BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Pengawasan Sebagai Pembanding Kegiatan
Pengawasan merupakan serangkaian kegiatan yang menilai dan membandingkan apa yang telah dilaksanakan dalam suatu kegiatan
77 A. Widiada Gunakarya S.A., Op.cit hlm. 65-74.
manajemen dan apa yang belum.
Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian dari unsur-unsur yang terkandung dalam definisi tersebut. 78
1. Unsur penilaian.
2. Unsur perbandingan.
3. Unsur program yang ditetapkan telah dilaksanakan.
4. Unsur perbaikan dan koreksi.
Dalam lingkungan Aparatur Pemerintah, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan, pengawasan bertujuan mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pemerintah dan pembangunan. Adapun sasarannya adalah :79 1. Agar pelaksanaan tugas umum pemerintah dilakukan secara tertib
berdasrkan peraturan perundangan yang berlaku serta berdasarkan sendi-sendi kewajaran penyelenggaraan pemerintah agar tercapai daya guna, hasil guna dan tepat guna yang sebaik-baiknya.
2. Agar pelaksanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan rencana dan program Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku sehingga tercapai sasaran yang ditetapkan.
3. Agar hasil-hasil pembangunan dapat dinilai sebarapa jauh telah tercapai untuk memberi umpan balik berupa pendapat, kesimpulan dan saran
78 Mufham Al-Amin, Op.cit. hlm. 51.
79Lembaga Administrasi Negara RI, Sistem Adminitrasi Negara RI, (Jakarta; Gunung Agung,2007), hlm 159.
terhadap kebijaksaan, pembinaan dan pelaksanaan tugas umum pemerintah dan pembangunan.
4. Agar sejauh mungkin mencegah terjadinya pemborosan, kebocoran dan penyimpangan dalam penggunaan wewenang, tenaga, uang dan perlengkapan milik Negara, sehingga dapat terbina aparatur yang tertib, bersih, berwibawa, berhasil guna dan berdaya guna.
Keberadaan pengawasan merupakan salah satu aspek yang sangat vital dalam suatu organisasi. Robert J. Mockler, memberikan pengertian bahwa pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan- tujuan perencanaan, merancang sistem maupun informasi maupun umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya yang dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan. Maka tujuan pengawasan tidak lain adalah untuk menjamin agar kegiatan dan aktivitas yang telah dilakukan oleh sebuah organisasi dapat dilaksanakan sesuai dengan program maupun rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. 80
Agar fungsi pengawasan itu mendatangkan hasil yang diharapkan, pimpinan organisasi harus mengetahui ciri-ciri suatu proses pengawasan,
80 Muhammad Fauzan, Hukum Pemerintahan Daerah, (Yogyakarta; PKHKD FH UNSOED Dengan UII Press,2006), hlm 89-90.
dan yang lebih penting lagi berusaha untuk memenuhi sebanyak mungkin ciri-ciri dalam pelaksanaannya. 81
Ciri - ciri itu ialah sebagai berikut :
1. Pengawasan harus bersifat fact fiding dalam arti bahwa pelaksanaan fungsi pengawasan harus menemukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan organisasi.
2. Pengawasan harus bersifat preventif yang berarti bahwa proses pengawasan itu dijalankan untuk mencegah timbulnya penyimpangan-penyimpangan dan penyelewengan-penyelewengan dari rencana yang telah ditentukan.
3. Pengawasan diarahkan kepada masa sekarang yang berarti bahwa pengawasan hanya dapat ditujukan terhadap kegiatan-kegiatan yang kini sedang dilaksanakan.
4. Pengawasan hanyalah sekedar alat untuk meningkatkan efisiensi.
5. Kerena pegawasan hanyalah sekedar alat untuk administrasi dan manajemen, maka pelaksanaan pengawasan itu harus mempermudah tercapainya tujuan.
6. Proses pelaksanaan pengawasan harus efisien.
7. Pengawasan tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang salah jika ada ketidakberesan, akan tetapi untuk menenmukan apa yang tidak betul.
8. Pengawasan harus bersifat membimbing agar para pelaksana
81 Sondang P. Siagian. Op. Cit. hlm 114.
meningkatkan kemampuannya untuk melakukan tugas yang ditentukan baginya.
