• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Metode Magnetotellurik

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 127-130)

BAB V HASIL DAN ANALISIS

5.4. Analisis Metode Magnetotellurik

Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk

mengetahui profil basement rock

sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi untuk metode AMT berkisar dari 1

rata-rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa direkam oleh metode AMT pada penelitian ini sekitar 500

Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan MT pada Gambar 5

serupa. Gambar 5.15., memperlihatkan data pemboran (

berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen

Kabupaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.

. Interpretasi Kemenerusan Sesar pada Line-2 dan Line 3 yang Relatif Menerus ke Arah Utara-Selatan

NALISIS METODE MAGNETOTELLURIK

Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk basement rock serta kemungkinan terdapatnya indikasi sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi

untuk metode AMT berkisar dari 1-10000 Hz. Dengan apparent resistivity

rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa

direkam oleh metode AMT pada penelitian ini sekitar 500-1000 meter.

Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan MT pada Gambar 5.14., terlihat adanya pola distribusi resistivitas yang serupa. Gambar 5.15., memperlihatkan data pemboran (well logging

berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen upaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.

2 dan Line 3 yang Relatif

Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk serta kemungkinan terdapatnya indikasi sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi apparent resistivity rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa

1000 meter.

Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan .14., terlihat adanya pola distribusi resistivitas yang well logging) yang

berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen upaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.

Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap penampang resistivitas hasil inversi AMT/MT.

Pada kedalaman 0

rendah Berdasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan

Quartenary. Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas rendah kurang dari 5 Ohm.m merupakan lapisan batua

lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah

SE.

Kemudian diikuti zona resistivitas sedang berkisar 6

diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan

yang mengandung kerang.

Gambar 5.71. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT

N

Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap penampang resistivitas hasil inversi AMT/MT.

Pada kedalaman 0-250 meter bahwa terdapat zona lapisan resistivitas

dasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan . Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas rendah kurang dari 5 Ohm.m merupakan lapisan batuan yang terdiri dari lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah

Kemudian diikuti zona resistivitas sedang berkisar 6-15 Ohm.m yang

diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan kerang.

. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT

Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap

250 meter bahwa terdapat zona lapisan resistivitas dasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan . Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas n yang terdiri dari lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah

15 Ohm.m yang diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan

. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT

Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona resistivitas tinggi yaitu sekitar >500 Ohm.m yang diinterp

lapisan basement rock

berumur Pre-Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa

semakin ke SE basement rock

Gambar 5.72 Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan

Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300 Hz sampai 0.01 Hz. Dengan rata

maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.

N

Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona resistivitas tinggi yaitu sekitar >500 Ohm.m yang diinterpretasi sebagai basement rock berupa lapisan batuan metamorf dan atau kristalin Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa

basement rocknya semakin dalam.

Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT

Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300

Hz sampai 0.01 Hz. Dengan rata-rata apparent resistivity berkisar 1 ohm.m

maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.

Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona retasi sebagai berupa lapisan batuan metamorf dan atau kristalin Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa

Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan

Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300 berkisar 1 ohm.m maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.

Gambar 5.73

Berdasarkan hasil inversi kedua metode AMT dan MT, tidak terlihat adanya struktur sesar di daerah yang dilalui kedua lintasan ini. Namun demikian, menggunakan metode ini perlapisan batuan di daerah Kramatwatu ini khusususnya daerah yang dilalui jalur MT da

Terlihat bahwa meskipun penetrasi kedalaman metode AMT relatif dangkal namun penampang resistivitas AMT memberikan hasil inversi yang lebih detail pada kedalaman yang relatif dangkal dibandingkan hasil inversi MT.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 127-130)

Dokumen terkait