BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
4. Analisis Data
Analisi data merupakan sebuah proses yang mencoba mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam sebuah pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan sebuah tema serta dapat juga dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan data.69 Metode yang digunakan untuk mengalisis data adalah analisis data secara kualitatif yaitu masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/objek penelitian.70 Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dan akibat hukumnya kepada para pihak yang melakukan pengikatan jaminan.
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif yaitu proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang besifat umum.71
69Ibid, hlm 103
70Op.Cit. hln 88
71Op.Cit. hlm 89.
BAB II
AKIBAT HUKUM BAGI KREDITUR YANG TIDAK MENDAFTARKAN OBJEK JAMINAN FIDUSIA
A. Tentang Jaminan Fidusia
1. Latar Belakang Lahirnya Jaminan Fidusia
Latar belakang timbulnya lembaga fidusia sebagaimana yang telah dipaparkan para ahli adalah karena ketentuan undang–undang yang mengatur tentang lembaga pand (gadai) mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata hanya mengenal dua jenis hak kebendaan, yaitu hak gadai dan hipotek. Secara umum orang mengatakan bahwa hak gadai adalah hak jaminan untuk barang yang bergerak, dan hipotek untuk barang yang tidak bergerak.72
Pada mulanya kedua pranata jaminan tersebut dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang perkreditan. Tetapi karena terjadi krisis pertanian yang melanda negara–negara Eropa pada pertengahan sampai akhir abad ke 19, terjadi penghambatan pada perusahaan–perusahaan pertanian untuk memperoleh kredit. Pada waktu itu tanah sebagai jaminan kredit kurang populer dan kreditor menghendaki jaminan gadai sebagai jaminan tambahan disamping jaminan pertanian.
Dengan menyerahkan alat–alat pertaniannya sebagai jaminan gadai dalam
72 O.K. Brahn, Penggadaian Diam – Diam dan Retensi Milik Menurut Hukum yang Sekarang dan yang Akan Datang, TataNUSA, (Jakarta-Indonesia, 2001). Hlm 11.
pengambilan kredit sama saja dengan bunuh diri. Apakah artinya kredit yang diperoleh kalau alat–alat pertanian yang dibutuhkanuntuk mengolah tanah sudah berada dalam penguasaan kreditor. Terjadilah perbedaan kepentingan antara kreditor dan debitor yang menyulitkan kedua pihak.
Hambatan yang menjadi kekurangan dari ketentuan–ketentuan undang-undang tentang lembaga gadai adalah sebagai berikut :
a Adanya asas inbezitstelling
Asas ini, menyaratkan bahwa kekuasaan atas bendanya harus dipindahkan / berada pada pemegang gadai, sebagaimana yang diatur dalam pasal 1152 KUH Perdata. Ini merupakan hambatan yanng berat bagi gadai atas benda–benda bergerak berwujud, karena pemberi gadai tidak dapat menggunakan benda-benda tersebut untuk keperluannya. Terlebih jika benda tanggungan tersebut kebetulan merupakan alat yang penting untuk mata pencaharian sehari–hari, misalnya bus atau truk bagi perusahaan penganggukan, alat–alat rumah makan, sepeda bagi penarik rekening atau lover susu dan lain–lainnya. Mereka itu disamping memerlukan kredit, masih membutuhkan tetap dapat memakai bendanya untuk alat bekerja;
b Gadai atas surat–surat piutang
Kelemahan dalam pelaksanaan gadai atas surat – surat piutang karena : 1) tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan dari piutang –
piutang oleh sipemegang gadai;
2) tidak adanya ketentuan mengenai bentuk tetentu bagaimana gadai itu harus dilaksanakan, misalnya mengenai cara pemberitahuan tentang adanya gadai pitang–piutang tersebut kepada di debitur syarat hutang., maka keadaan demikian tidak memuaskan bagi pemegang gadai. Dalam keadaan demmikian, berarti finansial si pemberi gadai menyerahkan diri sepenuhnya kepada debitur surat piutang tersebut, hal mana dianggap tidak baik dalam dunia perdagangan;
c Gadai kurang memuaskan karena ketiadaan kepastian berkedudukan sebagai kreditur terkuat, sebagaimana tampak dalam hal membagi hasil eksekusi, kreditur lain, yaitu pemegannng hak privelege dapat bekedudukan lebih tinggi daripada pemegang gadai.
