HASIL PENELITIAN
B. Analisis Bivariat
3. Analisis Multivariat
Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan beberapa variabel bebas dengan satu variabel terikat, yang dilakukan dengan uji regresi logistik ganda. Beberapa variabel bebas yang akan diikutsertakan dalam kandidat model analisis regresi logistik ganda terlebih dahulu dilakukan uji regresi logistik sederhana untuk setiap satu variabel bebas dengan variabel terikat.
Variabel bebas yang akan diikutsertakan dalam kandidat model analisis regresi logistik ganda jika memiliki nilai p < 0,25. Hasil uji regresi logistik sederhana untuk kandidat model dapat dilihat pada tabel 5.24
Tabel 5.24
Nilai p dari Uji Regresi Logistik Sederhana untuk Kandidat Model
MPKP Non MPKP
Variabel yang dilakukan uji regresi logistik sederhana
Nilai p
Perencanaan dengan Kinerja 0,039 * 0,000 *
Pengorganisasian dengan Kinerja Pengarahan dengan Kinerja Pengawasan dengan Kinerja Umur dengan Kinerja Lama Kerja dengan Kinerja
Status Perkawinan dengan Kinerja
0,096 *
* variabel yang diikutsertakan dalam kandidat model analisis regresi logistik ganda (nilai p < 0,25)
Berdasarkan tabel 5.24, maka dapat diketahui bahwa variabel bebas yang akan diikutsertakan dalam analisis regresi logistik ganda adalah semua fungsi manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan), pada ruang MPKP dan NonMPKP.
a. Analisis Regresi Logistik Ganda pada Ruang MPKP.
Hasil analisis regresi logistik ganda pada ruang MPKP dapat dilihat pada tabel 5.25 sampai 5.28 berikut:
Tabel 5.25
Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Fungsi Manajemen: perencanaan, pengarahan dan pengawasan pada Ruang MPKP RSUD Budhi Asih
Model Variabel Bebas B P Wald OR Perubahan OR
Berdasarkan tabel 5.25, diketahui bahwa fungsi pengorganisasian tidak akan diikutsertakan dalam permodelan analisis regresi logistik ganda berikutnya, karena perubahan OR pada fungsi manajerial yang lain (perencanaan, pengarahan dan pengawasan) dengan dihilangkannya fungsi pengorganisasian < 10%. Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan fungsi manajerial lain yang mempunyai nilai P tertinggi, yaitu fungsi pengawasan (p = 0,438) yang dapat dilihat pada tabel 5.26.
Tabel 5.26
Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Fungsi Manajemen: Perencanaan dan Pengarahan pada Ruang MPKP RSUD Budhi Asih
Model Variabel
Berdasarkan tabel 5.25, diketahui bahwa fungsi pengawasan tetap akan diikutsertakan dalam permodelan analisis regresi logistik ganda berikutnya, karena perubahan OR pada fungsi perencanaan dengan dihilangkannya fungsi pengorganisasian > 10%. Selanjutnya mengeluarkan variable tertinggi lainnya, yaitu perencanaan (p = 0,434) yang dapat dilihat pada tabel 5.27
Tabel 5.27
Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Fungsi Manajemen: Pengarahan dan Pengawasan pada Ruang MPKP RSUD Budhi Asih
Model Variabel Bebas B P Wald OR Perubahan OR
Fungsi manajerial
Berdasarkan tabel 5.27, diketahui bahwa fungsi perencanaan tetap akan diikutsertakan dalam permodelan analisis regresi logistik ganda berikutnya, karena perubahan OR pada fungsi manajerial yang lain (pengarahan dan pengawasan) dengan dihilangkannya fungsi pengorganisasian > 10%. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa variabel bebas yang akan diikutsertakan dalam model akhir analisis regresi logistik pada ruang MPKP adalah perencanaan, pengarahan dan pengawasan, yang dapat dilihat pada tabel 5.28.
Tabel 5.28
Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda pada Ruang MPKP RSUD Budhi Asih Model Variabel Bebas dan Konstanta B P Wald OR
Dari variable yang dianalisis secara multivariate, ternyata ada 1 variabel yang paling dominan yang mempengaruhi kinerja yaitu fungsi pengarahan (p = 0,052) Dengan OR = 3,733, maka dapat disimpulkan bahwa responden dengan fungsi pengarahan yang kurang akan memiliki peluang kinerja kurang
sebesar 3,733 kali dibandingkan dengan pengarahan yang baik setelah dikontrol oleh fungsi perencanaan dan pengarahan.
b. Analisis Regresi Logistik Ganda pada Ruang NonMPKP.
Hasil analisis regresi logistik ganda pada ruang MPKP dapat dilihat pada tabel 5.29 sampai 5.31 berikut:
Tabel 5.29
Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Fungsi Manajemen: Pengorganisasian, Pengarahan dan Pengawasan pada Ruang Non MPKP RSUD Budhi Asih Model Variabel Bebas B P Wald OR Perubahan OR
Berdasarkan tabel 5.29, diketahui bahwa fungsi perencanaan tetap akan diikutsertakan dalam permodelan analisis regresi logistik ganda berikutnya, karena perubahan OR pada fungsi manajerial yang lain (pengorganisasian dan pengarahan) dengan dihilangkannya fungsi pengorganisasian > 10%. Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan fungsi manajerial lain yang mempunyai nilai P tertinggi, yaitu fungsi pengarahan (p = 0,384) yang dapat dilihat pada tabel 5.30.
