BAB V HASIL DAN ANALISIS
5.4. Analisis Metode Magnetotellurik
Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk
mengetahui profil basement rock
sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi untuk metode AMT berkisar dari 1
rata-rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa direkam oleh metode AMT pada penelitian ini sekitar 500
Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan MT pada Gambar 5
serupa. Gambar 5.15., memperlihatkan data pemboran (
berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen
Kabupaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.
. Interpretasi Kemenerusan Sesar pada Line-2 dan Line 3 yang Relatif Menerus ke Arah Utara-Selatan
NALISIS METODE MAGNETOTELLURIK
Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk basement rock serta kemungkinan terdapatnya indikasi sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi
untuk metode AMT berkisar dari 1-10000 Hz. Dengan apparent resistivity
rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa
direkam oleh metode AMT pada penelitian ini sekitar 500-1000 meter.
Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan MT pada Gambar 5.14., terlihat adanya pola distribusi resistivitas yang serupa. Gambar 5.15., memperlihatkan data pemboran (well logging
berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen upaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.
2 dan Line 3 yang Relatif
Metode magnetotellurik pada penelitian ini digunakan untuk serta kemungkinan terdapatnya indikasi sesar. Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa jangkauan frekeunsi apparent resistivity rata berkisar 10 ohm.m maka penetrasi kedalaman maksimal yang bisa
1000 meter.
Dari hasil inversi pada lintasan AMT pada Gambar 5.13 dan lintasan .14., terlihat adanya pola distribusi resistivitas yang well logging) yang
berlokasi berdekatan dengan daerah lintasan AMT/MT. Pemboran hidrogeologi tersebut dilakukan di desa Banten, kecamatan Asemen upaten Serang. Jangkauan kedalaman pemboran mencapai 120 meter.
Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap penampang resistivitas hasil inversi AMT/MT.
Pada kedalaman 0
rendah Berdasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan
Quartenary. Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas rendah kurang dari 5 Ohm.m merupakan lapisan batua
lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah
SE.
Kemudian diikuti zona resistivitas sedang berkisar 6
diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan
yang mengandung kerang.
Gambar 5.71. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT
N
Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap penampang resistivitas hasil inversi AMT/MT.
Pada kedalaman 0-250 meter bahwa terdapat zona lapisan resistivitas
dasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan . Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas rendah kurang dari 5 Ohm.m merupakan lapisan batuan yang terdiri dari lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah
Kemudian diikuti zona resistivitas sedang berkisar 6-15 Ohm.m yang
diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan kerang.
. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT
Menggunakan data pemboran tersebut dapat dilakukan korelasi terhadap
250 meter bahwa terdapat zona lapisan resistivitas dasarkan informasi geologi regional, lintasan AMT dan MT ini berada pada daerah yang didominasi oleh lapisan aluvium untuk batuan . Hasil korelasi dengan data bor, didapat bahwa zona resistivitas n yang terdiri dari lempung, pasir, lempung pasiran. Zona lapisan ini semakin menebal ke arah
15 Ohm.m yang diinterpretasi sebagai lapisan aluvium berupa lempung serta pasir lempungan
. Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT
Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona resistivitas tinggi yaitu sekitar >500 Ohm.m yang diinterp
lapisan basement rock
berumur Pre-Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa
semakin ke SE basement rock
Gambar 5.72 Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan
Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300 Hz sampai 0.01 Hz. Dengan rata
maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.
N
Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona resistivitas tinggi yaitu sekitar >500 Ohm.m yang diinterpretasi sebagai basement rock berupa lapisan batuan metamorf dan atau kristalin Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa
basement rocknya semakin dalam.
Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan AMT
Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300
Hz sampai 0.01 Hz. Dengan rata-rata apparent resistivity berkisar 1 ohm.m
maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.
Semakin bertambah kedalaman, terlihat resistivitas semakin membesar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin bertambah kedalaman batuannya semakin kompak. Pada kedalaman 800 m ke bawah, terdapat zona retasi sebagai berupa lapisan batuan metamorf dan atau kristalin Tersier. Berdasarkan penampang resistivitas terlihat bahwa
Korelasi Data Bor dengan Penampang Resistivitas Hasil Inversi Lintasan
Menggunakan metode MT rentang frekeunsi yang terekam antara 300 berkisar 1 ohm.m maka penetrasi kedalaman menggunakan metode MT mencapai 5 km.
Gambar 5.73
Berdasarkan hasil inversi kedua metode AMT dan MT, tidak terlihat adanya struktur sesar di daerah yang dilalui kedua lintasan ini. Namun demikian, menggunakan metode ini perlapisan batuan di daerah Kramatwatu ini khusususnya daerah yang dilalui jalur MT da
Terlihat bahwa meskipun penetrasi kedalaman metode AMT relatif dangkal namun penampang resistivitas AMT memberikan hasil inversi yang lebih detail pada kedalaman yang relatif dangkal dibandingkan hasil inversi MT.