Berbagai kelemahan diatas, dalam praktik timbul lembaga baru, yang disebut sebelumnya yaitu fidusia. Pada awal perkembangannya sebagaimana yang terjadi di negeri Belanda mendapat tantangan yang keras dari yurisprudensi karena dianggap menyimpang dari ketentuan pasal 1152 BW. Tidak memenuhi syarat tentang harus adanya causa yang diperkenankan.73
Lembaga jaminan fidusia merupakan lembaga jaminan yang secara yuridis formal diakui sejak berlakunya Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Sebelum Undang-Undang ini dibentuk lembaga jaminan ini disebut dengan
73 Salim HS, Peerkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014). Hlm 57.
berbagai macam nama. Zaman Romawi menyebutnya “Fidusia cum creditore” Asser Van Oven menyebutnya “zekerheids-eigendom” (hak milik sebagai jaminan), Blom menyebutkan “bezitloos zekerheidsrecht” (hak jaminan tanpa penguasaan), Kahrel memberi nama “Verruimd Pandbegrip” (Penyerahan hak milik sebagai jaminan) sebagai singkatan dapat dipergunakan istilah “fidusia” saja.74
Fidusia dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah “penyerahan hak milik secara kepercayaan”. Dalam terminologi Belanda nya sering disebut dengan istilah lengkapnya berupa Fiduciari Eigondoms Overdracht (FEO), sedangkan dalam bahasa Inggris nya secara lengkap sering disebut istilah Fidusiary Transfer of Ownership.75 Namun begitu, kadang–kandang dalam literatur Belanda dijumpai pula pengungkapan jaminan fidusia ini dengan istilah–istilah sebagai berikut :76
a Zekerheids-eigomdem ( Hak Milik Sebagai Jaminan ).
b Bezitloos Zekerheidsrecht ( Jaminan Tanpa Menguasai ).
c Verruimd Pand Begrip ( Gadai yang Diperluas ).
d Eigendom Overdracht tot Zekerheid ( Penyerahan Hak Milik secara jaminan ).
e Bezitloos Pand ( Gadai tanpa Penguasaan ).
f Een Verkapt Pand Recht ( Gadai Berselubung ).
g Uitbaouw dari Pand ( Gadai yang Diperluas ).
Fidusia adalah lembaga yang berasal dari sistem hukum perdata barat77 yang eksistensi dan perkembangannya selalu dikaitan dengan civil law. istilah civil law berasal dari kata latin jus civile, yang diperlakukan kepada masyarakat Romawi.
74 Mariam Darus Badrulzaman, Bab Tentang Kredit Verband, Gadai dan Fidusia, (Bandung:
Citra AdityaBakti 1983). Hlm. 90
75 Munir Fuady. Jaminan Fidusia, cetakan kedua, (Bandung: citra adytia bakti, 2003) Hlm 3.
76Ibid, Hlm 4
77 Di Indonesia, dalam pandangan tradisionil, potensi fidusia ini sudah cukup lama dikenal dalam kehidupan masyarakat dengan sebutan “boreh”. R. Soebekti, Suatu Tinjauan Tentang Sistem Hukum Jaminan Nasional, kertas kerja pada seminar hukum jaminan, Bina Cipta tahun 1081. Hlm. 29.
Lembaga jaminan fidusia sudah dikenal sejak zaman Romawi, pada masa itu orang Romawi mengenal dua bentuk fidusia yaitu:78
a Fidusia cum creditore.
b Fidusia cum amico.