Selanjutnya, Muchsan menyimpulkan bahwa untuk adanya tindakan pengawasan diperlukan unsur-unsur sebagai berikut : 82
1. Adanya kewenangan yang jelas yang dimiliki oleh aparat pengawas.
2. Adanya suatu rencana yang mantap sebagai alat penguji terhadap pelaksanaan suatu tugas yang akan diawasi.
3. Tindakan pengawasan dapat dilakukan terhadap suatu proses kegiatan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut.
4. Tindakan pengawasan berakhir dengan disusunnya evaluasi akhir terhadap kegiatan yang dilaksanakan serta pencocokan hasil yang dicapai dengan rencana sebagai tolak ukurnya.
5. Untuk selanjutnya tindakan pengawasan akan diteruskan dengan tindak lanjut, baik secara administratif maupun secara yuridis.
Dalam ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, diterangkan bahwa Sistem Pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan agar menjadi manusia seutuhnya, bertakwa, sehat dan bertanggung jawab pada diri, keluarga dan masyarakat dan tujuan pembinaan narapidana agar warga binaan dapat diterima kembali oleh lingkungan dan hidup secara wajar yang baik dan bertanggung jawab.
82 W. Riawan Tjandra, Hukum Keuangan Negara, (Jakarta; Grasindo,2006), hlm 132.
Perilakuan terhadap pelanggar hukum terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan peradaban manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu dari doktrin pembalasan, penjeraan, rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
Sejak tanggal 27 April 1964 perlakuan terhadap pelanggaran hukum di Indonesia mengalami perubahan yang mendasar, yaitu dari sistem kepenjaraan yang menitikberatkan pada penjeraan ke Sistem Pemasyarakatan dan menitikberatkan pada pembinaan dan termasuk dalam doktrin reintegrasi sosial yang berasumsi bahwa terjadinya pelanggaran hukum disamping karena kesalahan individu, juga karena kesalahan masyarakat yang ikut mengkondisikannya. Karena itu pembinaan pelanggar hukum harus melibatkan masyarakat untuk memulihkan hubungan yang harmonis antara pelanggar hukum dan masyarakatnya. Konsep inilah yang melahirkan pemulihan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan pada Sistem Pemasyarakatan. Hidup diartikan sebagai hubungan manusia dengan pencipta-Nya, kehidupan diartikan sebagai hubungan antara sesama manusia, sedangkan penghidupan adalah hubungan manusia dalam kaitan dengan pekerjaan untuk mempertahankan hidup dan penghidupannya.
Dengan mengganti istilah penjara menjadi pemasyarakatan, tentu terkandung maksud baik, yaitu bahwa pembinaan narapidana berorientasi pada tindakan-tindakan yang lebih manusiawi dan disesuaikan dengan
kondisi narapidana itu.83
Dalam konferensi dinas direktur-direktur penjara pada bulan April 1964 menyatakan telah menerima Sistem Pemasyarakatan sebagai dasar perlakuan terhadap narapidana. Menurut Soedjono D., mengatakan bahwa sistem Pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan narapidana yang didasarkan atas asas Pancasila dan memandang narapidana sebagai makhluk Tuhan, individu dan anggota masyarakat sekaligus. Dalam membina narapidana diperkembangkan kehidupan jiwanya, jasmaniahnya, pribadi serta kemasyarakatannya dan dalam penyelenggaraannya mengikutsertakan secara langsung dan tidak melepas hubungan dengan masyarakat. Wujud serta cara pembinaan narapidana dalam semua segi kehidupannya dan pembatasan kebebasan bergerak serta pergaulannya dengan masyarakat di luar lembaga disesuaikan dengan kemajuan sikap dan tingkah lakunya serta lama pidana yang wajib dijalani. Dengan demikian diharapkan narapidana pada waktu lepas dari lembaga benar-benar telah siap hidup bermasyarakat kembali dengan baik.84
Dari pengertian di atas bahwa dalam ini terlihat adanya upaya untuk memasyarakatkan kembali narapidana sebagai anggota masyarakat. Artinya sistem ini berproses atau bergerak dari input menuju output dengan
83 Djisman Samosir, Fungsi Pidana Penjara Dalam Sistem Pembinaan Di Indonesia, (Bandung, Bina Cipta,1992), hlm 70.
84 Soedjono Dirdjosisworo, Sejarah Dan Azas-Azas Penologi (Pemasyarakatan), (Bandung: Amrico, 1984), hlm 199-200. Baca Juga Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.
