan 48.189.134,86 50.870.785,69 55.348.962,88 57.444.175,45 61.390.101,24
Listrik, Gas dan Air Bersih 1.256.430,34 1.340.845,17 1.408.666,12 1.489.552,65 1.614.857,68 Bangunan/Konstruksi 8.446.566,35 9.055.728,78 9.647.593.00 10.300.647,63 11.014.598,6 Perdagangan 31.816.441,85 33.898.013,93 35.226.196,01 37.766.356,61 40.055.356,39 Pengangkutan dan Komunikasi 7.451.506,22 8.052.597,04 8.581.544,49 9.192.949,9 9.805.500,11 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
5.399.608,70 5.767.341,21 6.218.053,97 6.701.533,13 7.038.128,91
Jasa-Jasa 15.442.467,70 16.479.357,72 16.871.569,54 17.724.216,37 19.029.722,65
PDRB 150.682.654,74 159.110.253,79 168.034.483,29 176.673.456,57 186.995.489,65
Sumber: Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Tengah, data diolah PDRB Provinsi Jawa Tengah disumbang oleh 9 sektor/lapangan usaha yaitu : pertanian, pertambangan dan galian, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan/konstruksi, perdagangan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, jasa-jasa.
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa PDRB atas dasar harga konstan Provinsi Jawa Tengah di dominasi oleh 3 (tiga) sektor/lapangan usaha yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor pertanian. Sektor industri pengolahan Pada tahun 2006 sebesar Rp 48.189.134,86 juta
commit to user
55
terus meningkat hingga tahun 2010 menjadi sebesar Rp 61.390.101,24 juta. Sektor perdagangan pada tahun 2006 sebesar Rp 31.816.441,85 juta terus meningkat hingga tahun 2010 menjadi sebesar Rp 40.055.356,39 juta. Sedangkan sektor pertanian pada tahun 2006 sebesar Rp 31.002.199,11 juga terus meningkat hingga tahun 2010 menjadi sebesar Rp 34.955.957,64.
C. Analisis Data & Pembahasan 1. Analisis Tipologi Klassen
Metode Analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui pengelompokkan sektor ekonomi di Kabupaten Boyolali menurut struktur pertumbuhannya. Dengan menggunakan Matrix Klassen dapat dilakukan empat pengelompokkan sektor berdasarkan laju pertumbuhan dan nilai kontribusi.
Pada Tabel 4.10. terlihat bahwa sektor yang menyumbangkan kontribusi rata-rata paling besar terhadap PDRB Kabupaten Boyolali adalah sektor pertanian, yaitu sebesar 34,12 persen, sektor perdagangan sebesar 24,88 persen, sektor industri pengolahan sebesar 16,27 persen, dan sektor jasa-jasa sebesar 10,58 persen. Sektor yang menyumbangkan kontribusi paling kecil adalah sektor pertambangan dan galian yaitu hanya sebesar 0,94 persen. Untuk rata-rata pertumbuhan paling besar adalah sektor jasa-jasa, yaitu sebesar 14,94 persen, sektor pertambangan dan galian sebesar 12,44, serta