Kedua bentuk fidusia tersebut timbul dari perjanjian yang disebut pactum fidusiae yang kemudian diikuti dengan penyerahan hak atau in iure cessio. Dari kata cum creditore dapat diduga bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada krediturnya sebagai jaminan untuk mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada debitur bilamana hutangnya sudah dibayar lunas.79
Dilihat dari isi perjanjian yang disepakati dalam bentuk fidusia cum creditore, maka ada beberapa hal yang penting sebagai unsur dalm hubungan hukum antara debitur dengan kreditur yakni: pertama, debitur mengalihkan kepemilikan atas benda kepada kreditur; kedua, benda yang diserahkan adalah sebagai jaminan hutang;
ketiga, secara fisik benda yang dijadikan jaminan hutang dikuasa oleh debitur;
keempat, kreditur berkewajiban mengembalikan hak milik atas benda kepada debitur setelah melaksanakan kewajibannya.80
Pada kontruksi fidusia cum creditore walaupun debitur menyerahkan benda dalam kepemilikan kreditur bukan berarti bahwa kreditur dapat melakukan sesuatu terhadap benda itu secara bebas dan tidak terbatas. Debitur percaya bahwa kreditur
78 Oey Hoey Tiong, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-unsur Perikatan,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985). Hlm 35.
79 Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan (Bandung : PT. Alumni, 2006). Hlm 42.
80Ibid. Hlm 42.
tidak akan menyalahgunakan hak tersebut walaupun tidak ada undang-undang atau peradilan yang menetapkan hubungan kepercayaan itu. Jadi, hubungan kepercayaan itu didasarkan kepada aturan moral.81 Kaitannya dengan fidusia cum creditore yaitu hubungan pihak-pihak didasarkan atas pertimbangan kepercayaan kepada moral yaitu moral intrinsik, yang tidak dipengauhi oleh hukum positif baik undang-undang maupun yurisprudensi.82
Selain bentuk fidusia cum creditore, dikenal pula fidusia cum amico, yang terjadi bilamana seseorang menyerahkan kewenangannya kepada pihak lain atau menyerahkan suatu barang kepada pihak lain untuk diurus. 83 Mengenai fidusia cum amico. Fred B.G. Tumbuan menjelaskan bahwa :
Fidusia cum amico merupakan suatu lembaga titian yang dikenal dalam hukum Romawi. Lembaga ini sering digunakan oleh seorang Pater familias yang harus meninggalkan keluarga dan tanahnya untuk jangka waktu yang lama karena ia harus membuat perjalanan jauh atau bepergan perang. Dalam hal demikian Pater familias tersebut akan menitipkan familiarnya yaitu keluarga dan seluruh kekayaannya kepad seorang teman yang selanjutnya akan mengurus tanah dan kekayaannya yang ditinggalkan oleh pater famililas. Tentu saja antara pater familias dan temannya tersebut dibuat janji bahwa teman tersebut akan mengembalikan kepemilikan atas familiasnya bilamana si pater familis sudah kembali dari perjalanannya.84
81 Kata “moral” berasal dari kata latin “mores” yang identik dengan akar kata “ethos” berarti alat kebiasaan. Moral berarti bebarti sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan wajar, lihat sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, buku IV, Bulan Bintang Jakarta, 1978, hal. 512 (lihat Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni, Bandung 2004. Hlm. 43).
82Ibid. Hlm 44.
83 Oey HoeyTiong. Op. Cit. Hlm 37.
84 Fred. B.G, Op.Cit hal 11. Disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung: Alumni, 2004). Hlm 45.
Cum amico merupakan hubungan yang tidak dapat ditujukan untuk kepentingan jaminan hutang. Hubungan antara pemberi dan penerima adalah bersifat kepengurusan harta benda. Penerima harta benda menjalankan kewenangan sesuai dengan kepentingan dari pemberi harta benda. Pranata jaminan ini pada dasarnya sama dengan “trust” yang dikenal dengan dalam sistem hukum common law. Dalam fidusia cum amico ini kewenangan diserahkan kepada pihak penerima tetapi kepentingan tetap berada pada pihak pemberi.85 Kedua bentuk fidusia yang dianut dalam hukum Romawi tersebut jaminan fidusia yang dimaksud dalam undang-undang jaminan fidusia sekarang ini adalah fidusia cum creditore contracta.86
Sistem hukum Indonesia mempunyai hubungan erat dengan hukum Belanda karena adanya peraturan sejarah yang didasarkan kepada asas konkordansi (concordantie beginsel).87 Demikian pula sistem hukum Belanda yang memiliki sejarah dengan hukum Prancis yang berasal dari hukum Romawi. Lembaga jaminan fidusia diakui di Belanda oleh Yurisprudensi untuk pertama kali dengan dikeluarkannya keputusan Hoge Raad (HR) tanggal 25 Januari 1929, di Indonesia pengakuan lembaga jaminan fidusia pertama kali didasarkan kepada keputusan Hoogerechttsschof (Hgh) dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)
85 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Jaminan Fidusia. (Jakarta: PT Raja Grapindo persada, 2006). Hlm 15.