mendapat pengaruh dari lingkungan sistem. Jadi berhasil atau tidaknya pembinaan narapidana tergantung pada peranan 3 unsur yaitu Pembina (petugas Pemasyarakatan), narapidana dan masyarakat, hal ini disebabkan Sistem Pemasyarakatan berpangkal tolak kepada pandangan bahwa walaupun narapidana sebagai orang hukuman dibatasi kehidupannya, akan tetapi tetap diakui sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu dalam pembinaan narapidana maka pihak masyarakat diikutsertakan di samping petugas itu sendiri. 85
Pada dasarnya Pemasyarakatan diselenggarakan tidak hanya untuk kepentingan narapidana saja, tetapi justru demi kepentingan masyarakat.
Maka dari itu masyarakat diharapkan pengertiannya, bantuan bahkan juga tanggung jawabnya dalam menyelenggarakan pembinaan narapidana. Sebab suatu perbuatan pelanggar hukum selain tergantung dari sikap dan perbuatan narapidana sedikit banyak juga tergantung dari masyarakat sekitarnya. 86
Di samping itu menurut Mochtar Kusumaatmajaya, bahwa penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan yang sesungguhnya harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:87
1. Harus adanya sarana peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan, yang merupakan landasan struktural yang menunjang atau melaksanakan dasar bagi ketentuan-ketentuan operasionil suatu
85 Romli Atmasasmita, Op. cit, hlm 116.
86 Soedjono Dirdjosisworo, Dasar-Dasar Penologi Usaha Pembaharuan Sistem Kepenjaraan dan Pembinaan Narapidana, (Bandung; Alumni,1972), hlm 96.
87 Romli Atmasasmita & Achmad S. Soemadipradja, Op. cit. hlm 63.
konsepsi, dalam hal ini konsepsi Pemasyarakatan.
2. Harus tersedia sarana personil yang mencukupi dan memadai bagi kebutuhan pelaksanaan tugas pembinaan narapidana.
3. Sarana administrasi keuangan, sebagai sarana materiil untuk keperluan operasional.
4. Sarana fisik yang sesuai dengan kebutuhan bagi pelaksanaan pembinaan narapidana, dalam proses pemasyarakatan.
Dalam Sistem Pemasyarakatan Warga Binaan Pemasyarakatan mempunyai hak untuk melakukan ibadah, mendapat perawatan rohani jasmani, pendidikan, pelayanan, kesehatan dan makanan yang layak, menyampaikan keluhan, memperoleh informasi, mendapat upah atas pekerjaannya, menerima kunjungan, mendapatkan remisi, mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk mengunjungi keluarga, mendapatkan pembebasan bersyarat, mendapatkan cuti menjelang bebas, serta hak- hak lain sesuai dengan peraturan yang berlaku.88
Menurut prosedur, pemberian hak ini dimulai dengan adanya penilaian dari tim pengawas atau penilai yang merupakan orang dalam Lembaga atau Rumah Tahanan Negara, yang kemudian diajukan ke kepalanya. Yang dinilai oleh tim di antaranya apakah si narapidana berkelakuan baik untuk mendapatkan hak itu. Selanjutnya terserah kepala Lembaga Pemasyarakatan atau Rumah Tahanan Negara apakah mengajukan nama itu ke Direktorat Jendral Pemasyarakatan. Ini juga membuat faktor subyektifitas penguasa
88 Adi Sujatno, Sistem Pemasyarakatan ndonesia (Mebangun Manusia Mandiri), (Jakarta:
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, 2004), hlm 66.
tahanan berperan penting. Bila mengacu pada undang-undang, yang bisa mendapatkan Remisi adalah narapidana yang sudah menjalani pidana minimal 6 (enam) bulan dan berkelakuan baik. Seharusnya, semua tahanan mempunyai hak yang sama dan diperlakukan sama seperti yang sudah dijamin oleh undang-undang.