Tabel 5.30
Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Fungsi Manajemen: Perencanaan, Pengorganisasian dan Pengawasan pada Ruang Non MPKP RSUD Budhi Asih
Model Variabel Bebas B P Wald OR Perubahan OR
Berdasarkan tabel 5.30, diketahui bahwa fungsi pengarahan tetap akan diikutsertakan dalam permodelan analisis regresi logistik ganda berikutnya, karena perubahan OR pada fungsi manajerial yang lain (perencanaan dan pengawasan) dengan dihilangkannya fungsi pengorganisasian > 10%. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa semua komponen fungsi manajerial akan diikutsertakan dalam model akhir analisis regresi logistik pada ruang non MPKP, yang dapat dilihat pada tabel 5.31.
Tabel 5.31
Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda pada Ruang Non MPKP Model Variabel Bebas dan Konstanta B P Wald OR
Dari variable yang dianalisis secara multivariate, ternyata ada 2 variabel yang berhubungan yaitu fungsi pengorganisasian (p = 0,002) dan fungsi pengawasan (p = 0,009). Dari ke-2 variabel tersebut memperlihatkan bahwa fungsi pengorganisasian merupakan variable yang paling dominan yang mempengaruhi kinerja (OR = 46,317). Dengan OR = 46,317, maka dapat disimpulkan bahwa responden dengan fungsi pengorganisasian yang kurang akan memiliki peluang kinerja kurang sebesar 46,317 kali dibandingkan dengan pengorganisasian yang baik setelah dikontrol oleh pengawasan, perencanaan dan pengarahan.
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian mengenai hubungan persepsi perawat pelaksana terhadap pelaksanaan fungsi manajerial kepala ruangan: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dengan kinerja perawat diruang MPKP dan Non MPKP sesuai dengan tujuan penelitian. Bagian ini akan mengemukakan tentang interpretasi dan diskusi hasil penelitian, keterbatasan penelitian serta implikasinya untuk keperawatan.
A. Interpretasi dan Diskusi Hasil 1. Kinerja Perawat
Hasil penelitian univariat pada ruang MPKP distribusi responden menurut kinerja baik sebanyak 54%. Pada ruang non MPKP distribusi responden menurut kinerja baik, 49,2%. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa prosentase responden dengan kinerja baik lebih tinggi pada ruang MPKP dari pada NonMPKP. Kinerja baik diruang MPKP sama dengan hasil penerapan MPKP yang dilakukan di 6 rumah sakit jiwa di Indonesia (RSMM Bogor, RSJ Lawang, RSJ Semarang, RSJ Grasia Jogja, RSJ Banda Aceh dan RS Duren Sawit), dimana terjadi peningkatan kinerja perawat setelah dilakukan pelatihan dan monitoring evaluasi (Tim MPKP Jiwa, 2007).
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama (Mangkuprawira, 2007). Menurut Ilyas (2002), kinerja merupakan penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi.
Di Ruang MPKP, pekerjaan yang dilakukan mulai dari kepala ruangan, ketua tim dan perawat pelaksana sudah tertata dengan jelas. Masing-masing tenaga mempunyai fungsi dan tanggung jawab dalam pemberian asuhan keperawatan. Awal pembentukan ruang MPKP tahun 2005 dilakukan dengan mengalokasikan sejumlah tenaga sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien dan jenis tenaga yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tenaga yang dipilih diruangan ini terlebih dahulu melalui proses seleksi pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan pemberian asuhan keperawatan.
Melalui proses ini, peneliti mengasumsikan bahwa perawat yang bekerja diruangan ini memiliki kemampuan yang lebih baik, sehingga kinerja yang dihasilkan lebih baik, sesuai dengan Gibson (1999; Illyas, 2002; Simanjuntak, 2005), yang menyatakan kemampuan kerja seseorang turut mempengaruhi perilaku dan kinerja.
Walaupun kinerja perawat diruang MPKP lebih baik dari pada ruang NonMPKP, namun prosentase yang diperoleh (54%) belum sesuai dengan harapan rumah sakit yang saat ini sedang dalam proses akreditasi ISO 9001:2000 dengan target lulus diatas 75% . Hasil ini juga mengalami penurunan bila dibandingkan dengan hasil kegiatan residensi tentang pelaksanaan MPKP oleh Chanafie (2005) dan Harmini (2006) melalui audit dokumentasi proses keperawatan sebesar 77,33% dan 67%. Hal ini kemungkinan dapat juga disebabkan aplikasi nilai-nilai profesional yang ditanamkan tidak dilaksanakan secara optimal, pembinaan dan bimbingan tentang implementasi MPKP belum dilakukan secara berkesinambungan sehingga belum menyatu dengan perilaku perawat pada pemberian asuhan keperawatan.
Informasi yang didapatkan dari salah seorang kepala ruang yang menyatakan sejak adanya KLB DBD, terjadi rotasi perawat diseluruh ruangan untuk alokasi ruangan baru, salah seorang kepala ruang MPKP memegang tanggung jawab pada ruang KLB (NonMPKP) yang dibentuk. Dampak yang dirasakan adalah sistem kerja ruangan mengalami penurunan, supervisi jarang dilakukan, dan diperlukan orientasi bagi tenaga baru sehingga banyak waktu yang terbuang. Pengembangan sumber daya keperawatan melalui sistem jenjang karir yang telah disusun sejak perencanaan ruang MPKP belum
terealisasi sampai saat ini, diduga turut berkontribusi terhadap penurunan motivasi kerja yang berdampak terhadap penurunan kinerja perawat.
2. Hubungan Pelaksanaan Fungsi manajerial kepala ruangan dengan