86 K. Agus Rahardjo, Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, (Bandung: Makalah disampaikan dalam pelatihan sisminbakum tanggal 29-31 Maret 2004), hal 3.
Disitir dari Rega Satya Rachellariny, “eksekusi objek jaminan fidusia yang tidak didaftarkan lembaga keuangan non bank”, privat law vol. IV, 2016
87 Schoulten Van Oud Haarlem, asas konkordansi yang diikuti Indonesia adalah konkordansi sempit (enge concordantie), disitir dari C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka., 1982). Hlm 198.
vs Pedro Clignett, tanggal 18 Agustus 1932. Lahirnya putusan ini sekaligus meletakkan dasar pertama yurisprudensi yang terpengaruholeh Arrest Bierbrouwerij di Belanda.88
Lembaga jaminan fidusia dalam KUHPerdata tidak diatur secara khusus.
Lembaga jaminan yang diatur secara khusus dalam KUHPerdata hanyalah hipotik dan gadai. Namun, secara tersirat dapat dilihat dari beberapa pasal dalam hukum perjanjian yang diatur dalam Buku III KUHPerdata yang menganut sitem terbuka.
Artinya bahwa hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas–luasnya kepada para pihak untuk membuat perjanjian apa saja, asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Hingga pada akhirnya lembaga fidusia diakui oleh yurisprudensi, baik di negara Belanda yang berrdasarkan asas konkordansi berlaku juga di Indonesia.89
Ketentuan peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur jaminan fidusia adalah Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yang diundangkan pada tanggal 30 September 1999 LN.168, TLN. 3889 dan berlaku pada saat diundangkan.
Pasal 1 angka 1 Undang – Undang Nomor 42 Tahun 1999 :90
88 Tan Kamello. Op. Cit. Hlm 69
89 Zaeni Asyhadie dan Rahma Kusumawati, Hukum Jaminan Indonesia Kajian Berdasarkan Hukum Nasional dan Prinsip Ekonomi Syariah. (Depok: PT. RajaGrafindo, 2018). Hlm 165.
90 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia
“Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda”
Berdasarkan pasal tersebut fidusia dirumuskan secara umum, yang belum dihubungkan atau dikaitkan dengan suatu perjanjian pokok jadi belum dikaitkan dengan hutang. Adapun unsur-unsur perumusan fidusia sebagai berikut:91
a Unsur secara kepercayaan dari sudut pemberi fidusia. Unsur kepercayaan memang memegang peraanan penting dalam fidusia dalam hal ini juga tampak dari penyebutan unsur tersebut dalam Undang-undang Jaminan Fidusia arti kepercayaan selama ini diberikan oleh praktik, yaitu : Debitur pemberi jaminan percaya benda fidusia yang diserahkan olehnya tidak akan benar-benar dimiliki oleh kreditur penerima jaminan tetapi hanya sebagai jaminan saja, Debitur pemberi jaminan percaya bahwa kreditur terhadap benda jaminan hanya akan menggunakan kewenangan yang diperolehnya sekedar untuk melindungi kepentingan sebagai kreditur saja, Debitur pemberi jaminan percaya bahwa hak milik atas benda jaminan akan kembali debiturpemberi jaminan kalau hutang debitur untuk mana diberikan jaminan fidusia dilunasi.
b Unsur kepercayaan dari sudut penerima fidusia.
c Unsur tetap dalam penguasaan pemilik benda.
d Kesan keluar tetap beradanya benda jaminan di tangan pemberi fidusia.
e Hak mendahului (Preferen).
f Sifat acessoir.