Pemerintah telah memperbaiki aturan mengenai pemberian Remisi, yakni dengan Keputusan Presiden Nomor 174 Tahun 1999 tentang Pemberian Remisi Umum setiap tanggal 17 Agustus dan Remisi Khusus (Keagamaan) pada setiap hari raya yang paling dihormati pemeluknya.
Antara lain pada Hari Raya Idiul Fitri bagi penganut agama Islam dan pada tanggai 25 Desember bagi pemeluk agama Kristen dan Katholik maupun hari besar agama lainnya sesuai dengan agama yang dianut pemeluknya.
Pemberian remisi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar sesuai dengan penelitian dan fakta, adalah sebagai berikut:
Tabel 10 : Jumlah Pemberian Remisi Pada Tahun 2011 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar
No Uraian Jumlah
1 Remisi Umum 577
2 Remisi Khusus(Waisak) 1
3 Remisi Khusus(Lebaran) 524
4 Remisi Khusus(Natal) 52
5 Remisi Khusus(Nyepi) 2
6 Remisi Dasawarsa 7 Remisi Tambahan
Total 1.156
Sumber : Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar
Tabel 10 tersebut di atas mengambarkan bahwa narapidana sebanyak 577 orang menerima pemberian Remisi Umum pada tanggal 17 Agustus 2011. Sedangkan yang paling banyak menerima Remisi Khusus adalah narapidana yang beragama Islam yakni sebanyak 524 orang, diikuti oleh narapidana yang beragama Kristen sebanyak 52 orang, yang beragama Budha sebanyak 1 orang dan yang paling sedikit narapidana yang beragama Hindu yakni sebanyak 2 orang. Namun pada tahun itu tidak ada narapidana yang menerima Remisi Dasawarsa dan Remisi Tambahan
Tabel 11: Jumlah Jumlah Narapidana Yang Mendapat Remisi Pada tahun 2012 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar
No Uraian Jumlah
1 Remisi Umum 646
2 Remisi Khusus(Waisak) -
3 Remisi Khusus(Lebaran) 551
4 Remisi Khusus(Natal) 56
5 Remisi Khusus(Nyepi) 1
6 Remisi Dasawarsa 7 Remisi Tambahan
Total 1.254
Sumber : Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar
Tabel 11 mengambarkan bahwa pemberian Remisi Umum pada tanggal 17 Agustus 20012 diberikan kepada narapidana sebanyak 646 orang.
Sedangkan narapidana yang beragama Islam menerima Remisi Khusus sebanyak 551 orang, diikuti oleh narapidana yang beragama Kristen sebanyak 56 orang, yang beragama Budha tidak ada dan yang paling sedikit narapidana yang beragama Hindu yakni sebanyak 1 orang. Namun pada
tahun itu tidak ada narapidana yang menerima Remisi Dasawarsa dan Remisi Tambahan
Tabel 12: Jumlah Jumlah Narapidana Yang Mendapat Remisi Pada bulan Mei tahun 2013 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I
Makassar
No Uraian Jumlah
1 Remisi Umum
2 Remisi Khusus(Waisak) 3 Remisi Khusus(Lebaran) 4 Remisi Khusus(Natal)
5 Remisi Khusus(Nyepi) 1
6 Remisi Dasawarsa 7 Remisi Tambahan
Total 1
Sumber : Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar
Tabel 12 menjelaskan bahwa pemberian Remisi Umum pada tanggal 17 Agustus 2013 diberikan kepada narapidana belum ada karena data yang diperoleh baru bulan mei 2013 . Sedangkan narapidana yang beragama Islam menerima Remisi Khusus belum ada, narapidana yang beragama Kristen belum ada, yang beragama Budha belum ada dan narapidana yang beragama Hindu sebanyak 1 orang serta tidak terdapat narapidana yang menerima Remisi Dasawarsa dan Remisi Tambahan.
E. Pelaksanaan Pemberian Remisi Di Lembaga Pemasyarakatan