Jaminan adalah menjamin dipenuhuinya kewajiban yang dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum,92 sedangkan Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tdak terwujud dan bangunan / rumah di atas tanah orang lain baik yang terdaftar maupun tidak terdaftar,
91 J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002). Hlm. 160-175
92Ibid. Hlm 31
yang tidak dapat dibebani hak tanggungan, yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia sebagai agunan pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.93
Pasal 1 angka 2 Undang – Undang Jaminan Fidusia merumuskan jaminan fidusia sebagai berikut ;94
“Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan, yang tetap berada dalam pengusaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan yang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya”.
Defenisi tersebut sudah jelas bahwa fidusia berbeda dengan jaminan fidusia, dimana Fidusia merupakan suuatu proses pengalihan hak kepemilikan dan jaminan fidusia adalah jaminan yang diberikan dalam bentuk fidusia. Ini berarti pranata jaminan fidusia yang diatur dalam Undang – Undang No 42 Tahun 1999 ini adalah pranata jaminan fidusia sebagaimana dimaksud dalam fiducia cum creditore contracta di atas.95
2. Ruang Lingkup Jaminan Fidusia.
Pasal 2 Undang – Undang Jaminan fidusia memberikan batas ruang lingkup berlakunya undang – undang jaminan fidusia yaitu berlaku berlaku terhadap setiap
93 J. Satrio. Op.Cit. Hlm 56
94 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia/.
95 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Op.Cit. Hlm123
perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia96, berdasarkan pasal 2 undang-undang jaminan fidusia tersebut sepanjang perjanjian itu bertujuan untuk membenani benda dengan jaminan fidusia perjanjian tersebut tunduk dan mengikuti ketentuan undang-undang jaminan fidusia.
Objek jaminan fidusia pada awalnya hanya benda bergerak saja. Hal ini dapat dilihat dari Keputusan Pengadilan Tinggi Surabaya Nomor 158/1950/Pdt tanggal 22 Maret 1950 dan Keputusan Mahkamah Agung Nomor 372 K/Sip/1970 tanggal 1 September 1971, yang menyatakan bahwa fidusia hanya sah sepanjang mengenai barang-barang bergerak.
Lahirnya Undang–Undang Jaminan Fidusia, yaitu dengan mengacu kepada pasal 1 butir 2 dan 4 serta pasal 3 Undang–Undang Jaminan Fidusia, dapat dikatakan bahwa yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda apapun yang dapat dimiliki dan dialihkan hak kepemilikannya. Benda itu dapat berupa benda terdaftar maupun tidak terdaftar, bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud, dan benda tidak bergerak dengan syarat bahwa benda tersebut tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang–Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atau Hipotek sebagaimana dimaksud dalam pasal 314 KUH Dagang jis pasal 1162 Kitap Undang-Undang Hukum Perdata.97 Dengan begitu berarti atas suatu hubungan hukum yang mempunyai ciri–ciri fidusia yang disebutkan dalam undang–undang jaminan fidusia berlaku Undang– Undang Jaminan Fidusia.
96 Pasal 2 Undang-Undang 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
97 Gunawan widjaja, Op.Cit, hal 141.
Benda yang tidak dapat menjadi objek jaminan fidusia sekarang ini meliputi : benda bergerak dan benda tetap yaitu benda yang tidak bisa dijaminkan melalui lembaga jaminan hak tanggungan atau hipotik dan dengan syarat benda tetap tersebut dapat dimiliki dan dapat dialihkan.98
Undang–undang jaminan fidusia pada umumnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia itu benda bergerak yang terdiri atas benda persediaan, benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor.99 Undang-undang Jaminan fidusia mengatur tentang objek jaminan fidusia ketentuan tersebut dapat dilihat dalam pasal 1 ayat 4, pasal 9, pasal 20 dan pasal 31. Yang menjadi objek jaminan fidusia tersebut adalah:100
a Benda tersebut harus dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum.
b Benda tersebut dapat berupa benda berwujud, termasuk piutang. Dapat juga atas benda tidak berwujud, termasuk piutang.
c Benda terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Arrtinya objek jaminan fidusia biasanya berupa benda bergerak tidak atas nama (benda bergerak tidak terdaftar) seperti mesin dan lain-lain. Dan bisa juga benda
f Dapat atas satu satuan atau jenis benda.
g Dapat juga atas satu jenis benda.
h Meliputi juga hasil dari benda yang telah menjadi objek jaminan fidusia.
i Dapat juga berupa benda perdagangan atau efek yang dapat dijual dipasar atau bursa (pasal 31 Undang-Undang Jaminan Fidusia)
98 J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2002). Hlm. 179
99 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, (Jakarta: Sinar Grafika 2009. Hlm 176.
100 Munir Fuady, Jaminan Fidusia, cetakan kedua, (Bandung: citra adytia bakti, 2003). Hlm.
22.
j Dapat juga terhadap hak milik atas satuan rumah susun (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun), jika tanahnya tanah hak pakai atas rumah negara.
k Klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi objek jaminan musnah dan diasuransikan, maka klaim asuransi akan menjadi penggantu objek jaminan fidusia tersebut (penjelasan pasal 25 ayat 2).
l Benda persediaan (inventory/stok perdagangan) dapat juga menjadi jaminan fidusia.
Terhadap pembebanan fidusia yang berobjekkan barang persediaan ini, dalam hukum anglo saxon dikenal dengan nama Floating Lien atau Floating Charge.
Disebut dengan Floating (mengambang) karena jumlahnya yang menjadi objek jaminan sering berubah – ubah sesuai dengan persediaan stok, mengikuti irama pembelian dan penjualan dari benda tersebut.101
Pasal 3 Undang – Undang Nomor 42 Tahun 1999 ini tidak berlaku terhadap :102
a Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan, sepanjang peraturan perundang – undangan yang beraku menentukan jaminan atas benda – benda tersebut wajib didaftar. Namun demikian bangunan diatas milik orang lain yang tidak dapat dibebani hak tanggungan berdasarkan Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, dapat dijadikan objek jaminan fidusia;
b Hipotek atas kapal yang tedaftar dengan isi kotor berukuran 20 (dua puluh) M3 atau lebih;
c Hipotek atas pesawat terbang; dan d Gadai.
Ilmu hukum yang merupakan sumber hukum dalam arti formil adalah Undang-Undang, kebiasaan, traktat, yurisprudensi dan doktrin (pendapat para ahli).
101Ibid. Hlm. 23
102Ibid. Hlm. 138
Adapun sumber-sumber yang melandasi lembaga jaminan fidusia ini antara lain adalah:103
a Umum (General)
1) Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi “ semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Pasal ini memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat perjanjian yang mereka buat, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusiaan dan ketertiban umum.
2) Pasal 14 dan pasal 27 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman, bahwa Hakim tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan tidak ada hukumnya atau Undang-Undang yang mengaturnya dan Hakim wajib menggali hukum yang hidup dan berkembang di masyarakat dalam rangka penemuan hukum baru.
b Khusus:
1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1999, LN.58, TLN.3837, jo Peraturan Pemerintah Nomor 87 tahun 2000 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementrian hukum, LN.171, TLN.4006.
103 Andi Hamzah dan Senjun Manullang, Lembaga Fidusia dan Penerapannya Di Indonesia, (Jakarta: indhill Co, 1987). Hlm 41-42.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, LN.170, TLN.4005.
4) Keputusan Presiden Nomor 139 Tahun 2000 Tanggal 30 september 2000 tentang Pembentukan kantor Pendaftaran Di Setiap Ibukota Provinsi Di Wilayah Negara Republik Indonesia.
5) Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.06 Tahun 2000 tanggal 30 Oktober 2000 tentang Bentuk Formulir dan Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia.
6) Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.
7) Peraturan Menteri Keuangan No.130/PMK.010/2012 tentang Pedaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Meakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia.
8) Peraturan Menteri Huum dan HAM No. 9 Tahun 2013 tentang
8) Peraturan Menteri Huum dan HAM No. 9 Tahun 2013 tentang